Senin, 15 April 2013

Metodologi Studi Media dan Sistem Sosial_Sita Mawarni Murdiati_tugas ke 5

Metodologi Studi Media dan Sistem Sosial

Sita Mawarni Murdiati 109051000167 KPI 6 G

 

      1. Pendahuluan

Pengertian Metodologi

Metodologi berasal dari bahasa Yunani "metodos" dan "logos". Kata "metodos" terdiri dari dua suku kata yaitu "metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. "Logos" artinya ilmu.
Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.

Pengertian Media

Secara Bahasa, Kata Media berasal dari bahasa Latin "Medius" yang berarti tengah, perantara atau pengantar.  Dalam bahasa Arab, media diartikan perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Pengertian Media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4), Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar". Dijabarkan juga oleh  Djamarah (1995 : 136), Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Contoh-contoh Media antara Lain: Televisi, Radio, Film, Gambar yang di proyeksi, OHP, LCD, dan lain-lain.

      Sistem Sosial

Istilah "sistem" berasal dari bahasa Yunani "Systema" yang mempunyai pengertian :

a. Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian.

b. Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur.
Jadi, dengan kata lain istilah "systema" itu mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan. Sedangkan pengertian "sistem sosial", menurut Jabal Tarik Ibrahim dalam bukunya Sosiologi Pedesaan, adalah sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang mempunyai hubungan timbal balik relatif konstan.

 

2.  Metode

Metode yang penulis gunakan pada penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka.Yakni penulis melakukan pencarian terhadap bahan bacaan relevan yang sesuai dengan judul materi tersebut

 

3. Analisis

            Menurut Reading, sistem sosial merupakan suatu sistem dari elemen-elemen sosial. Mihel berpendapat bahwa suatu sistem sosial pada dasarnya terdiri dari dua orang individu yang melakukan interaksi secara langsung dan tidak langsung dalam suatu situasi kebersamaan. Yang menjadi perhatian khusus dari sosiologi adalah oreientasi para individu yang menjadi unsur sistem tersebut. Sistem sosial" mempengaruhi perilaku manusia, karena di dalam suatu sistem sosial tercakup pula nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan aturan perilaku anggota-anggota masyarakat. Dalam setiap sistem sosial pada tingkat-tingkat tertentu selalu mempertahankan batas-batas yang memisahkan dan membedakan dari lingkungannya (sistem sosial lainnya). Selain itu, di dalam sistem sosial ditemukan juga mekanisme-mekanisme yang dipergunakan atau berfungsi mempertahankan sistem sosial tersebut.

 

Daftar Pustaka

http://laely-widjajati.blogspot.com/2010/01/pengertian-sistem-sosial-menurut.html

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2012/01/pengertian-media.html

 

           



TEORI KRITIS_ lela muspita sari_tugas 4


TEORI KRITIS
Pendahuluan
            Teori kritis merupakan serangkaian teori di mana adanya ketidak percayaan seseorang terhadap sesuatu hal yang menurut orang tersebut janggal. Dalam teori kritis seseorang harus selalu merasa ada yang tidak benar misalnya saat sebuah perusahaan itu berjalan dengan baik, mungkin saja ada sesuatu yang terselubung dalam perusahaan tersebut. misalnya berkaitan dengan kepentingan politik pemilik perusahaan yang mengikuti sebuah partai politik, dan mengesahka perusahaan tersebut untuk ikut memilih partai tersebut asalkan perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan yang setimpal pula.
Metode Study
            Disini penulis mendapatkan dari buku-buku yang bisa diakses melalui internet yang isi buku berkaitan dengan teori kritis.

teori strukturalis_ lela muspita sari _ tugas 2

Teori Strukturalis (Pendekatan Institusional)
Pendahuluan
Teori strukturalis seringkali berkaitan dengan kesenian dan juga dengan pembangun, dimana teori ini menjadi perubahan bisa dijadikan suatu kajian yang bisa dilakukan. Dalam masyarakat adanya kehidupan yang baik saat ini tidak terlepas dari dahulu yang lalu dibenahi secara teratur dalam setiap waktu.
Metode Studi
            Metode studi yang dilakukan adalah "searching" di www.google.com dan mengutip pernyataan yang ada di Wikipedia.com, lalu mengutip sebagian isi dari buku.

