Rabu, 02 Oktober 2013

Aida_KPI_1A_Tugas4_Weber

MAX WEBBER
THE PROTESTAN ETHIC AND SPIRIT OF CAPITALISM
Karya Weber tentang The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.
Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan "jaminan" masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi "jaminan" pula bagi individu itu masuk neraka.
Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan "mengumpulkan" harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagiaan dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan. Etika Protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi perkembangan lebih lanjut kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana.
Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Kar Marx.
Menurut Max Weber bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.
Konfusianisme dan Taoisme
Selain membicarakan tentang kaitan antara Protestan dan Kapitalisme, Weber juga membicarakan tentang kepercayaan orang Tiongkok yakni Konfusionisme dan Taoisme, perhatian Weber pada kepercayaan ini tampaknya menunjukkan besarnya perhatian Weber atas kenyataan-kenyataan sosial dalam kehidupan manusia. Hadirnya tulisan tentang Konfusionisme dan Taoisme dalam karya Weber ini dapat dipandang sebagai perbandingan antara makna agama di Barat dan di Timur. Ia banyak menganalisa tentang masyarakat agama, tentu saja dengan analisa yang rasional dan handal serta sama sekali tidak ada maksud untuk mendiskriminasikan agama tertentu. Agama Tiongkok; Konfusianisme dan Taonisme merupakan karya terbesar kedua dari Weber dalam sosiologi tentang agama.
Weber memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur dari masyarakat Tiongkok yang mempunyai perbedaan jauh dengan budaya yang ada di bagian barat bumi (Eropa) yang dikontraskan dengan Puritanisme. Weber berusaha mencari jawaban "mengapa kapitalisme tidak berkembang di Tiongkok?" dalam rangka memperoleh jawaban atas pertanyaan sederhana diatas, Webar melakukan studi pustaka atas eksistensi masyarakat tiongkok. Bagaiman eksistensi itu dipahami Weber dalam rangka menuntaskan apa yang menjadi kegelisahan empiriknya, maka yang dilakukana adalah memahami sejarah kehidupan masyarakat Tiongkok.
Dalam berbagai dokumen yang diteliti oleh Weber, bahwa masyarakat Tiongkok memiliki akar yang kuat dengan kehidupan nenek-moyang mereka sejak tahun 200 SM, Tiongkok pada saat itu merupakan tempat tinggal para pemimpin kekaisaran yang membentuk benteng-benteng di kota-kota Tiongkok, disitu juga merupakan pusat perdagangan, namun sayangnya mereka tidak mendapatkan otonomi politik, ditambah warganya yang tidak mempunyai hak-hak khusus, hal ini disebabkan oleh kekuatan jalinan-jalinan kekerabatan yang muncul akibat keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Hal lainnya adalah gilda-gilda yang bersaing merebutkan perkenan kaisar. Sebagai imbasnya warga kota-kota Tiongkok tidak pernah menjadi suatu kelas setatus terpisah. Namun jika kita cermati dinegara beragamakan Taoisme dan Konfucuisme kini mampu berkembang dan banyak kapitalis dimana-mana mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan fakta sosial saat ini.
 
