Minggu, 20 Desember 2015

UAS SOSIOLOGI JURN_KPI SMST 1

Hilma Nur Alifah /Jurnalistik 1A(11150510000040)

Kabir Al-Fadly Habibullah/KPI 1A (11150510000011)    

Vina Triani/KPI 1B(11150510000094)

Tugas Uas Observasi KPI & JURNALISTIK

                                                       Pendahuluan

A.    Mengapa gejala sosial penting ditulis/diteliti

    Gejala sosial atau hubungan antara dua atau lebih gejala sosial dijadikan sebagai penelitian sosial. Topik yang berhubungan dengan gejala sosial bisa menyangkut individu (misalnya, kepuasan kerja), kelompok (misalnya, struktur sosial), institusi (misalnya, iklim organisasi), dan juga lingkungan yang lebih luas seperti negara (misalnya, pertumbuhan ekonomi nasional). Jika demikian, studi tentang hubungan-hubungan antara dan diantara orang, kelompok, institusi,atau lingkungan yang lebih luas dinamakan dengan penelitian sosial. Penelitian sosial merupakan suatu tive penelitian yang dilakukan oleh ilmuan sosial (social scientist) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek sosial sehingga kita dapat memahaminya.

    Kata research dalam bahasa inggris berasal dari kata reserare (bahasa latin) yang berarti mengungkapkan. Secara etimologi, keta research (penelitian,riset) berasal dari kata RE dan TO search. Re berarti kembali dan to search berarti mencari kembali. Namun makna yang terkandung dalam kata research jauh lebih luas dari pada sekedar mencari kembali atau mengungkapkan. Ini terlihat dari definisi penelitian berikut "penelitian adalah penyelidikan yang sistematis untuk menemukan jawaban atas masalah. Penelitian dapat digambarkan sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan solusi. Ini adalah serangkaian langkah – langkah dirancang dan diikuti, dengan tujuan menemukan jawaban terhadap isu – isu yang perhatian kepada kita dalam lingkungan kerja.

    Jadi, walaupun penelitian merupakan sentra untuk menyelidiki dan pencarian solusi atau masalah – masalah dan kegiatan akademik, belum ada consensus dalam literature tentang bagaimana penelitian harus didefinisikan. Hussy menyatakan bahwa penelitian menyediakan suatu peluang untuk mengenali dan memilih satu masalah penelitian dan menyelidiki secara bebas.

B.    Landasan Teori Max Weber (Tindakan Sosial)

    Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola dan regularitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. "Tindakan dalam pengertian orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai perilaku seorang atau beberapa orang manusia individual " (Weber, 1921/1968: 13). Weber mengakui bahwa untuk beberapa tujuan kita mungkin harus memperlakukan kolektivitas sebagai individu, "namun untuk menafsirkan tindakan subjektif dalam karya sosiologi, kolektivitas-kolektivitasini harus diperlakukan semata-mata sebagai resultan dan mode organisasi dari tindakan individu tertentu, karena semua itu dapat diperlakukan sebagai agen dalam tindakan yang dapat dipahami secara subjektif" (1921/1968: 13). Tampaknya bahwa Weber hampir tidak dapat mengelak lagi:sosiologi tindakan pada akhirnya berkutat pada individu, bukan kolektivitas .

    Weber menggunakan metodologi tipe idealnya untuk menjelaskan makna tindakan dengan cara mengidentifikasi empat tipe tindakan dasar. Tipologi ini tidak hanya sangat penting untuk memahami apa yang dimaksud Weber dengan tindakan,namun,juga menjadi salah satu dasar bagi minta Weber pada struktur dan institut sosial yang lebih luas. Yang terpenting adalah pembedaan yang dilakukan Weber terhadap kedua tipe dasar tindakan rasional.

    Sementara Weber tetap memakai pendekatan tindakan ketika membicarakan tentang stratifikasi sosial, gagasan-gagasan ini telah mengindikasikan suatu langkah ke arah komunitas dan struktur pada level makro. Di sebagian besar karyanya, Weber memfokuskan perhatiannya pada unit analisis skala-besar. Ini tidak berarti bahwa Weber kehilangan perhatian pada tindakan lain:aktor tidak lagi menjadi sekadar fokus perhatiaannya semata, namaun berubah menjadi variabel tergantung yang snagat ditentukan oleh beragam kekuatan skala-besar. Sebagai contoh, seperti akan kita lihat nanti, Weber percaya bahwa seorang penganut aliran Calvinis dipaksa bertindak dengan berbagai cara oleh norma, nilai, da kepercayaan agama mereka, namun fokusnya bukanlah pada kekuatan individu melainkan pada kekuatan kolektif yang memaksa aktor tersebut.

C.    Metode

    Metode wawancara atau metode interview ialah metode yang bertujuan untul mendapatka keterangan atau pendirian secara lisan dari responden dengan mewawancarai orang itu. Metode wawancara ini mempunyai dua macam wawancara yang pada dasarnya berbeda sifatnya. Yakni wawancara untuk mendapatkan  keterangan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi dan wawancara untuk mendapatkan keterangan tentang diri eribadi, pendirian atau pandangan dari individu yang diwawancara untuk keperluan komparatif. Persiapan wawancara dan sikap dalam wawancara yakni pertama, memperhatikan lapisan individu. Kedua, memperhatikan metode sampling dalam hubungan yang erat dengan tujuan dari penelitian. Ketiga, memperhatikan masa senggang dari subyek wawancara, dan berusaha supaya jangan mengganggunya dalam kesibukan sehari-hari. Keempat, memperkenalkan diri kemudian menguraikan maksudnya dari wawancara sederhana taapi terang. Pada umumnya, ada dua macam wawancara yang dikenal oleh para peneliti, yakni wawancara berencana atau standart dizert interview dan wawancara atau unstandart dizert interview. Wawancara berencana ialah suatu daftar pertanyaan yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya. Sedangkan wawancara tak berencana ialah metode yang tidak mempunyai persiapan sebelumnya dari suatu daftra pertanyaan dengan susunan kata dengan tata urut tetap yang harus dipatuhi oleh para peneliti secara ketet. Metode wawancara tak berencana secara khusus terbagi menjadi dua golongan, yakni metode wawancara tak berstruktur. Wawancara tak berstruktur ini juga dapat dibedalan menjadi dua golongan, yakni wawancara yang berfokus dan wawancara bebas. Dalam melakukan wawancara, peneliti  menghindari pertanyaan-pertanyaan yang panjang. Peneliti juga menyesuaikan bahasa subjek individu yang akan diwawancarai. Wawancara berstruktur ialah wawancara untuk pengumpulan data individu dengan metode analogis yang akan dibicarakan dalam seksi dan bab lain. Sedangkan wawancara berfokus biasanya terkendali oleh batas waktu akibat lelah karena jemu. Untuk menghindari gejala kehabisan bahan pertanyaan, peneliti mempersiapkan diri suatu daftar dari pokok-pokok yang ditanyakan hubungannya dengan materi yang akan diteliti.

