Sabtu, 24 November 2012

TUGAS 10/ SARAH MEIDA PRATIWI/ KPI 1E

Nama               : Sarah Meida Pratiwi

NIM                : 1112051000160

Tugas               : 10

Tema                : Agama dalam Sosial

 

PENGARUH ADANYA PESANTREN DIMASYARAKAT SEKITAR

 

I.            Latar Belakang

Di Indonesia banyak terdapat jenis pendidikan yang berbeda. Ada yang berorientasikan pada sekolah bertaraf internasional atau sekolah-sekolah keagamaan. Seperti contoh sekolah keagamaan islam yaitu pesantren. Pesantren merupakan sistem institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ia lahir dari suatu kearifan lokal Nusantara yang telah bertahan secara eksistensial selama berabad-abad, di mana pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan agama Islam diharapkan dapat diperolah di pesantren. Dalam sistem pendidikan pesantren tidak dikenal adanya kelas-kelas sebagai tingkatan atau jenjang. Makin cerdas seseorang maka semakin sedikit waktu yang digunakan untuk belajar di pesantren. Bahkan di pesantren dikenal dengan santri kelana yang merupakan tradisi khas seseorang dalam mencari ilmu di pesantren yang bersifat amat individual.

Menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama H. Abdul Jamil, jumlah pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia ada 25.000 pondok pesantren. Dari banyaknya pesantren di Indonesia dipastikan pesantren dapat mempengaruhi hal-hal disekitarnya baik itu dalam hal negative maupun yang positif. Sebagai contoh pesantren yang berada di Pondok Cabe yaitu pesantren Nur Medina. Pesantren ini banyak memberikan pengaruh pada masyarakat disekitarnya.

 

II.            Pertanyaan

Bagaimana pesantren ini memberi  pengaruh pada masyarakat sekitarnya?

 

III.            Metode Penelitian

Kualitatif, metode ini dipilih karena penelitian ini berupa penjelasan dari informan melalui teknik wawancara secara langsung dan hasil dari wawancara merupakan penjelasan yang real dan lebih mendalam.

Waktu              : 22 November 2012, jam 11.00-14.00

Tempat             : pesantren Nur Medina, jl.pondok cabe III, Tanggerang

 

IV.            Gambaran Tokoh

Narasumber Penelitian ini bernama Ubay. Ia sebagai pengajar di pesatren selama 2tahun dengan sukarelawan. Dia juga mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah.

 

V.            Analisis

 

Pesantren Nur Medina berdiri sejak tahun 2004 namun mulai diresmikan pada tahun 2009. Pendiri pesantren ini adalah Ust. Endang Husna. Anggaran yang digunakan untuk membangun pesantren ini diberikan dari para ustadz yang mengajar dan para donator. Dahulu pesantren ini hanya tempat pengajian biasa namun banyaknya saran dari masyarakat sekitar untuk membangun pesantren akhirnya ustadz Endang membangun pesantren Nur Medina ini yang berbasis pada al-Qur'an. Jumlah nurid pesantren ini berkisar 250 orang. Jumlah pengajar ada 30 orang dan mengajar secara sukarelawan tanpa dibayar hanya diberi penginapan bagi pengajar yang masih berkuliah dan tidak memiliki tempat tinggal. Pesantren ini juga membebaskan biaya kepada semua murid-muridnya. Murid pesantren ini terdiri dari playgroup, taman kanak-kanak, SD, SMP, dan SMA.

Pesantren Nur Medina ini banyak memberikan pengaruh-pengaruh positif dimasyarakat. Banyak anak-anak yang berdatangan ke pesantren ini untuk belajar mengaji. Tanggapan masyarakat sekitar juga baik terhadap  pesatren ini karena para anak-anak tidak menghabiskan waktu untuk bermain saja. Para orang tua memberikan kepercayaan penuh terhadap pesantren ini karena mereka yakin pesantren ini bagus bagi anaknya. Di pesantren ini juga tidak hanya belajar mengaji saja tapi selalu mengadakan dzikir bersama dan setiap malam ahad pesantren ini mengadakan shalat tahajud bersama. Acara ini tidak bersifat memaksa siapapun yang ingin ikut atau tidak ikut dibolehkan.