Persfektif Teori Sosiologi untuk Komunikasi Massa_Lela Muspita Sari_Tugas 1

Nama   :  Lela Muspita Sari
NIM    : 109051000159
Kelas   : KPI 6 G
Persfektif Teori Sosiologi untuk Komunikasi Massa
1.      Pendahuluan
            Pada dasarnya sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dan komunikasi massa yang mempelajari bagaimana komunikan bisa memberikan informasi kepada banyak orang tanpa mengenal orang tersebut dengan menggunakan media.
2.      Metode Studi
            Metode studi yang digunakan adalah dengan mengutip dari buku dan artikel-artikel yang ada di internet yang berhubungan dengan metri yang ada.

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL_Yusly Anggriyawan kelana_Tugas 5

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL

Nama   :  Yusly Anggriyawan Kelana (109051000155)
Kelas   : KPI 6 F

A. PENDAHULUAN
Metodologi berasal dari bahasa Yunani "metodos" dan ""logos, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. logos artinya ilmu. Jadi, metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.[1]

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL_Farwah Assegaf_Tugas 5

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL

 

Nama   : Farwah Assegaf (109051000146)

Kelas   : KPI 6 F

 

A. PENDAHULUAN

Kata metodologi berasal dari kata Yunani, methodos yang berarti cara, dan logos yang berarti ilmu, sehingga metodologi dapat diartikan dengan suatu disiplin yang berhubungan dengan metode, peraturan, kaedah yang diikuti dalam ilmu pengetahuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara singkat metodologi dapat juga diartikan yaitu  sekumpulan peraturan, kegiatan dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu, studi atau analisis teoretis mengenai suatu cara/metode, cabang ilmu logika yang berkaitan dengan prinsip umum pembentukan pengetahuan (knowledge), dan Secara praktis, Metodologi = metode = cara = teknik = prosedur.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, studi dapat di arikan sebagai  penelitian ilmiah; kajian; telaahan. Sedangkan media adalah alat (sarana) komunikasi spt koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. [1]Media merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah berarti "Perantara" atau "Pengantar" yaitu perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Dalam ilmu komunikasi, media bisa diartikan sebagai saluran, sarana penghubung, dan ala-alat komunikasi. Kalimat media sebenarnya berasal dari bahasa latin yang secara harafiah mempunyai arti perantara atau pengantar. Jadi, studi media merupakan kajian ilmiah yang mempelajari tentang keseluruhan fungsi dari media.

Sistem sosial ialah suatu proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia.[2] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem sosial dapat diartikan sebagai organisasi atau tata tingkah laku yg menyangkut hak dan kewajiban yg ditentukan oleh masyarakat bagi orang yg menduduki posisi tertentu di dalam masyarakat. [3]
Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu. Ketika kita mengamati suatu fenomena sosial, maka sebenarnya kita sedang mencerna realitas kehidupan yang membawakan kondisi sistem masyarakat tertentu yang sedang bekerja, berusaha tetap langgeng, dan seringkali berbenturan dengan sistem-sistem lainnya. Sistem ini mencirikan karakteristik sifat, tata nilai, ukuran,

kualitas dan kedudukan relasional di dalam dan antarsistem. Oleh karenanya, fenomena sosial pada hakikatnya adalah proses dialog, transaksi dan negosiasi sejumlah sistem sosial pada konteks waktu dan tempat tertentu.[4]

Dengan demikian, metodologi studi media dan sistem sosial dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk mempelajari/memperoleh kebenaran dalam menggunakan media di kehidupan sosial masyarakat.

 

 B. METODE STUDI

Dalam penulisan Paper  ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis mencari dan mendapatkan sumber informasi dari buku-buku yang membahas mengenai Media dan Sistem Sosial. Buku yang dipergunakan dalam penulisan karya ini adalah  Buku Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008), dan mencari beberapa sumber di wikipedia.