 

Gambaran lokasi

Biografi

Pondok Pesantren Yatim "ASSA'ADDAH"

    Yayasan Assa'adah diriikan pada tanggal 04 Maret 1989 akta No. 42 dan dengan No. Tanda Daftar Yayasan SUDIN Sosial : 11.31.74.03.1003-092. Berdiri diatas tanah wakaf Almarhumah Ibu Guru Hajjah Hasanah binti H.Nawi (alias As binti Nawi) bin H. Ta'mim bin H. Samuin bin H. Jahran. (Bek Jahran) No. 51/1/93 Tahun 1993.

    Guru Hajjah Hasanah mewakafkan tanahnya dan membangun gedung permanen 2 lantai yang terdiri dari 4 lokasi kelas, 1 ruang kantor, dan 2 toilet, dengan biaya sendiri tanpa minta bantuan dari manapun, beliau berharapa agar keinginannya dapat cepat terwujud. Alhamdulilah dalam hitungan bulan saja bangunan sekolah itu sudah rampung. Beliau senang melihatnya, akan tetapi baru sebatas melihat bangunan sekolahnya selesai, belim sempet melihat murid-murid sekolah berdatangan untuk belajar. Allah SWT memanggil Guru Hj. Hasanah ke Hadirat-Nya buat selama-lamanya pada hari senin dalam usia 85 tahun. (INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROOJI'UUN). Semoga Almarhumah yang semasa Agama kepada masyarakat mendapat tempat yang sebaik-baiknya disisi Allah SWT. Amin.

Pendidikan yang mula-mula diselenggarakan

    Awal mula pendidikan yang diselenggarakan di Assa'adah adalah pengajian Al Quran dan Agama, untuk Anak-anak, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sejak tahun 1950an oleh Almarhum Guru H. Said bin H. Ilyas samapai beliau wafat, dan diteruskan oleh Guru Hj. Hasanah bin H. Nawi ( istri Guru H. Said) berserta anak-anaknyaa:

  • Guru Hj. Mas'ah binti H. Said, (Almarhumah)
  • Guru H. Mas'ud bin H. Said, (Almarhumah)
  • Guru Hj. Mamnun bin H. Said, (Almarhumah)

    Sampai mereka wafat, waktu itu pendidikan diselenggarakan di Musholah Assa'adah dan kediaman Guru Hj Hasanah.Setelah memiliki gedung permanen Assa'adah baru mebuka pendidikan klasikal, untuk tingkat (RA) Raudatul Athfal setingkat dengan TK (Taman Kanak-Kanak) di buka oleh H. Moh Lien Said (Putra Bungsu Almarhumah).

Pondok Pesanteren Qotrun Nada

    Ditahun pertama (1996) pembangunan  pesantren ini, hanya dengan  bermodalkan semangat dan keinginan kami mulai membangun sarana pesantren yang ditandai dengan pemasangan pondasi dan pemancangan tiang-tiang, kami ingat betul setelah itu pembangunan terhenti dan alang-alang berlomba tumbuh hampir melampaui tingginya tiang pancang. Waktu itu terasa berat bagi kami, tapi sekali dayung terkayuh pantang surut sampan kepantai.Kami punya tekad, kami punya harapan, maka tahun 1997 dengan berbagai macam kendala berdirilah bangunan sebanyak 3 (tiga) lokal, yang kemudian akan menjadi cikal bakal dan titik tolak perjalanan Qotrun Nada.

    Tiga lokal bangunan itu kami alokasikan 1 ruang untuk kantor dan asrama guru, 1 ruang untuk kelas dan 1 ruang sisanya untuk asrama santri putra, sementara untuk asrama santri putri kami terpaksa tempatkan di garasi/beranda rumah yang kami sulap untuk menjadi kamar santri putri. Jumlah keseluruhan santri di tahun pertama sebanyak 50 santri. Fasilitas MCK sederhana juga kami siapkan dibelakang bangunan 3 lokal tersebut yang saat ini dipakai sebagai fasilitas MCK di asrama putri. Itulah kesederhanaan yang kami maksud, tapi kami yakini itu sebagai awal yang baik untuk sebuah perjalanan.

    Maka dengan lafadz "Bismillaah" serta dukungan dan iringan do'a  restu dari orang tua,guru-guru kami, dan semua yang bersimpati kepada kami perjalanan panjang Qotrun Nada kami awali dengan segala keterbatasan.

    Bangunan 3 lokal ditengah sawah tersebut bertahan sampai satu tahun, Tahun 1998 kami membangun kembali 1 blok bangunan berisi tiga ruangan di areal yang sama seluas  ±  2000 m², untuk ruang kelas, karena animo wali santri ditahun kedua ternyata begitu besar, terbukti dengan bertambahnya jumlah santri seiring dengan tahun pelajaran baru 1998/1999 sebanyak 100 santri putra/putri. Bertambahlah keyakinan kami untuk meneruskan langkah perjuangan kami. Sejak awal, meski keterbatasan sarana  kami mewajibkan seluruh santri untuk tinggal diasrama. Karena kami harus concern dalam pembinaan santri 24 jam full,sebagai konsekwensi logis dari tanggung jawab moril kami dalam mendidik, mengajar, mendampingi santri dalam perkembangan fisik dan psikisnya.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 yang terletek di Batuceper, Kota Tangerang. Secara umum tentang Asshiddiqiyah, Asshiddiqiyah 2 ini adalah PonPes Cabang kedua yang dibangun dari 11 Asshiddiqiyah yang tersebar di beberapa  daerah meliputi Jawa dan Sumatera. Asshiddiqiyah pertama atau pusat dibangun oleh Sang Pendiri Asshiddiqiyah yakni DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, di Kedoya Jakarta Barat