ANNISAH BILQIS. KPI 1 E, Pengaruh Santri setelah Di didik di Pondok Pesantren

Pengaruh Santri setelah Di didik di Pondok Pesantren
 
Annisah Bilqis
1112051000158
-         LATAR BELAKANG
Pondok pesantren adalah suatu tempat yang diajarkan pendidikan formal dan agama yang sangat kuat. Memiliki keterikatan dengan pribadi seseorang untuk mencapai kemandirian. Pada zaman para Wali, pondok pesantren mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat untuk menyebarkan agama Islam.
-         Pertanyaan Pokok
Apakah santri memiliki banyak perubahan selama belajar di pondok pesantren ini?
-         Metode Penelitian
Metode kualitatif. Lokasi bertempat di Pondok Pesantren Al-Washilah di Jl. Kamp Baru No. 20 Kel. Kembangan Utara Jakarta Barat. Waktu pada pukul 14.00-16.00 WIB.
-         Gambaran Tokoh
Narasumber yang saya wawancarai bernama H. Muhammad Sahidi Rahman MA. Beliau adalah salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Al-Washilah. Beliau lulusan Pondok Pesantren Al-Washilah pernah kuliah di IAIN dan mengambil gelar MA di AL-Aqidah .
-         Analisis
Saya mewawancarai salah satu pondok pesantren yang ada di Jakarta. Yang bernama Al-Washilah. Pondok ini memiliki 250 santri yang dibagi menjadi Mts/SMP dan SMK. Pondok ini dibangun kerena suatu lembaga pada zaman Rosulullah untuk mencetak perilaku pemimpin. Pondok ini juga berbasis salaf dan modern. Salaf terhadap ajaran agamanya yang sangat ditekankan pada setiap pondok pesantren. Modernnya adalah pembelajaran pada pendidikan formal dan peraturannya. Pada pondok ini yang sangat menonjol pada pelajaran agamanya adalah Ilmu Fiqh karena dipakai untuk masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dipondok ini juga sudah banyak terutama masyarakat yang juga ikut serta mengikuti seperti pengajian yang diadakan setiap sebulan sekali. Kegiatan para santri untuk mengisi kejenuhan juga disertakan kegiatan ekstrakulikuler sepak bola, music, PASKIBRA, PMR dan kader dakwah. Walaupun ada orang tua wali santri yang beranggapan ekstrakulikuler seperti musik haram, dipondok ini juga tidak terlalu fanatik terhadap ekstrakulikulernya tetapi hanya untuk mengisi kejenuhan para santri. Banyak orang tua wali santri yang memasukkan anaknya ke pondok karena si anak tidak berprestasi dalam bidang pendidikan dan sudah tidak sanggup menangani kenakalannya. Alhasil jika santri pondok dididik dengan ikhlas, para santri juga pasti hasilnya akan baik. Karena pendidikan pondok adalah untuk melatih kemandirian seseorang. Para santrinya juga pasti sadar akan kehidupan pondok yang tanpa orang tua dan harus 24 jam dibekali oleh ajaran pendidikan formal dan agama yang sangat kuat. Perubahan akan terlihat jika para santri ikhlas menjalaninya dan selalu dekat kepada Allah. Para pengurus di pondok ini juga harus memberikan contoh teladan yang baik. Masyarakat sekitar pondok ini menganggap baik-baik saja tentang keberadaan pondok. Para santri kebanyakan bermasalah pada dua ajaran yaitu akhlak dan pembacaan Al-Qur'an. Di pondok ini juga terbuka untuk para alumni, tetapi hanya boleh belajar kitab kuning dan Ilmu Fiqh dan harus mengikuti aturan pondok jika sudah masuk ke wilayah pondok. 

