Sabtu, 15 Maret 2014

Fauzia Firdawati_Tugas 2_Teori Max Weber

Fauzia Firdawati

Kesejahteraan Sosial / 2A

1113054100006

 

Teori Max Weber

1.     Teori Kapitalisme

Max Weber hidup tatkala Eropa Barat sedang menjurus ke arah pertumbuhan kapitalisme modern. Situasi demikian mendorong Weber untuk mencari sebab – sebab hubungan antara tingkah laku agama dan ekonomi, terutama pada masyarakat Eropa Barat yang mayorias beragama protestan. Titik perhatian Weber sesungguhnya sudah menjadi perhatian Karl Marx, di mana pertumbuhan kapitalisme modern pada saat itu telah menimbulkan kegoncangan – kegoncangan hebat di lapangan kehidupan sosial masyarakat Eropa Barat. Weber tidak berselisih dengan pendapat Marx dalam hal ini, terutama tentang ciri – ciri yang menandai tumbuhnya kapitalisme modern itu.

Adapun karakteristik Spirit Kapitalisme modern menurut Weber adalah sebagai berikut.

1.      Adanya usaha – usaha ekonomi yang diorganisir dan dikelola secara rasional di atas landasan prinsip – prinsip ilmu pengetahuan dan berkembangnya pemilikan/kekayaan pribadi.

2.      Berkembangnya produksi untuk pasar.

3.      Produksi untuk massa dan melalui massa.

4.      Produksi untuk uang.

5.      Adanya anthusiasme, etos dan efisiensi maksimal yang menuntut pengabdian manusia kepada panggilan kerja.

 

Masyarakat kapitalis memandang manusia terutama sebagai pekerja dan tidak peduli apapun yang menjadi pekerjaan mereka. Inilah yang disebut dengan vocational ethics yang merupakan tingkah laku yang menonjol dari Spirit Kapitalisme modern. Mereka yang miskin vocational ethicsnya akan runtuh, dan mereka memiliki vocational ethics akan dengan baik meningkatkan prestasi hidupnya.

Keseluruhan elemen di atas merupakan tipe ideal dari karakteristik kapitalisme modern. Selanjutnya elemen – elemen tersebut masuk dalam masyarakat kapitalis dalam berbagai bentuk dan kondisi sebagai berikut.

1.      Rational capital accounting and bussines management (perhitungan modal dan pengelolaan usaha secara rasional).

2.      Appropriation of all means of production (pengerahan segala sarana produksi secara tepat guna).

3.      Rational technique of production (penggunaan teknik – teknik produksi rasional).

4.      Rational law (hukum rasional).

5.      Free labor (adanya tenaga kerja yang bebas).

6.      Commerzialization and marketing of the products of labor(komersialisasi serta pemasaran hasil – hasil produksi dan tenaga kerja).

 

2.     Teori Verstehen

Kata pemahaman dalam bahasa Jerman adalah  verstehen. Pemakaian istilah ini secara khusus oleh Weber dalam penelitian historis adalah sumbangan yang paling banyak dikenal dan paling controversial, terhadap metodologi sosiologi kontemporer. Ketika kita mengerti apa yang dimaksud Weber dengan kata verstehen, kita pun menggarisbawahi beberapa masalah dalam menafsirkan maksud Weber, muncul dari masalah umum dalam pemikiran metodologis Weber.

 

Max Weber juga memasukkan problem pemahaman dalam pendekatan sosiologisnya, yang sebagaimana cenderung ia tekankan adalah salah satu tipe sosiologis dari sekian kemungkinan lain. Karena itulah ia menyebutkan perspektifnya sebagai sosiologi interpretatif atau pemahaman. Menjadi ciri khas rasional dan positivisnya bahwa ia mentransformasikan konsep tentang pemahaman. Meski begitu, baginya pemahaman tetap merupakan sebuah pendekatan unik terhadap moral dan ilmu-ilmu budaya, yang lebih berurusan dengan manusia ketimbang dengan binatang lainnya atau kehidupan non hayati. Manusia bisa memahami atau berusaha memahami niatnya sendiri melalui instropeksi, dan ia bisa menginterpretasikan perbuatan orang lain sehubungan dengan niatan yang mereka akui atau diduga mereka punyai.

