Senin, 15 Oktober 2012

TUGAS 6 / FITRI PERMATA SARI / KPI 1 E

The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism

       Max Weber dalam karya bukunya, The protestant Ethic and Spirit of Capitalism, beliau melacak dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya bagian kecil dari karya ilmiah lebih besar yang melacak hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsung mengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis namun, beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber. Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.
       
           Masalah afiliasi agama dan stratifikasi sosial, menjelaskan mengenai adanya perbedaan pangadangan dan prinsip antara penganut katolik dan protestan tentang masalah duniawi yang berakar pada hukum gereja yang penganut katolik menganggap bahwa menghukum yang bidah dan mengampuni para pendosa dan iu berarti sesuatu yang bidah adalah pandangan protestan, karena mereka lenih mengedepankan bisnis dari pada ajaran agama, serta mencampur dominasi dunia dengan bisnis. Menurut Weber bahwa agama ini merupakan sumber pertentangan , khususnya katolik dan protestan.
             Dalam hal pendidikan, orang-orang katolik lebih menyukai pelatihan-pelatihan dan bekerja dipemerintahan dan lulusan pendidikan dari penganut katolik lebih sedikit di banding protestan dan ubu menyebabkan adanya stratifikasi social, sedangkan kaum protestan lebih menyukai bekerja pada bagian administrative perusahaan, dan penganut katolik kalah bersaing dalam dunia kerja, karena hal ini terlihat dari banyaknya pemuda protestan yang memiliki skill dalam industry-industri modern. Dalam pandangan ini pendidikan yang dipengaruhi oleh lingkungan agama akan mempengaruhi dalam hal memilih pekerjaan, yang artinya ada pemenuhan kebutuhan yang harus di prioritaskan dalam penentuan pilihan atas pertimbangan rasio agama.
             Orang-orang katolik terkesan asketis dalam mencapai cita-cita hidupnya sehingga membuat penganutnya mengabaikan kehidupan dunia, sedangkan kaum protestan lebih berfaham materialistis dan mengedepankan sekularisasi dalam cita-cita dan pandangan hidupnya, yang artinya mencampur kepentingan agama dengan dunia. Dalam hal ini menyebabkan protestan lebih maju dalam 3 hal yang dibandingkan bangsa lain yaitu: spiritual, perdagangan dan kebebasan. Serta adanya kombinasi antara kesucian yang besar yaitu agama dengan adanya suatu perkembangan bisnis yang lebih maju.
            Kaum protestan lebih menyukai makan enak dan mereka berpandangan utilitarianisme yang artinya baik bagi banyak orang dan memiliki alasan pembenaran yang kuat, sedangkan prinsip katolik  mereka lebih menykai tidur yang nyaman, menurut kaum protestan jika manusia bermalas-malasan dia bukan hanya kehilangan waktu namun juga kehilangan berbagai keuntungan yang mungkin dia dapatkan pada hari itu karena uang tersebut dapat diputar menjadi berlipat keuntungan.
            Penjelasan yang telah dibahas diatas merupakan gambaran dari semangat kapitalisme untuk terus bekerja, semangat yang sesungguhnya bukan berbicara untuk kesuksesan didunia, hal ini hanya merupakan etika, jika di pandang oleh Max Weber dari segi etika protestan dan calvinisme. Sedangkan dari segi Kapitalisme mereka menjauhkan hal ini dari pandangan Eudoonistik, bahwa semua yang mereka lakukan di dunia adalah sebagai tujuan akhir yaitu usaha untuk mencari harta, serta hedonistis karena semua kebahagiaannya bersifat irasional.
            Kapitalisme selalu mendapat perlawanan dari Tradisionalisme yang merupakan sikap mutlak manusai dan kapitalisme mencoba merubah pola piker tersebut dengan menurunkan teori ekonominya yaitu dengan menurunkan upah maka akan diperoleh pekerjaan yang meningkat ini merupakan suatu bentuk paradigma kritis. Kapitalisme merupakan perjuangan untuk mendapatkan keuntungan yang bebas dari batasan-batasan yang ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan, sebab dalam makna kapitalisme terdapat perbedaan makna kebutuhan dan keuntungan oleh karena itu kebutuhan tersebut akan membatasi keuntungan, selain itu usaha untuk mendapatkan keuntungan yang dilakukan oleh kaum kapitalisme merupakan usaha yang rasional dan sesuatu yang nyata dalam konsep ekonomi. Bagi kaum kapitali agam hanya sebagai alat untuk menarik mereka dari kerja kehidupan dunia dan tentu akan membuat gelisah tentang kehidupan akhirat, tujuan utama kapitalisme adalah keuntungan social dan material.
            Menurut penganut protestan panggilan merupakan sesuatu yang harus diterima sebagai suatu ilahi, galam hal ini katolik memiliki suatu musuh yang nyata yaitu katolik, dalam anggapannya bahwa kapitalisme merupakan kreasi dari reformasi, yang dimaksud dari reformasi disini adalah perubahan system ekonomi yang berkembang.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep keagamaan dari askese keduniawi yaitu :
1.      a. Calvinisme
2.      b. Pietisme
3.      c. Metodisme
4.      d. dan Sekte-sekte yang tumbuh dari kaum baptis
Calvinisme merupakan suatu faham yang berpandangan bahwa TUhan tidak hidup atau ada bagi manusia tetapi manusialah yang hidup atau ada demi Tuhan dan dunia ada untuk melayani kemuliaan Tuhan, serta Tuhan menghendaki adanya percapaian dalam dunia. Dan itu berarti Calvinisme berpendapat bahwa kesuksean kehidupan social di dunia adalah gambaran kehidupan akhirat, kesuskesan di dunia kerupakan penebus dosa-dosa bagi orang-orang yang tidak terpilih, dan hal ini membuat manusia tidak tenang sehingga untuk mencari ketenangan itu dan kepastian akhirat mereka bekerja dengan rajin, dan hal ini merupakan gambaran endomonisme.
Pietisme merupakan pandangan yang berbeda dari calvinisme yang menganngap bahwa manuia bekerja untuk keselamatan dan kesejahteraan kehidupan di dunia, dan bukan untuk kehidupan di akhirat, dan pietisme memisahkan antara kepentingan dunia dengan akhirat menjadi sebuah ketaatan pada ilahi.
Metodisme merupakan kombinasi antara keagamaan yang emosional tetapi asketis dengan sikap apatis yang meningkat atau sikap penolakan terhadap dasar-dasar dogmatis dari askese calvinistis, maka yang emosional disini berarti bahwa para penganut metodisme harus memiliki rasa menyesal terhadap dosa-dosa mereka dan berharap untuk mendapatkan pengampunan, sehingga membutuhkan perjuangan emosional dalam hal ini sama dengan hukuman nilai dan norma social yang hanya tertanam di dalam jiwa manusia dan akan menghilangkanrasa ketenangan.
Sekte-sekte baptis, karakter yang dianut dari baptis adalah tenang, moderat, dan sangat taat terhadap keagamaannya, mereka juga tidak memiliki pemikiran mengenai kehidupan poltik, mereka lebih pada pandangan yang bersifat kebajikan-kebajikan dan melupakan hal-hal duniawi.
   
