Sabtu, 15 September 2012

RIWAYAT HIDUP_AGUN AKBAR TABRANI TUGAS1 KPI D

Nama saya Agun Akbar Tabrani, saya anak tunggal dari pasangan Bapak Fachri Hasibuan dan Ibu Suryani. Saya lahir di jakarta pada tanggal 18 desember 1994.  Saya lulusan dari:

1.)  TK ISLAM AL-BARKAH karang tengah lebak bulus jakarta
2.)  MI AL-HIDAYAH komp.lebak lestari lebak bulus jakarta
3.)  MTSN 3 JAKARTA pondok pinang ciputat raya
4.)  MAN 4 MODEL JAKARTA pondok pinang ciputat raya

Dan sekarang saya sedang menempuh pendidikan S1 Komunikasi Penyiaran Islam di UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA.

Saya bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha di bidang kuliner. Yang memotivasi hidup saya adalah bapak saya sendiri yang sering memberi nasihat kepada saya untuk menjadi orang yang sukses nantinya. Usaha saya sendiri untuk mewujudkan impian adalah saya berusaha untuk terus belajar bagaimana cara untuk menjadi seorang yang sukses dan menjadi seorang pengusaha yang cerdas dalam bidangnya.

teori fungsionalisme emile durkheim

Nama:M.Irhamni(1111054000014)
Kelas:PMI 3
Pelajaran:Sosiologi Perkotaan

Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer.  Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial.
 ‎           seorang ahli sosiologi Perancis, yaitu Emile Durkheim. Masyarakat modern dilihat ‎oleh Durkheim sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri. ‎Keseluruhan tersebut memiliki seperangkat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu ‎yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam ‎keadaan normal, tetap langgeng. Bila mana kebutuhan tertentu tadi tidak dipenuhi ‎maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat "patologis". Sebagai contoh ‎dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus ‎dipenuhi. Bilamana kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktuasi yang keras, maka ‎bagian ini akan mempengaruhi bagian yang lain dari sistem itu dan akhirnya sistem ‎sebagai keseluruhan.
Suatu depresi yang parah dapat menghancurkan sistem politik, ‎mengubah sistem keluarga dan menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan. ‎Pukulan yang demikian terhadap sistem dilihat sebagai suatu keadaan patologis, yang ‎pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya sehingga keadaan normal kembali ‎dapat dipertahankan. Para fungsionalis kontemporer menyebut keadaan normal ‎sebagai equilibrium, atau sebagai suatu sistem yang seimbang, sedang keadaan ‎patologis menunjuk pada ketidakseimbangan atau perubahan sosial.‎ Fungsionalisme Durkheim ini tetap bertahan dan dikembangkan lagi oleh dua ‎orang ahli antropologi abad ke-20, yaitu Bronislaw Malinowski dan A.R. Radcliffe-‎Brown. Malinowski dan Brown dipengaruhi oleh ahli-ahli sosiologi yang melihat ‎masyarakat sebagai organisme hidup, dan keduanya menyumbangkan buah pikiran ‎mereka tentang hakikat, analisa fungsional yang dibangun di atas model organis.
Sebagaimana yang dinyatakan ‎oleh Gouldner (1970: 142): "untuk melihat masyarakat sebagai sebuah firma, yang ‎dengan jelas memiliki batas-batas srukturalnya, seperti yang dilakukan oleh teori baru ‎Parsons, adalah tidak bertentangan dengan pengalaman kolektif, dengan realitas ‎personal kehidupan sehari-hari yang sama-sama kita miliki".‎
Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak ‎selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori, akan tetapi paham ini benar-benar ‎berpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu studi tentang struktur-struktur ‎sosial sebagai unit-unit yang terbentuk atas bagian-bagian yang saling tergantung. ‎Coser dan Rosenberg (1976: 490) melihat bahwa kaum fungsionalisme struktural ‎berbeda satu sama lain di dalam mendefinisikan konsep-konsep sosiologi mereka. ‎Sekalipun demikian adalah mungkin untuk memperoleh suatu batasan dari dua konsep ‎kunci berdasarkan atas kebiasaan sosiologis standar. Struktur menunjuk pada ‎seperangkat unit-unit sosial yang relatif stabil dan berpola", atau "suatu sistem dengan ‎pola-pola yang relatif abadi".‎ Selama beberapa dasawarsa, fungsionalisme struktural telah berkuasa sebagai ‎suatu paradigma atau model teoritis yang dominan di dalam sosiologi kontemporer ‎Amerika. Di tahun 1959 Kingsley Davis di dalam pidato kepemimpinannya di ‎hadapan anggota "American Sociological Association", bahkan melangkah lebih jauh ‎dengan menyatakan bahwa fungsionalisme struktural sudah tidak dapat lagi ‎dipisahkan dari sosiologi itu sendiri. Tetapi dalam sepuluh tahun terakhir ini teori ‎fungsionalisme struktural itu semakin banyak mendapat serangan sehingga memaksa ‎para pendukungnya untuk mempertimbangkan kembali pernyataan mereka tentang ‎potensi teori tersebut sebagai teori pemersatu dalam sosiologi.‎
Masyarakat modern dilihat oleh Durkheim sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri. Keseluruhan tersebut memiliki seperangkat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal, tetap langgeng. Bila mana kebutuhan tertentu tadi tidak dipenuhi maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat "patologis". Sebagai contoh dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Bilamana kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktuasi yang keras, maka bagian ini akan mempengaruhi bagian yang lain dari sistem itu dan akhirnya sistem sebagai keseluruhan. Suatu depresi yang parah dapat menghancurkan sistem politik, mengubah sistem keluarga dan menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan. Pukulan yang demikian terhadap sistem dilihat sebagai suatu keadaan patologis, yang pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya sehingga keadaan normal kembali dapat dipertahankan. Para fungsionalis kontemporer menyebut keadaan normal sebagai equilibrium, atau sebagai suatu sistem yang seimbang, sedang keadaan patologis menunjuk pada ketidakseimbangan atau perubahan

