Senin, 30 September 2013

Raafazaahirah_KPI1A_Tugas4_sosiologi_Max Weber

1. Economic and society

Di dalam buku ini menjelaskan tetang tipe-tipe ideal. Tipe –tipe ideal
adalah salah satu sumbangan terpenting dari Max Weber untuk sosiologi
kontemporer.seperti yang kita ketahui bahwa Weber percaya bahwa
tanggung jawab sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual,yang
kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Perangkat
konseptual tersebut disebut juga dengan tipe ideal:



Tipe ideal dibentuk oleh aksentuasi satu sisi dari satu atau lebih
sudut pandang dan oleh sintesis dari begitu banyak fenomena individual
konkret yang kabur, khas, kadang kala kentara dan kadang –kadang
tidak, yang diatur menurut sudut pandang satu sisi ke dalam konstruk
analitis terpadu. ...dalam kemurnian konseptualnya, konstruk menta
ini...secara empiris tidak dapat ditemukan di dalam realitas.

(Weber,1903-17/1949:90)

Tipe-tipe ideal merupakan perangkat heuristik, mereka berguna dan
membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek
tertentu dari dunia sosial (individu historis). Seperti yang dikatakan
Lachman, "pada dasarnya tipe ideal adalah tolak ukur" (1971:26), atau
menurut Kalberg, "standar pembanding"(1994:87). Inilah yang dikatakan
Weber : "fungsinya adalah alat pembanding dengan realitas empiris
untuk menentukan ketidaksesuaian atau kemiripan, untuk
menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara
tepat,dan untuk menentukan dan menjelaskannya secara kausal
(1903-17/1949:43). Sebagai contoh, ilmuan sosial akan mengontruksi
tipe ideal birokrasi berdasarkan atas keterlibatan mereka dengan data
sejarah.tipe ideal ini kemudian dapat dibandingkan dengan birokrasi
aktual.peneliti mencari ketidaksesuaian dan pada kenyataan riil dari
tipe ideal rata-rata.selanjutnya, mencari sebab-sebab ketidaksesuaian
dan penyimpangan ini. Beberapa alasan tipikal bagi ketidaksesuaian ini
adalah:

a) Tindakan birokat yang didasarkan pada informasi yang keliru.

b) Kesalahan strategi, terutama yang dilakukan oleh para pemimpin
birokrasi.

c) Kesalahan logika yang menopang tindakan pemimpin dan pengikut.

d) Keputusan birokratis yang didasarkan pada perasaan.

e) Segala irasionalitas dalam tindakan pemimpin dan pengikut birokrasi.

Sejalan dengan upaya Weber untuk menemukan titik tengah antara
pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idiografis, ia berpendapat
bahwa tipe-tipe ideal tidak boleh terlalu spesifik. Sebagai contoh,
pada kasus agama ia menolak tipe-tipe ideal sejarah agama secara umum,
namun ia pun harus bersikap kritis terhadap tipe-tipe ideal fenomena
yang sangat spesifik, seperti pengalaman keagamaan individual.
Tipe-tipe ideal justru dikembangkan dari fenomena antara, seperti
Calvinisme, pietisme, Metodisme, Baptisme (Weber,1904-05/1958).

Penggunaan kata ideal ideal atau utopia tidak boleh diartikan bahwa
konsep yang digambarkan tersebut dari sudut pandang mana pun adalah
yang terbaik di antara yang mungkin. Menurut Weber, istilah ini
berarti bahwa bentuk yang digambarkan dalam konsep tersebut jarang,
jika pernah, di temukan di dunia nyata. Sebaliknya Weber berargumen
bahwa tipe ideal tidak harus positif atau benar, bisa saja ia sama
sekali tidak dapat diterima secara moral atau bersifat negatif
(1903-17/1949).

Hekman (1983:38-59) juga mengakui bahwa Weber menawarkan beberapa
macam tipe ideal:

a. Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang
ditemukan pada epos sejarah tertentu.

b. Tipe ideal sosiologis umum. Ini terkait dengan fenomena yang
bersinggung dengan beberapa periode historis dan masyarakat.

c. Tipe ideal tindakan.merupakan tindakan murni yang didasarkan
pada motivasi pelaku.

d. Tipe ideal struktural. Merupakan sebab dan akibat tindakan sosial.



2. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism

Di dalam buku ini menjelaskan kausalitas. Aspek lain dari metodologi
Weber adalah komitmennya pada studi kausalitas (Ringer,1997:75). Weber
cenderung melihat study sebab-sebab fenomena sosial berada dalam
wilayah sejarah bukan sosilogi. Namun ketika sosiologi dan sejarah
tidak dapat dipisahkan secara jelas dalam karya subtantif Weber, isu
kausalitas tetap relavan bagi sosiologi. Ini juga merupakan tempat
bagi Weber untuk mengombinasikan pendekatan nomotetis dengan
idiografis.

Yang Weber maksud dengan kausalitas adalah kemungkinan suatu peristiwa
diikuti atau disertai peristiwa lain. Menurut dia tidak cukup hanya
mencari keajekan historis, pengulangan, dan keparalelan, sebagaimana
yang dilakukan sebagai sejarawan. Namun peneliti harus melihat alasan,
sekaligus makna, perubahan-perubahan historis.

Meskipun Weber dapat dipandang memiiki model kausal satu jalan yang
berlawanan dengan mode penalaran dialektis Mark, dalam sosiolgi
subtantifnya ia selalu menyelaraskan hubungan antara ekonomi,
masyarakat, politik, organisasi, stratifikasi sosial, agama, dan lain
sebagainya. Jadi Weber bekerja dengan pendekatan multikausaldi mana "
sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi faktor kausal
efektif".

Weber cukup jelas ketika membicarakan isu keragam kausalitas dalam
studinya tentang hubungan antara protestanisme dengan semangat
kapitalisme, meskipun terkadang ditafsirkan lain. Sebenarnya hanya
ingin menyatakan bahwa etika protestan adalah salah satu faktor kausal
munculnya semangat kapitalismemodern.

Dan beginilah weber mengemukakan pandangannya:



Sejauh mungkin kita harus menjelaskan cara dan arah umum... gerakan
agama dalam mempengaruhi perkembangan budaya materi. Baru ketika hal
ini ditentukan dengan akurasi yang pas lah upaya dapat dilakukan untuk
memperkirakan sejauh mana perkembangan hisroris kebudayaan modern
dapat dilekatkan pada kekuatan religius dan sejauh mana pada kekuatan
lainnya.

(Weber,1904-05/1958:91-92).

Pemikiran Weber tentang kausalitas terkait erat dengan upayanya
memahami konflik antara pengetahuan nomotetis akan berargumen bahwa
terdapat hubungan pasti antara fenomena sosial, sementara pendukung
perspektif idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak antara
entitas-ettitas tersebut. Seperti biasa, Weber mengambil posisi tengah
yang disajikan dalam konsep "kausalitas yang tepat". Istilah konsep
kausalitas yang tepat adalah mengadopsi pandangan bahwa hal terbaik
yang dapat kita lakukan dalam sosiologi adalah membuat pernyataan
parobabilistik tentang hubungan antara fenomena sosial.



Nama :Raafa Zaahirah

Nim :1113051000046

Aden Ahmad Jainudin_PMI3_Tugas4_Kritis Marxisme dan marx

Teori Kritis

Istilah teori kritis pertama kali ditemukan Max Hokheimer pada tahun 30-an. Awalnya teori kritis berarti pemaknaan kembali gagasan-gagasan ideal modernitas berkaitan dengan nalar dan kebebasan. Pemaknaan ini dilakukan dengan mengungkap deviasi dari gagasan-gagasan ideal tersebut dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis.

Dira Rohmatun KPI1C_Tugas4_Max Weber

MAX WEBER

The Protestant Ethic And The Spirit Of Capitalism

Dalam The Protestant Ethic And The Spirit Of Capitalism, Weber menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat didorong oleh perkembangan etika Protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir menuntut adanya kepercayaan bahwa Tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan kepercayaan. Dalam kondisi ini menurut Weber, pemeluk Calvinisme mengalami "panic terhadap keselamatan." Cara untuk menenangkan kepanikan tersebut adalah orang harus berpikir bahwa seseorang tidak akan berhasil tanpa diberkahi Tuhan.

