Minggu, 09 Desember 2012

Atika Suri_Laporan 5_model dan pola kepemimpina Soeharto

H.M SOEHARTO : MEMIMPIN DENGAN OTORITER
Atika Suri (1112051100009)
Jurnalistik 1A
 
I.                   Latar Belakang
Menurut George R. Terry yang dikutip dari Sutarto, kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, memengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ordway Tead mendefinisikan kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya. Disisi lain, Rauch dan Behling menambahkan bahwa kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi kearah pencapaian tujuan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinn adalah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin untuk bekerja secara sadar,  yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya, guna mencapai suatu tujuan.
Dalam kehidupan yang terorganisir, apapun bentuknya, baik keluarga, kelompok sosial, lembaga, bahkan negara sekalipun tentu memiliki kebutuhan utama berupa seorang pemimpin untuk mengatur berjalannya segala aktifitas demi tercapainya tujuan, demi terciptanya keteraturan. Dalam memimpin, setiap kepala yang berbeda, yang mewakilipemimpin yang berbeda, tentu memiliki model, pola, ataupun gaya memimpin yang berbeda-beda.
Adapun macam-macam gaya kepemimpinan itu adalah seperti gaya kepemimpinan otoriter, yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh, seringkali terlihat egois dan semaunya sendiri. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah, dengan kata lain, anggota tidak perlu pusing memikirkan apapun, anggota cukup melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin. Gaya lain kepemimpinan adalah gaya kepemimpinan demokratis, yaitu gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada masalah selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya, selain itu anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Selain kedua macam gaya kepemimpinan yang telah disebutkan, gaya kepemimpinan selanjutnya adalah gaya kepemimpinan bebas, yang ditandai dengan pemimpin yang memiliki keterlibatan dalam kuantitas yang kecil dimana para bawahannya yang secra aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Gaya kepemimpinan ini merupakan gaya kepemimpinan yang paling dinamis.
Indonesia, sebagai negara yang sudah 67 tahun merdeka, telah merasakan kepemimpinan dari beberapa orang pemimpin yang berbeda, dimulai dari Ir. Soekarno, H.M Soeharto, B.J Habibie, H. Abdurrachman Wahid, Hj. Megawati Soekarnoputri, serta Dr. H Susilo Bambang Yudhoyono yang masih menjabat hingga saat ini. Hal yang menarik yang peneliti tangkap dari masa jabatan yang telah dialami oleh masing-masing presiden tersebut adalah masa kepemimpinan Soeharto yang menjabat hingga mencapai 32 tahun lamanya. Kepemimpinannya yang dapat dikatakan sebagai masa kepemimpinan terlama ini, membuat peneliti terusik dan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang kepemimpinan Soeharto ini, terlebih soal model, pola, ataupun gaya kepemimpinannya.
 

 
 
II.                Pertanyaan Pokok Penelitian
1.      Bagaimana pola kepemimpinan Soeharto serta bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat Indonesia?
 
III.             Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian Kualitatif, dengan menggunakan teknik gathering data (pengumpulan data) menggunakan buku, serta media internet. Pengumpulan data dimulai tanggal 7 desember 2012.
 
IV.             Gambaran Subjek penelitian
Soeharto, lahir pada 8 Juni 1921 di desa Kemusuk, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Kertoredjo, yang mengubah namanya setelah menikah menjadi Kertosudiro, sedangkan ibunya bernama Sukirah. Soeharto merupakan nama pemberian dari ayahnya. "Soe" berarti "lebih baik" dan "harto" berarti "kekayaan". Kertosudiro berharap agar anaknya itu menjadi orang kaya dan berkedudukan tinggi.
Ketika usianya mencapai 40 hari, ia diserahkan untuk diurus oleh Mbah Kromodiryo, bidan desa yang telah menolong kelahirannya yang juga merupakan adik dari nenek Soeharto di pihak ayah. Kehidupan semasa kecilnya tergolong sangat sederhana. Setelah agak besar, Soeharto menghabiskan waktu senggangnya dengan mengembala. Usai sekolah, ia mengurus kambing dan domba, dan ketika sudah cukup besar beliau mulai mengurus kerbau.
Ketika usianya mencapai delapan tahun, ibunya melahirkan beberapa anak lagi. Ayahnya kemudian memutuskan agar beliau dipelihara oleh adik perempuan ayahnya, ibu Prawirowihardjo, yang tinggal di Wiryantoro, sebuah tempat tinggal yang lebih makmur dari Kemusuk. Ayahnya mempercayakan Prawirowihardjo untuk mengurus beliau karena Prawirowihardjo adalah mantri tani atau petugas tanah, sebuah jabatan yang cukup tinggi di kalangan orang desa, diharap keluarga Prawirowihardjo dapat memberi Soeharto pendidikan yang lebih baik.
Sebagai penganut Islam yang taat, ibu Prawirowihardjo mengajarkan Soeharto bukan hanya tentang petingnya sekolah tetapi juga pentingnya pendidikan kerohanian dan agama. Soeharto meluangkan waktu malamnya untuk belajar Al-qur'an di Langgar. Saat itu lah periode dimana beliau belajar tiga prinsip "jangan" dalam hidup. Yaitu "jangan kagetan", "jangan terkagum-kagum", dan "jangan mencemooh" atau "sabar, nrimo, melek"­- jadilah orang yang sabar, apapun yang terjadi terimalah, jangan mengeluh serta gunakan selalu kewaspadaan.
 
