Senin, 15 Oktober 2012

DEBY NOVIA-JURNALISTIK 1 A

kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan (Calvinis) memengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai "Thesis Weber".
Dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan gagasan-gagasan Puritan telah memengaruhi perkembangan kapitalisme. Namun demikian, devosi keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan-urusan duniawi, termasuk pengejaran akan harta kekayaan.
Ia mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidaklah terbatas pada budaya Barat bila hal itu dipandang sebagai sikap individual, namun bahwa upaya individual yang heroik tidak dapat dengan sendirinya membentuk suatu tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Kecenderungan-kecenderungan yang paling umum adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimal dan gagasan bahwa kerja adalah suatu kutukan dan beban yang harus dihindari khususnya ketika hasilnya melebihi dari kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana. Seperti yang ditulisnya dalam esainya:
Agar suatu gaya hidup yang teradaptasi dengan sifat-sifat khusus dari kapitalisme… dapat mendominasi gaya hidup yang lainnya, ia harus muncul dari suatu tempat tertentu, dan bukan dalam pribadi-pribadi yang terpisah saja, melainkan sebagai suatu gaya hidup yang umum dari keseluruhan kelompok manusianya.
Setelah mendefinisikan 'semangat kapitalisme', Weber berpendapat bahwa ada banyak alasan untuk menemukan asal-usulnya di dalam gagasan-gagasan keagamaan dari Reformasi. Banyak pengamat seperti William Petty, Montesquieu, Henry Thomas Buckle, John Keats, dan lain-lainnya telah mengomentari kedekatan antara Protestanisme dengan perkembangan komersialisme.
Weber memperlihatkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh makna spiritual dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari gagasan-gagasan keagamaan tersebut, melainkan lebih sebagai produk sampingan — logika yang inheren dari doktrin-doktrin tersebut dan advis yang didasarkan pada mereka baik yang baik secara langsung maupun tak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan diri demi pengejaran keuntungan ekonomi.
Weber menelusiri asal-usul etika Protestan pada Reformasi. Dalam pandangannya, di bawah Gereja Katolik Roma seorang idnvidu dapat dijamin keselamatannya melalui kepercayaan akan sakramen-sakramen gereja dan otoritas hierarkhinya. namun, Reformasi secara efektif telah menyingkirkan jaminan-jaminan tersebut bagi orang biasa, meskipun Weber mengakui bahwa seorang "genius keagamaan" seperti Martin Luther mungkin dapat memiliki jaminan-jaminan tersebut.
Dalam keadaan tanpa jaminan seperti itu dari otoritas keagamaan, Weber berpendapat bahwa kaum Protestan mulai mencari "tanda-tanda" lain yang menunjukkan bahwa mereka selamat. Sukses dunia menjadi sebuah ukuran keselamatan. Mendahului Adam Smith (tapi dengan menggunakan argumen yang sangat berbeda), Luther memberikan dukungan awal terhadap pembagian kerja yang mulai berkembang di Eropa. Karenanya, menurut penafsiran Weber atas Luther, suatu "panggilan" dari Tuhan tidak lagi terbatas kepada kaum rohaniwan atau gereja, melainkan berlaku bagi pekerjaan atau usaha apapun.
Namun demikian, Weber melihat pemenuhan etika Protestan bukan dalam Lutheranisme, yang ditolaknya lebih sebagai sebuah agama hamba, melainkan dalam bentuk Kekristenan yang Calvinis.
