Rabu, 21 November 2012

AnnisaRahmah_Jurnalistik1B_laporan institusi bisnis

Judul Penelitian :
Bisnis Kuliner Tradisional sebagai Wujud Pelestarian Budaya
Peneliti :
Nama   : Annisa Rahmah (Jurnalistik 1B)
NIM    : 1112051100043
 
I.                   Latar Belakang
 
Di era globalisasi saat ini kebudayaan tradisional tidak lagi diperhatikan banyak orang. Fokus kali ini adalah kebudayaan betawi, bahkan saat ini generasi muda asli betawi sendiri banyak yang tidak mengetahui bahkan melestarikan.
Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis oleh masuknya budaya barat. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus globalisasi. Akibatnya, bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia.
Sewajarnya dari keturunan asli itu sendiri yang mempelajari lalu melestarikannya dan mempromosikannya di kancah yang lebih luas. Banyak cara yang dapat dilakukan seperti, mempelajari tarian tradisional juga adat istiadat tradisional lalu mempromosikannya ke khalayak banyak. Tidak lupa untuk tetap memperhatikan keseimbangan antara gaya hidup tradisional dan modern.
Selain itu, kuliner tradisional juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mengenalkan budaya tradisional. Makanan khas suatu daerah saat ini sudah mulai tergerus oleh makanan-makanan modern yang berasal dari luar negeri.
Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda untuk selalu giat mempromosikan dan tetap melestarikan kebudayaan tradisional khasi Indonesia.
Salah satunya lewat bisnis kuliner, tentu saja tidak mudah dan pasti akan mendapati hambatan-hambatan. Bagaimana bisnis ini bisa bertahan dan seberapa jauh progress dan pengaruhnya, itulah salah satu tujuan penelitian ini dibuat.
 
II.                Pertanyaan Pokok
 
1.      Seberapa besarkah peran bisnis kuliner tradisional dalam menjaga kelestarian budaya?
2.      Mengapa anda memilih berbisnis kuliner tradisional?
 
III.             Metode Penelitian
 
Metode yang digunakan: Kualitatif. Yaitu metode sosiologi yang prosesnya mengambil data secara langsung, dimana peneliti sebagai instrument. Metode ini dilakukan dengan dasar mencari data-data yang kuat lalu dilakukan wawancara terhadap narasumber. Metode kualitatif yang digunakan metode komparatif, yaitu mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta sebab-sebabnya.
Lokasi: Warung Soto Betawi Mpo Ida
Waktu: Rabu, 21 November 2012
11.00 siang
 
IV.             Gambaran Subyek/Obyek Penelitian
 
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:
"
Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya, Semarang: P&K, 199
"
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut ini beberapa kebudayaan Indonesia berdasarkan jenisnya yaitu rumah adat, tarian, lagu, musik, pakaian, sastra, dan makanan.
Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang tempat penting dalam budaya nasional Indonesia secara umum dan hampir seluruh masakan Indonesia kaya dengan bumbu dengan diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi-adat yang terdapat pula pengaruh melalui perdagangan yang berasal seperti dari India,TiongkokTimur Tengah, dan Eropa.
Pemuda adalah calon penerus pengembang bangsa. Mereka ikut andil besar dalam kemajuan bangsa nantinya. Salah satunya dalam melestarikan kebudayaan tradisional dari daerahnya.
Warung soto betawi mpo Ida, merupakan salah satu contoh bisnis yang bergerak di bidang kuliner tradisional. Warung yang telah berdiri sejak tiga tahun lalu ini, terletak di tepi jalan daerah Kampung Utan, Ciputat.
Pemiliknya, seorang ibu bernama Ida yang berumur 47 tahun. Ia memulai bisnisnya karena hobi memasak dan kecintaannya pada budaya betawi. Ia juga merupakan warga keturunan asli betawi.
Selain soto betawi, ia juga menjual sop iga, makanan khas Indonesia lainnya. Ia juga menjual masakannya lewat sistem pesan antar untuk arisan atau wisuda atau lainnya. Awalnya ia menjual berbagai jenis makanan khas betawi seperti sayur asem, gabus pucung, dan lainnya. Keputusan berjualan soto betawi ini dilakukan berdasarkan survei yang ia lakukan sendiri.
 
V.                Analisis
 
Keadaan budaya tradisional Indonesia saat ini cukup terbilang kritis. Banyak warganya yang tidak lagi melestarikan budaya bangsanya. Bahkan enggan untuk mengakui dan mempromosikannya ke dunia mancanegara.
     