ECONOMY AND SOCIETY
Aspek lain dari metodologi  Weber adalah komitmennya pada studi kausalitas. Yang dimaksud Weber dengan kausalitas kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Menurutnya tidak cukup hanya mencari keajeksn historis, pengulangan dan kepalarelan sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan. Namun peneliti harus melihat alas an sekaligus makna, perubahan-perubahan historis. Meskipun Weber dipandang memiliki model kausal satu jalan yang berlawanan dengan mode penalaran dialektis, Weber dalam sosiologi substantifnya ia selalu menyelaraskan hubungan antara ekonomi, masyarakat, politik, organisasi, stratifikasi social, agama, dan lain sebagainya. Dalam buku the protestant ethic and the spirit of capitalism, dan buku economy and society, serta karya historisnya yang lain, Weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas. Namun ia tidak menggunakan model satu jalan sedrhana, ia selalu menyelaraskan hubungan antara sejumlah factor social.
Termaksud tipe ideal, tipe ideal adalah salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi temporer . seperti telah kita ketahui, Weber percaya bahwa tanggung jawab sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual yang kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Perangkat konseptual tersebut adalah tipe ideal. Pada level dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikontruksi oleh ilmuwan social, menurut minat dan orientasi teoritisnya., dalam rangka memahami cirri utama fenomena social. Dalam definisinya, Weber menawarkan beberapa macam tipe ideal:
1.      Tipe ideal historis, ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu. (contoh: pasar kapitalistis modern)
2.      Tipe ideal sosiologis umum, ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. (contoh: birokrasi)
3.      Tipe ideal tindakan, ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. (contoh: tindaka afektual)
4.      Tipe ideal structural, ini merupakan bentuk sebab akibat tindakan social. (contoh: dominasi tradisional)
 
Ritzer, G., & Goodman, D. J. 2012. TEORI SOSIOLOGI. Bantul : Kreasi Wacana.

NAMA            : DWIKO MAXI RIANTO

NIM                : 1112054000029

Pengembangan Masyarakat Islam 3A

SOSIOLOGI PERKOTAAN

MARXISME

Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.

A.    Latar belakang

Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya Untuk menyejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Inilah dasar dari marxisme.

B.     Pengaruh Marxisme

Salah satu alasan mengapa Marxisme merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masing-masing telah sangat berkembang saat itu, yaitufilsafat Jerman, teori politik Perancis, dan ilmu ekonomi Inggris. Marxisme tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai "filsafat" seperti filsafat lainnya, sebab marxisme mengandung suatu dimensifilosofis yang utama dan bahkan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap banyak pemikiranfilsafat setelahnya. Itulah sebabnya, sejarah filsafat zaman modern tidak mungkin mengabaikannya.

C.     Teori Kritis – Marxisme

Sejarah ilmu pengetahuan telah mencatat dan menempatkan ilmu-ilmu sosial pada perdebatan panjang yang dialektis. Semakin kompleksnya hubungan antar-manusia berimplikasi pada semakin dinamisnya perkembangan teori-teori sosial. Di satu sisi ada teori – teori yang telah mapan –status quo, sehingga telah menjadi teori mainstream yang dipakai secara global, namun di sisi lain ada teori yang mencoba untuk melakukan serangkaian perubahan akan dinamika perspektif global.

Teori kritis dan Marxisme merupakan dua bangun pengetahuan yang berawal dari kepentingan dan cita-cita yang sama yaitu penegakan atas emansipasi manusia. Dalam banyak literatur dijelaskan bahwa teori kritis merupakan kelanjutan dari pemikiran Marxis, akan tetapi tidak dapat dinafikkan pula adanya kritik yang dialamatkan teori kritis atas pemikiran Marx. Untuk itu pembahasan pada tulisan ini akan mencoba menguraikan bagaimana kedua teori tersebut dibangun berikut persamaan dan juga perbedaan yang menyertainya.

Sementara itu teori kritis pada awalnya merujuk pada sebuah tradisi pemikiran yang berkembang di sebuah institut penelitian di Universitas Frankfurt, tahun 1920an yang kemudian dikenal dengan mahzab Frankfurt atau Frankfurt School. Pemikiran ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Georg Hegel, Max Weber, Emmanuel Kant, Sigmund Freud dan terutama Karl Marx. Adapun pemikir utama pada masa itu antara lain Max Horkheimer dan Theodore Adorno. Pemikiran ini banyak mengalami perkembangan dan modivikasi sehingga muncul aliran-aliran baru yang membawa nama seperti Jurgen Habermas sebagai pemikir teori kritis kontemporer. Namun walaupun banyak terinspirasi dari pemikiran Marx, pada dasarnya terdapat perbedaan yang signifikan antara pemikiran teori kritis dengan Marxisme. Hal ini terutama dilihat dari bagaimana kedua teori tersebut dibangun dengan asumsi-asumsi utama yang mendukungnya. Menganalisis lebih jauh dua teori tersebut akan memperlihatkan sejumlah perbedaan ontologis yang tentunya menjadi landasan utama berdirinya setiap teori.

