Selasa, 02 Oktober 2012

Arif Syahrizal ( Tugas 4)

TEORI KRITIS KARL MARX

 

Nama                   : Arif Syahrizal

NIM           : 1112051000133

Kelas          : KPI 1 E

 

 

              Teori kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis Jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian. Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir Eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika. Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan social dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat lebih akurat.

A.   Kritik terhadap Teori Marxian

               Teori kritis ini merasa terganggu oleh pemikir Marxis penganut Determanisme ekonomi yang mekanistis. Beberapa orang di antaranya mengkritik determanisme yang tersirat di bagian tertentu pada neo-Marxis terutama karena mereka telah menafsirkan pemikiran Marxs terlalu mekanistis. Seperti akan kita lihat, aliran kritis mencoba meralat ketakseimbangan ini dengan memusatkan perhatiaan pada bidang cultural. Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Soviet yang pura pura di bangun berdasarkan teori Marxian.

 

B.   Kritik Terhadap Positivisme

                Kritik terhadap Positivismesekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme menerima sebagian atau seluruh teori positivism tentang pengetahuan. Positivisme menerima gagasan bahwa metode ilmiah tunggal dapat di terapkan pada seluruh bidang studi. Positivisme mengambil ilmu Fisika sebagai standar kepastian dan ketepatan untuk semua disiplin ilmu.                   Keyakinan ini selanjutnya menimbulkan pandangan bahwa ilmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk tindakan soisial apa pun. Aliran kritis menentang aliran positivism karena berbagai alas an, yaitu : Pertama positivisme cendrung melihat kehidupan social sebagai proses alamiah. Singkatnya positivisme di anggap mengabaikan actor, menurut actor yang ke derajat yang pasif yang di tentukan oleh kekutan alamiah. Karena mereka yakin atas kekhasan sifat actor, teroritis kritistak dapat menerima gagasan bahwa hukum sains dapat di terapkan terhadap tindakan manusia begitu saja. Positivisme menyebabkan actor dan ilmuawan social menjadi pasif. Ada segelintir Marxis tipe tertentu yang mendukung pandangaan yang menyatakan teori dan praktik tak dapat di hubungkan .

 

C.   Kritik terhadap Sosiologi

                 Sosiologi di serang karena menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang di tindas oleh masyarakat masa kini. Menurut anggota aliran ini, sosiologi lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan. Menurut anggota aliran ini, sosiologi lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka mereka mengabaikan interaksi individu dan masyarakat. Karena mengabaikan individu, sosiologi di anggap tak mampu mengatakan seuatu yang bermakna tentang perubahan politikyang dapat mengarah ke sebuah masyarakatmanusia dan adil.

 

D.   Kritik terhadap Masyarakat Modren

Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat cultural mengingat cultural di anggap sebagai realitas masyarakat kapitalis Modren. Pemikiran kritis telah dibentuk tak hanya oleh teori Marxian, tetapi juga oleh yeori Weberian, seperti tercermin pada perhatian mereka kepada rasionalitas sebagai perkembangan domonan dalam dunia modern. Cara berpikir teknoritas berbeda dari cara berpikir nalar, yang dalam pikiran teoritis kritis menjadi tumpuan harapan masyarakat. Teoritisi kritis memandang Nazisme pada umumnya, dank amp konsentrasi Nazi pada khususnya, sebagai contoh rasiolanitas formal yang bertempur mati matiaan dengan nalar yang sehat. Teknologi modern adalah efektif karena walaupun ketika di ciptakan tampaknya netral sebenarnya.ia memperbudak. Teknologi dapat membantu menindas individualitas. Kebebasan batin actor di langgar, di kurangi oleh teknologi modern. Akibatnya adalah apa yang di sebut Marcuse sebagai" masyarakat berdimensi tunggal", di mana individu kehilangan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan secara negative tentang masyarakat. Hubungan yang fatal ini hanya dapat di putuskan dengan revolusiyang menyebabkan teknologi dan teknik tunduk kepada sasaran manusia bebas.

 

E.   Kritik terhadap Kultur

                 Ada dua hal yang paling di cemaskan oleh pemikir kritismengenai industry kultur ini. Pertama, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuaannya. Mereka membayangkannya sebagai sekumpulan paket gagasan yang di produksi secara massal dan di sebarkan ke tengah tengah massa melalui media. Kedua, teoritisi kritisterganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas, dan membius dari industry kultur tehadap masyarakat. Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang di sebut sebagai industry pengetahuan, yang mengacu kepada entitas entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan. Analisis kritis Marx terhadap kapitalisme membuatnya berharap pada massa depan, tetapi banyak teoritis kritis malah masuk pada pandangan putus asa dan tanpa harapan. Sebagian besar teori kritik adalah sejalan dengan analisis kritik. Dan karena alasan ini mereka merasa bahwa teori kritik tak banyakmemberi sumbangan pada teori sosiologi.

