Kamis, 31 Oktober 2013

dwiki handika_pmi 3_tugas uts

Nilai ekonomi dan kehidupan dipemukiman pemulung  di daerah pondok labu Jakarata selatan
Pendahuluan
 
                  Pemulung dipandang sebagai strata kasta paling bawah di dalam masyarakat kita. Mungkin karena pekerjaan mereka yang bersinggungan langsung dengan sampah. Bahwasanya hanya beberapa orang saja dari masyarakat kita yang menyadari sesungguhnya betapa besar peran pemulung dalam pengelolaan sampah sehingga dapat dikatakan pemulung adalah produksi kecil dalam pengolahan sampah.
            Apa yang dilakukan olehnya merupakan salah satu bentuk nyata dalam pengelolaan lingkungan hidup, karena sampah-sampah yang diambil oleh pemulung adalah rata-rata merupakan sampah non organik seperti botol/gelas plastik air mineral, kardus-kardus bekas, besi rongsokan, kaca dsb. Dan ternyata kesemuanya itu masih memiliki nilai jual.Yang disisakan oleh pemulung adalah sampah-sampah organik yang bagian pengelolaannya adalah tugas dari Pemerintah Daerah dalam hal iniadalah tugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota.
           Saya memilih tema ini karena saya merasa  pemulung selama ini dianggap kumuh, kotor dan sampah masyarakat padahal peran pemulung saya besar sekali dalam kebersihan kota dan memiliki nilai ekonomi yang bagus. Oleh sebab itu saya  mengangkat tema ini agar dapat menepis opini masyarakat dan kami juga  ingin lebih mengetahui lebih dalam mengenai pemukiman pemulung dan kehidupan sebagai pemulung. Kami melakukan observasi di pemukiman pemulung di daerah pondok labu Jakarta selatan. Alasan kami memilih di daerah tersebut karena pemukiman pemulung itu berada di antara perumahan penduduk yang serba mewah. Dalam lapak pemukiman pemulung tersebut, hanya terdiri dari 6 kepala keluarga yang diantaranya, Bu Yastini. Saat diwawancarai, Beliau sangat ramah dan menjawab dengan baik atas semua pertanyaan kami. Di sekitar area pemukiman tersebut kami hanya melihat 1 orang anak kecil dalam gendongan ibunya. Sunggguh pemandangan yang berbeda dari pemukiman pemulung lainnya yang biasanya kebanyakan anak-anak kecil di dalamnya. Bu Yastini memberi keterangan bahwa di sana memang hanya ada 1 orang anak kecil. Bu Yastini dan beberapa keluarga lainnya memang sudah bertekad untuk tidak membawa anak-anaknya ke kota namun tetap menyekolahkan di kampungnya. Mereka khawatir, jika anak-anak mereka dibawa ke kota mereka akan malas menuntut ilmu dan memilih untuk bekerja.
            Sudah saatnya pemerintah memberikan konstribusi yang baik bagi pemulung agar bisa dipandang positif untuk masyarakat. Tempatkan mereka pada posisi yang baik. Berikanlah modal untuk bisa mengembangkan usaha ataupun membuat lapangan pekerjaan baru.Berikan pendidikan yang layak agar mereka bisa menjadi anak bangsa yang berprestasi. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pembahasan
 
1.      Latar belakang pemulung
 
Pemulung adalah seseorang yang memiliki pekerjaan sebagai pencari barang yang sudah tidak layak pakai, maka orang bekerja sebagai pemulung adalah orang yang bekerja sebagai pengais samapah, dimana antara pemulung dan sampah sebagai dua sisi mata uang dimana ada sampah pasti ada pemulung dan dimana ada pemulung disitu ada sampah.
Dalam menjalani pekerjaannya pemulung dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemulung yang menetap dan pemulung yang tidak menetap. Pemulung yang menetap adalah pemulung yang bermukimdi gubuk-gubuk kardus, tripleks, terpal dan lainnya disekitar temapat pembuangan akhir sampah. Sedangkan pemulung yang menetap adalah pemulung yang mencari sampah dari gang ke gang, jalanan, tong samapah dan pinggiran sungai. Tidak semua dari mereka yang berprofesi sebagai pemulung seratus persen menggantungkan penghhasilannya dari memulung tetapi ada juga yang yang hanya menjadikan memulung sebagai pekerjaan sampingan atau mencari uang tambahan.
Berikut ini adalah beberapa alasan mengenai seseorang menggeluti profesi sebagai pemulung dari hasil wawancara dengan pemulung di daerah pondok labu Jakarta selatan:
1.      Factor ekonomi.
2.      Sulitnya mencari pekerjaan.
3.      Tingkat pendidikan yang rendah dan tidak memiliki keterampilan.
4.      Tidak memiliki modal untuk membuat usaha.
Pendidikan merupakan dasar dari program pengembangan produktifitas kerja, tingkat pendidikan yang rendah membuat pola pikir relatif sempit, sebagian besar pemulung hanya tamat pendidikan SD kemudian didukung oleh factor ekonomi keluarga yang tidak mampu. Factor lain adalah modal yang terbatas sehingga sarana yang digunakan oleh pemulung sangatlah sederhana yaitu karung plastic dan gancu untuk mengungkit sampah atau barang beka
 