Setelah sukses dengan Asshiddiqiyah pertama, DR. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ, melebarkan kepak sayap Asshiddiqiyah lewat membangun cabang-cabang yang terdiri atas 1 Pusat dan 10 Cabang. Mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat Sumatera Selatan dan Lampung. Dalam kajian kali ini kami menitiberatkan tentang Asshiddiqiyah 2 Kota Tangerang. Didirikan di tahun 1994 dengan perjuangan yang luar biasa. Sebelum berdiri  Asshiddiqiyah di kawasan tersebut sebetulnya sudah berdiri sebuah Pesantren milik keluarga H.Musa. namun pesantren ini tidak dapat berkembang karena kurangnya tenaga pengajar dan lain hal.

Akhirnya tanah dan pesantren seluas sekitar hamper 2 hektare itu diwakafkan kepada DR.KH.Noer Muhammad Iskandar, SQ. untuk dibangun dan dikembangkan menjadi sebuah pesantren dengan tata kelola seperti yang telah dibangun di  Kedoya. Niat baik Wakif dan juga civitas akademika Asshiddiqiyah tidak berjalan mulus begitu saja. Penolakan dari warga sekitar bahwa "orang pendatang" mengambil alih tanah dan juga pondok pesanren yang telah dibangun para orang tua mereka sebagai ikon daerah tersebut. Ketegangan dan perang urat syaraf sempat terjadi.

Namun berkat keteguhan dan kesungguhan hati DR.KH.Noer Muhammad Iskandar, SQ, lambat laun masyarakat menjadi luluh hatinya, dari yang tadi antipasti terhadap Asshiddiqiyqh justru malah antusias dalam hal ikut partisipasi terhadap apa saja yang menjadi program pesantren. Mulai dari pembangunan, kewirausahaan pesantren hingga aktif menjadi staff pengajar di dalam lingkunan pesantren. Itulah sedikit gambaran tentang objek kajian dari sisi awal muncul dan juga konsistensi pesantren menghadapi berbagai suara baik yang pro lebih-lebih yang kontra terhadap kehadiran pesantren yang di pimpin seorang pendatang yang jauh-jauh dating dari pelosok sana. Namun semua mampu dibuktikan bahwa dengan interaksi yang baik semua yang kita cita-citakan dan harapkan dapan terwujud dan justru berbanding terbalik dengan kondisi yang dulu.  

HASIL ANALISIS

Dalam salah satu sudut pandang sosiologi, ini kita dapat menafsirkan dari sosiologi  ini bahwa manusia tidak mampu berdiri sendiri tanpa peran orang lain. Artinya memang secara dasar dan hakikat manusia sangat berketergantngan dengan yang lainnya dalam hal ini tentunya sesama manusia. Seperti magnet yang saling tarik menarik, manusia butuh kesinambungan saling interaksi dan kontak terhadap masyarakat lainnya. Individu dengan individu lainnya, kelompok dengan kelompok lainnya.

Namun tindakan sosial yang merupakan teori milik Max Weber tidak banyak kita temui di berbagai hal-nya lingkugan bermasyarakat. Dengan realita yang ada bahwa tidak seluruh masyarakat sekitar mempunyai sebuah emosionalitas yang tinggi terhadap lingkungannya. Kenyataan yang dapat  kita ketahui secara jelas bahwa masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungannya lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang mempunyai emosionalitas terhadap lingkungan setempat.

Pelayanan publik dalam masyarakat tidak melulu sebuah kantor desa atau rumah sakit yang memiliki tuntutan pelayanan kepada masyarakat atau lembaga-lembaga pendidikan. Pada dasarnya kita semua adalah pelayan dalam hal komunikasi dan interaksi antar individu lain. Ini jika pelayanan publik dilihat dari sudut pandang yang sederhana saja.

Contoh kecil kita temui saat berjalan dari rumah menuju tempat kerja atau lainnya. Antusiasme kita untuk menegur tetangga yang ada disekitar rumah kita rasanya masih agak jauh panggang dari api. Seolah menistakan qodrat sebagai makhluk sosial, yang paling tidak saling tegur sapa sebagai wujud aplikasi Homo Social tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan juga masih banyak masyarakat yang mempunyai emosionalitas yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan bukan hanya di kalangan tempat tinggalnya saja akan tetapi di beberapa tempat tinggal masyarakat lainnya terutama dalam persoalan pendidikan berbasis akhlak yang baik dan keagamaan.

            Meresapi hal ini dan juga qodrat sebagai manusia adalah insan yang tak mampu berdiri tanpa yang lain. Dewasa ini semakin banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dan berbasis pembangunan karakter (characters building) yang biasa kita menyebut umumnya di Indonesia dengan nama pesantren. Sebenarnya pesantren bukanlah sesuatu yang tabu dan baru di Indonesia. Sejak era kolonialisme dahulu eksistensi pesantren yang dalam hal ini lekat sekali dengan seorang kyai sebagai tokoh penggerak dan perubahan memang sudah terasa mengisi dan mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Santri, kyai dan segenap elemen yang berada dibawah naungan pesantren amat lekat perannya dalam upaya-upaya pergerakan nasional utamanya dalam raangka merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

            Tentu kita ingat betul waktu itu pasca Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Gaung resolusi jihad yang disuarakan Hasyim Asy'ari yang notabene nya adalah seorang kyai dan pengasuh pesantren pada waktu itu, beserta para santrinya dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Cukup membuka mata kita, yang pertama bahwa tindakan sosial yang dilakukan seorang Hasyim Asy'ari bukanlah suatu kadar emosionalitas sebagai makhluk sosial yang sekedarnya saja, akan tetapi total dalam mengaplikasikan qodrat manusia utamanya sebagai saudara sebangsa, sepenanggungan, senasib dan setanah air.

