Sabtu, 22 September 2012

biografi_m.alief mumtaz nadiby.JNR B_tugas ke 1

Bubur sumusum minum jamu
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Baiklah langsung saja saya akan memperkenalkan diri saya. Nama saya Muhammad Alief Mumtaz Nadiby saya lahir di kota tangerang dan saya tinggal dikota tangerang tepatnya di kp.kramat ds.sumurbandung kec.jayanti kab.tangerang saya SD di MI ALKAROMAH, SMP di ma'had daar el qolam , dan SMA di SMAN 1 kab.tangerang. saya mempunyai dua adik kandung yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Saya juga seorang anak yatim yang ditinggal meninggal oleh ayah saya ketika saya berumur 13 tahun dikarenakan sakit maka dari itu kewajiban saya selain kuliah adalah menjaga ibu saya dan kedua adik adik saya.
Mengapa saya memilih prodi jurnalistik ???
Saya memilih prodi jurnalistik karena saya sebelumnya pada tahun 2011 saya masuk prodi SI pada fakultas saintek UIN bagi saya itu tidak cocok dengan saya maka dari itu saya daftar kembali diUIN menjadi mahasiswa baru dan memilih prodi jurnalistik dengan tekad baru dan semangat yang baru karena menjadi seorang jurnalis adalah hal yang menyenangkan.
Seseorang yang menginspirasi saya adalah iyus hambali beliau adalah om saya sekaligus seorang jurnalis di kab.tangerang dan saya mendapatkan sumber tentang jurnalistik dari beliau.

BIOGRAFI_QORIBATUL CHOIRIYAH JUR 1B_TUGAS KE-1

Assalamu'alaikum wr.wb

 

     Saya 'QORIBATUL CHOIRIYAH', biasanya orang disekeliling saya memanggil saya dengan sebutan 'qory'. Saya tidak terlalu bisa menggambarkan bagaimana diri saya ini, namun karena tugas saya akan berusaha melakukannya. Saya lahir pada tanggal 14 Desember 1993, saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat mengagumkan karena beliau saya bisa seperti ini menjadi diri sendiri yang selalu bersyukur dan berusaha menikmati segala takdir kehidupan ini yang telah diberikan oleh Allah SWT. Begitu juga dengan ayah saya, beliau adalah seorang ayah yang mencintai keluarganya dan seorang lelaki yang menjadi pahlawan bagi keliurganya. Saya anak ke-2 dari 4 bersaudara. Hobi saya menggambar, membaca komik, mendengarkan lagu, menonton drama-drama korea, menulis, membaca buku jika memiliki mood yang baik. Saya bercita-cita ingin menjadi penulis novel atau penulis skenario drama / film atau menjadi komikus (pembuat komik) , namun saya akan menerima apapun takdir yang Allah telah takdirkan dalam hidup saya.

 

     Hm.. Saya ini orang yang cukup sulit bergaul dengan orang-orang asing karena saya termasuk orang yang pendiam. Memang saya sadari, saya mempunyai sikap pemalu. Banyak teman-teman sekolah memberi saya julukan dengan sebutan 'cewe jutek' entahlah sayapun tidak mengerti terlalu banyak tentang mengenai hal itu. Saya akan berkemauan keras jika sudah mempunyai suatu keinginan yang harus dicapai tapi jika mengalami kegagalan rasa semangat saya akan langsung hancur secara tiba-tiba. Saya sering acuh terhadap sesuatu yang asing dan tidak mau tahu urusan orang lain. Saya orang yang memiliki impian besari.  Kehidupan saya diwarnai dengan segala hal yang berhubungan dengan k-pop ( korea-pop ). yaa, saya ini memang sangat menggilai tentang dunia kpop, tepatnya  dimulai dari kelas 1 MTS jadi sudah sangat melekat sekali hal itu dikehidupan saya dan sangat sulit sekali menghilangkan itu dalam hidup saya.

 

   Alasan saya memilih jurusan jurnalistik adalah saya ingin menjadi orang yang tidak pemalu, menghilangkan sikap itu dari diri saya. Saya juga ingin mempunyai mental yang kuat dengan berada dijurusan ini. Selain itu saya juga mencintai dunia berita atau informasi, menurut saya salah satu keistimewaan menjadi wartawan yaitu kita menjadi seseorang yang mengetahui segala informasi dalam segala bidang, baik dalam bidang agama, politik, sosial, ekonomi, pendidikan, entertainment, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dengan menjadi seorang wartawan kita akan bisa menjadi seseorang yang berwawasan luas dan berguna bagi diri kita sendiri atau berguna bagi orang-orang yang ada disekeliling kita. Walaupun awalnya saya tidak berniat mempunyai cita-cita menjadi wartawan namun saya akan mencoba itu dengan segala usaha yang terbaik. Semoga dengan saya menjadi jurnalistik,  saya  ingin mewujudkan impian saya yaitu menapakan kaki ini  di seoul, korea selatan  ^__^

 

  Tokoh idola saya dalam dunia jurnalis adalah 'PUTRA NABABAN' karena ia mempunyai kharisma tersendiri dunia kejurnalistikan. Cara ia menyampaikan berita kepada masyarakat sangatlah bagus.