 

 

                 Kontribusi besar dari aliran kritis adalah usahanya untuk mengorientasikan teori Marxian kea rah subjektif. Kontribusi subjektif dari aliran kritis adalah pada tingkat individual dan kutural. Salah satu factor yang memotivasi pergeseran ini adalah bahwa minat aliran kritis mencakup aspek aspek lain dari realitas social, terutama kultur. Salah satu perhatian aliran kritik pada tingkat cultural adalah apa yang di sebut Habermas sebagai legitimasi. Ini dapat di definisikan sebagai system yang di hasilkan oleh system politik, dan secara teoritis , oleh system lainnya, untuk mendukung eksistensi system. Yang sangat penting di sini adalah usaha oleh teoritisi kritis, terutama Marcuse, untuk mengintregasikan pandangan Freud pada tingkat kesadaran deng interpretasi teori kritis terhadap kebudayaan   

Tugas 4 / Teori Kritis Karl Marx / Ahmad Fikry Fauzan / KPI 1 E / 1112051000139

Ahmad Fikry Fauzan
KPI 1 E
1112051000139
Tugas 4

Teori Kritis Karl Marx

Teori Kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis Jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian terutama kecenderungannya menuju determinisme ekonomi. Teori kritis telah berkembang melampaui batas aliran Frankfurt dan teori kritis berasal dari sebagian besr berorientasi ke pemikir Eropa, meskipun pengaruhnya tumbuh di dalam sosiologi Amerika.

Kritik Utama terhadap Kehidupan Sosial dan Intelektual

Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap aspek kehidupan sosial dan intelektual, tetapi tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat.

Kritik Terhadap Teori Marxian

Teori kritis ini mengambil kritik pada teori marxian titik tolaknya. Teoritisi kritis ini merasa terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomisme ekonomi yang mekanistis seperti Habermas, yg mengkritik determine yang tersirat di bagian tertentu dari pemikiran Marx, tetapi kritik mereka sangat ditekankan pasa neo-Marx terutama karena meraka telah menafsirkan pemikiran Marx yang terlalu mekanistis. Ketika memusatkan perhatian pada bidang ekonomi maka teoritisi kritis tak menyatakan bahwa determinis ekonomi ekonomi keliru, akan tetapi karena meraka juga memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial lain. Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Soviet yang berpura-pura dibangun berdasarkan teori Marxian.

Kritik Terhadap Positivisme

Kritik terhadap pasitivisme sebagian berkaitan dengan kritik pada determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerika sebagian teori positivisme tentang pengetahuan. Penganut positivisme yakin bahwa pengetahuan bersifat netral. Mereka merasa bahwa mereka dapat mencegah masuknya nilai-nilai kemanusiaan. Keyakinan mereka selanjutnya menimbulkan pandangan bahwa ilmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk sosial apapun.

Aliran kritis menentang pasitivisme karena adanya alasan, salah satu alasan tersebut yaitu positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah. Singkatnya positivisme dianggaap mengabaikan aktor yang menurunkan aktor ke derajat yang pasif yang dutentukan oleh kekuatan alamiah.

Kritik Terhadap Sosiologi

Sosiologi diserang karena "keilmiahannya" yakni menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tidak serius mengkritik masyarakat dan tidak berupaya merombak struktur sosial.
Menurut anggota aliran ini, sosiolog lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dan masyarakat. Walaupun sosiologi tidak bersalah ketika mengabaikan interaksi ini, namun pandangan ini menjadi landasan serangan aliran kritis pada sosiologi. Karena mengabaikan individu sosiolog itu dianggap tidak mampu mengatakan sesuatu dengan arti tentang perubahan politik mengarah ke masyarakat.

Kritik terhadap Masyarakat Modern

Modern. Aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat kultural mengingat kultur dianggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern. Artinya, tempat dominasi dalam masyarakat modern telah bergeser dari bidang ekonomi ke bidang kultural. Seperti dijelaskan Trent Schroyer pandangan aliran kritis adalah bahwa dalam masyarakat modern penindasan dihasilkan oleh rasionalitas yang menggantikan eksploitasi ekonomi sebagai masalah sosial dominan.

