Senin, 22 April 2013

Perspektif Sosiologi Teori Sosiologi untuk Komunikasi Massa_ Nurul Rizki Salam_109051000154_Tugas1

Perspektif Sosiologi Teori Sosiologi untuk Komunikasi Massa_ Nurul Rizki Salam_109051000154_Tugas1
1.      Pendahuluan
Awal munculnya komunikasi didalam ilmu sosiologi, bermula dari pemikiran akar tradisi  karl marx, karl marx sendiri adalah tokoh yang masuk sebagai pendiri sosiologi yang berasal dari aliran jerman sedangkan auguste comte, emile Durkheim merupakan nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Pemikiran comte pada waktu itu didasari oleh teori evolusinya dan hukum tiga tingkatan, menurut comte ada tiga tingkatan intelektual yang harus di lalui oleh kelompok masyarakat, yaitu, tahap teologis, metafisika, dan tahap positivisik.[1]
Menurut Durkheim sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang berada diluar individu. Masyarakat contohnya,  setiap masyarakat membutuhkan sarana dan tata cara dalam berkomunikasi. Untuk memenuhi kebutuhan berinteraksi yang bersifat antarpribadi, dipenuhi melalui kegiatan komunikasi interpersonal atau antarpribadi. Sedangkan kebutuhan untuk berkomunikasi secara publik dengan orang banyak, dipenuhi melalui aktivitas komunikasi massa.
Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan sebuah informasi kepada khalayak luas. Adapun keterkaitan antara teori komunikasi massa dengan teori sosiologi yaitu ketika berbicara tentang bagaimana tatanan sosial di dalam masyarakat, dan bagaimana keterlekatan individu dalam berbagai unit sosial.[2]
2.      Metode Studi 
pada penulisan ini, saya sebagai penulis menggunakan metode kajian pustaka. Yaitu penulis mengambil materi penjelasan dari berbagai buku acuan dan dari berbagai sumber-sumber buku refrensi. Hasil dari penulisan ini adalah hasil bacaan dari penulis.
 
3.      Analisa
            Objek materiil dari semua ilmu sosial adalah manusia. Sebagai salah satu disiplin ilmu sosial, sosiologi komunikasi juga menempatkan manusia sebagai objek kajian materiilnya. Manusia sebagai objek materiil dari sosiologi komunikasi, berkenaan dengan aktifitas sosial manusia. Objek formal dari sosiologi komunikasi adalah proses sosial dan komunikasi dalam masyarakat atau interaksi sosial. teknologi telekomunikasi, media dan informatika. Kemajuan teknologi sangat membawa dampak dan perubahan yang besar dalam hampir seluruh aspek masyarakat. Salah satunya media massa. Pengaruh media massa bagi masyarakat tidak bisa terlepas dari kemajuan dan kecanggihan teknologi komunikasi. Efek media massa ikut membentuk berbagai perubahan dalam masyarakat. Sebut saja, ada perubahan pola dan gaya hidup masyarakat, menciptakan perubahan sosial dan pola komunikasi dalam masyarakat, hingga terciptanya komunitas atau masyarakat maya. Selain itu, pengaruh teknologi komunikasi pun dapat merambah ke dunia ekonomi dan hukum.[3]
 
