Selasa, 01 Oktober 2013

Syarifah Zahrina Firda_Kpi B_Tugas4_Teori Max Weber

TEORI MAX WEBER
 
1. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism
 
Pada karyanya ini, The Protestan Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal-usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Bukti yang mendukung pandangan Weber tentang signifikasi Protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah negara tersebut, ia menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi dan orang-orang yang memiliki keunggulan teknis – semuanya beragama Protestan.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi. Mereka harus terlibat dalam aktivitas intens dan duniawi dan menjadi "manusia pekerja".
Meskipun dalam karya ini Weber memusatkan perhatiannya pada efek Calvinisme dengan semangat kapitalisme, ia sadar bahwa kondisi sosial dan ekonomi membawa dampak timbal balik terhadap agama. Ia memilih untuk tidak membahas hubungan tersebut dalam bukunya, namun ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah mengganti tafsir spiritualis yang berisi tunggal dengan penjelasan materialis yang bersisi ganda yang berasal dari Marx. Buku The Protestan Ethic mengangkat beberapa isu yang jadi jantung teori sosiologi kontemporer.
2. Economy and Society
 
Untuk membahas metodologi Weber, mula-mula kita harus mengurai pemikirannya yang membicarakan hubungan sejarah dengan sosiologi. Sosiologi berusaha merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Berbeda dengan sejarah, yang berorientasi pada analisis kausal dan penjelasan atas tindakan, struktur dan kepribadian individu yang memiliki signifikasi kultural. Pandangannya bahwa sosiologi historis sebagian digabung oleh ketersediaan dan komitmennya pada studi tentang data historis.
Weber merasa bahwa sosiologi historis membahas individualitas dan generalitas. Penyatuan ini dilakukan melalui perkembangan dan pemanfaatan konsep umum dengan membahas tipe-tipe ideal dalam studi terhadap individu, peristiwa atau masyarakat tertentu. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
Tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial. Tipe ideal ini dijadikan perangkat heuristik; mereka berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial.
Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :
1.     Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.     Tipe ideal sosiologi umu. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.     Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.     Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.
 
Sumber :
Ritzer george dan daulag. Teori sosiologi, Edisi terbaru.
 

Suci Robiatus S KPI 1C_Tugas 4_Max Weber

The Protestant Ethic
and the spirit of capitalism
Dalam the protestant
ethic and the spirit of capitalism, weber menyatakan bahwa ketelitian yang
khusus, perhitungan dan kerja keras daro bisnis barat didorong oleh
perkembangan etika protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh
doktrin calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir
menuntut adanya keprcayaan bahwa Tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan
kecelakaan.
Menurut Weber etika kerja dari Calvinisme yang berkombinasi
dengan semangat kapitalisme membawa masyarakat kapitalis modern. Jadi, doktrin
Calvinisme tentang takdir memberikan daya dorong psikologis bagi rasionalisasi
dan sebagai perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan system ekonomi
kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya.
Hubungan antara semangat kapitalisme dan etika protestan,
oleh karena itu, memiliki kaitan konsistensi logis dan pengaruh motivasional
yang bersifat mendukung secara timbale balik.

The theory of social
and economic organization
Weber menemukan administrasi organisasi tradisional tidak
efisien, boros dan tidak rasional. Oleh karena itu, weber mengusulkan suatu
tipe ideal untuk administrasi organisasi (birokrasi) agar mencapai tingkat
efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi yang dilandasi pada tindakan
legal-rasional.
Adapun tipe ideal birokrasi modern yang diusulkan weber
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.       Berbagai aktivitas regular yang diperlukan untuk
pencapaian tujuan-tujuan organisasi yang didistribusikan dengan suatu cara yang
baku sebagai kewajiban-kewajiban resmi.
2.       Organisasi kantor-kantor mengikuti prinsip
hierarki, yaitu setiap kantor yang lebih rendah berada di bawah control dan
pengawasan yang lebih tinggi.
 
3.       Operasi-operasi birokratis diselenggarakan
"melalui suatu system kaidah-kaidah abstrak yang konsisten … (dan) terdiri atas
penerapan kaidah-kaidah ini terhadap kasus-kasus spesifik"
 
4.       Pejabat yang ideal menjalankan kantornya…
berdasarkan impersonalitas formalistis, 'sine ira et studio,' tanpa kebencian
atau kegairahan, dan karenanya tanpa antusiasme atau afeksi
 
 
5.       Perekrutan dalam organisasi birokrasi didasarkan
pada kualifikasi-kualifikasi teknis dan yang terhindar dan tindakan pemecatan
yang sewenang-wenang. Ada satu system promosi berdasarkan senioritas atau prestasi
menurut kedua-duanya.
 