V.                Analisis
Soeharto, presiden yang menduduki jabatan terlama di Indonesia, selama 32 tahun ini memiliki pola pemerintahan yang dapat dikatakan otoriter.  Beliau tidak melibatkan rakyat untuk ikut ambil keputusan terhadap suatu perkara atau urusan. Segalanya beliau yang memutuskan. Beliau termasuk sosok yang ingin terlihat "sempurna", dalam artian dari aspek kepemimpinannya. Pada masanya, rakyat dibuat percaya seolah-olah kesejahteraan sedang pada puncaknya, kehidupan makmur dengan apa adanya, namun dibalik itu semua begitu banyak hutang yang menumpuk, yang selanjutnya menjadi beban bagi Indonesia hingga saat ini.
Beliau senantiasa selalu ingin ditonjolkan image "baik" nya dimata rakyat, terbukti dengan kebijakannya membatasi pers dalam menyampaikan berita. Berita yang disampaikan haruslah berita yang baik-baik, sedangkan berita yang menyangkut hal buruk ditutup-tutupi. Hal inilah yang membuat kebanyakan rakyat Indonesia pada masanya "tertipu". Indonesia, dari luar seolah-olah makmur, dan berada pada posisi yang benar-benar baik.
Soeharto merupakan sosok pemimpin yang sangat tegas, serta tidak neko-neko. Saat kepemimpinannya, Indonesia mampu melakukan swasembada beras, namun ternyata dibalik semua itu beliau menggunakan teknik yang menyusahkan bahkan menjadi beban bagi Indonesia hingga saat ini, yaitu berhutang.
Ketegasan, ketidak neko-nekoan, serta sikap otoriternya tergambar dan terlihat saat orang-orang yang tidak sejalan dengannya tiba-tiba "menghilang", dan sekalipun diketemukan dalam keadaan tak bernyawa. Dalam kasus lain misalnya, beliau juga sempat membatasi ekspresi warga keturunan Tionghoa. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga asing di Indonesia, dan kedudukannya berada dibawah warga pribumi, yang secara tidak langsung menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya imlek, dan pemakaian bahasa Mandarin dilarang. Akhirnya mereka pergi ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia ketika itu memberikan izin dengan syarat bahwa rakyat Tionghoa Indonesia diharuskan berjanji untuk tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.
Lembaga pers saat itu juga dibatasi, terlebih lembaga pers berbahasa Mandarin. Satu-satunya surat kabar berbahasa mandarin yang diizinkan terbit adalah "Harian Indonesia" yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh orang militer Indonesia, dalam hal ini ABRI, meski beberapa orang Tionghoa Indonesia juga bekerja disana. Agama tradisional Tionghoa juga dilarang, akibatnya agama konghucu kehilangan pengakuan dari pemerintah.
Pada masa pemerintahannya juga, rakyat tidak bebas bersuara, kebebasan rakyat dibatasi dengan banyak aturan, dalam berorganisasipun diatur oleh pemerintah secara nyata. Media pers dibungkam dengan lahirnya UU pokok pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan adanya peringatan mengenai isi pemberitaan maupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi buatan pemerintah yang dibolehkan berdiri.
Sisi baiknya, Pak Harto, panggilan akrab beliau, merupakan pemimpin yang memiliki visi dan misi. Beliau juga memiliki target baik jangka pendek maupun jangka panjang. Beliau juga mahir dalam strategi, detailis, dan pandai dalam menggunakan kesempatan. Pembawaannya formal dan tidak hangat dalam bergaul.
Gaya kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekspresif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluag dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta memiliki visi yang jauh kedepan dan sadar perlunya langkah-langkah penyesuaian.
Namun disini dapat dilihat bahwa dalam gaya kepemimpinan managerial grid, gaya kepemimpinan Soeharto masuk kedalam Grid 9.1. seorang pemimpin disebut sebagai pemimpin yang menjalankan tugasnya secara otokratis. Pemimpin semacam ini hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya, dan gaya kepemimpinannya lebih menonjol otokratisnya.
 