Konsep dialektika-materialis Marxis yang meyakini bahwa kebutuhan material adalah hal utama yang harus dipenuhi setiap manusia untuk dapat bertahan hidup. Pandangan ini kemudian meletakkan kepemilikan atas sarana produksi menjadi hal yang mutlak bagi setiap manusia dalam rangka pemenuhan kebutuahan materialnya. Apa yang dilihat Marxis mengenai kepemilikan sarana produksi ini menjadi dasar munculnya pemikiran tentang perjuangan kelas. Bahwa kepemilikan atas sarana-sarana produksi hanya memunculkan pembagian kelas dimana ada pihak yang memiliki sarana produksi (modal dan teknologi) dan pihak yang memiliki faktor produksi kerja yaitu tenaga kerja.

Dalam pandangan Marxis lebih melihat adanya dominasi ekonomi dalam bentuk penguasaan sumber dan alat produksi, maka teori kritis lebih menekankan aspek budaya dan ideologi yang ada dibaliknya. Teori ktiris mencoba untuk merekonstruksi pandangan Marx yang dinilai terlalu memberi tekanan pada bentuk-bentuk produksi (mode of production) dan mengabaikan aspek-aspek lain di luar kekuatan ekonomi. Pendangan ini terlihat dalam karya-karya bidang sosiologi terutama tulisan Giddens yang menyatakan bahwa teori kritis harus mengalamatkan perhatiannya kepada logika yang terpisah namun saling berhubungan antara state-building, geo-politik, pembangunan kapitalis dan industrialisasi. Senada dengan pemikiran tersebut, Habermas mencoba untuk memperbaiki misi emansipatif yang diperjuangkan Marxisme. Menurut Habermas kekeliruan utama yang dilakukan oleh para pemikir Marxis adalah dengan mengabaikan wilayah independen dari pembelajaran moral-praktis di mana umat manusia mengembangkan kemampuan etika dalam menciptakan tatanan sosial yang menuntut persetujuan agen-agen perwakilan manusia. Pandangan ini menekankan pada totalitas hubungan sosial mengenai bagaimana kekuasaan menyusun tatanan dunia yang berlaku.

Teori kritis berupaya menunjukkan adanya bentuk ketidakadilan dan hegemoni yang terstruktur dan terbentuk dalam masyarakat. Merujuk pada perkembangan teori kritis Gramscian, hegemoni dalam hal ini berbeda dengan dominasi dimana dominasi menggambarkan sebuah pola hubungan kekuasaan yang cenderung ditandai dengan paksaan dan ditopang oleh sarana-sarana militer. Hegemoni di sisi lain menggambarkan pola hubungan kekuasaan yang lebih mengandalkan legitimasi daripada paksaan. Hubungan kekuasaan yang hegemonis ditopang oleh legitimasi yaitu adanya penerimaan, kepatuhan dan dukungan oleh kelompok sosial yang tertindas terhadap sistem yang ada yang sebenarnya sangat eksploitatif

Hubungan antara Teori Kritis dan Marxisme digambarkan dengan kalimat :"Oleh karenanya Institut Penelitian ini tidak mau tergantung pada universitas Frankfurt, yang pada saat itu masih muda, biarpun beberapa anggotanya mengajar di universitas tersebut. Kebanyakan anggotanya merasa simpati kepada marxisme dan beberapa diantaranya menjadi anggota partai komunis Jerman…" Para pemikir Mazhab Frankfurt seperti Max Horkheimer, Friedrich Pollock, Leo Lowenthal, Walter Benjamin, Theodor W.Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse dan Jurgen Habermas menyimpan jiwa Marxisme dalam filsafat mereka. Kritik Jurgen Habermas pada positivisme misalnya menampakan dengan jelas ciri pemikiran Marx tentang ilmu pengetahuan kritis. Habermas mengemukakan bahwa manusia memperoleh pengetahuan tidak semata-mata dalam hubungan antara dirinya dengan kenyataan yang netral. Kenyataan selalu dilekatkan dengan kepentingan. Habermas mengajukan tesis tentang Erkenntnisleitende Interesse atau kepentingan yang menjuruskan pengenalan. Dalam hal ini ada tiga macam kepentingan :