Dalam pengertian yang sederhana "paradoks" yang ditemukan Weber adalah:
  • Menurut agama-agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekular dengan semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasikan uang.
  • Namun, menurut agama-agama baru ini (khususnya, Calvinisme), menggunakan uang ini untuk kemeweahan pribadi atau untuk membeli ikon-ikon keagamaan dianggap dosa. Selain itu, amal umumnya dipandanga negatif karena orang yang tidak berhasil dalam ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan atau tanda bahwa Tuhan tidak memberkatinya.
Cara memecahkan paradoks ini, demikian Weber, adalah menginvetasikan uang ini, yang memberikan dukungan besar bagi lahirnya kapitalisme.
Pada saat ia menulis esai ini, Weber percaya bahwa dukungan dari etika Protestan pada umumnya telah lenyap dari masyarakat. Khususnya, ia mengutip tulisan Benjamin Franklin, yang menekankan kesederhanaan, kerja keras dan penghematan, namun pada umumnya tidak mengandung isi rohani.
Weber juga mengatakan bahwa sukses dari produksi massal sebagian disebabkan oleh etika Protestan. Hanya setelah barang-barang mewah yang mahal ditolak, maka individu-individu dapat menerima produk-produk yang seragam, seperti pakaian dan mebel, yang ditawarkan oleh industrialisasi.
Perlu dicatat bahwa Weber menegaskan bahwa sementara gagasan-gagasan agama Puritan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan tatanan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, mereka bukanlah faktor satu-satunya (yang lainnya termasuk rasionalisme dalam upaya-upaya ilmiah, penggabungan antara observasi dengan matematika, aturan-aturan ilmiah dan yurisprudensi, sistematisasi rasional terhadap administrasi pemerintahan, dan usaha ekonomi. Pada akhirnya, studi tentang etika Protestan, menurut Weber, semata-mata hanyalah menyelidiki suatu tahap dari emansipasi dari magi, pembebasan dari ilusi dunia, yang dianggapnya sebagai ciri khas yang membedakan dari budaya Barat.
Weber menyatakan dalam catatan kaki terakhirnya bahwa ia meninggalkan penelitian terhadap Protestanisme karena rekannya Ernst Troeltsch, a seorang teolog profesional, telah mulai menulis buku Ajaran Sosial Gereja-gereja Kristen dan Sekte. Alasan lain untuk keputusan Weber ini ialah bahwa esainya telah memberikan perspektif untuk perbandingan yang luas antara agama dan masyarakat, yang dilanjutkannya dalam karya-karyanya berikutnya (studi tentang agama di Tiongkok, India, dan agama Yudaisme.)
Buku ini juga merupakan upaya pertama Weber dalam menggunakan konsep rasionalisasi. Gagasannya bahwa kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat keagamaan berarti suatu perubahan terhadap cara keberadaan yang rasional, kekayaan. Pada suatu titik tertentu, rasional ini berhenti, mengalahkan, dan meninggalkan gerakan keagamaan yang mendasarinya, sehingga yang tertinggal hanyalah kapitalisme rasional. Jadi intinya, "Semangat Kapitalisme" Weber pada dasarnya adalah Semangat Rasionalisme, dalam pengertian yang lebih luas.
Esai ini juga dapat ditafsirkan sebagai salah satu kritik Weber terhadap Karl Marx dan teori-teorinya. Sementara Marx berpendapat, pada umumnya, bahwa semua lembaga manusia - termasuk agama - didasarkan pada dasar-dasar ekonomi, Etika Protestan memalingkan kepalanya dari teori ini dengan menyiratkan bahwa gerakan keagamaan memperkuat kapitalisme, dan bukan sebaliknya.
 