 
 
 
2.      Pemukiman pemulung
 
Kami melakukan observasi pada hari Jumat tanggal 22 oktober 2013 di kawasan pondok labu Jakarta selatan .Di sana kami bertemu dengan Bu Yastini yang di daerah itu dia berperan sebagai koordinator para pemulung bawahannya, dalam wawancara tersebut kami menanyakan banyak hal yang diantaranya adalah tentang kehidupan mereka sehari-hari.
Didaerah tersebut terdapat 5 lapak dan tiap-tiap lapak mempunyai Bos, Bos tersebut orang yang memberi modal kepada anak buahnya yang berupa gerobak, tempat tinggal, dan modal itu semua dibagikan untuk satu orang pemulung.
Lingkungan tempat tinggal mereka kalau di nilai dari ukuran kesehatan memang sangat lah kurang barang tumpukan sampah yang berserakan hanya di tumpukan begitu saja. Tempat yang sempit untuk bertempat tinggal orang banyak, tetapi mereka tetap bertahan hidup disana.
 
3.      Nilai ekonomi pemulung
            Pemulung merupakan status sosial yang paling rendah.Ia bekerja untuk mengumpulkan sampah seperti kaleng bekas, botol minuman bekas yang dikumpulkan dalam karung, kemudian diserahkan kepada bos kecil. Dalam ekonomi, pemulung dapat disetarakan dengan produsen.
            Bos kecil merupakan orang yang menampung sampah-sampah dari para pemulung..Sampah-sampah tersebut ditimbang untuk kemudian dihitung berapa berat sampah tersebut.Ia memiliki tempat penampungan sampah. Rata-rata dari mereka dapat menampung hingga 2-5 ton per hari.Dalam ekonomi, bos kecil apat disetarakan dengan peran pedagang pengumpul (collector).
            Bos besar memiliki tempat penampungan yang lebih besar dari bos kecil.Ia adalah penadah dari hasil kumpulan sampah bos kecil. Dalam ekonomi, bos besar dapat disetarakan sebagai lembaga pemasaran atau agen.
             Dari hasil wawancara dengan pemulung di daerah pondok labu, Penghasilan bisa mencapai Rp 50.000,-per harinya. Sedangkan bos kecil, dapat menghasilkan sekitar Rp 200.000,- dan bos besar menghasilkan Rp 400.000,- per hari.
            Meskipun pemulung terlihat kumuh, tetapi secara finansial, mereka mampu menghidupi keluarganya. Dalam sebulan, pemulung dapat menghasilkan sekitar Rp 700.000,-.
Metedeologi
 
