Selasa, 01 Oktober 2013

Lianti Meida KPI 1/C_Tugas 4_Max Weber

1.      The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism
Dalam buku Weber yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit o Capitalism, ia menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat didorong oleh perkembangan etika Protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir menuntut adanya kepercayaan bahwa Tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan kecelakaan. Selain itu, doktrin tersebut menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui apakah dia termasuk salah seorang yang terpilih. Dalam kondisi seperti ini menurut Weber, pemeluk Calvinisme mengalami "panik terhadap keselamatan." Cara untuk menenangkan kepanikan tersebut adalah orang harus berpikir bahwa seseorang tidak akan berhasil tanpa diberkahi Tuhan. Oleh karena itu keberhasilan adalah tanda dari keterpilihan. Untuk mencapai keberhasilan, seseorang harus melakukan aktivitas kehidupan, termasuk aktivitas ekonomi dan politik, yang dilandasi oleh disiplin dan bersahaja, menjauhi kehidupan bersenang-senang, yang didorong oleh ajaran keagamaan.
Menurut Weber etika kerja dari Calvinsme yang berkombinasi dengan semangat kapitalisme membawa masyarakat Barat kepada perkembangan masyarakat kapitalis modern. Jadi, doktrin Calvinisme tentang takdir memberikan daya dorong psikologis bagi rasionalisasi dan sebagai perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya.
 
2.      Economic and Society
Dalam buku ini Weber membahas mengenai tindakan sosial. Weber  menemukan bahwa tindakan sosial tidak selalu memiliki dimensi rasional tetapi terdapat berbagai tindakan nonrasional yang dilakukan oleh orang, termasuk dalam tindakan orang dalam kaitannya dengan aspek politik dari kehidupan. Weber menemukan empat tipe dari timdakan sosial, yaitu:
1.      Tindakan rasional instrumental, yaitu suatu tndakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam kaitannya dengan tujuan suatu tindakan dan alat yang dipakai untuk meraih tujuan yang ada.
2.      Tindakan rasional nilai, yaitu tindakan dimana tujuan telah ada dalam hubungannya dengan nilai absolut dan nilai akhir bagi individu, yang dipertimbangkan secara sadar adalah alat mencapai tujuan.
3.      Tindakan eektif, yaitu tindakan yang didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.
4.      Tindakan tradisional, yaitu tindakan karena kebiasaan atau tradisi.
Weber dalam The Theory of Social and Economic Organization menemukan administrasi organisasi tradisional tidak efisien, boros dan tidak rasional. Oleh karena itu, Weber menyusulkan suatu tipe ideal untuk administrasi organisasi (birokrasi) agar mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi yang dilandasi pada tindakan legal-rasional.
            Adapun tipe ideal birokrasi modern yang diusulkan oleh Weber memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Berbagai aktivitas reguler yang diperlukan untuk pencapaian tujuan-tujuan organisasi yang didistribusikan dengan suatu cara  yang baku sebagai kewajiban-kewajiban resmi.
2.      Organisasi kantor-kantor mengikuti prinsip hirarki, yaitu setiap kantor yang lebih rendah berada dibawah kontrol dan pengawasan yang lebih tinggi.
3.      Operasi-operasi birokratis diselenggarakan "melalui suatu sistem kaidah-kaidah abstrak yang konsisten dan terdiri atas penerapan kaidah-kaidah ini terhadap kasus-kasus spesifik."
4.      Pejabat yang ideal menjalankan kantornya berdasarkan impersonalitas formalistis, 'sine ira et studio,'tanpa kebencian atau kegairahan, dan karenanya tanpa antusiasme atau afeksi.
5.      Perekrutan dalam organisasi birokrasi didasarkan  pada kualiikas-kualifikasi teknis dan yang terhindar dari tindakan pemecatanyang sewenang-wenang. Ada satu sistem promosi berdasarkan senioritas atau prestasi atau menurut kedua-duanya.
6.      Tipe organisasi administrasi yang murni birokratis, dalam arti teknis murni, mampu mencapai tingkat efisiensi yang paling tinggi.