6.       Tipe organisasi adminstrasi yang murni
birokratis, dalam arti tenis murni, mampu mencapai tingkat efisiensi yang
paling tinggi.
s

Nurapzafidah Kpi 1B_tugas4_Max Weber

Economy and Sosciety
Tipe-tipe ideal
tipe ideal adalah salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi kontemporer (Drysdale, 1996; Hekman, 1883; Lindbekk, 1992; McKinney, 1996).
Macam tipe ideal:
1. Tipe ideal historis. ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapasitas modern).
2. Tipe ideal sosiologis umum. ini terkait dengan fenomena yang bersinggugan dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, biokrasi).
3. Tipe ideal tindakan. ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).
4.Tipe ideal struktural. ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).

Nilai
sampai batas-batas tertentu, pemikiran sosiologi modern Amerika dalam kaitannya dengan peran nilai dalam ilmu sosial dibentuk oleh penafsiran, yang sayangnya sering kali simplistis dan keliru, terhadap pandangan Weber tentang sosiologi yang bebas-nilai (Hennis, 1994).
a. Nilai dan Ajaran. Weber dengan tegas menyatakan kewajiban guru mengotrol nilai-nilai pribadi mereka di ruang kelas. dari sudut pandang ini, akademis memiliki hak penuh untuk mengekspresikan nilai pribadi mereka secara bebas dalam pidato, pers, dan lain sebagainya, namun ruang kuliah akademik berbeda.
b. Nilai dan Penelitian. pendapat Weber tentang tempat nilai dalam penelitian sosial jauh lebih membigungkan lagi. Weber memang percaya adanya kemampuan untuk memisahkan fakta dengan nilai, dan pandangan ini dapat diperluas ke dunia penelitian.

The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
Weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas, namun ia tidak menggunakan model satu-jalan sederhana; ia selalu menyelaraskan hubungan antara sejumlah faktor sosial. yang perli diingat dalam pemikiran weber tentang ausalitas adalah keyakinan dia bahwa kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan soaial, pengetahuan kausal atas ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam. oleh karena itu, kriteria kita untuk penjelasan kasual mengandung kepuasan unik dlam penjelasan 'historis' dari 'entitas' tersebut. pemikiran weber tentang kausalitas terkait erat dengan upayanya memahami konflik antara pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idiografi. mereka yang menganut sudut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubugan pasti antara fenomena sosial, sementara itu para pendukung perspektif idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak antar etnis-etnis tersebut.