            Kedua, juga membuka mata kita bahwa eksistensi pesantren sebagai agen penggagas perubahan sosial ternyata sudah lama dan masih bertahan hingga sekarang dalam porsinya sebagai benteng akhlak dan keagamaan bagi Insan Indonesia. Dalam analisis kali ini kami akan mengulas beberapa kajian tentang tindakan-tindakan sosial yang lahir dan dilahirkan oleh pesantren sebagai wujud dan pengabdian pesantren-pesantren bagi terjaganya karakteter KeIndonesiaan dan KeIslaman.

            Pesantren sendiri, sangat banyak dan berbeda tipikal pendidikan dan sistem yang diambil dan dijadikan tiap-tiap pesantren sebagai muatan pendidikan pada pesantrennya masing-masing, umumnya semua kewenangan ada pada kyai sebagai penguasa katakanlah dalam siklus yang ada di pesantren. Kita tahu bersama ada pesantren yang menitik beratkan pada pendidikan kitab kuning yang biasanya pesantren ini masih sangat sederhana dan dulu sekali, umum kita kenal dengan pesantren salaf. Dimana santri betul-betul mengerjakan semua keperluannya secara mandiri mulai dari mempersiapkan pelajaran, mencuci,memasak dan semua hal lainnya. Pesantren dengan corak seperti ini masih banyak kita temui di berbagai sudut dan pelosok Indonesia.

            Ada pesantren yang fokus pada pembekalan keilmuan umum santri-santrinya atau lebih memfokuskan pada penguasaan bahasa internasional sebagai bekal bagi para santri setelah lulus dari lembaga tersebut, kita kenal dengan pesntren modern. Dimana  santri cenderung lebih fokus pada ihwal belajar dan memperdalam ilmu-ilmu baik agama maupun umum karena keperluan mencuci,  masak dan fasilitas sudah terpenuhi. Pesantren-pesantren ini banyakkita jumpai di kota-kota besar Indonesia termasuk Jakarta. Ada lagi pesantren yang menggabungkan antara karakter salafnya dengan modern yang dewasa ini makin banyak dan pesat pertumbuhannya di Indonesia. Karena banyak sekali masyarakat yang tertarik menitipkan putra-putrinya untuk belajar di tempat tersebut. Disebabkan muatan ilmu agama, umum dan berbagai keterampilan lain menjadi hal yang utama dan merata dijadikan sebagai sistem pengajaran pada lembaga pesantren tersebut.

            Dan masih banyak lagi tipikal-tipikal pesantren yang semakin lama makin berinovasi ini,seperti Pesantren Agrobisnis dan Kewirausahaan. Dimana tidak hanya pengetahuan agama dan akhlakyang dijadikan sebagai senjata bagibekalpara alumninya. Tapi kemampuan usaha baik yang bersifat indiustri kreatif, jasa, perkebunan,pertanian dan perikanan serta lainnya juga dibekali kepada para santrinya. Karena memmang pesantren tidak dapat membohogi zaman. Mau tidak mau, suka tidak suka komplektisitas zaman membuat pesantren-pesantren terus berinovasi guna melahirkan lulusan-lulusan yang mampu bersaing dengan lulusan-lulusan lembaga lainnya. Yang tentu nanti pasar yang akan menilai dan melihat mana yang lebih  dapat menarik hati pasar serta berkompeten juga berkualitas terbaik.

Maka banyak juga pesntren yang terlihat stagnan dan jalan di tempat, justru malah bergerak ke arah kemunduran karena para pemangku kekuasaan di pesantren tersebut tidak cermat melihat perubahan dan perkembangan zaman serta cenderung kaku dalam hal pengelolaan pesantren. Dan bereselera ala zaman dahulu saja tanpa ada inovasi pembaharuan yang dilakukan dalam rangka memajukan pesantren. Intinya tiap pesantren dengan muatan dan corak sistem pendidikan apapun tujuannya adalah sama, yakni membekali para santrinya dengan pendidikan keilmuan khususnya Ilmu Agama dan pembangunan karakter guna mmepersiapkan generasi-generasi muda yang nantinya akan  mengisi kemerdekaan dan pembangunan negeri ini. Dimaksudkan dengan terisinya hati para santri, bukan hanya otaknya saja nanti tatkala dihadapkan dengan situasi yang rumit dan dilematis mereka semua akan mampu dan siap memilah dan membentengi diri mana yang sesuai dengan aturan agama dan negara serta mana yang diluar batas-batas yang telah ditentukan oleh keduanya. Dan juga dalam menghadapi tiap problema kehidupan mendatang baikyang bersifat pribadi maupun yang berkenaan dengan oranglain.

            Dalam kajian kali ini secara mendalam kelompok kami akan membahas tentang beberapa pondok pesantren diantaranya Pondok Pesantren Yatim As-Sa'adah di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan,Pondok Pesantren Qotrun Nada,di Cipayung Depok dan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 di daerah Batu Ceper, Kota Tangerang. Pembahasan pertama kita ini terfokus pada Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 ini adalah sebuah Pondok Pesantren cabang yang merupakan pecahan dari Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat di Kedoya, Jakarta Barat dan bagian dari kesepuluh cabangnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Keduanya di rintis oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ seorang kyai kenamaan lulusan Ponpes Lirboyo, Jawa Timur

            Tidak mengherankan apabila muatan pendidikan yang berada Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 merupakan serapan dari sistem pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Lirboyo. Yakni sistem pendidikan yang menitik beratkan kepada kajian-kajian yang berasal dari kitab kuning sebagai bahan utama. Terbukti dengan mudahnya kita temui para santri di pondok pesantren Asshiddiqiyah ini sehari-harinya lekat sekali dengan pengajian kitab kuning baik yang digelar secara kolosal atau umum, biasanya diisi oleh Pengasuh Pesantren langsung, dapat kita temui setelah waktu Sholat Ashar dan Isya. Maupun yang dikurikulumkan menjadi silabus dalam kegiatan belajar dan mengajar.

            Namun tidak itu saja, dengan cermatnya Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah tidak hanya menjadikan pendidikan salaf sebagai ( bassic method ) dalam satuan kurikulumnya. Akan tetapi juga menggabungkan pendidikan umum serta berbagai keterampilan yang menjadi khas dari corak pesantren-pesantren Modern. Terbukti bahwa di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah secara umum terbagi menjadi beberapa jenis pendidikan baik tingkat maupun fokus yang dikurikulumkan. Untuk fokus secara umum di Pondok Pesantern Asshiddiqiyah biasa disebut Pendidikan Formal dan Pendidikan Diniyah atau Kepesantrenan. Pendidikan formal di pesantren Asshiddiqiyah adalah pendidikan yang umum seperti kita jumpaidi sekolah-sekolah pada umumnya, satuan kurikulumnya pun merupakan paket kurikulum dari Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama.