FUNGSI MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL
1.       Fungsi Informasi.
Dalam media komunikasi sosial fungsi informasi merupakan domain utama, media komunikasi sosial memberikan informasi atau berita kepada khalayak ramai dengan cara yang teratur. Media komunikasi sosial menghimpun berita yang dianggap berguna dan penting bagi orang banyak dan kemudian menayangkan atau menuliskannya dalam kata-kata. Berita baru boleh disajikan jika memenuhi ABC Theory (Accuracy, Balance, Clarify). Contoh tayangan yang mengedepankan informasi adalah Liputan 6 SCTV.
2.       Fungsi Edukasi.
 Wawasan dan pengetahuan dapat didapatkan melalui media komunikasi sosial  seiring dengan banyaknya media yang bermunculan dan diharapkan media komunikasi sosial ikut mendidik penikmatnya dengan cara menampilkan suasana yang mendidik. Tayangan yang membawa misi mendidik contohnya Kick Andy dan Mario Teguh Golden Ways.
3.        Fungsi Hiburan.
Dalam media komunikasi sosial banyak menghadirkan kisah-kisah yang menarik. Contohnya dengan menyajikan humor, drama, dan musik. Hiburan dalam media komunikasi sosial juga menjadi pelepas lelah bagi penikmatnya. Contoh tayangan yang mengedepankan hiburan adalah OVJ dan tayangan olahraga.
4.       Fungsi Persuasi.
Fungsi persuasi dalam media komunikasi sosial tidak kalah pentingnya dengan fungsi informasi dan  hiburan. Banyak bentuk tayangan dan tulisan yang jika diperhatikan sekilas hanya berupa informasi , tetapi jika diperhatikan secara lebih jeli ternyata terdapat fungsi persuasi. Artikel, dan surat pembaca merupakan contoh tulisan persuasif, selain itu iklan juga memiliki tujuan mempengaruhi penonton atau pemirsa untuk mengikuti apa yang dikatakan iklan tersebut.[4]
Dari keempat fungsi media dalam komunikasi ini dapat dilihat bahwa masyarakat pada umumnya sangatlah membutuhkan media atau komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhannya.
 


[1] Bungin Burhan, Sosiologi Komunikasi (teori, paradigma, dan diskursus teknologi komunikasi di masyarakat),kencana prenada media group, cetakan ke-2,2006
[2] Setiadi M. Elly,Kolip Usman.2011.Pegantar Sosiologi.Jakarta:Kencana. 
[3] http://maulandaagustinsibebek.wordpress.com/2012/11/08/sosiologi-komunikasi/
[4] http://blog.ub.ac.id/fgreisye/2013/02/20/sosiologi-komunikasi-media-komunikasi-sosial-dan-media-massa-sebagai-institusi-sosial/
 

Sita Mawarni Murdiati_109051000167_tugas ke 6

MEDIA CETAK DAN MEDIA KONVENSIONAL

SITA MAWARNI MURDIATI (NIM 109051000167)

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM VI/G


PENDAHULUAN

Perkembangan komunikasi antarmanusia adalah sama dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Everett M. Rogers dalam bukunya mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi, yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi, dan era media komunikasi interaktif. Masyarakat mengetahui bahwa perkembangan teknologi media berkembang dimulai dari era media tulis dan cetak. Perkembangan media tulis telah lama dikenal masyarakat dan menjadi pertanda permulaan peradaban sebuah bangsa. Berbagai macam temuan budaya tulis manusia di berbagai bangsa di dunia dapat ditemukan dam bentuk relief, grafik, ukiran, tanda, dan simbol yang dibuat pada dinding-dinding bangunan, batu, kayu, pohon, pelepah pohon maupun daun, dan lainnya. Beberapa abad kemudian baru masyarakat terbiasa dengan mencetak huruf secara manual yang dilakukan pada media yang ada saat itu. Lalu kemudian barulah ketika Elergi Gutenberg menemukan mesin cetak pada tahun 1450 muncul sejumlah surat kabar. Teknologi mesin cetak dan era media cetak bertahan selama berabad-abad bahkan hingga saat ini.[1] Pada media cetak, kehadiran teknologi digital berhasil mengubah sistem mesin cetak tersebut menjadi media grafis atau digital.

Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi.
Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi.
Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.[2]

Media komunikasi konvensional adalah yang hanya bisa menyediakan komunikasi satu arah dengan penggunanya. Contohnya: Radio, TV, Koran.

Sistem konvesional memiliki karakteristik sebagai berikut

1. Daerah jangkauan luas
2. Daya yang digunakan besar
3. Kapasitas sistem masih rendah
4. Modulasi analog berupa frequency modulation (FM) sehingga memerlukan bandwith yang besar.
5. Belum menggunakan handoff belum terhubung ke jaringan public service telphone network  (PSTN)
6. Komunikasi hanya untuk suara (voice) saja.[3]

METODE STUDI

Metode yang penulis gunakan pada penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka.Yakni penulis melakukan pencarian terhadap bahan bacaan relevan yang sesuai dengan judul materi tersebut