Biografi Emile Durkheim

Biografi Singkat Emile Durkheim
Oleh : Aragea Noorma Gustina
Jurnalistik 1A


Tahukah anda, ternyata tidak hanya ilmu agama saja yang memiliki nabi sebagai tokoh panutan. Ternyata dalam ilmu sosiologi pun terdapat 'nabi' sebagai panutan dalam ilmu sosiologi. Tapi jangan berprasangka buruk dulu, nabi yang dimaksud dalam sosiologi adalah penctus teori-teori dalam ilmu sosiologi. Para 'nabi' tersebut ialah Emile Durkheim, Max Waber, dan Karl Max. Namun sekarang akan saya bahas sedikit mengenai Emile Durkheim
Lahir di Epinal, Perancis 15 April 1858. Ia merupakan keturunan dari pendeta yahudi atau bahasa lainnya ialah robbi. Awalnya, ia diperintahkan oleh kedua orangtuanya untuk menjadi seorang pendeta,  mengikuti jejak ayahnya. Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak penolakan itu kini perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis atau sekedar nilai ketimbang teologis (Mestrovic, 1988). Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan masalah kesusastraan dan estetika. Namun tidak hanya mendalami ilmu keagaamaan, ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski kita tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris.
Hasratnya terhadap ilmu makin besar ketika dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt (Durkheim, 1887/1993). Beberapa tahun sesudah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan sejumlah buku diantaranya adalah tentang pengalamannya selama di Jerman (R. Jones, 1994). Penerbitan buku itu membantu Durkheim mendapatkan jabatan di Jurusan Filsafat Universitas Bordeaux tahun 1887. DI sinilah Durkheim pertama kali memberikan kuliah ilmu sosial di Universitas Perancis. Ini adalah sebuah prestasi istimewa karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan meledak di Universitas Perancis karena nama Auguste Comte muncul dalam disertasi seorang mahasiswa. Tanggung jawab utama Durkheim adalah mengajarkan pedagogik di sekolah pengajar dan kuliahnya yang terpenting adalah di bidang pendidikan moral. Tujuan instruksional umum mata kuliahnya adalah akan diteruskan kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemerosotan moral yang dilihatnya terjadi di tengah masyarakat Perancis.
Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serentetan kesuksesan pribadi. Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktornya, The Devision of Labor in Society dalam bahasa Perancis dan tesisnya tentang Montesquieu dalam bahasa Latin (W. Miller, 1993). Buku metodologi utamanya, The Rules of Sociological Method, terbit tahun 1895 diikuti (tahun 1897) oleh hasil penelitian empiris bukunya itu dalam studi tentang bunuh diri. Kemudian masih pada tahun yang sama ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa. Sekitar tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Universitas Bordeaux. Tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas di Perancis yang terkenal, Sorbonne, dan tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu sangat terkenal lainnya, The Elementary Forins of Religious Life, diterbitkan pada tahun 1912.
Kini Durkheim sering dianggap menganut pemikiran politik konservatif dan pengaruhnya dalam kajian sosiologi jelas bersifat konservatif pula. Tetapi dimasa hidupnya ia dianggap berpikiran liberal dan ini ditunjukkan oleh peran publik aktif yang dimainkannya dalam membela Alfred Drewfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dijatuhi hukuman mati karena penghianatan yang oleh banyak orang dirasakan bermotif anti-yahudi (Farrel, 1997).
