Rabu, 26 September 2012

EmileDurkheim_ParamaArazakSumbadaJurnalistikIB_Tugas2

 
I.             Fakta Sosial
Argumen Durkheim mengenai subjek yang di konstruksi secara sosial dirumuskan paling jelas dalam The rules of Sociological Methode, dimana ia menandaskan pernyataanya tentang sosiologi sebagai bidang penalitian yang absah dan yang objek studinya berupa "fakta-fakta sosial" yang tak dapat dijelaskan dalam kerangka psikologi individual. "Fakta-fakta Sosial", menurutnya "berada diluar individu" dan "ditopang oleh kekuatan koersif".  Fakta sosial bersifat external, koersif, aktor solidaritas sebagai fakta , meskipun bersifat nonmaterial. Teori perkembangan masyarakat adalah cenderung model unilinier dengan tipe ideal solidaritas sosial mekanik dan solidaritas sosial.
 
II.               Pembagian Kerja (Division of Labor)
Tesis Durkheim dalam The Division of Labor in Society sebenarnya merupakan pembelaan atas moderenitas. Sembari menyanggah pandangan bahwa industrialisasi niscaya mengakibatkan ambruknya tatan sosial. Namun karena kompleksitasnya masyarakat modern, terjadi kemunduran kekuatan kesadaran kolektif. Pengikat utama dalam masyarakat modern adalah pembagian kerja yang rumit, yang mengikat orang satu sama lain dalam hubungan ketergantungan. Namun Durkheim merasa bahwa pembagian kerja modern membawa serta sejumlah "patologi" dengan kata lain pembagian kerja adalah metode yang tidak cocok menyatukan masyarakat.
 
III.            Agama
Suatu penjelasan sosial mengenai agama di kembangkan dalam The Elementary Forms of The religious Life (1915), dimana ia mengutarakan bahwa perasaan terpesona dan takzim yang merupakan respon orang-orang terhadap "yang sakral" sebenarnya adalah ekspresi ketergantungan mutlak mereka terhadap masyarakat. Ia memandang agama sebagai fenomena sosial, dan mencari sebab-sebabnya dalam masyarakat sendiri tidak dalam pengalaman individu-individu. Durkheim menawarkan definisi agama sebagai berikut : Suatu agama adalah sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan hal-hal yang sakral, yaitu hal-hal yang dipisahkan dan dilarang kepercayaan dan perilaku yang mempersatukan semua penganutnya menjadi satu komunitas moral, yaitu berdasarkan nilai-nilai bersama,yang disebut umat.
IV.            Fungsionalisme
Fungsionalisme dan Emile Durkheim, sebagai ahli waris tradisi pemikiran sosial Prancis, khususnya ajaran organisme yang dilancarkan oleh comte tidak mengherankan jika hasil – hasil karya awal Emile Durkheim terpengaruh terminologi organismik. Asumsi – asumsi dasar Durkheim mencerminkan pokok – pokok pikiran mereka yang sangat terpengaruh oleh aliran organisme. Asumsi dasar itu adalah :
1.      Masyarakat tidak dapat dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri yang dapat dibedakan dari bagian – bagiannya. Masyarakat juga tidak dapat dihabiskan kedalam bagian – bagiannya. Masyarakat harus dilihat sebagai suatu keseluruhan.
2.      Bagian – bagian suatu sistem dianggap memenuhi fungsi – fungsi pokok, maupun kebutuhan sistem secara keseluruhan.
3.      Kebutuhan  pokok suatu sistem sosial harus dipenuhi, untuk mencegah terjadinya keadaan abnormal atau patologis.
4.      Setiap sistem mempunyai pokok – pokok keserasian tertentu yang segala sesuatunya akan berfungsi secara normal.
Durkheim mengakui analisa yang diperkenalkan mengandung pelbagai bahaya; namun dia memberikan beberapa alternatif untuk mengatasi beberapa kelemahan itu. Dia menyadari kelemahan analisa teleologis, yakni bahwa berbagai konsekuensi yang terjadi di masa mendatang suatu gejala dengan tujuan akhirnya, yaitu fungsinya
 
V.               Anomali
Anomie adalah bentuk kebingungan, ketidak amanan, "kehampaan norma".
Apabila kondisi masyarakat sudah tidak mempunyai sistem pengaturan utama dan tidak berfungsi lagi dalam membentuk keteraturan dan hubungan harmonisnya, maka hal demikian membawa kepada kondisi "anomie". Secara subyektif individu mengalami keadaan tidak pasti, tidak aman, dimana keinginan dan ambisi pribadinya tidak mungkin dipenuhinya secara realistik, ada perasaan tidak punya arti  yang merasa curiga bahwa hidup ini benar-benar tidak punya tujuan dan tidak punya arti. Ada tekanan budaya yang kuat pada individualisme. Fenomenanya dalam bentuk penyakit masyarakat:
1.      Anomie pada pembagian kerja, seperti kasus krisis industri dimana terjadi permusuhan antara buruh dengan pengusaha, sehingga individu terisolasi.
2.      Tingginya intensitas pembagian kerja, sehingga penempatan individu tidak berdasarkan kemampuannnya.
3.      Bentuk patalogis lainnya yaitu fungsi tugas tidak dikerjakan secara penuh sistem.
 