ANALISIS KASUS

Secara Bahasa, Kata Media berasal dari bahasa Latin "Medius" yang berarti tengah, perantara atau pengantar.  Dalam bahasa Arab, media diartikan perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Pengertian Media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4), Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar". Dijabarkan juga oleh  Djamarah (1995 : 136), Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Contoh-contoh Media antara Lain: Televisi, Radio, Film, Gambar yang di proyeksi, OHP, LCD, dan lain-lain. Media konvensional seperti surat kabar saat ini sudah tersaingi oleh media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Karena banyaknya kesibukan seseorang maka pengguna media akan beralih ke media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Akan tetapi kita tidak boleh begitu saja meninggalkan media konvensional karena sejarahnya yang begitu panjang . Dan sepertinya ada kelebihan tersendiri dari media konvensional dibandingkan dengan media elektronik yaitu harganya yang lebih terjangkau .

     Dampak positif dari media konvensional ; Sebagai media cetak pengantar informasi , sarana ilmu pengetahuan , informasi tentang lowongan pekerjaan , dan sebagainya .  Media kini menjadi bagian penting dalam proses interaksi antar manusia. Media semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan informasi. Keberadaan media elektronik yang semakin hari menunjukkan progress dalam mempersempit hambatan ruang dan waktu cukup mempengaruhi keberadaan media konvensional yang lebih dulu muncul.

Sebagai contoh saja, keberadaan media konvensional seperti surat kabar cetak yang mulai tersaingi oleh keberadaan media elektronik seperti internet. Kemudahan – kemudahan yang ditawarkan media elektronk ditengah kesibukan manusia yang semakin tinggi, membuat media elektronik menjadi pilihan tepat untuk memperoleh informasi.

 

Ada Banyak orang yang mengatakan bahwa Internet dapat membuat tutupnya media publikasi konvensional yang hanya mengandalkan media cetak. Hype ini belum terbukti. Hal ini disebabkan karena dahulu untuk menayangkan (publish) sebuah tulisan di Internet dibutuhkan kemampuan coding HTML. Kemudian muncul alat bantu yang mempermudah penulisan HTML. Namun ini masih kurang. Hasil tampilan masih pas-pasan saja.  Muncullah blogger dengan alat bantu penulisan dan cara penyajian yang menarik. Ada mekanisme untuk mengubah tema (theme, style) dari tampilan dengan hanya menekan beberapa tombol saja. Hasilnya adalah tampilan yang sebanding dengan tampilan dari media cetak. Hanya, masalah konvensional masih belum dipecahkan, yaitu mencari sumber tulisan yang bagus. Yang ini ternyata masih belum bisa diotomatiskan. Masih harus dilakukan oleh orang. Mungkin suatu saat ini bisa diotomatiskan dengan menggunakan program intelegensia buatan yang dijalankan oleh komputer? Kita tinggal menuliskan plotnya, memilih temanya (serius, komedi), dan kemudian sang komputer menuliskan detailnya.[4]

DAFTAR PUSTAKA

·         Prof.Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos,M. Si, "Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi, Komunikasi di masyarakat", Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008, hal. 112

·         http://yuli-kamboja.blogspot.com/2011/04/media-cetak.html di akses pada tanggal 22 April 2013 pukul 12.46

·         http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/04/09/media-komunikasi-zaman-prasejarah-elektronik-dan-konvensional-549686.html di akses pada tanggal 22 April 2013 pukul 12.46

·         http://zolgazius.blogspot.com/2010/10/dampak-negatif-new-media-terhadap-media.html di akses pada tanggal 22 April 2013 pukul 12.46

 



[1] Prof.Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos,M. Si, "Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi, Komunikasi di masyarakat", Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008, hal. 112

[2] http://yuli-kamboja.blogspot.com/2011/04/media-cetak.html di akses pada tanggal 22 April 2013 pukul 12.46