A.    Metode dan jenis pendekatan
 
Metode adalah kegiatan yang digunakan dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Metode yang terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah ialah yang metode yang sistematis dan sesuai dengan kebutuhan masalahnya. Metode yang saya gunakan dalam peneletian ini adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dengan metode kualitatif membuat saya lebih mudah dalam melakukan penelitian karena proses pengumpulan data yang saya lakukan dengan melakukan observasi, wawancara dan berpartisipasi langsung dengan objek yang saya teliti
Pendekatan yang saya lakukan menggunakan metode observasi yang mana metode ini harus terjun langsung ketempat yang kita teliti untuk melakukan wawancara dengan objek yang akan kita amati agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan faktannya dan pada kali ini saya akan meniliti tentang Nilai ekonomi dan kehidupan dipemukiman pemulug di daerah pondok labu Jakarta selatan.
B.     Subjek dan objek penelitian
Istilah subjek di sini yaitu peneliti menujuk kepda individu atau kelompok sasaran yang akan di teliti,sedangkan objek penelitian adalah masalah yang di angkat untuk di teliti,dan dalam masalah kali ada mengenai kehiduan sosial anak jalan, subjek yang akan di teliti yaitu tentang nilai ekonomi dan kehidupan di pemukiman pemulung pondok labu Jakarta selatan.
C.    Lokasi penelitian
1.      Di daerah Pondok Labu Jakarta Selatan
2.      Di jalan kampung bali pondok labu Jakarta selatan
D.    waktu penelitian
1.      Proses observasi di daerah pondok labu Jakarta selatan dilakukan mulai tanggal 21 sampai 22 oktober  2013.
2.      Proses wawancara dilakukan tanggal 23 sampai 24 oktober 2013.
 
E.     Subjek / Objek penelitian
Profil singkat pemulung  yang saya amati,ia berasal dari kota indramayu,bu yastini, bernama bu yastini  berusia 38 tahun yang mana,dan ia beraktifitas sebagai pemulung dari jam 8.00 sampai dengan jam15.00. penghasilan bu yastini dalam sehari sebesar 50.000. alsan ibu yastini berprofesi sebagai pemulung adalah karena himpitan ekonomi. Bub yastini pernah bersekolah di SD itu pun tidak sampai lulus karena keluraga bu yastini mempunyai ekonomi yang sangat rendah. Dia meninggalkan 2 orang anak di kampung halamannya agar mau menuntut ilmu. Dan tidak ada niaatan bu yastini untuk membawa anaknya kekota karena takut anaknya malas belajar karena lebih memilih bekerja.
F.     Analisis data
Analisis data Dalam penelitian kali ini saya memfokuskan pada kehidupan sosial bu yastini,yang mana kehidupan sosial kurang  baik,oleh karena itu peneliti terus menggali lebih dalam tentang kehidupan sosialnya,dengan menggunakan teori Fungsionalisme struktural yang mana dengan  menggunakan teori ini peneliti dapat mendapatkan tentang kehidupan sosialnya secara jelas, mungkin sedikit sekali pemulung  yang seperti bu yastini ini yang mau memperhatikan pendidikan anaknya, kalau bukan karena himpitan ekonomi bu yastini tidak melakukan pekerjaan ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
KESIMPULAN
Peran pemulung sangat bagus sekali dalam pengolahan lingkungan hidup kita sebagai manusia jangan melihat pekerjaan seorang pemulung yang mengais sampah tetapi dampak manfaat yang ditumbulkan oleh pemulung dalam kebersihan di kota ini. Walaupun mereka berpendidikan rendah mereka mengerti manfaat sampah. Bahkan mereka bisa menghidupi keluarganya dengan rezeki yang halal walaupun pekerjaan mereka dipandang sebagai sampah masarakat. Dan perlu di ingat pemulung lebih mulia dari pada koruptor.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Data hasil wawancara singkat
Nama   : yastini 
Umur   : 38
Asal     : indramayu 
Waktu : 16.00 wib
Tempat : dirumah bu yastini
 
D: Sejak kapan ibu menjadi pemulung?
Y: 8 tahun yang lalu de
D: Ibu berasal dari daerah mana?
Y: indramayu
D: Ibu tinggal disini bersama siapa?
Y: suami saya, yang sama sama sebagai pemulung
D: apakah ibu pernah bersekolah?
Y: pernah ibu hanya di SD itu juga belum lulus
D: kenapa ibu lebih memilih bekerja sebagai pemulung?
Y: karena himpitan ekonomi dan biaya kehidupan di kota yang mahal
D: Di ajak siapa ibu menjadi pemulung disini?
Y: teman seperjuangan hhehe,
D: mulai dari jam berapa dan sampai jam berapa ibu beraktifitas sebagai pemulung?
Y: mulai dari jam 8.00 sd 15.00
D: berapa pendapatan ibu dalam sehari?
Y: 50.000, itu juga gak nentu de
D: apakah ibu betah tinggal di tempat kumuh seperti ini?
Y: ya, betah betahin de. Mau gmana lagi yang penting ka nada tempat tinggal
D: kenapa ibu tidak memilih kerja yang lain saja selain pemulung?
Y: tidak de, karena ibu tidak memiliki kemampuan selain menjadi pemulung
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Daftar pustaka
1.      Pemulung  http://id.wikipedia.org/wiki/Pemulung
2.      Simmamora henry, manajemen sumber daya manusia (Yogyakarta bagian penerbitan
YKPN 2004)
3.      sunarto,kamanto, 2004, pengantar sosiologi , jakarta:  lembaga penerbit fakultas ekonomi universitas indonesia
 