Arif Syahrizal ( PONDOK PESANTREN )

Nama                        : Arif Syahrizal

NIM                          : 1112051000133

PERAN PONDOK PESANTREN AL WASHILAH TERHADAP AGAMA

A.   Latar  Belakang

 

Menurut lurah pondok pesantren Al Washilah yang bernama H. Muhammad Sahidi Rahman, MA, beliau memberikan beberapa informasi tentang pondoknya tersebut yang mengenai sejarah singkat berdirinya pondok pesantern Al Washilah. Bahwa Al Washilah didirikan oleh seorang ulama besar yang bernama DR. KH. Ahmad Dasuki Adnan, SH, MA yang berdiri pada tahun 1988 yang berdiri diatas permukaan kota Jakarta dan menempati tanah seluas 8.000 m.

 

Pondok pesantren Al Washilah adalah pondok yang meliputi baik itu pondok modren ataupun pondok salafi karena kurikulim yang dipakai sesuai dengan kriteria pondok modren maupun tradisional yang dalam pengajarannya ketika waktu pagi hari dari jam 07.00 WIB dipenehui dengan kegiatan yang berlandaskan pada kurikulum nasional sedangkan dari jam 12.00 atau selepas ba'da dzhur dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang mencakup kegiatan salafi. Pada program salafi pendiri selalu menekankan pada materi fiqhnya karena beliau beranggapan bahwa fiqh adalah sebuah materi agama yang selalu digunakan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.

 

Pada awalnya pondok pesantern Al Washilah hanya bergerak dibidang pendidikan informal saja seperti majlis ta'lim, kuliah Ramadhan, festival qosidah, serta kegiatan-kegiatan keislaman lainya. Zaman dari zaman islam semakin maju begitu pula pada pondok pesantern Al Washilah dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan yang mengarah pada kebaikan sehingga masyarakat pun ikut serta dalam pengembangan pondok pesentern sehingga pada tahun 1988 dibuka TK, TPA, MTs, SLTP, SMK dan perguruan tinggi. Pendiri  beranggapan bahwa pesantren diambil dari sunnahnya rasulullah dan para waliyullah yang dapat menggantikan atau mempersiapkan para kader penerus umat islam yang berjiwa mulia dan berakhlakul karimah.

 

B.   Pertanyaan Pokok

1.      Bagaiman peran serta masyarakat terhadap kegiata-kegiatan yang diadakan oleh pondok ?

Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui apakah masyarakat setempat benar-benar mendukung didirikannya pondok pesantren didaerah tempat mereka tinggal dan untuk mengetahui apakah masyarakat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pondok pada kegiatan tertantu saja atau secara global.

 

C.   Metode Penelitian

Metode penelitian         : kualitatif, metode ini digunakan untuk mengetahui peran serta pondok dalam bidang agama secara lebih terperinci dan untuk mengetahui berapa banyak pengaruh pondok terhadap perkembangan agama islam.

Waktu penelitian          : 22 November 2012, jam 14.00-15.00

Tempat penelitian         : Jln. Kp Baru. Kembangan Utara. Jakarta Barat ( Pondok Pesantren Al Washilah )

 

D.   Sumber Penelitian

Dalam penelitian ini bersumber dari seorang tokoh yang bernama H. Muhammad Sahidi Rahman, MA dan beliau berperan penting dalam perkembangan pondok pesantren al washilah dan beliau mempunyai jabatan yaitu sebagai lurah pondok atau yang bisa disebut dengan pengasuh yang mengatur disiplin santri.