GIOVANNI.KPI (1/E).TUGAS KE-6

Protestant Ethic and Spirit of Capitalism
OLEH: GIOVANNI (KPI 1/E)
TUGAS KE – 6
 
            Dalam buku ini, Max Weber menjelaskan bagaimana pengaruh agama dalam dunia dan menjadikan semangat bagi masyarakat protestan dan kapitalis. Landasan apa yang mendasari lahirnya kapitalis, semangat dan pola piker seperti apa yang menyebabkan calvinisme lahir danmenjadi semangat bagi protestan untuk melakukan ekspansi kapitalis sebagai system peekonomian yang diperhitungkan di dunia juga di jelaskan dalam karya Weber yang satu ini.
            Dalam buku ini, di bahas tentang adanya perbedaan pandangan dan prinsip antara penganut katolik dan protestan tentang masalah duniawi yang berakar pada hokum gereja yang penganut katolik menganggap bahwa menghukum yang bidah dan mengampuni para pendosa dan itu berarti sesuatu yang bidah adalah pandangan protestan, karena mereka lebih mengutamakan bisnis disbandingkan dengan ajaran agama, serta mencampur dominasi dunia dengan bisnis. Menurut Weber agama merupakan sumber pertentangan, khususnya katolik dan potestan.
            Perbedaan pandangan ini juga tedapat dalam hal pendidikan , orang-orang katolik lebih menyukai pelatihan-pelatihan dan bekerja di pemerintahan sedangkan kaum protestan lebih menyukai bekerja pada bagian administrative perusahaan. Dalam pandangan ini pendidikan yang dipengaruhi oleh lingkungan agama akan mempengaruhi dalam hal memilih pekerjaan, yang artinya adapemenuhan kebutuhan yang harus di prioritaskan dalam penentuan pilihan atas pertimbangan rasio agama.
            Orang-orang katolik terkesan asketis dalam mencapai cita-cita hidupnya sehingga membuat penganutnya mengabaikan kehidupan dunia sedangkan kaum protestan lebih berfaham matrealistis dan mengedepankan sekularisasi dalam cita-cita pandangan hidupnya yang artinya mencampur kepentingan agama dan duni. Dalam hal ini menyebabkan protestan lebih maju dalam 3 hal yaitu : spirtitual, perdagangan dan kebebasan.
            Berikutnya Weber menjelaskan mengenai suatu semangat kapitalisme yang tergambar dalam suatu perhitungan bisnis. Kaum protestan mempunyai pandangan utilitarisme yang artinya baik bagi banyak orang dan memiliki alas an pembenaran yang kuat sedangkan kaum katolik memiliki pandanga positivistis dimana orang akan lebih terbuka dalam memberikan bantuan kepada orang yang jujur dan tepat waktu.
            Yang telah di jelaskan diatas merupakan gambaran dari suatusemangat kapitalisme untuk terus bekerja, semangat yang sesungguhnya bukan bebicara untuk kesuksesan dunia, hal ini hanya merupakan etika, jika dipandang oleh Weber dari segi etika protestan dan clvinisme. Sedangkan dari segi kapitalisme merea menjauhkan hal ini dari pandangan eudoonistik, bahwa semua yang mereka lakukan di dunia adalah sebagai tujuan akhi yaitu usaha untuk mencari harta, serta hedonistis karena semua kebahagiaannya bersifat irasional.
            Kapitalisme selalu mendapat perlawanan dari tradisionalisme yang merupakan sikap mutlak manusia dan kapitalisme mencoba merubah pola pikir tersebut dengan menurunkan teori ekonominya yaitu denagn menurunkan upah maka aan diperoleh pekerjaan yang meningkat ini merupakan suatu bentuk paradigm kritis.
            Kapitalistik merupakan perjuangan untuk mendapatkan keuntungan yang bebas dari batasan-batasan yang ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan. Bagi kaum kapitalis agama hanya sebagai alat untuk menarik mereka dari kerja kehidupan dunia dan tentu akan membuat gelisah tentang kehidupan akhirat, tujuan utama kapitalisme adalah keuntungan social dan material.
            Selanjutnya, Weber juga menjelaskan beberapa factor yang mempengaruhi konsep keagamaan dari askese duniawi, yaitu : Calvinisme, Pietisme, Metodisme, dan sekte-sekte yang tumbuh dari kaum baktis.
            Calvinisme merupakan suatu faham yang bependapat bahwa kesuksesan kehidupan social dunia adalah gambaran kehidupan akhirat. Pietisme suatu faham yang memisahkan antara kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat. Metodisme merupakan kombinasi antara jenis keagamaan emosional. Sekte-sekte baptis memiliki prinsip pemikiran yaitu mendengarkan adanya suara tuhan.
 

Ahmad Fauzi Jurnalistik 1A

The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism

The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan "jaminan" masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi "jaminan" pula bagi individu itu masuk neraka.

Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan "mengumpulkan" harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagiaan dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan. Etika Protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi perkembangan lebih lanjut kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana.

Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Kar Marx.

Menurut Max Weber bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.

Etika Protestan Karangan dan Semangat Kapitalisme

Nama:M.Hidayatul Munir
Kelas :KPI 1E
NIM  :1112051000131
Tugas:ke 6 sosiologi Agama
Judul:Etika Protestan Karangan dan Semangat Kapitalisme
Pengarang:Max Weber
 
