Kamis, 31 Oktober 2013

sachul hamdi pmi 3_ UTS_PERMASALHAN SAMPAH DI KOTA DEPOK

"Permasalahan Sampah Terhadap Lingkungan Di Kota Depok"

Description: C:\Users\user\Documents\logo_uin_baru.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Syachul Hamdi : 1112054000022

Semester III

 

 

 

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2013

 

 

Pendahuluan

Penulis ingin mengetahui sampai kapankah sampah akan mengancam kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan masyarakat Indonesia. Dan penulis ingin memecahkan masalah dampak buruk sampah yang dirasakan masyarakat maka dengan itu saya menggambil judul"MASALAH SAMPAH DI KOTA DEPOK" adapun harapan penulis agar terciptanya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga lingkungan, dan tujuan utama penulis yaitu terwujudnya kebersihan di dalam masyarakat Indonesia khususnya diwilayah kota Depok, sehingga manusia merasakan ketenangan hidup, tidak hidup dalam ancaman dari dampak buruk sampah, tidak merasa gelisah/ takut terhadap dampak buruk sampah.

Setelah saya mengamati di berbagai tempat bahwa sampah memang selalu ada dan keadaannya memang sangat tidak diharapkan, akan tetapi adanya sampah ini secara tidak langsung dan secara langsung adalah kesalahan manusia. Di berbagai tempat yang saya amati memang tempat sampah tidak tersedia, kurang sadarnya manusia terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia.Tidak hanya di Negara-negara berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju, sampah selalu menjadi masalah.Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah.Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi.Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan terjadilah bukit sampah seperti yang sering kita lihat.

Sampah yang menumpuk itu, sudah tentu akan mengganggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat.Dan juga dapat mendatangkan wabah penyakit.Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan, tetapi ada sisi manfaatnya.Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat.Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya.

 

 

 

 

DAMPAK SAMPAH PADA MASYARAKAT

 

Sampah bila cuma satu pastinya tidak akan berdampak hingga Banjir, sungai kotor, sungai tercemari, sampai-sampai manusia itu sendiri yang merasakan dampak buruknya.

Dampak dari sampah mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita akan tetapi dampak tersebut akan terus membayang-bayangi kita. Saya akan memberikan beberapa dampak sampah bagi manusia yang kasat mata maupun tidak kasat mata.Dampak sampah yang kasat mata atau sampah yang dapat dilihat oleh mata:

v  Lingkungan kotor

v  Banjir

v  Sungai meluap

v  Sampah menumpuk sumber penyakit

v  Air tercemari

v  Udara tercemari

v  Tanah tercemari

v  Manusia terserang penyakit

v  Manusia terkena dampak yang fatal (meninggal)

v  Udara tercemar oleh bau yang tidak sedap

Begitu banyak dampak yang ditimbulkan sampah lebih dari 20 dampak sampah yang akan kita rasakan secara langsung dan tidak langsung, ditinjau begitu banyak dampak sampah yang kita akan rasakan bila kita tidak benar-benar menjaga kebersihan lingkungan sekitar kami. Sampai-sampai kita setiap hari bias dibilang menkonsumsi dampak sampah setiap hari.

Memang setiap orang menginginkan kebersihan akan tetapi semua itu hanya harapan tidak disertai dengan tindakan yang didasari dengan kesadaran.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Seperti kita ketahui bahwa metodologi adalah cara untuk memahami dengan baik dan benar dinamika masyarakat yang akan dijadika subjek atau objek kajian. Dalam melakukan penelitian ini peneliti adalah dengan menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Pengamatan yang mana nanti peneliti akan memadukan dengan foto-foto yang peneliti ambil pada saat penelitian berlansung.