 

Teori Verstehen masih sangat relevan untuk digunakan dalam penelitian sosiologi hingga saat ini. Perubahan sosial yang dinamis dalam perkembangan masyarakat harus selalu diperbaharui dengan pengamatan dan pemahaman. Satu titik simpul yang membuat perubahan bukan hanya dari sudut pandang dimana kebanyakan orang melihatnya. Tetapi dari sudut pandang berbeda yang dapat kita kaji melalui penjelasan fakta tanpa mempersoalkan baik buruknya fakta yang terjadi (non-etis).

3.     Tindakan Sosial

Menurut Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan - tindakan sosial dan menguraikannya dengan menerangkan sebab – sebab tindakan tersebut. Dengan demikian, yang menjadi inti dari sosiologi adalah arti yang nyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan – alasan subyektif. Itulah yang kemudian menjadi pokok penyelidikan Max Weber dan disebutnya sebagai Verstehende Sociologie. Dalam hal ini verstehende adalah suatu metode pendekatan yang berusaha mengerti makna mendasari dan mengitari peristiwa sosial dan historis. Pendekatan ini bertolak pada gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para actor yang terlbat di dalamnya.

 

Weber membagi tindakan sosial menjadi empat, yakni sebagai berikut :

 

1.      Zweck rational, yaitu tindakan sosial yang dilandasi pertimbangan – pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya (juga dalam menanggapi orang lain di sekitarnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup). Dengan kata lain, zweck rational adalah tindakan  sosial yang ditujukan untuk mencapai semaksimal mungkin dengan menggunakan dana serta daya seminimal.

2.      Wert rational, yaitu tindakan sosial yang rasional, tetapi dilandaskan pada nilai – nilai absolut tertentu. Nilai yang dijadikan landasan ini bisa nilai etis, estetis, keagamaan, atau nilai – nilai lain. Dengan demikian, manusia selalu menyandarkan tindakannya yang rasional pada keyakinan terhadap suatu nilai tertentu.

3.      Affectual, yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosional. Seperti ungkapan rasa cinta, ledakan kemarahan, dan rasa kasihan.

4.      Tradisional, yaitu tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada tradisi atau masa lampau. Dalam hal ini, yang dimaksud tradisi adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di masa lampau. Mekanisme tindakan ini berlandaskan atas hukum – hukum normatif yang telah ditentukan oleh masyarakat.

 

Meskipun Weber membedakan empat bentuk tindakan, ia sepenuhnya sadar bahwa tindakan tertentu biasanya terdiri dari kombinasi dari keempat tipe tindakan tersebut. Weber juga berargumen bahwa sosiolog harus lebih memahami tindakan yang lebih memiliki variasi rasional daripada memahami tindakan yang didominasi oleh perasaan atau tradisi.

 

 

4.     Kharisma

Teori saat ini mengenai kepemimpinan karismatik amatlah berpengaruh oleh ide-ide dari ahli social awal bernama Max Weber. Karisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung” atau “pemberian tuhan”. Seperti kemampuan melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan. Menurut Weber, karisma terjadi saat terdapat sebuah krisis social, seorang pemimpin muncul dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi untuk krisis itu, pemimpin menarik pengikut yang percaya pada visi itu, mereka mengalami beberapa keberhasilan yang membuat visi itu dapat terlihat dapat dicapai, dan para pengikut dapat mempercayai bahwa pemimpin itu sebagai orang yang luar biasa. 

 

Konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma (charisma) menurut Weber (1947) lebih ditekankan kepada kemampuan pemimpin yang memiliki kekuatan luarbiasa dan mistis. Menurutnya, ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu :

1.      Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luar biasa,

2.      Adanya krisis sosial

3.      Adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut

4.      Adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural

5.      Adanya bukti yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.

 

Para pemimpin akan lebih mungkin dipandang sebagai karismatik jika mereka membuat pengorbanan diri, mengambil resiko pribadi, dan mendatangkan biaya tinggi untuk mencapai visi yang mereka dukung. Kepercayaan terlihat menjadi komponenpenting dari karismatik, dan pengikut lebih mempercayai pemimpin yang kelihatan tidak terlalu termotivasi oleh kepentingan pribadi daripada oleh perhatian terhadap pengikut. Yang paling mengesankan adalah seorang pemimpin yang benar-benar mengambil resiko kerugian pribadi yang cukup besar dalam hal status, uang posisi kepemimpinan atau keanggotaan dalam organisasi. 