Aliran kritis jelas telah mengadopsi pembedaan Weber antara rasionalitas formal danrasionalitas subjektif atau apa yang oleh teoritisi radikal dipandang sebagai reason. Menurut teoritisi kritis, rasionalitas formal tak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Inilah yang dipandang sebagai "cara berpikir teknokratis" di mana tujuannya, adalah untuk membantu kekuatan yang mendominasi, bukan untuk memerdekakan individu dari dominasi. Tujuannya adalah semata-mata untuk menemukan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh pemegang kekuasaan. Cara berpikir teknokratis berbeda dari cara berpikir nalar (reason), yang dalam pikiran teoritisi kritis menjadi tumpuan harapan masyarakat. Aliran kritis memandang masyarakat modern penuh dengan ketidakrasionalan.

Kritik Terhadap Kultur

Teoritisi kritis melontarkan kritik pedas pada "industri kultur" atau struktur yang dirasionalkan dan dibirokrasikan seperti jaringan televisi yang mengendalikan kultur modern. Industri kultur menghasilkan secara konvensional disebut "kultur massa" dengan definisi sebagai kultur yang diatur tidak spontan, dimaterialkan dan palsu bukan ketimbang sesuatu yang nyata.

Disini ada 2 hal yang paling dicemaskan oleh pemikir kritis mengenai industri kultur :
1. Mereka mengkhawatirkan tentang kepalsuannya dan membayangkannya sebagai sekumpulan paket gagasan yang diproduksi secara masal lalu disebarkan ke tengah-tengah massa melalui media.
2. Teoritisi kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas dan membius dari industri kultur terhadap rakyat.

Sumber :
Teori Sosiologi Modern, George Ritzer & Douglas J.Goodman ( Jakarta : kencana).
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tugas Sosiologi Ke -4. Marxisme & Teori Kritis

Gilang Sakti Perdana
KPI 1E
1112051000161
Tugas Sosiologi 4
Marxisme dan Teori Kritis Karl Marx

 

MARXISME & TEORI KRITIS KARL MARX

Teori Kritis
    Teori kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian, teori kecenderungannya menuju determinisme ekonomi. Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir eropa, meski pangaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika.

Kritik utama terhadap Kehidupan Sosial dan Intelektual
Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap sebagai aspek kehidupan sosial dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat.

  I.   Kritik terhadap teori Marxian. Teori kritis mengambil kritik terhadap teori Marxian titik tolaknya. Teori ktitis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi yang mekanistis. Beberapa orang diantaranya mengkritik determinisme yang tersirat di bagian tertentu dari pemikiran asli Marx, tetapi kritik mereka sangat direkankan pada neo-Marxis terutama karena mereka telah menafsirkan pemikiran Marx terlalu mekanistis. Teoritisi kritis tak menyatakan bahwa determnis ekonimi keliru, ketika memusatkan perhatian kepada bidang ekonomi, tetapi karna mereka seharusnya juga memusatkan perhatian kepada aspek kehidupan sosial yang lain. Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Sovyet yang pura – pura dibangun bedasarkan teori Marxian.

II.   Kritik terhadap Positivisme. Teori kritis juga memusatkan perhatian terhadap filsafat yang mendukung penelitian ilmiyah terutama positivisme. Kritik terhadap positivisme sekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonimi karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerima sebagian atau seluruh teori positivisme ilmu pengetahuan. Penganut positivisme yakin bahwa pengetahuan bersifat netral. Mereka merasa bahwa mereka dapat mencegah masuknya nilai-nilai kemanusiaan kedalam pemikiran mereka. Keyakinan ini selanjutnya menimbulkan pandangan bahwa ilmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk tindakan sosial khusus apapun.
Aliran kritis menentang positivism
e karena berbagai alasan. Pertama, positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiyah. Teoritisi kritis lebih menyukai memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun cara cara aktivitas tersebut mempengaruhi struktur sosial yang lebih luas. Singkatnya positivism dianggap mengabaikan actor, menurnkan aktor ke derajat yang pasif ditentukan oleh kekuatan alamiyah. Kritik ini mengarah ke pandangan bahwa positivisme berwatak konservatuf, tak mampu menantang sistem yangada. Positivisme menyebabkan aktor dan ilmuwan sosial menjadi pasif. Meski kritikan ada kritik terhadap positivisme, beberapa orang Marxis mendukung positivisme, dan Marx sendiri yang terlalu positivis.

III.   Kritik terhadap Sosiologi. Sosiologi diseran karna "keilmihanya", yakni karena menjadikan metode ilmiyah sebagai tujuan di dirinya sendiri dan juga sosiologi dituduh menerima  status quo. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tidak serius mengkritik masyarakat, tak berupaya merombak struktur sosial masa kini. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibanya untuk membantu yang ditindas oleh masyarakat masa kini.
menurut aliran ini, sosiolog lebih memperhatikan masyarakat satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka mereka mengabaikan interaksi individu dalam masyarakat. Akibatnya sosiolog tak mampu mengatakan sesuatu bermakna tentang perubahan politik. Seperti dikatakan Zoltan Tar, sosiolog menjadi"bagian integral masyarakat yang ada ketimbang menjadi alat untuk mengkritiknya dan menjadi ragu untuk perubaahan.

