Sabtu, 13 Oktober 2012

Syarif Hidayatullah (Jurnalistik 1A)

Resume "The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism"
Dari awal sumbangan dan kontribusi Max Weber, terlahir sebuah karya yang hebat yang lebih di kenal dalam bahasa Jerman "Die protestantische Ethik und der 'Geist' des Kapitalismus" atau "The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism" dan di terjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme" yang di mulai dari sebuah kumpulan esai dan di kenalkan pada tahun 1904. Hasil karyanya ini adalah sebagian dari karya besarnya yang mengkaji bidang keagamaan dan kapitalisme yang ada di seluruh belahan dunia.
Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Dalam penelitiannya dia tak secara langsung menghubungkan bagian yang ada dengan struktur kapitalis tetapi dia mencukup mengkaitkannya antara system ekonomi kapitalis dengan gagasan lain yakni "semangat kapitalisme". Secara langsung keduanya sangat berkaitan dan jelas hubungan antara ekonomi kapitalis dengan dunia material, walau bukan menjadi pusat kajiannya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa buku ini tidak boleh dilihat sebagai studi yang terinci tentang Protestanisme melainkan lebih sebagai pengantar ke dalam karya-karya Weber yang belakangan, khususnya studinya tentang interaksi antara berbagai gagasan keagamaan dan ekonomi.
Weber menuliskan bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan yakni Calvinis memengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler,membangun dan mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan ikut dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai "Thesis Weber".
Dalam buku ini dia juga menuliskan bahwa semangat kapitalisme adalah suatu gagasan untuk menunjang mengejar keuntungan ekonomi secara rasionalisme. Weber pun juga menerangkan bahwa hal ini tidak hanya terbatas pada bangsa barat saja, karena semuannya bisa melekat pada setiap individu. Namun dengan adanya sikap heroik atau serakah tidak akan membentuk suatu tatanan ekonomi yang baik (kapitalisme).
Kecenderungan-kecenderungan umum adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimal dan gagasan bahwa kerja adalah suatu kutukan dan beban yang harus dihindari, khususnya ketika hasilnya melebihi dari kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana. Seperti yang ditulisnya dalam esainya:
Agar suatu gaya hidup yang teradaptasi dengan sifat-sifat khusus dari kapitalisme… dapat mendominasi gaya hidup yang lainnya, ia harus muncul dari suatu tempat tertentu, dan bukan dalam pribadi-pribadi yang terpisah saja, melainkan sebagai suatu gaya hidup yang umum dari keseluruhan kelompok manusianya.
Dari esai yang telah di kemukakan Weber juga menambahkan bahwa ada banyak alasan untuk mengungkapkan asal-usul gagasan-gagasan keagamaan dari reformasi. Namun demikian, Weber melihat pemenuhan etika Protestan bukan dalam Lutheranisme, yang ditolaknya lebih sebagai sebuah agama hamba, melainkan dalam bentuk Kekristenan yang Calvinis.
Weber mencoba memberi perhatian pada salah satu ajaran Calvinis yang memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi para pengikutnya, yaitu ajaran mengenai predestinasi. Lewat ajaran tersebut dikatakan bahwa Allah menerima sebagian orang sehingga mereka dapat mengharapkan kehidupan, dan memberikan hukuman kepada yang lain untuk menjalani kebinasaan. Calvin sendiri berpendapat bahwa hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa yang dimaksudkan sebagai dasar predestinasi adalah 'Allah tahu segala hal dari sebelumnya.' Dengan kata lain, apabila kita menganggap bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum waktunya, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa segala hal itu sudah sejak kekal dan sampai kekal berada di hadapan Allah. Sebelum penciptaan, manusia sebenarnya sudah ditentukan untuk diselamatkan atau dihukum. Sejak semula, semua orang tidak diciptakan dalam keadaan yang sama. Oleh karena itu, kita harus mengatakan bahwa dasar predestinasi  bukanlah pada pekerjaan manusia. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang mampu mengubah keadaan tersebut, dan tidak ada yang bisa menolong seseorang yang sudah ditentukan bahwa ia akan dihukum setelah kematiannya sebab predestinasi adalah keputusan Allah yang kekal dalam dirinya sendiri, tidak memperhitungkan sesuatu yang berada di luar.
