Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Sabtu, 22 September 2012
biografi_m.alief mumtaz nadiby.JNR B_tugas ke 1
BIOGRAFI_QORIBATUL CHOIRIYAH JUR 1B_TUGAS KE-1
Assalamu'alaikum wr.wb
Saya 'QORIBATUL CHOIRIYAH', biasanya orang disekeliling saya memanggil saya dengan sebutan 'qory'. Saya tidak terlalu bisa menggambarkan bagaimana diri saya ini, namun karena tugas saya akan berusaha melakukannya. Saya lahir pada tanggal 14 Desember 1993, saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat mengagumkan karena beliau saya bisa seperti ini menjadi diri sendiri yang selalu bersyukur dan berusaha menikmati segala takdir kehidupan ini yang telah diberikan oleh Allah SWT. Begitu juga dengan ayah saya, beliau adalah seorang ayah yang mencintai keluarganya dan seorang lelaki yang menjadi pahlawan bagi keliurganya. Saya anak ke-2 dari 4 bersaudara. Hobi saya menggambar, membaca komik, mendengarkan lagu, menonton drama-drama korea, menulis, membaca buku jika memiliki mood yang baik. Saya bercita-cita ingin menjadi penulis novel atau penulis skenario drama / film atau menjadi komikus (pembuat komik) , namun saya akan menerima apapun takdir yang Allah telah takdirkan dalam hidup saya.
Hm.. Saya ini orang yang cukup sulit bergaul dengan orang-orang asing karena saya termasuk orang yang pendiam. Memang saya sadari, saya mempunyai sikap pemalu. Banyak teman-teman sekolah memberi saya julukan dengan sebutan 'cewe jutek' entahlah sayapun tidak mengerti terlalu banyak tentang mengenai hal itu. Saya akan berkemauan keras jika sudah mempunyai suatu keinginan yang harus dicapai tapi jika mengalami kegagalan rasa semangat saya akan langsung hancur secara tiba-tiba. Saya sering acuh terhadap sesuatu yang asing dan tidak mau tahu urusan orang lain. Saya orang yang memiliki impian besari. Kehidupan saya diwarnai dengan segala hal yang berhubungan dengan k-pop ( korea-pop ). yaa, saya ini memang sangat menggilai tentang dunia kpop, tepatnya dimulai dari kelas 1 MTS jadi sudah sangat melekat sekali hal itu dikehidupan saya dan sangat sulit sekali menghilangkan itu dalam hidup saya.
Alasan saya memilih jurusan jurnalistik adalah saya ingin menjadi orang yang tidak pemalu, menghilangkan sikap itu dari diri saya. Saya juga ingin mempunyai mental yang kuat dengan berada dijurusan ini. Selain itu saya juga mencintai dunia berita atau informasi, menurut saya salah satu keistimewaan menjadi wartawan yaitu kita menjadi seseorang yang mengetahui segala informasi dalam segala bidang, baik dalam bidang agama, politik, sosial, ekonomi, pendidikan, entertainment, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dengan menjadi seorang wartawan kita akan bisa menjadi seseorang yang berwawasan luas dan berguna bagi diri kita sendiri atau berguna bagi orang-orang yang ada disekeliling kita. Walaupun awalnya saya tidak berniat mempunyai cita-cita menjadi wartawan namun saya akan mencoba itu dengan segala usaha yang terbaik. Semoga dengan saya menjadi jurnalistik, saya ingin mewujudkan impian saya yaitu menapakan kaki ini di seoul, korea selatan ^__^
Tokoh idola saya dalam dunia jurnalis adalah 'PUTRA NABABAN' karena ia mempunyai kharisma tersendiri dunia kejurnalistikan. Cara ia menyampaikan berita kepada masyarakat sangatlah bagus.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Biografi_YusufYanuarJnr1B_tugaske-1
Karl marx_Dede Fauziah_Jurnalistik I.A
biografi_yuni kartika sari JNR 1B_Tugas I
Restu Mayang Tampi Jurnalistik 1A
Pertentangan Kelas
Dalam beberapa pandangan Marx tentang kehidupan sosial,
terdapat pandangannya tentang kelas, yaitu kelas-kelas dianggap
sebagai kelompok-kelompok sosial yang mempunyai kepentingan sendiri
yang bertentangan satu sama lain sehingga konflik tak terelakkan lagi.