 

Wassalamu'alaikum wr.wb

 

Biografi_YusufYanuarJnr1B_tugaske-1

Nama saya Yusuf Yanuar, banyak orang memanggil saya dengan sebutan Iyos. Saya lahir di Bogor pada 21 Januari 1994. Anak bungsu dari 4 bersaudara, kakak saya yang pertama dan kedua telah berkeluarga, sedangkan kakak saya yang ketiga meninggal dunia ketika Ia masih bayi.
Saya tinggal dan dibesarkan disebuah desa kecil dipinggir kota Bogor, tepatnya di Desa Rawakalong. Mengawali jenjang pendidikan, pada tahun 2001 saya masuk di Sekolah Dasar Negeri Nusa Indah. Lalu saya melanjutkan ke MTs. Al-Inaayah pada tahun 2007. Kemudian setelah lulus dari sekolah menengah pertama, pada tahun 2010 saya masuk di SMK Sasmita Jaya 1 dengan jurusan Akuntansi.
Terlahir dari sebuah keluarga yang penuh dengan kesederhanaan tak membuat saya patah semangat untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkat dukungan dan do'a dari orang-orang disekitar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disana saya mengambil jurusan Konsentrasi Jurnalistik. Saya tertarik dengan jurusan ini karena memiliki tantangan tersendiri bagi setiap orang yang menggelutinya. Selain itu seorang jurnalis professional selalu bekerja dengan keras dan juga memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Untuk influence saya dibidang jurnalistik yaitu Bpk. Rosihan Anwar, menurut saya Beliau adalah sosok jurnalis yang sangat konsisten dalam menekuni bidangnya. Sebagai jurnalis yang professional pada masanya Beliau selalu menyajikan fakta-fakta yang sangat menarik yang pada saat itu dibutuhkan banyak rakyat Indonesia. Beliau bisa dikatakan sebagai legenda hidup Pers Indonesia.
Selain itu, motivator terbesar dalam hidup saya adalah Ibu saya sendiri. Ibu selalu mengajarkan saya bagaimana mengatasi masalah hidup. Ia adalah orang terkuat yang pernah saya kenal dan  Ia juga adalah orang terhebat dalam hidup saya.
Motto hidup saya yaitu "Hidup adalah perjuangan, dimana bukanlah hidup yang sesungguhnya jika tanpa perjuangan".

Karl marx_Dede Fauziah_Jurnalistik I.A

PANDANGAN KARL MARKS
A.    Pertentangan Kelas
            Mark sering memakai istilah kelas didalam tulisan-tulisannya. Kelas bagi Marx, selalu didefinisikan berdasarkan potensinya terhadap konflik. Individu-individu membentuk kelas sepanjang mereka berada didalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lain tentang nilai surplus. Di dalam kapitalisme terdapat konflik kepentingan yang inheren antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang kerja mereka diubah kembali menjadi nilai-nilai surplus. Konflik inheren inilah yang membentuk kelas-kelas(Ollman, 1976). Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konflik ini berbeda-beda baik secara teoritis maupun historis. Bagi Marx, sebuah kelas benar-benar eksis hanya ketika orang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas yang lain. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan membentuk apa yang disebut Marx dengan suatu kelas didalam dirinya. Ketika mereka menyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, suatu kelas untuk dirinya. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, borjuis, dan proletar. Kelas borjuis, merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan memperkerjakan pekerja upahan. Konflik antar kelas borjuis dan kelas proletar adalah contoh lain dari kontradiksi material yang sebenarnya. Kontradiksi ini berkembang sampai menjadi kontradiksi antara kerja dan kapitalisme. Tidak satupun dari kontradiksi kontradiksi-kontradiksi ini yang bisa diselesaikan kecuali dengan mengubah struktur kapitalis. Masyarakat akan semakin berisi pertentangan dua kelas besar yang berlawanan. Kompetisi dengan took-toko besar dan rantai monopoli akan mematikan bisnis-bisnis kecil dan independen, mekanisasi akan menggantikan buruh tangan yang cekatan, dan bahkan beberapa kapitalis akan ditekan melalui cara-cara ampuh untuk monopoli, misalnya melakukan merger. Semua orang yang digantikan ini akan terpaksa turun kelas menjadi proletariat. Marx menyebut pembengkakan yang tak terlelakan di dalam jumlah proletariat ini dengan proletarianisasi. Sebagai tambahan, karena kapitalis telah mengganti para pekerja dengan mesin-mesin yang menjalankan serangkaian operasi yang sederhana, maka mekanisasi menjadi semakin mudah. Sebagai jalannya mekanisasi maka akan semakin banyak orang yang keluar dari pekerjaan dan terjatuh dari protelatariat ke "tentara cadangan" industri. Akhirnya Marx meramalkan suatu situasi dimana masyarakat akan terdiri atas secuil kalangan kapitalis eksploratif dan kelas proletariat serta "tentara cadangan" industri yang sangat besar.
Agama
            Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk agama sebagai candu masyarakat, namun berikut adalah kutipan catatan Marx :
"Kesukaran agama-agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang sebenarnya. Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat. (Marx, 1843/1970)"
            Marx percaya bahwa, agama seperti halnya ideologi merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama, pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama.
 