 
 
 
 
 

Tugas 3 Bill Tesyar Nursallam Kpi 1 d 2012

KARL  MARX (1818 – 1883 )

1.      Teori Tentang Kelas

Perkembangan kapitalisme pernah mengacaubalaukan masyarakat feodal yang terstruktur  pada tiga aturan besar yaitu: kaum petani, kaum aristocrat  atau bangsawan dan pendeta. Dengan perkembangan perdagangan, industry dan pusat-pusat urban muncullah dua kelas baru: pertama kelas borjuis (bourgeois) yang telah mendestabilisasikan rezim (tatanan) lama dan memegang tempat yang dominan, dan kemudian kalangan proletar atau rakyat jelata yang  miskin dan terdiri dari sekumpulan tukang di pabrik-pabrik dan para petani yang terusir dari tanahnya dan kemudian menjadi tenaga kerja utama di bengkel kerja dan firma-firma industri  besar. Berbagai kondisi kerja dan eksistensi kaum proletar pada pertengahan abad XIX banyak dilaporkan melalui sejumlah penelitian. Friedrich Engels rekan kerja Marx  pernah mendeskripsikan kodisi kaum proletar Inggris yang mengenaskan dalam rapport surlasituation delaclasse laborieuse angleterre (laporan tentang situasi kelas pekerja di Inggris) (1844).

           

2.      Teori Tentang Agama

Karl marx berpendapat bahwa agama juga merupakan sebuah ideology. Marx percaya agama merefleksikan suatu kebenaran namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketidakserasian mereka diciptakan oleh system kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama.  Orang mempercayai keberadaan Tuhan.

Bentuk keagamaan ini mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu berkemunginan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Marx merasa bahwa agama khususnya menjadi bentuk kedua ideology dengan menggambarkan ketidakadilan kpitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan mendorong perubahan revolisuoner.

 

Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du christianisme (Esensi Kristianisme) (1864). Bagi Feuerbach agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surge bagi pemikiran (ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bisa memercayai eksistensi Tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa adalah "candu bagi masyarakat"). Selanjutnya ia akan mengusungnya ke dalam analisis komoditas.

 

3.      Teori Tentang Modal Produksi

Marx sangat tertarik terhadap pendirian para ekonom politik. Ia memuji premis dasar mereka yang menyatakan bahwa tenaga kerja merupakan sumber seluruh kekayaan. Pada dasarnya premis inilah yang menyebabkan Marx merumuskan teori nilai tenaga kerja. Dalam teori ini ia menegaskan bahwa keuntunga kapitalis menjadi basis eksploitasi tenaga kerja. Kapitalis melakukan muslihat sederhana dengan membayar upah tenaga kerja kurang dari yang selayaknya mereka terima, karena mereka menerima upah kurang dari nilai barang yang sebenarnya mereka hasilkan dalam suatu periode kerja.

Suatu masyarakat cenderung mengadopsi sistem relasi-relasi sosial terbaik yang memfasilitasi pekerjaan dan perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya. Oleh karena itu, relasi-relasi produksi bergantung pada wilayah kekuatan-kekuatan material produksi. Kekuatan tersebut adalah alat-alat aktual, mesin-mesin, pabrik-pabrik, dan seterusnya. Dalam Ideologi Jerman (1844-6), Marx dan Engels mengajukan ada empat bentuk moda produksi pokok dalam perjalanan sejarah manusia, yaitu moda kesukuan yang terkait dengan bentuk-bentuk produksi primitif seperti berburu-meramu dan pertanian sederhana, sistem kepemilikan budak Yunani-Romawi Kuno, moda produksi feodal yang merujuk pada tatanan sosial-ekonomi di Perancis

               dan Inggris sebelum Revolusi Perancis, dan modal produksi kapitalis.

 

               Daftar Pustaka

§  Bachtiar, Wardi. 2006. Sosiologi Klasik. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya

§  Cabin, Phillipe. 2004. Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Yogyakarta: Penerbit Kreai Wacana

 

 

Tugas 3 Bill Tesyar Nursallam Kpi 1 d 2012

KARL  MARX (1818 – 1883 )

1.      Teori Tentang Kelas

Perkembangan kapitalisme pernah mengacaubalaukan masyarakat feodal yang terstruktur  pada tiga aturan besar yaitu: kaum petani, kaum aristocrat  atau bangsawan dan pendeta. Dengan perkembangan perdagangan, industry dan pusat-pusat urban muncullah dua kelas baru: pertama kelas borjuis (bourgeois) yang telah mendestabilisasikan rezim (tatanan) lama dan memegang tempat yang dominan, dan kemudian kalangan proletar atau rakyat jelata yang  miskin dan terdiri dari sekumpulan tukang di pabrik-pabrik dan para petani yang terusir dari tanahnya dan kemudian menjadi tenaga kerja utama di bengkel kerja dan firma-firma industri  besar. Berbagai kondisi kerja dan eksistensi kaum proletar pada pertengahan abad XIX banyak dilaporkan melalui sejumlah penelitian. Friedrich Engels rekan kerja Marx  pernah mendeskripsikan kodisi kaum proletar Inggris yang mengenaskan dalam rapport surlasituation delaclasse laborieuse angleterre (laporan tentang situasi kelas pekerja di Inggris) (1844).

           

2.      Teori Tentang Agama

Karl marx berpendapat bahwa agama juga merupakan sebuah ideology. Marx percaya agama merefleksikan suatu kebenaran namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketidakserasian mereka diciptakan oleh system kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama.  Orang mempercayai keberadaan Tuhan.

Bentuk keagamaan ini mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu berkemunginan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Marx merasa bahwa agama khususnya menjadi bentuk kedua ideology dengan menggambarkan ketidakadilan kpitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan mendorong perubahan revolisuoner.

 

Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du christianisme (Esensi Kristianisme) (1864). Bagi Feuerbach agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surge bagi pemikiran (ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bisa memercayai eksistensi Tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa adalah "candu bagi masyarakat"). Selanjutnya ia akan mengusungnya ke dalam analisis komoditas.