           Buku ini menjelaskan tentang bagaimana pengaruh Agama dalam dunia dan menjadikan semangat bagi masyarakat Protestan dan Kapitalis.Landasan apa yang mendasari lahirnya kapitalis,semangat dan pola fikir seperti apa yang menyebabkan Calvinisme lahir dan menjadi semangat bagi Protestan untuk melakukan ekspansi Kapitalis sebagi system perekonomian yang diperhitungkan di dunia dan berbagai faham dan paradigma yang mendunia seperti positivis konstruksivistis dan kristis.
        Dalam bab pertama dijelaskan tentang masalah afiliasi Agama dab stratifikasi social,penganut Katolik dan Protestan tentang masalah duniawi yang berakar pada hokum gereja yang penganut Katolik menganggap bahwa menghukum yang bidah dan mengampuni para pendosa dan iti berarti bid'ah adalah pandangan Protestan,karena bisnis lebih di utamakan daripada Agama.Menurut Weber bahwa Agama merupakn sumber pertentangan,khususnya Katolik dan Protestan.
       Perbedaan pandangan ini juga terlihat dalam hal pendidikan.orang-orang Katolik lebih suka pelatihan dan bekerja di pemerintahan dan lulusan pendidikan dari penganut Katolik dan ini menyebabkan stratifikasi social.Sedangkan Protestanlebih menyukai bekerja di bagian administrative perusahaan,dan ornga-orang Katolik kalah bersaing dalam dunia kerja,karena banyak pemuda Protestan mempunyai banyak skill dalam industry modern.
       Orang-orang Katolik terkesan asketis dalam mencapai cita-cita hidupnya sehingga  membuat penganutnya mengabaikan kehidupan dunia,sedangkan kaum Protestan lebih berfaham materialistis dan mengedepankan sekularisasi dalam cita-cita dan pandangan hidupnya yang mencampur kepentingan Agama dengan dunia.Dalam hal ini menyebabkan Protestan lebih maju dalam 3 hal di bandingkan bangsa lain yaitu:spiritual,perdagangan dan kebebasan,serta kombinasi antara kesucian yang besar yaitu Agama dengan majunya perkembangan bisnis.
       Bagi kaum Protestan mereka lebih suka makan enak dan mereka berpandangan utilitarianisme yang artinya baik bagi banyak orang,sedangkan prinsip katolik mereka menyukai tidur yang nyaman,menurut Protestan jika manusia malas dia akan kehilangan banyak waktu namun juga banyak kehilangan keuntungan yang mungkin mereka dapatkan.Faktor lain yang memberikan keuntungan adalah kejujuran manusia,hal ini merupakan pandangan positivistis.
     Dari suatu semangat kapitalisme untuk terus bekerja,semangat sesungguhnya bukan berbicara untuk kesuksesan dunia,hal ini hanya merupakn etika Protestan dan Calvinisme menurut Weber,sedangkan dari segi Kapitalisme mereka menjauhkan hal ini dari pandangan Eudonistik,bahwa semua yang mereka lakukan di dunia adalah sebagai tujuan terakhir yaitu usaha mencari harta karena kebahagiaan bersifat irasional.
       Kapitalisme selalu mendapat perlawanan dari Tradisionalisme yang merupakan sikap mutlak manusia dan Kapitalisme mencoba merubah pola fikir tersebut dengan menaruhkan teori ekonominya dan ini merupakan paradigma kritis.
     Selanjutnya mengenai konsep Luther tentang panggilan atau maksud dari konsep panggilan.Panggilan merupakan kewajiban setiap individu di dunia untuk melakukan tugas atau kewajiban sesuai dengan kedudukannya masing-masing didunia dan tidak melampaui nilai moral duniawi.Dalam hal ini Katolik memiliki suatu musuh yang nyata yaitu dalam anggapannya bahwa kapitalisme merupakan kreasi dari reformasi,maksud reformasi disini adalah perubahan system ekonomi yang berkembang.
     Pietisme merupakan pandangan yang berbeda dari Calvinisme yang menganggap bahwa manusia bekerja untuk keselamatan dan kesejahteraan kehidupan di dunia,dan bukan untuk kehidupan di akhirat dan Pietisme memisahkan antara kepentingan dunia dengan akhirat menjadi sebuah kekuatan illahi.
     Metodisme merupakan kombinasi antara jenis keagamaan yang emosional tetapi askestis dengan sikap apatis yang meningkay atau sikap penolakkan terhadap dasar-dasar dogmatis dari askese Calvinistis,makna yang emosional disini berarti bahwa para penganut metodisme harus memiliki rasa menyesal terhadap dosa-dosa mereka dan mengharapkan pengampunan.Di dalam Metodisme sama halnya dengan pietisme yang mengandung ketidakpastian tentang akhirat.Sekte-sekte baptis karakter yang dianut dari baptis adalah tenang,moderat dan sangat taat terhadap keagamaan.Pada perkembangannya penganut baptis akan mengikuti alur Calvinisme.
     Apa yang mendasari adanya konsep panggilan Luthering adalah faham Calvinisme.Mereka juga menolak adanya mamonisme yaitu faham yang berpandangan bahwa usaha-usaha ysng dilakukan mereka untuk memperkaya diri mereka karna sungguh kekayaan adalah godaan bagi manusia.Pada zaman ini etika,moral dan kebijaksanaan yang dulu pada masa Calvinisme tidak ada ingin coba untuk ditanamkan kembali.
 