a.       Kepentingan pengenalan teknis

b.      Kepentingan pengenalan praktis, dan

c.       Kepentingan pengenalan emansipatoris.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa marxisme dan teori kritis bertujuan mengkritisi sistem kapitalisme dan perspektif-perspektif yang ada sebelumnya. Meskipun demikian, marxisme juga memiliki pendapat tersendiri mengenai sifat dasar manusia, yang dinilai berhubungan (relational) dan berorientasi pada proses, oleh karenanya, marxisme percaya bahwa tidakan manusia sangatlah tergantung pada proses sosial pada lingkungannya. Marxisme menjadi salah satu perspektif yang menyuguhkan segi pandang melalui titik ekonomi yang menghendaki penghapusan sistem kapitalisme yang dinilai sebagai sistem yang disabling, eksploitatif, dan tidak demokratis. Dengan adanya penghapusan kelas-kelas, maka kesetaraan dan keadilan akan sedikit demi sedikit menghilangkan konflik.

Referensi :

Sugiono, Muhadi. Teori Kritis dalam Hubungan Internasional. dalam Asrudin, Refleksi Teori Hubungan Internasional dari Tradisional ke Kontemporer, Yogyakrta : Graha Ilmu. 2009.

Rupert, Mark. Marxism and Critical Theory. in: Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relation Theories. Oxford University Press, pp. 148-165. 2007.

Aida_KPI_1A_tugas4_Webber

MAX WEBBER
THE PROTESTAN ETHIC AND SPIRIT OF CAPITALISM
Karya Weber tentang The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.
Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan "jaminan" masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi "jaminan" pula bagi individu itu masuk neraka.
Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan "mengumpulkan" harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagiaan dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan. Etika Protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi perkembangan lebih lanjut kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana.
Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Kar Marx.
Menurut Max Weber bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.
Konfusianisme dan Taoisme
Selain membicarakan tentang kaitan antara Protestan dan Kapitalisme, Weber juga membicarakan tentang kepercayaan orang Tiongkok yakni Konfusionisme dan Taoisme, perhatian Weber pada kepercayaan ini tampaknya menunjukkan besarnya perhatian Weber atas kenyataan-kenyataan sosial dalam kehidupan manusia. Hadirnya tulisan tentang Konfusionisme dan Taoisme dalam karya Weber ini dapat dipandang sebagai perbandingan antara makna agama di Barat dan di Timur. Ia banyak menganalisa tentang masyarakat agama, tentu saja dengan analisa yang rasional dan handal serta sama sekali tidak ada maksud untuk mendiskriminasikan agama tertentu. Agama Tiongkok; Konfusianisme dan Taonisme merupakan karya terbesar kedua dari Weber dalam sosiologi tentang agama.
Weber memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur dari masyarakat Tiongkok yang mempunyai perbedaan jauh dengan budaya yang ada di bagian barat bumi (Eropa) yang dikontraskan dengan Puritanisme. Weber berusaha mencari jawaban "mengapa kapitalisme tidak berkembang di Tiongkok?" dalam rangka memperoleh jawaban atas pertanyaan sederhana diatas, Webar melakukan studi pustaka atas eksistensi masyarakat tiongkok. Bagaiman eksistensi itu dipahami Weber dalam rangka menuntaskan apa yang menjadi kegelisahan empiriknya, maka yang dilakukana adalah memahami sejarah kehidupan masyarakat Tiongkok.
Dalam berbagai dokumen yang diteliti oleh Weber, bahwa masyarakat Tiongkok memiliki akar yang kuat dengan kehidupan nenek-moyang mereka sejak tahun 200 SM, Tiongkok pada saat itu merupakan tempat tinggal para pemimpin kekaisaran yang membentuk benteng-benteng di kota-kota Tiongkok, disitu juga merupakan pusat perdagangan, namun sayangnya mereka tidak mendapatkan otonomi politik, ditambah warganya yang tidak mempunyai hak-hak khusus, hal ini disebabkan oleh kekuatan jalinan-jalinan kekerabatan yang muncul akibat keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Hal lainnya adalah gilda-gilda yang bersaing merebutkan perkenan kaisar. Sebagai imbasnya warga kota-kota Tiongkok tidak pernah menjadi suatu kelas setatus terpisah. Namun jika kita cermati dinegara beragamakan Taoisme dan Konfucuisme kini mampu berkembang dan banyak kapitalis dimana-mana mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan fakta sosial saat ini.
 