IV.   Kritik terhadap Masyarakat Modern. Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidan ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat  kulturall mengingat kultur di anggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern. Artinya, tempat dominasi dalam masyarakat modern telah bergeser dari bidang ekonomi ke bidang kultural. Seperti dijelaskan Trent Schroyer pandangan aliran kritis adalah bahwa dalam masyarakat modrn penindasan dihasilkan oleh rasionalitas yang menggantikan eksploitasi ekonomi sebagai masalah sosial dominan. Menurut teori kritis, rasionalitas formal tak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Inilah yang dipandang sebagai 'cara berfikir teknokratis" simana tujuanya adalah untuk membantu kekuatan yang mendominasi, bukan untuk menemukan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh pemegang kekuasaan. Teoritisi kritis memandang Nazisme pada umumnya, dank amp konsentrasi Nazi pada khususnya, pada contoh rasionalitas formal yang bertempur mati matian dengan nalar sehat.
Meski kehidupan modern kelihatan rasional, aliran kritis memandang masyarakat modern penuh dengan ketidakrasionalan. Gagasan ini dapat diberi nama "irasionalitas dan rasionalitas formal". Aliran kritis terutama memusatkan perhatian pada suatu bentuk rasionalitas formal-teknologi modern. Marcuse, misalnya, mengecam keras teknologi modern setidaknya seperti yang digunakan dalam kapitalisme. Marcuse menolak gagasan bahwa teknologi adalah netral  dalam dunia modern dan sebaliknya memandangnya sebagai alat untuk menguasai rakyat. Teknologi modern adalah efektif karena walaupun ketika diciptakan tampaknya netral sebenarnya ia diperbudak. Teknologi membantu menindas individualitas. Marcuse juga tetap mempertahankan pandangan asli Marx yang menyatakan teknologi bukanlah sebuah masalah bawaan dan karna itu dapat digunakan untuk membangun masyarakat yang "lebih baik".

  V.   Kritik terhadap Kultur. Teoritisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap yang mereka sebut "industri kultur", yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan yang mengendalikan kultur modern. Perhatian terhadap industri kultur lebih mencerminkan perhatian mereka terhadap konsep superstruktur Marxian ketimbang terhadap basis ekonomi. Ada dua hal yang paling di cemaskan oleh pemikir kritis mengenai industri kultur ini. pertama, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuanya. Mereka membayangkan sebagai sekumpulan paket gagasan yang diproduksi secara missal dan disebarkan ke tengah-tengah massamelalui media. Kedua, teoritis kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas dan membius dar industri kultur terhadap rakyat.
Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang disebut sebagai "industr
i pengetahuan", yang mengacu entitas-entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan yang menjadi struktur otonom di dalam. Analisis kritis Marx terhadap kapitalisme membuatnya berrharap pada masa depan, tetapi banya teoristis kritis malah masuk pada pandangan putus asa dan tanpa harapan. Mereka melihat problem-problem dunia modern bukan hanya ada pada kapitalisme, tetapi mewabah sampai ke dunia yang dirasionalkan. Mreka memandang masa depan, dalam istilah weberian, sebagai "sangkar besi" struktur yang semaki rasional yang tak ada harapan untuk keluar darinya.

 

 

Sumber:
Teori Sosiologi Modern, George Ritzer & Douglas J.Goodman
(jakarta : Kencana)

tugas ke 4 toeri kritis karl marx

TEORI KRITIS KARL MARX
 
Nama                   : M. Aidilah Putra
NIM            : 1112051000137
Kelas          : KPI 1 E
Tugas          ; 4
 
              Teori kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis Jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian. Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir Eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika. Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan social dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat lebih akurat.
A.   Kritik terhadap Teori Marxian
               Teori kritis ini merasa terganggu oleh pemikir Marxis penganut Determanisme ekonomi yang mekanistis. Beberapa orang di antaranya mengkritik determanisme yang tersirat di bagian tertentu pada neo-Marxis terutama karena mereka telah menafsirkan pemikiran Marxs terlalu mekanistis. Seperti akan kita lihat, aliran kritis mencoba meralat ketakseimbangan ini dengan memusatkan perhatiaan pada bidang cultural. Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Soviet yang pura pura di bangun berdasarkan teori Marxian.
 