      Kebudayaan betawi contohnya, lenong, ondel-ondel, tari topeng, dan lainnya sudah semakin jarang terlihat. Bahkan di daerah asalnya, Jakarta. Budaya-budaya tersebut sudah termakan oleh jaman, tergantikan dengan budaya-budaya dari luar negeri seperti budaya barat (Amerika) juga budaya Korea yang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan.
 
      Salah satu kebudayaan tradisional adalah makanan. Sebagai contoh, soto betawi. Ada dua macam soto, soto ayam dan soto daging. Kuahnya berasal dari kuah santan yang diberi bumbu rempah-rempah khas Indonesia. Soto betawi, memiliki target pasarnya tersendiri berbeda dengan bakmi jogja atau gudeg.
 
      Bisnis ini bisa saja menjadi bisnis yang menjanjikan bila dikelola dengan baik. Selain itu bisnis dapat dijadikan sebagai cara untuk melestarikan budaya tradisional. Contohnya ibu Ida, karena kecintaan dan rasa ingin melestarikan budaya betawi, maka ia memulai bisnis kuliner ini.
      Ia memahami bahwa usaha ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang ia lalui dalam bisnis ini. Dari mulai jatuh bangunnya usaha ini. Dan sekarang ini, ia dihadapkan pada persoalan salah satu bahan pokok pada soto betawinya yakni daging. Kini harga daging mulai melesat naik.
 
      Namun hal itu bijaki dengan tidak menaikkan harga sotonya. Melainkan mengurangi sedikit porsi daging pada sotonya. Wanita ini berprinsip berjualan sebagai ibadah. Ia syukuri semua yang ia dapat tanpa mengeluh dan menyikapinya dengan bijak.
 
      Menurutnya, seharusnya anak mudalah yang kini berperan aktif dalam melestarikan budaya tradisional tentunya dituntun oleh yang sudah berpengalaman. Mereka sepatutnya mengenalkan budaya sejak dini. Dan peran pemerintah tentu sangat besar pengaruhnya. Pemerintah berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan postif yang berkenaan dengan kebudayaan.
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012
 
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan
 
 
http://id.wikipedia.org/
 

HarryRiandayasa_jurnalististik1B_TugasWawancara2

Judul penelitian : Bisnis Clothing
Harry Riandayasa
jurnalistik 1B
1112051100041
 
I.                   LATAR BELAKANG
Didalam sebuah fashion, ada nilai-nilai yang ingin dipromosikan atau dikomunikasikan melalui apa yang ditampilkan. Fashion merupakan sebuah bentuk dari ekspresi individualistik. Fashion atau pakaian adalah cara yang digunakan individu untuk membedakan dirinya sendiri sebagai indifidu dan menyatakan beberapa keunikannya.
 Fashion mendefinisikan peran sosial yang dimiliki seseorang. Pakaian yang berbeda yang dikenakan oleh orang yang berbeda, memungkinkan adanya interaksi sosial yang berbeda pula. Fashion atau pakaian kerap digunakan untuk menunjukan nilai ekonomi atau status seseorang. Fashion adalah sebuah fenomena komunikatif dan kultural yang digunakan oleh suatu kelompok untuk mengkonstrusikan dan mengkomunikasikan identitasnya, karena fashion mempunyai cara nonverbal untuk memproduksi serta mempertukarkan makna dan nilai-nilai. Fashion sebagai aspek komunikatif tidak hanya sebagai sebuah karya seni akan tetapi fashion juga dipergunakan sebagai simbol dan cerminan budaya yang dibawa.
Kaos Distro, Memakai barang brended, mengunjungi distro, factory outlet dan tempat-tempat yg menyediakan berbagai barang branded, merupakan lifestyle beberapa anak muda di kota besar.
 
Clothing adalah istilah untuk menyebut perusahaan pembuat kaos distro. Istilah lengkapnya adalah Clothing Company atau perusahaan yg memproduksi pakaian jadi di bawah merek sendiri, clothing merupakan kategori untuk merek yg mengeluarkan produk pakaian jadi. Pakaian jadi ini sebagian besar adalah kaos distro yg kemudian berkembang ke berbagai perlengkapan yg menunjang gaya hidup seperti baju distro, sepatu, kacamata, jam tangan bahkan mp3 player.
 

Distro berasal dari singkatan distribution store. Berfungsi menerima titipan dari berbagai merek dari clothing company lokal yang memproduksi sendiri produknya.

