Senin, 22 April 2013

Metodologi Studi Media dan Sistem Sosial_Tasha Helmi Mahindria_Tugas5

METODOLOGI STUDI MEDIA DAN SISTEM SOSIAL
TASHA HELMI MAHINDRIA (NIM 1110051000177)
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM VI/F
 
 
 
A.       Pendahuluan
Kata metodologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu methodos dan logos. Kata methodos berasal dari dua suku kata, yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dari pengertian di atas, dapat disederhanakan bahwa metode merupakan suatu jalan atau cara yang dilalui untuk mencapai sebuah tujuan. Lalu logos berarti ilmu. Dalam situs Wikipedia, metodologi diartikan sebagai ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji[1]. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metodologi berarti ilmu tentang metode; uraian tentang metode. Kata metode sendiri memiliki arti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agai tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan[2]. Jadi, metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk mendapatkan kebenaran.
Kata studi memiliki arti penelitian ilmiah; kajian; telaahan[3]. Studi juga disederhanakan menjadi "mempelajari". Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah memiliki arti "perantara" atau "pengantar", yaitu perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima[4]. Menurut Purnawati dan Eldarni[5], media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga terjadi proses belajar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media memiliki arti alat (sarana) komunikasi seperti Koran, majalah, radio, televise, film, poster, dan spanduk[6]. Jadi, studi media merupakan kajian tentang media sebagai alat perantara kegiatan komunikasi.
Sistem sosial dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan dari unsur-unsur sosial yang berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain dan saling memengaruhi dalam kesatuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem sosial adalah organisasi atau tata tingkah laku yang menyangkut hak dan kewajiban yang ditentukan oleh masyarakat bagi orang yang menduduki posisi tertentu dari masyarakat[7]. Jadi, metodologi studi media dan sistem sosial adalah ilmu-ilmu atau cara untuk mengkaji dan menelaah media sebagai sarana komunikasi dan pengaruhnya terhadap sistem sosial.
 
B.        Metode Studi
Dalam penulisan paper ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis mencari dan mendapatkan sumber informasi dari buku-buku yang membahas mengenai sosiologI, buku kamus, dan buku komunikasi. Buku-buku tersebut adalah Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2005), Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat (Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, 2008).
 