 

Dalam hal selektivitas yang dimiliki komunikan ini diketahui bahwa seseorang akan memilih pesan tergantung pada dua faktor:

a)      Expectation of reward – mengharapkan ganjaran.

b)      Effort to be required – menghendaki suatu usaha.

Dengan kata lain besar kecilnya kedua faktor tersebut dapat menentukan pemilihan komunikan terhadap pesan tertentu.  

 

 

 

Sumber        :

·        http://lebak-kauman.blogspot.com/2013/02/teori-kepemimpinan-karismatik.html

·        http://ninnaastuti.blogspot.com/2012/01/verstehen-max-weber.html

·        http://ratnaputri92.blogspot.com/2012/01/verstehen-pemahaman.html

·        http://bayuwidyaswara.blogspot.com/2011/05/teori-max-weber.html

 

Ekologi Manusia

Gelombang yang Berbalik
"Ekologi Manusia"
Ahmad Afandi                  1111054000007
            Pada awal dua dasawarsa terakhir abad kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis yang multidimensional yang segi aspeknya meliputi aspek kehidupan, kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik. Adapun pada krisis yang meliputi dimensi intelektual adalah moral dan spiritual atau krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia.
Di Amerika, dimana kompleksitas industri militer telah menjadi bagian yang integral dari pemerintah. Pentagon mencoba membujuk kita bahwa membangun lebih banyak senjata akan membuat negara menjadi lebih aman. Kenyataan yang terjdi malah sebaliknya , semakin banyak senjata yang kita dapatkan semakin bahanya negara kita. Dengan demikian kekuatan senjata nuklir terikat erat yang tiada lain merupakan aspek-aspek berbeda dari ancaman yang sama terhadap uamt manusia. Dengan perkembngannya yang terus-menerus, kemungkinan akan terjadinya kepunahan global itu setiap harinya semakin besar. Bahkan tanpa mempertimbangkan ancaman malapetaka nuklir sekali[un, ekosistem global dan evolusi kehidupan selanjutnya di bumi berada dalam bahaya yang serius dan bisa berakhir dalam suatu bencana ekologis dalam sekala besar.
            Peradaban terus tumbuh ketika tanggapan terhadap tangan awal berhasil membangkitkan momentum budaya yang membawa masyarakat keluar dari kondisi equilibrium memasuki suatu keseimbangan yang berlebihan yang tampil sebagai hal yang baru. Dengan meliahat hakikat dari tantangan-tantangan kita, bukan pada berbagai gejala krisis melainkan pada peruabahan yang mendasari di lingkungan alam dan sosial kita. Oleh karena itu kita dapat mengenali titik temu dari sejumlah transisi.
1.                  Rentangan waktu yag dikaitkan dengan sistem patriarkhal ini sekurang-kurangnya tiga ribu tahun, suatu periode yang begitu panjang sehingga kita tidak dapar mengatakan apakah kita sedang menghadapi proses siklus karena informasi kita miliki tentang masa sebelum patriarki trlampau sedikit.
2.                  Transisi kedua yang akan beradmpak kuat pada kehidupan kita dipaksakan, kepada kita oleh runtuhnya, zaman bahan bakar fosil.
3.      Transisi ketiga berkaitanya dengan nilai-nilai budaya. Transisi ini bisa dengan melibatkan juga dengan istilah "Perubahan Paradima", yaitu perubahan yang penting dalam pemikiran,presepsi, dan nilai-nilai yang membentuk suatu visi realitas didominasi oleh budaya kita yang telah berusia beberapa ratusan tahun, yang selama itu paradigma telah membentuk masyarakat Barat modern dan telah mempengaruhi seluruh dunia secara  signifikan. Nilai-nilai tentang revolusi ilmiah, pencerahan, dan revolusi industri nilah yang meliputi kepercayaan bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya pendekatan yang shohih terhadap pengetahuan; pandangan bahwa alam semesta merupakan suatu sistem mekanis yang terdiri atas balik-balaok  bangunan materi pokok.
            Transformasi budaya sebesar dan sedalam ini tidak dapat dicegah. Artinya transformasi ini tidak dapat dilawan tetapi dilawan tetapi sebaliknya harus disambut sebagai satu-satunya pelarian dan penderitaa, kehancuran dan kebekuan. Yang kita perlukan untuk mempersiapkan diri menghadapi transisi besar yang hampir kita masuki ini adalah suatu pengujian kembali secara mendalam premis-premis dan nilai-nilai budaya kita, suatu penolakan mode-model konseptual yang telah kehabisan dan gunanya, dan suatu penerimaan baru terhadap nilai-nilai yang telah ditinggalkan pad priode-periode sebelum sjearah kebudayaan kita.
            Kemenangan polaperilaku bersaing atas perilaku kerja sama merupakan salah satu manifestasi penting dari tendensi menonjolkan diri dalam masyarakat kita. Tendensi ini berakar pada pandangan yang keliru tentang alam yang dimilki oleh para pengikut Darwin dalam Ilmu Sosial.  Oleh karena itu, persaingan telah dipandang sebagai kekuatan pendorong ekonomi,"pendekatan agresif"  telah menjadi ideal dunia usaha, dan perilaku ini telah dipadu dengan eksploitasi terhadap SDA untuk menciptakan pola-pola konsumsi bersaingan.
            Gerakan-gerakan masyarakat yang meliputi persoalan-persoalan sosial dan lingkungan, yang menunjukan batas-batas pertumbuhan, yang mendukung etika ekologi baru, dan mengembangkan teknologi lunak yang sesuai. Gerakan yang seperti inilah terhadap suatu perhatian yang semakin besar pada ekologi, yang diungkapkan oleh gerakan-gerakan masyarakat yang meliputi persoalan-persoalan sosial dan lingkungan.
 