ImamRamadhanPmi3_TugasUts_SosiologiPerkotaan


Judul Penelitian : Fenomena Balapan Liar di Kota

Peneliti  : Imam Ramadhan

Jurusan : Pengembangan Masyarakat Islam

NIM  :  1112054000009

 

 

1.      Pendahuluan

Fenomena balapan liar semakin mewabah di perkotaan. Mulai dari balap mobil untuk kalangan mampu, hingga adu cepat motor bagi mereka di kalangan menengah bawah. Balap liar ini cukup meresahkan apalagi sampai timbul korban jiwa.

Pada jaman sekarang  di era globalisasi banyak yang berubah pergaulan remaja adalah contoh kecil dari sekian banyak akibat dari globalisasi, pergaulan remaja sudah tidak ada batasnya, banyak remaja yang sangat merugikan bagi dirinya dan orang lain .

Menanggapi tentang semakin maraknya Balapan Liar di kota akhir akhir ini yang menjadi miris kita sebagai masyarakat yang mendengarnya, anak-anak muda yang seharusnya mengisi waktu luang dengan positif untuk mengisi waktu luang mereka, apalagi balapan yang mereka lakukan di tengah malam yang seharusnya mereka mempersiapkan diri mereka untuk esok harinya, yang terjadi keesokan harinya mereka menjadi malas untuk berangkat kesekolah karena mengantuk .

Kemudian yang terjadi orang tua harus berurusan dengan pihak sekolah, karena anak-anak yang sering  bolos sekolah, hal ini akan berdampak tidak baik pada hubungan anak dengan orang tua , jika hal tersebut terus berlanjut maka sang anak akan mencari pelarian yang lainnya, misalnya narkoba yang membuat anak semakin jauh menyimpang dari kehidupan yang lebih baik bagi masa depannya, Kenakalan remaja itu bisa didefinisikan sebagai perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tak dapat diterima sosial dalam pelanggaran status hingga tindak kriminal .

Alasan saya memilih judul Fenomena Balapan Liar di kota karena faktor lingkungan dimana tempat saya tinggal menjamur bengkel beraroma balapan liar jadi saya tertarik untuk menelitinya bukan karena beredarnya bengkel saja, tetapi banyak anak muda yang menjadi ikut-ikutan memodifikasi motor nya untuk menjadi lebih cepat untuk bisa ikut balapan di jalanan yang sudah menjadi favorit mereka .

            Uraian Latar belakang masalah diatas memaparkan tentang adanya perilaku menyimpang dari sebagian masyarakat yang menimbulkan masalah baru dalam kehidupan sosial berikut saya memaparkan pertanyaan kepada objek penelitian saya .

A.    Apa yang dimaksud dengan Balapan Liar?

B.      Mengapa terjadi Balapan Liar?

C.     Mengapa sulit sekali menghilangkan kebiasaan untuk tidak balapan liar?

Dalam penelitian ini, penulis hanya mengadakan penelitian mengenai pengaruh kegiatan pembalap liar terhadap lingkungan masyarakat dan kepada dampak bagi sang pelaku .

2.         Metodelogi  penelitian

A.      Objek atau Subjek studi

                  Yang menjadi kajian objek dalam penelitian saya sebagai penulis adalah kegiatan balap liar yang makin menjamur didaerah Bintaro yang merupakan salah satu kegiatan Negative, yang merupakan banyak mengahabiskan waktu dan merupakan kegiatan yang bahaya bagi diri sendiri dan orang lain, selain itu juga dari kegiatan tersebut menimbulkan kebisingan didaerah sekitar.  