Durkheim merasa sangat terluka oleh kasus Dreyfus itu, terutama oleh pandangan anti-Yahudi yang melatarbelakangi pengadilannya. Namun Durkheim tidak mengaitkan pandangan anti-Yahudi ini dengan rasialisme di kalangan rakyat Perancis. Secara luas ia melihatnya sebagai gejala penyakit moral yang dihadapi masyarakat Perancis sebagai keseluruhan (Bimbaum dan Todd, 1995). Ia berkata :
Bila masyarakat mengalami penderitaan maka perlu menemukan seorang yang dapat dianggap bertanggung jawab atas penderitaannya itu. Orang yang dapat dijadikan sebagai sasaran pembalasan dendam atas kemalangannya itu, dan orang yang menentang pendapat umum yang diskriminatif, biasanya ditunjuk sebagai kambing hitam yang akan dijadikan korban. Yang meyakinkan saya dalam penafsiran ini adalah cara-cara masyarakat menyambut hasil pengadilan Dreyfus 1894. keriangan meluap di jalan raya.  Rakyat merayakan kemenangan atas apa yang telah dianggap sebagai penyebab penderitaan umum. Sekurang-kurangnya mereka tahu siapa yang harus disalahkan atas kesulitan ekonomi dan kebejatan moral yang terjadi dalam masyarakat mereka; kesusahan itu berasal dari Yahudi. Melalui fakta ini juga segala sesuatu telah dilihat menjadi bertambah baik dan rakyat merasa terhibur (Lukes, 1972:345).
Perhatian Durkheim terhadap perkara Dreyfus berasal dari perhatiannya yang mendalam seumur hidupnya terhadap moralitas modern. Menurut Durkheim, jawaban atas perkara Dreyfus dan krisis moral seperti itu terletak di akhir kekacauan moral dalam masyarakat. Karena perbaikan moral itu tak dapat dilakukan secara cepat dan mudah, Durkheim menyarankan tindakan yang lebih khusus, seperti menindak tegas orang yang mengorbankan rasa benci terhadap orang lain dan pemerintah harus berupaya menunjukkan kepada publik bahwa menyebarkan rasa kebendaan itu adalah perbuatan menyesatkan dan terkutuk. Ia mendesak rakyat agar "mempunyai keberanian untuk secara lantang menyatakan apa yang mereka pikirkan dan bersatu untuk mencapai kemenangan dalam perjuangan menentang kegilaan publik (Lukas, 1972:347).
Tetapi minat Durkheim terhadap sosialisme juga dijadikan bukti bahwa ia menentang pemikiran yang menganggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran Marx dan pengikutnya. Durkheim sebenarnya menamakan Marxisme sebagai "seperangkat hipotesis yang dapat dibantah dan ketinggalan zaman" (Lukes, 1972:323). Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan gerakan yang diarahkan pada pembaharuan moral masyarakat melalui moralitas ilmiah dan ia tak tertarik pada metode politik jangka pendek atau pada aspek ekonomi dari sosialisme. Ia tak melihat proletariat sebagai penyelamat masyarakat dan ia sangat menentang agitasi atau tindak kekerasan. Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan sebuah sistem dimana didalamnya prinsip moral ditemukan melalui studi sosiologi ilmiah di tempat prinsip moral itu diterapkan.
Durkheim berpengaruh besar dalam pembangunan sosiologi, tetapi pengaruhnya tak hanya terbatas di bidang sosiologi saja. Sebagian besar pengaruhnya terhadap bidang lain tersalur melalui jurnal L'annee Sociologique yang didirikannya tahun 1898. Sebuah lingkaran intelektual muncul sekeliling jurnal itu dan Durkheim berada dipusatnya. Melalui jurnal itu, Durkheim dan gagasannya mempengaruhi berbagai bidang seperti antropologi, sejarah, bahasa dan psikologi yang agak ironis, mengingat serangannya terhadap bidang psikologi.
Durkheim meninggal pada tanggal 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Perancis ternama. Tetapi, karya Durkheim mulai memengaruhi sosiologi Amerika dua puluh tahun sesudah kematiannya, yakni setelah terbitnya The Structure of Social Action (1973) karya Talcott Parsons.