ECONOMY AND SOCIETY
Aspek lain dari metodologi  Weber adalah komitmennya pada studi kausalitas. Yang dimaksud Weber dengan kausalitas kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Menurutnya tidak cukup hanya mencari keajeksn historis, pengulangan dan kepalarelan sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan. Namun peneliti harus melihat alas an sekaligus makna, perubahan-perubahan historis. Meskipun Weber dipandang memiliki model kausal satu jalan yang berlawanan dengan mode penalaran dialektis, Weber dalam sosiologi substantifnya ia selalu menyelaraskan hubungan antara ekonomi, masyarakat, politik, organisasi, stratifikasi social, agama, dan lain sebagainya. Dalam buku the protestant ethic and the spirit of capitalism, dan buku economy and society, serta karya historisnya yang lain, Weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas. Namun ia tidak menggunakan model satu jalan sedrhana, ia selalu menyelaraskan hubungan antara sejumlah factor social.
Termaksud tipe ideal, tipe ideal adalah salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi temporer . seperti telah kita ketahui, Weber percaya bahwa tanggung jawab sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual yang kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Perangkat konseptual tersebut adalah tipe ideal. Pada level dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikontruksi oleh ilmuwan social, menurut minat dan orientasi teoritisnya., dalam rangka memahami cirri utama fenomena social. Dalam definisinya, Weber menawarkan beberapa macam tipe ideal:
1.      Tipe ideal historis, ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu. (contoh: pasar kapitalistis modern)
2.      Tipe ideal sosiologis umum, ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. (contoh: birokrasi)
3.      Tipe ideal tindakan, ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. (contoh: tindaka afektual)
4.      Tipe ideal structural, ini merupakan bentuk sebab akibat tindakan social. (contoh: dominasi tradisional)

Achmad daud darmawan KPI 1A Tugas 4 _ max weber

MAX WEBER

 

 

A.   The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism

 

            Dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1904) Weber  menjelaskan tentang pandangannya mengenai Kausalitas dan keterkaitan antara Etika Protestan dan  timbulnya Kapitalisme di Eropa Barat.

            Yang dimaksud dengan Kausalitas (1921/1968) adalah kemungkinan suatu peristiwa diikutiperistiwa lain. Menurutweber, tidak cukup dengan mencari keajekan historis, pengulangan dan keparalelan, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan. Namun, peneliti harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan-perubahan historis (Rath,1971). Weber bekerja dengan pendekatan multikausal dimana "sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi factor kausal efektif". (Kalberg, 1994:13)

            Baik dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, ataupun dikarya-karya historis lainnya, dia merasa tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas, namun ia tidak menggunakan model satu-jalan sederhana, ia selalu menghubungkan antar sejumlah faktor sosial.

            Hal yang perlu diingat mengenai pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan  bahwa kita dapatmemahamitentang kehidupan sosial (verstehen), pemikiran weber tentang kausalitas berkaitan dengan usahanya untuk memahami masalah antara nomotestis dengan pengetahuan idografis. Bagi mereka penganut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubungan pasti antar fenomena sosial,dan bagi pendukung pandang idiografis, mereka hanya melihat acak antara entitas-entitas tersebut.