 

C. ANALISIS

Media massa memberikan informasi kepada masyarakat. Segala peristiwa dan kejadian, di mana saja di sekitar kita baik dekat maupun jauh hampir tidak pernah luput dari pemberitaan media massa. Contoh: pada waktu meletusnya Perang Teluk, masyarakat di seluruh dunia dapat mengikuti perkembangan dari detik ke detik selama 24 jam melalui media massa

            Sistem adalah seperangkat atau kesatuan objek dalam mana objek satu dengan yg lainnya saling berkaitan, bahkan saling bergantung. Media massa pada suatu Negara mencerminkan sistem sosial yang didalamya diatur hubungan-hubungan antar individu dengan lembaga-lembaga yang ada. Hubungan antra media massa dengan masyarakat adalah resiprok (saling memengaruhi). Negara membuat sebuah sistem media massa, lalu sistem ini akan memodifikasi masyarakat Negara tersebut. Karena setiap Negara itu berbeda, maka setiap sistem media massa di Negara itupun berbeda pula, sehingga pola interaksi antara Negara dengan media massanya terus menerus berubah.

Contoh kasus, misalnya  sering sekali kita melihat bahwasannya suatu orang elit politik tertentu membuat tayangan-tayangan tentang kegiatan sosialnya pada suatu stasiun televisi dalam intensitas yang besar. Elit politik ini berusaha membentuk pandangan masyarakat luas tentang dirinya. Hampir sama dengan hal diatas, terdapat seorang aktor film yang dinilai memanfaatkan ketenarannya guna mendukungnya untuk suatu pencalonan pemilihan gubernur. Dari seringnya ia tampil di film ia telah memiliki citra sendiri yang diberikan oleh masyarakat. Dan citra yang dibuat oleh masyarakat inilah yang dimanfaatkan untuk menarik dukungan atau simpati dari masyarakat. Adanya kenyataan demikian sering pula dimanfaatkan oleh para elit politik untuk memperoleh jumlah suara saat menjelang pemilu.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa, Jakarta: 2008)

 



[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa, Jakarta: 2008)

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa, Jakarta: 2008)

 

[4] http://kulon.undip.ac.id/course/info.php?id=9 ( Dikutip tanggal 14 April 2013).

 

Minggu, 14 April 2013

Teori Strukturalis_Farwah Assegaf_Tugas 2

Teori Strukturalis (Pendekatan Institusional)_Tugas 2

Nama   : farwah Assegaf (109051000146)

Kelas   : KPI 6 F

A. Pendahuluan

Strukturalis berasal dari bahasa Inggris, structuralis latin struere (membangun), structura berarti bentuk bangunan. Strukturalis adalah faham atau pandangan yang mengatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalis juga adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis.[1] Teori ini memandang bahwa bahasa merupakan suatu kebiasaan-tanpa dilatih atau dibiasakan seseorang mustahil bisa berbahasa. Jadi, teori strukturalis ini memandang bahwasannya kehidupan sosial kita (manusia) dibentuk oleh struktur bahasa.

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure yang mengembangkan ilmu bahasa struktural. Saussure memandang bahasa sebagai gudang (lumbung) dari tanda tanda diskusif yand dibagikan oleh sebuah komunitas.[2] Bahasa bagi Saussure adalah modal interpretasi utama dunia, dan menuntut suatu ilmu yang disebut semiologi.

Institusional berasal dari kata dasar institusi yang berarti lembaga atau badan yang dilembagakan oleh undang-undang, adat, atau kebiasaan (organisasi sosial, dsb).[3] Dalam pendekatan ini negara menjadi fokus pokok pembahasannya, terutama dari segi konstitusional dan yuridis. Jadi, institusi merupakan suatu struktur yang merupakan suatu bentuk atau bangunan yang tersusun.

B. Metode Studi

Dalam penulisan paper ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pekerjaanya, penulis mendapatkan sumber informasi dari buku-buku yang membahas mengenai Teori-teori sosiologi. Buku-buku tersebut adalah Teori Sosiologi Modern (George Ritzer & Douglas J. Goodman, 2007), Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008), dan Teori Sosiologi Modern (Bernard Raho, SVD, 2007).

C. Analisis

Perkembangan kebudayaan di suatu lingkungan dapat dilihat dari bahasa yang digunakan untuk bercakap-cakap setiap harinya. Contohnya dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin mempersilahkan orang untuk  duduk atau makan dan sebagainya, maka kita akan mengucapkan kata "silahkan pak/bu" kepada orang tersebut. Mempersilahkan berarti menyuruh/memperbolehkan orang tersebut untuk duduk atau makan dan sebagainya. Namun seiring perkembangan zaman, kata "silahkan" dapat diucapkan dengan kosakata lain, seperti monggo (bahasa Jawa), mangga (bahasa Sunda), tetapi dengan makna yang sama, yaitu "silahkan".