Weber berargumentasi bahwa akibat dari ajaran tentang predestinasi bagi para pemeluk Calvinis adalah adanya suatu kesepian di dalam hati mereka. Artinya, mereka harus berhadapan dengan nasibnya sendiri yang telah diputuskan Tuhan sejak awal penciptaan. Mereka harus berhadapan dengan takdirnya secara pribadi dan tidak dapat memilih seseorang yang dapat memahami secara bersamaan firman Tuhan, terkecuali hatinya sendiri. Dalam persoalan yang menentukan ini, setiap orang harus berjalan sendirian saja, tidak seorang pun dapat menolong dirinya, termasuk kaum agamawan. Tidak pula sakramen, karena sakramen bukanlah sarana untuk memperoleh rahmat. Bukan pula Gereja, sebab bagaimanapun, keanggotaan Gereja abadi mencakup mereka yang terkutuk. Akhirnya, bahkan Allah pun tidak bisa membantu.
Jika demikian, bagi para pemeluk Calvinis, usaha untuk mencari identitas dirinya yang pasti masih merupakan misteri yang belum terungkapkan. Sementara itu, ia tetap terikat dengan berbagai aktivitas penghidupan dunia. Para pemeluk Calvinis sadar bahwa adanya dunia adalah diciptakan untuk melakukan pemujaan terhadap Tuhan, sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri. Begitu pula terpilihnya orang-orang Kristen di dunia adalah untuk meningkatkan pemujaannya terhadap Tuhan. Ini berarti bahwa orang Kristen harus mengikuti perintah-perintah-Nya sesuai dengan kemampuannya yang paling baik. Tuhan sendiri mengajarkan agar kehidupan sosial ini diatur sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Aktivitas sosial yang dilakukannya semata-mata diperuntukkan bagi kemuliaan Tuhan. Namun demikian, hal yang paling penting dari aktivitas-aktivitas itu dilakukan dengan dasar 'kerja dalam panggilan' untuk melayani kehidupan masyarakat dunia.
Yang pada akhirnya diperoleh kesimpulan mengenai apa yang disebutnya "Etika Protestan" dan hubungannya dengan "Semangat Kapitalisme," Max Weber mencari hubungan antara penghayatan agama dengan pola perilaku, termasuk ekonomi. Usaha tersebut dilatarbelakangi oleh pengalamannya sendiri ketika ia memperhatikan kenyataan yang terjadi  di Eropa bahwa orang-orang yang memiliki posisi penting dalam beberapa bidang pekerjaan, sebagian besar adalah orang-orang yang menganut agama Kristen Protestan. Bagi Weber, kenyataan seperti itu tentu bukan suatu kebetulan belaka. Ia berusaha mencari faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pada awal pencariannya, Weber memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara orang Katolik dan orang Protestan dalam hal sikap terhadap pekerjaan. . Ia mengamati bahwa agama Kristen Protestan memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Di sinilah Weber melihat bahwa karena kecenderungannya tersebut, maka dapatlah dimengerti mengapa orang-orang protestan Calvinis dalam menghadapi panggilannya di dunia ini memperlihatkan sikap hidup yang optimis, positif, dan aktif. 
Dalam Esainya juga dapat ditafsirkan sebagai salah satu kritik Weber terhadap Karl Marx dan teori-teorinya. Sementara Marx berpendapat, pada umumnya, bahwa semua lembaga manusia - termasuk agama - didasarkan pada dasar-dasar ekonomi, Etika Protestan memalingkan kepalanya dari teori ini dengan menyiratkan bahwa gerakan keagamaan memperkuat kapitalisme, dan bukan sebaliknya.