 

3.      Teori Tentang Modal Produksi

Marx sangat tertarik terhadap pendirian para ekonom politik. Ia memuji premis dasar mereka yang menyatakan bahwa tenaga kerja merupakan sumber seluruh kekayaan. Pada dasarnya premis inilah yang menyebabkan Marx merumuskan teori nilai tenaga kerja. Dalam teori ini ia menegaskan bahwa keuntunga kapitalis menjadi basis eksploitasi tenaga kerja. Kapitalis melakukan muslihat sederhana dengan membayar upah tenaga kerja kurang dari yang selayaknya mereka terima, karena mereka menerima upah kurang dari nilai barang yang sebenarnya mereka hasilkan dalam suatu periode kerja.

Suatu masyarakat cenderung mengadopsi sistem relasi-relasi sosial terbaik yang memfasilitasi pekerjaan dan perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya. Oleh karena itu, relasi-relasi produksi bergantung pada wilayah kekuatan-kekuatan material produksi. Kekuatan tersebut adalah alat-alat aktual, mesin-mesin, pabrik-pabrik, dan seterusnya. Dalam Ideologi Jerman (1844-6), Marx dan Engels mengajukan ada empat bentuk moda produksi pokok dalam perjalanan sejarah manusia, yaitu moda kesukuan yang terkait dengan bentuk-bentuk produksi primitif seperti berburu-meramu dan pertanian sederhana, sistem kepemilikan budak Yunani-Romawi Kuno, moda produksi feodal yang merujuk pada tatanan sosial-ekonomi di Perancis

               dan Inggris sebelum Revolusi Perancis, dan modal produksi kapitalis.

 

               Daftar Pustaka

§  Bachtiar, Wardi. 2006. Sosiologi Klasik. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya

§  Cabin, Phillipe. 2004. Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Yogyakarta: Penerbit Kreai Wacana

 

 

Tugas 3 Dewi Mufarrikhah KPI 1D



SOSIOLOGI  MENURUT  KARL  MARX
                Karl Marx sebenarnya bukan seorang sosiolog. Bahkan istilah sosiologi tidak pernah muncul dalam karya-karyanya. Namun demikian jelas bahwa ia bisa ditempatkan di antara sekian tokoh klasik dari displin ilmu. Hal penting dari analisisnya tidak hanya diakui oleh para pengikut "Marxis" saja (meski  sekarang jumlah mereka agak berkurang) namun juga oleh para penulis lain seperti Max Weber atau Raymond Aron yang meski tidak memiliki pandangan sama tetapi tetapi telah mengakui Karl Marx sebagai referensi wajib dan menakui kegeniusannya.
1.       Teori Tentang Kelas
Perkembangan kapitalisme pernah mengacaubalaukan masyarakat feodal yang terstruktur  pada tiga aturan besar yaitu: kaum petani, kaum aristocrat  atau bangsawan dan pendeta. Dengan perkembangan perdagangan, industry dan pusat-pusat urban muncullah dua kelas baru: pertama kelas borjuis (bourgeois) yang telah mendestabilisasikan rezim (tatanan) lama dan memegang tempat yang dominan, dan kemudian kalangan proletar atau rakyat jelata yang  miskin dan terdiri dari sekumpulan tukang di pabrik-pabrik dan para petani yang terusir dari tanahnya dan kemudian menjadi tenaga kerja utama di bengkel kerja dan firma-firma industri  besar. Berbagai kondisi kerja dan eksistensi kaum proletar pada pertengahan abad XIX banyak dilaporkan melalui sejumlah penelitian. Friedrich Engels rekan kerja Marx  pernah mendeskripsikan kodisi kaum proletar Inggris yang mengenaskan dalam rapport surlasituation delaclasse laborieuse angleterre (laporan tentang situasi kelas pekerja di Inggris) (1844).
               
2.       Teori Tentang Agama
Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du christianisme (Esensi Kristianisme) (1864). Bagi Feuerbach agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surge bagi pemikiran (ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bisa memercayai eksistensi Tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa adalah "candu bagi masyarakat"). Selanjutnya ia akan mengusungnya ke dalam analisis komoditas.
 
3.       Teori Tentang Modal Produksi
Marx sangat tertarik terhadap pendirian para ekonom politik. Ia memuji premis dasar mereka yang menyatakan bahwa tenaga kerja merupakan sumber seluruh kekayaan. Pada dasarnya premis inilah yang menyebabkan Marx merumuskan teori nilai tenaga kerja. Dalam teori ini ia menegaskan bahwa keuntunga kapitalis menjadi basis eksploitasi tenaga kerja. Kapitalis melakukan muslihat sederhana dengan membayar upah tenaga kerja kurang dari yang selayaknya mereka terima, karena mereka menerima upah kurang dari nilai barang yang sebenarnya mereka hasilkan dalam suatu periode kerja.
Suatu masyarakat cenderung mengadopsi sistem relasi-relasi sosial terbaik yang memfasilitasi pekerjaan dan perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya. Oleh karena itu, relasi-relasi produksi bergantung pada wilayah kekuatan-kekuatan material produksi. Kekuatan tersebut adalah alat-alat aktual, mesin-mesin, pabrik-pabrik, dan seterusnya. Dalam Ideologi Jerman (1844-6), Marx dan Engels mengajukan ada empat bentuk moda produksi pokok dalam perjalanan sejarah manusia, yaitu moda kesukuan yang terkait dengan bentuk-bentuk produksi primitif seperti berburu-meramu dan pertanian sederhana, sistem kepemilikan budak Yunani-Romawi Kuno, moda produksi feodal yang merujuk pada tatanan sosial-ekonomi di Perancis
               dan Inggris sebelum Revolusi Perancis, dan modal produksi kapitalis.
 