Syahrul Hidayanto KPI 1 C_Tugas 4_Max Weber

Economy and Society
Dalam bukunya yang berjudul Economy and Society (1910-1914), Max Weber berpendapat bahwa tindakan sosial dan sistem politik mempengaruhi sistem ekonomi. Weber juga menyajikan Tipe-tipe ideal yang terdiri atas campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diseleraskan dengan pernyataan-pernyataan Weber.

Nur Kholifah KPI 1/A_Tugas 4 Sosiologi_Max Weber

MAX WEBER
A.  Protestan Ethic and Spirit of  Capitalism (1904-05/1958)
Protestan Ethic and spirit of Capitalsm  adalah sebuah buku yang ditulis oleh Max Weber  seorang ekonom dan sosiolog Jerman pada tahun 1904 dan 1905. Edisi awal dari buku ini ditulis dalam bahasa Jerman dan berjudul "Die Protestantische Ethik und der 'Geist' des Kapitalsmus. Kemudian buku ini diterjemahkan kedalam bahasa inggris pada tahun 1930.

Minggu, 29 September 2013

NITA LISTIANAH KPI/1C_Tugas 4_Economy and Society, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism


Economy and Society
Max Weber merupakan pemikir sosiologi klasik yang memberi perhatian besar pada sistem ekonomi. Economy and Society dan General Economic History adalah dua karya terkemukanya yang bicara tentang sistem ekonomi. Meski demikian, Weber menarik garis tegas bagaimana ia melihat ekonomi dari perspektif sosiologi dan tidak terjebak pada teori-teori ekonomi. Bagi Weber, sistem ekonomi lahir dan dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar bidang ekonomi tersebut.

Syifa Fauziah_KPI 1/B_Tugas 4_Teori Max Weber


TEORI MAX WEBER
A.      ECONOMY AND SOCIETY
Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam buku Economy and Society adalah campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diseleraskan dengan pernyataan-pernyataan Weber, Weber menawarkan beberapa macam tipe ideal:
1.       Tipe ideal historis, ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu, (misalnya, pasar kapitalistis modern).
2.       Tipe ideal sosiologis umum, ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, birokrasi).
3.       Tipe ideal tindakan, ini merupaka tipe tindakan murni yang di dasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).
4.       Tipe ideal struktural, ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).
 Apa itu Sosiologi ?
Definisi sosiologi yang dikemukakan Weber. "Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatiannya pada pemahaman interpretif atas tindakan sosial dan pada penjelasan kausal atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut. Diantara tema-tema yang tercantum atau tersimpulkan dalam definisi ini adalah :
                Sosiologi haruslah berupa sebuah ilmu.
                Sosiologi harus memusatkan perhatian pada kausalitas.
                Sosiologi harus menggunakan pemahaman interpretif (verstehen).
Tindakan Sosial
                Ia membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Stimulus datang dan perilaku terjadi, dengan sedikit saja jeda antara stimulus dengan respons. Perilaku semacam ini tidak menjadi minat sosiologi Weber. Ia memusatkan perhatiannya pada tindakan yang jelas-jelas melibatkan campur tangan proses pemikiran (dan tindakan bermakna yang ditimbulkan olehnya) antara terjadinya stimulus dengan respons. Secara agak berbeda, tindakan dikatakan terjadi ketika individu melekatkan makna subjektif pada tindakan mereka.
Kelas, Status, dan Partai
                Mulai dengan kelas, Weber berpegang pada konsep orientasi tindakannya dengan menyatakan bahwa kelas bukanlah komunitas, kelas adalah sekelomok orang yang situasi bersama mereka dapat menjadi, dan kadang-kadang seringkali, basis tindakan kelompok. Weber menyatakan bahwa "situasi Kelas" hadir ketika tiga syarat terpenuhi:
1.       Sejumlah oran memiliki kesamaan komponen kausal spesifik peluang hidup mereka,
2.       Selama komponen ini hanya direpresentasikan oleh kepentingan ekonomi berupa penguasaan barang atau peluang untuk memperoleh pendapatan,
3.       Dan direpresentasikan menurut syarat-syarat komoditas atau pasar tenaga kerja. Inilah "situasi kelas"
Otoritas legal
        Otoritas legal dapat memiliki beragam bentuk struktural namun bentuk yang paling menarik perhatian Weber adalah birokrasi, yang ia pandang sebagai "tipe paling murni dari dijalankannya otoritas legal"
Hal hal berikut adalah ciri utama tipe ideal birokrasi :
1.       Terdiri dari rangkaian organisasi fungsi-fungsi resmi (badan) yang terikat oleh aturan.
2.       Setiap badan memiliki ranah kompetensi spesifik. Badan tersebut membawa serta serangkaian kewajiban untuk melakukan berbagai fungs. Otoritas untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut, dan cara-cara pemaksaan yang diperlukan bagi dilakukannya pekerjaan tersebut.
3.       Badan-badan tersebut terorganisasi ke dalam sistem hierarkis.
4.       Badan-badan tersebut mungkin membawa serta kualifikasi teknis yang mengharuskan partisipasinya memperoleh pelatihan yang tepat.
5.       Staf yang mengisi badan-badan tersebut tidak memiliki sarana produksi yang terkait dengannya, anggota staf dibekali dengan manfaat benda-benda yang mereka perlukan untuk melakukan pekerjaan tersebut.
6.       Tindakan, keputusan, dan aturan administratif dirumuskan dan dicatat secara tertulis.
 