                  Penulis meneliti Teman yang menjadi subjek penilitian yang mengikuti kegiatan balap liar ini dia mengatakan bahwa kegiatan ini sudah menjadi rutinitas kegiatan yang menjadi hobi dan sulit akan dihilangkan, selain dari sekedar balapan saja mereka juga melakukan perjudian dengan adu cepat kendaraan mereka.

 

B.      Waktu dan Tempat Studi

                  Penulis melakukan penelitian ini di daerah Bintaro dan Sekitarnya karena di Bintaro merebak pembalap liar yang sering melakukan aktivitas balap liar ini pada malam hari, jadi penulis melakukan penelitian ini pada malam hari agar dapat mengikuti kegiatan balap liar ini walaupun hanya sebagai penonton penulis merasa ngeri karena kegiatan ini bisa fatal bagi diri sendiri dan orang lain, dalam penilitian ini penulis melakukan pengamatan balap liar ini hampir setiap malam pada bulan Oktober 2013 ini dan peneliti mendatangi langsung bengkel yang memodifikasi mesin motor hingga menjadi racing atau motor korekan, begitu biasanya sebutan motor-motor balap modifikasi ini. Beberapa komponen mesin dimodifikasi atau bahkan diganti dengan komponen lain. Dan bukan sembarangan suku cadang yang dipasang. Spare part dengan harga yang melangit juga menjadi pilihan untuk menyulap kondisi motor menjadi yang paling disegani. tepatnya di daerah Prigi Lama, Pondok Aren, Tangerang Selatan .

 

Di atas adalah pembuatan motor standar ke motor racing dalam gambar bisa dilihat ada mekanik yang sedang memodifikasi motor agar lebih kencang, dalam kegiatan ini biasanya pemilik motor mempunyai modal besar untuk memodifikasi motornya .

 

 

C.     Tata cara Penggalian data

Di sini saya melakukan pengamatan terhadap pembalap liar dengan mewawancarai mekanik dari bengkel racing bernama Dian, ia mengatakan semenjak ramainya balapan liar dibintaro di bengkelnya tak pernah sepi konsumen untuk mengorek mesinnya, yang datang semuanya remaja dalam memodifikasi motor standar hingga ke motor korekan memang tidak bisa langsung jadi semuanya ada tahapan-tahapan yang dilalui dalam komponen mesin . dalam wawancara tersebut saya melontarkan beberapa pertanyaan ringan kepada joki "Ya kalo ada polisi sih kabur aja, tapi kalo polisinya sudah pergi ya kita balik lagi buat balapan," ujar salah seorang pembalap liar yang sedang beraksi pada minggu  pukul 02.00 Wib dini hari,

Pengamatan melalui salah satu alat elektronik yaitu kamera, saya sebagai penulis memotret momen terjadinya balap liar

D.    Paradigma

Dalam pebalap liar para pelaku mendapat pengaruh dari teman yang sering melakukan kegiatan tersebut karena faktor itu lah para pelaku menjadi gemar dalam kegiatan balap liar berikut faktor-faktornya

 1.  kurangnya kasih sayang orang tua.

2.  kurangnya pengawasan dari orang tua.

3.  pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.

4. peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.

5.  tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.

6.  dasar-dasar agama yang kurang.

7.  tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya – kebebasan yang berlebihan

Konflik dalam balapan liar Meskipun namanya balapan liar, alias tak resmi, mereka tidak asal bertemu di jalanan. Dibutuhkan pihak ketiga yang  disebut calo atau perantara. Jika spesifikasi mesin dan perangkat motor sudah dimodifikasi dan layak untuk diadu, sang calo mengajak motor dari bengkel lain untuk tarung di lintasan balap liar.

Balap liar seperti makanan tak bergaram jika tak melibatkan taruhan. Besarnya taruhan tidak main-main. Untuk motor yang dianggap sudah memiliki reputasi, harga taruhannya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Begitu motor-motor yang beradu cepat menyentuh garis finish, penonton pun bergemuruh. Senyum kemenangan bukan hanya didapat dari pembalap tapi juga penonton. Jutaan rupiah pun didapat dari taruhan pinggiran, sebutan untuk taruhan antar penonton balapan liar.

Jumlah uang tak sedikit yang dipertaruhkan menyebabkan sering terjadi perselisihan pendapat tentang siapa yang menang dan terkadang berujung ricuh. Selain persoalan judi yang melanggar hukum kebut-kebutan tak resmi ini juga ikut menyumbang angka kecelakaan.