 
 

tugas 2

TUGAS 2
Nama : Ajeng Dwi  Rahma Putri
Kelas : PMI 2
NIM : 1113054000019
 
 
 
PEMBANGUNAN DESA INDUSTRI
BERBASIS PERTANIAN INDUSTRI
SAMPAI TAHUN 2030
 
Pembangunan dalam era reformasi juga harus dapat membawa perubahan dan menghasilkan pembaruan. Dengan bertolak dari pemikiran demikian, maka pembangunan dalam era reformasi untuk dihadapkan sampai tahun 2030 harus diberi makna perubahan yang menghasilkan pembaruan juga.kita ubah visi dan misi pembangunan nasional menjadi berawal dari desa. Desa tidak hanya menjadi fokus pembangunan, tetapi juga menjadi titik tolak pembangunan. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga manusianya. Masyarakat yang kurang pendidikannya dan kurang produktif apalagi untuk berfikir yang rasional sudah menjadi stigma yang berlaku bertahun-tahun. Semua itu kalau tidak diusahakan perubahan, lama-kelamaan desa kita akan menjadi cagar-budaya di tengah-tengah dunia yang bergelimang kapitalistik dan liberalistik ini. Reformasi yang sudah kita cetuskan harus bisa berfungsi sebagai kunci untuk membuka desa kita menjadi titik tolak pembangunan bangsa dan negara ini.
Empat paradigma baru.
 Desa memang bisa menjadi titik tolak pembangunan nasional yang bukan saja manyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia desa seutuhnya, maka keterbukaan desa menjadi persyaratan utama. Dengan keterbukaan desa maka paradigma baru yang akan saya utarakan dalam makalah saya ini bisa masuk ke dalam desa, sehingga terjadi proses reformasi di desa. Dengan demikian desa akan menjadi mandiri, tidak menjadi aparat dan tidak takut akan proses pengaruh eksternal yang masuk seperti kapitalisme, liberalisme, individualisme, karena karakter desa yang asli masih bisa membantengi , sehingga kearifan-kearifan desa tetap dominan dalam desa yang sudah bisa menerima pandangan maju. Secara riil keempat paradigma baru dapat mewujudkan skema peradaban baru di pedesaan kita. Tidak dibedakan antara desa di gunung, di pesisir, di tepi hutan, di tepi pesawahan, di dataran tinggi ataupun di dataran rendah. Tidak dibedakan pula antara masyarakat desa yang hidup dari padi, palawija, sayuran, buah-buahan, tanaman kayu, ternak, ikan ataupun dari warung, industri, perdagangan, pariwisata, pijat, tenaga, dalam dan apapun lagi lainnya. Semua bisa diwujudkan asalkan berniat mengisi reformasi pembangunan nasional kita yang bertolak dari desa. Paradigma baru yang saya kemukakan adalah pertama, bahwa pertanian itu proses industri. Kedua, bahwa pertanian dan desa itu univalent. Ketiga, bahwa desa menjadi desa industri yang berbasis pertanian industri. Keempat, bahwa desa industri itu merupakan satu sistem. Dengan paradigma baru itu maka mentalita industrial harus bisa dididikan kepada warga desa seluruhnya, termasuk petani. Petani dengan mentalita industrial mengelola usaha taninya berharap bisa merombak pemikiran petani yang saat ini berproduksi tanpa target yang jelas, tanpa berorientasi pada kontinuitas produk, tanpa berorientasi pada kualitas, dan target yang dihasilkan. Mentalita industrial juga harus dididikan pada segenap warga desa. Dengan demikian ada univalensi antara desa dan pertanian. Keduanya agar bereaksi dan menghasilkan produk maka harus bervalensi sama. Membangun desa juga berarti membengun pertanian, begitu sebaliknya. Produk dari reaksi itu ialah desa industri yang akan menghasilkan nilai tambah bagi desa dan warganya. Dengan orientasi pada menghasilkan nilai tambah itu , warga desa akan menjadi lebih progresif, krearif, dinamis semua di manfaatkan di desa. Seluruh warga desa dan petaninya perlu dididik untuk bergerak dalam pemikiran sistem. Artinya mereka mesti tahu apa-apa saja yang merupakan subsistemnya dalam desa industri yang berbasis pertanian industri. Subsistem vertikal merupakan subsistem kelembagaan, sedangkan subsistem horizontal merupakan subsistem proses. Subsistem vertikal berisikan empat lembaga yang merupakan "stakeholders" desa industri itu. Adapun subsistem horizontal merupakan subsistem proses yang terdiri dari subsistem primer yang menghasilkan benih, pupuk, pestisida, alat pertanian, dan processing.
 