Weber dalam buku ini juga, ia mengemukakanmengenai keterkaitan antara Etika Protestan dan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.Menurutnya muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Baratberlangsung berbarengan  dengan perkembangan Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan.Karena umat Kalvinis bekerja keras, antara lain dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang mereka harapkan dapat menuntun mereka kearah Surga, maka mereka pun menjadi makmur.

 

 

B.    Economy and Society

            Dalam bukunya yang berjudul Economy and Society(1910-1914), Max Weber menguraikan pendapatnya, bahwatindakan sosial dan sistem politik mempengaruhi sistem ekonomi.

Didalam buku ini juga weber membahas tentang tipe-tpe ideal.  Tipe ideal merupakan salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi kontemporer . Seperti telah diketahui sebelumnya , Weber percaya bahwa tanggung jawab sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual, yang kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Kendati memiliki definisi ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuan sosial, menurut minat dan orientasi teoritisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial. Yang penting dicatat adalah bahwa tipe-tipe ideal merupakan perangkat heuristic; mereka berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial (atau "individu historis").

             macam tipe ideal, diantaranya:

A.   Tipe ideal historis. Tipe ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu CONTOH: pasar kapitalistis modern.

B.    Tipe ideal sosiologis umum. Tipe ini terkait dengan fenomena yang bersinggung dengan beberapa periode historis dan masyarakat

CONTOH: birokasi.

C.    Tipe ideal tindakan. Tipe ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku CONTOH: tindakan afektual

D.   Tipe ideal struktural. Tipe ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial CONTOH: dominasi tradisional.

 

 

Vicky Dianiya_KPI 1A_Tugas 4_Max Weber

Max Weber

THE PROTESTANT ETHIC AND SPIRIT OF CAPITALISM

The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Dalam karya terkenal Max Weber, The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1904-05/1958), ia melacak dampak Potestansme asketis –terutama Calvinisme– terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Karya ini hanyalah bagian kecil dari karya ilmiah lebih besar yang melacak hubungan antara agama dengan kapitalisme modern di sebagian besar belahan dunia.

Weber, khususnya dalam karya akhirnya, menjelaskan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas Barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan system tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari sistem yang berkembang tersebut. Ia menghubungkan secara langsung dengan perkembangan parallel rasionalisasi ilmu pengetahuan, hukum, politik, seni, arsitektur, sastra, universitas dan pemerintah.

Jadi, buku  The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme lain) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.

Dan juga dalam buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism , maupun di dalam karya-karya historisnya  yang lain, Weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas namun ia tidak menggunakan model  satu-jalan sederhana, ia selalu menyelaraskan hubungan antar sejumlah faktor sosial.

Yang perlu diingat dalam pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan dia bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial (verstehen), pengetahuan kausal atas ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam. Seperti dikemukakan Weber: "Perbuatan ('tindakan') manusia yang 'sarat makna' dan dapat ditafsirkan, dapat diidentifikasi dengan mengacu pada 'penilaian' dan makna. Oleh karena itu, kriteria kita untuk penjelasn kausal mengandung kepuasaan unik dalam penjelasan 'historis' dari 'entitas' tersebut" (1903-06/1975: 185). Pengetahuan kausal para ilmuwan sosial berbeda dengan pengetahuan kausal para ilmuwan alam.

  Pemikiran Weber tentang kausalitas terkait erat dengan upayanya memahami konflik antara pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idiografis. Seperti biasa, Weber mengambil posisi tengah, yang disajikan dalam konsep "kausalitas yang tepat". Istilah kausalitas yang tepat mengadopsi pandangan bahwa hal terbaik yang dapat kita lakukan dalam sosiologi adalah membuat pernyataan probabilistik ttentang hubungan antar fenomena sosial; jadi, jika x terjadi maka ada kemungkinan bahwa y akan terjadi. Tujuannya adalah "memperkirakan sejauh mana efek tertentu 'didukung' oleh 'kondisi tertentu'"(Weber, 1903-17/1949: 183).