Isna Rifka Sri Rahayu Jurnalistik 1A

Resume "Max Weber: The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism"

Dalam buku yang berjudul  The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, Weber menjelaskan tentang etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Sekilas pada statistik kerja pada negara manapun, agama mebawa dampak yang luar biasa yang beberapa kali memprovokasi diskusi di pers Katolik dan sastra, dan dalam kongres Katolik di Jerman, yaitu fakta bahwa para pemimpin bisnis dan para pemilik modal mempunyai nilai yang lebih tinggi dari tenaga kerja terampil dan bahkan lebih tinggi personil teknis dan komerisal terlatih dari perusahaan modern.  Hal yang sama juga ditunjukkan pada afiliasi agama hampir dimana pun kapitalisme, pada saat perkembangan yang besar, telah memiliki tangan yang bebas untuk mengubah penyebaran sosial penduduk sesuai dengan daya kebutuhan dan untuk menentukan struktur kerjanya. Weber menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah fakta kontemporer tapi merupakan fakta sejarah. Bila ditelusuri kaitannya bahwa beberapa pusat awal dari perkembangan kapitalis dipermulaan abad ke 16 sangat kuat dengan unsur Protestan.

Emansipasi dari ekonomi tradisional muncul  menjadi faktor yang akan sangat memperkuat kecenderungan untuk meragukan kesucian tradisi agama, sebagai jatuhnya semua otoritas tradisional. Tetapi perlu dicatat, apa yang sering dilupakan, bahwa reformasi berarti tidak menghapuskan kontrol Gereja atas kehidupan sehari-hari, melainkan subsitusi dari bentuk baru dari kontrol yang sebelumnya.

Dalam buku ini Weber mencari hubungan antara penghayatan agama dengan pola-pola perilaku, termasuk ekonomi. Usaha tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadinya ketika ia memperhatikan kenyataan yang terjadi di Eropa bahwa orang-orang yang memiliki posisi penting dalam beberapa bidang pekerjaan sebagian besar merupakan penganut agama Kristen Protestan. Kenyataan seperti yang disebutkan di atas tidak hanya terjadi pada kasus-kasus dimana perbedaan agama berhubungan erat dengan suatu kewarganegaraan. Hal yang sama juga diperhatikan oleh kalangan tokoh-tokoh yang berafiliasi kepada agama. Kebanyakan para pemilik modal yang berpengaruh memiliki otoritas yang kuat dan keleluasaan untuk mengubah distribusi masyarakat sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya dan menentuhan struktur pekerjaannya. Baginya, kenyataan tersebut tentu bukan hanya kebetulan semata. Kemudian ia mencari faktor-faktor yang memenyebabkan hal tersebut terjadi. Pada awal pencariannya, Weber memperhatikan perbedaan yang mencolok antara orang Katolik dan Protestan dalam segi pekerjaan. Menurutnya orang Katolik mempunyai kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap bekerja dalam dunia kerajinan mereka tanpa ada keinginan yang keras untuk maju. Sebaliknya, orang Protestan meiliki keinginan yang kuat dan tertarik untuk terus meningkat dan berkembang sehingga sasaran mereka adalah bagian-bagian terpenting dari perusahaan-perusahaan modern.

Kemudian ia memperdalam penelitiannya pada kalangan Protestan. Ia mengamati bahwa agama Kristen Protestan memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Siakp demikian erat hubungannya dengan salah satu konsep di kalangan Protestan yaitu konsep "panggilan". Konsep tentang panggilan merupakan konsep agama tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas dimana seseorang harus bekerja. Ajaran tentang panggilan ini dicetuskan oleh Luther selanjutnya diteruskan oleh Calvin, meski tidak sama persis.