C.       Analisis
Metodologi merupakan cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Motodologi biasanya dihubungkan dengan suatu penelitian terhadap suatu objek. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan akurat, maka kita harus menentukan metodologi yang tepat sesuai dengan kajian yang sedang kita teliti. Begitu juga saat kita ingin meneliti atau menelaah mengenai media dan sistem sosial yang ada di sekitar kita.
Media yang ada terus menerus berkembang mengikuti perubahan-perubahan yang ada di masyarakat, dan begitu pula sebaliknya. Dengan kemajuan teknologi media yang sudah tidak terbendung, maka akan memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama masyarakat urban. Perubahan-perubahan tersebut memunculkan cara hidup baru yang membuat masyarakat kini sulit lepas dari media-media yang ada.
Perkembangan media saat kini turut dipengaruhi oleh sistem sosial yang ada di dalam lingkungan media tersebut. Kini banyak pihak swasta yang memiliki perusahaan media yang memiliki peranan-peranan penting dalam roda keseharian masyarakat. Dalam setiap sistem sosial pasti ada pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan menggunakan media yang mereka miliki untuk menarik perhatian dan simpati masyarakat. Misalnya menjelang Pemilihan Umum 2014 mendatang, banyak pihak-pihak yang menggunakan media massa berupa televisi sebagai wadah untuk menarik simpati masyarakat. Media-media tersebut meliput seluruh kegiatan mereka, mulai dari berangkat dari kediamannya hingga acara-acara sosial yang mereka geluti. Bahkan ada juga membuat ikaln untuk lebih meyakinkan masyarakat. Banyak dari calon peserta pemilu yang memilih media televisi karena pengaruh yang ditimbulkan. Semakin sering intensitas penayangan kegiatan atau iklan mereka, maka kemungkinan untuk mendapatkan simpati masyarakat juga semakin terbuka lebar.
Ketepatan metodologi diengaruhi oleh indikator sosial berupa segmentasi massa. Ada tiga hal yang termasuk dalam segmentasi massa, yaitu intelektualitas, ekonomi, dan wilayah (nilai/adat). Dalam keseharian kita di mana pun dan kapan pun, kita harus bisa memahami ketiga hal tersebut.
Ritzer dan Goodman mengatakan bahwa pendekatan sistem cenderung menganggap atau melihat semua aspek sosiokultural dari segi proses, khususnya jaringan informasi dan komunikasi.sehubungan dengan itu, maka komunikasi massa lebih banyak menjelaskan masalah-masalah proses komunikasi, sedangkan media massa lebih banyak menjelaskan teknis teknologi dan aspek-aspek yang dihasilkan dari teknologi itu sendiri.[8]
Komunikasi massa (media) sebagai sistem sosial memiliki komponen-komponen penting, yaitu:[9]
1)      Narasumber sebagai sumber-sumber informasi bagi media massa.
2)      Public (masyarakat) yang mengkonsumsi media massa.
3)      Media massa yang meliputi organisasi, sumber daya manusia, fasilitas produksi, ditribusi, kebijakan yang ditempuh, ideologi yang diperjuangkan, dan lain sebagainya.
4)      Aturan hokum dan perundag-undangan, norma-norma dan nilai-nilai, serta kode etik yang mengatur pelaksanaan semua pemegang saham komunikasi massa.
5)      Institusi samping yang tumbuh untuk member kostribusi terhadap kegiatan komunikasi massa seperti percetakan, periklanan, badan sensor, dan sebagainya.
6)      Pihak-pihak yang mengendalikan berlangsungnya komunikasi massa, permodalan, penguasa, kekuatan politik, maupun kelompok kepentingan.
7)      Unsure-unsur penunjang lain yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan komunikasi massa, misalnya seperti perusahaan penghasil teknologi informatika, kondisi sosial, ekonomi, politik Negara, kondisi global masyarakat internasional, serta percaturan politik dunia.
 
Sistem sosial komunikasi massa yang dikonstruksi dengan berbagai komponen (Adaptation – Goal attainment – Integration – Latency (pattern maintance)) akan membentuk sistem sosial yang berkembang, solid, mengalami pergerakan-pergerakan internal di antara anggota sistem, berevolusi (bahkan berdifusi) dan akhirnya melahirkan sistem-sistem sosial yang baru yang lebih tangguh dan lebih sempurna. Bila pergerakan internal membuat kerusakan pada sistem sosial yang tak dapat diatasi, maka bias jadi sistem sosial lama dalam sistem komunikasi massa akan hancur dan mati sama sekali.[10]
 
DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku :
Tim Buku Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Cetakan ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa.
Bungin, Burhan. 2008. Sosoilogi Komunikasi: teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Edisi pertama. Cetakan ketiga. Jakarta: Kencana.
 
Situs/Website :
Anonym. (2013). Metodologi. <http://id.wikipedia.org/wiki/Metodologi>, diakses pada tanggal 20 April 2013.
Defila, Februl. (2012). Media Pendidikan. <http://februl.wordpress.com/2012/09/09/media-pendidikan/#more-575>, diakses pada tangal 20 April 2013.
Junaidi, Wawan. (2012). Pengertian Media. <http://wawan-junaidi.blogspot.com/2012/01/pengertian-media.html>, diakses pada tanggal 20 April 2013.


[1] Anonim, (2013), Metodologi, <http://id.wikipedia.org/wiki/Metodologi>.
[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2005), h. 740-741.
[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2005), h.
[4] Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim et.al., 2001 dikutip oleh Februl Defila, (2012), Media Pendidikan, <http://februl.wordpress.com/2012/09/09/media-pendidikan/#more-575>.
[5] Wawan Junaidi, (2012), Pengertian Media, <http://wawan-junaidi.blogspot.com/2012/01/pengertian-media.html>.
[6] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2005), h. 726
[7] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2005), h. 1077
[8] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta, Kencana, 2008), h. 83
[9] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta, Kencana, 2008), h. 83-84
[10] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta, Kencana, 2008), h. 85

media cetak dan media konvensional_kharisma utama_tugas pertemuan ke 6

NAMA : KHARISMA UTAMA

109051000179

 

Media Cetak dan Media Konvensional (Struktur, Sistem, dan Dampak)

 

            Di zaman yang sudah sangat modern ini, dibarengi dengan perkembangan teknologi informasi. Informasi adalah sesuatu hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Manusia selalu membutuhkan informasi dalam kehidupannya. Informasi tersebut tentu saja didapatkan melalui media, baik informasi tentang ilmu pengathuan, peristiwa yang terjadi saat ini, gossip, ataupun yang lainnya. Media tersebut terbagi menjadi media konvensional dan new media.