ECONOMY AND SOCIETY

Dia mulai mengabdikan diri sepenuhnya pada bidang sosiologi pada tahun 1909, tahun ketika Weber mulai menulis karya besarnya, Economy and Society. Dalam bukunya ini, Weber lebih menekankan pada 'Tipe-tipe Ideal'. Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial.

Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah. Menurut pandangan Weber, tipe ideal secara induktif berasal dari dunia riil sejarah sosial. Weber tidak percaya bahwa dengan hanya menawarkan serangkaian konsep yang didefinisikan secara seksama sudah memadai, khususnya jika konsep-konsep tersebut secara deduktif diturunkan dari teori abstrak. Jadi, untuk menghasilkan tipe-tipe ideal, mula-mula peneliti harus melibatkan dirinya dengan realitas sejarah dan selanjutnya menurunkan tipe-tipe itu dari realitas tersebut. Tipe-tipe ideal justru dikembangkan dari fenomena seperti, Calvinisme, Pietisme, Metodisme dan Baptisme.

Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam buku Economy and Society adalah campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan-pernyataan Weber" (1976: 118). Weber menawarkan beberapa macam tipe ideal:

1. Tipe ideal historis. Ini terkait dengan  fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapitalis modern).

2. Tipe ideal sosiologis umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, birokrasi).

3. Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).

4. Tipe ideal struktural.ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).

Jelas bahwa Weber mengembangkan begitu beragam tipe ideal, dan kekayaan karyanya berasal dari keragaman ini, walaupun cara pengonstruksian mereka sama.

Sumber : Teori Sosiologi oleh George Ritzer & Douglas J. Goodman

Ihat Solihat KPI 1 A_Tugas 4 Sosiologi_Max Weber

MAX WEBER

The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism

            Dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1904) Weber  menjelaskan tentang pandangannya mengenai Kausalitas dan keterkaitan antara Etika Protestan dan  timbulnya Kapitalisme di Eropa Barat.

            Yang dimaksud dengan Kausalitas (1921/1968) adalah kemungkinan suatu peristiwa diikutiperistiwa lain. Menurut weber, tidak cukup dengan mencari keajekan historis, pengulangan dan keparalelan, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan. Namun, peneliti harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan-perubahan historis (Rath,1971). Weber bekerja dengan pendekatan multikausal dimana "sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi factor kausal efektif". (Kalberg, 1994:13)

            Baik dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, ataupun dikarya-karya historis lainnya, dia merasa tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas, namun ia tidak menggunakan model satu-jalan sederhana, ia selalu menghubungkan antar sejumlah faktor sosial.

            Hal yang perlu diingat mengenai pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan  bahwa kita dapat memahamitentang kehidupan sosial (verstehen), pemikiran weber tentang kausalitas berkaitan dengan usahanya untuk memahami masalah antara nomotestis dengan pengetahuan idografis. Bagi mereka penganut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubungan pasti antar fenomena sosial,dan bagi pendukung pandang idiografis, mereka hanya melihat acak antara entitas-entitas tersebut.

Weber dalam buku ini juga, ia mengemukakanmengenai keterkaitan antara Etika Protestan dan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.Menurutnya muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Baratberlangsung berbarengan  dengan perkembangan Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan.Karena umat Kalvinis bekerja keras, antara lain dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang mereka harapkan dapat menuntun mereka kearah Surga, maka mereka pun menjadi makmur.

 

Economy and Society

            Dalam bukunya yang berjudul Economy and Society(1910-1914), Max Weber menguraikan pendapatnya, bahwa tindakan sosial dan sistem politik mempengaruhi sistem ekonomi.