keadaan sosial masyarakat bantran sungai ciliwung

Nama               : Muhammad  Farid
Nim                 : 1111054000003
Kelas               : PMI 3
Tugas               : Proposal Penelitaian Sosiologi Perkotaan
 
"Kondisi Sosial Masyarakat Bantaran Sungai Ciliwung"
 
1.      Latar belakang
Semakin pesatnya kemajuan di Ibu kota, begitu juga semakain membeludaknya pendatang-pendatang dari luar daerah ibu kota untuk mengadu nasib di Jakarta ini. Ada yang berhasil mengadu nasib di jakarta ini, ada pula yang tidak beruntung. Yang beruntung megadu nasib di jakarta, bisa tinggal di rumah mewah ataupun berkecukupan, sedangkan yang tidak beruntung tercecer di jalanan, dan mencari tenpat sedapatnya.
Semakain banyaknya pendatang ke ibu kota ini menjadikan ibu kota semakain padat. Kepadatan dijakarta ini memberikan banyak dampak, seprti kemacetan, pemukiman kumuh, kriminalitas, dan sebagainya.
Dengan ini, penulis menganggap penting untuk meniliti kondisi sosial yang terdapat di pemukiman kumuh bantaran sungai ciliwung.
Menurut penulis penelitian ini sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat lain, tentang dampak-dampak yang erjadi pada masyarakat yang tinggal di bataran kali ciliwung tersebut.
2.      Pertanyaan Penelitian
Dari penjelasan diatas, penulis akan memberikan batasan penelitian yang akan dibahas. Dibawah ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan dalampenelitian kali ini.
a.       Apa dampak pemukiman kumuh bantaran sungai ciliwung, terhadap masyarakat sekitar sungai?
b.      Bagaimana tindakan masyarakat sekitar?
c.       Mengapa penelitian dilakukan?
d.      Bagaimana keadaan sosial bantaran sungai ciliwung?
 
3.      Metodelogi Penelitian
a.       Tempat penelitian
Ø  Pemukiman kumuh bantaran kali ciliwung
Ø  Kawasan sekitar pemukiman bantaran kali ciliwung
b.      Waktu
Ø  Penelitian ini dilaksanakan mulai dari pertengahan Oktober sampai November
c.       Teknik pengambilan data
Pengmbialan data akan dilakukan dengan beberapa metode. Yaitu observasi, wawancara, dan mengmbil dokumentasi keadaan sekitar.
 
4.      Tujuan Teori
Mungkin sudah saatnya kita mengetahui bagaiman keadaan yang tegambar dari pemukiman-pemukiman kumuh bantaran kali ciliwung. Mungkin juga pemukiman kumuh tersebut bisa saja berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar kita.
Keelokan yang semestinya tergambar ditepian sungai, sudah tidak tampak ketika kita melihat pemandangan pemukiman kumuh dibantaran sungai. Sumber sumber penyakit juga dapat timbul dari sana akibat lingkungan yang kotor.
Pemukiman kumuh dibantaran sungai ciliwung hanyalah salah satu dari berbagai macam masalah di jakarta saat ini. Yang semestinya bisa di hindari, agar terciptanya keelokan keadaan sungai sekitar.
 
5.      Penutup
Dapat disimpulkan bahwasanya pemukiman kumuh di bantaran sungai ciliwung menciptakan dampak yang kurang baik. dari segi keindahan sungai, kesehatan, dan lain sebgainya.

Resume buku "The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism”_agita surya pertiwi_ jurnalistik 1A

 "The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism"
          Max Weber dalam karya bukunya, The protestant Ethic and Spirit of Capitalism, beliau melacak dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya sebagian kecil dari karya ilmiah yang melacak hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsung mengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis, namun beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber. Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.
            Signifikansi protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah Negara-negara tersebut, beliau menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi, serta orang-orang yang memiliki keunggulan teknis dan mendapatkan pendidikan komersial, semua beragama protestan. Hal ini menunjukkan bahwa protestanisme merupakan sebab signifikasi dalam pilihan atas okupasi-okupasi ini, dan sebaliknya bahwa agama-agama lain (contoh Khatolik Rhoma) gagal dalam menghasilkan sistem gagasan yang mendorong individu menekuni pekerjaan-pekerjaan ini. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memandang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang menjadi hal kritis di Barat. Pada masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan sistem moral inilah yang secara tidak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam pencarian keuntungan, dan pada hakikatnya, melahirkan sistem kapitalis. Pada level teoritis, dengan menegaskan bahwa beliau menguraikan hubungan antara satu etos (protestanisme) dengan etos lain (semangat kapitalisme).
            Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis. Protestanisme khususnya calvinisme sangat penting bagi kelahiran kapitalisme, namun calvinisme tidak lagi diperlukan bagi berlanjutnya ekonomi sistem tersebut. Sebenarnya dalam banyak hal, kapitalisme modern karena sekularitasnya, bertentangan dengan calvinisme dan dengan agama pada umumnya. Point penting lain adalah bahwa para penganut calvinis tidak dengan sadar menciptakan sistem kapitalis. Kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting, karena beliau percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali melibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan berbagai maksud mereka. 
 
 

Muhamad Arfian Mubarak Jurnalistik IA

Resume Buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism

          Max Weber dalam karya bukunya, The protestant Ethic and Spirit of Capitalism, beliau melacak dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya bagian kecil dari karya ilmiah lebih besar yang melacak hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsungmengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis namun, beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber. Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.