B.      THE PROTESTANT ETHIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISM
Weber menjelaskan bahwa minat paling utama adalah lahirnya rasionalisme khas Barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan sistem tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem yang berkembang tersebut. Ia menghubungkannya secara langsung dengan perkembangan pararel rasionalisasi ilmu pengetahuan, hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas, dan pemerintahan. Jadi buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal-usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme lain) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut pandangan weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi, dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang jadi hal kritis di Barat. Di masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan. Jadi, oleh banyak orang hal ini dicurigai dari sudut pandang moral.
Meskipun dalam buku The Protestant Ethic Weber memusatkan perhatiannya pada efek Calvinisme pada semangat kapitalisme, ia sadar bahwa kondisi sosial dan ekonomi membawa dampak timbal balik terhadap agama.
Agama  dan Kapitalisme di China
Salah satu asumsi terpenting yang memungkinkan Weber melakukan perbandingan sah antara Barat dengan China adalah bahwa keduanya memiliki prasyarat bagi perkembangan kapitalisme. Di Cina, terdapat tradisi penguasaan secara intens dan persaingan bebas. Ada industri besar dan peluang kerja luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Terdapat sejumlah gilda yang begitu kuat. Penduduk meningkat. Terjadi pertumbuhan logam mulia secara terus-menerus.
Menurut pandangan Weber, kapitalisme dasar di Cina "menuju ke arah berlawanan dengan perkembangan perusahaan ekonomi rasional"
Kendala-kendala Struktural
                Weber mendaftar beberapa kendala struktural bagi lahirnya kapitalisme di Cina. Pertama, terdapat struktur komunitas khas Cina. Hal ini dipersatukan oleh ikatan kekerabatan yang erat dalam bentuk wangsa. Wangsa dipimpin oleh seorang ketua, yang menjadikan mereka pendukung tradisionalisme. Wangsa adalah entitas mandiri, dan tidak banyak berhubungan dengan wangsa lain. Hal ini mendorong penguasaan lahan yang sempit dan tertutup, dan berbasis rumah tangga, ketimbang pasar, ekonomi.
Taoisme
                Weber memahami taoisme sebagai agama Cina mistis yang di dalamnya kebaikan tertinggi diyakini sebagai kondisi psikis, kondisi pikiran, dan buka kondisi menggembirakan yang diperoleh dengan amal perbuatan dan kerja di dunia nyata. Akibatnya, taois tidak melakukan upaya rasional untuk memengaruhi dunia luar. Pada dasarnya Taoisme bersifat tradisional, dan salah satu ciri dasarnya adalah "jangan pernah lakukan inovasi". Sistem gagasan semacam itu cenderung tidak menimbulkan perubahan besar, sejauh yang dicapai kapitalism, misalnya.
Satu kesamaan ciri Taoisme dan Konfusianisme adalah tidak satupun yang cukup menghasilkan ketegangan, atau konflik, antaranggota yang mendorong mereka melakukan tindakan-tindakan inovatif di dunia.

sumber : Teori Sosiologi,  George Ritzer.
                               