            Pendidikan Formal  Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 memuat ilmu-ilmu umum seperti matematika, eksak, sosial, olahraga, kesenian pun termasuk di dalamnya bahasa dan agama secara umum. Jam formal merupakan waktu kegiatan yang palinglama dilalui oleh setiap santri di Asshiddiqiyah. Tiap harinya kecualihari ahad tiap santri memulai kelas semenjak selesai menunaikan Ibadah Sholat Dhuha pukul 07.00 hingga pukul 12.00. Dengan  waktu istirahat sekitar duapuluh lima menit. Tenaga pengajarnya pun beragam, mulai dari alumni, guru-guru senior, dan guru-guru dari luar pesantren yang kompeten dalam bidangnya masing-masing,

            Pendidikan Formal di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah terbagi menjadi empat lembaga pendidikan. Dua jenjang pendidikan menengah pertama yakni Sekolah Menengah Pertama Manba'ul 'Ulum dan Madrasah Tsanawiyah Manba'ul 'Ulum. Dan dua jenjang sekolah menengah atas yakni Sekolah Menengah Atas Manba'ul 'Ulum dan Sekolah Menengah Kejuruan Manba'ul 'Ulum. Keempat jenjang sekolah ini masing-masing dipimpin seorang kepala sekolah yang meiliki tanggung jawab penuh terhadap jenjang masing-masing yang mereka pimpin. Yang keempatnya bertanggung jawab kepada Asisten Pengasuh Bidang Pendidikan dan Pengajar yang disebut  Aspeng Dikjar. Yang menjadi supervisor memegang kontrol terhadap kinerja masing-masing lemabaga sekolah tersebut.

            Muatan kurikulum tiap jenjang tentunya sama seperti sekolah-sekolah setingkatnya di luar. Seperti Mts yang berinduk pada Kementerian Agama dan SMP yang berinduk kepada Dinas Pendidikan.kesemuanya berjalan dalam koridor tugasnya masing-masing dalam urusan memenuhi hak santri untuk mendapat pendidikan umumsama seperti sekolah sekolah lainnya. Pesantren memberikan kewenangan sepenuhnya kepada Wali Santri ( orang tua murud ) untuk memilih jenjang sekolah mana yang sesuai dengan kenginan anak mereka dan tentunya juga keinginan wali santri tersebut.

            Sama seperti umumnya sekolah-sekolah lainnya, program pendidikan, kurikulum standar KTSP, keikutsertaan dalam Ujian Nasional merupalkan bagian dari muatan pendidikan yang ada di Pendidikan Formal Pondok Pesantren Asshiddiaqiyah ini. SMA terbagi atas peminantan IPA dan IPS. Juga SMK yang memiliki beberapa jurusan seperti, multimedia, tekhnik kendaraan ringan, bisnis manajemen dan akuntansi. Semuanya sesuai dengan kurikulum yang berlaku pada umumnya. Tentu saja dibumbui dengan penidikan-penddikan berbasis agama dan karakter.

            Kemudian pendidikan selanjutnya adalah pendidkan kepesantrenan atau diniyah yang disebut Madrasah Diniyah. Madrasah Diniyah dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang memiliki staf-staf khusus yang kesmuanya juga bertanggung jawab kepada Aspeng Dikjar. Kegiatannya terdiri dari dua waktu yakni Selesai Sholat Ashar dan selesai Sholat Maghrib. Madrasah Diniyah memiliki kurikulum sendiri yang didesain secara khusus oleh pesantren guna menyeimbangkan dengan pendidikan formal di sekolah. Muatan intinya adalah pembelajaran kitab kuning, pengembangan bahasa internasional dan pemantapan Al-Qu'an. Waktu ashar difokuskan pada pendalaman kitab mulai dari Fiqih, Akhlak, Nahwu, Shorof dan lainnya juga Pegembangan bahasa yang meliputi bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Di luar itupun seperti setelah subuh, habis dzuhur dan sebelum tidur  rutin diberikan penambahan-penambahan baru soal bahasa yang dilakukan bagian pengembangan bahasa.

            Untuk pendalaman Al-Qur'an dilaksanakan setelah Maghrib dalam bentuk sesuaikelas Diniyah dengan seorang guru. Tingkatan kelas Madrasah Diniyah berbeda dengan tingkatan pendidikan Formal. Santri digolongkan dari mulai  kelas 1 hingga kelas 6, dihitung dari tingkat kelas satu SMP atau MTs dan kelas 6 yakni kelas 3 SMA dan SMK. Seperti jenjang sekolah umum, di Madrasah Diniyah ini juga mengdopsi pendidikan-pendidikan formal seperti ujian rutin baik semester maupun tengah semester dan ujian Akhir santri kelas 6 berupa Ujian Komprehensif yang meliputi Praktek Bahasa, Praktek Ibadah, Praktek Kitab Salaf dan tentunya Praktek Qur'an yang disusun sedimikian rupa.

Gambar 1.1 Santri Putra Asshiddiqiyah melaksanakan ujian semester

            Di luar itu di pondok pesantren Asshiddiqiyah juga memilikibeberapa program khsus atau unggulan seperti Tahfidzul Quran yang langsung dihandel oleh pengasuh. Juga pendalaman kitab kuning yang disebut Program Amtsilati dan Intensif Bahasa. Juga kesmua tanggung jawab bidang dipimpin oleh tiap Kepala Bidang sebagai coontoh. Kepala Bidang bahasa, kitab salaf, kebersihan, sarana pra sarana dan lainnya yangsemuanya bertanggungjawab kepada pengasuh. Ini semua dalam rangka dan wujud penuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dalam halmenjalankan amanah yang telah dititipkan dari para wali santri untuk mencapai kepuasanyang nantinya dapat dirasakan berupa perubahan karakter dan keilmuan santriyang dititipkan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Baik selama 3tahun maupun 6 tahun.