Ideologi
            Perubahan-perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan-kekuatan produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh relasi-relasi yang sedang eksis, akan juga oleh relasi-relasi pendukung, institusi-institusi, dan khususnya, ide-ide umum. Ketika ide-ide umum menunjukkan fungsi ini, Marx memberikan nama khusus terhadapnya yaitu ideologi. Marx tidak selalu persis tentang penggunaan kata ideologi. Dia menggunakan kata tersebut untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan. Pertama, ideologi merujuk kepada ide-ide yang secara alamiah muncul setiap saat didalam kapitalisme, akan tetapi yang karena hakikat kapitalisme, merfleksikan realitas di dalam suatu cara yang terbalik. Untuk hal ini, dia menggunakan metafora kamera obscura, yang menggunakan optik quirk untuk menunjukkan bayang-bayang nyata yang nampak terbalik. Inilah tipe ideology yang direpresentasikan oleh fetisisme komoditas atau oleh uang. Meskipun kita mengetahui bahwa yang hanyalah potongan kertas yang memiliki nilai hanya karena relasi-relasi social yang mendasarinya, akan tetapi didalam kehidupan sehari-hari kita harus memperlakukan uang seolah-olah memiliki nilai sendiri. Walaupun pada hakikatnya kitalah yang memberi nilai kepada uang tersebut, akan tetapi yang sering terlihat adalah bahwa uanglah yang member kita nilai.  Tipe ideology ini mudah terganggu karena didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi material yang mendasarinya. Nilai manusia tidak benar-benar tergantung pada uang, dan kita sering menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi-kontradiksi itu. Faktanya, disinilah level yang kita sering menjadi sadarakan kontradiksi-kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya kita menjadi sadar bahwa ekonomi bukanlah sebuah sistem objektif dan independen, melainkan sebuah ranah politis. Kita menjadi sadar bahwa kerja kita bukan sekadar komoditas, dan bahwa penjualannya melalui upan menimbulkan alienasi. Atau jika kita tidak menyadari kebenaran yang mendasar tersebut, setidaknya kita menyadari kekacauan karena gerakan politis yang terang-terangan didalam pengalamatan gangguan-gangguan inilah penggunaan kedua dari ideologi relevan.
            Ketika gangguan-gangguan muncul dan kontradiksi-kontradiksi material mendasar terungkap, tipe kedua ideology akan muncul. Di sini Marx menggunakan istilah ideologi untuk merujuk kepada sistem-sistem aturan ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem kapitalis. Pada kebanyakan kasus, mereka melakukan hal ini dengan salah satu dari tiga cara berikut :
1.       Mereka menghadirkan suatu sistem ide, sistem agama, filsafat, literature, hukum yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi tampak koheren.
2.      Mereka menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut yang mengungkapkan kontradiksi –kontradiksi, biasanya sebagai problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual, atau
3.      Mereka menghadirkan kontradiksi kapitalis sebagai yang benar-benar menjadi suatu kontradiksi pada hakikat manusia dan oleh karena itu satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh perubahan sosial.
Secara umum, golongan-golongan yang berkuasa mencuptakan tipe kedua ideology ini. Misalnya Marx merujuk kepada ekonom-ekonom borjuis yang merepresentasikan filsuf-filsuf borjuis, seperti hegel, karena menganggap bahwa kontradiksi-kontradiksi material bisa diatasi dengan mengubah cara berpikir. Bagaimanapun, ploteratiat pun bisa menciptakan tipe ideology ini. Namun, persoalannya bukan siapa yang menciptakan, akan tetrapi bahwa ideology-ideologi selalu menguntungkan golongan yang berkuasa dengan menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang akan membawa perubahan sosial.
 
 
Modal Produksi
            Di dalam produksi sosial eksistensi, manusia menjalin hubungan dengan tertentu yang dibutuhkan dan bebas sesuai keinginan mereka. Hubungan- hubungan produksi ini berkaitan dengan level tertentu yang terkait dengan perkembangan tenaga produksi material. Keseluruhan kebutuhan ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, sebagai pondasi riil yang menjadi dasar berdirinya bangunan yuridis dan politik, dan sebagai jawaban atas bentuk-bentuk tertentu dalam kesadaran sosial. Cara produksi dalam kehidupan material pada umumnya mendominasi perkembangan kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, namun sebaliknya, eksistensi sosial mereka menentukan kesadaran tersebut. Pada taraf perkembangan tertentu tenaga kerja produksi material dalam masyarakat berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, mulailah era revolusi sosial. Perubahan dalam pondasi ekonomi disertai dengan kekacauan bangunan besar itu cepat atau lambat. Terdapat kekacauan dalam kondisi-kondisi produksi ekonomi. Namun ada juga bentuk-bentuk yuridis, politik, religius, artistik, dan filosofis, pendeknya bentuk-bentuk ideologis tempat manusia didalamnya memperoleh kesadaran akan adanya konflik itu dan akan mendorongnya hingga ke ujung akhir. Jika direduksi hingga ke garis-garis besarnya, maka cara produksi ala asia, kuno, feudal, dan borjuis tampak sebagai zaman progresif terbentuknya ekonomi dalam masyarakat. Hubungan hubungan produksi model borjuis adalah bentuk antagonis terakhir dalam proses sosial produksi. Masa prasejarah kemanusiaan berakhir dengan sistem sosial ini.
 