Calvin mengajarkan bahwa aktifitas sosial dari orang-orang Kristen di dunia ini bertujuan untuk memuliakan Tuhan dengan mematuhi firman-firman-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing.  Bagi penganut Calvinis, kerja merupakan suatu panggilan, kerja bukan hanya sebagai pemenuhan keperluan tetapi sebagai tugas suci. Kemudian lewat ajaran mengenai presdestinasi Calvin mengajarkan bahwa setiap orang harus berhadapan dengan takdirnya sendiri sebab tidak ada orang lain atau hal lain yang bisa membantunya termasuk Tuhan. Impikasinya adalah setiap orang mempunyai kewajiban bagi dirinya sebagai orang yang terpilih. Ia harus menghilangkan sifat keraguannya karena perasaan dosa. Bagi Calvin adanya rasa kurang percaya diri merupakan akibat dari keyakinan yang kurang. Kemudian kegiatan duniawi yang sangat intens merupakan sarana yang paling baik dan sesuai untuk mengembangkan dan mempertahankan pemilihan. Di sinilah Weber melihat bahwa karena kecenderungannya tersebut, maka dapat dimengerti megapa orang-orang Calvinis memperlihatkan sikap hidup yang positif, optimis dan aktif.

Menurut Weber, suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup kenyataan-kenyataan seperti itulah yang menjadi suatu yang nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.

Dalam penelusuran sejarah, ternyata setelah Weber mempublikasikan tulisannya mengenai etika Protestan justru keadaan ekonomi masyarakat Protestan semakin menurun sedangkan mayoritas Katolik justru sedang bangkit. Oleh karena itulah teorinya tidak bisa dijadikan ramalan masa depan.

resume "Protestant ethic & spirit of capitalism" Reza armanda; jurnalistik 1a

                Max Weber mengemukakan suatu fakta statistik untuk penjelasan: yaitu fakta bahwa di dalam Eropa modern pemimpin-pemimpin niaga dan para pemilik modal, maupun mereka yang tergolong sebagai buruh terampil tingkat tinggi, terlebih lagi karyawan perusahaan-perusahaan modern yang sangat terlatih dalam bidang teknis dan niaga, kebanyakan adalah pemeluk agama Protestan. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah fakta kontemporer, akan tetapi merupakan fakta sejarah. Dengan menelusuri kembali kaitannya, bisa diperlihatkan bahwa beberapa pusat awal dari perkembangan kapitalis dipermulaan abad ke-16 merupakan pusat yang sangat kuat dengan unsur Protestan. Dalam bukunya Max Weber "The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalisme" dalam bab V diterangkan bahwa agama menjadi pendorong, motivasi dan spirit dari kapitalisme dalam melakukan segala kegiatan ekonomi sekaligus menjadi etika dan doktrin yang berlaku di Eropa. Jadi untuk memahami secara psikososial bagaimana motif suatu individu dalam berinteraksi sosial di masyarakat, terutama dengan aktivitas ekonominya., maka asketisme menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mewujudkannya menjadi sebuah konsep yang harus di taati oleh pemeluk protestan agar diakui keshalehannya.

                Kaum Marxisme, menegaskan bahwa agama Protestant merupakan suatu refleksi ideologis dari perubahan-perubahan ekonomi yang didatangkan dengan perkembangan awal kapitalisme. Dengan menolak hal ini sebagai suatu titik pengelihatan yang wajar, karya Weber bermula dari keganjilan penyimpangan yang jelas terlihat dan yang diidentifikasinya serta penjelasannya merupakan orisinalitas sebenarnya dari The Protestan Ethic. Biasanya demikianlah bahwa mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh tidak acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan dengan agama, karena kegiatan-kegiatan mereka tertuju pada dunia 'materiil'. Akan tetapi agama Protestan disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katholik, dan dengan demikian memasukkan suatu faktor keagamaan di semua bidang kehidupan para penganutnya. Dari sini dapat dilihat hubungan antara agama Protestan dengan kapitalisme modern. Bahwa kepercayaan-kepercayaan dalam agama Protestan telah merangsang kegiatan ekonomi.

                Perlu diketahui bahwa tidak ada etika ekonomi yang semata-mata ditentukan oleh agama. Etika kerja dalam protestan yang di dominasi oleh agama menjadikan pengaruh yang besar terhadap dunia ekonomi. Dalam etika, kekayaan tidak bersifat baik jika hal itu merupakan sebuah dorongan dalam suatu godaan menjadi sikap yang penuh dengan kemalasan dan kenikmatan duniawi yang penuh dengan dosa. Pemeluk protestan mengamalkan nilai-nilai pemikiran calvinis dan asketis dalam kehidupan ekonominya sehari-hari. Dorongannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah bersifat manusiawi, akan tetapi yang menentukan tingkat kemakmuran yang dicapai seseorang lebih ditentukan oleh sikap dan perilaku orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perilaku dalam aktivitas ekonominya di Eropa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang telah mengakar kuat yakni etika protestan. Sehingga agama berjasa besar atas perkembangan dan pengaruh kapitalisme di Eropa.