Teori strukturalis tidak hanya mengenai bahasa, tetapi juga meliputi keseluruhan sistem tanda yang disebut semiotik. Selain mempelajari tanda dan simbol, semiotik juga mempelajari mengenai ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh, naskah sastra dan bentuk komunikasi lainnya. Ilmu semiotik ini dikembangkan oleh Roland Bartes. Bartes berpendapat bahwa di dalam studi seperti itu (semiotik) kita tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga perilaku yang mewakili atau menandai sesuatu (simbol-simbol).[4]

Dalam pendekatan institusional, sebuah lembaga harus memiliki ciri khasnya sendiri. Setiap orang yang ada dalam lembaga tersebut harus bisa saling memahami satu sama lain. Pemahaman itu bisa dengan mempelajari atau memperhatikan ekspresi wajah saat berbicara, gerakan tubuh saat berinteraksi dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Jadi dalam teori strukturalisme dan pendekatan institusional, dapat dilihat dari bagaimana pemerintah menyelesaikan suatu kasus yang ada dalam masyarakat. Ketika ada suatu kasus, maka pemerintah akan membicarakannya. Dan dalam pembicaraan tersebut, pemerintah harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan tatanan Negara, lalu terdapat beberapa hal yang dibahas, yaitu: apa masalahnya, mengapa masalah itu dapat terjadi, dan bagaimana kronologis kejadian tersebut. Untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, pemerintah harus berpikir secara terstruktur mengikuti tahap-tahap yang harus dijalani secara berurutan.

            Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti 'tanda' atau 'sign' dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya.[5]

Daftar Pustaka:

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Edisi ke-6. Cetakan ke-4. Jakarta: Kencana

Tim Buku Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa

SVD, Bernard Raho. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Prestasi Pustakaraya

Strukturalisme, Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, id.Wikipedia.Org/wiki/strukturalisme

Semiotika, Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, id.wikipedia.org/wiki/semiotik

 



[1] Strukturalisme, Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, id.Wikipedia.Org/wiki/strukturalisme

[2] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta, Kencana, 2007), h. 604

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia. (Jakarta, Pusat Bahasa, 2008), h. 558

[4]  Bernard Raho, SVD, Teori Sosiologi Modern, (Jakata, Penerbit Prestasi Pustakaraya, 2007), h. 191

[5] Semiotika, Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, id.wikipedia.org/wiki/semiotik

metodologi studi media dan sistem sosial_meta yunita kusuma_tugas 5

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL
Meta Yunita Kusuma
109051000152
KPI 6 G
1.      PENDAHULUAN
Pengertian metodologi
Untuk memahami metodologi dalam studi media dan sistem sosial perlu diketahui pengertian masing masing dari komponennya. Metodologi berasal dari bahasa Yunani "metodos" dan "logos". Kata "metodos" terdiri dari dua suku kata yaitu "metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. "Logos" artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.

kisah sukses para pejuang ekologi Umu Salamah

Nama              : Umu Salamah (1110054000016)
Jurusan          : Pengembangan Masyarakat Islam (PMI VI)
Mata Kuliah  : Ekoman
Tugas              : Kisah Sukses Para Pejuang Ekologi
Prof Dr Ir Rakhim Dahuri. MS, Ia dikukuhkan sebagai guru besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu 18/1/03. Ia adalah seorang tokoh muda yang pantas dijadikan idola dan teladan. Kisah dan pandangan hidupnya adalah guru yang baik bagi orang lain.
Perawakan dan penampilannya sederhana. Ia ramah dan terbuka. Sosok yang mencerminkan filosofi hidupnya: Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama umat manusia dan semesta alam, bekerja keras dan profesional serta hidup dekat dengan Tuhan. Filosofi itu dianutnya sejak kecil sampai sekarang, dan mudah-mudahan sampai hayat di kandung badan.