            Media konvensional umumnya merupakan media yang sering dilihat setiap hari, baik dari media cetak (seperti surat kabar, majalah, dan tabloid) ataupun dari media elektronik (seperti televisi dan radio). Sedangkan new media itu seperti internet, social media, blogger, mailling list, dan lain-lain.

Media cetak merupakan suatu media yang bersifat statis dan mengutamakan pesan visual, terdiri dari lembaran kertas dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dengan tata warna hitam putih, yang berisikan berbagai macam informasi, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, bisnis, opini, hiburan, tips, lowongan pekerjaan, dan juga mengenai kejadian di dalam & luar negeri.

Media cetak merupakan dokumen suatu kegiatan atau rekaman peristiwa yang ditangkap oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata, gambar, dan sebagainya. Media cetak sering digunakan untuk memasang iklan, seperti surat kabar dan majalah. Jenis iklan bisa berupa iklan baris, iklan display, dan iklan advertorial. Iklan baris pertama yang dikenal masyarakat pada umumnya terdiri dari iklan lowongan pekerjaan, penawaran barang dan jasa tertentu.

Karakteristik media konvensional, baik media cetak maupun media elektronik antara lain:

1.      Publisitas, berarti dapat disebarluaskan kepada khalayak.

2.      Universalitas, isi pesannya bersifat umum atau universal, yang berarti dapat dibaca, didengar atau dilihat siapa saja.

3.      Periodisitas, dipublikasikan kepada khalayak secara periodik atau tetap.

4.      Continuitas, disajikan berkesinambungan, sampai fakta dan pendapat yang mengandung nilai berita tidak lagi dinilai penting atau menarik oleh sebagian besar khalayak.

5.      Aktualitas, isi pesan mengutamakan nilai kebaruan.

 

                Kelebihan media cetak:

1.      Dapat dibaca berulang-ulang.

2.      Bisa dibawa kemana-mana.

3.      Relatif lebih murah.

4.      Menjangkau daerah pedesaan.

5.      Informasi yang diterbitkan, lebih mendalam.

 

Kekurangan media cetak:

1.      Hanya berupa tulisan.

2.      Hanya memberikan visual gambar yang mewakili keseluruhan isi berita.

3.      Tidak menampilkan gerak dan suara.

4.      Dari segi waktu media cetak lambat dalam memberikan informasi. Karena media cetak tidak dapat menyebarkan langsung berita yang terjadi pada masyarakat dan harus menunggu cetak.

Tugas 4 (Perempuan dan Ekologi)

Perempuan dan Ekologi_Ika Septi Trisnowati_Tugas 4

 

Sekarang ini sudah banyak sekali permasalahan mengenai lingkungan hidup. Banyak pemberitaan di media, yang memberitahukan tentang kondisi bumi kita yang semakin hari semakin memprihatinkan. Salah satu penyebabnya adalah karena kerusakan pada lingkungan hidup. Di mana pelakunya tidak lain adalah karena ulah tangan manusia. Namun, dibalik manusia-manusia yang mungkin hanya memikirkan untuk kemajuan zaman. Tetapi kurang memperhatikan keadaan lingkungan, akibat dari kemajuan zaman itu. Ada sosok lain dibalik itu yang masih peduli dan bahkan berusaha memperjuangkan lingkungan agar tetap terjaga dengan baik.