Senin, 30 September 2013

nurlaila PMI 3_Tugas 4_teori kritis marx & marxisme

 
Nama : Nurlaila
NIM : 1112054000027
Jurusan : PMI 3
Teori kritis marx dan marxisme
Teori Kritis secara subtansif tidak memerdulikan prinsip-prinsip umum. Tidak pula berupaya membentuk sebuah sistem ide, melainkan berusaha untuk memberikan `Marxisme dianggap sebagai dasar pemikiran dari semua teori-teori yang ada dalam tradisi kritis. Marxiesme ( dengan M besar) berasal dari pemikiran Karl Marx, seorang ahli filsafat, sosiologi dan ekonomi dan Friedrich Engels, sahabatna. Marxisme beranggapan bahwa sarana produksi dalam masyarakat bersifat terbatas. Ekonomi adalah basis seuruh kehidupan sosial. Saat ini, kehidupan sosial dikuasai oleh kelompok kapitalis, atau sistem ekonomi yang ada saat ini adalah sistem ekonomi kapitalis.
Dalam masyarakat yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis, profit merupakan faktor yang mendorong proses produksi, dan menekan buruh atau kelas pekerja. Hanya dengan perlawanan terhadap kelas dominan (pemilik kapital) dan menguasai alat-alat produksi, kaum pekerja dapat memperoleh kebebasan. Teori Marxist klasik ini dinamakan 'The Critique of Political Economy' (kritik terhadap Ekonomi Politik).
Marx ingin membangun suatu filsafat praxis yang benar-benar dapat menghasilkan kesadran untuk merubah realitas, pada saat Marx hidup, yakni masyarakat kapitalis berkelas dan bercirikan penghisapan. Teori Marx meletakkan filsafat dalam konteks yang historis, sosiologis dan ekonomis.
Teori Marx bukan sekedar analisa terhadap masyarakat. Teori Marx tidak bicara eonomi semata tetapi "usahanya untuk membuka pembebasan manusia dari penindasan kekuatan-kekutan ekonomis".
Menurut Marx, dalam sistem ekonomi kapitalis yang mengutamakan profit, masing-masing kapitalis beruang mati-matian untuk mengeruk untuk sebanyak mungkin. Jalan paling langsung untuk mencapai sasaran itu adalah dengan penghisapan kerja kaum pekerja. Namun kaum pekerja lama-lama memiliki kesadaran kelas dan melawan kaum kapitalis.
Yang akan terjadi menurut ramalan Marx adalah penghisapan ekonomi dengan cara penciptaan kebutuhan-kebutuhan artifisial (palsu) lewat kepandaian teknologi kaum kapitalis. Oleh karena itu kaum kapitalis monopolis ditandai dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Dengan difasilitasi teknologi, tidak lagi terjadi penghisapan pekerja oleh majikan di sebuah perusahaan, tetapi penghisapan ekonomi "si miskin" oleh "si kaya" di luar jam kerja, di luar institusi ekonomi. Kapitalisme dapat menimbun untung karena nilai yang diberikan oleh tenaga kerja secara gratis, di luar waktu yang sebenarnya diperlukan untuk memproduksi suatu pekerjaan, Inilah salah satu kritik ekonomi politik kapitalisme Marx.
Pada tahun 1972,  Max Horkheimer menulis sebuah artikel panjang berjudul Traditional and Critical Theory. Artikel tersebutlah yang kemudian melahirkan sebuah gerakan intelektual dengan nama: Teori Kritis. Dalam artikel tersebut Max Horkheimer menganalisis fungsi ilmu pengetahuan dan filsafat dalam sebuah masyarakat. Sebetulnya Teori Kritis yang diintrodusir oleh Max Horkheimer adalah sebuah tiwikrama, sebuah elaborasi yang adiptif dari karya-karya Karl Marx (dialektis materialis ekonomi), Hegel (ideal rasional historis), Immanuel Kant (perspektif normatif subjek otonom), dan pada perkembangannya, Horkheimer memasukan pemikiran Sigmund Freud (psikoanalisa). Teori Kritis sebetulnya adalah sebuah penyesuainan dengan kondisi zaman pada saat itu atau, dengan kata lain sebuah cara pandang filsafat sosial yang terbarukan. Artinya, Teori Kritis mempunyai subtansi tersendiri dan bukan semata istilah baru.
kesadaran untuk membebaskan manusia dari irrasionalisme. Karenanya, fungsi dari Teori Kritis adalah emansipatoris yang bersifat iluminatis. Hal ini jelas berbeda dengan padangan kaum tradisonalis yang memisahkan fakta dengan nilai dan hanya menganalisis fakta-fakta sosial atas dasar hukum yang metodis, dan hal tersebut melahirkan sifat yang anti-historis; memutlakan ilmu pengetahuan dan menegasi individu dalam dialektika historisnya. Dengan kata lain tidak memikirkan implikasi tertentu karena memisahkan teori dan praksis.
Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Max Horkheimer dan Theodor Adorno dalam Dialektik der Aufklärung (Dialektika Pencerahan) menulis bahwa pencerahan telah membuat umat manusia membuka selubung misteri alam semesta dengan pengetahuan rasional. Dewa-dewa, roh, jin adalah bentuk usaha manusia memahami alam dan masyarakat. "Manusia," tulis mereka, "Membayangkan dirinya bebas dari ketakutan bila tidak ada lagi sesuatu yang tidak diketahuinya." Dengan rasionalitas mereka melahirkan cara berpikir positivistik dan saintis. Tapi dari pemahaman semacam itu, manusia justru membelenggu dirinya sendiri dengan mitos. pemikiran Horkheimer dan Adorno dapat menjadi landasan dalam memahami awal pemikiran positivistik yang menghasilkan konsumerisme.
Teori Kritis pada seluruh bangunan teori dan filsafatnya ingin memerjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat pasca industri dan melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan dalam kebudayaan. Teori Kritis ingin menjelaskan hubungan manusia dengan bertolak dari pemahaman rasio instrumental. Teori Kritis ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasionalitas. Teori Kritis selanjutnya adalah kritik terhadap masyarakat. Lebih tepatnya, kritik atas masyarakat modern pasca industri. Dalam masyarakat modern, baik manusia maupun realitas, direduksi menjadi sesuatu yang sangat fungsional, pragmatis, dan pasif. Manusia modern kehilangan prinsip kritis. Konsep kritis dan kebenaran harus dikembalikan pada tataran normatif, mengatasi taraf empirisme dan formalitas logika Aristotelian.
Horkheimer memulai Teori Kritisnya dengan pertanyaan-pertanyaan: "Dapatkan teori rasional tentang diri manusia dalam lingkungannya?", "Bagaimanakah teori ini menjadi emansipatoris?", "Manakah teori yang mampu mengembalikan manusia menjadi rasional kembali?", "Di mana martabat dan kepenuhan individu dapat terpenuhi?". Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Max kemudian berteori berbagai bidang sosial dalam usaha menyadarkan manusia agar tidak terjerat proses kapitalisme yang sedang memonopoli kemanusiaannya. Menukil fungsi dari Teori Kritis yang diintrodusir Max Horkheimer dalam Kontruksi Epistimologis Max Horkheimer: Kritik Atas Masyarakat Modern karya Sunarto menjelaskan bahwa Teori Kritis harus:
1.       Kritis terhadap masyarakat. Max menjalankan kritik terhadap ekonomi dan politik pada zamannya. Juga memertanyakan penyelewengan-penyelewengan dalam masyaraka. Struktur masyarakat rapuh dan brengsek. Karenanya harus diubah.
2.      Teori Kritis berpikir secara historis dengan berpijak pada proses masyarakat yang historis. Teori Kritis meneruskan posisi dasar Hegel dan Marx. Dengan demikian teori teori tersebut berakar pada situasi sosial tertentu, misalnya material-historis.
3.      Teori Kritis menyadari resiko setiap teori untuk jatuh dalam sebuah bentuk ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar masyarakatnya. Itulah yang terjadi dalam pemikiran filsafat modern. Pemikiran yang kemudian berubah menjadi ideology kaum kapitalis. Teori harus memiliki kekuatan, nilai, dan kebebasan untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideology.
4.      Teori Kritis tidak memisahkan teori dan praktek, pengetahuan dari tindakan, rasio teoritis dan rasio praktis. Teori kritis selalu harus melayani transformasi praktis masyarakat.