Kepemimpinan sosial

M.Irhamni (1111054000014) PMI 4
Substansi kepemimpinan sosial adalah mencapai tujuan berdirinya sebuah organisasi sosial. Seperti sebuah organisasi perlindungan anak, maka dalam kepemimpinan sosial yang ingin dicapai adalah bagaimana cara melindungi anak. Pada prinsip umumnya, substansi kepemimpinan sosial adalah melayani kepentingan publik. Contoh organisasi sosial adalah LSM, negara atau kota, dll.
Teknologi telah menciptakan perubahan di setiap lini kehidupan, termasuk dalam aktivitas organisasi. Perubahan ini terutama dapat dilihat dan dirasakan dalam berkomunikasi. Ya, teknologi—terutama internet—telah menggiring dunia memasuki era sosial, yang salah satunya ditandai dengan lahirnya beragam media sosial.
 
Kelahiran media sosial memberikan lebih banyak sarana bagi orang untuk berkomunikasi. Sebut saja Twitter dan Facebook sebagai contoh yang paling populer saat ini. Banyak pemimpin dunia telah memanfaatkan Twitter dan Facebook untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan kepada banyak orang. Menurut studi Burson-Marsteller, sebuah perusahaan humas dan komunikasi yang berbasis di New York, AS, setidaknya sebanyak 264 pemimpin dari 125 negara telah memiliki akun Twitter. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 kepala negara mengelola sendiri akun mereka.
Menurut studi yang dilansir pada bulan Juli 2012 tersebut, Presiden Barack Obama adalah pemimpin yang paling populer di Twitter. Akun @BarackObama memiliki sekitar 18 juta follower. Akun tersebut juga di-follow oleh 76 pemimpin negara dan pemerintahan dari negara-negara sahabat AS. Selain Obama, beberapa pemimpin dunia lainnya yang memanfaatkan Twitter adalah Presiden Prancis Francois Hollande (@Fhollande), Presiden Brasil Dilma Rousseff (@DilmaBR), Perdana Menteri Inggris David Cameron (@Number10gov), PM Malaysia Najib Razak (@NajibRazak), dan PM Singapura Lee Hsien Loong (@leehsienloong).Barack Obama merupakan pemimpin dunia pertama yang mendaftarkan dirinya ke Twitter, yakni pada 5 Maret 2007. Pemimpin dunia kedua yang melakukan hal tersebut adalah Presiden Meksiko, Enrique Pena Nieto, lewat akun @EPN. Nieto membuat akun Twitter pada bulan yang sama dengan Obama. Di Indonesia, beberapa pemimpin daerah sudah mulai memanfaatkan Twitter. Di antaranya adalah gubernur terpilih DKI Jakarta Joko Widodo (@jokowi_do2) dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (@basuki_btp), dan mantan walikota Yogyakarta Herry Zudianto (@herry_zudianto). Kendati demikian, era sosial bukan semata soal media sosial. Era sosial tidak hanya ditandai dengan lahirnya media sosial dan pemanfaatannya. Era sosial juga ditandai dengan kebangkitan komunitas.Di era industri, seseorang bisa disebut sebagai pemimpin jika dia memiliki jabatan atau posisi yang memberinya kekuasaan. Tetapi di era sosial, kepemimpinan seseorang tak lagi hanya diukur dari posisi dan jabatannya. Ide, komunitas, dan tujuanlah yang akan memberikan kekuasaan bagi pemimpin di era sosial. Hal ini dipaparkan oleh Nilofer Merchant, pendiri dan CEO perusahaan Rubicon, dalam bukunya yang berjudul 11 Rules for Creating Value in the Social Era. Merchant juga merupakan dosen di Universitas Standford.
Menurut Merchant, di era sosial, organisasi harus memiliki tujuan untuk menciptakan value bagi banyak orang. Karena itu, yang dituntut dari seorang pemimpin di era sosial bukan hanya harus memiliki tujuan dan ide yang cerdas, tetapi juga harus fokus dengan tujuannya. Ia dituntut untuk mampu menyelaraskan seluruh elemen dalam organisasinya. Hal utama yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi untuk bertahan di era sosial adalah kemampuan untuk beradaptasi.Dalam bukunya, Merchant memaparkan 11 aturan dalam era sosial yang perlu diterapkan agar organisasi dan sumber daya manusianya dapat berkembang. Beberapa di antaranya berhubungan dengan networking, komunitas, dan kolaborasi.
Networking. Jika era industri identik dengan membangun sesuatu, maka era sosial identik dengan menghubungkan berbagai hal, orang, dan ide. Era sosial terkait erat dengan networking, cara bagaimana menghubungkan banyak orang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama. Pemimpin perlu memikirkan agar organisasi mampu memberikan value bagi banyak orang, menghubungkan banyak pihak, hingga akhirnya mereka bersatu untuk mendukung dan memberikan kontribusi bagi organisasi.  
Komunitas. Dulu, kekuatan dimiliki oleh institusi yang besar. Namun di era sosial, hal itu belum tentu berlaku. Kekuatan di era sosial dipegang oleh setiap individual yang tergabung dalam komunitas. Kekuatan bisa diperoleh seseorang lewat caranya bekerja dengan tim atau orang lain.
Untuk sukses, pemimpin harus mampu melakukan pendekatan kepada komunitas atau bahkan menciptakan komunitas yang sejalan dengan tujuannya. Kolaborasi. Kontrol dalam organisasi di era sosial tak lagi terpusat pada pemimpin struktural. Kesuksesan organisasi ditentukan oleh kolaborasi dan kontribusi dari orang-orang yang ada di dalamnya. Pengambilan keputusan dalam organisasi sejatinya juga tak dilakukan oleh pemimpin seorang diri, tetapi melibatkan masukan-masukan dari orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, setiap individu dalam organisasi akan merasa ikut memiliki dan berperan serta demi kemajuan organisasi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
kepemimpinan dalam gaya Jokowi-Ahok (JA)
 