         
4.      

M.Badruzzaman Jurnalistik 1 A

Protestant Ethic and Spirit of Capitalism

Dalam menjelaskan karakteristik agama Protestan, Weber membangun argumentasinya dalam tiga bagian. Pertama: ia mendefinisikan spirit protestan tersebut bagian kedua: mengenai uraian etika protestan dan karakter khas sekte asketis, serta pada bagian ketiga: menjelaskan hubungan antara etika protestan dengan kapitalisme. Dari semua kajian tersebut mengantarkan Weber pada kajian komparatif terhadap agama-agama dan berbagai struktur sosial lainnya. Weber menampilkan bukti-bukti mengenai hubungan antara berbagai bentuk dalam agama Protestan dan perkembangannya menuju kapitalisme. Ia mengemukakan contoh yang terjadi pada masyarakat Belanda pada abad ke-16, kepemilikan bersama dalam kegiatan usaha kapitalis dalam keluarga Huguenots dan orang Katholik di Prancis pada abad ke-16 dan 17. Beberapa contoh yang ia temukan menunjukan bahwa kegiatan ekonomi menghancurkan tradisionalisme ekonomi yang lama. Berdasarkan contoh ini, Weber berpendapat bahwa perubahan yang cepat dalam metode kegiatan ekonomi, tidak akan terjadi bila tanpa dorongan dari moral dan agama ia menyimpulkan bahwa penganut agama Kristen Protestan Calvinis lebih berperan dalam perekonomian dari pada penganut Katholik dan Protestan Lutheran, yang tetap setia menjalankan perekonomian tradisional mereka yaitu pertanian dan kerajinan berskala kecil.

Data komparatif tersebut mendorong Weber mengambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara agama Protestan Calvinis dengan kapitalisme. Kondisi kapitalisme dengan berorientasi pada perdagangan dengan menggunakan uang dalam rangka menumpuk modal dengan berspekulasi. Orientasi penumpukan modal ini bertentangan dengan kondisi masyarakat pra-kapitalistik, dimana kegiatan perdagangan dan penumpukan modal dipandang rendah, hina, dan dikutuk keras oleh gereja. Pada masa awal kapitalisme, terjadi menentang terhadap kondisi ini dengan didasarkan pada keyakinan bahwa kemakmuran yang dijadikan tujuan mereka merupakan rahmat Tuhan dalam kehidupan mereka.