 

biografi_yuni kartika sari JNR 1B_Tugas I

         Nama saya Yuni Kartika Sari,sulung dari tiga bersaudara yang lahir di Blora-Jawa Tengah pada tanggal 7 Juni 1993.Berkulit sangat indonesia,memiliki mata yang bisa dikatakan sipit pada saat tertawa,begitu juga hidung saya,dia juga tidak mau kehilangan identitas keindonesiaannya,dimana akan terlihat lebih "rata"pada saat tertawa juga.Saat orang-orang terlihat lebih manis jika tertawa atau tersenyum,saya hanya bingung kapan saya akan terlihat manis pada saat tertawa seperti mereka ?,tapi saya tetap bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang,mau usaha kaya apa juga muka saya ini nggak bakal mirip personil SNSD juga hehe.Kedua Orangtua saya berasal dari suku yang sama yaitu jawa,ibu dari Blora dan Bapak saya dari Kebumen,sungguh saya sangat bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka,yang selalu melakukan dan mengusahakan apapun yang terbaik untuk saya,terutama pendidikan,mereka selalu ingin saya menuntut ilmu di sekolah negeri,karena apa ? karena lebih terjangkau tentunya,dan alhamdulillah dari SD sampai perguruan tinggi saya selalu mendapatkan negeri,itu juga berkat do'a dan support dari mereka.Tapi mereka bilang kalau saya mau kuliah harus siap segala sesuatunya termasuk biaya dan lain sebagainya,karena mereka hanya menyanggupi menyekolahkan saya sampai tingkat SMA/SMK.Saya mengerti maksud dari perkataan mereka itu,namanya saya anak pertama jika saya bisa sampai perguruan tinggi dan adik-adik saya tidak ? takutnya nanti timbul rasa iri yang berkepanjangan.Begitu saya lulus tahun 2011,saya langsung kerja dulu satu tahun,ngumpulin dana dan akhirnya saya memutuskan untuk daftar SPMB Mandiri di UIN Ciputat mengambil jurusan Jurnalistik dan Hubungan Internasional.
         Kenapa saya memilih Jurnalistik ? Karena dunia infotainment tidak ada matinya , dimana zaman sekarang para jurnalis banyak dibutuhkan untuk mengisi jabatan jabatan kosong karena menjamurnya stasiun-stasiun tv swasta di Indonesia ini,saya bangga menjadi jurnalis karena hanya dengan pena dan secarik kertas saja pejabat-pejabat/petinggi di negri ini bisa takut melihat kita,dengan lubang kamera yang sekecil itu kita dapat melihat apapun yang orang lain belum tahu,Gayus lagi nonton bola di Bali aja bisa kelihatan,seorang jurnalis adalah orang ter-up-to-date,menyingkap segala sesuatu yang dianggap tabu dan itu menyenangkan sekali untuk saya,kalau tidak ada figur seorang jurnalis Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mungkin belum menjadi Presiden seperti sekarang ini,oleh karena itu saya memilih Jurnalistik,karena saya sadar betapa penting peran para jurnalis itu.
          Tokoh jurnalis yang menjadi motivator saya adalah Putra Nababan ,menurut saya cara di membawakan berita sangat keren dan sangat mudah untuk di cerna .Dan saya juga sangat kagum karena dari sekian banyak tokoh jurnalis,Putra Nababan lah yang mendapat kesempatan untuk mewawancai Presiden Amerika Serikat yaitu Barrack Obama secara eksklusif.Saya berharap bisa menjadi seperti Putra Nababan , bisa keliling dunia dan mewawancai orang-orang terkenal.
Motto hidup saya adalah  "Sabar dalam mengatasi kesulitan dan bertindak bijaksana "
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Restu Mayang Tampi Jurnalistik 1A

KARL MARX

Pertentangan Kelas
Dalam beberapa pandangan Marx tentang kehidupan sosial,
terdapat pandangannya tentang kelas, yaitu kelas-kelas dianggap
sebagai kelompok-kelompok sosial yang mempunyai kepentingan sendiri
yang bertentangan satu sama lain sehingga konflik tak terelakkan lagi.
Marx memandang masyarakat terdiri dari dua kelas yang didasarkan pada
kepemilikan sarana dan alat produksi (property), yaitu kelas borjuis
dan proletar.
Kelas Borjuis adalah kelompok yang memiliki sarana dan alat
produksi yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam
usaha. Sedangkan kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki
sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan kebutuhan
ekonominya tidak lain hanyalah menjual tenaganya. Menurut Marx,
masyarakat terintegrasi karena adanya struktur kelas dimana kelas
borjuis menggunakan negara dan hukum untuk mendominasi kelas proletar.
Konflik antarkelas sosial terjadi melalui proses produksi sebagai
salah satu kegiatan ekonomi di mana dalam proses produksi terjadi
kegiatan pengeksploitasian terhadap kelompok proletar oleh kelompok
borjuis. Perubahan sosial justru membawa dampak yang buruk bagi nasib
kaum buruh (proletar) karena perubahan sosial berdampak pada semakin
banyaknya jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk akan
menyulitkan kehidupan kelompok proletar karena tuntutan akan lapangan
pekerjaan semakin tinggi sementara jumlah lapangan kerja yang tersedia
tidak bertambah (konstan). Tingginya jumlah penawaran tenaga kerja
akan berpengaruh pada rendahnya ongkos tenaga kerja yang diterimanya,
sehingga kehidupan selanjutnya justru kian buruk. Sedangkan kelompok
kapitalis (borjuis) akan semakin berlimpah dengan segala macam
kemewahannya. Gejala inilah yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan
sosial yang berujung pangkal pada konflik sosial. Dengan demikian,
akar permasalahan yang menimbulkan konflik sosial adalah karena
tajamnya ketimpangan sosial berikut eksploitasinya.
Semakin memburuknya kehidupan kaum proletar dan semakin
timpangnya kesenjangan ekonomi, maka gejala ini mendorong kaum
proletar untuk melakukan perlawanan dalam bentuk revolusi sosial
dengan tujuan menghapus kelas-kelas sosial yang dianggap sebagai biang
ketidakadilan. Dalam teori Marx disebutkan bahwa keadilan sosial akan
tercapai jika kehidupan masyarakat tanpa kelas telah dapat diwujudkan.
Dalam kehidupan masyarakat tanpa kelas, peran negara hanya bersifat
sementara saja, yaitu sebagai alat pengendalian diktator proletariat
atau kewenangan yang memiliki golongan proletar. Akan tetapi, di saat
masyarakat komunis terbentuk maka peranan negara akan lenyap dengan
sendirinya (witherway).