Arianne Sarah_PMI 3_Tugas4_Kritis

Teori Kritis

Oleh: Arianne Sarah

1112054000014

Pengembangan Masyarakat Islam

 

Awal kemunculan marxisme dan teori kritis merupakan respon dari dua perspektif sebelumnya, yakni liberalisme dan realisme. Marxisme dan teori kritis menganggap bahwa liberalisme dan realisme merupakan perspektif yang terbatas, maka itu keduanya tidak fleksibel. Keduanya dapat dikatakan gagal dalam memaknai fenomena-fenomena, khususnya pada sistem internasional, yang terus berkembang. Realisme dan liberalisme dianggap hanya berpatokan pada orientasi aktor seperti power dan interest yang kurang memperhatikan proses sosial pada aktor yang pada dasarnya sudah dikrontruksi secara historis dan secara tersirat menolak kemungkinan  adanya alternatif lainnya yang berupa proses produksi sosial (Rupert, 2007:149). Teori yang di bawa oleh Karl Marx ini menyoroti aspek-aspek yang dimiliki manusia seperti self-productive secara sosial dan perlunya pertimbangan wawasan kritis yang mencakup budaya, politik, ekonomi, dan aspek-aspek dalam proses tersebut.

Semakin kompleksnya hubungan antar-manusia berimplikasi pada semakin dinamisnya perkembangan teori-teori sosial. Teori kritis dan Marxisme merupakan dua bangun pengetahuan yang berawal dari kepentingan dan cita-cita yang sama yaitu penegakan atas emansipasi manusia. Dalam banyak literatur dijelaskan bahwa teori kritis merupakan kelanjutan dari pemikiran Marxis, akan tetapi tidak dapat dinafikkan pula adanya kritik yang dialamatkan teori kritis atas pemikiran Marx. Marxisme berkembang pada pertengahan 1840-an dan merupakan sebuah perspektif yang berangkat dari pemikiran Karl Marx mengenai sejarah dan kapitalisme. Pemikiran ini berawal dengan melihat adanya ketimpangan dan kontradiksi yang nyata dalam sejarah manusia yang ditandai dengan perjuangan kelas. Kritik tersebut ditujukan Marx pada model produksi kapitalistik Adam Smith dan David Ricardo yang menurut Marx berjalan dengan sangat eksploitatif.

Sementara itu teori kritis pada awalnya merujuk pada sebuah tradisi pemikiran yang berkembang di sebuah institut penelitian di Universitas Frankfurt, tahun 1920an yang kemudian dikenal dengan mahzab Frankfurt atau Frankfurt School. Pemikiran ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Georg Hegel, Max Weber, Emmanuel Kant, Sigmund Freud dan terutama Karl Marx. Adapun pemikir utama pada masa itu antara lain Max Horkheimer dan Theodore Adorno. Pemikiran ini banyak mengalami perkembangan dan modivikasi sehingga muncul aliran-aliran baru yang membawa nama seperti Jurgen Habermas sebagai pemikir teori kritis kontemporer. Namun walaupun banyak terinspirasi dari pemikiran Marx, pada dasarnya terdapat perbedaan yang signifikan antara pemikiran teori kritis dengan Marxisme. Hal ini terutama dilihat dari bagaimana kedua teori tersebut dibangun dengan asumsi-asumsi utama yang mendukungnya. Menganalisis lebih jauh dua teori tersebut akan memperlihatkan sejumlah perbedaan ontologis yang tentunya menjadi landasan utama berdirinya setiap teori.