Implikasi Berdirinya Desa Industri
Dengan asumsi bahwa kebijakan pembangunan nasional kita memang bisa direformasi berangkat dari desa industri  yang berbasis pertanian industri maka kita harus bisa mereformasi pertanian kita. Sungguh suatu ironi, kalau di negeri kita yang agraris dan bahari ini justru kemiskinan bersumber dari desa baik yang di gunung ataupun di pantai. Desa bukan lagi menjadi sumber "gemah ripah loh jinawi",  tetapi sumber "rumah rapuh rohnya juga mati". Desa sudah puluhan tahun ditinggalkan, meski dalam era revolusi fisik 1945-1950 menjadi sumber keunggulan perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaanya. Industri-indutri modern dan besar di bangun di lahan-lahan desa, tetapi bukan milik orang desa. Hampir semuanya milik orang luar. Jalan-jalan besar pun dibangun d atas lahan-lahan pertanian dan desa, dengan modal asing dan hutangan luar negri pemerintah. Dengan tumbuhnya desa industri akan terjadi proses konsolidasi pertanian, baik bersifat menyatunya lahan pertanian menghasilkan suatu produk bahan industri, ataupun menyatunya suatu bentuk usaha tani meski lahan produksinya berpencar-pencar. Konsolidasi pertanian demikian pada akhirnya berimplikasi terjadinya proses konsolidasi lahan. Prose ini akan menyelamatkan lahan pertanian tidak beralih fungsi, atau kalaupun harus beralih fungsi misalnya sebagai jalan tol, atau lapangan golf dalam rangka industri pariwisata.
Menghadapi Era 2030.
Dari segi kebutuhan air untuk padi sawah kita akan menghadapi tantangan dari kebutuhan air untuk pemukiman, industri, perhotelan dan lain-lain. hal itu belum kita perhitungkan betapa besarnya kita kehilangan air yang dikirim dari hulu akibat gundulnya daerah aliran sungai dan hutan-hutan kita. Ditinjau dari perubahan iklim global yang disebabkan meningginya suhu global akibat proses rumah kaca, kemudian mencairnya es kutub yang meninggikan permukaan laut, semua tentu bisa berdampak negatif pada luasnya areal pesawahan dan produksi padi kitayang sebagian besar masih hasil panen lahan sawah. Karena itu kita harus tinggalkan kebijakan perberasan in. Kita harus menggantinya dengan program pemberagaman pangan dan yang berbasis tepung. Contoh lain ialah biofuel. Inipun merupakan target jangka panjang untuk bisa di capai dalam membangun desa industri. Desa industri akan menjadi tempat pelaksanaan industri itu dan semuanya menjadi garapan warga desa dan milik warga desa. Penyiapan tenaga-tenaga SDM yang berkeahlian itu merupakan program jangka menengah. Demikian untuk berbagai materi untuk bisa diusahakan dalam pertanian industri. Subsistem primer misalnya dalam jangka menengah harus bisa menyelenggarakan sistem pengadaan benih tanaman unggulan untuk proses industri di desa industri. Dengan adanya target jangka panjang dan menengah seperti contoh di atas, maka dalam jangka pendek perlu diisi dengan program-program diseminasi ke masyarakat luas mengenai paradigma baru, program desa industri, pertanian industri, kebutuhan SDM. Perlu dalam jangka waktu pendek itu didekati "stakeholder" kelembagaan sehingga mereka memiliki wawasan yang sama dalam reformasi pembangunan yang bertitik tolak dari desa itu. Sesudah bisa dibayangkan apa yang bisa dikerjakan baik sebagai program jangka panjang, jangka menengah, maupun jangka pendek, maka untuk menghadap ke tahun 2030 dapat dikemukakan misalnya, lima tahun pertama untuk program jangka waktu pendek, sepuluh tahu berikutnya untuk jangka waktu menengah dan sepuluh tahun terakhir untuk jangka waktu panjang. Semua upaya ini merupakan proses pendidikan masyarakat baik masyarakat desa, maupun untuk segenap "stakeholders" atau subsistem vertikal maupun subsisem horizontal.
Kalau program pembangunan nasional hingga 2030 benar-benar akan direformasikan, bertitik tolak dari pembanguan pedesaan, maka terjadilah konsolidasi desa dan pertanian dalam bentuk desa industri sebagai satu sistem itu. Semua itu bisa diwujudkan apabila ada dukungan dari perguruan tinggi sebagai subsistem kelembagaan yang merupakan "think tank" dalam segala proses reformasi pertanian yang berisi konsolidasi desa dan pertanian. Semua program itu dapat direalisasikan kalau tersedia dana. Bank konsolidasi lahan yang berfungsi sebagai "pasar modal" juga akan sangat besar perannya, karena harus bisa berfungsi sebagai stimulator dan akselerator, disamping sebagai fasilitator seluruh kegiatan industri dalam desa industri yang berbasis pertanian industri itu.
 