Adapun paradigma yang dipergunakan dalam menganalisis tema ini peneliti dengan menggunakan teori konflik yang dikemukam oleh Simmel.Yang mana dia menyatakan bahawa konflik adalah teori konflik modern yang berusaha menjembatani antara konflik dalam bentuk abstrak dan menunjukkan terjadinya konflik pada tingkatan yang lebih umum.Bukan hanya sekedar konflik yang dijelaskan terhadap teori Marxist yaitu pertentangan kelas.Menurut Simmel teori konflik pada waktu itu merupakan pemahaman yang dibangun dalam tradisi Marxist tentang perubahan sosial, stratifikasi dan pembahasan dalam organisasi yang berskala luas (macro). Teori konflik seperti ini tidak menjawab mengapa terjadi dan kondisi apa yang merubah keadaan pada kelompok. Pandangan Simmel memunculkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konflik.Ia menunjukkan bahwa sebuah konflik merupakan bentukan sosial yang berinteraksi dan mendesainnya dalam kerangka untuk memecahkan dualisme sebagai cara untuk mencapai kesatuan. Konflik tidak dimaksudkan untuk menghentikan keteraturan sosial yang menyebabkan berhentinya kehidupan masyarakat. Keteraturan dan konflik akan membentuk kesatuan atau kehidupan sosial bersama dan secara keseluruhan akan bersifat positif. Dalam konsep yang negatif, masyarakat atau kelompok dipahami sebagai entitas tanpa keperbedaan atau terisolir dari keberagaman. Konflik dalam teori Simmel diidentifikasikan sebagai berikut:

1.      Kompetisi diartikan sebagai bentuk konflik tak langsung dimana kemenangan harus terjadi akan tetapi bukan merupakan tujan akhir dan setiap pelaku tertuju pada tujuan tanpa menggunakan kekuatan dalam perlawanan dari partai selanjutnya (konsumen) atau untuk semuanya.

2.      Untuk melindungi dirinya sendiri dari konflik dalam kelompok yang lebih besar, konflik dilokalisir pada kelompok kecil karena dalam kelompok kecil terdapat solidaritas yang lebih organis yang bisa mentolerir konflik atau mencegah konflik yang lebih besar. Konflik dibatasi oleh norma-norma dan hukum yang menjadikannya sebuah kompetisi yang lebih murni. Kompetisi seperti ini secara tidak langsung meningkatkan manfaat bagi yang lain.

3.      Konflik dalam kelompok akan menciptakan rasa memiliki kelompok terhadap anggota, sentralisasi terhadap struktur dan menciptakan persekutuan. Kelompok akanmembangun eksistensi sosialnya terhadap musuh mereka ketika kelompok menghadapi adanya perlawanan dari musuh.

PENEMUAN

CARA PENANGGULANGAN SAMPAH

Sampah memang sampai sekarang belum teratasi secara baik masih banyak sampah-sampah yang berserakan dimana saja, tidak di kota, di desa, di kampung, di masyarakat, di pasar, di sekolahan, dimana saja pasti ada sampah. Menurut saya berdasarkan sample dan pengamatan yang telah saya lakukan terhadap kota, desa, kampong, perjalanan, sekolahan, pasar, dan masih banyak lainnya, saya mengamati sekolah saya sendiri bahwasampah teratasi dengan adanya beberapa hal yang harus dilakukan oleh manusia dalam masyarakat:

Ø  Mengadakan kegiatan atau penyuluhan tentang sampah

Ø  Menyediakan bak sampah disetiap sudut tempat dan di sepanjang perjalanan

Ø  Mengambil petugas kebersiahan

Ø  Melakukan pembersihan/pengangutan sampah setiap hari

Ø  Menghimbau setiap warga untuk

Ø   membuat bak sampah

Ø  Mengadakan penyuluhan tetntang tatacara yang benar membuang sampah

Ø  Mengadakan perlombaan kebersihan

Ø  Mendaur ulang sampah

Ø  Memanfaatkan kembali sampah yang sekira masih dapat dimanfaatkan

Ø  Setiap orang memperhitungkan berapa banyak sampah yang dibuang setiap harinya

Ø  Menydiakan tempat sampah sesuia dengan kadar sampah yang dihasilkan

Ø  Himbauan dari pihak pemerintah

Ø  Upaya keseriusan dalam menangani sampah

Ø  Membiasakan hidup bersih dalam kehidupan sehari-hari

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Berdasarkan semua pengamatan yang saya lakukan, sampah semakin merusak keindahan alam ini, untuk itu manusia harus segera mengambil langkah untuk mengatasi dampak buruknya. Dan kita harusmenyatukan tekat untuk membangun Indonesia bersih baik itu secara langsung kita aktif atau juga dengan kita menyuruh orang dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi tertentu. Untuk lebih jelasnya berikut akan saya uraikan yakni:

ü  Sampah sangat berbahaya jika tidak dikonisikan dan diolah dengan benar

ü  Sampah akan dapat teratasi jika ada kerjasama antara masyarakat dan pemerintah Perkembangan sampah dilingk ngan masyarakat semakin tehun semakin meningkatDampak yang ditimbulkan sampah semakin komplek dan semakin banyakCara yang paling ampuh dan nomor satu adalah menyadarkan diri sendiri akan pentingnya kebersihan.

Adapun tindakan yang harus segera lakukan adalah sebagai berikut:

ü  Segera menyadarkan diri akan pentingnya menjaga keindahan lingkungan

ü  Berniat menjadikan Indonesia khususnya Kota Depok sebagai negar yang bersih

ü  Tidak membuang sembarangan karena yakin bahwa sampah akan memberi dampak buruk baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang

ü  Selalu menjaga kebersihan dimanapun kita berada

adapundalam paradigm teori tentang teori konflik modern yang berusaha menjembatani antara konflik dalam bentuk abstrak dan menunjukkan terjadinya konflik pada tingkatan yang lebih umum. Bukan hanya sekedar konflik yang dijelaskan terhadap teori Marxist yaitu pertentangan kelas. Menurut Simmel teori konflik pada waktu itu merupakan pemahaman yang dibangun dalam tradisi Marxist tentang perubahan sosial, stratifikasi dan pembahasan dalam organisasi yang berskala luas (macro). Teori konflik seperti ini tidak menjawab mengapa terjadi dan kondisi apa yang merubah keadaan pada kelompok. Pandangan Simmel memunculkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konflik.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

-      George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Kencana, 2007.

-      Drs. Peter salaim, ma., yenny salim, B.Sc., kamus bahasa Indonesia kontemporer. Jakarta, modern English press, 2002.

 

IDENTITAS NARA SUMBER

-      Nama                : Ibu Muriah

Umur                : 35 Tahun

Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga

Alamat              : Kota Depok

 

-      Nama                : Bapak. Jaka  

Umur                : 30 Tahun

Pekerjaan          : Serabutan

 

-      Nama                : Ibu Nuryasih

Umur                : 28 Tahun

Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga

 

 

Syachul Hamdi PMI3 Tugas UTS

Muhammad Iman_Metode Sosiologi

Nama : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
Metode Sosiologi dibedakan menjadi dua antara lain :

A. Metode kualitatif
mengutamakan bahan atau hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka atau ukuran yang matematis meskipun kejadian itu nyata dalam masyarakat. Beberapa metode yang termasuk dalam metode kualitatif adalah sebagai berikut:
1) Metode historis, yaitu metode pengamatan yang menganalisis peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

Muhammad Iman Saputra _Marxisme


Nama : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
Rangkuman 5
MARXISME HEGELIAN
Akibat dari kritik yang baru saja didiskusikan tersebut, determinasi ekonomi mulai pudar arti pentingnya, dan sejumlah teoritisi mengembangkan ragam lain dari teori Marxian. Sekelompok Marxis kembali lagi pada akar-akar Hegelian Marxis awal pada level objektif dan material. Marxis Hegelian awal berusaha mengembalikan dialektika antara aspek subjekif dan aspek objektif kehidupan social.