Marx memandang masyarakat terdiri dari dua kelas yang didasarkan pada
kepemilikan sarana dan alat produksi (property), yaitu kelas borjuis
dan proletar.
Kelas Borjuis adalah kelompok yang memiliki sarana dan alat
produksi yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam
usaha. Sedangkan kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki
sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan kebutuhan
ekonominya tidak lain hanyalah menjual tenaganya. Menurut Marx,
masyarakat terintegrasi karena adanya struktur kelas dimana kelas
borjuis menggunakan negara dan hukum untuk mendominasi kelas proletar.
Konflik antarkelas sosial terjadi melalui proses produksi sebagai
salah satu kegiatan ekonomi di mana dalam proses produksi terjadi
kegiatan pengeksploitasian terhadap kelompok proletar oleh kelompok
borjuis. Perubahan sosial justru membawa dampak yang buruk bagi nasib
kaum buruh (proletar) karena perubahan sosial berdampak pada semakin
banyaknya jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk akan
menyulitkan kehidupan kelompok proletar karena tuntutan akan lapangan
pekerjaan semakin tinggi sementara jumlah lapangan kerja yang tersedia
tidak bertambah (konstan). Tingginya jumlah penawaran tenaga kerja
akan berpengaruh pada rendahnya ongkos tenaga kerja yang diterimanya,
sehingga kehidupan selanjutnya justru kian buruk. Sedangkan kelompok
kapitalis (borjuis) akan semakin berlimpah dengan segala macam
kemewahannya. Gejala inilah yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan
sosial yang berujung pangkal pada konflik sosial. Dengan demikian,
akar permasalahan yang menimbulkan konflik sosial adalah karena
tajamnya ketimpangan sosial berikut eksploitasinya.
Semakin memburuknya kehidupan kaum proletar dan semakin
timpangnya kesenjangan ekonomi, maka gejala ini mendorong kaum
proletar untuk melakukan perlawanan dalam bentuk revolusi sosial
dengan tujuan menghapus kelas-kelas sosial yang dianggap sebagai biang
ketidakadilan. Dalam teori Marx disebutkan bahwa keadilan sosial akan
tercapai jika kehidupan masyarakat tanpa kelas telah dapat diwujudkan.
Dalam kehidupan masyarakat tanpa kelas, peran negara hanya bersifat
sementara saja, yaitu sebagai alat pengendalian diktator proletariat
atau kewenangan yang memiliki golongan proletar. Akan tetapi, di saat
masyarakat komunis terbentuk maka peranan negara akan lenyap dengan
sendirinya (witherway).
Agama
Marx melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk agama sebagai
candu masyarakat, namun berikut adalah kutipan catatan Marx :
Kesukaran agama-agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari
kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang
sebenarnya. Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya
dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit.
Agama adalah candu masyarakat.
Bentuk keagamaan ini, mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu
berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Kita
juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada digarda
depan dalam melawan kapitalisme. Meskipun demikian, Marx merasa bahwa
agama khususnya menjadi bentuk kedua ideologi dengan menggambarkan
ketidak adilan kapitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan
mendorong perubahan revolusioner ke akhirat. Dengan cara ini, teriakan
orang-orang tertindas justru digunakan untuk penindasan selanjutnya.
Ideologi
Perubahan-perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan-kekuatan
produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh relasi-relasi yang sedang
eksis, akan juga oleh relasi-relasi pendukung, institusi-institusi,
dan khususnya, ide-ide umum. Ketika ide-ide umum menunjukkan fungsi
ini, Marx memberikan nama khusus terhadapnya : ideologi. Marx tidak
selalu persis tentang penggunaan kata ideologi. Dia menggunakan kata
tersebut untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.