Agama
Marx melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk agama sebagai
candu masyarakat, namun berikut adalah kutipan catatan Marx :
Kesukaran agama-agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari
kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang
sebenarnya. Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya
dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit.
Agama adalah candu masyarakat.
Bentuk keagamaan ini, mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu
berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Kita
juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada digarda
depan dalam melawan kapitalisme. Meskipun demikian, Marx merasa bahwa
agama khususnya menjadi bentuk kedua ideologi dengan menggambarkan
ketidak adilan kapitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan
mendorong perubahan revolusioner ke akhirat. Dengan cara ini, teriakan
orang-orang tertindas justru digunakan untuk penindasan selanjutnya.

Ideologi
Perubahan-perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan-kekuatan
produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh relasi-relasi yang sedang
eksis, akan juga oleh relasi-relasi pendukung, institusi-institusi,
dan khususnya, ide-ide umum. Ketika ide-ide umum menunjukkan fungsi
ini, Marx memberikan nama khusus terhadapnya : ideologi. Marx tidak
selalu persis tentang penggunaan kata ideologi. Dia menggunakan kata
tersebut untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.
Pertama, ideologi merujuk kepada ide-ide yang secara alamiah
muncul setiap saat didalam kapitalisme, akan tetapi yang karena
hakikat kapitalisme, merfleksikan realitas di dalam suatu cara yang
terbalik. Untuk hal ini, dia menggunakan metafora kamera obscura, yang
menggunakan optik quirk untuk menunjukkan bayang-bayang nyata yang
nampak terbalik. Inilah tipe ideology yang direpresentasikan oleh
fetisisme komoditas atau oleh uang. Meskipun kita mengetahui bahwa
yang hanyalah potongan kertas yang memiliki nilai hanya karena
relasi-relasi social yang mendasarinya, akan tetapi didalam kehidupan
sehari-hari kita harus memperlakukan uang seolah-olah memiliki nilai
sendiri. Walaupun pada hakikatnya kitalah yang memberi nilai kepada
uang tersebut, akan tetapi yang sering terlihat adalah bahwa uanglah
yang member kita nilai. Tipe ideology ini mudah terganggu karena
didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi material yang mendasarinya.
Nilai manusia tidak benar-benar tergantung pada uang, dan kita sering
menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi-kontradiksi itu.
Faktanya, disinilah level yang kita sering menjadi sadarakan
kontradiksi-kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa
kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya kita menjadi sadar bahwa
ekonomi bukanlah sebuah sistem objektif dan independen, melainkan
sebuah ranah politis. Kita menjadi sadar bahwa kerja kita bukan
sekadar komoditas, dan bahwa penjualannya melalui upan menimbulkan
alienasi. Atau jika kita tidak menyadari kebenaran yang mendasar
tersebut, setidaknya kita menyadari kekacauan karena gerakan politis
yang terang-terangan didalam pengalamatan gangguan-gangguan inilah
penggunaan kedua dari ideologi relevan.
Ketika gangguan-gangguan muncul dan kontradiksi-kontradiksi material
mendasar terungkap, tipe kedua ideology akan muncul. Di sini Marx
menggunakan istilah ideologi untuk merujuk kepada sistem-sistem aturan
ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan
kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem kapitalis. Pada
kebanyakan kasus, mereka melakukan hal ini dengan salah satu dari tiga
cara berikut :
1. Mereka menghadirkan suatu sistem ide, sistem agama, filsafat,
literature, hukum yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi tampak
koheren.
2. Mereka menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut yang
mengungkapkan kontradiksi –kontradiksi, biasanya sebagai
problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual.
3. Mereka menghadirkan kontradiksi kapitalis sebagai yang benar-benar
menjadi suatu kontradiksi pada hakikat manusia dan oleh karena itu
satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh perubahan sosial.

Modal Produksi
Di dalam produksi sosial eksistensi, manusia menjalin hubungan dengan
tertentu yang dibutuhkan dan bebas sesuai keinginan mereka. Hubungan-
hubungan produksi ini berkaitan dengan level tertentu yang terkait
dengan perkembangan tenaga produksi material. Keseluruhan kebutuhan
ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, sebagai pondasi riil yang
menjadi dasar berdirinya bangunan yuridis dan politik, dan sebagai
jawaban atas bentuk-bentuk tertentu dalam kesadaran sosial. Cara
produksi dalam kehidupan material pada umumnya mendominasi
perkembangan kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan
kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, namun sebaliknya,
eksistensi sosial mereka menentukan kesadaran tersebut. Pada taraf
perkembangan tertentu tenaga kerja produksi material dalam masyarakat
berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, mulailah era revolusi
sosial. Perubahan dalam pondasi ekonomi disertai dengan kekacauan
bangunan besar itu cepat atau lambat. Terdapat kekacauan dalam
kondisi-kondisi produksi ekonomi.
Namun ada juga bentuk-bentuk yuridis, politik, religius,
artistik, dan filosofis, pendeknya bentuk-bentuk ideologis tempat
manusia didalamnya memperoleh kesadaran akan adanya konflik itu dan
akan mendorongnya hingga ke ujung akhir. Jika direduksi hingga ke
garis-garis besarnya, maka cara produksi ala asia, kuno, feudal, dan
borjuis tampak sebagai zaman progresif terbentuknya ekonomi dalam
masyarakat. Hubungan hubungan produksi model borjuis adalah bentuk
antagonis terakhir dalam proses sosial produksi. Masa prasejarah
kemanusiaan berakhir dengan sistem sosial ini.