Dikarenakan belum mempunyai tempat pemasaran sendiri atau ingin memperluas pemasarannya, clothing company ini akrab disebut dengan distro. Bila ditanya siapa pelopor berdirinya clothing company dan
Distro di Bandung? Pasti sulit mencari jawaban yang pasti karena semua berawal dari usaha kecil dengan gaya promosi dari mulut ke mulut.
 
Adapun clothing company adalah produsen yang memproduksi sendiri semua produk mereka dengan label sendiri pula. Sebuah clothing bisa memiliki toko sendiri atau hanya sekadar menitipkan produk
Desain Baju mereka ke distro. Kehadiran sejumlah distro dapat dibilang sudah menjadi sebuah fenomena. Hal ini membuat para pelaku distro tidak lagi dipandang sebelah mata, dan juga sudah menjadi sebuah industri, bukan lagi sebuah usaha kecil-kecilan
 
II.                PERTANYAAN PENELITIAN
Pertanyaan Pokok:
1.      Apa tujuan dari membangun usaha clothing ini?
2.      Bagaimana dengan harga yang di tawarkan?
 
Pertanyaan tambahan :
1.      Bagaimana pemasarannya?
2.      Bagaimana model-model clothing yang ditawarkan?
3.      Bagaimana tips bersaing ?
 
III.             METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan : Kualitatif. Yaitu metode sosiologi yang prosesnya mengambil data secara langsung, dimana peneliti sebagai instrument. Metode ini dilakukan dengan dasar mencari data-data yang kuat lalu dilakukan wawancara terhadap narasumber.
Wawancara ini dilakukan pada :
Lokasi : Distro Six Lines, Ciledug
Waktu : Pukul 17.45 WIB
 
IV.              GAMBARAN SUBYEK DAN OBYEK PENELITIAN.
Adis adalah pemilik sekaligus penjaga Distro tersebut. Dia membangun Distro tersebut sejak tahun 2010 tentu dengan dijaganya daya tarik para konsumennya dan kualitas baju dan barang-barang yang lainnya yang ia produksi. Distro Six Lines termasuk Distro yang cukup banyak diminati para pengunjungnya, di karenakan kualitas yang baik dan pelayanan yang ramah serta harga yang terjangkau untuk kalangan anak muda.
 
V.                 ANALISIS
Distro Six Lines didirikan oleh si pemilik dengan tujuan mencari penghasilan karena menurut si pemilik distro tersebut dengan mendirikan sebuah distro dia akan mendapatkan sebuah penghasilan dan dapat mengembangkan kemandirian diri. Bisnis clothing dipilih karena bisnis tersebut cukup menjanjikan bila dilihat dari kebutuhan anak muda dengan pakaian-pakaian yang trendy.
 
Bicara soal harga, itu juga membuat konsumen merasa cukup puas dengan harga yang ditawarkan, Dalam menentukan harga barang atau produk yang dijual memang harus disesuaikan dengan kantong dari konsumennya. Tetapi meskipun biasanya barang-barang yang di jual di distro harganya agak mahal, tetapi tetap saja tidak mengurangi minat para anak muda untuk membeli pakaian, celana, atau aksesoris yang mereka gunakan di distro. Memang gengsi di antara kalangan anak muda mempengaruhi hal tesebut, tetapi model dan kualitas barang-barang yang ada di distro sangat sesuai dengan selera para anak muda, sehingga mereka tetap membeli barang-barang yang ada di distro meskipun harganya mahal. Akan tetapi pemilik distro harus memperhatikan kualitas dari barang yang dijualnnya, agar harga yang para konsumen bayar sesuai dengan kualitas barang yang mereka beli.
 
 Dalam mendirikan distro kita harus mencari tempat yang strategis, karena sebagian konsumennya anak muda maka sebaiknya distro dibangun atau didirikan di tempat yang biasa anak muda sering berkumpul.
 
Dengan cara ini tentu distro yang didirikan akan menarik perhatian bagi para anak muda tersebut dan kemudian mengunjungi distro tersebut. Selain dengan cara tersebut, orang banyak menggunakan internet untuk mempromosikan distronya. Blog dan situs pertemanan sering digunakan untuk memperkenalkan distro yang dia dirikan kepada orang-orang. Selain itu mempromosikan melalui mulut ke mulut juga cukup efektif. Apalagi distro merupakan tempat anak-anak muda berkumpul, pasti mereka akan memberi tahu kepada temannya untuk mengunjungi distro tersebut.
 