 

E.   Analisis

 

Pondok Pesantren adalah sebuah lembaga yang dapat menyiapkan para Da'i dan para mubaligh agama karena dalam kesehariannya para santri selalu diajarkan berbagai macam-macam tentang materi yang menyangkut masalah agama khususnya materi fiqh dan pondok pesantren juga merupakan sebuah lembaga yang sudah tua dan terkenal dalam sebuah pendidikan agama karena pondok pesantren didirikan pertama kali pada waktu para sunnan atau waliyullah yang selalu berjuang demi agama Allah yang diyakini oleh mereka.

 

Dalam perkembangan pondok pesantern khususnya sebuah pondok yang saya teliti yaitu pondok pesantern al washilah bahwa peran serta masyarakat sangat membantu pondok dalam pengembangannya karena tanpa ada dukungan dari masyarakat maka tidak mungkin pondok tersebut dapat berdiri seperti sekarang ini.

 

Menurut lurah pondok yang bernama H. Muhammad Sahidi Rahman, MA bahwa untuk memberikan kepercayan terhadap masyarakat, pondok selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang selalu melibatkan masyarakat dan pondok juga mengadakan sebuah pengajian yang mengaji kitab yang biasa dibahas oleh santri yaiti kitab kuning dan biasa disebut dengan kitabnya para santri salaf, sehingga dengan diadakannya kegiatan tersebut masyarakat dapat lebih memahami arti pondok dalam lingkup pengembangan agama islam yang disiapkan untuk generasi penerus yang dapat membawa masyarakat yang akan datang tetap selau berada di jalan yang lurus, yaitu jalan yang Allah ridhai.

 

Beliau juga beranggapan bahwa masyarakat setempat juga membutuhkan pendidikan yang bisa membawa masyarakat menuju jalan yang benar, namun masyarakat juga memberikan dampak yang berpengaruh dalam pendidikan di dalam pondok dan pengaruh yang biasa sering dilakukan masyarakat setmpat adalah pengaruh yang bersifat negatif karena pada disiplin pondok diterapakan bahwa para santri dilarang merokok dan bagi siapa saja yang melanggar disiplin tersebut akan dikenakan sanksi, namun para santri ketika membeli rokok mempunyai alasan bahwa ia ingin membeli kebutuhan yang biasa digunakan seperti sabun mandi, sikat gigi dan lain-lain sehingga santri dengan mudah membeli rokok dan dibawa kedalam pondok dan masyarakat  selalu memberikan santri rokok dari santri yang mempunyai saudara atau yang kenal dengan masyarakat setempat sehingga menimbulakan masalah yang sulit dipecahkan.

 

Waktu demi waktu masalah tersebut dapat ditangani oleh pihak pesantren, yaitu dengan cara pihak pesantren mendirikan mini market yang didalamnya terdapat perlengkapan santri sehari-hari sehingga para santri tidak di ijinkan lagi keluar pondok dengan alasan apapun kecuali santri itu benar- benar sakit dan harus dibawa kerumah sakit dan cara selain cara tersebut adalah dengan cara bagi para masyarakat yang datang atau berkunjung kepondok harus mengikuti disiplin pondok yaitu dengan cara berpakai sopan dan lain-lain.

 

Pengurus pondok ketika mengadakan kegiatan-kegiatan yang mencakup atau melibatkan masyarakat setempat tanpa mengambil atau meminta sumbangan kepada masyarakat setempat karena pengurus pondok beranggapan bahwa pondok tanpa harus didasari dengan sumbangan baik itu sumbangan dari masyarakat maupun dari kalangan atas. Setiap kegiatan-kegiatan yang diadakan pasti mempunyai nilai-nilai agama yang terkandung didalamnya tanpa menggalkan nilai-nilai sosial karena sebuah kegiatan harus didukung oleh masyarakat.