               Daftar Pustaka
            Cabin, Phillipe. 2004. Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Yogyakarta: Penerbit Kreai Wacana
            Bachtiar, Wardi. 2006. Sosiologi Klasik. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya

Marx mengenai pertentangan kelas, agama dan modal produksi

NICKY FRANIDA NUGRAHANI
KPI/1D
111201000107

Pertentangan kelas menurut Marx
                Teori mengenai pertentangan kelas yang dimaksudkan menurut Marx  ialah, suatu kelompok orang-orang yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama dalam suatau organisasi produksi. Dan interpretasi marx tertuju pada konflik ekonomi, yang pada dasarnya mengenai pertentangan kelas antara pemilik faktor produksi dan buruh.
                Marx menganalisis  yang menjadi faktor utama munculnya konflik ialah mengenai proses produksi. Proses produksi yang kebanyakan menganut sistem produksi kapitalis, yaitu kekuasaan terbesar dimiliki oleh pemilik produksi sedangkan pekerjanya hanyalah kaum lemah. Dalam sistem kapitalis ini pemilik dapat seenaknya mentapkan persyaratan, seperti menekan biaya kerja buruh. Sedangkan para buruh menginginkan keringanan jam kerja dan mendapatkan upah sebanyak-banyak.
                Perspektif marx menunjukan bahwa hubungan kerja dalam sistem produksi kapitalis tidak stabil. Karena kepentingan dua faktor utama kelompok itu tidak dapat diselaraskan. Adapun keselarasan itu sifatnya akan sementara. Dikarenakan salah satu dari dua pihak berkuasa, sedangkan pihak lain dikuasai. Walaupun demikian ketika kekuasaan kelas berkurang, hubungan sosial tidak dapat stabil lagi, kelas buruh secara otomatis akan semakin mampu memenangkan kepentingan mereka. Sehingga pada akhirnya terjadi revolusi dan hak milik pribadi dihapuskan, maka terciptalah masyarakat modern tanpa kelas sebagaimana yang dicita-citakan oleh Marx.
                Revolusi pada hakikatnya merupakan kerja keras dalam pernghapusan hak milik pribadi atas sarana produksi. Dengan harapan dengan tidak adanya kelas-kelas atas kepemilikan, maka tidak ada lagi konflik kelas serta tidak adanya negara/hukum untuk menentukan hak kepemilikan atas kebutuhan masyarakat.
                Dan marx berpendapat dalamkonteks sistem stratifikasi kelas itu pada dasarnya sangat bergantung dari pola hubungan antara kelompok-kelompok manusia terhadap sarana produksi.
 
Sebagi contoh dalam kehidupan:
Yaitu antara pembantu dengan majikannya
Walaupun secara jelas atas kepemilikan harta benda yang ada dirumah merupakan milik majikan, serta upah pembantu yang diberikan mutlak dari majikan. Keadaan yang demikian ini sering dijadikan majikan sebagai ajang semena-mena atas pembantunya. Majikan sering memperkerjakan pembantunya dengan menguras tenanganya dibatas jam kerjanya, bahkan majikan sering kali bertindak kasar seperti memukul apabila pekerjaan pembantu tidak seperti apa yang dia kehendaki. Perilaku majikan yang seperti itu merupakan salah satu cerminan dari kekuasaan terbesar atas pemilik, dan pekerjanya hanyalah kaum lemah.
 
Pertentangan agama
                Mengenai agama ini, pada umunya manusia menempatkan tuhan diatas dan disekeliling mereka sendiri, sehingga mereka merasa terasingkan dari tuhan, dan membangun seperangkat pemikiran seperti tuhan ialah mahasempurna, mahakuasa, dan mahasuci. Sedangkan mereka merendahkan dirinya sendiri, serta manusia menjadi tidak sempurna, tanpa kuasa, dan penuh dosa.
                Pemahaman yang demikian itu diulas kembali oleh Feuerbach bersama filsafat materialis lainnya. Yaitu dengan menempatkan manusia (bukan agama) menjadi objek tertinggi atas diri mereka sendiri, dan menempatkan dirinya menjadi tujuan utama didalam diri mereka sendiri. Dan marx merupakan salah satu penganut materialis.
 
 
Modal produksi
                Klaim umum materialisme historis Marx adalah mengenai cara orang menyediakan kebutuhan material mereka, mengondisikan hubungan hubungan antar mereka, institusi institusi sosial mereka,  dan bahkan ide ide mereka yang lazim. Karena pentingnya cara orang memenuhi kebutuhan kebutuhan mereka.
                Di dalam proses produksi sosial, manusia memasuki relasi-relasi tertentu dan tidak bergantung kepada keinginan mereka. Relasi-relasi produksi ini tergantung pada suatu langkah tertentu dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Totalitas hubungan-hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat. Teori Marx menyatakan bahwa suatu masyarakat akan cenderung mengadopsi sistem relasi sosial terbaik yang memfasilitasi pekerjaan dan perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya.
 
 
 
Daftar pustaka:
Upe, Ambo. 2010. Tradisi dalam aliran sosiologi. Jakarta:PT.Raja grafindo persada
Sunarto, kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: lembaga penerbit fakultas ekonomi Universitas Indonesia
Ritzer dan Goodman. 2007. Teori sosiologi modern. Jakarta:Kencana

TUGAS KE 3_Meteor Mardiansyah_KPI 1D.

Karl marx lahir di Trier, prusia, 5 mei 1818. Orang tua karl max adalah dari keluarga pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan bisnis luther ketika karl marx masih sangat muda. Tahun 1841 karl max menerima gelar doktor filsafat  dari universitas berlin. Marx menerbitkan beberapa karya yang sukar dipahami. Diantaranya : the holy family dan the german ideologi. Marx menikah pada 1843 dan tak lama kemudian ia terpaksa meninggalkan jerman untuk mendapatkan suasana yang liberal di paris. Di paris ia terus bergulat dengan hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua gagasan baru-sosialisme perancis dan ekonomi politik inggris. Dengan cara yang ujnik ia menggabungkan hegelisme, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektual.