Ringkasan

Nama : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
Rangkuman 4
 
Weber menghabiskan sebagian besar umumnya untuk mengkaji agama terlepas dari, atau justru mungkin karena ketidakreligiusannya, atau sebagaimana yang dia akui sendiri, karena dia "sama sekali tidak tersentuh dengan soal-soal religious" (Gerth dan Mills, 1958: 25). Salah satu perhatian utamanya adalah huungan antar berbagai agama dunia dengan perkembangan system ekonomi kapitalis yang hanya terjadi di Barat (Schluchter, 1996). Jelas bahwa sebagian besarkaryanya dilakukan pada level social-struktural dan cultural; pikiran dan tindakan calvinis, penganut agama Budha, Konfusian, Yahudi, Muslim (B. Turner, 1974; Nafassi, 1998), dan penganut agama lain diyakininya dipengaruhi oleh perubahan struktur soaial dan institusi social.
Karya Weber tentang agama dan kapitalisme mencakup penelitian-penelitian sejarah lintas budaya; di sini, sebagaimana di tempat lain, ia memakai sosiologi historis-komporatif (Kalberg, 1997). Freund meringkas kesalingterkaitan rumit dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.      Kekuatan ekonomi memengaruhi agama protestan.
2.      Kekuatan ekonomi memengaruhi agama selain protestan (misalnya, Hindu-isme, Konfusianisme, dan Taoisme).
3.      Gagasan-gagasan agama memengaruhi pikiran dan tindakan individu-khususnya, pikiran dan tindakan ekonomi.
4.      System gagasan agama meninggalkan pengaruh yang tidak sedikit di seluruh dunia.
5.      System gagasan agama (khususnya agama Protestan) melahirkan akibat yang unik di Barat dalam membantu merasionalkan sector ekonomi dan hamper setiap institusi lain. (Freund, 1968: 213).
6.      System gagasan agama didunia luar Barat menciptakan kendala structural yang begitu besar bagi rasionalisasi.
 