 
 
 
 
 

fadlu zaty mubarak kpi1b_tugas4_economic and society dan protestan ethic and spirit of capitalizm

 
max weber
max weber (1864-1920) adalah seorang ilmuan terkenal dalam bidang sosiologi dalam karyanya ini, max weber cenderung tidak menekankan isu-isu metodologis.sebagaimana dipaparkan oleh lassman dan velody ,"jelas bahwa weber tidak memperhatikan metodologi yang dipahami sebagai buku petunjuk tentang petunjuk yang tepat …esai-esai metodoliginya lebih banyak berbicara tentang refleksi filofis perihal hakikat dan signifikansi klaim pengetahuan historis dan sosial"(1989;192).
Untuk membahas metodologi weber, mula-mula kita harus mengurai pemikirannya yang membicarakan sejarah dengan sosiologi .meskipun weber sebelumnya adalah mahasiswa hukum dan karir awalnya lebih condong ke bidang sejarah serta disertasi doktoralnya adalah studi historis tentang zaman pertengahan dan romawi.namun pada tahun-tahun berikutnya ia lebih dekat dengan sosiologi.menurut hemat weber,sosiologi bertugas melayani sejarah. Weber menjelaskan perbedaan antara sosiologi dan sejarah:"sosiologi berusah merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris.ini berbeda dengan sejarah, yang berorientasi pada analisis kasual dan penjelasan atas tindakan,struktur,dan kepribadian individu yan g memiliki signifikansi cultural"(1921/1968; 19).   
 
Fadly zaty Mubarak
1113051000092
  

Yumaretsa Ridwan KPI 1 A_Tugas4_Max Weber

The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism 

Dalam buku ini weber memaparkan pendangannya mengenai kausalitas dan keterkaitan antara etika Protestan dan munculnya kapitalisme di Eropa Barat. Ia menyatakan yang dimaksud dengan kausalitas adalah  kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Menurutnya mencari keajekan historis, pengulangan dan keparalelan saja tidak cukup.  Namun, peneliti harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan-perubahan historis .

Ada sesuatu hal yang menarik dan perlu diingat dalam buku ini mengenai  pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan dia bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial ,penegetahuan kausal atau ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmi-ilmu alam.

Pemikiran Weber tentang kausalitas terkait erat dengan upayanya memahami konflik antara pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idografis. Mereka yang menganut sudut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubungan pasti antar fenomena sosial, sementara itu para pendukung perspektif idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak antar entitas-entitas tersebut.

Weber mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat. Menurutnya  muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Baratberlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan.


Economic and Society

Dalam buku ini Weber menjelaskan tipe-tipe ideal. Menurutnya tipe-tipe ideal  adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah yang berfungsi sebagai alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian ataupun kemiripan, untuk menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, dan untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual. Karena memiliki deinisi yang seperti ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial.

Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, makna komponen-komponennya harus kompatibel, dan semua hal itu harus membantu kita memahami dunia riil. Ada beberapa macam tipe ideal yang weber tawarkan, yaitu :

 1) tipe ideal histories

Tipe ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapitalistis modern).

2) tipe ideal sosiologis umum

Tipe ini terkait dengan fenomena yang bersinggung dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, birokasi).

3) tipe ideal tindakan

Tipe ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).

4) tipe ideal struktural

Tipe ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).

 

Sumber:     Ritzer, G., & Goodman, D. J. TEORI SOSIOLOGI. Bantul : KREASI WACANA.

                

Shera Maulidia KPI 1B_Tugas 4_Max Weber

Max Weber

Economic and Society

Weber cenderung tidak menekankan isu-isu metodologis. Weber memfokuskan perhatiannya pada karya substantif: "hanya dengan mengungkapkan dan memecahkan masalah-masalah substantiflah ilmu dapat dibangun dan metodenya dapat berkembang". Untuk membahas metodologi Weber, mula-mula kita harus mengurai pemikirannya yang membicarakan hubungan sejarah dengan sosiologi.