Max sendiri memiliki kepekaan yang mendalam menyangkut artikulasi diarletika kekuatan ekonomi, sosial, dan ideologi dalam dinamika sejarah. Hukum –hukum kapitalisme (yang merupakan hukum tendeinus) terbukti menyebabkan krisis yang bisa melahirkan pemberontakan.

Teori tentang kelas –kelas sosial

Analisi tentang masyarakat dalam menganalisis masalah kelas sosial sebenarnya tidak ditemukan oleh karl max. Para ahli lainnya juga mengakui sebelumnya bahwa masyarakat memang terbagi atas kelas –kelas yang ditentukan oleh posisi ekonomi, status, penghasilan, posisi, kekuasaan yang berbeda dan memiliki kepentingan yang berkelindan. Marx membadakan "keloas sebagaimana kondisi dirinya sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan individu yang secara umum memiiliki kondisi kerja yang sama, status yang sama, dan permasalahan yang sama. Sedangkan kelas bagi dirinya sendiri merupakan sebuah kelas yang karena tlah menyadari akan adnya kepentingan bersama, lalu mengorganisasikan diri menjadi gerakan sosial berbentuk sindikat dan partai, yang berarti menempa diri untuk mencari identitas.

Marx menyadari sepenuhnya eksistensi dan peran brbagai kelas dalam masyarakat. Dalam les luttes de classes en france (perjuangan kelas-kelas sosial di perancis) ia secara sadar mendeskripsikan sekurang-kurangnya 7 kelas dan fraksi kelas yang berbeda: yaitu kelas aristokrasi finansial, borjuis industrial, borjuis kecil, proletar, petani kecil, tuan-tuan tanah besar dan sebagainya. Namun menurutnya dinamika kapitalisme, konsentrasi produksi dan krisis-krisis yang terjadi secara periodik cenderung meradikalkan pertentangan antara kedua golongan diantara mereka: yaitu kaum proletar dan kaum borjuis.

Teori ideologi

Sebagaimana halnya tentang pertanyaan negara (pemerintahan), Marx tidak memiliki teori sistematik yang ideologi, sebaliknya, yang ada hanya analisis-analisis parsial dan belum rampung namun seringkali berbobot dan tajam. Analisis ini berkisar pada beberapa tema yang sifatnya fundamental.

Marx menempatkan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi sendikondisikan oleh bingakai atau batas ekonmi dan menjadi semacam refleksi atau bingkai itu.Dengan demikian kaum borjuis yang semakin menanjak telah menentukan pemikiran – pemikiran tentang kebebasan,hak asasi manusia, kesetaraan i dihadapan hukum (hak) dalam bingkai perguulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Mereka ini cenderung memindahkan apa – apa yang menjadi ekpresi kepentingan kelasnya menjadi nilai - nilai yang universal.

                Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semcam alienasi.Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du chirstianisme (Esensi Kristianisme)(1864). Bagi feuerbach agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surga bagi pemikiran(ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bia mempercayai eksistensi tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat) dan selanjutnya ia akan mengusungnya ke dalam analisis komoditas.

Karl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan persahabatan. Dia berpendepat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia, monopoli dan kompetisi dan lain-lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi klasik adalah, is tidak memeperimbangkan kekuatan produksi akan meruntuhkan hubungan produksi.

Hasil dari teori historis Karl Marx pada masyarakat antara lain :

  1. masyarakat feudalisme, dimana faktor-faktor produksi berupa tanah pertanian dikuasai oleh tuan-tuan tanah.
  2. Pada masa kapitalisme hubunganantara kekuatan dan relasi prodksi akan berlangsung, namunkarena terjadi peningkatan output dan kegiatanekonomi, sebagaimana feudalisme juga mengandung benih kehancurannya, maka kapitalismepun akan hancur dan digantikan dengan masyarakat sosialise.
  3. Masa sosialisme dimana relasi produksi mengikuti kapitalisme masih mengandung sisa-sisa kapitlisme.
  4. Pada masa komunisme, manusia tidak didorong untuk bekerja dengan intensif uang atau materi.

Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu:

  1. kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
  2. Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja, maupun bahan-bahan produksi.

 


 

Konsentrasi modal

Meskipun model karl marx memberi asumsi mengenai adanya pasar persaingan sempurna dengan jumlah yang besar untuk perusahan-perusahan kecil dalam tiap –tiap industri, namun karena ketatnya persaingan maka akan mengarah pada jatuhnya industri-industri kecil sehingga akan mengurangi persaingan.

Untuk mengurangi adanya persaingan salah satunya dengan peusatan modal. Pemusatan modal ini terjadi melalui sebuah redistribusi pada modal. Karl Marx menujukan bahwa perusahaan yang besar lebih bias mencapai skala ekonomi yang lebih baik ketimbang perusahaan yang kecil, hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar itu dapat memproduksi dengan biaya yang rendah. Persaingan diantara perusahaan yang besar dan yang kecil menghasilkan pertumbuhan monopoli. Penambahan modal secara lebih jauh dengan mengembangkan sistem kredit dan kerja sama dalam bentuk organisasi bisnis.


