Tampilkan postingan dengan label Lecture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lecture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Revisiting Community Driven Development and the Reproduction of Villages in Indonesia

Revisiting Community Driven Development and the Reproduction of Villages in Indonesia
Sirojudin Abbas[*]

ABSTRAK
Sebagai negara yang tengah menghadapi problem sosial dan ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran, berbagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah tersebut harus selalu dicoba dilakukan. Satu di antara sekian banyak pendekatan adalah CDD (Community Driven Development). Menurut penulis artikel ini, CDD adalah model konsep lama. Namun demikian, CDD mampu membangun kerangka baru bagi desa agar mampu menyerap apa yang datang atau didatangkan dari luar sehingga mampu membangun cara berpikir dan berperilaku yang baru, bahkan mungkin juga dengan CDD mampu membangun transformasi sosial. Selain itu juga akan membangun relasi yang kuat antara state dan society. Bahkan keseluruhan proses CDD akan memusatkan perubahan pada model keputusan yang top down atau tipe hubungan patrimonial kedalam pembangunan yang resiprok dan patrimonial. Penekanan akan proses pembangunan yang partisipatif, merefleksikan kesesuaian cara dalam pemikiran pembangunan.

Key Words:  Rural Development, Community Development, CDD, Social Change


Introduction
The presidential speech before the House of Representatives on August 16, 2006, earmarked the formal acknowledgement of the Indonesian government over the two World Bank funded development projects initiated since early 1998. The two projects are Kecamatan Development Project (hereafter KDP) and Urban Poverty Project (hereafter UPP). President Susilo Bambang Yudhoyono not only affirmed and praised the success of the projects, both administratively and substantially, but also announced that the two projects would be expanded as the primary national programs aimed at poverty reduction and community empowerment[1]. The national program, called the National Program for Community Empowerment (NPCE), which was formally launched in 2007, incorporates both KDP and UPP approaches.
The Indonesian government believes that the success rate of the above two projects has been proven. The Coordinating Minister for Social Welfare Aburizal Bakrie noted that the two projects were 56 percent more efficient than if they were implemented by government officials[2]. Up to 2006, KDP and UPP had covered no less than 39.282 (about 46 per cent) out of 69.929 villages (Desa and Kelurahan) in 5.623 sub-districts (Kecamatan) throughout Indonesia. NPPE is expected to cover the remaining villages and sub-districts in 2009 and will continue using the similar community-based development approach. KDP, UPP and NPPE rely heavily on the same the core development thrust, namely a "development block grant" (Bantuan Langsung Masyarakat/BLM) for financing various micro development projects and reliance on community participation in planning, managing and the whole processes of decision making.  In 2007 NPPE was implemented in 1000 sub-districts and the remaining 3.800 sub-districts will be done in 2008. This project is expected to create 50.000 new job opportunities in 39.000 villages. Therefore, the government assumes, this program will be able to reduce the poverty-rate from 10.4 per cent in 2006 to 5.1 per cent of the total 106.3 million people of productive age in 2009. The total budget allocated for this project from 2007 until 2009 is no less than US $ 1.5 billion.[3]

Rabu, 22 Agustus 2012

Duurud Da'wah Fii Binaai Ummah by M. Idris Abdus Shamad

دور الدعوة  في بناء الأمة
 د/ محمد إدريس عبد الصمد
المحاضر في كلية الدعوة والاتصال بجامعة شريف هداية الله جاكرتا

تقديــم: وظيفة شريفة تحتاج إلى الأشراف
الدعوة التي هي وظيفة كل رسول في كل زمان، ثم هي واجب على عاتق ورثتهم من العلماء والزعماء وسائر المؤمنين الصالحين ، يجب على هؤلاء أن يحققوا دورها في نشر الخير والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وإلا فإنهم لم يفعلوا واجبهم ولم يبلغوا رسالة الله للناس أجمعين.
الدعوة بهذا الدور العظيم عملية طويلة المدى وصعبة الوصول إلى الهدف السامي ، تحتاج إلى من يقوم بها بكل روحه وجسده، يضحي نفسه لأجل الدعوة إلى سبيل الله ، فيجاهد حق جهاده ، وأعد نفسه من أجل صلاح الأمة واستعد للقيام بكبير الوظيفة، فقام بالركوع والسجود لله وحده والعبادة له لاشريك له ثم قام بنشر الخير بكل ألوانه في أوساط المجتمعات البشرية. وفي هؤلاء قال تعالى: ( ياأيها الذين آمنوا اركعوا واسجدوا واعبدوا ربكم وافعلوا الخير لعلكم تفلحون، وجاهدوا في الله حق جهاده هو اجتباكم وما جعل عليكم في الدين من حرج ملة أبيكم إبراهيم هو سماكم المسلمين من قبل وفي هذا ليكون الرسول عليكم شهيدا وتكونوا شهداء على الناس فأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة واعتصموا بالله هو مولاكم فنعم المولى ونعم النصير ) سورة الحج: 77-78. فالقيام بعبادة الله وحده لاشريك له ثم نشر أنواع الخير في الحياة البشرية سبب من أسباب الفلاح والسعادة في الدارين، وطريق ذلك القيام بالجهاد في سبيل الله، لأن الله هو الذي اجتباهم واختارهم للقيام بالمهام، وسبيل الدعوة يقوم على مبدأ التيسير لا التعسير ومبدأ التبشير المتوازن مع التنذير، اقتداءً في ذلك بأبي الأنبياء إبراهيم عليه السلام.
"إن الذين يحملون دعوة الله تعالى إلى الناس لا بد أن يكونوا قمة النظافة، فالله طيبٌ لا يقبل إلا طيباً، ومن