ECO-SPIRITUALITAS: PERNAHKAH KITA BERSYUKUR? dan DZALIMKAH kita selama ini?

ECO-SPIRITUALITAS: PERNAHKAH KITA BERSYUKUR? dan DZALIMKAH kita selama ini?
Oleh: Prof. Dr. Arya H Dharmawan

Kawan....pernahkah kita "BERSYUKUR secara EKOLOGIS" kepadaNYA? Pernahkah kita benar-benar berterima kasih atas kasih-sayangNYA kepada kita? Seberapa banyak juga kita sudah membalas kasih sayangNYA melalui sedekah ekologis kepada bumi ini?

Kawan, mari coba kita berhitung secara sederhana saja...

1. Sudah berapa tahun usia anda? Sudah berapa lama anda mengenyam pendidikan? SMP, SMA, S1, S2, S3? Sudah berapa banyak karbon dalam bentuk kertas anda konsumsi untuk mendukung kelancaran studi anda selama ini? 1 rim kertas, 10 rim kertas, 100 rim kertas, atau 200 rim kertas? Berapapun jumlahnya. Setiap lembar kertas yang digunakan manusia, ia adalah wujud pengorbanan tegakan pohon yang terpaksa ditebang demi untuk menghasilkan kertas bagi kelancaran studi anda. Makin banyak kertas dipakai, makin banyak pohon tertebang. Tak pernahkah terpikir betapa sulitnya mengakumulasikan karbon di setiap lingkar batang pohon itu?

Teori Fungsionalisme menurut Emile Durkheim

Fungsionalisme menurut Emile Durkheim
Oleh : Syifa Thoyyibah PMI 3
Tugas 1


Fungsionalisme Menurut Emile Durkheim
          Menurut Emile Durkheim fungsionalisme struktural lahir sebagai perspektif yang berbeda dalam sosiologi, karena masyarakat modern memiliki seperangkat kebutuhan dan fungsi-fungsi tertentu ‎yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam ‎keadaan normal, tetap langgeng.[1] Bila mana kebutuhan tertentu tadi tidak dipenuhi ‎maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat "patologis"[2].
Contohnya di dalam  masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, jika dalam kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktasi yang keras, maka bagian ini akan mempengaruhi bagian lain dari sistem tersebut seperti sistem politik, kemudian sistem keluarga dan kemudian menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan dan akhirnya mempengaruhi sistem keseluruhannya. Keadaan patologis tersebut akan teratasi dengan sendirinya yang mengakibatkan keadaan normal atau suatu sistem yang seimbang. Karena dalam fungsionalisme terdapat yang namanya pranata atau aturan yang dimana dalam aturan itu terdapat penghargaan dan sanksi.
        

Jumat, 14 September 2012

Mutia soleha KPI 1D

AKU DAN MIMPIKU
Nama ku Mutia Soleha. Aku dilahirkan di jakarta pada tanggal 10 januari 1995 dalam keadaan sempurna tanpa ada cacat sedikit pun. Aku dilahirkan dari pasangan suami istri keluarga sederhana. Orang tuaku sangat mementikan pendidikan untuk anaknya. Oh iya aku anak pertama dari tiga bersaudara dan adikku semua perempuan.
Dari kecil aku sudah dididik ilmu agama dengan baik, sampai ketika aku lulus dari sekolah dasar aku dimasukan ke sebuah pondok pesantren di daerah Bogor. Mereka berharap besar kepadaku agar aku bisa mendapatkan ilmu agama yang lebih banyak sehingga aku bisa memilih jalan hidupku sendiri dengan baik.