Anak-anak muda biasanya tidak mau ketinggalan dalam hal berpakaian, mereka selalu berusaha mengikuti tren masa kini. Dan model pakaian yang dijual di distro biasanya mengkuti perkembangan tren masa kini. Seperti model gambar pada baju misalnya, biasanya distro menjual baju-baju dengan gambar-gambar artistik yang sangat bagus dan digemari anak-anak muda. Contoh lain baju-baju pada distro memiliki warna-warna yang menarik dan beraneka ragam. Dengan menyediakan seperti contoh-contoh di atas tentu para konsumen akan puas dengan barang-barang yang ada di distro anda.
 
Tips Bersaing dalam Bisnis Distro :
 
1. Memilih nama dan mendesain logo perusahaan.
Nama tersebut harus menarik perhatian dan kepercayaan dari calon konsumen potensial yg kita sasar, Sebelum memutaskan nama perusahaan, pertimbangkan dulu konsep desain logo. Itulah sebabnya kita membutuhkan seorang tenaga desainer ahli untuk menyampaikan tipe, karakter atau konsep melalui logo atau simbol, Oleh karena pentingnya logo maka tidak heran para pengusaha besar berani mengeluakan dana yg sangat besar untuk membayar konsultan atau desainer handal. Sebaiknya desain logo atau lambang tidak rumit, cukup dgn kata aau gambar yg sederhana namun bisa mewakili konsep anda dan mudah di ingat tentunya.
 
2. Coba untuk menghubungkan nama atau logo dgn bidang bisnis atau konsep bisnis.
 
3. Mencari atau mengefaliasi pasar yg menjadi target pemasaran. Cara manual dalam mencari segmen pasar adalah melalui promosi mulut ke mulut pada teman-teman atau komunitas yg kita punya. Kemudian bisa membuat brosur untuk promosi atau membuat stiker logo untuk dibagikan secara gratis kepada teman-teman atau komunitas. Memulai usaha clothing dapat dimulai dgn modal yg tidak begitu besar, yg paling penting memiliki kemampuan, memiliki tekad yg kuat, komunikatif dan memiliki ruang lingkup atau komunitas.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Narasumber : Adis Regian (pemilik Distro Six Lines)
 
 

RizaTasyaCandra_jurnalistik1B_TugasWawancara2

Judul Penelitian : Peluang bisnis Riza Furniture (bisnis keluarga)
Peneliti : Riza Tasya Candra Dewi
NIM :1112051100052
 
 
I.                   LATAR BELAKANG
Perusahaan keluargaadalah
sebuah perusahaanyang
dimiliki, dikontrol, dan dijalankan oleh anggota sebuah atau beberapakeluarga.Meskipun demikian, bukan berarti bahwa semua pekerja dalam
perusahaan harus merupakan anggota keluarga. Banyak perusahaan keluarga,
terutama perusahaan-perusahaan kecil, memperkerjakan orang lain untuk menempati
posisi rendahan, sementara posisi tinggi (top manager) dipegang oleh
orang dari dalam keluarga pemilik perusahaan.
Partisipasi keluarga dalam perusahaan dapat memperkuat perusahaan
tersebut karena biasanya anggota keluarga sangat loyal dan berdedikasi tinggi
terhadap perusahaan milik keluarganya. Meskipun demikian, seringkali timbul
masalah-masalah dalam mengatur perusahaan keluarga, terutama dalam hal
pergantian kepemimpinan. Sering pula muncul benturan-benturan antara
kepentingan keluarga dengan kepentingan perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan
akan cenderung mempertahankan seorang anggota keluarga untuk bekerja meskipun
ia kurang kompeten dalam pekerjaannya sehingga akan membahayakan kelangsungan
hidup perusahaan
 
Furniture atau Mebel adalah
perlengkapan rumah yang mencakup semua barang seperti kursi, meja, dan lemari.
Mebel berasal dari kata movable, yang artinya bisa bergerak. Pada zaman dahulu
meja kursi dan lemari relatif mudah digerakkan dari batu besar, tembok, dan
atap.
Sedangkan kata furniture berasal dari bahasa Prancis fourniture
(1520-30 Masehi). Fourniture mempunyai asal kata fournir yang artinya furnish
atau perabot rumah atau ruangan. Walaupun mebel dan furniture punya arti yang
beda, tetapi yang ditunjuk sama yaitu meja, kursi, lemari, dan seterusnya.
Dengan kesimpulan, Dalam kata lain, mebel atau furnitur adalah
semua benda yang ada di rumah dan digunakan oleh penghuninya untuk duduk, berbaring,
ataupun menyimpan benda kecil seperti pakaian atau cangkir. Mebel terbuat dari
kayu, papan, kulit, sekrup, dll.
Saya
ingin menunjukan bahwa negara kita kaya akan produki kayunya, dan kita bisa
memanfaatkan untuk UKM ini dan berikut juga negara ini. Sekaligus memotivasi
untuk membuat sebuah usaha kecil keluarga.
 