Weber (1921/1963) mengembakan tipologi jalan keselamatan. Asketisisme adalah jenis religiositas pertama yang cakupannya begitu luas, yang menggabungkan orientasi pada tindakan dengan komitmen orang beriman dalam dua subtype. Pertama, asketisisme dunia lain, yang meliputi serangkaian norma dan nilai yang memerintahkan para pengikut agar tidak bekerja didunia sekuler dan melawan hawa nafsu (Kalberg, 2001). Yang paling menarik perhatian Weber adalah subtype kedua, asketisisme duniawi, karena jenis ini mencakup Calvinisme. Agama semacam itu tidak menolak dunia; namun, ia secara aktif menyerukan anggotanya untuk bekerja di dunia sehingga mereka menemukan keselamatan, atau paling tidak tanda-tandanya.
Kalau kedua tipe asketisme tersebut berisi jenis-jenis tindakan dan penolakan-diri, maka mistisisme berisi kontemplasi, emosi dan pengucilan diri. Weber membagi lagi mistisisme sebagaimana yang dilakukannya terhadap asketisisme. Mistisisme yang menolak dunia meliputi pelarian total dari dunia. Mistisisme duniawi mengarah pada upaya kontemplatif untuk memahami makna dunia, namun upaya-upaya ini berailihat berada diluakhir dengan kegagalan, karena dunia dilihat berada diluar pemahaman individu.
Weber, khususnya dalam karya akhirnya, menjelaskan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas Barat. Kapitalisme, dengan organisasi tenaga kerja bebas, pasar terbuka, dan system tata buku yang rasional, hanyalah satu komponen dari system yang berkembang tersebut. Weber tidak secara langsung mengaitkan system gagasan etika Protestan dengan struktur system kapitalis dengan system gagasan lain, "semangat kapitalisme." Dengan kata lain, di dalam karyanya, kedua system gagasan tersebut berkaitan langsung.
Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal, justru sebaliknya. Dia adalah system etika, dan etos, yang memang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Berubahnya upaya menghasilkan keuntungan menjadi etoslah yang jadi hal kritis di Barat.
Semangat kapitalisme dapat dipandang sebagai system normative yang berisi sejumlah ide yang saling terkait. Sebagai contoh, tujuannya adalah mengajarkan "sikap yang mengupayakan keuntungan secara rasional dan secara sistematis" (Weber, 1904-05/1958: 64). Selain itu, ia mengajarkan untuk menjauhi kenikmatan dunia: "tahukah kamu orang yang cermat dalam berbisnis? Ia akan berdiri tegak di hadapan raja" (Weber,1904-05/1958:53). Yang juga tercangkup dalam semangat kapitalisme adalah gagasan seperti "waktu adalah uang", "bekerjalah giat", "berhematlah", "tepati waktu", "berbuatlah adil", dan "mencari uang adalah tujuan yang sah dalam dirinya". Diatas semua itu, terdapat ide bahwa orang berkewajiban untuk terus meningkatkan kesejahteraannya sendiri.
Calvinis dan semangat kappitalisme. Calvinisme adalah aliran protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu cirri Calvinisme adalah gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini. Namun gagasan predestinasi ini menjadikan orang merasa tidak yakin apakah mereka termasuk yang diselamatkan atau tidak. Untuk mengurangi ketidakpastian ini, Calvinis mengembangkan gagasan bahwa tanda dapat digunakan sebagai indicator apakah seseorang diselamatkan atau tidak. Orang diserukan untuk bekerja keras, karena jika mereka jeli, mereka dapat menyingkap tanda-tanda keselamatan, yang dapat ditemukan dalam kesuksesan ekonomi. Singkat kata, Calvinis diserukan untuk terlibatkan dalam aktivitas intens dan duniawi dan menjadi "manusia pekerja"
Calvinisme juga memiliki kaitan yang jauh lebih specific. Pertama, seperti telah disebut di atas, tanpa kenal lelah kapitalis bisa mengejar kepentingan ekonomi mereka dan merasa bahwa hal ini bukan sekedar kepentingan-diri, namun melainkan tugas etis mereka. Kedua, Calvinisme membekali kapitalis yang tengah tumbuh "dengan manusia pekerja giat, penuh semangat dan biasanya rajin yang menjalani pekerjaannya dengan tekun sebagai tujuan hidup yang dikehendaki oleh Tuhan" (Weber, 1904-05/1958:117). Ketiga, Calvinisme melegitimasi ketimpangan system stratifikasi dengan memberikan kapitalis "jaminan rasa nyaman bahwa timpanganya distribusi barang di dunia ini merupakan kemurahan special dari sang khalik" (Weber, 1904-05/1985:117).
 

Ringkasan

Nama : Muhammad Iman Saputra
Rangkuman 3
 
A.THE DIVISION OF LABOR IN SOCIETY
     The Division of labor in society (Durkhem,1893/1964) dikenal sebagai karya sosiologi klasik pertama . Didalam nya, Durkhem melacak perkembangan modern relasi individu dengan masyarakat. Dalam karya ini Durkhem terutama ingin menggunakan ilmu sosiologi barunya untuk meneliti sesuatu yang sering dilihat sebagai krisis moralitas. Pada pendahuluan edisi pertama karyanya ini, Durkhem memulai dengan ungkapan, "Buku ini adalah sebuah karya yang membahas fakta kehidupan moral berdasarkan metode ilmu positivistic".
Durkhem berpendapat bahwa pembaguan kerja yang tinggi bukan nya menandai keruntuhan moral sosial, melainkan moralitas sosial jenis baru.
Tesis The Division of Labor adalah bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sama, akan tetapi pembagiaan kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain.
Durkhem berpendapat bahwa "fungsi ekonomis yang dimainkan oleh pembagian kerja ini menjadi tidak penting dibandingkan dengan efek moralitas yang dihasilkan nya. Maka fungsi sesungguhnya dari pembagian kerja adalah untuk menciptakan solidaritas antara dua orang atau lebih.
Durkhem membagi dua tipe solidaitas mekanis menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi kerena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memilik tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis bertahan bersama justru dengan perbedaan yang ada didalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
 