Susu organik_Ahmad Suheri dan Fikri Dzulkarnain_pmi 6

Susu Organik
Oleh: Ahmad Suheri dan Fikri Dzulkarnain
 
 Keluarga Strauss adalah pemilik salah sebuah dari beberapa perusahaan susu yang masih ada dan berjalan di kabupaten marin, 60 kilometer di sebuah San Fransisco, di tepi jalan raya pantai pasifik. Keluarga petani ini tinggal di sebuah rumah di atas sebuah bukit yang paling indah yang memang termasuk daerah sangat cantik. Bill dan Ellen Strauss pindah ke kabupaten Marin ketika tempat ini masih merupakan salah satu penghasil susu terbesar di California. Di ukur dengan standar industry susu modern yang berlaku, tanah pertanian keluarga strauss termasuk kecil, hanya 330.000 meter persegi, dan sapinya berjumlah 215 ekor, yang menghasilkan susu sebanyak 6000 liter setiap hari. Usaha tani ukuran ini umumnya dianggap ukuran yang kecil tetapi masih bisa menghidupi keluarganya. Usaha produksi susu – yang biasanya lebih menyerupai sebuah pabrik – bias terdiri dari atas ribuan ekor sapi, yang dipelihara untuk diambil susunya, dan untuk itu diperlukan makanan yang bergizi yang terbaik, air yang bersih dalam jumlah yang banyak, energy yang murah, iklim yang nyaman, dan peralatan yang canggih. Sapi yang dipelihara biasanya dari jenis yang mempunyai empat ambing, yang dikurung dalam sebuah bangsal yang sangat luas serta berlantai semen untuk tempat ternak menghabiskan waktunya yang pendek, makan-makanan yang dihasilkan dengan menggunakan pupuk buatan, herbisida, pestisida, dan di datangkan dari tempat lain, kemudian makan-makanan tersebut diolah dengan zat-zat pencapur makanan dengan takaran yang diukur dengan computer.
            Para petani masih banyak yang menggunakan obat-obatan untuk menjaga kesehatan ternaknya, dan ini pada umumnya penisilin dan jenis-jenis antibiotic lainnya, untuk melawan infeksi puting susu yang menyerang ternak karena harus semakin banyak menghasilkan susu. Selain itu petani juga menyuntik ternaknya dengan hormon pertumbuhan sapi, untuk menaikkan produksi sapi. Food and Drugs Administration ( FDA) menyatakan bahwa penggunaan hormone akan semakin menimbulkan penyakit pada ternak, dan ini akan mendorong petani untuk makin banyak menggunakan antibiotic dan obat-obatan lainnya. Penggunaan antibiotic yang makin tinggi akan mengakibatkan meningkatnya daya tahan tubuh bakteri, sehinga akan semakin sulit menghindarkan ternak dari penyakit.
            Setelah mempelajari laporan-laporan seperti ini, Albert, anak laki-laki tertua keluarga Strauss, membuat ide untuk membuat produksi susu milik keluarganya yang sudah berjalan, dengan cara membuat susu organik. Susu organic yang ditawarkan oleh amerika serikat jumlahnya sedikit sehingga menurut keluarga Strauss kalau dia menciptakan susu organic maka persediaan susu organic nasional akan meningkat menjadi 25 %. Persediaan susu organic lainnya berasal dari susu organic yang dihasilkan oleh koperasi usaha susu di Wisconsin.
            "Menurut hemat saya, usaha susu organic adalah cara yang paling ampuh untuk memelihara kesuburan tanah, kehidupan ternak, dan gaya hidup di pedesaan, " kata Albert." Keluarga Strauss sudah memikirkan usaha pertanian organic sejak tahun 1960an, ketika mereka membaca buku silent spring, buku yang pertama-tama sekali memperingatkan masyarakat luas akan bahaya keracunan yang dihadapi warga amerika serikat karena banyaknya bahan-bahan kimia yang digunakan dinegeri itu.sejak itu keluarga Strauss berhenti menggunakan pestisida dan herbisida, bahkan kebun mawar Ellen tidak lagi menggunakannya, sebagai gantinya mereka menggunakan pupuk organic sebagai pupuk yang pokok.
            Untuk memenuhi semua persyaratan yang ditentukan pemerintah California untuk memperoleh surat pengakuan sebagai penghasil makanan organic. Pertama, untuk menjadi perusahaan susu organic di California, ternak hanya makan rumput organic dan makanan organic lainnya selama sekurang-kurangnya tiga tahun. Kedua, ternak harus bebas dari antibiotic atau hormone selama paling tidak satu tahun, sebelum boleh diperah dan susunya boleh diberi tanda organic. Untuk menghilangkan infeksi putting susu   dan penyakit-penyakit reproduksi lainnya, petani boleh menggunakan aspirin dan obat-obatan campuran yang sangat encer.
            Perubahan besar berikutnya terjadi ditempat pengolahan susu, yang biasanya berupa tempat dengan peralatan yang dipakai bersama oleh petani. Susu organic tidak diolah dengan alat-alat yang digunakan untuk mengolah susu non organic, untuk menghindari penularan penyakit. Albert mendirikan tempat pengolahan susu dan membotolkan susu sendiri yang dinamakan Strauss Family Creamery. Mereka menggunakan botol daur ulang untuk memelihara rasa susu oranik mereka yang khas. Susu mereka tidak rasa lilin atau rasa karton. Rasanya seperti rasa susu murni.
            Susu organic, yang dihasilkan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia, berbeda dari susu segar mentah, yaitu susu yang belum dihilangkan kumannya dengan dipanaskannya sampai suhu tertentu. Susu produksi keluarga Strauss dipanaskan untuk mematikan bakteri, tetapi tidak diperhalus lemaknya. Selapis lemak mengambang dipermukaan susu organic itu. Satu liter susu organic keluarga Strauss dijual dengan harga USS 1,25 sampai USS 1,50, sedikit lebih tinggi dari harga susu non organic. Tetapi biaya produksinya 20 hingga 30 % lebih tinggi, dan untuk melakukan semua perubahan itu keluarga Strauss menghabiskan dana USS 500.000 ,-. Tidak ada bank yang bersedia meminjamkan uang untuk membiayai kegiatan usaha yang demikian penuh resiko, karena itu keluarga Strauss mengumpulkan uang dari teman-teman dan sanak keluarganya. Pada saat tulisan ini dibuat, usaha susu organic keluarga Strauss sudah berjalan selama enam bulan, dan hasilnya dari segi keuangan jauh lebih baik dari perkiraan mereka semula.     
                