biografi_yuni kartika sari JNR 1B_Tugas I

akan terlihat manis pada saat tertawa seperti mereka ?,tapi saya tetap bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang,mau usaha kaya apa juga muka saya ini nggak bakal mirip personil SNSD juga hehe.Kedua Orangtua saya berasal dari suku yang sama yaitu jawa,ibu dari Blora dan Bapak saya dari Kebumen,sungguh saya sangat bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka,yang selalu melakukan dan meng         Nama saya Yuni Kartika Sari,sulung dari tiga bersaudara yang lahir di Blora-Jawa Tengah pada tanggal 7 Juni 1993.Berkulit sangat indonesia,memiliki mata yang bisa dikatakan sipit pada saat tertawa,begitu juga hidung saya,dia juga tidak mau kehilangan identitas keindonesiaannya,dimana akan terlihat lebih "rata"pada saat tertawa juga.Saat orang-orang terlihat lebih manis jika tertawa atau tersenyum,saya hanya bingung kapan saya usahakan apapun yang terbaik untuk saya,terutama pendidikan,mereka selalu ingin saya menuntut ilmu di sekolah negeri,karena apa ? karena lebih terjangkau tentunya,dan alhamdulillah dari SD sampai perguruan tinggi saya selalu mendapatkan negeri,itu juga berkat do'a dan support dari mereka.Tapi mereka bilang kalau saya mau kuliah harus siap segala sesuatunya termasuk biaya dan lain sebagainya,karena mereka hanya menyanggupi menyekolahkan saya sampai tingkat SMA/SMK.Saya mengerti maksud dari perkataan mereka itu,namanya saya anak pertama jika saya bisa sampai perguruan tinggi dan adik-adik saya tidak ? takutnya nanti timbul rasa iri yang berkepanjangan.Begitu saya lulus tahun 2011,saya langsung kerja dulu satu tahun,ngumpulin dana dan akhirnya saya memutuskan untuk daftar SPMB Mandiri di UIN Ciputat mengambil jurusan Jurnalistik dan Hubungan Internasional.
         Kenapa saya memilih Jurnalistik ? Karena dunia infotainment tidak ada matinya , dimana zaman sekarang para jurnalis banyak dibutuhkan untuk mengisi jabatan jabatan kosong karena menjamurnya stasiun-stasiun tv swasta di Indonesia ini,saya bangga menjadi jurnalis karena hanya dengan pena dan secarik kertas saja pejabat-pejabat/petinggi di negri ini bisa takut melihat kita,dengan lubang kamera yang sekecil itu kita dapat melihat apapun yang orang lain belum tahu,Gayus lagi nonton bola di Bali aja bisa kelihatan,seorang jurnalis adalah orang ter-up-to-date,menyingkap segala sesuatu yang dianggap tabu dan itu menyenangkan sekali untuk saya,kalau tidak ada figur seorang jurnalis Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mungkin belum menjadi Presiden seperti sekarang ini,oleh karena itu saya memilih Jurnalistik,karena saya sadar betapa penting peran para jurnalis itu.
          Tokoh jurnalis yang menjadi motivator saya adalah Putra Nababan ,menurut saya cara di membawakan berita sangat keren dan sangat mudah untuk di cerna .Dan saya juga sangat kagum karena dari sekian banyak tokoh jurnalis,Putra Nababan lah yang mendapat kesempatan untuk mewawancai Presiden Amerika Serikat yaitu Barrack Obama secara eksklusif.Saya berharap bisa menjadi seperti Putra Nababan , bisa keliling dunia dan mewawancai orang-orang terkenal.
Motto hidup saya adalah  "Sabar dalam mengatasi kesulitan dan bertindak bijaksana "
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Rista Dwi Septiani Jurnalistik 1A

Teori Sosiolgi Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 dan wafat pada tahun 1883. Marx pernah menerbitkan sejumlah karya yang sukar dipahami (kebanyakan belum diterbitkan semasa hidupnya) termasuk The Holly Family dan The German Ideologi (ditulis bersama Engels) dan ia pun menulis The Economic and Philosopic Manuscripts of 1884. Berikut akan dijelaskan tentang pertentangan kelas, agama, ideologi, dan modal produksi dalam teori sosiolgi Karl Marx.