Jumat, 23 November 2012

milki amirus sholeh: tugas 10 : interkasi sosial agama

KIAYI DAN SANTRI : SEBUAH TINJAUAN ETIKA AGAMA
YANG BERKEMBANG DALAM PESANTREN
Nama   : Milki Amirus Sholeh
Nim     : 1112051000138
a)      Latar belakang
Pesantren merupakan lembaga yang lingkupnya masih dibilang tradisional dalam menjalankan kependidikan yang di jalankan hal ini pulalah yang menyebabkan pondok pesantren merupakan pendidikan paling tertua di indonesia saat ini, hal ini tak bisa di pungkiri keberadaannya biasa jadi ketika sebelum masa-masa perjuangan sebagai tonggak kemandirian bangsa untuk bebas dalam berpendidikan karena pada masa penjajahan bangsa ini amat sangat dikebiri untuk mengenyam sebuah pendidikan, dan ternyata di nusantara (nama sebelum indonesia) sudah banyak berjejer pendidikan keagamaan terutama yang bersifat keislaman yaitu pesantren
            Menurut Ahmad mansyur Suryanegara " pesantren bukan saja sebuah instansi tapi pesantren pada masa lalu bisa merupakan penggemblengan pada kaula santri akan bagaimana menegakkan keadilan di nusantara yaitu melaui bentuk perlawanan pada penjajah"
            Dengan kata lain merupakan satu penomena bagaimana sebuah pondok pesantren yang sudah lama berproses sejak lama mampu dan terus bertahan dalam kehidupan yang serba modern saat ini sehingga apakah adanya transpormasi yang terjadi dalam sebuah pesantren mulai dari cara pendidikan atau platform pesantren itu sendiri, pada kenyataannya dalam pesantren tak banyak berubah dlam susunan dalam pondok yaitu adanya seorang pengasuh atau yang dikenal kiayi dan seorang murid yang biasa di bilang santri
            Sangat unik dalam kehidupan pesantren , sebuah keterbangunan akan kesamaan prinsip dan atutran yang baku pada setiap santri agar menjadi pentaatan pada pondok pesantren, dengan demikian pasantren tak hanya menyediakan sebuah seperangkat pendidikan namun juga seperangkat aturan yang mengikat pada seorang santrinya, sehingga dicapailah sebuah kesepahaman antara para pengasuh pondok dan dan kaula santri yang di bimbingnya
            Dalam studi kasus seperti ini maka yang terlintas bagaimana membangun sebuah kesepahaman antara pemahaman pak kiayi yang dituangkan lewat aturan pesantren terhadap para santrinya ataukah adanya hal yang menjadikan pemahaman ini mudah masuk pada seorang santri
            Pondok pesantren AL-WASHILAH yang terletak di jakarta barat dengan nama pendiri Dr.KH.Ahmad Dasuki Adnan.SH.MA  pondok pesantren ini masih terbilang muda yaitu  berdiri tahun 1988 , pesantren ini dipilih sebagai objek penelitian di karenakan pondok pesantren ini merupakan satu satunya pondok pesantren yang terletak di daerah pemukiman sehingga sangat penting bagaimana membangun sebuah interaksi terhadap masyarakat sekitarnya dan bagaimana pula membangun sebuah pendidikan yang nyaman dalam lingkup masyrakat yang beragam dan tentunya tidak selalu menekankan sikap agamamis.
b)      Pertanyaan pokok
1)      Bagaimanakah keterikatan kiayi terhadap para santri dalam memberikan sebuah aturan dan metode pengajaran dalam pesantren?
c)      Metode penelitian
Metode penelitiaan          : kualitatif ,metode ini digunakan  dalam rangka mengetahui sejauh mana hubungan yang dibangun dalam penggemlengan santri dalam kehidupan kepesantren, dan menelisik adanya hal yang bersifat sangat dalam , sehingga perlu di verivikasi lebih lanjut tentang hal tersebut.
Waktu                              : 22 november 2012 , jam 09:00-15:30
Tempat                             : pondok pesantren AL-WASHILAH
                                          JL. Kp. Baru no.20 .RT.004/010
                                          KEL. Kembangan utara , jakarta barat          
 