 
 
II.                  PERTANYAAN POKOK PENELITIAN
Pertanyaan Pokok
:
1.       Bagaimana Riza
Furniture memproduksi suatu barang?
2.       Bagaimana upaya Riza
Furniture dalam mengembangkan usahanya di tengah persaingan ekonomi?
 
Pertanyaan tambahan :
1.      Berapa banyak karyawan
yang dipekerjakan ?
2.      Apa saja kendala yang
di hadapi?
3.      Bagaimana cara
menghadapi kendala-kendala tersebut?
4.      Apa tujuan dari
membangunnya Riza Furniture?
 
 
 
III.                METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan: Kualitatif. Yaitu metode sosiologi yang
prosesnya mengambil data secara langsung, dimana peneliti sebagai instrument.
Metode ini dilakukan dengan dasar mencari data-data yang kuat lalu dilakukan
wawancara terhadap narasumber.
Wawancara ini dilakukan pada :
Lokasi :
Rumah Bapak Syatiri (Pemilik Riza Furniture)
Waktu: Pukul 20.00 WIB
 
 
IV.               GAMBARAN SUBYEK DAN OBYEK PENELITIAN
Bapak Syatiri (
Jakarta, 05 Oktober 1959) sebagai pemilik usaha mebel keluarga Riza Furniture
memulai usaha dari tahun 1982. dengan bermodalkan pengalaman dan keterampilan
dibidang mebel dan tabungan yang disisihkan dari penghasilannya selama menjadi
pekerja pada perusahaan mebel. Awalnya Riza Furniture tentu tidak langsung
berdiri pesat, di awali dengan melalui mulut ke mulut lalu sampai memiliki
modal untuk membangun Riza Furniture.
Beliau selalu
mempertahankan konsumen dengan cara masih terjun langsung yang mengerjakan
mulai dari menggambar atau mendesain sampai menyerut,memotong,menyirlak
kayu-kayu menjadi sebuah mebel meskipun sebenarnya beliau mampu memperkerjakan
karyawan tapi bveliau tetap ingin langsung dari buah tangannya sendiri.
 
V.                 ANALISIS
Riza Furniture
melakukan produksi dengan sistem pesan terlebih dahulu dan membuat sampel untuk
promosi, lalu Bpk Syatiri (pemilik) akan megajukan beberapa krya desainnya dan
konsumen tinggal memilih mana yang cocok dengan minat konsumen itu sendiri.
Dalam proses produksi
ada  beberapa tahapan mulai dari
pemilihan bahan, pengukuran, perakitan, penyelesaian.
Bahan baku mebel yang
bisa Riza furniture produksi adalah kayu jati dan kayu non jati, kayu non jati
seperti misalnya kayu johar, kayu aboria, kayu pinus, kayu nangka dan
lain-lain. Selain bahan baku kayu jati masih diperlukan tambahan beberapa bahan
pembantu yang sering digunakan untuk pembuatan mebel antara lain sebagai
berikut : polytur digunakan untuk mempercantik penampilan mebel, alat kunci,
paku, lem, engsel, dan lain-lain. Memperoleh bahan baku dari supplier yang
tidak tentu (tergantung kebutuhan dan harga).
 Alat produksi yang digunakan oleh
para tukang mebel terdiri dari alat-alat yang masih sederhana tetapi ada juga
yang sudah modern. Alat-alat mebel tersebut antara lain : Gergaji, Bur, Bubut,
Sekel, Asah / Kikir, Bengso (alat pemecah kayu).
 
Dari sebuah usaha kecil ini, pemilik ingin mengembangkan usahanya untuk
menjadi lebih besar lagi. Upaya yang dilakukan Riza Furniture adalah
meningkatkan kualitas produk dengan memberikan desain mebel yang lebih unik,
dan bervariasi tentu juga dengan mengikuti jaman. 
Selain meningkatkan kualitas produk, Riza Furniture juga meningkatkan
pelayanan terhadap pelanggan dengan memberi garansi produk jika ada produk
barang yang rusak, tepat waktu dalam memproduksi pesanan pelanggan.
 