Teori kritis menyandarkan advokasinya untuk memberikan pencerahan dalam diri masyarakat sebagai pelaku sosial sehingga mereka dapat "bergerak" untuk menentukan dan memperjuangkan "kepentingan sejati" mereka. Teori kritis berupaya untuk menyajikan kerangka sistematis untuk memperlihatkan pada masyarakat akan adanya hegemoni. Suatu hegemoni akan roboh ketika masyarakat menyadari akan adanya hegemoni, dan bentindak resisten terhadapnya dan dalam tahap yang lebih lanjut akan menjadikan teori counter-hegemony sebagai rujukan ideologis dalam aktifitas sosial mereka. Teori kritis menekankan bahwa agar tercipta perubahan, maka perlu untuk tidak hanya memenangkan peperangan 'di lapangan' tetapi juga dalam wilayah ide-ide. Dengan demikian perubahan ini juga mencakup seperangkat nilai-nilai dan terutama sejumlah konsep alternatif sebagai upaya untuk memikirkan dan menjelaskan 'realitas' sosial yang sedang berlangsung dan kemungkinan-kemungkinan alternatifnya.

 

Sementara itu dengan berdasar pada landasan materialistisnya advokasi Marxis lebih menekankan pada perjuangan kesetaraan kelas. Upaya transformasi atas masyarakat internasional untuk menghilangkan alienasi, eksploitasi dan keterasingan merupakan cita-cita politik yang mendasar dalam tradisi pemikiran Marxis. Untuk itu sistem kapitalisme yang dilihat sebagai induk dari penindasan dan eksploitasi manusia sebagai makhluk yang mampu melakukan produksi, harus ditumbangkan. Kapitalisme merupakan sebuah sistem yang terbentuk dari struktur yang menghalangi manusia dari sumber-sumber produksi untuk melakukan kerja. Dengan demikian Marxis meyakini suatu kesimpulan bahwa revolusi politik akan menggulingkan tatanan kapitalis dan menciptakan sebuah masyarakat sosialis dimana prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan akan terwujud untuk meningkatkan derajat kehidupan manusia di seluruh dunia. 

 

Daftar Pustaka:

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme

-          http://tikamarzaman.blogspot.com/2012/09/teori-kritis-marxisme_14.html

 

 

NurJannah_KPI1B_Tugas4_TeoriMaxWeber

The Protestant Ethnic and The Spirit of Capitalism (1904-05 / 1958)
Weber memusatkan perhatian pada Protestantisme terutama sebagai sebuah sistem gagasan dan pengaruhnya terhadap kemunculan sistem gagasan yang lain, yakni semangat kapitalisme dan akhirnya terhadap sistem ekonomi kapitalis. Ia mencurahkan perhatian serupa terhadap agama dunia yang lain., mempelajari bagaimana cara gagasan keagamaan keagamaan itu merintangi perkembangan kapitalisme dalam masyarakatnya masing-masing.

Economic and Society
Dalam karyanya ini Weber membahas mengenai tindakan sosial. Ia menemukan bahwa tindakan sosial tidak selalu memiliki dimensi rasional tetapi terdapat berbagai tindakan non-rasional yang dilakukan orang.
Beberapa tipe tindakan aktivitas manusia yang di klasifikasikan menurut Weber:
1.     1.  Tindakan Tradisional
2.     2.Tindakan Afektif
3.     3.Tindakan Rasional

Weber juga membahas berbagai jenis hubungan sosial yang berbeda-beda terutama bentuk-bentuk dominasi politik, yaitu:
1.       1. Dominasi tradisional yang didasarkan pada legitimasi karna ciri sakralitas tradisi yang melekat padanya
2.       2.  Dominasi karismatik yang merupakan dominasi suatu personalitas tertentu dan dikaruniai aura khusus
3.       3.  Dominasi "legal-rasional" yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal

Nia Nadia_KPI 1C_tugas4_max weber1

Economic and Society and The Protestan ethic and The spirit of Capitalism
 
A. Economic and Society
            Dengan berbekal perabgkat motodelogis berupa langkah komperhensip dan metode "tipe ideal", weber menyadari adanya beragam studi komparatif menyangkut bentuk-bentuk hukum,tipe agama,cara organisasi ekonomi dan politik. Menurut Weber "Rasionalitas kehidupan sosial" menjadi ciri paling signifikan masyarakat modern. Apa yang dimaksud dngan "rasionalisasi" dalam hal ini? Weber menjelaskan tiga tipe besar aktivitas manusia, yaitu:
1.       Tindakan tradisional yang terkait dengan adat istiadat. Aktivitas sehari-hari seperti makan dengan menggunakan garpu atau cara memberi salam kepada teman merupakan tindakan tradisional.
2.       Tindakan afektif yang di gerakkan oleh nafsu. Para rentenir dan petinju bergerak pada level ini.
3.       Tindakan rasional yang merupakan alat (instrumen), ditujukan ke arah nilai atau tujuan yang bermanfaat dan berimplikasi pada kesesuain antara tujuan dengan cara.
 
Menurut Weber tindakan rasional menjadi ciri masyarakat modern yaitu: mewujudkan dirinya sebagai pengusaha kapitalis, ilmuan, konsumen, atau pegawai yang bekerja/bertindak sesuai dengan logika tersebut. Sebenarnya kita bisa menunjukan bahwa ketiga jenis tindakan itu saling berkelindan menjadi satu aktivitas serupa seperti halnya aktivitas konsumen. Biasanya konsumen memilih produk yang di sesuaikan dengan penghasilannya (tindakan rasional). Namun ia bisa saja di dorong memilih karena kebiasaan konsumsinya (tindakan tradisional) atau karena keinginan yang tak tertahankan lagi (tindakan afektif).
                Dalam Econimic and Society weber membahas berbagai jenis hubungan sosial yang berbeda-beda terutama bentuk-bentuk dominasi politik. Ia membedakan tiga bentuk ideal tipe dominasi tersebut yaitu:
1.       Dominasi tradisional yang di dasarkan pada legitiminasi karena cara sakralitas tradisi yang melekat padanya. Kekuasaan patrhiakis di tengah-tengah kelompok penghuni ruang domestik dan kekuasaan para tuan tanah dalam masyarakat feodal termasuk dalam kategori ini.
2.       Dominasi karismatik yang merupakan dominasi personalitas tertentu dan di karuniai aura khusus. Pemimpin karismatik mendasarkan kekuasaannya pada kekuatan untuk meyakinkan dan kapasitasnya untuk mengumpulkan dan memobilisasi banyak orang. Ketaatan terhadap pemimpin semacam ini terkait dengan faktor-faktor emosional yang berhasil di bangkitkan,di pertahankan, dan dikusainya.
3.       Dominasi "legal-rasional" yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal (bukan pada satu orang saja). Dominasi dan bukan pada person. Kekuasaan dalam organisasi modern di justifikasi lewat kompetensi, rasionalitas pilihan dan bukan pada kekuatan sihir. Dominasi rasional atau "legal-borokratis" ini berlangsung melalui kepatuhan terhadap sebuah kitab hukum (code) fungsional.
 
 
 
B. Protestan Ethic and Spirit of Capitalism
            The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism menjelaskan mengenai masalah kebenaran dan inteperensi sejarah baik yang matrealistis maupun yang idealistis sebagai pola-pola teoritis yang menyeluruh. Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ide, sebagai ciri khas manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Akan tetapi, pembedaan yang di perlakukan mengenai subjek dan objek tidak harus melibatkan pengorbanan objektivitas didalam ilmu-ilmu sosial, atau perbedaan yang menyertakan inuisi sebagai pengganti analisis sebab musabab yang dapat ditiru.
                The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, weber menyatakan bahwa ketelitian, yang khusus, perhitungan kerja keras dari bisnis barat di dorong oleh perkembangan etika protestan yang muncul pada abad ke-16 dan di gerakan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir menurut adanya kepercayaan bahwa tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan kecelakaan.
                Weber memberikan perhatian pada perkembangan kapitalise di jerman. Menurutnya, perkembangan kapitalisme merupakan sebuah wujud perkembangan rasionalitas manusia. Rasionalitas ini dimotori adanya semangat untuk maju yang di dasari doktrin agama (protestan). Baginya, kapitalisme merupakan sebuah tipe masyarakat ideal yang telah mampu menggunakan rasionalitasnya. Etika Protestan, menurut weber merupakan motor penggerak berkembangnya kapitalisme di barat ini. Etika protestan mengajarkan pada para pemeluknya bahwa untuk dapat mencapai kesuksesan dunia, manusia harus memiliki semangat, bekerja keras, dan hidup hemat.
               