B.   Kritik Terhadap Positivisme
                Kritik terhadap Positivismesekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme menerima sebagian atau seluruh teori positivism tentang pengetahuan. Positivisme menerima gagasan bahwa metode ilmiah tunggal dapat di terapkan pada seluruh bidang studi. Positivisme mengambil ilmu Fisika sebagai standar kepastian dan ketepatan untuk semua disiplin ilmu.                   Keyakinan ini selanjutnya menimbulkan pandangan bahwa ilmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk tindakan soisial apa pun. Aliran kritis menentang aliran positivism karena berbagai alas an, yaitu : Pertama positivisme cendrung melihat kehidupan social sebagai proses alamiah. Singkatnya positivisme di anggap mengabaikan actor, menurut actor yang ke derajat yang pasif yang di tentukan oleh kekutan alamiah. Karena mereka yakin atas kekhasan sifat actor, teroritis kritistak dapat menerima gagasan bahwa hukum sains dapat di terapkan terhadap tindakan manusia begitu saja.
 
C.   Kritik terhadap Sosiologi
                 Sosiologi di serang karena menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang di tindas oleh masyarakat masa kini. Menurut anggota aliran ini, sosiologi lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan. Menurut anggota aliran ini, sosiologi lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka mereka mengabaikan interaksi individu dan masyarakat. Karena mengabaikan individu, sosiologi di anggap tak mampu mengatakan seuatu yang bermakna tentang perubahan politikyang dapat mengarah ke sebuah masyarakatmanusia dan adil.
 
D.   Kritik terhadap Masyarakat Modren
Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat cultural mengingat cultural di anggap sebagai realitas masyarakat kapitalis Modren. Pemikiran kritis telah dibentuk tak hanya oleh teori Marxian, tetapi juga oleh yeori Weberian, seperti tercermin pada perhatian mereka kepada rasionalitas sebagai perkembangan domonan dalam dunia modern. Cara berpikir teknoritas berbeda dari cara berpikir nalar, yang dalam pikiran teoritis kritis menjadi tumpuan harapan masyarakat. Teoritisi kritis memandang Nazisme pada umumnya, dank amp konsentrasi Nazi pada khususnya, sebagai contoh rasiolanitas formal yang bertempur mati matiaan dengan nalar yang sehat. Teknologi modern adalah efektif karena walaupun ketika di ciptakan tampaknya netral sebenarnya.ia memperbudak. Teknologi dapat membantu menindas individualitas. Kebebasan batin actor di langgar, di kurangi oleh teknologi modern. Akibatnya adalah apa yang di sebut Marcuse sebagai" masyarakat berdimensi tunggal", di mana individu kehilangan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan secara negative tentang masyarakat. Hubungan yang fatal ini hanya dapat di putuskan dengan revolusiyang menyebabkan teknologi dan teknik tunduk kepada sasaran manusia bebas.
 
E.   Kritik terhadap Kultur
                 Ada dua hal yang paling di cemaskan oleh pemikir kritismengenai industry kultur ini. Pertama, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuaannya. Mereka membayangkannya sebagai sekumpulan paket gagasan yang di produksi secara massal dan di sebarkan ke tengah tengah massa melalui media. Kedua, teoritisi kritisterganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas, dan membius dari industry kultur tehadap masyarakat. Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang di sebut sebagai industry pengetahuan, yang mengacu kepada entitas entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan. Analisis kritis Marx terhadap kapitalisme membuatnya berharap pada massa depan, tetapi banyak teoritis kritis malah masuk pada pandangan putus asa dan tanpa harapan. Sebagian besar teori kritik adalah sejalan dengan analisis kritik. Dan karena alasan ini mereka merasa bahwa teori kritik tak banyakmemberi sumbangan pada teori sosiologi.
 
 
                 Kontribusi besar dari aliran kritis adalah usahanya untuk mengorientasikan teori Marxian kea rah subjektif. Kontribusi subjektif dari aliran kritis adalah pada tingkat individual dan kutural. Salah satu factor yang memotivasi pergeseran ini adalah bahwa minat aliran kritis mencakup aspek aspek lain dari realitas social, terutama kultur. Salah satu perhatian aliran kritik pada tingkat cultural adalah apa yang di sebut Habermas sebagai legitimasi. Ini dapat di definisikan sebagai system yang di hasilkan oleh system politik, dan secara teoritis , oleh system lainnya, untuk mendukung eksistensi system.

Arif Syahrizal (Karl Marx )


TEORI KRITIS_TUGAS KE-4_MUDILLAH_KPI 1E

TEORI KRITIS
oleh: mudillah 1112051000132
tugas ke-4


Teori kritis adalah produk selelompok neo-marxis jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian (Bernstein,1995; kellener 1993; untuk tinjuan yang lebih luas terhadap teori kritis, lihat Agger,1998), terutama kecenderungannya menuju determinisme ekonomi. Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir Eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika (Marcus, 1998; Van den Berg, 1980).