Sosok yang peduli terhadap lingkungan itu, termasuk di dalamnya adalah sosok perempuan. Mereka berusaha dengan segala kekuatan yang dimiliki untuk melindungi lingkungan bumi kita ini. Dan kisah yang diangkat dalam ringkasan ini, mengenai "perempuan dan ekologi". Bertepatan dengan masih dirayakannya Hari Kartini. Yang sudah banyak diketahui, bahwa beliau adalah salah satu pejuang perempuan. Dan perjuangannya terhadap kaum perempauan, kemudian dikenal dengan emansipasi wanita.

Kisah perempuan berikut ini, bisa dikatakan sebagai penerus R.A Kartini. Di mana beliau berjuang untuk lingkungan kita, khususnya Negeri Indonesia. Beliau adalah Ibu Emmy Hafild. Yang merupakan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Jakarta. Beliau lahir di Petumbukan, Sumatera Utara pada 3 April 1958. Beliau terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan pedesaan. Kebiasaan yang dilakukan oleh beliau sewaktu kecil adalah berenang di sungai dan bermain-main di kebun. Dengan kebiasaannya itulah, beliau mulai diajarkan untuk mencintai alam lingkungannya.

Beliau menjadi salah satu aktivis yang melakukan pembelaan pada lingkungan Indonesia. Menurut beliau, konsep pembangunan lingkungan di Indonesia berbeda dengan di Negera Dunia Ketiga lainnya. Persoalan mengenai kerusakan lingkungan di Indonesia, menurutnya adalah karena keserakahan manusianya. Oleh karena itu, beliau pernah membawa persoalan lingkungan yang ada di Indonesia ke pengadilan Internasional. Dan pada saat itu, untuk pertama kalinya LSM Indonesia melakukan gugatan sampai pada tingkat Internasional di Amerika Serikat. Hal itu pun membuat beliau mendapatkan teror, karena dianggap menjadi "pengkhianat bangsa Indonesia".

Awal mula beliau menjadi aktivis  yang peduli lingkungan. Yakni ketika beliau kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat itu, beliau dan teman-temannya gencar melakukan kritik terhadap Pemerintahan Orde Baru melalui kasus-kasus yang berhubungan dengan lingkungan. Saat beliau menjadi aktivis lingkungan, beliau mendapatkan banyak kritikan dari orang-orang disekitarnya. Di antara mereka ada yang menganggap bahwa isu lingkungan adalah isu yang anti politis, manusia sudah memiliki banyak persoalan hidup. mengapa harus mengurus tumbuh-tumbuhan atau hewan-hewan?. Begitulah salah satu kritikan yang beliau dapat dari sebagian orang. Bahkan saat beraktivitas di lapangan, beliau sering mendapatkan perkataan yang tidak mengenakan untuk dirinya. Di mana itu disampaikan oleh kaum laki-laki yang tidak suka dengan apa yang dilakukannya.

Tekad beliau untuk melakukan pembelaan pada lingkungan begitu kuat. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kritikan yang beliau sampaikan pada masa Orde Baru. Seperti pada tahun 80-an, saat beliau menjabat sebagai koordinator SKEPHI (Sekretariat Kerjasama kelestarian Hutan Indonesia). Beliau mengkritik program trnasmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Karena menurut beliau, program tersebut dinilai merusak lingkungan. Karena waktu itu pemerintah membawa konsep Revolusi Hijau dengan penggunaan pupuk buatan pada para petani di Jawa. Namun, kemudian pemerintah memaksakan penggunaan pupuk tersebut untuk para petani di luar Jawa (daerah transmigrasi).

Pada kasus-kasus lingkungan yang beliau tangani. Beliau menemukan bahwa pada persoalan lingkungan pun telah membawa dampak negatif pada perempuan dan anak-anak. Menurut beliau, perempuan telah menjadi korban lingkungan dari negata yang strukturnya sangat paternalistik.

Kemudian, sejak tahun 1982, Ibu Emmy mulai aktif sebagai koordinator program lapangan pada Yayasan Indonesia Hijau. Setelah sebelumnya menjadi koordinator di SKEPHI. Beliau juga menjadi koordinator program untuk isu-isu khusus di WALHI dan Friend Of The Earth Indonesia. Lalu, mulai tahun 1996, beliau menjabat sebagai Direktur Eksekutif di WALHI. Sejak itu namanya semakin mencuat, manakala beliau gencar mengkritik PT. Freeport Indonesia yang melakukan penghancuran lingkungan pada tanah-tanah di Timika, Papua.