 
Referensi:
1. Sosiologi perubahan sosial
2. pendahulu dan pendiri sosiologi
3. Pengantar sosiologi politik

Arianne Sarah_PMI 3_Tugas3_Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme

Oleh: Arianne Sarah

1112054000014

Pengembangan Masyarakat Islam 3

 

Menurut Max Weber:

Max Weber mendefinisikan konstruksifisme sebagai suatu tindakan individu yang berpengaruh terhadap masyarakat sosial. Pada dasarnya konstruktivis berfokus pada kekuatan ide yang menjadi kesepakatan bersama. Asumsi dasarnya adalah bahwa ide membentuk realitas. Karena itu realitas bukan hal yang bersifat objektif dan terpisah dari pengamat. Maka dari itu realitas sosial adalah sebuah konstruksi sosial yang intersubjektif.

Konstruksivisme yang ditelusuri dari pemikiran weber merupakan suatu ide yang menjadikan ide tersebut menjadi sebuah realita atau tindakan individu yang dapat mengkonstruksikannya ke dalam nilai, etika, cinta, pelajaran yang disebabkan oleh tindakan sosial tersebut. Ada perbedaan antara Rasionalis dan Konstruktivis dalam memandang sebuah fenomena. Rasionalis memandang fenomena melalui logika konsekuensi. Seorang aktor akan mempertimbangkan untung rugi dalam mengambil sebuah tindakan atau beraksi atas lingkungan. Sedangkan Konstruktivis akan memandang sebuah fenomena dengan logika kelayakan. Seorang aktor akan bertindak sesuai dengan konstruksi sosial yang membentuk identitas mereka. Hal ini menimbulkan kerancuan apabila identitas itu mengendalikan logika konsekuen seorang aktor. Karena pada dasarnya kedua logika di atas dapat berlangsung secara sekaligus.

 

Menurut Peter L. Berger:

Konstruksi sosial adalah Pemikiran Berger dan Luckmannyang lebih menekankan pada tindakan manusia sebagai aktor yang kreatif dan realitas sosialnya. Bagi mereka, kenyataan kehidupan sehari-hari dianggap menampilkan diri sebagai kenyataan yang baik sehingga disebutnya sebagai kenyataan yang utama. Maksudnya, gambaran kehidupan yang sesuai kenyataan adalah realitas, tidak ditambah-tambahkan. Berger & Luckmann berpandangan bahwa kenyataan itu dibangun secara sosial, artinya individu-individu dalam masyarakat itulah yang membangun masyarakat. Maka pengalaman individu tidak terpisahkan dengan masyarakatnya. Berger memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objeketif melalui tiga momen:yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

1.      Eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia kedalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Proses ini merupakan bentuk ekspresi diri untuk menguatkan eksistensi individu dalam masyarakat. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai produk manusia. Seperti dalam hal gaya berpakaian dan berbicara.

2.      Objektifikasi, adalah hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu berupa realitas objektif. Realitas objektif itu berbeda dengan kenyataan subjketif perorangan. Ia menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap orang. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai realitas yang atau proses interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi (proses berjalan dan terujinya sebuah kebiasaan dalam masyarakat menjadi institusi pranata, yang akhirnya menjadi Patokan).

3.      Internalisasi, lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifikasi tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas diluar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi manusia menjadi hasil dari masyarakat.

Eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi adalah tiga dialektis yang simultan dalam proses (re)produksi. Secara berkesinambungan adalah agen sosial yang mengeksternalisasi realitas sosial. Pada saat yang bersamaan, pemahaman akan realitas yang dianggap objektif pun terbentuk. Pada akhirnya, melalui proses eksternalisasi dan objektifasi, individu dibentuk sebagai produk sosial. Sehingga dapat dikatakan, tiap individu memiliki pengetahuan dan identitas sosial sesuai dengan peran institusional yang terbentuk atau yang diperankannya.Saat ini, masyarakat kota adalah masyarakat modern. Modernitas ini merupakan fenomena sosial sehingga tidak dapat terelakan. Bagi Berger, modernitas dipengaruhi oleh kapitalisme yang tumbuh dalam waktu yang lama. Kapitalisme selalu dikombinasikan dengan industrialisme untuk menciptakan apa yang sekarang disebut dunia modern. Modernitas berkaitan dengan pengalaman modern, seperti pengalaman kehidupan di kota dan pengalaman komunikasi massa modern. Kota lah yang telah menciptakan gaya hidup (termasuk gaya pikir, gaya rasa, dan pada umumnya gaya mengalami realitas), yang sekarang menjadi standar untuk masyarakat luas. Modernitas lebih dipahami sebagai cara hidup yang lebih modern dan bercorak kekinian. Apa yang disebut modernitas adalah sebagai pengaruh kapitalisme. Paradigma modernisasi memandang kapitalisme sebagai satu penyebab yang penting, sebab kapitalisme yang menyebabkan terjadinya serangkaian proses besar. Dampaknya, ditandai dengan cara hidup modern, befoya-foya yang digerakkan oleh industri dan teknologi modern. Kehidupan modern ditandai dengan kecepatan dan percepatan, produksi yang besar, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya. Modernitas dibentuk oleh rasionalitas, birokrasi (institusi), industrialisasi (teknologi), kapitalisme, dan pluralitas. Kenyataan hidup sehari-hari bersifat intersubjektif, dipahami bersama-sama oleh orang yang hidup dalam masyarakat sebagai kenyataan yang dialami. Kendatipun kenyataan hidup sehari-hari merupakan dunia intersubjektif namun bukan berarti antara orang yang satu dengan orang yang lain selalu memiliki kesamaan perspektif dalam memandang dunia bersama. Setiap orang memiliki perspektif berbeda-beda dalam memandang dunia bersama yang bersifat intersubjektif. Perspektif orang yang satu dengan yang lain tidak hanya berbeda tetapi sangat mungkin juga bertentangan. Namun, bagi Berger dan Luckmann (1990:34), ada persesuaian yang berlangsung terus-menerus antara makna-makna orang yang satu dengan yang lain tadi. Ada kesadaran bersama mengenai kenyataan di dalamnya menuju sikap alamiah atau sikap kesadaran akal sehat. Sikap ini kemudian mengacu kepada suatu dunia yang sama-sama dialami banyak orang. Jika ini sudah terjadi maka dapat disebut dengan pengetahuan akal sehat (common-sense knowledge), yakni pengetahuan yang dimiliki semua orang dalam kegiatan rutin yang normal dan sudah jelas dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan hidup sehari-hari, yang diterima sebagai kenyataan oleh masyarakat merupakan faktisitas yang memaksa dan sudah jelas dengan sendirinya, dan juga akan berlangsung terus-menerus. Namun, masyarakat dapat saja menyangsikan atau mengubahnya. Untuk mengubah kenyataan, perlu peralihan yang sangat besar, kerja keras, dan pikiran kritis.