DAFTAR PUSTAKA
Abdulgani, Retnowati. 2007. Soeharto The Life And Legacy Of Indonesia's Second President. Jakarta: Kata Penerbit

Devi Yuliana_Jurnalistik 1A_Laporan 5 sosiologi_BENTUK KEPEMIMPINAN YANG BERPENGARUH DALAM MASYARAKAT

Nama     : Devi Yuliana
NIM      : 1112051100016

BENTUK KEPEMIMPINAN YANG BERPENGARUH DALAM MASYARAKAT
 
       I.            LATAR BELAKANG
 
            Tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh pada ketertiban dan peraturan pada masyarakat bukan lain adalah seorang pemimpin dalam masyarakat. Mengatur masyarakat yang sedemkian banyak dan plural dibutuhkan pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan dan selalu bermusyawarah dalam mufakat demi mencapai kepentingan bersama. Pengaruh dalam masyarakat bagi seorang pemimpin sangatlah penting karena kedudukan seorang pemimpin tergantung para masyarakat itu sendiri, selain itu kepercayaan yang di berikan oleh masyarakat amatlah berpengaruh besar dalam mewujudkan berbagai rencana yang akan diprogramkan para pemimpin.
            Kepemimpinan di indonesia jelas umumnya adalah demokrasi, sesuai dengan kepemimpinan sudah di anut sejak jaman sejarah dahulu. Sebab jelaslah sudah pola kepemimpinan ini sangat cocok bagi bangsa timur seperti indonesia ini. Sebagai masyarakat yang majemuk ini, demokrasi adalah bentuk kepemimpinan yang mungkin dapat membawa kedamaian untuk budaya yang beraneka ragam. Setiap pemimpin mempunyai alasan masing-masing yang membentuk struktur kepemimpinan yang ideal.
 
 
    II.            PERTANYAAN POKOK
 
1)      Bagaimana bentuk kepemimpinan dan pengaruhnya dalam masyarakat ?
 
 
 III.            METODE PENELITIAN
 
Metode Penelitian       : Kualitatif
Tempat Penelitian        : Kediaman Nasun Bahrudin selaku ketua RW 007
Waktu Pelaksanaan     : 09.00 – 10.30
Narasumber                 : Ketua RW 007 Nasun Bahrudin
 
 
 IV.            GAMBARAN OBJEK PENELITIAN
 
            Ketua Rukun Warga 007 didaerah bilangan cibubur kecamatan ciracas kelurahan kelapa dua wetan yaitu Bapak Nasun Bahrudin. Beliau sebagai ketua rukun warga dalam masa jabatannya selama kurun waktu 5 tahun sejak tahun 2009 hingga 2014 masih sampai sekarang tetap menjalankan aktivitasnya selaku ketua rukun warga. Ia dipilih oleh warga karna dipercaya sebagai seorang yang amanah, bijaksana, dan ramah dengan warganya, beliau juga sudah sangat lama bertempat tinggal di rw 007 itu sendiri , sebelum berkeluarga pun ia sudah menjadi warga yang selama cacatan hidupnya baik.
            Ia mengemban tugas jabatannya ini dengan sangat telaten agar tidak menimbulkan image yang kurang dari masyarakatnya. Kini usianya sudah 48 tahun mempunyai anak 3 orang anak yang masih sekolah. kesuksesannnya sebagai ketua rw pun tidak luput dari dukungan warganya yang setia mensuport demi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
 