Rini Astuti KPI 1B_Tugas 4_Max Weber

Economy and Society

Max Weber menawarkan beberapa macam tipe ideal:
1.    Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapitalistis modern)
2.    Tipe ieal sosiologi umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, birokrasi)
3.    Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual)
4.    Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional)

Dalam memulai buku monumentalnya Economy and Society, Max Weber membahas paradoks-paradoks dasar dalam karyanya ini ditengah-tengah komitmen semuanya pada sosiologi tentang proses-proses berskala kecil, karyanya terutama berada pada level skala besar dunia sosial.

Tindakan Sosial

Tampaknya Weber mengemukakan hal yang pada dasarnya sama dengan yang dikemukakan Durkheim, setidaknya ketika dia mendiskusikan fakta sosial nonmaterial. Yaitu, sosiologi tertarik pada proses mental, namun tidak sama dengan minat psikologi terhadap pikiran, kepribadian, dan lain sebagainya. Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola dan regularitas tindakan, dan bukan pada kolektifitas. Tindakan dalan pengertian orientasi pelaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai perilaku seorang atau beberapa orang manusia individual.

Kelas, Status, dan Partai

Kelas adalah sekelompok orang yang situasi bersama mereka dapat menjadi, dan kadang-kadang sering kali, basis tindakan kelompok. Weber menyatakan bahwa situasi kelas hadir ketika tiga syarat terpenuhi yaitu sejumlah orang memiliki kesamaan komponen kasual spesifik peluang hidup mereka, selama komponen ini hanya direpresentasikan olah kepentingan ekonomi berupaya penguasaan barang atau peluang untuk memperoleh pendapat, dan direpresentasikan menurut syarat-syarat komoditas atau pasar tenaga kerja. Inilah situasi kelas. Berlawanan dengan kelas, biasanya status merujuk pada komunitas, kelompok status biasanya berupa komunitas, kendati sedikit agak tak berbentuk. Situasi kelas didefinisikan Weber sebagai setiap komponen tipikal kehidupan manusia yang ditentukan oleh estimasi sosial tentang derajat martabat tertentu, positif atau negatif. Kalau kelas hadir dalam tatanan ekonomi dan kelompok status hadir dalam tatanan sosial, partai dapat ditemukan dalam tatanan politik. Bagi Weber, partai selalu merupakan struktur yang berjuang untuk meraih dominasi. Jadi, partai adalah elemen paling teratur dalam sistem stratifikasi Weber. Weber menganggap partai begitu luas sehingga tidak hanya mencakup hal-hal yang ada dalam klub sosial. Apa pun yang ditampilkannya, partai berorientasi pada diraihnya kekuasaan.