Kritik utama terhadap kehidupan sosial dan intelektual

Kritik terhadap Teori Marxian. Teori kritis mengambil kritik terhadap teori Marxian titik tolaknya. Teoritisi kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi yang mekanistis. Habermas mengkeritik determinisme yang tersirat di bagian tertentu dari pemikiran asli Marx. Teoritisi kritis tak menyatakan bahwa determinis ekonomi keliru, ketika memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain.

Kritik terhadap positivisme.  Kritik terhadap positivisme sekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerima sebagian atau seluruh teori positivisme tentang pengetahuan. Aliran kritis menentang positivisme karena berbagai alasan. Pertama, positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah. Teori kritis lebih menyukai memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun pada cara-cara aktivitas tersebut mempengaruhi struktur sosial yang lebih luas. Positivisme diserang karena berpuas diri hanya dengan menilai alat untuk mencapai tujuan tertentu,dan karena tak membuat penilaian serupa terhadap tujuan. Kritik ini mengarah ke pandangan  bahwa positivisme berwatak konsevatif, tak mampu menentang sistem yang ada. Positivisme menyebabkan aktor dan ilmuwan sosial menjadi pasif.

Kritik terhadap sosiologi. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tak serius mengkritik masyarakat, tak berupaya merombak struktur sosial masa kini. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini. Menurut aliran anggota ini, sosiolog lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka merka mengabaikan interaksi invidu dan masyarakat. Pandangan ini menjadi landasan serangan  aliran kritis terhadap sosiologi. Karena mengabaikan individu sosiolog dianggap tidak mampu mengatakan sesuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang dapat mengarah ke sebuah masyarakat manusia dan yang adil.

Kritik terhadap masyarakat modern. Kebanyakan aliran kritis ditunjukan untuk mengkritik masyarakat modern dan berbagai jenis komponennya. Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat kultural mengingat kultur dianggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern.
Pemikiran kritis telah dibentuk tak hanya oleh teori Marxian, tetapi juga oleh teori Weberian, seperti tercermin pada perhatian mereka kepada rasionalitas sebagai perkembangan dominan dalam dunia modern. Pandangan aliran kritis adalah bahwa dalam masyarakat modern penindasan dihasilkan oleh rasionalitas yang menggantikan eksploitasi ekonomi sebagai masalah masalah sosial dominan. Aliran kritis jelas telah mengadopsi pembedaan weber antara rasionalitas formal dan rasionalitas subjektif. Menurut teori kritis, rasionalitas formal tak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tertentu.
Aliran kritis terutama memusatkan perhatian pada satu bentuk rasionalitas formal-teknologi. Marcuse misalnya, mengecam keras teknologi modern setidaknya seperti yang digunakan kapitalisme. Ia memandang teknologi modern berperan penting sebagai metode pengendalian eksternal terhadap  individu yang baru, lebih efektif, dan lebih menyenangkan. Marcuse menolak gagasan bahwa teknologi adalah netral dalam dunia modern, sebaliknya memandangnya sebagai alat untuk menguasai rakyat. Marcuse tak memandang teknologi perse sebagai musuh, tetapi memandang teknologi sebagaimana yang digunakan dalam masyarakat kapitalis modern. Dan ia mempertahankan pandangan asli Karl Marx yang menyatakan teknologi bukanlah masalah bawaan dan karena itu dapat digunakan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Kritik terhadap kultur. Teoritisi kritis melontorkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut "industri kultur", yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan yang mengendalikan kultur modern. Ada dua hal yang paling dicemaskan oleh pemikir kritis menenai industri kultur ini. pertama, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuannya. Kedua, teoritisi kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menenteramkan, menindas, dan membius dari industri kultur terhadap rakyat. Douglas Kellener dengan kesadarannya sendiri mengemukakan sebuah teori kritis tentang televisi. Kellener melihat televisi sebagai bagian dari kultur industri, dan mengaitkannya dengan kapitalisme korporat dan sistem politik. Dan ia juga melihat televisi sebagai media masa yang sangat konfliktual dimana bertemu kekuatan kultural, sosial, politik, dan ekonomi yang saling bersaing.
 

teori kritis

Kelas   :Kpi 1 E
Nama  :INDRA DHIENNAR R.S
Sosiologi  Agama
Tugas  Sosiologi Agama  ke 4
Tentang Teori  Kritis karl marx
 