Didalam buku ini juga weber membahas tentang tipe-tpe ideal.  Tipe ideal merupakan salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi kontemporer . Seperti telah diketahui sebelumnya , Weber percaya bahwa tanggung jawab sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual, yang kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Kendati memiliki definisi ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuan sosial, menurut minat dan orientasi teoritisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial. Yang penting dicatat adalah bahwa tipe-tipe ideal merupakan perangkat heuristic; mereka berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial (atau "individu historis").

             macam tipe ideal, diantaranya:

1.      Tipe ideal historis. Tipe ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapitalistis modern).

2.      Tipe ideal sosiologis umum. Tipe ini terkait dengan fenomena yang bersinggung dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, birokasi).

3.      Tipe ideal tindakan. Tipe ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).

4.      Tipe ideal struktural. Tipe ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).

 

 Daftar Pustaka

 

Ritzer, G., & Goodman, D. J. TEORI SOSIOLOGI. Bantul : KREASI WACANA.

Sunarto, K. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Belda Eldrit Janitra KPI 1 A_Tugas 4 Sosiologi_Max Weber 1

Teori-teori Max Weber dalam Dua Karya Besarnya

(The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism dan Economy and Society)

1.     The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism

            Max Weber menyatakan kesalehan yang diwarisinya dari sang ibu pada level akademik dalam karyanya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Dalam buku ini Weber menjelaskan pandangannya tentang Kausalitas dan Keterkaitan antara Etika Protestan dan  munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.

            Menurut Weber, Kausalitas adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Dia berpendapat bahwa tidak cukup hanya mencari ketetapan historis, pengulangan dan keparalelan, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar sejarawan akan tetapi, peneliti harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan-perubahan historis. Weber bekerja dengan pendekatan multikausal dimana sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi faktor kausal efektif.

            Pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinannya bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial (verstehen), pengetahuan kausal atau ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam.

Kausalitas juga erat hubungannya dengan upaya memahami konflik antara pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idografis. Mereka yang menganut sudut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubungan pasti antar fenomena sosial, sementara itu para pendukung perspektif idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak antar entitas-entitas tersebut. Istilah kausalitas yang tepat mengadopsi pandangan bahwa hal terbaik yang dapat kita lakukan dalam sosiologi adalah membuat pernyataan probabilistik tentang hubungan antar fenomena sosial. Tujuannya adalah  memperkirakan sejauh mana efek tertentu 'didukung' oleh 'kondisi tertentu.

Selain teori mengenai kausalitas Weber juga mengemukakan tesisnya yang terkenal dalam buku ini mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat. Muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan. Ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur-sesuatu yang hanya dicapai dengan kerja keras karena umat Kalvinis bekerja keras dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang mereka harapkan untuk menuntun mereka kearah Surga.

 

 

 

2.     Economy and Society

            Max Weber berpendapat bahwa tindakan sosial dan sistem politik mempengaruhi sistem ekonomi dalam karyanya yang berjudul Economy and Society. Buku ini juga membahas tentang tipe-tipe ideal yang merupakan salah satu teori terpenting dalam sosiologi kontemporer.

            Weber berasumsi bahwa tugas besar seorang sosiolog adalah mengembangkan perangkat konseptual, yang kemudian dapat digunakan oleh sejarawan dan sosiolog. Namun definisi ini, tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Pada tingkatan paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuan sosial, menurut minat dan orientasi teoritisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial. Dengan kata lain, tipe-tipe ideal merupakan perangkat heuristic; mereka berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial atau individu historis.

            Beberapa macam tipe ideal menurut Max Weber:

1.      Tipe ideal historis. Tipe ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu. Contoh: pasar kapitalistis modern.

2.      Tipe ideal sosiologis umum. Tipe ini terkait dengan fenomena yang bersinggung dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Contoh: birokasi.

3.      Tipe ideal tindakan. Tipe ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Contoh: tindakan afektual.

4.      Tipe ideal struktural. Tipe ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Contoh: dominasi tradisional.

 

Daftar Pustaka

Ritzer, G., & Goodman, D. J. 2012. TEORI SOSIOLOGI. Bantul : Kreasi Wacana.

 

 

Cari Blog Ini