Pertama, ideologi merujuk kepada ide-ide yang secara alamiah
muncul setiap saat didalam kapitalisme, akan tetapi yang karena
hakikat kapitalisme, merfleksikan realitas di dalam suatu cara yang
terbalik. Untuk hal ini, dia menggunakan metafora kamera obscura, yang
menggunakan optik quirk untuk menunjukkan bayang-bayang nyata yang
nampak terbalik. Inilah tipe ideology yang direpresentasikan oleh
fetisisme komoditas atau oleh uang. Meskipun kita mengetahui bahwa
yang hanyalah potongan kertas yang memiliki nilai hanya karena
relasi-relasi social yang mendasarinya, akan tetapi didalam kehidupan
sehari-hari kita harus memperlakukan uang seolah-olah memiliki nilai
sendiri. Walaupun pada hakikatnya kitalah yang memberi nilai kepada
uang tersebut, akan tetapi yang sering terlihat adalah bahwa uanglah
yang member kita nilai. Tipe ideology ini mudah terganggu karena
didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi material yang mendasarinya.
Nilai manusia tidak benar-benar tergantung pada uang, dan kita sering
menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi-kontradiksi itu.
Faktanya, disinilah level yang kita sering menjadi sadarakan
kontradiksi-kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa
kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya kita menjadi sadar bahwa
ekonomi bukanlah sebuah sistem objektif dan independen, melainkan
sebuah ranah politis. Kita menjadi sadar bahwa kerja kita bukan
sekadar komoditas, dan bahwa penjualannya melalui upan menimbulkan
alienasi. Atau jika kita tidak menyadari kebenaran yang mendasar
tersebut, setidaknya kita menyadari kekacauan karena gerakan politis
yang terang-terangan didalam pengalamatan gangguan-gangguan inilah
penggunaan kedua dari ideologi relevan.
Ketika gangguan-gangguan muncul dan kontradiksi-kontradiksi material
mendasar terungkap, tipe kedua ideology akan muncul. Di sini Marx
menggunakan istilah ideologi untuk merujuk kepada sistem-sistem aturan
ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan
kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem kapitalis. Pada
kebanyakan kasus, mereka melakukan hal ini dengan salah satu dari tiga
cara berikut :
1. Mereka menghadirkan suatu sistem ide, sistem agama, filsafat,
literature, hukum yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi tampak
koheren.
2. Mereka menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut yang
mengungkapkan kontradiksi –kontradiksi, biasanya sebagai
problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual.
3. Mereka menghadirkan kontradiksi kapitalis sebagai yang benar-benar
menjadi suatu kontradiksi pada hakikat manusia dan oleh karena itu
satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh perubahan sosial.
Modal Produksi
Di dalam produksi sosial eksistensi, manusia menjalin hubungan dengan
tertentu yang dibutuhkan dan bebas sesuai keinginan mereka. Hubungan-
hubungan produksi ini berkaitan dengan level tertentu yang terkait
dengan perkembangan tenaga produksi material. Keseluruhan kebutuhan
ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, sebagai pondasi riil yang
menjadi dasar berdirinya bangunan yuridis dan politik, dan sebagai
jawaban atas bentuk-bentuk tertentu dalam kesadaran sosial. Cara
produksi dalam kehidupan material pada umumnya mendominasi
perkembangan kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan
kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, namun sebaliknya,
eksistensi sosial mereka menentukan kesadaran tersebut. Pada taraf
perkembangan tertentu tenaga kerja produksi material dalam masyarakat
berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, mulailah era revolusi
sosial. Perubahan dalam pondasi ekonomi disertai dengan kekacauan
bangunan besar itu cepat atau lambat. Terdapat kekacauan dalam
kondisi-kondisi produksi ekonomi.