 

A.    Pertentangan Kelas ( Kelas-Kelas Sosial)

Analisis tentang masyarakat dalam masalah kelas sosial sebenarnya tidak ditemukan oleh Marx. Bahkan penulis dari kalangan "Borjuis" seperti Adam Smith atau Alexis de Tocqueville juga mengakui bahwa masyarakat memang terbagi atas kelas-kelas yang ditentukan oleh posisi ekonomi, status, penghasilan, posisi kekuasaan yang berbeda, dan memiliki kepentingan yang berkelindan. Perkembangan kapitalisme pernah mengacau-balaukan masyarakat feodal yang terstruktur pada tiga aturan besar, yaitu kaum petani, kaum aristokrat atau bangsawan, dan pendeta. Dengan perkembangan perdagangan, industri, dan pusat urban-urban, muncullah dua kelas baru, pertama kelas borjuis  (bourgeouis) yang telah mendestabilisasikan ranzim (tatanan) dalam dan memegang tempat yang dominan, dan kemudian kalangan proletar atau rakyat jelata yang miskin dan terdiri dari sekumpulan tukang-tukang di pabrik-pabrik dan para petani yang terusir dari tanahnya dan kemudian menjadi tenaga kerja utama dibengkel kerja dan firma-firma industri besar.

Proyek yang dilakukan Marx, kurang mengungkapkan eksistensi kelas-kelas sosial atau mendeskripsikan situasinya dibanding memahami dinamika pergulatan kelas. Pertama ia mendefinisikan kelas-kelas itu lewat situasi yang dikaitkan dengan hubungan produksi. Kaum borjuis menjadi pemilik modal. Para "borjuis kecil" yang merupakan kategori yang tidak terlalu tajam terdiri dari para tukang atau pengrajin, pedagang, notaris, pengacara, dan seluruh "birokrat". Sedangkan kaum proletar adalah mereka yang "menjual tenaga dalam bekerja". Marx ingin mendeskripsikan dinamika sebuah masyarakat yang menurut pendapatnya bergerak dalam suatu konflik sentral yaitu : perjuangan kelas, yaitu antara kelas borjuis dengan kelas proletar. Kaum borjuis yang didorong oleh persaingan dan haus akan keuntungan bergerak untuk semakin lama semakin mengeksploitasi kaum proletar. Karena terperangkap dalam kemelaratan dan pengangguran yang bersifat endemik maka kelas proletar hanya memiliki satu-satunya jalan keluar, yaitu pemberontakan sporadis atau melakukan revolusi. Marx membedakan, "kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri" dan "kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri". Kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan individu yang secara umum memiliki kondisi kerja yang sama, status yang sama dan permasalahan yang sama, namun tidak harus terorganisasikan dalam suatu proyek atau rencana bersama. Sedangkan kelas bagi dirinya sendiri merupakan sebuah kelas yang karena telah menyadari akan adanya kepentingan bersama, lalu mengorganisasikan diri menjadi gerakan sosial berbentuk sindikat dan partai, yang berarti menempa diri untuk mencari identitas. Dalam Les Luttes de classes en France (Perjuangan Kelas-Kelas Sosial di Perancis) ia secara tajam mendeskripsikan sekurang-kurangnya tujuh kelas dan fraksi kelas yang berbeda, yaitu kelas aristokrasi finansial, borjuis industrial, borjuis kecil, proletar, petani kecil, tuan-tuan tanah besar dan sebagainya. Namun menurutnya dinamika kapitalisme, konsenterasi produksi dan krisis-krisis yang terjadi secara periodik cenderung meradikalkan pertentangan antara dua golongan, yaitu kaum proletar dan borjuis.

 

B.    Agama

Sesuai dengan pemikirannya bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat", Karl Marx berpendapat bahwa agama bukanlah bentuk realisasi diri. Jadi, agama hanya membuat jati diri seseorang tidak berkembang secara utuh. Karena menurutnya agama bersifat mengikat dan mampu menghukum pengikutnya. Siapapun yang tidak tunduk dengan aturan-aturan yang ada akan dihukum dan dijauhkan dari kenikmatan surgawi. Jadi banyak dari mereka yang tunduk dan menerima segala bentuk penderitaan dan penindasan dengan sukarela. Dia mengatakan jika manusia hidup tanpa agama (atheisme), maka mereka dapat bebas dan menciptakan aturan-aturan sendiri dan jika sudah meyakini suatu agama, maka mereka terikat, patuh, dan tunduk oleh segala aturan-aturan yang ada. Ia menentang pendapat Feuerbach yang menyatakan bahwa Tuhan adalah khayalan, tanpa mencari sebabnya. Karena baginya manusia lah yang menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya.

 

C.     Ideologi

Marx tidak memiliki teori yang sistematik tentang ideologi. Sebaliknya, yang ada hanya analisis-analisis parsial dan belum rampung namun seringkali berbobot dan tajam. Marx menempatakan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh sebuah masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi semacam refleksi atas bingkai itu. Kaum borjuis yang semakin menanjak telah menentukan pemikiran-pemikiran tentang kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan dihadapan hukum (hak) dalam bingkai pergulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang meupakan penulis L'Essence du christianisme (Esensi Kristianisme) (1864). Bagi Feuerbach, agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surga bagi pemikiran (ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bisa mempercayai eksistensi Tuhan secara rill seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat"). Selanjutnya ia akan mengusugnya ke dalam analisis komoditas.