Struktur Otoritas

Otoritas tradisional. Kalau otoritas legal tumbuh dari legitimasi sistem rasional-legal, maka otoritas tradisional didasarkan pada klaim pemimpin dan keyakinan para pengikutnya bahwa terdapat kelebihan dalam kesucian aturan dan kekuasaan yang telah berusia tua.
Otoritas karismatik. Karisma adalah konsep yang mulai digunakan secara sangat luas. Bagi Weber, karisma adalah kekuatan revolusioner, salah satu kekuatan revolusioner penting didunia sosial. Kalau otoritas tradisional jelas sangat konservatif, maka lahirnya pemimpin karismatik sangat mungkin menjadi ancaman bagi sistem tersebut (maupun bagi sistem rasional-legal) dan membawa pada perubahan dramatis dalam sistem tersebut.

Rasionalisasi

Tipe-tipe rasionalitas. Tipe pertama adalah rasionalitas praktis, yang didefinisikan oleh Kalbreg sebagai setiap jalan hidup yang memandang dan menilai aktivitas-aktivitas duniawi dalam kaitannya dengan kepentingan individu yang murni pragmatis dan egoistis. Rasionalitas teoretis melibatkan upaya kognitif untuk menguasai realitas melalui konsep-konsep yang makin abstrak dan bukannya melalui tindakan. Rasionalitas substantif secara langsung menyusun tindakan-tindakan kedalam sejumlah pola melalui kluster-kluster nilai. Rasionalitas substantif melibatkan pemilihan sarana untuk mencapai tujuan dalam konteks sistem nilai. Rasionalitas formal yang melibatkan kalkulasi sarana-tujuan. Namun kalau dalam rasionalitas praktis kalkulasi ini terjadi dengan merujuk pada kepentingan diri yang pragmatis, maka dalam rasionalitas formal hal ini terjadi dengan merujuk pada aturan, hukum, dan regulasi yang berlaku secara universal.


The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism


Agama dan Kelahiran Kapitalisme

Weber menghabiskan sebagian besar umurnya untuk mengkaji agama terlepas dari, atau justru mungkin karena ketidakreligiusnya, atau sebagaimana yang dia akui sendiri, karena dia sama sekali tidak tersentuh dengan soal-soal religius. Weber terutama tertarik pada sistem gagasan agama-agama dunia, semangat kapitalisme, dan rasionalisasi sebagai nilai dan norma sistem modern. Karya Weber tentang agama dan kapitalisme mencakup penelitian-penelitian sejarah lintas budaya, disini, sebagaimana di tempat lain, ia memakai sosiologi historis-komparatif.
Ketika menganalisis hubungan antara agama-agama dunia dengan ekonomi, Weber mengembangkan tipologi jalan keselamatan. Askesitisme adalah jenis religiositas pertama yang cakupannya begitu luas, yang menggabungkan orientasi pada tindakan dengan komitmen orang beriman untuk meninggalkan kenikmatan dunia. Agama-agama asketis dalam dua subtipe. Pertama. Asketisisme dunia lain, yang meliputi serangkaian norma dan nilai yang memerintahkan para pengikut agar tidak bekerja di dunia sekuler dan melawan hawa nafsu. Kedua, asketisisme duniawi, karena jenis ini mencakup calvinisme. Agama semacam itu tidak menolak dunia, namun ia secara aktif menyerukan anggotanya untuk bekerja di dunia sehingga mereka dapat menemukan keselamatan, atau paling tidak tanda-tandanya.

Buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut Weber, kapitalisme adalah konsekuensi tak terduga dari etika protestan. Konsep konsekuensi tak terduga ini sangat penting dalam karya Weber, karena ia percaya bahwa apa yang ingin dilakukan individu dan kelompok dalam tindakan mereka sering kali mengakibatkan berbagai konsekuensi sesuai dengan ragam maksud mereka.
Calvinisme adalah protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri calvinisme adalah gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan.
Meskipun dalam buku ini memusatkan perhatiannya pada efek calvinisme pada semangat kapitalisme, ia sadar bahwa kondisi sosial dan ekonomi membawa dampak timbal balik terhadap agama.
Pada satu level, ini adalah serangkaian studi tentang hubungan antara gagasan agama dengan perkembangan semangat kapitalisme, dan pada akhirnya kapitalisme itu sendiri. Pada level lain, ini adalah studi tentang bagaimana Barat mengembangkan sistem keagamaan rasional (calvinisme) yang memainkan peran kunci dalam kelahiran sistem ekonomi rasional (kapitalisme). Weber juga mempelajari masyarakat lain, tempat ia menemukan sistem keagamaan (misalnya, konfusianisme, taoisme, dan hinduisme) yang menghambat pertumbuhan sistem ekonomi rasional. Besarnya pengaruh sejarah pada berbagai sektor dunia inilah yang membuat teori Weberian terus berpengaruh sampai sekarang.

Musfiah Saidah KPI 1 A_Tugas 4_Max Weber

 
A  The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism

The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism adalah karya terpopuler Weber tentang keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Menurut Weber muncul dan berkembanganya kapitalisme di dunia barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan sekte Kalvinise dalam agama protestan. Ajaran ini dikembangkan oleh seorang yang bernama Calvin yang saat itu muncul ajarannya yang menyatakan bahwa pada intinya seseorang sudah ditakdirkan untu masuk neraka atau surga, tergantung pada perbuatan yang ia kerjakan.
Dalam buku ini weber tertarik dengan pertanyaan tentang "kausalitas" dengan meyeleraskan hubungan antara sejumlah faktor sosial. Dimana ada kemnungkinan jika peristiwa terjadi diikuti atau disertai peristiwa lain. Weber menemukan korelasi antara afliasi agama protestan pada kondisi prakapitalis pada kemajuan. Hal itu dikarenakan etika protestan medorong seseorang untuk bekerja sungguh-sungguh, tidak befoya-foya, dan tidak konsumtif, sehingga tak heran jika orang-orang protestan meendapat kesuksean dengan menjadi pimpinan perusahaan, tenaga teknis, maupun komersial.
Doktrin Protestan itu melahirkan etos kerja dalam komunitas protestan guna merebut kehidupan dunia yang sukses. Ukuran sukses di dunia merupakn tolak ukur kesuksesan di akhirat yang dapat dilihat dari aktivitas sosial ekonominya. Mereka akan berupaya mengumpulkan harta berupa kekayaan materil sebanyak mungkin untuk mendapatkan kebahagian di dunia maupun mengatasi kecemasan.
Pada akhirnya Etika protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materilnya. Sedangkan Weber mendefinisikan semnagat kapitalisme sebagai bentu kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi.
 
B.      Economic and Society
 
Dalam Economic and Society, Weber membahas berbagai jenis hubungan sosial yang berbeda-beda, terutama bentuk-bentuk dominasi politik. Ia membedakan tiga bentuk ideal tipe dominasi tersebut, yaitu :
a.      Dominasi tradisional yang didasarkan pada legitimasi karena ciri sakralitas tradisi yg melekat padanya.
b.      Dominasi karismatik karena dikaruniai aura khusus dengan mendasarkan kekuasaannya pada kekuatan untuk meyakinkan dan mengumpulkan banyak orang.
c.       Dominasi legal-rasional yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal melalui kepatuhan sebuah kitab hukum seperti UU Sipil, dll.
 
Selain itu Weber mengemukakan perbedaan antara sejarah dengan sosiologi. Menurutnya, sosilogi berusaha merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Berbeda dengan sejarah, yang berorientasi pada analisis kausal dan penjelasan atas tindakan, struktur dan kepribadian individu yang memiliki signifikansi cultural. Sehingga tidak heran jika buku ini juga membahas tentang tipe-tipe ideal.
Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah yang berfungsi sebagai alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian ataupun kemiripan, untuk menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, dan untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual. Karena memiliki deinisi yang seperti ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Itu terbukti pada buku Econimic and Society Weber menyajikan tipe ideal berupa campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan-peryataan Weber.
Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami cirri utama fenomena sosial.Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, makna komponen-komponennya harus kompatibel, dan semua hal itu harus membantu kita memahami dunia riil. Ada beberapa macam tipe ideal yang weber tawarkan, yaitu :
1) tipe ideal histories.
2) tipe ideal sosiologis umum.
3) tipe ideal tindakan.
4) tipe ideal struktural.
 
 
 
 

Cari Blog Ini