 

Daftar pustaka:

 

#Pendahulu dan pendiri sosiologi

#Marx dan sosiologi


TUGA

Karl marx lahir di Trier, prusia, 5 mei 1818. Orang tua karl max adalah dari keluarga pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan bisnis luther ketika karl marx masih sangat muda. Tahun 1841 karl max menerima gelar doktor filsafat  dari universitas berlin. Marx menerbitkan beberapa karya yang sukar dipahami. Diantaranya : the holy family dan the german ideologi. Marx menikah pada 1843 dan tak lama kemudian ia terpaksa meninggalkan jerman untuk mendapatkan suasana yang liberal di paris. Di paris ia terus bergulat dengan hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua gagasan baru-sosialisme perancis dan ekonomi politik inggris. Dengan cara yang ujnik ia menggabungkan hegelisme, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektual.

Max sendiri memiliki kepekaan yang mendalam menyangkut artikulasi diarletika kekuatan ekonomi, sosial, dan ideologi dalam dinamika sejarah. Hukum –hukum kapitalisme (yang merupakan hukum tendeinus) terbukti menyebabkan krisis yang bisa melahirkan pemberontakan.

Teori tentang kelas –kelas sosial

Analisi tentang masyarakat dalam menganalisis masalah kelas sosial sebenarnya tidak ditemukan oleh karl max. Para ahli lainnya juga mengakui sebelumnya bahwa masyarakat memang terbagi atas kelas –kelas yang ditentukan oleh posisi ekonomi, status, penghasilan, posisi, kekuasaan yang berbeda dan memiliki kepentingan yang berkelindan. Marx membadakan "keloas sebagaimana kondisi dirinya sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan individu yang secara umum memiiliki kondisi kerja yang sama, status yang sama, dan permasalahan yang sama. Sedangkan kelas bagi dirinya sendiri merupakan sebuah kelas yang karena tlah menyadari akan adnya kepentingan bersama, lalu mengorganisasikan diri menjadi gerakan sosial berbentuk sindikat dan partai, yang berarti menempa diri untuk mencari identitas.

Marx menyadari sepenuhnya eksistensi dan peran brbagai kelas dalam masyarakat. Dalam les luttes de classes en france (perjuangan kelas-kelas sosial di perancis) ia secara sadar mendeskripsikan sekurang-kurangnya 7 kelas dan fraksi kelas yang berbeda: yaitu kelas aristokrasi finansial, borjuis industrial, borjuis kecil, proletar, petani kecil, tuan-tuan tanah besar dan sebagainya. Namun menurutnya dinamika kapitalisme, konsentrasi produksi dan krisis-krisis yang terjadi secara periodik cenderung meradikalkan pertentangan antara kedua golongan diantara mereka: yaitu kaum proletar dan kaum borjuis.

Teori ideologi

Sebagaimana halnya tentang pertanyaan negara (pemerintahan), Marx tidak memiliki teori sistematik yang ideologi, sebaliknya, yang ada hanya analisis-analisis parsial dan belum rampung namun seringkali berbobot dan tajam. Analisis ini berkisar pada beberapa tema yang sifatnya fundamental.

Marx menempatkan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi sendikondisikan oleh bingakai atau batas ekonmi dan menjadi semacam refleksi atau bingkai itu.Dengan demikian kaum borjuis yang semakin menanjak telah menentukan pemikiran – pemikiran tentang kebebasan,hak asasi manusia, kesetaraan i dihadapan hukum (hak) dalam bingkai perguulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Mereka ini cenderung memindahkan apa – apa yang menjadi ekpresi kepentingan kelasnya menjadi nilai - nilai yang universal.

                Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semcam alienasi.Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du chirstianisme (Esensi Kristianisme)(1864). Bagi feuerbach agama itu merupakan proyeksi dalam bentuk "surga bagi pemikiran(ide)", harapan dan keyakinan manusia. Orang bia mempercayai eksistensi tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa agama adalah "candu bagi masyarakat) dan selanjutnya ia akan mengusungnya ke dalam analisis komoditas.

Karl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan persahabatan. Dia berpendepat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia, monopoli dan kompetisi dan lain-lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi klasik adalah, is tidak memeperimbangkan kekuatan produksi akan meruntuhkan hubungan produksi.

Hasil dari teori historis Karl Marx pada masyarakat antara lain :

  1. masyarakat feudalisme, dimana faktor-faktor produksi berupa tanah pertanian dikuasai oleh tuan-tuan tanah.
  2. Pada masa kapitalisme hubunganantara kekuatan dan relasi prodksi akan berlangsung, namunkarena terjadi peningkatan output dan kegiatanekonomi, sebagaimana feudalisme juga mengandung benih kehancurannya, maka kapitalismepun akan hancur dan digantikan dengan masyarakat sosialise.
  3. Masa sosialisme dimana relasi produksi mengikuti kapitalisme masih mengandung sisa-sisa kapitlisme.
  4. Pada masa komunisme, manusia tidak didorong untuk bekerja dengan intensif uang atau materi.

Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu:

  1. kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
  2. Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja, maupun bahan-bahan produksi.

 


 

Konsentrasi modal

Meskipun model karl marx memberi asumsi mengenai adanya pasar persaingan sempurna dengan jumlah yang besar untuk perusahan-perusahan kecil dalam tiap –tiap industri, namun karena ketatnya persaingan maka akan mengarah pada jatuhnya industri-industri kecil sehingga akan mengurangi persaingan.

Untuk mengurangi adanya persaingan salah satunya dengan peusatan modal. Pemusatan modal ini terjadi melalui sebuah redistribusi pada modal. Karl Marx menujukan bahwa perusahaan yang besar lebih bias mencapai skala ekonomi yang lebih baik ketimbang perusahaan yang kecil, hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar itu dapat memproduksi dengan biaya yang rendah. Persaingan diantara perusahaan yang besar dan yang kecil menghasilkan pertumbuhan monopoli. Penambahan modal secara lebih jauh dengan mengembangkan sistem kredit dan kerja sama dalam bentuk organisasi bisnis.