Oleh karena itu, pandangan Berger dan Luckmann (1990:47) dapat dimengerti bahwa kenyataan sosial kehidupan sehari-hari dipahami dalam suatu rangkaian (continuum) berbagai tipifikasi, yang menjadi semakin anonim dengan semakin jauhnya tipifikasi itu dari di sini dan sekarang dalam situasi tatap-muka. Pada satu sisi, di dalam rangkaian itu terdapat orang-orang yang saling berinteraksi secara intensif dalam situasi tatap muka; dan di sisi lain, terdapat abstraksi-abstraksi yang sangat anonim karena sifatnya yang tidak terlibat dalam tatap muka. Dalam konteks ini, struktur sosial merupakan jumlah keseluruhan tipifikasi dan pola-pola interaksi yang terjadi berulang-ulang melalui tipifikasi, dan ia merupakan satu unsur yang esensial dari kenyataan hidup sehari-hari.

 

Daftar Pustaka:

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Maximilian_Weber

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Peter_L._Berger

 

Muhammad Ihsan Fauzi_KPI1C_Tugas4_Max Weber (the protestant ethic and the spirit of capitalism, economy and society

Muhammad Ihsan Fauzi (1113051000118)

MAXIMILIAN WEBER (1864-1920)
Maximilian weber atau sering dikenal Max Weber lahir di kota Erfurt,
Jerman, 21 April 1864. Adanya Weber sangat berpengaruh dalam
perkembangan sosiologi (khususnya Jerman). Karea itu, weber dianggap
sebagai bapak sosiologi Jerman. Salah satu karyanya terbaiknya " The
Protestant Ethnic and The Spirit of Capitalism", ia memusatkan
perhatiannya pada Protestantisme sebagai sebuah sistem gagasan dan
pengaruhnya terhadap munculnya gagasan lain, yakni semangat
kapitalisme dan sistem ekonomi kapitalis. Ia mendefinisikan semangat
kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran
keuntungan ekonomi secara rasional (rasionalisasi). Menurut Weber,
bentuk rasionalitas manusia meliputi alat/mean (yang menjadi sasaran
utama) dan tujuan/ends (meliputi aspek kultural), sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya orang besar mampu hidup dengan pola
fikir rasional yang ada pada seperangkat alat yang dimiliki dan
kebudayaan yang mendukung kehidupannya. Orang yang rasional akan
memilih alat mana yang paling benar untuk mencapai tujuannya.
Pada bukunya "Economy and Society" Weber lebih menekankan bagaimana
tindakan sosial dan sisem politik (kekuasaan) membentuk dan
mempengaruhi sistem ekonomi. Ia mendefinisikan tindakan sosial (social
action) sebagai tindakan individu (aktor) yang memiliki makna
subyektif bagi individu tersebut tetapi berdampak pada individu lain
dan berharap ada reaksi dari individu lain tersebut.
Weber menyebutkan empat tipe tindakan sosial, sebagai berikut.
Tindakan tradisional (traditional action) yaitu tindakan sosial murni,
tindakan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan
sesuatu di masa lalu saja.
Tindakan afektif (Affection Action) yaitu tindakan yang dibuat-buat,
dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si pelaku. Tindakan
ini sukar dipahami, tidak rasional.
Tindakan rasionalitas instrumental (Werktrational Action) yaitu
tindakan dimana pelaku menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu
merupakan cara yang paling tepat untuk mencapai tujuannya. Tindakan
ini menunjuk terhadap tujuan itu sendiri. Tindakan ini rasional,
karena pilihan-pilihan terhadap cara-cara kiranya sudah menentukan
tujuan yang diinginkan.
Tindakan rasionalitas nilai yaitu tindakan sosial ini murni, dalam
tindakan ini pelaku tidak hanya sekedar menilai cara yang baik untuk
mencapai tujuannya tetapi juga menentukan nilai dari tujuan itu
sendiri.
Dari teori tentang tindakan sosial ini, Weber mendefinisikan konsepnya
tentang tindakan ekonomi. Menurutnya, tindakan ekonomi adalah tindakan
sosial yang berorientasi ekonomi, yaitu upaya memenuhi kebutuhan,
termasuk di dalamnya upaya menguasai sumber daya ekonomi dan mencar
keuntungan. Dari tindakan ekonomi inilah yang menjadi asal dari
terbentuknya sistem ekonomi. Dimulai dari tindakan ekonomi yang
sederhana, yaitu saling tukar menukar barang kebutuhan, hingga upaya
mencari keuntungan mulai dari model kapitalisme tradisional hingga
modern.