                          

MEDIA CETAK DAN MEDIA KONVENSIONAL (STRUKTUR, SISTEM, DAMPAK)_Yusly Anggriyawan Kelana_Tugas 6

MEDIA CETAK DAN MEDIA KONVENSIONAL (STRUKTUR, SISTEM, DAMPAK)
 
Nama   :  Yusly Anggriyawan Kelana (109051000155)
Kelas   : KPI 6F
 
A. PENDAHULUAN
Pengertian media cetak menurut Rhenald Kasali (1992), media cetak adalah suatu media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran dengan sejumlah kata, gambar, atau foto, dalam tata warna dan halaman putih. Media cetak adalah suatu dokumen atas segala hal yang dikatakan orang lain atau peristiwa yang dirangkap oleh sang jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya.[1]
Secara harfiah pengertian media cetak bisa diartikan sebagai sebuah media penyampaian informasi yang memiliki manfaat dan terkait dengan dengan kepentingan rakyat banyak, yang disampaikan secara tertulis. Dari pengertian ini, kita bisa melihat bahwa media cetak adalah sebuah media yang di dalamnya berisi informasi yang di dalamnya terkait dengan kepentingan masyarakat umum dan bukan terbatas pada kelompok tertentu saja.[2]
Media konvensional adalah TV, Radio, Koran, Majalah dan lain-lain, dengan cepat pula kita dapat memperoleh informasi dari media tersebut. Media konvensional juga memegang teguh kode etik jurnalistik, sehingga kalau ada kesalahan dalam berita, mereka segera memperbaiki, dan seringkali diiringi permohonan maaf kepada khalayak.
Struktur Media Cetak dan Media Konvenional
Tugas:
1.      Pemimpin Umum (General Manager) : ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.
2.       Pemimpin Redaksi : pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya. Kewenangan itu dimiliki katena ia harus bertanggung jawab jika pemberitaan medianya ?digugat? pihak lain. Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun, dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi, yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.
3.      Dewan Redaksi : dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.
4.       Redaktur Pelaksana : di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.
5.      Redaktur : redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.
Sistem Media Cetak dan Media Konvensional
Sistem pada media cetak/media konvesional seperti Koran dan majalah, yaitu:
1.      Biasanya panjang nakah telah dibatasi, misalnya 5-7 halaman kuarta diketik 2 spasi,
2.      Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi seblum dimuat,
3.      Kalau sudah naik cetak (sudah-di film-kan pada proses percetakan), tak bisa diedit lagi,
4.      Tiap edisi, desainer atau layourter harus bekerja untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut,
5.      Berkala harian (mingguan, bulanan, dua mingguan, dan sebagainya), dan
6.      Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi.[3]
Dampak Media Cetak dan media Konvensional
Masing – masing media memiliki kelebihan dan kekurangan serta mempunyai khalayak sendiri – sendiri. Masalahnya bukan pada munculnya media baru yang akan membunuh keberadaan media sebelumnya. Tidak akan ada yang namanya saling mengancam keberadaan media satu dengan media yang lain. Konvergensi Media yang mengusung konsep penyatuan berbagai layanan informasi dalam satu piranti informasi membuat satu gebrakan digitalisasi. baik media konvensional maupun media cetak saling bersaing untuk memaksimalkan peran mereka dalam proses komunikasi.