            Sejauh ini tentu kita mengerti bahwa pembahasan ini ada pada pelajaran sosiologi.Namun Apakah sosiologi itu? Terkadang kita bertanya-tanya kenapa harus ada pelajaran sosiologi.Disini saya bisa mengatakan bahwa kita tidak mudah memahami pelajaran sosiologi yang banyak terdapat teori-teori dari para ahli sejarah.Tapi harus kita pahami dengan cara mendalam bahwa sosiologi adalah ilmu yang membahas atau mempelajari tentang kemasyarakatanSejak kelahirannya ilmu-ilmu sosial tidak memiliki batasan atau definisi pokok bahasan yang bersifat eksak.Artinya,berbeda dengan ilmu eksakta yang rumusannya telah pasti,rumusan dalam ilmu sosial bersifat tidak pasti karena titik beratnya pada perilaku manusia yang dinamis,selalu berubah dari waktu ke waktu.

            Akan tetapi,kajian tentang perilaku manusia tetaplah ilmu sosial,sebab kajian tentang perilaku manusia di dalam kehidupan sosial telah di kaji berdasarkan metodologi ilmiah dan memenuhi persyaratan sebagai kajian ilmu pengetahuan. Maka sosiologi merupakan suatu ilmu yang melibatkan dirinya dengan penafsiran dan pemahaman tindakan manusia secara sensitive.

            Sosiologi berdasarkan teori Max Weber yang lebih berorientasi pada behavioralis(pendekatan tingkah laku) menekankan sosiologi sebagai ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial.Max Weber juga memperkenalkan pendekatan (pemahaman),yang berupaya menelusuri nilai,kepercayaan,tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku masyarakat yang melahirkan interaksi sosial.Di antara contoh karya Max Weber tentang perkembangan sosiologi adalah analisis tentang wewenang,birokrasi,sosiologi agama,organisasi-organisasi ekonomi dan sebagainya.

            Memang pada pembahasan ini kami sudah sangat detail menerangkan sosiologi agama.Bagaimana cara masyarakat ber-interaksi kepada masyarakat lainnya untuk memperkenalkan lebih dalam agama yang mereka yakini(iman).Seperti hasil observasi kami yang selanjutnya ini,bahwa Pondok Pesantren Modern yang terletak di daerah Cipayung Jaya Depok ini memiliki hampir 1.600 orang santri putra dan putri.Tindakan sosial yang pimpinan lakukan ini sangat mempengaruhi santri yang menuntut ilmunya di pondok.Seperti kita ketahui bahwa membangun suatu Pondok Pesantren tidaklah mudah.Bagaimana cara mereka ber interaksi kepada khalayak umum agar sebuah tindakan sosialnya ini dapat di terima oleh masyarakat setempat bukanlah semudah kita membalikkan telapak tangan.

            Namun sejauh ini saya kira Kiai Burhan ini mampu mempengaruhi masyarakat untuk menerima lembaga sosialnya ini.Kemudian  mereka(masyarakat) ikut menyekolahkan anaknya ke dalam Pondok Pesantren ini sehingga anak-anak(santri) ini dapat menerima segala pendidikan dari Pondok Pesantren Qotrun Nada.Memang harus kita akui bahwa tindakan sosial yang di lakukan para pendiri pondok selalu berdampak positif untuk mempengaruhi masyarakat ke depannya.Karena tindakan sosial ini membawa masyarakat untuk mendalami agama orang Islam Imani.Dapat kita mengerti bahwa agama ini bukan hanya membawa kebahagiaan di dunia saja namun juga di akhirat.

            Kemudian dengan Interaksi sosial yang baik ini.Kiai Burhan ini mampu menunjukan beberapa ke unggulan pendidikan yang di ajarkan oleh Pondoknya seperti di wajibkannya para santri mempelajari dan mengaplikasikan Bahasa Arab dan juga Bahasa Inggris.Setiap harinya mereka harus ber sosialisasi dengan santri lainnya dengan berbicara ke 2 Bahasa itu.Selain itu ada beberapa keunggulan lainnya seperti program khusus Pondok bagi santri akhir tsanah atau santri yang kelas tertinggi ini dapat pembelajaran Bahtsul Matsa'il kemudian juga ada ziarah Wali songo dan Pengabdian Masyarakat.Dengan adanya program pengabdian santri pada masyarakat ini.Pondok mengajarkan pula kepada santri cara bersosialisasi dengan masyarakat sesuai dengan perilaku yang sudah mereka dapatkan di Pondok.Kemudian para santri pula harus mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah mereka dapatkan di Pondok baik itu ada pada pelajaran umum maupun dengan pelajaran agama mereka.

            Jika harus di katakan memuaskan, ini sangat memuaskan untuk para orang tua santri, begitu yang mereka katakan.Karena pada era ini tidak bisa kita hindari lagi bahwa perkembangan dunia luar saat ini semakin jahat.Mengajarkan anak mereka kepada hal yang lebih cenderung terhadap hal yang negative.tentu setiap bahkan seluruh orang tua menginginkan yang terbaik untuk kepribadian anaknya.Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan anaknya di Pondok Pesantren sehingga mereka dapat mempelajari agama.

            Lagi pula dengan adanya Pondok Pesantren Modern Qotrun Nada ini mereka juga mampu mempelajari bahasa yang hampir seluruh dunia mampu mempelajarinya yaitu Bahasa Inggris.Para santri mampu mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari mereka di Pondok.Jika saja Bahasa Inggris menjadi Bahasa Internasional maka mereka pula juga mempelajarinya Bahasa Arab yang tidak seluruh orang mampu mempelajarinya dengan itu santri di didik pula mempelajari bahasa Al-Qur'an.Bahasa yang digunakan pada kitab suci Al-Qur'an(Arab).

            Sejauh ini kita dapat memahami tindakan sosial sesuai dengan pendapat Weber bahwa sosiologi harus menaruh perhatian penuh pada pemahaman tindakan sosial.Karena hanya melalui pehaman tindakan sosial ini kita dapat memahami struktur sosial dan struktur sosial hanyalah hasil tindakan banyak individu.Struktur sosial ini dipahami sebagai suatu bangunan sosial yang terdiri dari berbagai unsur pembentuk masyarakat.Unsur-unsur ini saling berhubungan satu dengan yang lain secara fungsional.Unsur pembentuk masyarakat dapat berupa manusia atau individu yang ada sebagai anggota masyarakat,tempat tinggal atau lingkungan kawasan yang menjadi tempat di mana masyarakat itu berada dan juga kebudayaan serta nilai dan norma yang mengatur kehidupan bersama tersebut.