Namun ada juga bentuk-bentuk yuridis, politik, religius,
artistik, dan filosofis, pendeknya bentuk-bentuk ideologis tempat
manusia didalamnya memperoleh kesadaran akan adanya konflik itu dan
akan mendorongnya hingga ke ujung akhir. Jika direduksi hingga ke
garis-garis besarnya, maka cara produksi ala asia, kuno, feudal, dan
borjuis tampak sebagai zaman progresif terbentuknya ekonomi dalam
masyarakat. Hubungan hubungan produksi model borjuis adalah bentuk
antagonis terakhir dalam proses sosial produksi. Masa prasejarah
kemanusiaan berakhir dengan sistem sosial ini.
biografi_yuni kartika sari JNR 1B_Tugas I
Rista Dwi Septiani Jurnalistik 1A
Teori Sosiolgi Karl Marx
Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 dan wafat pada tahun 1883. Marx pernah menerbitkan sejumlah karya yang sukar dipahami (kebanyakan belum diterbitkan semasa hidupnya) termasuk The Holly Family dan The German Ideologi (ditulis bersama Engels) dan ia pun menulis The Economic and Philosopic Manuscripts of 1884. Berikut akan dijelaskan tentang pertentangan kelas, agama, ideologi, dan modal produksi dalam teori sosiolgi Karl Marx.
A. Pertentangan Kelas ( Kelas-Kelas Sosial)
Analisis tentang masyarakat dalam masalah kelas sosial sebenarnya tidak ditemukan oleh Marx. Bahkan penulis dari kalangan "Borjuis" seperti Adam Smith atau Alexis de Tocqueville juga mengakui bahwa masyarakat memang terbagi atas kelas-kelas yang ditentukan oleh posisi ekonomi, status, penghasilan, posisi kekuasaan yang berbeda, dan memiliki kepentingan yang berkelindan. Perkembangan kapitalisme pernah mengacau-balaukan masyarakat feodal yang terstruktur pada tiga aturan besar, yaitu kaum petani, kaum aristokrat atau bangsawan, dan pendeta. Dengan perkembangan perdagangan, industri, dan pusat urban-urban, muncullah dua kelas baru, pertama kelas borjuis (bourgeouis) yang telah mendestabilisasikan ranzim (tatanan) dalam dan memegang tempat yang dominan, dan kemudian kalangan proletar atau rakyat jelata yang miskin dan terdiri dari sekumpulan tukang-tukang di pabrik-pabrik dan para petani yang terusir dari tanahnya dan kemudian menjadi tenaga kerja utama dibengkel kerja dan firma-firma industri besar.
Proyek yang dilakukan Marx, kurang mengungkapkan eksistensi kelas-kelas sosial atau mendeskripsikan situasinya dibanding memahami dinamika pergulatan kelas. Pertama ia mendefinisikan kelas-kelas itu lewat situasi yang dikaitkan dengan hubungan produksi. Kaum borjuis menjadi pemilik modal. Para "borjuis kecil" yang merupakan kategori yang tidak terlalu tajam terdiri dari para tukang atau pengrajin, pedagang, notaris, pengacara, dan seluruh "birokrat". Sedangkan kaum proletar adalah mereka yang "menjual tenaga dalam bekerja". Marx ingin mendeskripsikan dinamika sebuah masyarakat yang menurut pendapatnya bergerak dalam suatu konflik sentral yaitu : perjuangan kelas, yaitu antara kelas borjuis dengan kelas proletar. Kaum borjuis yang didorong oleh persaingan dan haus akan keuntungan bergerak untuk semakin lama semakin mengeksploitasi kaum proletar. Karena terperangkap dalam kemelaratan dan pengangguran yang bersifat endemik maka kelas proletar hanya memiliki satu-satunya jalan keluar, yaitu pemberontakan sporadis atau melakukan revolusi. Marx membedakan, "kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri" dan "kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri". Kelas sebagaimana kondisi dirinya sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan individu yang secara umum memiliki kondisi kerja yang sama, status yang sama dan permasalahan yang sama, namun tidak harus terorganisasikan dalam suatu proyek atau rencana bersama. Sedangkan kelas bagi dirinya sendiri merupakan sebuah kelas yang karena telah menyadari akan adanya kepentingan bersama, lalu mengorganisasikan diri menjadi gerakan sosial berbentuk sindikat dan partai, yang berarti menempa diri untuk mencari identitas. Dalam Les Luttes de classes en France (Perjuangan Kelas-Kelas Sosial di Perancis) ia secara tajam mendeskripsikan sekurang-kurangnya tujuh kelas dan fraksi kelas yang berbeda, yaitu kelas aristokrasi finansial, borjuis industrial, borjuis kecil, proletar, petani kecil, tuan-tuan tanah besar dan sebagainya. Namun menurutnya dinamika kapitalisme, konsenterasi produksi dan krisis-krisis yang terjadi secara periodik cenderung meradikalkan pertentangan antara dua golongan, yaitu kaum proletar dan borjuis.