 

 

E.     Mekanisme Analisis data

Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keadaan tertentu secara obyektif. Data yang didapatkan digambarkan dengan kata-kata atau kalimat untuk memperoleh kesimpulan.

Dalam penelitian ini peneliti mengambil populasi sebagai daerah penlitian yaitu para pemuda yang suka mengadu kecepatan kendaraannya dengan Balapan Liar yang ada di kota Tangerang Selatan,  tepatnya didaerah Bintaro.

Sampel Pendapat tentang Balapan Liar dapat dikomentari oleh salah satu teman saya yang bernama Kentung, dan pendapat Kentung tentang Balapan Liar adalah Dalam balapan liar itu sebenarnya berbahaya buat saya yang masih muda belum juga kalau kita tertangkap oleh polisi pasti kita akan ditilang dan didenda oleh polisi, tetapi mau diapakan lagi karena balapan liar sudah menjadi hobi .

Saya mengolah data penelitian ini berdasarkan pengalaman saya, bertanya pada beberapa orang, dan pendapat teman-teman saya.Penelitian ini merupakan penelitian bersiklus pemberitahuan tehadap remaja Adakah hubungan balapan liar terhadap pergaulan remaja, yang pasti jelas ada karena balapan liar dapat menyebabkan para remaja jarang pulang dan terpengaruh oleh teman-teman mereka yang sering keluar malam dan malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, di samping itu para orang tua harus jelih untuk memberikan uang jajan lebih kepada para anak-anaknya, dan orang tua harus konfirmasi pada pihak sekolah untuk masalah tentang bayar-membayar tarikan iuran sekolah, karena dikwatirkan berbohong untuk meminta uang iuran sekolah dan ternyata uangnya hanya dibuat untuk taruhan balapan liar.Sejumlah ruas jalan di Bintaro telah menjadi arena balapan sepeda motor liar terutama pada malam Sabtu dan Minggu, namun aparat kepolisian kesulitan untuk mengatasi karena sering "kucing-kucingan"."Setiap kali polisi datang mereka langsung bubar dan begitu polisi pergi, balapan liar akan dilanjutkan," kata salah satu Satlantas Polsek Pondok Aren pernyataan itu disampaikannya menanggapi keluhan sejumlah warga pengguna lalu lintas di Bintaro yang merasa terganggu karena harus mengambil jalan lain .

 

 

Kesimpulan


            Dari Hasil penelitian tersebut saya bisa menyimpulkan jika Balapan Liar itu bahaya untuk anak seusia saya, dan saya sendiri sering diperingati oleh orang tua saya sendiri karena orang tua saya khawatir bila saya tertangkap polisi dan terjadi kecelakaan. Dalam balapan liar ini merupakan menghasilkan kegiatan yang negatif dari perkotaan akibat kurang terbinanya anak oleh pendidikan. Balapan Liar adalah suatu kegiatan mengadu motor dengan kecepatan tinggi dengan serta taruhan yang lumayan besar jumlahnya.
Balapan Liar terjadi karena beberapa faktor yang mudah kita mengerti diantaranya yaitu hanya mencari kesenangan dan mencari uang, tetapi jika mencari uang dengan cara Balapan Liar tentunya tidak halal karena taruhan sama seperti kita berjudi.
Karena Balapan liar sudah masuk dalam kategori hobi masyarakat dan sudah termasuk pekerjaan banyak orang karena sebagian orang di indonesia bekerja sebagai Joki Balap Liar, dan juga banyak dari bengkel-bengkel motor memanfaatkan kegiatan ini untuk mencari uang dengan membetulkan dan mengerjakan mesin sepeda motor para joki agar sepeda motor mereka menjadi lebih cepat. .

Refrensi

http://metrotangsel.com/2013/03/balap-liar-resahkan-warga-bintaro

Sudarsono.kenakalan remaja.Rineka Cipta.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Versi Offline

 

 

meidiansaputra_pmi3_tugasutssosiologiperkotaan

Kehidupan Sosial Anak jalanan Daerah Pangkalan Jati Jakarta Timur
  (tugas ini di buat untuk memenuhi tugas uts mata kuliah sosiologi perkotaan)
Oleh: Meidiansa putra

Cari Blog Ini