            Dengan struktur sosial inilah kita dapat mengibaratkannya seperti pengasuh Pondok yang menjadi kepala Pondok Pesantren kemudian kita tidak dapat mengatakan bahwa pengasuh Pondok hanya mengepalai anggota keluarganya akan tetapi Kepala Pondok ini juga harus bertanggung jawab untuk mengepalai masyarakat pondoknya.Dengan ini dapat kita katakan bahwa pengasuh Pondok ini menjadi sebuah atap masyarakat atau kebudayaan masyarakat.Maka atap ini bukan saja atap bagi satu gedung keluarganya saja akan tetapi atap ini adalah atap bagi gedung masyarakat pondok juga.Sehingga bangunan sosial ini dapat kukuh berdiri karena adanya pola hubungan sosial yang terjadi di dalamnya.Pola ini merupakan hubungan individu dengan individu dengan kelompok yang ada.Pola ini akan berlangsung di bawah norma dan nilai yang mereka sepakati.

            Yang mereka sepakati disini seperti dinamika sosial yang merupakan salah satu penelaahan sosiologi yang membahas tentang perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kehidupan sosial.Objek pembahasan ini salah satunya meliputi pada pengendalian sosial.Pengendalian sosial ini merupakan cara atau proses pengawasan baik yang di rencanakan maupun yang tidak di rencanakan untuk menjaga,mendidik,bahkan memaksa warga masyarakat agar para anggota masyarakatnya mematuhi norma dan nilai-nilai norma yang di lengkapi dengan unsur kelembagaannya.

            Misalnya dalam mengendalikan ketertiban pondok.Siapa pun santri pondok Qotrun Nada yang melanggar peraturan yang sudah di tetapkan maka santri akan mendapatkan hukuman sesuai pula aturan yang ada.Seperti contohnya santri yang tidak menggunakan bahasa .Pondok Qotrun Nada ini mewajibkan kepada santrinya untuk mengaplikasikan bahasa mereka di setiap harinya maka jika ada yang tidak menggunakan bahasa tersebu,mereka akan dapat hukuman sesuai sejauh mana kesalahan yang mereka buat.Dengan adanya pengandalian sosial seperti ini manusia dapat mencapai kehidupan sosial yang tertib,disiplin dan juga menguatkan struktur kelembagaan agar menjadi lembaga yang mempunyai integritas yang tinggi terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan.

Gambar 1.2Santri Putra Qotrun Nada sedang melaksanakan ujian semester

            Para ahli sosiologi memahami tindakan manusia dari sudut pandang perilakunya.Tindakan manusia dipahami sebagai perbuatan perilaku atau aksi yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuan terntentu.[1]Tujuan dari tindakan manusia sangat beragam dan kompleks,artinya jika tindakan yang di lakukan adalah untuk memperoleh benda-benda kebutuhan pokok dalam kehidupannya,maka tindakan tersebut disebut tindakan ekonomi.Tindakan yang berkaitan dengan aktivitas memilih dan dipilih dalam suatu kepemimpinan disebut tindakan politik, dan lain-lain.Tindakan manusia sebenarnya tidak jauh dari aktivitas yang saling memberikan aksi dan interaksi.Manusia mampu melakukan berbagai tindakan sperti membaca,menulis,berkomunikasi,merespon pendapat orang lain dalam hubungan di dalam kehidupan masyarakat dan sebagainya.

            Tindakan manusia dibedakan dalam dua macam,yaitu:

            1.Tindakan yang terorganisasi,artinya tindakan yang di latar belakangi oleh seperangkat kesadaran sehingga apa yang dilakukannya tersebut di dorong oleh tingkat kesadaran yang berasal dari dalam dirinya.

            2.Tindakan yang di lakukan tanpa kesadaran,yaitu tindak reflex yang tidak di kategorikan sebagai tindakan sosial,sebab tindakan itu tidak terorganisasi melaluui kesadaran diri.Seseorang ketika merasa sakit mendadak mengatakan aduh,latah.,dan sebagainya,maka tindakan itu di kelompokkan sebagai tindakan tidak terorganisasi.

            Dengan hasil observasi kami yang ke tiga ini dapat kami jadikan sasaran tindakan yang terorganisasi artinya tindakan yang di latar belakangi oleh seperangkat kesadaran sehingga apa yang dilakukannya tersebut di dorong oleh tingkat kesadaran yang berasal dari dalam dirinya.Memang dengan tindakan sosial ini karena ada pada tingkat kesadaran manusia itu sendiri sehingga  sangat sedikit melakukannya.Contoh real yang kami temukan kali ini adalah Pondok Pesantren yang di bangun untuk memfasilitasi anak Yatim,anak yang telah di tinggal ayahnya meninggal ini.Kini mereka dapat belajar di Pondok Pesantren Yatim Assaadah tanpa ada penarikan uang iuran apapun di setiap bulannya.Salah satu pondok Yatim yang terletak di daerah Radio Dalam(Jakarta Selatan) ini menampung orang-orang yang kurang mampu.Namun ada juga beberapa orang yang mampu dan di perkenankan untuk membayar semampu mereka.

            Jika kita bayangkan secara mendalam bagaimana bisa manusia melakukan sesuatu yang bahkan menutup kemungkinan mengurangi beberapa kenikmatan di dunianya untuk melakukan sesuatu tindakan sosial yang juga seharusnya memuaskan akan ekonominya.Namun ini tidak dapat di pungkiri nyatanya bahwa Pendiri Pondok Pesantren Yatim Assaadah ini melakukan tindakan sosialnya sesuai dengan emosinya yang melihat anak-anak Yatim dan anak kurang mampu lainnya tidak mendapatkan haknya untuk bersekolah dan mempelajari/memperdalam agama mereka sendiri.