Hasil dari segala perjuangan yang pernah beliau lakukan di masa lalunya. Yakni pada tahun 1999, bersama Wangari Maathai, Ibu Emmy dinobatkan oleh majalah Time sebagai The Heroes For The Planet. Penghargaan ini membuatnya begitu berkesan. Karena menurut beliau, sejak saat itu telah banyak orang yang mulai melihat bahwa banyak persoalan di bumi yang berhubungan dengan lingkungan. Dan hal itu tidak beliau jumpai pada tahun-tahun sebelumnya, saat beliau memulai menjadi aktivis lingkungan.

Kemudian, pada tahun 2000, Ibu Emmy mendapatkan penghargaan sebagai Future Leaders of Asia dari majalah Asiaweek. Dan, pada tahun 2001, Ibu Emmy kembali mendapatkan penghargaan yakni Satya Lencana Pembangunan di bidang lingkungan dari Menteri Negara Lingkungan Hidup. Penghargaan-penghargaan tersebut merupakan suatu bukti nyata dari perjuangannya untuk lingkungan.

Ibu Emmy, dalam kesehariannya masih terus melakukan kritik keras terhadap ide pembangunan yang merugikan manusia. Dan sekarang pun dapat kita lihat, peran WALHI disaat terjadi permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia. WALHI menjadi salah satu lembaga yang dapat dikatakan sebagai wadah untuk menangani permasalahan lingkungan di Indonesia.

Jadi, dari perjuangan yang beliau lakukan. Dapat menginspirasi bagi kaum perempuan lainnya. Bahwa dengan tekad dan semangat yang kuat untuk melakukan sesuatu. Kaum perempuan pun bisa mencapai segala sesuatu yang dicitakannya. Walau terkadang hingga kini, mungkin masih ada yang menganggap kaum perempuan sebagai kaum yang dinomor duakan dalam beberapa hal. Tetapi, dalam hal yang sama dengan kaum laki-laki pun. Kaum perempuan masih bisa menjadi yang lebih terdepan dari kaum laki-laki. Karena perjuangan, baik itu laki-laki ataupun perempuan, bukanlah kodrat yang tidak bisa digantikan.

 

 

Sumber :

·         Perempuan dan ekologi. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan.

Media Cetak dan Media Konvensional (Struktur,Sistem, Dampak)_Meta Yunita Kusuma_Tugas 6

MEDIA CETAK DAN MEDIA KONVENSIONAL (STRUKTUR, SISTEM, DAMPAK)

 

Nama   :  Meta Yunita Kusuma (109051000152)

Kelas   : KPI 6G

 

A. PENDAHULUAN

 

Media cetak merupakan suatu media yang bersifat statis dan mengutamakan pesan- pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran kertas dengan sejumlah kata,gambar, atau foto dengan tata warna dan halaman putih.[1] Secara harfiah pengertian media cetak bisa diartikan sebagai sebuah media penyampaian informasi yang memiliki manfaat dan terkait dengan dengan kepentingan rakyat banyak, yang disampaikan secara tertulis.[2] Sedangkan Media  konvensional adalah yang hanya bisa menyediakan komunikasi satu arah dengan penggunanya, Contohnya: Radio, TV, Koran.[3] Ada sebagian orang yang mengatakan saat ini media konvensional tersebut sudah menjadi  traditional media dimana media digital sudah mulai mempengaruhi gaya hidup manusia di Era informasi seperti saat ini.