Kepuasan secara psikologis yang diperoleh khalayak dari media yang mereka konsumsi perlu dipelajari oleh setiap pengelola media. Jadi, media konvensional dan media cetak tetap akan bertahan di tengahnya media yang semakin maju saat ini.
Ada Banyak orang yang mengatakan bahwa Internet dapat membuat tutupnya media publikasi konvensional yang hanya mengandalkan media cetak. Hype ini belum terbukti. Hal ini disebabkan karena dahulu untuk menayangkan (publish) sebuah tulisan di Internet dibutuhkan kemampuan coding HTML. Kemudian muncul alat bantu yang mempermudah penulisan HTML. Namun ini masih kurang. Hasil tampilan masih pas-pasan saja.
Muncullah blogger dengan alat bantu penulisan dan cara penyajian yang menarik. Ada mekanisme untuk mengubah tema (theme, style) dari tampilan dengan hanya menekan beberapa tombol saja. Hasilnya adalah tampilan yang sebanding dengan tampilan dari media cetak. 
Hanya, masalah konvensional masih belum dipecahkan, yaitu mencari sumber tulisan yang bagus. Yang ini ternyata masih belum bisa diotomatiskan. Masih harus dilakukan oleh orang. Mungkin suatu saat ini bisa diotomatiskan dengan menggunakan program intelegensia buatan yang dijalankan oleh komputer. Kita tinggal menuliskan plotnya, memilih temanya (serius, komedi), dan kemudian sang komputer menuliskan detailnya.
B. MTODE STUDI
Dalam penulisan Paper  ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis menggunakan metode ini untuk mendapatkan data yaitu dengan melihat, membaca, dan mempelajari buku-buku referensi juga mencari dari Wikipedia/internet.[4]
C. ANALISIS
Hidup di zaman era globalisasi seperti saat sekarang sangatlah menjadi tantangan tersendiri bagi kehidupan remaja. Banyak dampak yang terasa, baik secara positif maupun negative. Masa remaja yang dikenal dengan masa transisi atau pencarian jati diri mengakibatkan mudahnya remaja saat ini menerima trend ataupun gaya hidup baru yang ada di sekitarnya. Tidak hanya sekedar trend, dalam penyerapan informasi pun kalangan remaja dapat dikatakan sebagai kalangan "tersensitif" dalam menyerap informasi yang ada.
Informasi sangatlah dibutuhkan bagi kalangan manapun. Adapun media yang disediakan untuk mendapat informasi yaitu media elektronik berupa  TV,radio, dan internet. Selain itu media cetak berupa koran,majalah,dsb. Walaupun memiliki fungsi yang sama yaitu menyajikan informasi, namun kedua jenis media tersebut memiliki keunggulan masing-masing yang dapat meningkatkan minat dari para pengguna informasi untuk memilih mana yang lebih baik antara media cetak dan media elektronik.
Perubahan zaman dan semakin meningkatnya teknologi menyebabkan berbagai kalangan memilih segala sesuatu secara praktis. Inilah yang terjadi pada saat sekarang terutama remaja. Dalam pengambilan informasi yang dibutuhkan, para remaja saat ini saat enggan untuk membaca dalam bentuk kertas seperti koran dan majalah. Mereka cenderung hanya ingin mengakses apapun yang mereka inginkan melalui media elektronik. Hal ini menyebabkan media cetak secara perlahan mulai diabaikan di kalangan remaja.
DAFTAR PUSTAKA :