TEORI KRITIS MENURUT KARL MARX
Teori kritis terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan sosial dan intelektual,namun tuhuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat.Teoritisi kritis tidak menyatakan bahwa determinis ekonomi keliru,ketika memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain.Aliran kritis menentang positivisme karena berbagai alasan,positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah.Teori kritis lebih menyukai memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun pada cara cara aktivitas tersebut memengaruhi struktur sosial menurunkan aktor ke derajat yang pasif yang di tentukan oleh kekuatan alamiah,mereka yakin atas kekashan  sifat aktor,teori kritis tidak dapat menerima gagasan bahwa hukum umum sains dapat di terapkan terhadap tindakan manusia yang begitu saja.Kritik ini mengarah ke pandangan bahwa positivisme berwatak konservatif,tidak mampu manantang sistemyang ada

KarlMarx_Avissajnr1b_Tugas 3

TUGAS 3

KARL MARX (1818 – 1883)

Oleh : AVISSA SUSENO

JURNALISTIK 1 B

 

I.                  Pertentangan Kelas

Kendati Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, namun yang paling tersohor adalah analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas. Teori kelas Marx merupakan teori sosiologi yang hingga kini masih tetap menjadi rujukan klasik dalam berbagai karya ilmiah tentang konflik. Kelas yang dimaksudkan oleh Karl Marx adalah suatu kelompok orang – orang yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama dalam suatu organisasi produksi.

              Pada dasarnya teori konflik dari Marx merupakan pokok – pokok dari interpretasi sejarah ekonomi. Menurutnya, sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya merupakan sejarah tentang pertentangan kelas atau antar golongan mulai dari masyarakat sederhana hingga pada masyarakat kompleks. Faktor utama yang menimbulkan konflik dalam analisis Marx adalah terletak pada faktor produksi. Dengan adanya perbedaan atau ketimpangan yang semakin tajam dalam proses produksi menjadi dasar terjadinya konflik atau pertentangan kelas dalam masyarakat.

Perlu diketahui bahwa Marx bukanlah orang pertama yang menggunakan istilah kelas dalam masyarakat. Penggunaan istilah ini sudah sejak lama sebelum Marx mempopulerkannya. Istilah kelas sejak awal telah digunakan oleh para penguasa Romawi untuk membagi penduduk ke dalam kelompok – kelompok pembayar pajak.

              Istilah kelas digunakan pula oleh Ferguson dan Miller diabad ke – 18 semata – mata untuk membedakan strata sosial, kemudian istilah ini dapat ditemukan dalam bahasa Eropa dipenghujung abad ke – 18 (Dahrendorf 1986). Istilah ini pun kemudian digunakan oleh Marx untuk menggambarkan hierarki masyarakat kedalam kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar). Atas konsepnya itu, Marx kemudian menyatakan bahwa pada hakikatnya negara dalam sistem kapitalis merupakan negara kelas, artinya negara baik secara langsung maupun tidak langsung telah dikuasai oleh kelas yang menguasai bidang ekonomi. Dalam sistem produksi kapitalis, kedua kelas ini tidak hanya saling ketergantungan, tetapi antara kelas pemilik yang menduduki posisi kelas atas dengan kelas buruh yang termarginalkan itu kerap kali terjadi konflik vis a vis. Disini Marx menggambarkan bahwa kelas pemilik adalah kelas yang berkuasa dan pekerja adalah kelas yang lemah. Pada kondisi yang demikian ini, kelas pemilik dengan seenaknya menetapkan persyaratan kepada mereka yang hendak bekerja sebagai kelas tanpa kepemilikan. Hubungan mereka merupakan kekuasaan dimana kelas atas berkuasa atas kelas bawah sebagai buruh yang senantiasa tertindas. Peradangan dari pola hubungan patron clien ini menyebabkan munculnya kesadaran kelas yang kelak melahirkan konflik sosial.[1]

 

II.              Ideologi

Marx merupakan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh sebuah masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi semacam refleksi atas bingkai itu. Dengan demikian kaum borjuis yang semakin menanjak telah menetukan pemikiran – pemikiran tentang kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan dihadapan hukum (hak) dalam bingkai pergulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Mereka ini cenderung memindahkan apa – apa yang menjadi ekspresi kepentingan kelasnya menjadi nilai – nilai yang universal.

Marx juga memiliki sebuah teori tentang ideologi sebagai semacam alienasi. Pengertian ini dipinjam filsuf Ludwig Feuerbach yang merupakan penulis L'Essence du Christianisme (Esensi Kristianisme) (1864).