 

D.    Modal Produksi

Menurut Marx, dengan bekerja manusia menghasilkan (berproduksi) untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat. Cara produksi dari sebuah masyarakat berupa "tenaga kerja produksi" (manusia, mesin, dan teknik) dan "hubungan produksi" (perbudakan, sistem bagi hasil, sistem kerajinan tangan, bekerja upahan). Cara produksi ini membentuk 'kaki penopang' yang menyangga superstruktur politik, yuridis, dan ideologi masyarakat. Bergantinya suatu cara produksi ke cara produksi lain menimbulkan kontradiksi-kontradiksi ekonomi, dan ini mengakibatkan pertarungan kelas. Ketika Marx menulis tentang transisi dari kapitalisme menuju sosialisme, Marx lalu mengembangkan sebuah konsep 'dialektika" transformasi sosial. Kapitalisme biasanya tunduk pada kontradiksi-kontradiksi ekonomi yang akhirnya menimbulkan krisis-krisis periodik. Menurut Hukum Evolusi Kapitalisme yang berbunyi, "Persaingan menyebabkan kaum kapitalis mengakumulasikan modalnya, maksudnya harus menginvestasikan kembali sebagian keuntungannya untuk memperbaiki sarana produksi". Marx menarik kesimpulan adanya beberapa kecenderungan evolusi, yaitu:

-kecenderungan terjadinya mekanisasi produksi yang semakin lama semakin tinggi

-konsenterasi modal seiring dengan meningkatnya perusahaan dan konsenterasi perusahaan ditangan beberapa orang kapitalis saja

-peningkatan pengangguran dan penurunan upah relatif yang dianggap Marx sebagai konsekuensi dari akumulasi tersebut. Meski cenderung hendak menggantikan tempat manusia sehingga menjadi "cadangan senjata di bidang industri" dan keberadaannya cenderung menekan upah menjadi semakin rendah. Proses pemelaratan yang semakin meningkat ini muncul sebagai "hukum umum ekonomi kapitalistis"

-hukum penurunan nilai keuntungan yang tendensius berasal dari meningkatnya modal konstan (mesin) yang terkait dengan modal yang berubah-ubah atau modal variabel (para pekerja). Keuntungan (nilai lebih) hanya berasal dari pekerjaan manusia (menurut teori nilai pekerjaan), penurunan nilai terkait dengan jumlah pekerja (jika dikaitkan dengan mesin) yang menyebabkan penurunan nilai keuntungan.

Teori Marx tentang krisis tidak ada yang tuntas. Eksploitasi dan konsenterasi modal konstan (mesin) menyebabkan peningkatan kapasitas produksi terus-menerus namun merugikan posibilitas konsumsi (melalui penghasilan yang didistribusikan). Dari sini asalnya krisis kelebihan produksi yang terjadi secara tiba-tiba dan secara periodik menandai kapitalisme. Marx menganggap bahwa krisis ini pasti makin berat seiring dengan berjalannya waktu hingga kelak tidak dapat diatasi.

Biografi Diri_Rahma Sari JNR 1B_Tugas Ke 1

Rahma Sari,itu
nama yang diberikan ayah dan  ibu kepada
ku.Ayah ku seorang wiraswastawan yang pantang menyerah,bersemangat,dan ulet.Aku
bangga kepadanya,sebab perjuangan ayah untuk mencapai seperti saat ini tidak
mudah,semua bisnis yang iya jalankan sekarang dulunya  benar benar di mulai dari nol,karena ayah
seorang perantau dari Medan. Aku pernah mendengar ayah bercerita kepada ibu
bagaimana kehidupan ayah saat ingin memulai membuka usaha yang saat itu belum
menikah dengan ibu,aku tau bagaimana sulitnya ayah saat pertama mulai
mendirikan bisnis.bahkan saat itu, untuk makan dirinya sendiri  pun sulit.Namun dengan sikap pantang
menyerahnya,semangatnya,dan keuletannya.hingga saat ini, kami pun tak pernah
merasakan kekurangan,karena ayah selalu memenuhi semua kebutuhan kami,Apapun
yang menjadi kebutuhan penting untuk kami selalu bisa di usahakannya untuk bisa
didapatkannya.Ibu ku tak kalah pentingnya,kesabarannya,perhatiannya,kasih
sayangnya,tak pernah aku merasa kurangan,mereka berdualah yang menjadi semangatku.Aku belajar banyak dari cerita dan pengalaman mereka.

 Aku Rahma Sari bisa kuliah di UIN Jakarta karena
usaha ku sendiri,dengan jerih payahku sendiri,aku bekerja sebelumnya dan sekarang bisa membiayai kuliahku sendiri.Dengan semangat,nasehat ,doa dari
ayah dan ibu,nasehat yang aku selalu ingat dan tanamkan dalam dalam dari ayah
dan ibu  "Jurusan apapun yang kamu
ambil,ibu dan ayah mau kamu bisa memanfaatkan ilmu ilmu mu untuk orang
banyak".Yang paling kuingin kan adalah membuat ayah dan ibuku bangga
kepadaku,aku bisa memanfaatkan ilmuku  untuk orang banyak. Hal yang pertama di mulai
dari lingkungan rumah.Aku ingin mengubah cara pandang lingkungan sekitar yang
tidak begitu mementingkan pendidikan untuk anak anak mereka,lalu membantu anak
anak yang telah sekolah tetapi tidak ada biaya sehingga harus putus sekolah.Menurut
ku semangat untuk menuntut ilmu adalah hal yang mahal.Dan tidak ada kata mimpi
yang terlalu tinggi untukku,yang ada usaha kita yang kecil untuk meraihnya.
Yang menjadi
inspirasiku dalam belajar di jurusan jurnalistik ini adalah Mochtar
Lubis.

Cari Blog Ini