Teori Fungsionalis Menurut Emile Durkheim

Teori Fungsionalis Menurut Emile Durkheim
Oleh: Ahmad Afandi PMI 3
Tugas 1
Sebelum kita mengetahui tentang teori fungsionalis ini, siapa itu Emile Durkheim? Emile Durkheim adalah salah satu dari peletak dasar ilmu sosial modern yang paling terkemuka. namanya selalu disejajarkan dengan dua tokoh lain, yaiut Max Weber dan Karl Marx. Seperti halnya kedua tokoh tersebut, Durkheim hidup di saat peralihan sosial dann suasana krisis sedang melanda Eropa. Meskipun dia selalu tampil dengan jawaban yang berbeda dan menggunakan pendektan metodologis yang berlainan, ketiga tokoh ini mencoba mencari jawaban atas kegelisahan sosial masyarakat pada saat itu. Sebab itulah dengan mengenal Emile Durkheim, dan tulisan-tulisannya, kita tidak hanya berkenalan dengan salah satu corak pembentukan teori, tetapi juga contoh semacam pergumulan intelektual di saat peralihan sosial sedang berlangsung. Dengan demikian usaha 'pempribumian' ilmu soiologi akan lebih mungkin dirintis. Durkheim merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif. Karya utamanya adalah, antara lain, The Devision of Labor Society (1964), karya pertamanya yang berbentuk disertasi doktor; Rules of  Sociological Method (1965); Suicide (1968); Moral Education (1973); dan The Elementary Forms of The Relegious Life (1966), ia pun banyak dalam majalah yang diterbitkannya L'Annee Sociologique (1896)[1].

Emile Durkheim

Biografi Emile Durkheim
 Dede Fauziah
Jurnalistik I.A
 A.  Latar belakang
Sejak awal tahun 1970-an salah satu masalah yang selau diperbincangkan para ahli ilmu sosial kita adalah perlunya apa yang disebut 'pempribumian' ilmu-ilmu sosial. Masalah ini muncul oleh adanya kesadaran bahwa dalam usaha untuk menangkap, memahami, dan menerangkan realitas sosial, ternyata pendekatan serta konsep dan teori-teori yang ada kurang memadai. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurang mampunya teori-teori yang tersedia itu untuk menerangkan realitas sosial yang ada.

Kamis, 13 September 2012

Emile Durkheim oleh ATIKA SURI_JURNALISTIK 1A


EMILE DURKHEIM
Oleh: Atika Suri_Jurnalistik 1A
Emile Durkheim merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam sosiologi. Disini akan diuraikan mengenai biografi, teori dan gagasan, serta tentang pendidikan dari Emile Durkheim agar kita bisa lebih mengenal tokoh ini.
1.       BIOGRAFI
Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis, 15 April 1858. Ia keturunan Pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis (mestrovic, 1988). Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan umumnya dan banyak memberi perhatian pada masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral  masyarakat. Meski ia tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di paris.

Sosiologi Durkheim

Emile Durkhein
Oleh: 
Ruqoyah Jurnalis 1A
             Durkheim dilahirkan di Ã‰pinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya   sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
         

Rabu, 12 September 2012

Sosiologi EMILE DURKHEIM

EMILE DURKHEIM
Oleh: Devi Yuliana Jurnalistik 1A
             Durkheim dilahirkan di Ã‰pinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya   sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
           

Emile Durkheim (1858 – 1917)


Emile Durkheim (1858 – 1917)
Oleh: Umi Kulsum Jurnalistik A
Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis (Mestrovic, 1988).
Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat.
   

Sosiologi Emile Durkheim

Emile Durkheim
Oleh: 
Maimunah Permata Hati Hsb Jurnalistik 1A
David Émile Durkheim (lahir 15 April 1858 – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.
Teori dan Gagasan Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.

emile durkheim


Emile Durkheim
David Émile Durkheim (lahir 15 April 1858 – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.
Teori dan Gagasan Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.