Perjalanan kepemimpinan "Jakarta Baru" telah memasuki hari ke 42 yang ditunjukkan dengan sepak terjang JA dalam menata Jakarta baik di bidang birokrasi maupun dalam perbaikan & penataan layanan publik kepada warga Jakarta.
Pembelajaran apa yang dapat dipetik dari kepemimpinan dan cara kerja JA untuk para pejabat di Indonesia.
Kalau kita mau cermati, banyak hal dan terobosan baru telah dilakukan yang merupakan paradigma baru dari JA dalam memimpin Jakarta serta bagaimana JA melihat jabatan yang diembannya sebagai sebuah pelayanan yang harus prima bagi warga DKI.
Masih terngiang setelah pelatikannya Jokowi dengan sangat yakin dan tegas mengatakan dirinya adalah pelayan untuk warga DKI dan tak akan pernah kenal lelah berjalan dari kampung ke kampung untuk meningkatkan pelayanannya dalam mensejahterakan warga DKI.
Mari kita mulai cermati dari gaya pendekatan JA kepada warga (publik) yang dilayaninya, terlihat JA telah membuang semua sekat yang dipelihara oleh kebanyakan para pemimpin saat ini dimana pemimpin dimaknai sebagai seorang  pejabat yang harus dihormati, sebagai pembesar yang harus dapat berbagai keistimewaan seperti pengawalan dalam setiap perjalanannya, disambut dengan upacara dan kerumunan orang, disiapkan makanan yang enak, dan yang lebih sering ditonjolkan adalah pemimpin merupakan seseorang yang tidak mudah ditemui dan harus melalui birokrasi yang panjang, tidak gampang berbicara dengan rakyatnya  dan bak dewa yang turun ke bumi yang harus diperlakukan secara istimewa. Namun kalau kita lihat gaya JA, maka terlihat semua sekat telah dihancurkan dengan gaya blusukan Jokowi yang mau membaur dan secara tiba tiba hadir ditengah rakyat yang dilayaninya dan juga terlihat dalam video di Youtube dimana dengan gaya koboinya Ahok telah menunjukkan kepada kita bahwa birokrasi harus melayani, harus hemat/efisien, efektip , jujur, transparan, dan harus dapat dipertanggungjawabkan dalam penggunaan dana APBD karena dana tersebut harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan warga DKI. Keberanian JA dalam membuka ke publik proses layanan Pemda DKI melalui internet telah membuka mata rakyat betapa kurang profesionalnya para Kadis dan jajarannya dalam mengelola program layanannya, termasuk dalam menyusun anggaran dan penggunaannya. Ahok dengan berani dan lugas telah mengobrak abrik kenyamanan dan keamanan para PNS yang sebelumnya hanya bekerja seadanya dan asal asalan berubah menjadi PNS yang professional yang dapat dibanggakan karena telah melayani warga DKI dengan penuh kesungguhan dan dengan hati. Kita lihat pembagian kartu Jakarta SEHAT dan Jakarta PINTAR telah menunjukkan keseriusan dan komitmen JA dalam mewujudkan janji janji kampanyenya hanya dalam hitungan kurang dari 2 (dua) bulan
Pembedaaan lain dalam kepemimpinan JA adalah bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan para-pihak  (stakeholder) mulai dari kalangan ulama, kalangan birokrasi di tingkat kementerian, bertemu dengan gubernur lainnya, menjalin kerja sama dengan KPK untuk menjadikan DKI bersih dari KKN, menjalin kemitraan dengan BUMN untuk mengerjakan proyek besar demi menanggulangi kemacetan lalu lintas  dan banjir dll telah menunjukkan kualitas kepemimpina JA yang mampu bekerja dalan team kerja bagaikan sebuah pertunjukkan kolosal sebuah orkes simphoni. Terlihat JA tidak mau hanya bekerja sendiri dalam sunyi, namun terus menggandeng semua pihak termasuk mengajak rakyatnya untuk bergandengan tangan membangun Jakarta Baru. Keterbukaan kepada pihak luar dan para-pihak jelas membutuhkan sikap yang rendah hati, tidak mau menang sendiri dan yang sikap paling berat namun sekaligus hebat yang telah ditunjukkan JA adalah keterbukaan yang didasari sikap jujur, mau melayani dan keinginan memberikan yang terbaik untuk warga DKI yang dilayaninya, bukan seperti kebanyakan pejabat kita yang cenderung tertutup, arogan, suka pat-gulipat dan terus memperkaya diri sendiri dengan jalan pintas. Terobosan baru terus dilakukan demi meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan Pemda DKI, seperti memasang cctv di kantor-kantor pemerintah DKI, menggunakan system online untuk pembayaran pajak, meminta BNN memeriksa PNS dilingkungan DKI dengan tes urine secara mendadak dll menunjukkan betapa serius dan  tidak main main JA dalam membenahi manajemen birokrasi di dalam internal DKI dan ini merupakan keberanian luar biasa ditengah kebobrokan yang telah berjalan sekian lama.