B. Agama
Sesuai dengan pemikirannya bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat", Karl Marx berpendapat bahwa agama bukanlah bentuk realisasi diri. Jadi, agama hanya membuat jati diri seseorang tidak berkembang secara utuh. Karena menurutnya agama bersifat mengikat dan mampu menghukum pengikutnya. Siapapun yang tidak tunduk dengan aturan-aturan yang ada akan dihukum dan dijauhkan dari kenikmatan surgawi. Jadi banyak dari mereka yang tunduk dan menerima segala bentuk penderitaan dan penindasan dengan sukarela. Dia mengatakan jika manusia hidup tanpa agama (atheisme), maka mereka dapat bebas dan menciptakan aturan-aturan sendiri dan jika sudah meyakini suatu agama, maka mereka terikat, patuh, dan tunduk oleh segala aturan-aturan yang ada. Ia menentang pendapat Feuerbach yang menyatakan bahwa Tuhan adalah khayalan, tanpa mencari sebabnya. Karena baginya manusia lah yang menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya.
C. Ideologi
Marx tidak memiliki teori yang sistematik tentang ideologi. Sebaliknya, yang ada hanya analisis-analisis parsial dan belum rampung namun seringkali berbobot dan tajam. Marx menempatakan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh sebuah masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi semacam refleksi atas bingkai itu. Kaum borjuis yang semakin menanjak telah menentukan pemikiran-pemikiran tentang kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan dihadapan hukum (hak) dalam bingkai pergulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang meupakan penulis L'Essence du christianisme (Esensi Kristianisme) (1864). Bagi Feuerbach, agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surga bagi pemikiran (ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bisa mempercayai eksistensi Tuhan secara rill seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat"). Selanjutnya ia akan mengusugnya ke dalam analisis komoditas.
D. Modal Produksi
Menurut Marx, dengan bekerja manusia menghasilkan (berproduksi) untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat. Cara produksi dari sebuah masyarakat berupa "tenaga kerja produksi" (manusia, mesin, dan teknik) dan "hubungan produksi" (perbudakan, sistem bagi hasil, sistem kerajinan tangan, bekerja upahan). Cara produksi ini membentuk 'kaki penopang' yang menyangga superstruktur politik, yuridis, dan ideologi masyarakat. Bergantinya suatu cara produksi ke cara produksi lain menimbulkan kontradiksi-kontradiksi ekonomi, dan ini mengakibatkan pertarungan kelas. Ketika Marx menulis tentang transisi dari kapitalisme menuju sosialisme, Marx lalu mengembangkan sebuah konsep 'dialektika" transformasi sosial. Kapitalisme biasanya tunduk pada kontradiksi-kontradiksi ekonomi yang akhirnya menimbulkan krisis-krisis periodik. Menurut Hukum Evolusi Kapitalisme yang berbunyi, "Persaingan menyebabkan kaum kapitalis mengakumulasikan modalnya, maksudnya harus menginvestasikan kembali sebagian keuntungannya untuk memperbaiki sarana produksi". Marx menarik kesimpulan adanya beberapa kecenderungan evolusi, yaitu:
-kecenderungan terjadinya mekanisasi produksi yang semakin lama semakin tinggi
-konsenterasi modal seiring dengan meningkatnya perusahaan dan konsenterasi perusahaan ditangan beberapa orang kapitalis saja
-peningkatan pengangguran dan penurunan upah relatif yang dianggap Marx sebagai konsekuensi dari akumulasi tersebut. Meski cenderung hendak menggantikan tempat manusia sehingga menjadi "cadangan senjata di bidang industri" dan keberadaannya cenderung menekan upah menjadi semakin rendah. Proses pemelaratan yang semakin meningkat ini muncul sebagai "hukum umum ekonomi kapitalistis"
-hukum penurunan nilai keuntungan yang tendensius berasal dari meningkatnya modal konstan (mesin) yang terkait dengan modal yang berubah-ubah atau modal variabel (para pekerja). Keuntungan (nilai lebih) hanya berasal dari pekerjaan manusia (menurut teori nilai pekerjaan), penurunan nilai terkait dengan jumlah pekerja (jika dikaitkan dengan mesin) yang menyebabkan penurunan nilai keuntungan.