 
    V.            HASIL ANALISIS
 
            Bentuk kepemimpinan dari Bapak Nasun Bahrudin selaku ketua rw 007 dibilangan cibubur kelurahan kelapa dua wetan ialah demokrasi sesuai budaya indonesia sebagai negara yang demokratisterbukti insyaallah, dapat mewujudkan ketentraman masyarakat. Sebagai contoh seperti dalam mengambil suatu keputusan budaya negara kita adalah musyawarah mufakat untuk mengambil keputusan dengan shahih dengan keputusan bersama, hasilnya pun adalah kesepakatan yang diambil menciptakan kedamaian bagi warganya.
            Kalau dilihat dari sudut pandang masyarakatnya ialah bahwa masyarakat kita kaya akan budaya, dan pasti mindsetmya pun berbeda-beda yang satu dengan yang lain. Dengan demokrasi kemajemukan ini akan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya itu artinya para masyarakatnya pun mendukung bentuk kepemimpinan ini yang demokratis.
            Pengaruh besar pun dapat dirasakan oleh masyarakat, saling mendukung juga, kalau-kalau pun ada yang tidak berkenaan pasti karena perbedaan pendapat maka dari itu pola kepemimpinan demokrasi sangatlah penting bagi masyarakat plural, dan selalu berjalan sesuai aturan.

tugas 11 dan 12/sarah meida pratiwi/kpi 1E

Nama               : Sarah Meida Pratiwi

NIM                : 1112051000160

Tugas               : 11 dan 12

Tema               : Tokoh Pengubah

 

LAPORAN1

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI ANAK

 

 I.            Latar Belakang

Pendidikan menjadi permasalahan yang ada di Indonesia, dimulai dari adanya sarana pendidikan yang tidak merata di wilayah Indonesia terutama di wilayah  perkampungan atau daerah-daerah terpencil. Tidak hanya itu, pendidikan juga seringkali digunakan sebagai syarat dalam menjadi tolak ukur status sosial seseorang. Yang apabila ia berpendidikan tinggi maka ia akan dengan mudah bermobilitas dan sebaliknya. Pendidikan mempunyai tingkatan-tingkatan yang harus dilalui mulai dari TK/PAUD, SD, SMP, SMA dan kemudian ke tingkatan universitas (S1,S2, dan S3). Pendidikan bagi kalangan bawah (lower class) sering dikesampingkan karena alasan ekonomi. Hal ini sangat disayangkan, apabila sejak dini anak tidak mendapatkan atau diperkenalkan dengan pendidikan. Perlu diketahui bahwa pendidikan yang penting adalah pendidikan yang sudah diajarkan sejak dini. Salah satunya yaitu tingkat pendidikan TK atau lebih dikenal denga PAUD.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Seperti kita ketahui sebelum anak menginjak pendidikan SD, biasanya para orang tua menyekolahkan mereka ke tingkat pendidikan pertama yaitu TK. Namun seiring perkembangan dinamika sosial, banyak masyarakat yang lebih mengenal PAUD daria pada TK (Taman Kanak-kanak). PAUD ini berorientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, membentuk emosional anak, mengolah kecerdasan anak, dan membentuk bahasa dan komunikasi yang baik.

 

 

II.            Pertanyaan

Bagaimana Ibu Wati merubah masyarakat disekitarnya dalam hal pendidikan?

 

III.            Metode Penelitian

Kualitatif, metode ini dipilih karena data yang didapat lebih nyata dari jawaban langsung narasumber dan lebih mendalam serta efektif tidak menghabiskan banyak waktu.

Waktu                : 2 Desember 2012, jam 10.00-11.00

Tempat               : Jl.ulujami raya Rt13/ Rw01,pesanggrahan, Jakarta Selatan

 

IV.            Gambaran Tokoh

Narasumber penelitian ini adalah Ibu Wati. Beliau selaku pendiri PAUD sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah di PAUD tersebut.

 

V.            Analisis

Ibu Wati adalah sosok wanita yang peduli akan pendidikan. Namun kondisi masyarakat dilingkunganya yang sangat memprihatinkan, karena banyaknya anak usia dini yang tidak bersekolah karena faktor kurangnya ekonomi keluarga dan adanya faktor ketidak pentingan menyekolahan anak diPAUD/taman kanak-kanak. Melihat kondisi tersebut dengan bekal ilmu yang dia miliki dan semangat juang untuk memajukan pendidikan khususnya di lingkunganya,  Ibu Wati  berinisiatif membuat suatu lembaga pendidikan untuk anak-anak yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD ini berdiri sejak tahun 2007 dan dibangun oleh Ibu Wati sendiri dengan biaya dari para donator warga setempat.