d)     Gambaran tokoh
nara sumber Drs.H. Muhamad Sahidi Rahman.MA  beliau merupakan ketua dalam jajaran pengurus pesantren AL-WASHILAH disisi lain beliau juga dikatakan merupakan keluarga dari pengasuh yang sudah tau bagaimana perkembagan dalam pesantren AL-WASHILAH dan bagaimana peran pondok pesantren dalam menjalankan pendidikan., disisi lain pula beliau juga seorang dosen di salah satu  universitas  
Analisis
Dalam sebuah pesantren identitas moral bukan lagi sebagai mata pelajaran wajib dalam pesantren itu sendiri melainkan penanaman pertama dalam kaula insan santri nya sehingga apa bila etika dan moral atau yang lebih di kenal ahlak gagal dalam penerapan kehidupan sehari hari santri maka perlu pembinaan lagi, dan hal ini pulalah yang sampai saat ini  tak bisa di tolak bahwa sistim dalam pesantren berbeda.
            Disinilah bagaimana seorang kiayi sangat berperan dalam dalam pembentukan karakter pada seorang santri yang di dahului dengan pengenalan beretika, bukan saja dalam agama saja etika itu di jalankan tetapi terhadap siapapun mereka harus beretika, dengan terbentuknya karakter yang berahlakul karimah barulah penggemblengan keilmuan akan berangsur angsur oleh seorang kiayi. 
            Hal ini lah yang juga mengidentifikasikan bahwa rasa hormat yang tinggi pada seorang kiayi dalam pesantren adalah mutlak dijalankan oleh semua santri yang ada dalam lingkup pesantren hal semacam ini banyak di jumpai di lingkup pesantren salafiyah sedangkan dalam pondok pesantren yang modern sikap seperti ini tak terlalu di tingikan hanya sebatas rasa hormat kepada seorang guru saja, pesantren salaf yang pada umumnya membangun kepercayaan pada seorang kiayi, dengan kata lain jika seorang santri hormat pada kiayi nya maka di yakini apa-apa saja ilmu yang diberikan oleh kiayi akan bermampaat maka tidak segan- segan seorang santri melakukan rasa hormat dengan menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat pada kiayi
            Dalam pendidikan pesantren di temukan bahwa saling hormat inilah yang membangun segala bentuk pemahaman yang berbeda dan menjadikannya jadi kesepahaman yang bertumpu pada seluruh kebijakan kiayi, dalam hal ini ternyata dalam pendidikan semacam ini banyak pesantren menggunakan kitab ta'lim muta'allim sebagai acuan bagaimana beretika dalam mencari ilmu walaupun dalam beberapa waktu yang lalu kitab ini banyak mendapatkan kritikan salah satunya Nur Kholis Madjid dia mengatakan bahwa kitab ta'lim muta'allim sudah tak relevan dalam penggunannya dalam sistem modern karena dianggap terlalu mendewakan seorang guru (kiayi) , namun fakta yang lain masih banyak yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan beretika bagi pencari ilmu sampai saat ini
            Seorang kiayi tak hanya berperan penting dalam pembinaan keilmuannya seorang santri tapi berperan penting dalam meletakkan sebuah aturan , kiayi sebagai pemilik pondok dan santri sebagai orang yang berteduh dibawah pondok maka sebuah peraturan dalam pondok juga ditekankan agar santri tak selalu melakukan yang sesuai kehendak hatinya dengan demikian santri diharapkan dapat menjaga akhlakul karimahnnya, walaupun dalam memberikan dan menetapkan sebuah aturan juga bertentangan akan kebebasan dalam berexpresi tapi pada dasarnya ke taatan santri pada peraturan kiayi menjadikan mereka patuh tampa sarat terhadap peraturan tersebut
                Sampai saat ini pasang surut kepesantrenan di indonesia mulai terpinggirkan pendidikan tertua di indonesia tak lagi dipandang sebagai khaszanah keilmuan namun lebih di pandang sebagai sebuah warisan sejarah kelam terhadap dunia pendidikan negeri ini sehingga mau tidak mau sangat disayangkan sebuah pesantren yang berhaluan salafiayah berubah menjadi moderen, sehingga cara pandang pada terhadap rasa penghormatan pada seoramng kiayi hanyalah sebatas hormat saja tak lebih, sedangkan pesantren salaf pada masa  yang lalu hingga sekarang yang masih tersisa masih menggunakan sistem abdi pada pak kiayi hal semacam ini banyak di jumpai  di pesantren jawa timur misalnya tebu ireng dan  lirboyo
            Pondok AL-WASHILAH dalam hal ini ,sebuah nilai ada atau tidak adanya sebuah pesantren didepan bukan dilihat dari besar atau tidaknya pesantren tapi jika dalam etika dan moral hilang maka di pungkiri nilai rasa hormat pada seorang guru juga terpinggirkan
            Maka dengan demikian kiayi dan santri bukan hanya sekedar kedudukan dia sebagai murid dan sebagai guru tapi lebih pada sebuah pengamalan akan nilai hormat  dan menghormati dengan misi utama dalam pesantren menanamkan nilai erat antara manusia hablun minannas yang pada akhirnya akan sampai pada apa yang dinamakan hablun minallah
            Dengan indikasi seperti ini maka dapat dikatakan sebuah barokah dalam pandangan santri itu berada pada seorang kiayi sebagai wakil orang tua, sihingga bila tak ada ridho dari kiayi maka di kawatirkan ilmu tak bermanfaat dan hal ini bukan berangkat dari keterpaksaan melainkan hal ini bermula dari pengaruh akan nilai nilai yang di tumbuhkan dalam suasana kepesantrenan yang dituntut semandiri mungkin pada santrinya . dan hal ini ternyata berhasil pada pengaruh santri sehgingga banyak kita jumpai tokoh yang lahir dari lingkungan yang berpegang erat dengan kebiasaan salafiyah seperti diatas diantaranya mantan presiden RI Absur rahman Wahid , Nur Kholis Madjid dan kalangan santri yang lain tersebar dari berbagai profesi
            Dan selajutnya bagaimana sebuah pesantren dapat menjaga tradisi semacam ini.