Teori Marx tentang krisis tidak ada yang tuntas. Eksploitasi dan konsenterasi modal konstan (mesin) menyebabkan peningkatan kapasitas produksi terus-menerus namun merugikan posibilitas konsumsi (melalui penghasilan yang didistribusikan). Dari sini asalnya krisis kelebihan produksi yang terjadi secara tiba-tiba dan secara periodik menandai kapitalisme. Marx menganggap bahwa krisis ini pasti makin berat seiring dengan berjalannya waktu hingga kelak tidak dapat diatasi.
Biografi Diri_Rahma Sari JNR 1B_Tugas Ke 1
nama yang diberikan ayah dan ibu kepada
ku.Ayah ku seorang wiraswastawan yang pantang menyerah,bersemangat,dan ulet.Aku
bangga kepadanya,sebab perjuangan ayah untuk mencapai seperti saat ini tidak
mudah,semua bisnis yang iya jalankan sekarang dulunya benar benar di mulai dari nol,karena ayah
seorang perantau dari Medan. Aku pernah mendengar ayah bercerita kepada ibu
bagaimana kehidupan ayah saat ingin memulai membuka usaha yang saat itu belum
menikah dengan ibu,aku tau bagaimana sulitnya ayah saat pertama mulai
mendirikan bisnis.bahkan saat itu, untuk makan dirinya sendiri pun sulit.Namun dengan sikap pantang
menyerahnya,semangatnya,dan keuletannya.hingga saat ini, kami pun tak pernah
merasakan kekurangan,karena ayah selalu memenuhi semua kebutuhan kami,Apapun
yang menjadi kebutuhan penting untuk kami selalu bisa di usahakannya untuk bisa
didapatkannya.Ibu ku tak kalah pentingnya,kesabarannya,perhatiannya,kasih
sayangnya,tak pernah aku merasa kurangan,mereka berdualah yang menjadi semangatku.Aku belajar banyak dari cerita dan pengalaman mereka.
Aku Rahma Sari bisa kuliah di UIN Jakarta karena
usaha ku sendiri,dengan jerih payahku sendiri,aku bekerja sebelumnya dan sekarang bisa membiayai kuliahku sendiri.Dengan semangat,nasehat ,doa dari
ayah dan ibu,nasehat yang aku selalu ingat dan tanamkan dalam dalam dari ayah
dan ibu "Jurusan apapun yang kamu
ambil,ibu dan ayah mau kamu bisa memanfaatkan ilmu ilmu mu untuk orang
banyak".Yang paling kuingin kan adalah membuat ayah dan ibuku bangga
kepadaku,aku bisa memanfaatkan ilmuku untuk orang banyak. Hal yang pertama di mulai
dari lingkungan rumah.Aku ingin mengubah cara pandang lingkungan sekitar yang
tidak begitu mementingkan pendidikan untuk anak anak mereka,lalu membantu anak
anak yang telah sekolah tetapi tidak ada biaya sehingga harus putus sekolah.Menurut
ku semangat untuk menuntut ilmu adalah hal yang mahal.Dan tidak ada kata mimpi
yang terlalu tinggi untukku,yang ada usaha kita yang kecil untuk meraihnya.
Yang menjadi
inspirasiku dalam belajar di jurusan jurnalistik ini adalah Mochtar
Lubis.