            Signifikansi protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah Negara-negara tersebut, beliau menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi, serta orang-orang yang memiliki keunggulan teknis dan mendapatkan pendidikan komersial, semua beragama protestan. Hal ini menunjukkan bahwa protestanisme merupakan sebab signifikasi dalam pilihan atas okupasi-okupasi ini, dan sebaliknya bahwa agama-agama lain (contoh Khatolik Rhoma) gagal dalam menghasilkan sistem gagasan yang mendorong individu menekuni pekerjaan-pekerjaan ini. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefin isikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memandang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang menjadi hal kritis di Barat. Pada masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan sistem moral inilah yang secara tidak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam pencarian keuntungan, dan pada hakikatnya, melahirkan sistem kapitalis. Pada level teoritis, dengan menegaskan bahwa beliau menguraikan hubungan antara satu etos (protestanisme) dengan etos lain (semangat kapitalisme).

            Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis. Protestanisme khususnya calvinisme sangat penting bagi kelahiran kapitalisme, namun calvinisme tidak lagi diperlukan bagi berlanjutnya ekonomi sistem tersebut. Sebenarnya dalam banyak hal, kapitalisme modern karena sekularitasnya, bertentangan dengan calvinisme dan dengan agama pada umumnya. Point penting lain adalah bahwa para penganut calvinis tidak dengan sadar menciptakan sistem kapitalis. Kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting, karena beliau percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali melibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan berbagai maksud mereka. 

Annisa Novianti Jurnalistik I A

Resume Buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism
          Max Weber dalam karya bukunya, The protestant Ethic and Spirit of Capitalism, beliau melacak dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya bagian kecil dari karya ilmiah lebih besar yang melacak hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsungmengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis namun, beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber. Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.
            Signifikansi protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah Negara-negara tersebut, beliau menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi, serta orang-orang yang memiliki keunggulan teknis dan mendapatkan pendidikan komersial, semua beragama protestan. Hal ini menunjukkan bahwa protestanisme merupakan sebab signifikasi dalam pilihan atas okupasi-okupasi ini, dan sebaliknya bahwa agama-agama lain (contoh Khatolik Rhoma) gagal dalam menghasilkan sistem gagasan yang mendorong individu menekuni pekerjaan-pekerjaan ini. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefin isikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memandang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang menjadi hal kritis di Barat. Pada masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan sistem moral inilah yang secara tidak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam pencarian keuntungan, dan pada hakikatnya, melahirkan sistem kapitalis. Pada level teoritis, dengan menegaskan bahwa beliau menguraikan hubungan antara satu etos (protestanisme) dengan etos lain (semangat kapitalisme).
            Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis. Protestanisme khususnya calvinisme sangat penting bagi kelahiran kapitalisme, namun calvinisme tidak lagi diperlukan bagi berlanjutnya ekonomi sistem tersebut. Sebenarnya dalam banyak hal, kapitalisme modern karena sekularitasnya, bertentangan dengan calvinisme dan dengan agama pada umumnya. Point penting lain adalah bahwa para penganut calvinis tidak dengan sadar menciptakan sistem kapitalis. Kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting, karena beliau percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali melibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan berbagai maksud mereka. 

Yusuf Tadarusman mengundang Anda untuk saling terhubung

Email ini dikirim ke Anda oleh sistem otomatis - mohon tidak membalas secara langsung
Yahoo! Messenger
Gabung dengan Yusuf Tadarusman di Yahoo! Messenger.
Ayo chat dengan saya, saling berbagi file dan banyak lagi.

Tetap terhubung dengan semua teman Anda. Mulai

  • Selalu terhubung saat di rumah, di kantor, atau pun di jalan
  • Bersenang-senang dengan game, emotikon, dan banyak lagi
  • Gabung dengan komunitas yang berisi lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia
Gabung dengan Teman Anda
Y! Dapatkan akses satu klik ke favorit Anda. Jadikan Yahoo! halaman awal Anda.
Bermasalah dengan tombol di atas? Klik link di bawah atau salin dan tempel di panel alamat browser Anda:
http://invite.msg.yahoo.com/invite?op=accept&intl=id&sig=46VKL11TeFY1bXTusn9cFs7EHQAgiEnzjf6fCej.b1RtdBvD.IEHMhawwu7O

FW:

Hi! http://projectntraining.com/data/home.php?link_friend_id=ciqukjpuxivazis

Cari Blog Ini