Karena usahanya yang semakin berkembang, pemilik tidak bisa bekerja dengan
tangannya sendiri, tentu suatu usaha akan bisa dinilai berkembang jika bisa
memiliki karyawan. Jumlah tenaga kerja yang ada 25 orang, Mereka termasuk
tenaga terampil dan berpengalaman dibidang ini dan itupun melalui selektif yang
tinggi.
Untuk tetap menjaga stabilitas usaha keluarga ini, Bpk Syatiri
mempercayakan kepada anak-anaknya untuk meneruskan usaha keluarga ini. Dengan
kelebihan pada konsumen yang sudah tetap mempercayai Riza Furniture pun secara
turun menurun.
 
Di dalam sebuah usaha tentu semua menghadapi sebuah kendala yang harus di
hadapi.
Ada beberapa kendala yang umumnya dihadapai oleh Riza Furniture seperti:
a.       Kesulitan
Memperoleh Bahan Baku
Sulit mendapatkan bahan
baku dengan kualitas yang bagus dan harga terjangkau. Penggunaan bahan baku
yang spesifik dan unik untuk usaha mebel dan tidak selalu terdapat di wilayah
sekitar.
b.      Keterbatasan
Teknologi
Minimnya pemanfaatan
teknologi internet dalam desain, pemasaran, dan promosi hasil produksi.
Keterbatasan pengguasaan IT, sistem yang ada kurang mendukung, dan kurang
tersedianya SDM pendukung menjadi kendala dalam pengembangan usaha.
c.       Keterbatasan
Sumber Daya Manusia dengan kualitas yang baik
Sulitnya mendapat
tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam bidang usaha mebel seperti
mengukir, mendesain, mengecat, dll.
Cara mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut :
Usaha Riza Furniture harus memikirkan bahan baku alternatif lainnya sebagai
pengganti bahan baku utama untuk mengatasi kesulitan memperoleh bahan baku.
Untuk masalah dibidang Teknologi, Riza Furniture harus menambah tenaga
kerja yang memiliki keahlian TI. Dengan adanya teknologi informasi dapat
mempermudah usaha Sindang Jaya dalam memasarkan produknya.
Cara yang dilakukan untuk memperoleh SDM dengan kualitas yang baik adalah
penerapan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dengan
tujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan keahlian serta profesionalisme tenaga
kerja dan mendorong peningkatan produktivitas industri mebel.
Tujuan Bpk Syatiri mebangun usaha keluarga seperti Riza Furniture ini
adalah untuk mempererat keluarga, dan menjamin masa depan sanak keluarganya
dengan begitu akan bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh keluarga sendiri.
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
www.google.com
www.wikipedia.com
Narasumber : Bapak Syatiri (pemilik Riza Furniture)

Institusi Bisnis_IndahPermataSari_JNRL1B_Laporan

Judul Penelitian:
Pentingnya Jasa Perbaikan Barang Elektronik Terhadap Kehidupan Sehari-hari Masyarakat di Era Modern
Peneliti:
Indah Permata Sari
Jurnalistik 1B (1112051100051)
 
I.                  Latar Belakang
Kebutuhan manusia terhadap barang-barang elektronik di zaman modern ini sangat tinggi. Di mana-mana manusia bisa dengan mudah menemukan barang elektronik, baik itu di Rumah Sakit, Kantor, Kampus, Sekolah, Taman Bermain, di manapun tempatnya barang elektronik pasti selalu ada. Manusia pun tidak henti-hentinya menciptakan teknologi-teknologi baru untuk memenuhi hasrat manusia yang tidak pernah puas. Teknologi baru akan menggantikan teknologi yang lama, misalnya dulu manusia menggunakan kalkulator sebagai alat untuk menghitung sekarang kalokulator bias kita gunakan di Ponsel kita yang merupakan alat multifungsi yang juga di mana ponsel adalah alat pengganti media komunikasi yang dulunya kita lakukan dengan surat-menyurat. Ponsel menjadi alat multifungsi yang bias kita gunakan selain untuk berkomunikasi tapi juga alat untuk menghitung, alat untuk hiburan, alat untuk mengakses internet dan lain-lain. Selain Ponsel masih banyak lagi alat-alat elektronik lainnya yang sudah manusia ciptakan untuk kebutuhan manusia.
Barang-barang Elektronik bukan benda yang abadi, ada kalanya barang-barang tersebut rusak yang disebabkan berbagai macam hal, bias dikarenakan kecerobohan manusia, rusak karena faktor bencana alam, atau memang komponen dari barang elektronik tersebut yang tidak bagus. Banyak perusahaan-perusahaan barang elektronik yang menyediakan garansi untuk barang elektronik yang telah mereka jual kepada konsumen, tapi garansi mempunyai jangka waktu tertentu, bila barang rusak lewat dari jangka waktu yang telah ditetapkan maka perusahaan tersebut tidak menanggung kerusakan barang tersebut. Karena itulah sekarang ini banyak orang yang membuka usaha jasa perbaikan barang-barang elektronik. Melihat ketergantungan manusia akan barang-barang elektronik membuka jalan bagi masyarakat yang mempunyai keahlian dalam hal tehnik mesin untuk mencari nafkah lewat bisnis ini.
 