Weber merasa bahwa sejarah (sosiologi historis) membahas individualitas dan generalitas. Pandangan Weber tentang sosiologi historis sebagian dibangun oleh ketersediaan,dan komitmennya pada studi tentang data historis.

Weber cenderung menyibukkan dirinya dengan data historis. Hal ini pun menciptakan masalah serius dalam memahami karyanya. Singkatnya, Weber percaya bahwa sejarah terdiri dari bentangan fenomena spesifik yang tiada habisnya.

Weber merasa bahwa sosiologi memiliki kelebihan daripada ilmuan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiologi untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa. Pemahaman dalam bahasa Jerman adalah verstehen. Istilah ini oleh Weber dalam peneliatan historis adalah sumbangan yang paling banyak dikenal, dan paling kontroversial terhadap metodologi sosiologi kontemporer.

Aspek lain dari metodologi Weber adalah komitmennya pada studi kausalitas. Weber cenderung melihat studi sebab-sebab fenomena sosial berada di dalam wilayah sejarah, bukan sosiologi. Yang dimaksud dengan kausalitas adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain.

Weber percaya bahwa tanggung jawab sosiologi adalah mengembangkan perangkat konseptual. Perangkat konseptual tersebut adalah tipe-tipe ideal. Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristic yang digunakan dalam irisan realitas sejarah.menurut Weber, tipe ideal secara induktif berasal dari dunia riil sejarah sosial. Meskipun tipe-tpe ideal harus berasal dari dunia riil,mereka tidak dapat menjadi cerminan citra dunia tersebut. Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, dan juga harus dikembangkan secara keseluruhan. Sejalan dengan pandangan Weber bahwa tidak mungkin ada konsep abadi dan tetap dalam ilmu sosial.

Macam-macam tipe ideal:

1.      Tipe ideal historis

2.      Tipe ideal sosiologi umum

3.      Tipe ideal tindakan

4.      Tipe ideal struktural

 

Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism

The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.

Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Justru sebaliknya. Dia adalah system etika yang menjadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Di masyarakat lain, upaya mengejar keuntungan dipandang sebagai perbuatan individu yang sekurang-kurangnya pasti dimotivasi oleh kerakusan.

Namun, Protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral. Topangan moral inilah yang secara tak terduga mendorong terjadinya ekspansi besar-besaran dalam mencari keuntungan, dan melahirkan sistem kapitalis.

Sebenarnya, dalam banyak hal, kapitalisme modern, karena sekularitasnya, bertentangan dengan Calvinisme dan dengan agama pada umumnya. Kini kapitalisme telah menjadi entitas riil yang mengombinasikan norma, nilai, pasar, uang, dan hukum.

 

Sumber: Teori Sosiologi – George Ritzer, Douglas J. Goodman

Rizka Fitriana Sari KPI 1/C_Tugas 4_Max Weber


Rizka Fitriana Sari
1113051000119
Max Weber (1864-1920)
1. The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism
            Dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Catalism, Weber menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari bisnis barat didorong oleh perkembangan etika protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir menuntut adanya kepercayaan bahwa Tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan kecelakaan.
           

Chairunnisa KPI 1 A_Tugas 4 Sosiologi_Max Weber

MAX WEBER
The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism
            Dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1904) Weber menyatakan kesalehan sang ibu yang diwarisinya pada level akademik. Buku ini menjelaskan tentang pandangan Weber mengenai Kausalitas dan keterkaitan antara Etika Protestan dan  munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.
            Yang dimaksud Weber dengan Kausalitas (1921/1968) adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Menurut dia, tidak cukup hanya mencari keajekan historis, pengulangan dan keparalelan, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan. Namun, peneliti harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan-perubahan historis (Rath,1971). Weber bekerja dengan pendekatan multikausal dimana "sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi factor kausal efektif". (Kalberg, 1994:13)
          

Arif Rahman Hadi_PMI3_Kritis Marxisme dan marx

Sejarah ilmu pengetahuan telah mencatat dan menempatkan ilmu-ilmu sosial pada perdebatan panjang yang dialektis. Semakin kompleksnya hubungan antar-manusia berimplikasi pada semakin dinamisnya perkembangan teori-teori sosial. Di satu sisi ada teori-teori yang telah mapan status quo, sehingga telah menjadi teori mainstream yang dipakai secara global, namun di sisi lain ada teori yang mencoba untuk melakukan serangkaian perubahan akan dinamika perspektif global.