Bagi Weber kapitalisme merupakan fenomena universal, terutama muncul di daerah Negara-kota. Kapitalisme adalah upaya untuk menggunakan capital berupa uang atau barang yang memiliki nilai uang dalam rangka memperoleh keuntungan dengan memproduksi dan menjual hasil produksi tersebut. Sebagai sebuah sistem ekonomi, kapitalisme menuntut adanya organisasi rasional para pekerja legal yang digaji secara bebas oleh pemilik capital dengan semata-mata bertujuan memperoleh keuntungan.

Spirit kapitalisme adalah "sikap untuk berusaha memperoleh keuntugan secara rasional dan sistematis untuk memanfaatkan tenaga kerja seolah-olah ia adalah tujuan akhir itu sendiri. Spirit ini merupakan suatu etika sosial yang terfokus pada upaya "memperoleh uang dan lebih banyak uang, disertai dengan upaya menghindari kesenangan hidup yang spontan".

Etika protestan, menurut Weber, bertujuan untuk menjawab pertanyaan terhadap pengaruh ide-ide keagamaan tertentu terhadap perkembangan spirit ekonomi atau terhadap etos sistem ekonomi yaitu spirit kapitalisme modern. Ia meletakkan dasar argumentasinya pada konsep "seruan" yaitu konsep tentang suatu kewajiban individu yang dibebankan Tuhan. Konsep "seruan" ini berkaitan erat dengan gagasan tentang takdir yang dimiliki oleh sekte-sekte puritan, terutama Calvinisme. Weber memandang ajaran Calvinisme sebagai ajaran yang modern karena berhasil meniadakan kekuatan magis di dunia. Dengan menanggalkan semua cara-cara magis dalam memperoleh keselamatan dengan mengkategorikannya sebagai takhayul dan dosa, maka Tuhan bersifat absolute dalam menetapkan takdir terhadap individu, sehingga menimbulkan sikap fatalisme yaitu sikap penyerahan total kepada kondisi dunia. Berdasarkan argumentasinya ini, Weber menyimpulkan bahwa spirit kapitalisme dilahirkan dari spirit asketisme agama Kristen, yaitu gagasan untuk membuktikan keyakinan seseorang dalam aktifitas dunia, yang diwujudkan dalam doktrin takdir. Weber juga mengakui pada perkembangan kemudian, kapitalisme tidak lagi membutuhkan dukungan agama ketika sistem ekonomi tersebut telah mapan. Menurut Weber semangat kapitalisme modern menjelma karena adanya etika agama yang lahir dari agama Kristen Protestan. Agama Protestan telah menempati posisi terhormat dan menentukan.

Weber menunjukkan bahwa agama memiliki 'kemampuan mengubah' dari agama. Ia ingin menegaskan bahwa kesadaran agama bukan merupakan akibat dari kondisi sosio-ekonomi, tetapi merupakan faktor otonomi, dan berperan penting dalam memberikan ciri pada system perilaku. Sistem ini berperan dalam perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat.

Weber berpendapat bahwa 'ajaran panggilan' ini merupakan konsep agama yang muncul setelah terjadinya pembaharuan dalam agama Kristen, terutama di agama Kristen Protestan. Dengan ajaran ini, maka kegiatan-kegiatan profan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bernilai keagamaan. Panggilan bagi seseorang berarti berusaha melakukan segala kewajiban terhadap Tuhan dengan cara berlaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari. Dapat disimpulkan bahwa 'panggilan' merupakan konsep agama tentang tugas yang diperintahkan Tuhan untuk bekerja. Bekerja tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan hidup semata tetapi bekerja merupakan sebuah tugas suci dari Tuhan.

Etos kerja yang dibangun untuk menjalankan tugas suci ini adalah dengan mengembangkan mentalitas kapitalis dalam kehidupan seharihari. Sikap tersebut antara lain berlaku hati-hati, bijaksana, rajin, dan bersungguh-sungguh dalam mengelola usaha. Sikap mentalitas ini adalah memandang rendah bagi sikap bermalas-malasan dan berdiam diri, pasrah menerima tanpa berusaha. Sikap mental tersebut dibangun dalam rangka mencapai tujuan hidup yaitu mendapat kemakmuran dan kekayaan. Tujuan hidup hanya dapat dicapai melalui aktifitas ekonomi. Berdasarkan sikap mental ini, Weber menyimpulkan bahwa hal yang utama dari semangat kapitalisme modern adalah 'memperoleh kekayaan (uang) sebanyak- banyaknya serta menghindari pengeluaran yang sifatnya bermewah-mewahan'.