Rabu, 21 November 2012

INSTITUSI BISNIS_ALIEF MUMTAZ_JNR1B_Laporan ke 2‏


COMMET JERSEY SHOP wadag bagi mahasiswa UIN
M. ALIEF MUMTAZ NADIBY
1112051100056


LATAR BELAKANG

Sejak dahulu olahraga sangat diminati  oleh semua kalangan khususnya dalam bidang sepakbola. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan hingga orang tua sekalipun.  Selain dapat menyegarkan badan dan menjadi lebih sehat jasmani dan rohani, orang-orang yang melakukan olahraga secara rutin juga dapat menjaga fisik dan kebugaran .

InstitusiBisnis_AnisaIndriani_JNRI/B_Laporan2

-->
Judul Penelitian:
"Hambatan yang terjadi di bidang bisnis kuliner daerah"
Peneliti: Anisa Indriani (1112051100053)
Jurnalistik I/B

I.                   Latar belakang
Indonesia merupakan Negara Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki banyak suku, kepercayaan, budaya, agama dan lain sebagainya. Dengan banyaknya pendatang baru ke kota Jakarta untuk alasan merubah nasib, tidak sedikit yang berminat untuk membuka toko mkanan khas masing -masing daerahnya, dengan berbagai tujuan dan alasan. Jakarta pada saat ini sudah seperti layaknya pasar festival kuliner nusantara disetiap sudutnya. Pangsa pasar yang dinilai cukup besar untuk usaha kuliner membuat sebagian orang lebih tertarik membuka usaha yang berbasis makanan ringan dengan berbagai konsep.

Cari Blog Ini