                Salah satu elemen-elemen fundamental dari semangat kapitalisme adalah perilaku rasional yang didasarkan kepada panggilan-panggilan Tuhan yang terlahir dari askese Kristen. Weber mendeskripsikan bahwa dunia dan isinya adalah pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kerja dianggap sebagai panggilan Tuhan yang bersifat mutlak, suci dengan memanfaatkan dunia tersebut dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah menciptakan dunia dan isinya. Suatu hal bodoh jika terjerumus akan godaan daging. Intinya "harus melakukan suatu pekerjaan" entah apapun itu. Oleh karena itu membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan sangat mematikan. Jika penganut protestan tidak mau bekerja atau malas bekerja maka sebenarnya menjadi dosa tersendiri bagi pengikut protestan menolak Tuhan dalam kehidupannya. Ketakutan akan dosa yang berdampingan dengan kepentingan produktifitas inilah yang menjadi nilai dasar dan fundamental dari etika protestan. Dengan kata lain, ketaatan trandensial penganut protestan dapat diukur dari gairah dan etos kerja yang dimilikinya. Semakin banyak harta yang dimiliki, maka semakin tebal keimanannya pada Tuhan. Begitu juga sebaliknya semakin sedikit harta yang dimiliki, maka dapat di tegaskan bahwa keimanannya pada Tuhan juga rendah. Logika inilah yang menjadi asumsi sekaligus membawa korelasi positif antara ketaatan dan kemampuan ekonomis yang dimiliki oleh protestanisme.

                Weber juga menambahkan bahwa kapitalisme di Eropa dapat berkembang karena nilai-nilai asketis dalam doktrin protestan. Doktrin-doktrin ini didominasi oleh khotbah-khotbah keagamaan yang sangat berapi-api tentang bagaimana konsep kerja yang baik. khotbah-khotbah itu berisikan bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan makan apabila mereka tidak bekerja. Bekerja merupakan panggilan Tuhan yang harus dan wajib dilaksanakan. Oleh karena itu bekerja merupakan asketis yang disetujui untuk memuliakan Tuhan. Pemikiran untuk tidak cepat puas dengan keberhasilan yang telah dicapai adalah asumsi dasar dari pemikiran ini. Dalam pandangan Weber tentang relasi antara kapitalisme dan agama protestan ini adalah kapitalisme yang didasarkan bukan pada keinginan untuk mengumpulkan keuntungan semata. Namun merupakan sebuah aktivitas rasional yang menekankan akan order atau keteraturan, disiplin, hirarki dalam sebuah organisasi.

                Weber juga berpendapat bahwa, keserakahan pribadi terdapat di semua masyarakat, dan dalam kenyataan keserakahan itu lebih menjadi ciri khas dari masyarakat pra-kapitalis dari pada masyarakat kapitalis. Kapitalisme modern, pada kenyataannya bukan didasarkan atas pengejaran keuntungan yang tidak bermoral, akan tetapi berdasarkan kewajiban bekerja dengan disiplin sebagai suatu tugas.

Semangat kapitalisme modern, ditandai dengan secara khas oleh suatu kombinasi unik dari ketaatan kepada usaha memperoleh kekayaan dengan melakukan kegiatan ekonomi yang halal, sehingga berusaha menghindari pemanfaatan penghasilan ini untuk kenikmatan pribadi semata-mata. Hal ini berakar dalam suatu kepercayaan atas penyelesaian secara efisien, sebagai suatu kewajiban dan kebajikan.

"Semangat Kapitalisme tidak bisa begitu saja disimpulkan dari pertumbuhan rasionalisme dalam keseluruhannya di dalam masyarakat barat. Cara penganalisisan masalah demikian itu cenderung untuk mengasumsi adanya perkembangan rasionalisme yang progresif dan unilinear dalam kenyataannya, rasionalisme berbagai lembaga masyarakat barat menampakkan suatu distribusi yang tidak merata. Negara-negara misalnya di mana rasionalisasi ekonomi telah berlangsung lebih jauh, dalam kaitannya dengan ajaran hukum, berada dalam keadaan terbelakang, bila dibandingkan dengan beberapa negara yang ekonominya lebih terbelakang (Inggris dalam hal ini merupakan kasus yang paling jelas). Rasionalisasi adalah suatu fenomena yang rumit, yang mengambil sekian banyak bentuk, dan berkembang secara beraneka ragam di bidang-bidang yang berlainan di dalam kehidupan sosial. The Protestan Ethic hanya menaruh perhatian pada usaha menemukan karya intelektual siapakah bentuk konkrit khusus dari pikiran rasional itu, darimana berasal gagasan suatu panggilan dan pencurahan tenaga dan perhatian kepada kerja yang ada dalam panggilan itu…"( Max Weber, The Protestant Ethic and The Spirit Of Capitalisme [New York: 1958], hlm.78)