Struktur Media Cetak dan Media Konvensional

Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department).  Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi.  Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi.[4]

Sistem Media Cetak:

1.      Biasanya panjang nakah telah dibatasi, misalnya 5-7 halaman kuarta diketik 2 spasi,

2.      Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi seblum dimuat,

3.      Kalau sudah naik cetak (sudah-di film-kan pada proses percetakan), tak bisa diedit lagi,

4.      Tiap edisi, desainer atau layourter harus bekerja untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut,

5.      Berkala harian (mingguan, bulanan, dua mingguan, dan sebagainya), dan

6.      Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi.[5]

Sistem Media konvesional:

1.      Daerah jangkauan luas,
2. Daya yang digunakan besar,
3. Kapasitas sistem masih rendah,
4. Modulasi analog berupa frequency modulation (FM) sehingga memerlukan bandwith yang besar,
5. Belum menggunakan handoff belum terhubung ke jaringan public service telphone network (PSTN), dan
6. Komunikasi hanya untuk suara (voice) saja.[6]

Dampak Media Cetak dan Media Konvensional

Kekurangan media  cetak terletak antara hubungan wartawan dengan pembaca, sangat berjarak, umumnya wartawan bersifat anonym. Keempat, proses penyajian berita pada media cetak lebih sederhana, yang menentukan si wartawan sendiri dan redakturnya.

Sedangkan Media konvensional seperti surat kabar saat ini sudah tersaingi oleh media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Karena banyaknya kesibukan seseorang maka pengguna media akan beralih ke media elektronik yang lebih praktis dan mudah digunakan . Akan tetapi kita tidak boleh begitu saja meninggalkan media konvensional karena sejarahnya yang begitu panjang . Dan sepertinya ada kelebihan tersendiri dari media konvensional dibandingkan dengan media elektronik yaitu harganya yang lebih terjangkau.[7]

B. METODE STUDI

Metode yang penulis gunakan pada penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka.Yakni penulis melakukan pencarian terhadap bahan bacaan relevan yang sesuai dengan judul materi tersebut.

 

C. ANALISIS

Media cetak merupakan sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala seperti surat kabar, majalah. Media cetak ini merupakan bagian dari saluran informasi masyarakat. Dalam banjir informasi seperti ini, masyarakat harus hati-hati karena banyak informasi yang belum tentu benar, bahkan mungkin menyesatkan, di antaranya yang berasal dari media non konvensional, yaitu informasi yang berasal dari sms, blackberry messenger (bbm), dan media sosial lainnya. 

            Untuk itu, diharapkan masyarakat jangan langsung percaya terhadap informasi yang diterimanya, walaupun informasi itu disiarkan oleh media-media konvensional. Inilah yang terjadi pada saat sekarang terutama remaja. Dalam pengambilan informasi yang dibutuhkan, para remaja saat ini saat enggan untuk membaca dalam bentuk kertas seperti koran dan majalah. Mereka cenderung hanya ingin mengakses apapun yang mereka inginkan melalui media elektronik. Hal ini menyebabkan media cetak secara perlahan mulai diabaikan di kalangan remaja. Pengambilan keputusan yang terlalu cepat terhadap informasi yang beredar bisa berakibat fatal.  

DAFTAR PUSTAKA :

http://pelangii21sekretariis.blogspot.com/2010/01/pengertian-media-cetak.html 

http://www.anneahira.com/pengertian-media-cetak.htm

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/04/09/media-komunikasi-zaman-prasejarah-elektronik-dan-konvensional-549686.html

http://yuli-kamboja.blogspot.com/2011/04/media-cetak.html

http://chakadidy-news.blogspot.com/2012/05/perbedaan-antara-media-cetak-dengan.html

http://belajar-pemrograman2.blogspot.com/2010/11/dampak-positif-dan-negatif-new-media.html

 

 

 