Minggu, 15 Juli 2012

To Extended Idea dan Praxis Community Development

MEMPERLUAS GAGASAN & PRAKTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN PERSPEKTIF JIM IFE
Budhi Rahman Hakim[*]
ABSTRAK
Ragam pendekatan dalam upaya-upaya pemberdayaan masyarakat patut terus digali dan diperkaya. Artikel ini memberikan satu elaborasi pemikiran seorang aktivis dan pemikir pemberdayaan masyarakat yang cukup terkenal: Jim Ife. Ife memberikan beberapa prinsip mendasar dalam melakukan pemberdayaan, yaitu: (1) pemberdayaan terpadu, (2) menentang struktur yang merugikan, (3)  mendasarkan kepada penegakan Hak Azasi Manusia (HAM), (4) keberlanjutan, (5) penguatan, (6) keterkaitan gerakan pribadi dan politik, (7) kepemilikan komunitas, (8) kepercayaan diri, (9) kemandirian dari negara, dan (10) tujuan jangka pendek dan visi jangka panjang. Meski belum separuh dari apa yang disarankan Ife, namun kesepuluh prinsip ini sudah cukup memberikan banyak masukan kepada kita untuk memberikan penekanan lebih dalam pemberdayaan masyarakat. Terlebih lagi Indonesia, konteks teoritis dari Ife menjadi masukan yang sangat berharga bagi proses perubahan sosial.   

Key Words: Pemberdayaan Masyarakat, Ife, Gagasan Perubahan, Indonesia.

Pendahuluan

Banyak cara dilakukan para agen perubahan (agent of change) dalam melakukan perbaikan kehidupan rakyat Indonesia. Beragam era yang muncul, direspon dengan beragam pendekatan. Di era Orde Baru kita mengenal satu mekanisme perubahan yang didorong oleh negara (baca: pemerintah pusat) melalui program penyuluhan. Penyuluhan adalah program perubahan tata cara bertindak masyarakat melalui bimbingan teknis oleh para ahli kepada masyarakat. Sehingga sering dikatakan bahwa program ini sangat top down.
Dari kelemahan pendekatan tersebut, kemudian muncul pendekatan lain yang lebih kritis, yakni pendekatan pemberdayaan masyarakat. Di  era Orde Baru, pendekatan pemberdayaan masyarakat memang kurang populer, meski banyak kepustakaan terbit pada masa ini. Sehingga gerakan pemberdayaan seperti ini dilakukan secara terbatas. Sampai era Orde Reformasi tiba, pemberdayaan masyarakat seolah-olah menemukan momentum politiknya. Di mana-mana, didengungkan perlunya pemberdayaan masyarakat. Kelihatannya, gerakan ini bukan semata-mata sebagai kritik atas kegagalan sistem perubahan masyarakat di era Orde Baru, namun lebih jauh mengisi ruang kosong potensi masyarakat untuk melakukan perubahan kehidupannya. Maka jangan heran, nyaris di setiap departemen, instansi, selalu ada institusi pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat yang akhir-akhir ini menjadi sangat tren di berbagai lapisan masyarakat, patut diapresiasi dengan kritis. Sebab tanpa sebuah proses kritik, pemberdayaan masyarakat bisa menjadi pedang bermata dua yang salah-salah menusuk kita sendiri. Sementara itu di sisi lain, substansi masalah belum bisa dipecahkan. Sebagai contoh, nyaris  di semua departemen, lembaga swasta (bisnis dan non bisnis) selalu –minimal—menyebut konsep ini sebagai proses yang harus menjadi kewajiban. Payungnya bisa bermacam-macam: Corporate Social Responsibility atau CSR, pemberdayaan, penguatan, dan lain-lain sebagainya.[1] Padahal bisa jadi istilah-istilah tersebut lebih bermuatan kepentingan ekonomi politik mereka semata, dibanding menjadi benar-benar kepentingan rakyat.

Cari Blog Ini