JA telah menerapkan prinsip manajemen modern dengan mengedepankan asas transparan dan akuntabilitas di lingkungan Pemda DKI,memanfaatkan IT(tehnologi informasi) misal dengan penerapan pembayaran pajak secara online, menerapkan prinsip manajemen  " the right people in the right place" dengan menempatkan PNS sesuai dengan kompetensinya yang tidak berbau nepotisme, melibatkan PNS muda yang cerdas dan jujur sebagai startegi kaderisasi untuk memenuhi kebutuhan SDM kedepan demi layanan yang prima bagi warga DKI. Pembenahan manajemen secara internal secara terus menerus jelas akan meningkatkan kepercayaan warga DKI sebagai pelanggan (customer) Pemda DKI dan dengan semakin meningkatnya kepercayaan warga DKI maka akan memudahkan JA untuk melibatkan warga dalam berbagai programnya sehingga partisipasi warga dengan sendirinya akan meningkat. Permintaan Jokowi kepada para Lurah, Camat dan Walikota terkait pelayanan kepada masyarakat mengikuti standar di bank yang harus senyum,cepat dan interior yang tertata rapi dan apik jauh dari kesan kumuh, dan judes jelas menunjukkan cara pandang JA dalam menempatkan warga DKI sebagai pelanggan (customer) yang harus mendapat layanan sebaik-baiknya.
Kedekatan JA yang tanpa sekat memudahkan dalam berkomunikasi sehingga informasi yang didapat bukan informasi sampah yang penuh ABS tetapi informasi yang benar benar sahih dan benar sesuai realitas karena diperoleh dari turun langsung di lapangan. Cara kerja Jokowi yang mau turun langsung ke bawah sungguh dirindukan oleh warga terutama di daerah marginal yang selama ini merasa tidak dipedulikan dan tidak pernah disapa. Sapaan JA dengan senyuman yang khas, keberaniannya untuk tampil apa adanya tanpa basa basi sungguh menyentuh hati warga sehingga tidak heran jika dalam setiap kedatangannya selalu ditunggu dan dielu-elukan warga. Hal ini bukan sebentuk kultus individu namun bagaikan orang dahaga ditengah padang pasir, warga DKI telah menemukan sosok pemimpin yang dirindukan dalam diri JA yang berani keluar dari kebiasaan lama, meminjam istilah umum "out of the box", yang dengan kesederhanaan dan kerendahan hati telah mampu merebut hati warga DKI yang menginginkan perubahan Jakarta ke arah yang lebih baik
Yang menarik, meski JA telah menunjukkan kualitas kepemimpinan yang merakyat, namun anehnya justru belum banyak pejabat lain di negeri ini yang mau mengikuti jejak JA.
Kepemimpinan yang mengayomi, tegas, satunya kata dan perbuatan, transparan, dengan akuntabilitas yang tinggi dari JA seharusnya mampu menginspirasi para pemimpin negeri ini untuk melakukan hal yang sama. Atau jangan jangan ada rasa malu dan tidak mau mengakui kelemahan diri dari para pejabat di republik ini untuk mengikuti jejak JA karena dianggap hanya mengekor saja sehingga menurunkan harga diri mereka ?
Rakyat saat ini sudah semakin pintar membedakan mana yang emas dan mana yang imitasi, sehingga saatnya bagi para pemimpin negeri ini untuk merubah paradigma kepemimpinan dari pejabat yang merasa sebagai penguasa berganti menjadi seorang pelayan yang baik ,rendah hati, suka menolong dan tidak memperkaya diri sendiri , apalagi melalui jalan pintas korupsi. Atau para pejabat lainnya masih harus terus menunggu sampai kemarahan rakyat memuncak dalam bentuk revolusi sosial dan semuanya menjadi terlambat ?
 