Tubagus Zhiya KPI 1A - Tugas 4_ Max Weber

Max Weber

 

1.    The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism

 

The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism adalah karya Weber yang paling populer  tentang keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. muncul dan berkembangnya kapitalisme didunia barat beralngsung secara bersamaan dengan perkembangan sekte Kalvinise dalam agama protestan. Ajaran ini dikembangkan oleh Calvin menyatakan bahwa pada intinya seseorang sudah ditakdirkan untuk masuk neraka atau surga, tergantung perbuatan yang dikerjakannya.

 

Dalam buku ini weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas dengan meyeleraskan hubungan antara sejumlah faktor sosial. Adanya  kemnungkinan jika peristiwa terjadi disertai peristiwa lain. Weber menemukan korelasi antara afliasi agama protestan pada kondisi prakapitalis pada kemajuan. Hal itu dikarenakan etika protestan medorong seseorang untuk bekerja sungguh-sungguh, tidak befoya-foya, dan tidak konsumtif, sehingga tak heran jika orang-orang protestan meendapat kesuksean dengan menjadi pimpinan perusahaan, maupun komersial.  Doktrin protestan tersebut melahirkan etos kerja yang sukses. Ukuran sukses di dunia merupakan tolak ukur kesuksesan di akhirat yang dapat dilihat dari aktivitas sosial ekonominya.

 

            Akhirnya Etika protestan dimaknai oleh Weber dengan cara kerja yang luwes, bersemangat, dan rela melepas imbalan materilnya. Sedangkan Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi.

 

2.     Economic and Society

 

Economic and society adalah karya weber selanjutnya yang membahas berbagai jenis hubungan sosial, terutama bentuk-bentuk dominasi politikyang dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu :

 

A.      Dominasi tradisional yang didasarkan pada legitimasi karena ciri sakralitas tradisi yg melekat.

B.      Dominasi karismatik karena dikaruniai aura khusus dengan mendasarkan kekuasaannya pada kekuatan untuk meyakinkan dan mengumpulkan banyak orang.

C.       Dominasi legal-rasional yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal melalui kepatuhan kitab hukum.

 

Selain itu Weber mengemukakan perbedaan antara sejarah dengan sosiologi. Menurutnya, sosilogi berusaha merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Sehingga tidak heran jika buku ini juga membahas tentang tipe-tipe ideal. Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah yang berfungsi sebagai alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian untuk menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual.

 

Karena memiliki deinisi yang seperti ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Itu terbukti pada buku Econimic and Society. Weber menyajikan tipe ideal berupa campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampak sulit disamakan dengan pernyataan Weber.

 

Tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya. Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, makna komponen-komponennya harus jelas, dan semua hal itu harus membantu kita memahami dunia nyata. Beberapa tipenya adalah histories, sosiologis umum, tindakan dan struktural.

 

Dimas Darmawan KPI 1B_Tugas 4_Teori Weber

TEORI MAX WEBER
oleh : Dimas Darmawan

ECONOMY AND SOCIETY


     Dalam karyanya Economy and Society Weber menyampaikan konsep umum membahas tipe-tipe ideal. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
    Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :

1.  Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.  Tipe ideal sosiologi umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.  Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.  Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.



THE PROTESTANT ETHNIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME

  
Buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme.
   Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi.

Dimas Darmawan KPI 1B_Tugas 4_Teori Max Weber

ECONOMY AND SOCIETY

     Dalam karyanya Economy and Society Weber menyampaikan konsep umum membahas tipe-tipe ideal. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
    Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :

1.     1.  Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.    2.  Tipe ideal sosiologi umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.    3.  Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.  Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.



THE PROTESTANT ETHNIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME

  
Buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme.
   Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi.

Cari Blog Ini