MEDIA ELEKTRONIK DAN MEDIA ONLINE (STRUKTUR,SISTEM DAN DAMPAK)
A.    SAIFUL MU'MININ (109051000166)
PERTEMUAN KE 6
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
A.     PENDAHULUAN
Pengertian Media Massa Menurut Para Ahli Leksikon komunikasi memberikan pengertian media massa sebagai "sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar".
Definis Media Massa - Kata media massa berasal dari medium dan massa, kata "medium" berasal dari bahasa latin yang menunjukkan adanya berbagai sarana atau saluran yang diterapkan untuk mengkomunikasikan ide, gambaran, perasaan dan yang pada pokoknya semua sarana aktivitas mental manusia, kata "massa" yang berasal dari daerah Anglosaxon berarti instrumen atau alat yang pada hakikatnya terarah kepada semua saja yang mempunyai sifat massif. Tugasnya adalah sesuai dengan sirkulasi dari berbagai pesan atau berita, menyajikan suatu tipe baru darikomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan fundamental dari masyarakat dewasa ini.
Media massa merupakan suatu penemuan teknologi yang luar biasa, yang memungkinkan orang untuk mengadakan komunikasi bukan saja dengan komunikan yang mungkin tidak pernah akan dilihat akan tetapi juga dengan generasi yang akan datang. Dengan demikian maka media massa dapat mengatasi hambatan berupa pembatasan yang  diadakan  oleh waktu, tempat dan kondisi geografis. Penggunaan media massa karenanya memungkinkan komunikasi dengan jumlah orang yang lebih banyak. Setiap jenis  media  massa  mempunyai   sifat-sifat khasnya   oleh karena itu penggunaannya juga harus diperhitungkan sesuai dengan kemampuan serta  sifat-sifat khasnya. Ditinjau dari perkembangan teknologi di bidang penyampaian informasi melalui media massa, media massa dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
 
a.        Media massa modern
Yang dimaksud media massa modern adalah media massa yang menggunakan teknologi modern yaitu media massa cetak dan media massa elektronik. Media massa cetak  adalah  media massa yang  dalam  menyampaikan informasinya terlebih dulu harus dicetak menggunakan alat cetak. Media massa ini misalnya surat kabar, majalah, tabloid dll.
 
Media massa elektronik adalah media massa yang dalam menyampaikan informasinya menggunakan jasa listrik.Tanpa adanya listrik media massa ini tidak akan dapat berfungsi misalnya radio dan televisi.
 
b.        Media massa tradisional
Media yang digunakan sebagai sarana penyampaian informasi pada jaman dulu, lebih banyak menggunakan media massa tradisional misalnya wayang, lawak, lenong, seni tradisional dll.
Frederick William mengatakan bahwa kita dalam kehidupn modern ini secara terus menerus memilih media komunikasi mana yang dapat mewakili situasi yang ada. Ia juga mengatakan bahwa salah satu hal yang membedakan gambaran mengenai dunia kita dalam komunikasi modern adalah bahwa kita memiliki banyak pilihan dalam menggunakan media komunikasi. Tidak hanya itu saja, media menjadi bervariasi dan isinya berhubungan pada teknologi komunikasi baru. Contohnya televisi bisa kita terima di rumah hanya dengan kabel, disk atau tape yang berhubungan langsung dengan satelit. Sebenarnya kita hidup dalam dunia yang memiliki banyak alternatif komunikasi yang mungkin mendorong kita untuk meningkatkan pilihan-pilihan yang lebih banyak.
Sumber informasi utama masyarakat adalah media massa. Keterbatasan kemampuan manusia untuk memperoleh informasi itulah sehingga manusia membutuhkan suatu media yang dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Pada saat ini telah terjadi revolusi informasi dimana manusia dihadapkan pada banyak pilihan media seperti media cetak dengan berbagai macam versi penyajiannya, media elektronik televisi dan audio visualnya serta media internet dengan megapustaka untuk berbagai informasi yang dibutuhkan.
 
B.     METODE STUDI
Metode yang penulis gunakan pada penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka.Yakni penulis melakukan pencarian terhadap bahan bacaan relevan yang sesuai dengan judul materi tersebut dan menggunakan sebagian data dari buku,  Buick, Joanna dan Zaron Zevtic, Mengenal Cyberspace For Beginners, Bandung : Mizan, 1997. 
Ely, D.P., Information Technology in Education: The Best of ERIC, New York: ERIC Clearinghouse on Information Resources, 1982.
Eduard dkk,  Peranan  Komunikasi  Massa  Dalam  Pembangunan, Suatu. Kumpulan    Karangan,    Gadjah    Mada    University    Press, Yogyakarta, 1978.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY, Peranan Media Massa Lokal Bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah, 1997 Jahi, Amri, Komunikasi Massa dan Pembangunan di Negara-negara Dunia Ketiga : Suatu Pengantar, PT. Gramedia, Jakarta, 1988
 
C.     ANALISIS
Media massa merupakan media komunikasi yang dijadikan sumber informasi terbesar bagi masyarakat untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Media massa juga dijadikan jembatan informasi antara satu tempat dengan tempat lain. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat sangat tergantung pada media massa. Sehingga apapun yang disajikan akan dengan mudah dipercayai oleh penerima. Karena masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk melakukan cek dan ricek atas apa yang dikemukakan media massa. Saat itulah media massa akan dengan mudah melakukan 'brain washing' pada pembaca dan mengarahkan masyarakat sesuai dengan keinginan orang-orang di belakang informasi.
 