Sosiologi EMILE DURKHEIM

DAVID EMILE DURKHEIM
Oleh
Annisa Novianti Jurnalistik I A 
David Emile  Durkheim (lahir 15 April 1858 – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896. Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.

Selasa, 11 September 2012

Novi Fitriani

Nama               : Novi Fitriani
NIM                : 1112051000147
Jurusan/Prodi : Komunikasi Penyiaran Islam
Semester          : 1

  
Assalamualaikum Wr.Wb
Perkenalkan nama saya Novi Fitriani, anak bungsu dari dua bersaudara. Saya dilahirkan di Jakarta pada tanggal 7 Juni 1994.
Saat duduk dibangku SMA saya sempat bingung menentukan ingin kemana setetelah lulus SMA nanti, karena banyak sekali angan-angan yang ada dikepala saya. Antara kuliah atau bekerja. Ada keinginan untuk merasakan mencari uang sendiri, namun ada juga minat melanjutkan ke perguruan tinggi dan masuk ke jurusan Pemerintahan, kebidanan, atau broadcast.

MUHAMMAD RIDHO ANDRIANSYAH, KPI 1E, TUGAS 1

BIODATA DIRI
NAMA                                        : MUHAMMAD RIDHO ANDRIANSYAH
NIM                                            : 1112051000152
TANGGAL LAHIR                     : 19 AGUSTUS 1994
ALAMAT                                    : JL. KH.AHMAD DAHLAN GG GURU AHMAD. RT OO1/O1 NO.1 KEL.PETIR CIPONDOH KOTA TANGERANG
HOBBY                                      : MAIN MUSIK
CITA –CITA                               : PENGUSAHA MUDA
TOKOH IDOLA                         :  BENYAMIN SUEB (BANG BENS)

Senin, 10 September 2012

gilang sakti perdana

nama : gilang sakti perdana
kelas : KPI 1E
hobby: maen futsal
alamat : permata balaraja blok A65 no. 5 RT. 01/001 tangerang
cita-cita : guru besar 

tokoh idola : KH. Mahfudin Arsyad

TRISAKA OCTARIAN,KPI.1E,TUGAS 1

NAMA                                                  :  Trisaka Octarian
NIM                                                      :  1112051000130
TEMPAT, TANGGAL LAHIR               :  Jakarta,30 oktober 1994
KELAS                                                 :  KPI 1E
HOBBY                                                :  Fotography
CITA CITA                                           :  Wartawan
TOKOH IDOLA                                  :  Ayah saya sendiri

SITI AISYAH KPI 1E,TUGAS 1

Nama                           : SITI AISYAH
NIM                             : 1112051000144
Program                       : S1
Jurusan/ Prodi             : Komunikasi dan Penyiaran Islam ( 1E)
Semester                      : 1(satu)
Mata kuliah                  : Sosiologi Agama
Asssalamualaikum wr ,wb
Nama saya Siti aisyah dari kelas 1e jurusan Komunikasi dan penyiaran islam. Alasan saya memilih jurusan ini adalah untuk meningkatkan lagi cara dalam berkomuikasi yang baik karna komunikasi itu sangat penting dan  dibutuhkan dan berawal dari komunikasi kita dapat mengetahui informasi yang sangat penting untuk diri kita sendiri  . Walaupun pilihan pertama saya Perbankan syariah tapi saya masuk ke jurusan ini juga karna pilihan saya sendiri jadi tidak ada rasa terpaksa atau sebagainya.

Ahmad Hilman Zulfahmi, KPI E, Tugas Pertama

Nama: Ahmad Hilman Zulfahmi
NIM: 1112051000153
Mata Kuliah: Sosiologi Agama
Tugas: 1

Tujuan kuliah: untuk mendapatkan ijazah.

Alasan masuk KPI: alasan saya memilih kuliah di KPI karena saya cinta pada dunia radio, saya pernah melamar pekerjaan di berbagai radio, tapi selalu ditolak, saya pikir saya belum mempunyai cukup ilmu dalam bidang penyiaran. Maka dari itu saya mencari fakultas komunikasi. Dan almarhum ayah saya menyarankan untuk masuk UIN SyaHid. Dan kebetulan di UIN ada Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi. Maka masuk KPI adalah prodi utama saya.

Cari Blog Ini