Sebelum adanya PAUD ini, banyak anak-anak yang tidak bersekolah dan menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman sebayanya. Lalu Ibu Wati mencari muridnya dengan cara mmedatangi rumah-rumah warga yang kurang mampu dan memiliki anak usia dini untuk bersekolah ditempat yang ia dirikan. Awalnya banyak para orang tua yang menolak karena takut akan diminta biaya yang mahal, namun Ibu Wati meyakinkan para-para orang tua dengan sabar bahwa pendidikan ia bangun ini tidak memungut biaya sepersen apapun. Di PAUD ini anak-anak tidak hanya diajarkan membaca, menulis, menggambar tapi di PAUD ini juga diajarkan mengaji . Seiring dengan waktu, tanggapan para masyarakat tentang keberadaan PAUD ini cukup positif. Masyarakat menilai bahwa keberadaan PAUD ini membantu beban mereka dalam hal pendidikan bagi anaknya. Mereka juga merasa banyak kemajuan yang dialami para anaknya seperti, bisa menulis dan membaca. Dan itu sangat membatu peran para orang tua. Dan untuk saat ini murid di PAUD kurang lebih 50 anak.

 

 

LAPORAN 2

 

MENDAUR ULANG SAMPAH MENJADI NILAI JUAL

 

 I.            Latar Belakang

Menumpuknuya sampah menjadi permasalahan utama di Indonesia saat ini. Kurangnya lahan menjadikankan masyarakat membuang sampah dimana saja. Tidak hanya itu kurangnya perhatian pemerintah terhadap hal ini mnejadikan masyarakat juga menghiraukan himbauan larangan membuang sampah sembarangan. Tidak adanya pengelolaan sampah yang baik khususnya di daerah-daerah perkampungan.

Sampah merupakan masalah terpenting di Jakarta yang belum juga terselesaikan. Tiap tahunnya sampah terus menerus bertambah tanpa ada penanganan yang lebih lanjut. Dan akibat hal ini akhirnya banjir terjadi dimana-dimana bahkan sekarang banjir sudah tidak bisa diprediksi lagi kedatangannya.

Maka dari itu sebisa mungkin Ibu Gitil membantu untuk meringankan beban pemerintah untuk mendaur ulang sampah-sampah dan menjadikannya barang bernilai jual.

 

II.            Pertanyaan

Bagaimana Ibu Gotil mengajak para warganya untuk merubah lingkungan?

 

III.            Metode Penelitian

Kualitatif, metode ini dipilih karena data yang didapat lebih nyata dari jawaban langsung narasumber dan lebih mendalam serta efektif tidak menghabiskan banyak waktu.

Waktu                : 2 Desember 2012, jam 10.00-11.00

Tempat               : jl. Radar auri RT 08/RW 14, Cibubur Ciracas, Jakarta Timur

 

IV.            Gambaran Tokoh

Narasumber Penelitian ini bernama Ibu Gotil. Beliau adalah pencentus dari perkumpulan ini dan beliau juga selaku dari ibu RT dikawasan rumahnya.

 

V.            Analisis

Ibu Gotil adalah pediri perkumpulan ini. Perkumpulan yang dimaksud adalah perkumpulan para ibu-ibu setempat untuk mendaur ulang sampah-sampah plastik disekitar lingkungan mereka tinggal. Plastik-plastik ini dikumpulkan dan didaur ulang menjadi benda-benda yang bernilai harganya seperti, tas, baju, payung dll. Perkumpulan ini dibangun belum lama sekitar bulan September 2012. Ibu Gotil sendiri mendapatkan pelatihan mendaur ulang sampah plastik dari perkumpulan di RWnya setiap bulan.

Melihat keadaan sampah disekitar daerahnya cukup banyak maka beliau memutuskan untuk membuat suatu perkumpulan ibu-ibu diRTnya. Perkumpulan ini bertujuan agar sampah disekitar tidak terbuang sia-sia dan dapat menghasilkan nilai rupiah, para ibu rumah tangga juga menjadi memiliki kegiatan yang lebih positif.