Berbagai cara ditempuh untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan menyajikan berita-berita yang up to date, sehingga terjadilah persaingan antar media massa. Salah satu cara yang digunakan media untuk memperoleh informasi yang aktual adalah dengan menyebarkan koresponden ke seluruh dunia. Dengan begitu, media massa akan lebih mudah mendapatkan informasi aktual dari seluruh dunia dalam waktu singkat. Cara lain yaitu dengan membentuk kantor berita seperti kantor berita di Indonesia dengan nama Kantor Berita Antara atau Reuters di Inggris dan NHK di Jepang.
 
Teknologi komunikasi dalam hal penyebaran informasi melalui media massa semakin berkembang. Kali ini tidak hanya melalui media cetak ataupun elektronik tetapi internet. Suatu media alternatif selain media massa yang telah ada, internet merupakan suatu mega pustaka dimana seluruh informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh disana.
 
Media massa secara mandiri maupun hanya sebagai penunjang memiliki fungsi sebagai berikut:

a.    Sebagai pemberi informasi
Dapat dilakukan sendiri oleh media Tanpa media sangatlah mustahil informasi dapat disampaikan secara tepat tanpa terikat waktu.
b.    Sebagai pengambilan keputusan
Dalam hal ini media massa berperan sebagai penunjang karena fungsi ini menuntut adanya kelompok-kelompok diskusi yang akan membuat keputusan di samping itu diharapkan adanya perubahan sikap kepercayaan norma-norma sosial. Oleh sebab itu dalam hal ini mekanisme komunikasi antar pribadi sangat berperan. Mass media berperan dalam menghantarkan informasi sebagai bahan diskusi, memperjelas masalah-masalah dan menyampaikan pesan-pesan para pemuka masyarakat.
c.    Sebagai pendidik
Sebagian dapat dilaksanakan sendiri oleh media massa sedangkan  bagian lain dikombinasikan dengan komunikasi antar pribadi (Eduard D, 1978:47). Menurut Chalkley media massa berfungsi untuk:

1.      Memberitakan tentang fakta kehidupan ekonomi masyarakat,
2.      Menginterpretasikan fakta tersebut agar dipahami oleh masyarakat itu,
3.      Mempromosikan  hal   tersebut  agar  menyadari   betapa  serius   masalah pembangunan yang dihadapi dan memikirkan lebih lanjut masalah itu serta mengantarkan masyarakat pada solusi-solusi yang mungkin ditempuh.

Menurut Crawford peranan media massa dalam pembangunan tidaklah independen sifatnya melainkan terbatas sebagai pemicu pembangunan bila faktor-faktor lain terdapat secara memadai. Hal ini menunjukkan komunikasi saja bukanlah suatu kondisi yang memadai bagi pembangunan akan tetapi kurangnya atau kegagalan komunikasi dapat saja menghambat pembangunan. Jadi komunikasi sendirian saja tidak akan menghasilkan pembangunan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Buick, Joanna dan Zaron Zevtic, Mengenal Cyberspace For Beginners, Bandung : Mizan, 1997.
 
Ely, D.P., Information Technology in Education: The Best of ERIC, New York: ERIC Clearinghouse on Information Resources, 1982.
Eduard dkk,  Peranan  Komunikasi  Massa  Dalam  Pembangunan, Suatu. Kumpulan    Karangan,    Gadjah    Mada    University    Press, Yogyakarta, 1978.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY, Peranan Media Massa Lokal Bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah, 1997

Jahi, Amri, Komunikasi Massa dan Pembangunan di Negara-negara Dunia Ketiga : Suatu Pengantar, PT. Gramedia, Jakarta, 1988
 

Cari Blog Ini