Weber membedakan empat aliran utama dari agama Protestan ascetic yaitu: Calvinisme, Metodisme, Pietisme dan sekte Baptis. Bagian penting dalam analisa Weber, terpusat kepada Calvinisme. Ia lebih menitikberatkan kepada doktrin-doktrin yang diwujudkan dalam ajaran-ajaran kaum Calvin yang terjadi pada akhir abad ke-16 dan abad ke-17. Weber kemudian melanjutkan mengidentifikasi tiga ajaran utama yang sangat penting dalam Calivinisme yaitu:

1.       Doktrin yang mengajarkan bahwa alam semesta ini diciptakan untuk lebih meningkatkan keagungan Tuhan yang hanya mempunyai arti jika dikaitkan dengan maksud-maksud Tuhan. Tuhan itu tidak ada demi manusia, tetapi manusia itu ada demi kepentingan Tuhan.

2.       Prinsip bahwa maksud-maksud yang Maha Kuasa, berada di luar jangkauan pengertian manusia. Manusia hanya bisa mengetahui butiran-butiran kecil dari kebenaran Tuhan, bilamana dikehendakinya untuk diketahui oleh manusia.

3.       Percaya kepada nasib yang telah ditakdirkan oleh Tuhan; hanya sedikit orang yang terpilih untuk memperoleh kasih sayang yang abadi. Hal ini merupakan sesuatu yang telah diberikan tanpa bisa diambil kembali dari saat pertama penciptaan; kasih sayang abadi ini tidak terpengaruh oleh kegiatan manusia, karena bila ada anggapan bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya maka ini berarti mempunyai pikiran bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya, penilaian Tuhan yang kudus.

 

                Sebuah pemikiran Weber adalah seharusnya kapitalisme tidak hanya mementingkan harta dan kekayaan saja dalam mencapai suatu kebahagiaan, karena tidak selamanya kebahagiaan ditentukan secara material dari kekayaan yang dimiliki seseorang. Walaupun sebenarnya dalam konteks spirit kapitalisme yang dimiliki protestan sangat wajar. Pengumpulan dan penumpukan harta sebanyak-banyaknya bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama, akan tetapi hal yang terpenting adalah bagaimana suatu keselamatan mampu didapat dengan pengumpulan kekayaan tersebut. Artinya dari besar dan banyaknya kekayaan adalah untuk kebahagiaan bathin dari pemiliknya, bukan malah sebaliknya yaitu kekayaan itu sendiri. Kekayaan material yang didapat sebagai hasil dari usaha tersebut bukanlah tujuan inti dari etos kerja, melainkan hanya sebagai konsekwensi logis semata karena telah bekerja secara maksimal.

       Yang menjadi landasan dasar dalam etos kerja adalah bagaimana untuk mengatasi berbagai kecemasan. Rasa takut, cemas, gundah, risau dan galau jika tetap berpangku tangan terhadap orang lain. Maka pada dasarnya berarti mereka telah melanggar perintah tersebut. Kekayaan yang didapatkan diyakini bahwa bukan karena kerja keras yang telah mereka lakukan, akan tetapi semata-mata hanya sebagai hasil dari efek samping yang tidak disengaja atas kerja keras tersebut. Inti dari hasil ahirnya adalah mencapai keberhasilan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan bagaimana keberhasilan mencapai sesuatu dengan mereduksi atau menghilangkan kegelisahan bathin yang terjadi pada diri mereka sendiri. Jadi perlu ditekankan yang menjadi orientasi utama dari bekerja keras bukanlah kekayaan, melainkan kebahagiaan dalam pencapaian bathinlah yang menjadi orientasi pokok. Karena kembali pada tujuan awalnya yaitu kebahagiaan bathin.


Cari Blog Ini