 

III.           Agama

Dalam artikelnya yang berjudul Economic and Philosophical Manuscript, khusunya mengenai naskah pertama tentang alienated labour, dan dalam artikel yang sudah disebutkan diatas, Karl Marx membedakan alienasi diri manusia secara sacral dan alienasi diri manusia secara sekuler. Yang pertama merupakan alienasi diri manusia dari agama, sedangkan yang kedua merupakan alienasi diri manusia dalam ekonomi dan politik. Dengan metode materialisme historis, Marx "membuka" selubung kenyataan yang ada dalam masyarakat.[2] Orang bisa mempercayai eksistensi Tuhan secara riil seperti yang ditemukannya. Marx mengambil kembali pemikiran ini (bahwa agama adalah "candu bagi  masyarakat").[3] "Religous distress is at the same time the expression of real distress and the protest against real distress. Religion is sign of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people. The abolition of religion as the illusory happiness of the people is required for their real happiness. The demand to give up the illusion about it's condition is the demand to give up a condition which needs illusion''. Ini adalah kutipan kata – kata Karl Marx, seorang Filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia dalam Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right (1843). Menurut Marx, agama merupakan gambaran ideal yang diciptakan oleh manusia dalam wujud tuhan. Gambaran ideal yang disebut Tuhan itu kemudian disembah oleh manusia, sehingga akhirnya ciptaan manusia itu menjadi teralienasi dari manusia karena agama itu "menindas" manusia. Alienasi diri manusia secara sacral terjadi karena manusia tunduk pada tuhan yang merupakan ciptaanya dan Tuhan ciptaannya itu mendominasi manusia. Menurut Marx, manusia lah yang menciptakan agama dan agama tidak menciptakan manusia. Menurut Feuerbach, Tuhan adalah esensi kehidupan manusia yang mereka proyeksikan menjadi sebuah kekuatan impersonal. Manusia menempatkan Tuhan diatas dan disekeliling mereka sendiri yang menyebabkan mereka menjadi terasing dari Tuhan dan membangun seperangkat ciri positif bagi Tuhan (bahwa Dia mahasempurna, mahakuasa dan mahasuci). Sementara mereka merendahkan diri, mereka sendiri lantas menjadi manusia tidak sempurna, tanpa kuasa dan penuh dosa. Menurut Feuerbach masalah seperti keyakinan agama harus diatasi dan kelemahannya itu harus dengan filsafat materialis yang menempatkan manusia (bukan agama) menjadi objek tertinggi diri mereka sendiri, menjadi tujuan didalam diri mereka sendiri. Filsuf materialistis mendewakan manusia nyata, bukan gagasan abstrak seperti agama.[4]

 

IV.          Mode Produksi

Dapat dikatakan bahwa Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat sumber mendasar manusia. Marx yakin bahwa manusia pada dasarnya produktif, artinya untuk bertahan hidup manusia juga perlu bekerja didalam dan dengan alam. Dengan bekerja, mereka menghasilkan makanan, pakaian, peralatan, perumahan dan kebutuhan lain yang memungkinkan mereka hidup.

Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dorongan ini diwujudkan bersama – sama dengan orang lain. Dengan kata lain, manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial. Mereka perlu bekerja untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.[5]

Cara produksi dari sebuah masyarakat berupa " tenaga kerja produksi" ( manusia, mesin dan teknis) dan "hubungan produksi" (perbudakan, sistem bagi hasil, sistem kerajinan tangan, bekerja upahan). Cara produksi ini membentuk "kaki penopang" yang menyangga superstruktur politik, yuridis dan ideologis masyarakat. Selama kurun waktu berlangsungnya sejarah, terjadi pergantian cara berproduksi dari yang model kuno, model Asia, feodalistis dan borjuis. Ketika sampai pada tingkat perkembangan tertentu, tenaga produksi mulai terlibat konflik dengan hubungan produksi. Itu sebabnya, maka "dimulailah era revolusi nasional". Banyak penafsiran dalam memperdebatkan tentang apa yang seharusnya dipahami dari " dasar material masyarakat" tentang cara – cara yang dijelaskan lewat "tenaga produksi" dan "hubungan produksi".[6]



[1]. Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran Dalam Sosiologi Dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta : Rajawali Pers hal. 141 - 143

[2] Setiadi, Elly M;Kolip Usman.2011.Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial:Teori, Aplikasi dan Pemecahannya. Jakarta :Kencana

[3]. Giddens, Anthony; Daniel Bell, Michael Forse. 2009. Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Bantul : Kreasi Wacana Offset hal. 31

[4] .Ritzer, George;J.Goodman,Douglas.2007.Teori Sosiologi Modern.Jakarta:Kencana

[5] .Ibid

[6]. Giddens, Anthony; Daniel Bell, Michael Forse. 2009. Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Bantul : Kreasi Wacana Offset

Cari Blog Ini