B.ELEMENTARY FORMS OF RELIGIOUS LIFE
Raymond Aron (1965:45) mengatakan The Elementary Forms of Religious Life adalah karya durkhem yang paling penting, paling besar, dan paling orisinal.
Collins dan Makowsky mengatakan karya ini "barangkali sebagai satu-satunya buku terbaik pada abad ke-20.
Dalama buku ini durkhem menempatkan sosiologi agama dan teori pengetahuan dibagian depan. Sosiologi agamanya terdiri dari usaha mengidentifikasi hakikat agama yang selalu ada sepanjang zaman dengan menganalisis bentuk-bentuk agama yang paling primitive. Sementara teori pengetahuan nya berusaha menghubungkan kategori-kategori fundamental pikiran manusia dengan asal muasal sosial mereka.
Singkat kata, dia menemukan hakikat abadi agama dengan cara memisahkan yang sacral dari yang profan. Yang sacral tercipta melalui ritual-ritual yang mengubah kekuatan moral masyarakat menjadi symbol-simbol religious yang mengikat individu dalam suatu kelompok. Argument durkhem yang sangat berani adalah bahwa ikatan moral ini kemudian berubah menjadi ikatan kognitif karena kategori-kategori pemahaman, semisal klasifikasi,waktu,tempat,dan penyebab, semuanya berasal dari ritual keagamaan.
Mari kita mulai dengan teori agama Durkhem. Masyarakat( melalui individu ) menciptakan agama dengan mendefinisikan fenomena tertentu sebagai sesuatu yang sacral sementara yang lain sebagai profan. Aspek ralitas sosial yang di definisikan dan dianggap sacral inilah yaitu satu yang terpisah dari peristiwa sehari-hari yang membentuk esensi agama. Segala sesuatu yang selain nya didefinisakn dan dianggap profane-tempat umum, suatu yang bisa dipakai, aspek kehidupan duniawi. Disatu pihak, yang sacral melahirkan sikap hormat,kagum,dan bertanggung jawa. Dipihak lain, sikap-sikap terhadap fenomena-fenomena inilah yang membuatnya dari profane menjadi sacral.
Durkhem tidak percaya bahwa agama itu tidak ada sama sekali karena tak lebih dari sekadar sebuah ilusi.
Durkhem tidak percaya dengan realitas supranatural apapun yang menjadi sumber perasaan agama tersebut. Namun ada suatu kekuatan moral yang superior yang member inspirasi kepada pengikut, dan kekuatan itu adalah masyarakat, bukan tuhan. Durkhem berpendapat bahwa secara simbiolis masyarakat menubuh kedalam masyarakat itu sendiri. Agama adalah sistem symbol yang dengan nya masyarakat dapat meyadari dirinya.
Inilah satu-satunya cara yang bisa menjelaskan kenapa setiap masyarakat memiliki kepercayaan agama, akan tetapi masing-masing kepercayaan berbeda satu dengan lain.
Durkehm melihat Tuhan tak lebih dari "sekadar hasil pengejawantahan wujud tuhan dan simbolisasinya'' (Durkhem, 1960/1974:52).
Dengan kata lain, masyarakat adalah sumber dari kesakralan itu sendiri.

Muhammad Iman_Ringkasan 2

Nama : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
Rangkuman 2
        Emile Durkheim lahir di Epinal propinsi Lorraine, Perancis Timur pada tanggal 15 April 1858. Ia anak seorang rabi Yahudi. Namun Durkheim tidak mengikuti tradisi orang tuanya untuk menjadi rabi. Ia memilih menjadi Katholik, tetapi kemudian memilih untuk tidak tahu menahu tentang Katholikisme. Ia lebih menaruh perhatian pada masalah moralitas, terutama moralitas kolektif.Durkheim termasuk dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi.