Ruqoyah Jurnalistik 1A

Resume Buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism
           The protestant Ethic and Spirit of Capitalism,adalah salah satu karya Max Weber dalam buku nya tersebut beliau menjelaskan dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya sebagian kecil dari karya ilmiahnya yang lebih besar yang menjelaskan hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsungmengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis namun, beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber. Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.
            Signifikansi protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah Negara-negara tersebut, beliau menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi, serta orang-orang yang memiliki keunggulan teknis dan mendapatkan pendidikan komersial, semua beragama protestan. Hal ini menunjukkan bahwa protestanisme merupakan sebab signifikasi dalam pilihan atas okupasi-okupasi ini, dan sebaliknya bahwa agama-agama lain (contoh Khatolik Rhoma) gagal dalam menghasilkan sistem gagasan yang mendorong individu menekuni pekerjaan-pekerjaan ini. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefin isikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memandang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang menjadi hal kritis di Barat. Pada masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan sistem moral inilah yang secara tidak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam pencarian keuntungan, dan pada hakikatnya, melahirkan sistem kapitalis. Pada level teoritis, dengan menegaskan bahwa beliau menguraikan hubungan antara satu etos (protestanisme) dengan etos lain (semangat kapitalisme).
            Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis. Protestanisme khususnya calvinisme sangat penting bagi kelahiran kapitalisme, namun calvinisme tidak lagi diperlukan bagi berlanjutnya ekonomi sistem tersebut. Sebenarnya dalam banyak hal, kapitalisme modern karena sekularitasnya, bertentangan dengan calvinisme dan dengan agama pada umumnya. Point penting lain adalah bahwa para penganut calvinis tidak dengan sadar menciptakan sistem kapitalis. Kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting, karena beliau percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali melibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan berbagai maksud mereka

resume buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalisme oleh YUSUF TADARUSMAN 109051000111

NIM           : 109051000111
 
Resume Buku
The "Protestant Ethic and Spirit of Capitalism"
 
          Max Weber dalam karya bukunya, The protestant Ethic and Spirit of Capitalism, beliau melacak dampak protestanisme asketis terutama calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanya sebagian kecil dari karya ilmiah yang melacak hubungan antar agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia. Weber menerangkan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Weber tidak secara langsungmengaitkan sistem gagasan etika protestan dengan struktur sistem kapitalis, namun beliau cukup puas dengan mengaitkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem gagasan lain, "semangat kapitalisme."  Dengan kata lain kedua sistem gagasan tersebut berkaitan langsung. Meskipun kaitan sistem ekonomi kapitalis dengan dunia material berlangsung dan ditunjukkan secara jelas, keduanya tidak menjadi pokok perhatian Weber.
Di dalam buku ini, bukanlah buku mengenai kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya telah  terdapat beberapa bentuk kapitalisme lain ) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Weber mengawalinya dengan menelaah dan menolak penjelasan alternative tentang mengapa kapitalisme tumbuh di barat pada abad ke-16 dan 17. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kapitalisme tumbuh karena kondisi-kondisi material pada masa itu, Weber berargumen bahwa sejumlah kondisi material juga mulai matang, pada masa lain namun kapitalisme tidak tumbuh dikala itu. Weber juga menolak teori psikologi bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai. Menurut pandangannya, naluri semacam itu selalu ada, namun tidak menghasilkan kapitalisme pada situasi lain.
 
            Signifikansi protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah Negara-negara tersebut, beliau menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi, serta orang-orang yang memiliki keunggulan teknis dan mendapatkan pendidikan komersial, semua beragama protestan. Hal ini menunjukkan bahwa protestanisme merupakan sebab signifikasi dalam pilihan atas okupasi-okupasi ini, dan sebaliknya bahwa agama-agama lain (contoh Khatolik Rhoma) gagal dalam menghasilkan sistem gagasan yang mendorong individu menekuni pekerjaan-pekerjaan ini. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dalam banyak hal, justru sebaliknya.
 
Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memandang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang menjadi hal kritis di Barat. Pada masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan sistem moral inilah yang secara tidak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam pencarian keuntungan, dan pada hakikatnya, melahirkan sistem kapitalis. Pada level teoritis, dengan menegaskan bahwa beliau menguraikan hubungan antara satu etos (protestanisme) dengan etos lain semangat kapitalisme).
 
            Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis. Protestanisme khususnya calvinisme sangat penting bagi kelahiran kapitalisme, namun calvinisme tidak lagi diperlukan bagi berlanjutnya ekonomi sistem tersebut. Sebenarnya dalam banyak hal, kapitalisme modern karena sekularitasnya, bertentangan dengan calvinisme dan dengan agama pada umumnya
.
Point penting lain adalah bahwa para penganut calvinis tidak dengan sadar menciptakan sistem kapitalis. Kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting, karena beliau percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali melibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan berbagai maksud mereka. 
 
 

Cari Blog Ini