            Dengan tarik ulur yang kuat adanya interaksi sosial pula yang terjadi pada lingkungan setempat.Pondok ini berawal dari Majlis Ta'lim kecil-kecilan yang sampai sekarang pun masih berjalan untuk masyarakat setempatnya.Dan akhirnya terbentuk sebuah Pondok Pesantren Yatim untuk memfasilitasi pendidikan umum dan juga kepesantrenan bagi para santri terutama bagi santri yang kurang mampu.Jika harus kami katakan dengan beberapa keunggulan yang ada tentu setiap lembaga sosial mempunyai kekurangan dan kelebihan.Lalu bagaimana dengan kelebihan yang ada Pondok Assaadah ini.

            Pengasuh memberikan interksi sosial yang sangat baik bagi para santri juga bagi masyarakat.Para santri bisa ber-interaksi sosial dengan baik kepada masyarakat setempat karena memang setiap minggunya pun pengajian untuk masyarakat selalu di adakan di Masjid Pondok.Sehingga para santri ikut membantu aktifitas pengajian untuk masyarakat.Dengan sangat baik mereka berkembang menjadi santri yang dewasa.

            Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya jika Pondok Yatim ini benar-benar tidak ada di dunia ini.Apa mungkin angka anak-anak yang kuramg mampu ini tidak akan mengerti akan ilmu agama dan juga pengetahuan umum lainnya akan semakin tinggi dan semakin bertambah.Memang jika harus kita katakan dunia itu jahat,kita akui dunia itu memang jahat namun harus kita sadari pula bahwa manusia adalah pengubah segalanya .Karena Tuhan sudah membuat dunia ini dengan jalan seindah mungkin.Dengan tindakan sosial yang di lakukan oleh Kiai Ahmad Yani ini mampu membuat gebrakan baru bagi masyarakat setempat yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyekolahkan anaknya.

            Bahkan bukan masyarakat setempat saja yang dapat bersekolah di Pondok tersebut.Ada santri yang juga datang dari Bekasi,Bogor, Tanggerang dan bergagai jenis kota lainnya.Walaupun dengan tempat yang masih terlihat sederhana namun seiring jalannya waktu tindakan sosial ini akan semakin berkembang sesuai dengan pembakaran emosi dan semangat yang ada pada diri manusia tersebut.

            Dengan tindakan sosial yang di lakukan oleh Kiai Ahmad Yani cukup membuat keluarga santri sangat bahagia. Kehadiran Pondok Pesantren Yatim ini adalah sebuah jawaban atas berbagai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarat Indonesia. Kondisi ketidak seimbangan tadi kini seolah berbanding terbalik. Karena semua elemen masyarakat utamanya anak-anak yatim memiliki tempat bernaung dan belajar. Tempat mendalami ilmu agama ,pengetahuan umum lainnya dan berkreasi serta beraktifitas dalam rangka melanjutkan kehidupan pasca ditinggal orang tua mereka.  Pondok memfasilitasi tiap kebutuhan mereka mulai dari yang primer hinggga pembekalan keterampilan dan lainnya yang sungguh membuat kondisi dan sikap mental anak-anak yatim ini kembali terisi.

Gambar 1.3 Para santri Putri Assaadah sedang senam pagi

            Dan juga jika menggali dari teori dasar eabber mengenai tindakan sosial, tentnya pesantren, manapun akan tetap dalam tugasnya sebagai agent of big change dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan kepada semua masyarakat yang telah menitipkan anaknya unntk belajar di pondok pesantren. Dan masih banyak juga keterampilan lain yang pesntren berikan seperti banyaknya organisasi dan juga ekstrakulikuller dalam rangka mengembangkan minat dan bakat para santri yang tentunya beragam dan haru ada wadah yang dapat menyalurkan potensi-potensi tersebut.

KESIMPULAN

            Manusia memang tidak mampu berdiri sendiri.Jika kita melihat lingkungan di sekitar kita tentu sangat banyak manusia yang perlu kita tolong.Namun bagaimana  emosi itu dapat menyadarkan diri kita bahwa tindakan-tindakan sosial yag kita lakukan untuk public adalah sebuah tindakan yang nantinya akan begitu banyak membawa pengaruh untuk masyarakat lainnya.Seperti tindakan sosial yang dilakukan para pendiri pondok di atas.Mereka melakukan tindakan sosial yang begitu banyak membawa pengaruh dan membawa banyak perubahan terhadap masyarakat.

            Pelayanan public yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk pelayanan yang sangat memuaskan bagi mereka yang ikut serta bernaung di lembaga tersebut.Bagaimana tidak?tindakan sosial yang mereka lakukan mengubah para santrinya menjadi manusia yang lebih berpendidikan dan memahai agama.Dinamika kehidupan kini semakin lama semakin bergeser secara keras.Menggesek setiap lapisan bumi yang tidak lagi terdapat manusia yang mampu melakukan tindakan sosialnya.

            Terkadang kita berfikir keras memang tidak semudah kita mengangkat kapas ketika tindakan sosial itu  mempunyai timbal balik yang jauh kita inginkan.Dan bagaimana langkah yang terbaik ketika tindakan sosial itu menjadi sebuah pelayanan public ber nilai/ ber kualitas tinggi di pandangan masyarakat.Karena itu sejauh mana kita mempelajari ilmu sosiologi di situlah kita harus memahami.

            Bahwa ada sebuah proses-proses sosial yang secara berhubungan jika dilihat individu dan kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut apa yang akan terjadi apabila ada perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada.Proses sosial inilah dapat di artikan sebagai pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama atau di dalam kehidupan sosial,misalnya saling memengaruhi antara sosial dan politik,politik dan ekonomi dsb.

DAFTAR PUSTAKA

          M. Setiadi,Elly,Usman,2011.Pengantar Sosiologi,Jakarta:Kencana

Sunarto, Kamanto. 2011. Sosiologi the Basic. Jakarta: Raja Grafindo

            Bachtiar, Wardi. 2006. Sosiologi Klasik. Bandung : Remaja Rosda Karya

            Scott, John. 2012. Teori Sosial. Jogjakarta; Pustaka Pelajar

Lampiran Foto:

     Gambar 1.1Bangunan Pondok Pesantren Qotrun Nada

           

 Gambar 1.2 Lingkungan Pondok Pesantren Asshidiqiyah

 



[1] M.Sitorus,Berkenalan dengan sosiologi 1 untuk siswa SMU kelas 2,Erlangga,Jakarta,2003,hlm 12

Cari Blog Ini