Awal mula beliau menyampaikan hal ini pada saat arisan pengajian bulanan. Dan tanggapan para ibu-ibu juga cukup positif. Tiap minggunya para ibu rumah tangga ini dilatih dan diberi pengarahan agar lebih berkreasi lagi dalam membuat suatu prakarya. Setelah beberapa bulan berjalan sekarang usaha yang dijalankan para ibu ini cukup memuaskan karena hasil seni yang mereka buat dapat dijual kepasaran dan menjadi penghasilan mereka sehari-hari.

tugas ke-5, PENDIDIKAN KARAKTER YANG BERPENGARUH PADA MORAL, Muhammad Arif Fathurrahman, KPI 1E

PENDIDIKAN KARAKTER YANG BERPENGARUH PADA MORAL
 
Nama   : Muhammad Arif Fathurrahman
NIM    : 1112051000154
 
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu aspek penting dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga dilihat sebagai suatu perbedaan sosial. Dimana orang yang berpendidikan dinilai memiliki derajat lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak berpendidikan. Oleh karenanya pendidikan dinilai sebagai faktor utama yang mendukung perubahan ekonomi keluarga.
Pendidikan tidak hanya berada di dalam ruang lingkup sekolah atau perguruan tinggi saja, tetapi pendidikan juga meliputi agama Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinya (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. 
B.     Pertanyaan Pokok
Bagaimana cara mempengaruhi siswa agar dapat mengikuti perubahan-perubahan yang dilakukan oleh gurunya?
 
C.     Metode Penelitian
Metode yang kami lakukan adalah dengan metode kualitatif, metode ini dinilai lebih efisien karena dapat menggali informasi secara lebih mendalam.
Penelitian dilakukan pada:
Waktu             : Sabtu, 8 Desember 2012 pukul 09:00-09:30 WIB
Tempat            : MAN 19 Jakarta, petukangan utara, Jakarta Selatan
 
D.    Gambaran Tokoh
Tokoh yang menjadi narasumber pada penelitian kali ini adalah Bapak H. Anshari S.Ag. beliau adalah guru Fiqih disekolah MAN 19 tersebut, beliau dinilai sebagai pengubah karakter siswa-siswa yang dinilai berperilaku tidak baik menjadi baik. Beliau sangat dihormati dikalangan siswa-siswinya, bahkan guru-guru yang ada di MAN 19 juga menghormatinya. Beliau dikenal sebagai orang yang tegas dalam urusan agama, contohnya ketika siswa ada yang tidak melaksanakan shalat, beliau langsung menegurm jika teguran itu tidak didengar oleh siswa tersebut maka beliau langsung memukulnya.
Baginya hal ini dinilai pantas karena demi kebaikan siswa tersebut. Pak H. Anshari juga dikenal humoris pada saat di dalam kelas ataupun di luar kelas. Karena sifat ini maka beliau gampang sekali dekat dengan muridnya. Selain keseharian beliau sebagai guru, beliau juga sering mendapatkan panggilan untuk mengisi ceramah dalam shalat jumat dan seringkali juga mendatkan panggilan untuk pemotongan hewan qurban.
 
E.     Analisis
Pada Penelitian kali ini tema yang akan dibahas adalah seorang tokoh pengubah umat. Pada kesempatan ini saya diberi kesempatan untuk meneliti bagaimana guru fiqih dalam suatu sekolah dapat memiliki pengaruh luar biasa untuk sekolahnya. Penilitian ini ditujukan untuk mengetahui siapa saja orang yang berpengaruh atau yang dipengaruhi dengan adanya objek tersebut.
Bapak H. Anshari atau yang biasa dipanggil pak Anshari oleh murid-muridnya memiliki pengaruh yang sangat penting dalam kemajuan perkembangan akhlak d MAN 19. Saran dan kritik-kritik beliau dinilai sangat kuat dan tepat sasaran. Ide-ide yang beliau kembangkan sangat cocok dengan perkembangan teknologi pada jaman sekarang. Selain dapat mempengaruhi murid-muridnya pak Anshari dinilai juga dapat mempengaruhi teman-temannya, dalam hal ini adalah guru.
Beliau memulai langkah ini dengan cara memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya, karena beliau menilai jika guru menyuruh muridnya untuk berbuat baik, tapi tindakan gurunya tersebut tidak menunjukkan  sifat baik tersebut bagaimana sang murid akan mengikutinya. Karena guru adalah orang tua sekaligus contoh yang harus diteladani murid di lingkungan sekolah.
Setelah beliau berhasil merubah murid-muridnya, maka guru-guru yang mempunyai sifat kurang baik dibanding murid-muridnya akan merasa malu kepada dirinya. Tidak hanya guru yang akan malu tapi karyawan-karyawan yang berada di lingkungan tersebut akan ikut terpengaruh. Alhasil semua pihak yang berada di sekolah tersebut akan merasakan dampak positif dari perubahan yang mereka alami.
 
 
 
 

Cari Blog Ini