[2] Di akses pada hari minggu, 21 April 2013 pukul 06.45 WIB
[3] Di akses pada Minggu 21 April 2013, pukul 07.20 WIB
[4] Di akses pada hari Minggu 21 April 2013, pukul 08.10 WIB

Media Cetak dan Media Konvensional (Struktur,Sistem,Dampak)_Farwah Assegaf_Tugas6

MEDIA CETAK DAN MEDIA KONVENSIONAL (STRUKTUR, SISTEM, DAMPAK)
 
Nama   : Farwah Assegaf (109051000146)
Kelas   : KPI 6F
 
A. PENDAHULUAN
Media cetak merupakan media komunikasi pertama yang dikenal manusia sebagai media yang memenuhi ciri-ciri komunikasi arah ( satu arah, melembaga, umum, serempak ). Media massa cetak berbentuk surat kabar, tabloid, majalah, bulletin. ( Abede ; 2002 ).
Ciri-ciri media cetak ( Abede ; 2002 : 103 ) :
1.      Daya tampungnya tinggi ( memiliki peluang untuk menambah halaman )
2.      Daya dokumentasinya tinggi ( sangat mudah disimpan atau diperbanyak )
3.      Jaringan distribusinya terbatas ( karena sifatnya yang literer ).[1]
 Sedangkan Yang kita kenal dengan Media Konvensional adalah : TV, Radio, Koran, Majalah dan lain-lain, dengan cepat pula kita dapat memperoleh informasi dari media tersebut. Ada sebagian orang yang mengatakan saat ini media konvensional tersebut sudah menjadi  traditional media dimana media digital sudah mulai mempengaruhi gaya hidup manusia di Era informasi seperti saat ini.
 