 

Daftar pustaka:

 

#Pendahulu dan pendiri sosiologi

#Marx dan sosiologi



Emile Durkheim_Lilis Yuniarsih JRN 1B_Tugas ke 2

1.         FAKTA SOSIAL
Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Dalam The Rule of Sociological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. Dalam bukunya yang berjudul Suicide (1897/1951) Durkheim berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial ) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi. Tetapi, Durkheim tak sampai menguji mengapa individu A atau B melakukan bunuh diri; ia lebih tertarik terhadap penyebab yang berbeda-beda dalam rata-rata perilaku bunuh diri dikalangan kelompok, wilayah, negara, dan dikalangan golongan individu yang berbeda (misalnya, antara ornag yang kawin dan lajang). Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahn fakta sosiallah yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. Misalnya, perang atau depresi ekonomi dapat menciptakan perasaan depresi kolektif yang selanjutnya dapat meningkatkan angka bunuh diri.
Dalam The Rule of sosiological Method ia membedakan antara dua tipe fakta sosial: meterial dan nonmaterial. Meski ia membahas keduanya dalam karyanya , perhatian utamanya lebih tertuju pada fakta sosial nonmaterial ( misalnya kultur, institusi sosial) ketimbang pada fakta sosial material (birokrasi, hukum). Perhatianya terhadap fakta sosial nonmaterial ini telah jelas dalam karyanya paling awal, The Division of Labor in Society ( 1893/1964). Dalam buku ini perhatiannya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan berada dalam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatuka terutama oleh fakta sosial nonmaterial, khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif yang kuat. Tetapi, karena kompleksitas masyarakat modern, kekuatan kesadaran kolektif itu telah menurun. Ikatan utama dalam masyarakat modern adalah pembagian kerja yang ruwet, yang mengikat orang yang satu dengan orang lainnya dalam hubungan saling tergantung. Tetapi, menurut Durkheim, pembagian kerja dalam masyarakat modern menimbulkan beberapa patologi (pathologies). Dengan kata lain, divisi kerja bukan metode yang memadai yang dapat membantu menyatukan masyarakat. Kecendrungan sosiologi konserpatif durkheim terlihat ketika ia menganggap revolusi tak diperlukan unrtuk menyelesaikan masalah. Menurutnya, berbagai reformasi dapat memperbaiki dan menjaga sistem sosial modern agar tetap berfungsi. Meski ia mengakui tak mungkin kembali ke masa lalu dimana kesadaran kolektif masih menonjol, namun ia menganggap bahwa dalam masyarakat modern moralitas bersama dapat diperkuat dan karena itu manusia akan dapat menanggulangi penyakit sosial yang mereka alami dengan cara lebih baik. [1]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2.         PEMBAGIAN KERJA
Kombinasi pertumbuhan isi sosial dan kepadatan moral menyebabkan kondisi timbulnya diferensiasi  sosial. Demikian pula kondisi kompetisi, perjuangan untuk keberadaan (kehidupan) menjadi lebih kuat. Pembagian kerja merupakan bagian untuk hidup, tetapi penyelesaiannya perlahan. Antara lawan tidak mewajibkan menghilangkan satu terhadap yang lainnya, tetapi dapat hidup berdampingan. Pembagian kerja semakin berkembang maka individu-individu tidak akan selamanya sama, sebab pekerjaan mereka mengikuti fungsi spesialis. Tetapi perasaan solidaritas mengikat sesuai dengan pembagian kerja, yang membawa kepada posisi saling melengkapi "tidak sama tapi mirip" yang akan menyebabkan kegiatan bersama, sumber perasaan solidaritas dari macam-macam perbedaan tertentu. Sebagai pengganti saling bertentangan saling mengasingkan satu sama lain, adalah saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga pembagian kerja menetapkan bentuk kontrak moral baru antara individu, dan inilah yang yang dinamakan "solidaritas organik". Pembagian kerja yang semakin besar, maka saling ketergantungan semakin besar, karena semakin bertambahnya spesialisi kerja. Indikator organik ini adalah ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat memulihkan (restitutif).
Menurut Durkheim struktur masyarakat adalah ketetapan, bukan dengan pengulangan dari unsur-unsur homogen yang sama, tetapi oleh suatu sistem dari organ yang berbeda, masing-masing setiap sesuatu telah mempunyai peran khusus dan milik mereka tidak terbentuk dari bagian yang berbeda. Unsur dalam masyarakat tidaklah semua asli, tidak menempati bersama dan kemudian berakhir. Tidak terpancang satu dengan yang lainnya, tetapi da koordinasi dan subordinasi satu sama lainnya dengan organ pusat sama, berusaha melampaui ketahanan dari organisme yang cukup.
Meskipun masyarakat tumbuh dengan cepat, maka kondisi kehidupan individu tidaklah sama untuk setiap tempat. Hal ini menurut Durkheim karena masyarakat menyebar lebih cepat, sehingga kesadarna bersama menekan dirinya untuk naik ke atas dan akibatnya menjadi lebih abstrak. Semakin umum munculnya kesadaran bersama, maka kehidupan untuk variasi individu lebih luas. Solidaritas organik hanya mungkin jika masing-masing orang perseorangan mempunyai lingkungan kegiatan yang berakibat bagi pribadi. Jadi kesadaran kolektif tidak melindungi kesadaran individu, tetapi disini membangun untuk fungsi kohesivitas yang muncul dari solidaritas.
       "Solidaritas mekanik" berkaitan dengan pertumbuhan pembagian tenaga kerja, dimana semakin meningkat pembagian kerja, maka terjadi perubahan struktur sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu kesadaran kolektif bersama, yang menunjuka kepada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen yang rata-rata ada pada warga masyarakat merupakan solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Karena itu individu tidak berkembang terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan besar untuk konformitas (penyesuaian-penyesuaian). Indikatornya ada hukum yang bersifat menekan  (represif). [2]
 