Akbar Firmansyah KPI 1C_Tugas4_Max Weber, Economic and society and Protestan Ethic and Spirit of Capitalism

A.   Economic and Society
                  Ekonomi Max Weber adalah sosiologis terbesar ditulis dalam abad ini. Diterbitkan secara di Jerman pada tahun 1920. telah menjadi bagian konstitutif dari imajinasi sosiologis modern. Ekonomi dan Masyarakat adalah perbandingan ketat empiris pertama struktur sosial dan perintah normatif di dunia-historis mendalam, mengandung bab yang terkenal pada aksi sosial, agama, hukum, birokrasi, karisma, kota, dan masyarakat politik dengan dimensi kelas..
   

Sabtu, 28 September 2013

Muhammad Oki Nugroho KPI1B_Tugas 4_Teori Max Weber

TEORI MAX WEBER
A.    The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
Ia menerbitkan salah satu buku terbaiknya pada tahun 1904 dan 1905. Dalam karya ini, weber menyatakan kesalahan sang ibu yang diwarisinya pada level akademik. Weber banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari agama, kendati secara pribadi ia tidak religius.
Weber menjelaskan perbedaan antara sosiologi dan sejarah. "Sosiologi merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Berbeda dengan sejarah yang berorientasi pada analisis dan juga penjelasan dengan cara tindakan. Weber cenderung melihat studi fenomena sosial terjadi dalam cakupan sejarah bukan sosiologi. Namun karena sejarah dan sosiologi tidak dapat di pisahkan namun keduanya tidak dapat di pisahkan secara jelas dalam karya substansif weber sendiri.

Arga Pebrian KPI 1 B_Tugas4_"Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" dan "Economy and Society"

Ø The Protestant  Ethic and the Spirit of Capitalism
Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism adalah buku yang ditulis oleh Max Weber. Dalam buku ini, Weber menulis bahwa kapitalisme di Eropa Utara berkembang ketika Protestan etika dipengaruhi banyak orang untuk terlibat dalam pekerjaan di dunia sekuler, mereka mengembangkan perusahaan sendiri dan terlibat dalam perdagangan dan akumulasi kekayaan untuk investasi.

lilis_okviyani_PMI3_Tugas3_Teori Konstruktivism Weber, Beger


           TEORI KONSTRUKTIVISME MARX WEBER DAN PETER L. BEGER

Konstruktivis merupakan istilah yang sepadan dengan istilah lain seperti verstehen (Weber), interpretatif dan humanis (Poloma), fenomonologis (Schutz), dan lain-lain yang merupakan paham yang menolak positivisme dan postpositivisme.Weber menekankan pada fenomena 'spiritual' atau 'ideal' manusia, yang merupakan khas manusia, dan tak dapat dijangkau oleh ilmu-ilmu alam. Karena itu, sosiologi perlu menekuni realitas kehidupan manusia, dengan cara memahami dan menafsirkan atau verstehen. Sedangkan Dilthey memusatkan perhatiannya pada usaha menemukan struktur simbolis atau makna dari produk-produk manusiawi, seperti; sejarah, masyarakat, candi, dan interaksi. Sementara Schutz memfokuskan pada pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 27 September 2013

Ahmad Fauzan KPI 1C_Tugas 4_Max Weber. Economic and society, Protestan Ethic and Spirit of Capitalism


Max Weber

Economic and Society
Dilahirkan di Erfurt, Jerman pada 21 April 1864. Ahli sejarah sosial berbangsa Jerman bernama Maxilian Carl Emil Weber (Max Weber) banyak menulis isu-isu dalam bidang sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh sesebuah masyarakat. Karya terkenalnya diantaranya adalah  The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, The Sociology of Social and Economic Organization, dan Theory of Social and Economic Organization.


Cari Blog Ini