Struktur Media Cetak dan Media Konvenional
Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi. Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi. Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.
Sistem Media Cetak dan Media Konvensional
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.[2]
Dampak Media Cetak dan media Konvensional
Masing – masing media memiliki kelebihan dan kekurangan serta mempunyai khalayak sendiri – sendiri. Menurut Dominick ( JISK ; 2001), media cetak memiliki kelebihan sekaligus kekurangan, yaitu : pertama, kelebihan media cetak yaitu pada kedalaman analisisnya yang lebih panjang dan tajam, lalu kekurangannya dimensi "ruang" (space) lebih menentukan cara penyampaian berita. Kedua, media cetak memiliki kekayaan dalam member informasi kepada khalayak yang lebih banyak dan mudah diingat, media cetak lebih permanen, dalam pengertian membacanya bisa diulang-ulang dan bisa dibaca kapan saja. Ketiga, kekurangan media cetak terletak antara hubungan wartawan dengan pembaca, sangat berjarak, umumnya wartawan bersifat anonym. Keempat, proses penyajian berita pada media cetak lebih sederhana, yang menentukan si wartawan sendiri dan redakturnya.[3]
Media konvensional seperti surat kabar saat ini sudah tersaingi oleh media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Karena banyaknya kesibukan seseorang maka pengguna media akan beralih ke media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Akan tetapi kita tidak boleh begitu saja meninggalkan media konvensional karena sejarahnya yang begitu panjang . Dan sepertinya ada kelebihan tersendiri dari media konvensional dibandingkan dengan media elektronik yaitu harganya yang lebih terjangkau .
Dampak positif dari media konvensional ; Sebagai media cetak pengantar informasi , sarana ilmu pengetahuan , informasi tentang lowongan pekerjaan , dan sebagainya . Dilihat dari fungsinya sepertinya media konvensional pun tidak begitu kalah dengan media elektronik seperti internet , hanya saja internet lebih unggul dari lebih banyaknya informasi yang didapatkan dan tampilannya yang lebih menarik dibandingkan dengan media konvensional . Tetapi semoga saja media konvensional dan media cetak tetap banyak digunakan oleh pengguna yang mencari informasi .[4]
B. MTODE STUDI
Dalam penulisan Paper  ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis menggunakan metode ini untuk mendapatkan data yaitu dengan melihat, membaca, dan mempelajari buku-buku referensi juga mencari dari Wikipedia/internet.
C. ANALISIS
Media cetak merupakan sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala seperti surat kabar, majalah. Media cetak ini merupakan bagian dari saluran informasi masyarakat, di samping media elektronik dan juga media digital. Di tengah dinamika masyarakat yang demikian pesat, media cetak dianggap sudah tertinggal dibandingkan dengan dua pesaingnya, yakni media elektronik dan media digital. Meski demikian, bukan berarti media cetak sudah tidak mampu meraih konsumen yang menantikan informasi yang dibawanya.
Dalam banjir informasi seperti ini, masyarakat harus hati-hati karena banyak informasi yang belum tentu benar, bahkan mungkin menyesatkan, di antaranya yang berasal dari media non konvensional, yaitu informasi yang berasal dari sms, blackberry messenger (bbm), dan media sosial lainnya. Sebagai contoh, akibat sms berantai tentang isu penculikan di Nusa Tenggara Barat, pada bulan Oktober 2012, sebanyak lima orang tewas dikeroyok massa. Setelah diperiksa ternyata ke lima orang yang tewas itu bukan penculik. Sekretaris Jenderal Serikat Perusahan Pers Pusat, Ahmad Djauhar menulis di Harian Bisnis Indonesia, 24 Oktober 2012, setelah korban berjatuhan akibat sms berantai itu, sejumlah pejabat di NTB menyeru kepada masyarakat agar tidak main hakim sendiri. 
            Untuk itu, diharapkan masyarakat jangan langsung percaya terhadap informasi yang diterimanya, walaupun informasi itu disiarkan oleh media-media konvensional. Yang dimaksud dengan media konvensional adalah radio, televisi dan media cetak. Setiap ada informasi yang masuk perlu dikaji, perlu dikonfirmasi sekali lagi. Pengambilan keputusan yang terlalu cepat terhadap informasi yang beredar bisa berakibat fatal seperti yang terjadi di Lombok. Korban yang tewas tidak bisa dihidupkan lagi. 
            Sangat disarankan kepada masyarakat, jika mendengar isu yang mengganggu keselamatan masyarakat, segera bertanya kepada pengelola media konvensional untuk melakukan konfirmasi. Misalnya bertanya kepada radio yang mengkhususkan diri sebagai saluran berita. Jika info yang beredar menyangkut nyawa seseorang, selain bertanya kepada radio berita, periksa juga siaran televisi, dan keesokan hari periksalah berita itu di koran-koran. Jika di radio, televisi dan koran tidak ada berita yang diisukan melalui bbm atau sms, hampir dapat dipastikan berita bbm dan sms berantai itu bohong. Misalnya isu tentang tewasnya seorang mahasiswa di Jakarta pada waktu demonstrasi anti kenaikan harga bahan bakar minyak yang disiarkan melalui sms berantai dan bbm. Matinya seorang mahasiswa dalam demonstrasi anti kenaikan harga BBM itu adalah berita besar yang pasti akan disiarkan media konvensional. Ternyata tak ada mahasiswa yang mati ditembak waktu demonstrasi itu, dan tidak ada satu pun media konvensional di Indonesia yang menyiarkannya.
            Mengapa perlu merujuk ke media konvensional? Karena media itu ada penanggungjawabnya, sudah mempunyai riwayat kredibilitas, dan mempunyai standar layak siar. Media konvensional juga memegang teguh kode etik jurnalistik, sehingga kalau ada kesalahan dalam berita, mereka segera memperbaiki, dan seringkali diiringi permohonan maaf kepada khalayak.
 DAFTAR PUSTAKA :
 

Cari Blog Ini