Rohmin Dahuri_Kisah Sukses Pejuang Ekologi ANFAL

Nama : Anfal
Nim     : 1110054000031
Kisah Sukses Pejuang Ekologi
1. Pengertian Ekologi ?
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914).[1] Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Teori Kritis_M.Irfan Faqih_108051100061_Tugas ke-4


TEORI KRITIS
Nama  : M.Irfan Faqih
NIM    : 108051100061
Istilah teori kritis pertama kali ditemukan Max Hokheimer pada tahun 30-an. Awalnya teori kritis berarti pemaknaan kembali gagasan-gagasan ideal modernitas berkaitan dengan nalar dan kebebasan. Pemaknaan ini dilakukan dengan mengungkap deviasi dari gagasan-gagasan ideal tersebut dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis.

Teori Kritis Anjar Sukmawati Maurie, Pertemuan 4

Teori Kritis (Pendekatan Konteks Kepentingan)
Tugas Ke-4
Nama   : Anjar Sukmawati Maurie
Kelas   : Kpi 6f
Nim     : 1110051000196
Dalam era demokrasi seperti ini, perbedaan-perbedaan pendapat sering kali terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi sebuah konflik dalam perbedaan pendapat tersebut. Biasanya konflik ini terjadi karena adanya suatu pendapat yang  berusaha untuk menegasikan pendapat yang lain atau yang lebih dikenal dengan thesis dan anti-thesis. Anti-thesis iniliah yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai kritik.

Tugas_Pejuang_Ekologi_Lilis Yunengsih_Tugas3


Perempuan Pejuang Ekologi
( Kreasi Dari Eceng Gondok )
Oleh: Lilis Yunengsih
Perempuan ini bernama lengkap Julita Joylita Wahyu, ia lahir di Malang, 43 tahun yang lalu. Julita Joylita Wahyu merupakan wanita pertama Surabaya yang mendapatkan penghargaan Kalpataru, empat tahun lalu. ia piawai menyulap eceng gondok menjadi produk kerajinan. Gara-gara kiprahnya tersebut, ia berhasil memberdayakan ratusan keluarga dan juga berhasil menyelamatkan ekologi lingkungannya.
Cerita ini bermula ketika ia baru pindah ke Surabaya. Seperti kebanyakan ibu rumah tangga ynag lain, usai memasak dan menyiapkan semua keperluan untuk keluarga, para ibu biasanya memiliki waktu senggang yang panjang. Biasanya jam 09.00 semua pekerjaan rumah sudah selesai.

Cari Blog Ini