Muhammad Iman_Ringkasan 1

NAMA : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
KELAS :KPI 7E
Rangkuman 1
        Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata socius (bahasa Latin: teman) dan logos (bahasa Yunani: kata, perkataan, pembicaraan). Jadi secara harfiah, sosiologi adalah membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan. Lalu, bagaimana pengertian sosiologi menurut para ahli sosiologi? langsung saja kita simak yang pertama:

Tugas Ringkasan

NAMA : Muhammad Iman Saputra 1110051000154
KELAS :KPI 7E
Rangkuman 1
        Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata socius (bahasa Latin: teman) dan logos (bahasa Yunani: kata, perkataan, pembicaraan). Jadi secara harfiah, sosiologi adalah membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan. Lalu, bagaimana pengertian sosiologi menurut para ahli sosiologi? langsung saja kita simak yang pertama:
a.       Auguste Comte (1798-1857)
        Auguste Comte (Perancis) mengemukakan istilah awal: Social Physics (fisika sosial) karena istilah ini sudah digunakan oleh ahli statistik sosial Belgia Adophe Quetelet, maka istilah diubah menjadi sociology. Auguste Comte membagi sosiologi ke dalam dua pendekatan yakni:

1) Statika Sosial: mengkaji tatanan sosial.
 
2) Sosial dinamik: Mengkaji kemajuan dan perubahan sosial.

b. Karl Marx (1818-1883)

       Karl Marx lahir di Trier, Jerman tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniwan Yahudi. Tamat dari perguruan tinggi menja di editor di sebuah surat kabar di Jerman. Pandangannya mat kritis terutama sangat anti penindasan yg hadir bersama system kapitalis yang mewarnai peradaban Eropa Barat. Beliau pindah ke Paris setelah terjadipertentangn dengan pemerintah Jerman. Ia berkolaborasi dengan Friedrich Engels menulis buku berjudul The Communist Manifesto (1848). Lalu menulis buku : Das Capital, dua bab terakhir buku ini diteruskan oleh Engels karena Marx keburu meninggal.

Menurut Marx, sejarah manusia mulai dari pertanian primitive, feudal dan industri, ditandai hubungan social yg melembagakan sifat ketergantungan untuk mengontrol atau menguasai sumber-sumber ekonomi. Mereka yg menguasai dan mengonytol sumber-sumber ekonomi adalah kelas atas, seangkan mereka yg hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak punya sama sekali adalah dari kelas bawah. Terjadi penindasan oleh kelas atas terhadap kelas bawah. Fokus perhatian Marx pada dua kelas penting : BORJUIS (kelas atas/kapitalis yg memiliki memilik alat-alat produksi seperti pabrik dan mesin) dan PROLETAR (kelas bawah/ para buruh yg bekerja pada borjuis).

Pendapat Marx terhadap fenomena social semacam itu (penindasan /eksploitasi kaum borjuis terhadap kaum proletar) hanya dapat dihentikan dengan cara mengganti atau merusak system kapitalis. Caranya dengan melakukan revolusi (prinsip konflik) kemudian menggantinya dengan system yg lebih menghargai martabat manusia. Ini tidak mudah karena para buruh harus menghilangkan False Consciousness (kesadaran palsu) dengan class consciousness kesadaran kelas. Melalui bimbingan pemimpin-pemimpin revolusioner, para buruh akan menjadi setia dan mau berkorban demi perjuangan kelas. Denagn demikian kan muncul masyarakat yg adil, sama rata sama rasa, dan terhindardari segala bentuk eksploitasi, ini yg disebutnya sebagai masyarakat komunisme modern. Disamping dipuja banyak orang, Marx juga dikecam banyak orang, terutama pendapatnya tentang "agama sebagai candu masyarakat" (the opium of the people).

c. Max Weber (1864-1920)

        Max Weber lahir di Erfurt, Jerman berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya seorang birokrat (kelak akan mewar nai pikiran beliau tentang birokrasi) yg menduduki posisi politik penting, sedangkan ibunya adalah seorang pemeluk agama Calvinisme yg sangat taat (juga mempengaruhinya melakukan studi tentang kaitan etika protestan dengan spirit kapitlisme industrial).