II.               Pertanyaan Pokok Penelitian
Berdasarkan uraian tersebut, saya mengambil dua pokok permasalahan, yaitu:
1.      Bagaimana prospek kerja di bidang jasa perbaikan barang-barang elektronik.
2.      Apa saja modal yang harus dimiliki saat ingin membuka jasa perbaikan barang-barang elektronik.
 
III.           Metode Penelitian
Metode penelitian yang saya ambil yaitu lewat metode kualitatif. Metode Kualitatif mengambil data secara langsung dan memakan energy yang lebih banyak. Metode Kualitatif ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan melakukan interview atau berpartisipasi langsung. Saya melakukan penelitian dengan interview. Metode ini tidak menggunakan angket, melainkan dengan pertanyaan seperti mengapa atau bagaimana sehingga subyek penelitian menjawab dengan lebih jelas dan rinci. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputar dengan tema yang saya ambil yaitu, Pentingnya Jasa Perbaikan Barang Elektronik Terhadap Kehidupan Masyarakat di Era Modern.
Wawancara ini dilakukan:                                                    
Lokasi       : Kediaman Bpk Muchlis RT 008 RW 013 No.16
                    Jl. Mawar 2 Rempoa, Bintaro Jakarta-Selatan
Waktu       : Minggu, 18 November 2012
 
IV.             Gambaran Subyek atau Obyek Penelitian
Pada wawancara kali ini saya mewawancarai seorang yang membuka usaha bisnis jasa perbaikan barang-barang elektronik. Ia bernama Bpk. Muchlis. Tokonya bernama Erajaya Teknik. Ia sudah melakukan jasa perbaikan barang-barang elektronik sejak 20 tahun yang lalu. Sebelum bekerja tetap sebagai seorang reparasi barang elektronik ia membuka usaha kantin bersama isterinya di suatu pabrik di daerah Gintung. Setelah ia menutup kantinnya ia lalu membuka jasa perbaikan barang elektronik untuk menafkahi keluarganya.
Berikut biodata singkat Bpk. Muchlis:
Nama                               : Muchlis
Tempat, tanggal lahir       : Bengkulu, 31 Desember 1954
Pendidikan                      : SMEA
Moto Hidup                     : Berusaha sekuat tenaga tanpa pamrih demi keluarga
Saya meneliti tentang pentingnya jasa perbaikan barang-barang elektronik terhadap kehidupan masyarakat di era modern. Saya mengambil tema ini karena saya tertarik dengan usaha yang Bpk. Muchlis jalani. Walaupun jasa ini adalah usaha bisnis kecil-kecilan tapi beliau bisa menafkahi keluarganya hingga saat ini. Hal ini menyadarkan saya bahwa sekecil apapun suatu profesi, asalkan profesi yang dijalani itu halal dan baik kita tetap bisa menjalani hidup ini dengan baik pula.
 