 
 
 
 
 
3.         AGAMA
Dalam bukunya yang berjudul Les Formes Elementaires De La Vie Religion (bentuk-bentuk awal kehidupan agama), yang diterbitkan dalam bahasa Perancis pada tahun 1912, Emile Durkheim melihat bahwa semua agama membedakan antara hal-hal yang dianggap sakral dan yang dianggap profan. Yang sakral adalah hal-hal yang dipisahkan daripada yang lain dan yang dilarang, terdapat benda sakral tempat sakral, waktu sakral, kata sakral. Sakral bisa mempunyai konotasi "suci", bisa juga berarti "berbahaya, terlarang".
Durkheim menawarkan definisi agama sebagai berikut : "A religion is a unified system of beliefs and practices relatives to sacred thins, that is to say, things set apart and forbidden         beliefs and practices which write into a single moral community called a church, all those who adhere to them." ( suatu agama adalah sebuah sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap sakral, yaitu hal-hal yang dipisahkan dan yang dilarang         kepercayaan dan perilaku yang mempersatukan semua penganutnya menjadi satu komunitas moral, yaitu berrdasarkan nilai-nilai bersama, yang disebut umat). Dengan kata lain, masyarakat tidak ingin terpecah memerlukan agama. Walaupun Durkheim sendiri seorang atheis, dalam semua karyanya ia berulang kali menekankan sumbangan positif agama terhadap kesehatan masyarakat. [3]
Dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965), ia memusatkan perhatian pada bentuk terkahir fakta sosial nonmaterial yakni agama. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Dalam agama primitif (totemisme) ini benda-benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan. Selanjutnya tottemisme dilihat sebagai tipe khususfakta sosial nonmaterial, sebagai sebentuk kesadaran kolektif. Akhirnya Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama. Agama adalah cara masyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial nonmaterial. Jelasnya, dalam mendewakan masyarakat ia menampakkan pendirian yang sangat konservatif: orang tak mau menjatuhkan sumber ketuhanannya sendiri atau sumber kehidupan masyarakatnya. Karena ia menyamakan masyarakat dengan dewa (Tuhan), maka Durkheim tak berkecenderungan untuk mendorong revolusi. Durkheim adalah seorang reformis yang mencari cara untuk meningkatkan fungsi masyarakat.[4]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.         FUNGSIONALISME
Sebagai ahli waris tradisi pemikiran sosial Perancis, khususnya ajaran organisme yang dilancarkan oleh Comte, tidaklah terlalu mengherankan jika hasil-hasil karya awal Emile Durkheim terpengaruh terminologi organismik. Walaupun dalam bukunya The Division Of Labor Durkheim melancarkan kritik terhadap Spencer, namun hasil-hasil karya sesudahnya sangat terpengaruh oleh aliran biologis dalam situasi intelektual abad ke-19. Kecuali itu, asumsi-asumsi dasar durkheim mencerminkan pokok-pokok pikiran mereka yang sangat terpengaruh oleh aliran organisme. Asumsi dasar itu adalah :
a.       Masyarakat tidak dapat dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri yang dapat dibedakan dari bagian-bagiannya. Masyarakat juga tidak dapat dihabiskan kedalam bagian-bagiannya. Masyarakat harus dilihat sebagai suatu keseluruhan.
b.      Bagian-bagian suatu sistem dianggap memenuhi fungsi-fungsi pokok, maupun kebutuhan sistem secara keseluruhan.
c.       Kebutuhan pokok suatu sistem sosial harus dipenuhi, untuk mencegah terjadinya keadaan abnormal atau patologis.
d.      Setiap sistem mempunyai pokok-pokok keserasian tertentu yang segala sesuatunya akan berfungsi secara normal.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
5.         ANOMALI / ANOMIE
Teori anomie berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Robert Merton pada sekitar tahun 930an, dimana konsep anomi itu sendiri pernah digunakan oleh Emile Durkheim dalam analisisnya tentang Suicide Anomique. [6]
Apabila kondisi masyarakat sudah tidak mempunyai sistem pengaturan utama dan tidak berfungsi lagi dalam membentuk keteraturan dan hubungan harmonisnya, maka hal demikian membawa kepada kondiri "anomi". Secara subjektif individu mengalami keadaan tidak pasti, tidak aman, dimana keinginan dan ambisi pribadinya tidak mungkin untuk dipenuhinya secara realistik, ada perasaan tidak punya arti yang merasa curiga bahwa hidup ini benar-benar tidak punya tujuan dan tidak punya arti. Ada tekanan budaya yang kuat pada individualisme. Fenomenanya dalam bentuk penyakit masyarakat:
1.         Anomie pada pembagian kerja, seperti kasus krisis industri dimana terjadi permusuhan antara buruh dengan pengusaha, sehingga individu terisolasi.
2.         Tingginya intensitas pembagian kerja, sehingga penempatan individu tidak berdasarkan kemampuannya.
3.          Bentuk patologis lainnya yaitu fungsi tugas tidal dikerjakan secara penuh pada sistem. [7]


[1] Teori Sosiologi Modern
[2] Dr. M Munandar, Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial,(Bandung: PT. Refika Aditama, cet. 1, 1987), h. 34
[3] J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed.), Soisologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana 2007, cet. 3), h. 246
[4] Teori Sosiologi Modern
[5] Soerjono Soekanto, Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet. 3, 2011) h. 388
[6] J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed.), Soisologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana 2007, cet. 3), h.110
[7] Dr. M Munandar, Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial,(Bandung: PT. Refika Aditama, cet. 1, 1987), h. 35

Cari Blog Ini