Beliau menempuh kuliah di Universitas berlin belajar hukum. Setelah berhasil mengambil gelar doctor ia berprofesi sebagai praktisi hukum, di samping itu ia juga bekerja sebagai dosen di Universitas Wina dan Munich. Ia banyak mendalami masalah ekonomi, sejarah, dan sosiologi. Bukunya yg terkenal berjudul " A Contribution to the histoy of Medieval Business Organizations" dan " The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism" (1904) . Dalam bukunya yg kedua ini ia mengemukakan tesisnya mengenai keterkaitan antara etika protesan dengan munculnya kapitalisme di Eropa Barat.
Pandangan Weber, kenyataan social lahir dari motivasi individu dan tindakan-tindakan social (social action). Dari pandangannya sebenarnya Weber lazim digolongkan "nominalis" yg lebih percaya bahwa hanya individu-individu sajalah yg riil secara obyektif, dan masyarakat adalah satu nama yg menunjukan pada sekumpulan individu yg menjalin hubungan. Pandangan beliau tentang tindakan sosila inilah yg kemudian menjadi acuan dikembangkannya teori sosiologi yg membahas interaksi social.

d. Emile Durkheim (1858-1917)
         Lahir di Epinal, Perancis dan berasal dari keluarga yg mewarisi tradisi sebagai pendeta Yahudi. Ia awalnya sebenarnya bersekolah untuk menjadi pendeta.

Durkheim merupakan ilmuwan yg sangat produktif. Salah satu karyanya yg berjudul " The division of Labor in Society" (1968) membahas mengenai gejala yg sedang melanda masyarakat : pembagian kerja. Ia mengemukakan bahwa di bidang perekonomian seperti industri modern terjadi penggunaan mesin serta konsentrasi modal dan tenaga kerja yg mengakibatkan pembagian kerja ke dalam bentuk spesialisasi dan pemisahan okupasi yg semakin rinci. Pembagian tersebut dijumapai pula di bidang perniagaan dan pertanian. Lalu melebar pula pada bidang-bdang kehidupan yg lainnya : hokum, politik, kesenian, dan bahkan keluarga. Tujuan kajian durkheim ialah untuk memahami fungsi pembagian kerja tersebut, serta untuk mengetahui factor penyebabnya.

Fakhru Aljumrotul Ula_Sosiologi Perkotaan

KEPADATAN PENDUDUK DI DAERAH INDUSTRI JATAKE KOTA TANGERANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.  1.      Latar Belakang   
             
 Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan timbulnya masalah permukiman. Masalah permukiman lebih terasa di daerah perkotaan dari pada di daerah perdesaan. Masalah perumukiman perkotaan di Indonesia pada saat ini di antaranya adalah tempat tinggal serta lingkungan yang pada umumnya jauh dari syarat-syarat kehidupan keluarga yang layak. Permasalahan permukiman perkotaan yang terjadi terdapat pada kota-kota besar yang dapat menarik tingginya jumlah penduduk.

Rabu, 30 Oktober 2013

Muhammad firdaos_PMI 3_Tugas UTS

Tema : Pedagang Gerobak atau Pedagang Kaki Lima
Judul Penelitian : Dampak dari adanya Pedagang Kaki Lima
Peneliti : Muhammad Firdaos (1112054000024)
I.     Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah kesempatan kerja dengan penduduk angkatan kerja. Seperti diketahui, bahwa lapangan pekerjaan perkotaan sebagian besar bergerak di sektor formal, yaitu bidang non agraris yang biasanya membutuhkan tenaga kerja dengan bekal pendidikan yang cukup tinggi.

Cari Blog Ini