V.               Analisis
Toko usaha jasa yang Pak Muchlis jalani bernama Erajaya Teknik. Beliau sudah menjalankan bisnis ini sejak 20 tahun yang lalu selepas usaha pengolahan kantin di sebuah pabrik. Beliau memilih untuk membuka usaha bisnis ini karena yang pertama adalah tuntutan hidup, di saat ia membuka usaha kantin ia harus siap sebelum bahkan orang datang, tetapi saat ia menjalankan usaha jasa ini orang lain lah yang mencari dia sehingga ia lebih banyak mempunyai waktu luang. Lalu di samping itu ia pun juga mempunyai kemampuan di bidang ini yang telah ia pelajari dari temannya yang lebih ahli.
Dalam memperbaiki sebuah barang elektronik, orang tersebut harus tau mesin terlebih dahulu. Dicari apa sebenarnya kerusakannya. Misalnya ada kulkas yang tidak hidup, dicek dari pertama power yang masuk, bila power yang masuk ada lalu dicek lagi dari overload, bila overload bagus juga dicek lagi ampere mesin yang di mana ampere ini menentukan apakah mesin itu terbakar atau tidak, baru setelah itu diperbaiki, kalau tidak bisa diperbaiki diganti mesinnya.
Orang yang ingin memperbaiki suatu barang elektronik maka ia sangat memerlukan keahlian khusus dalam hal mesin, salah satunya  orang tersebut harus mengerti arus listrik karena listrik itu sangat berperan dalam hidup atau tidaknya suatu barang elektronik. Orang tersebut juga harus mengetahui komponen-komponen mesinnya. Lalu orang itu harus mengerti jenis mesin apa yang ia perbaiki saat itu karena barang elektronik yang satu dengan yang lainnya berbeda. Misalnya mesin yang digunakan untuk AC berbeda dengan yang digunakan untuk Kulkas padahal mereka sama-sama pendingin, yang satu pendingin ruangan dan yang satu pendingin freezer. Kita tidak bisa menyamakan diantara keduanya maka kita harus mengerti semua jenis mesin.
Pak Muchlis pertama kali mempelajari cara-cara memperbaiki barang elektronik dari pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan dari temannya yang sudah ahli dalam hal ini. Awalnya beliau menjadi anak buah dari temannya, lalu ia berinisiatif untuk melakukan perbaikan barang elektronik yang ia miliki sendiri. Dan ternyata ia bisa memperbaiki barang elektronik tersebut karena ia selalu memperhatikan temannya melakukan perbaikan barang elektronik, dengan kata lain sebenarnya ia mencuri pengetahuan temannya itu tetapi beliau menekankan mencuri di sini bukan dengan cara yang negative melainkan untuk menambah pengetahuannya dan pengetahuan itu ia jadikan usaha sekarang. Beliau bisa memperbaiki semua jenis barang elektronik rumah tangga.
Sejauh ini rata-rata dalam setiap harinya Pak Muchlis selalu ada panggilan untuk memperbaiki barang elektronik. Hal ini karena masyarakat pasti mempunyai barang elektronik dan pasti sangat membutuhkan barang itu dan pasti ia pakai setiap hari. Barang tersebut pasti akan rusak jadi bisa dikatakan jasa perbaikan barang elektronik tidak akan pernah mati. Maka prospek kerja dalam bidang jasa perbaikan elektronik ini sangat bagus dan semua orang membutuhkan jasa seperti Pak Muchlis ini.
Resiko dalam memperbaiki barang elektronik itu tergantung si pembetuk barang tersebut, contohnya lalai dalam pengecekan mesin, seharusnya saat ia mengecek mesin kulkas semua aliran listrik menuju kulkas harus dinonaktifkan untuk menghindari sengatan listrik, tetapi ia tidak melakukan hal itu dan akhirnya akan membahayakan orang tersebut maupun si pemilik kulkas.
Dalam satu hari Pak Muchlis bisa menerima enam bahkan lebih panggilan untuk membetulkan barang elektronik. Dalam usaha jasa itu sebenarnya tidak memerlukan modal. Pak Muchlis hanya butuh keahlian yang memang dimiliki dari pengetahuan dan pengalaman lalu beberapa alat-alat untuk membutuhkan mesin. Selain itu tidak ada modal lain yang ia gunakan, hanya senilai uang untuk membeli barang bekas lalu ia perbaiki barang tersebut lalu ia jual lagi barang tersebut kepada pembeli. Ia bahkan memberikan garansi yang biasanya ia berikan selama 6 bulan karena barang yang ia jual adalah barang bekas.pak Muchlis dalam menjalankan usaha jasanya ini ia tidak sendiri, ia juga mengajak temannya dalam usaha ini. Jadi di saat ada panggilan, maka ia dan temannya yang datang untuk membetulkan barang, dan hasilnya pun di bagi dua. Karena menurut Pak Muchlis ilmu itu tidak bisa kita miliki sendiri, ilmu harus dibagi kepada orang lain agar orang tersebut bisa memanfaatkan ilmu yang ia dapat tersebut untuk kehidupannya.
Harapan Pak Muchlis kedepannya yaitu semoga kedepannya masa depannya cerah terutama dalam jasa perbaikan barang elektronik ini karena barang-barang elektronik rumah tangga itu 85% pasti rusak dan orang akan membutuhkan jasanya.
 
DAFTAR PUSTAKA
·         Narasumber : Bpk. Muchlis

Cari Blog Ini