 

Jumat, 14 Maret 2014

Della Azizah_tugas2_max weber

Teori-Teori Utama Max Weber

Della azizah_
Dalam teori max weber ada 4 teori utama yang ia kemukakan yaitu : 1. Teori kapitalisme
Awalnya teori kapitalisme ini, Max Weber mengetahui dari etika protestan yaitu yang berarti mensejahteraan manusia dan bagaimana untuk berhemat dalam hidup ini, contoh itu bisa juga di kategorikan dengan melakukan kepentingan ekonomi. Jadi menurut Max Weberkapitalisme adalah suatu upaya manusia mendapatkan keuntungan dengan usaha pribadi dan dalam kapitalisme rasional harus menggunakan perhitungan perhitungan akutansi tetapi usaha yang di lakukan bukanhanya perdagangan dan pertukaran barang.

tugas_mingguan_ADIATMA_PMI8_Sosilogi_Pedesaan

DESA: RETROSPEKSI KE-1800MENUJU PROSPEK 2030
S.M.P Tjondronegoro
ADIATMA
1110054000035
Sosiologi Pedesaan
Melakukan kilas balik atas pembangunan desa tentu sangatlah mudah di bandingkan dengan mendeskripsikan prospek desa, karena sedikit banyak mengenai masa lampau terdapat kisah dan hasil laporan tertulis, sedangkan untuk menerawang hari masa depan bisa mimpi bila data dan informasi untuk rendy Study  masih sangat kurang.

Nur Yaumil Fithroh_Tugas 2_Teori Sosiologi Max Weber

Nama                  : Nur Yaumil Fithroh

TEORI SOSIOLOGI MAX WEBER

-         Teori Karismatik

 Teori saat ini mengenai kepemimpinan karismatik amatlah berpengaruh oleh ide-ide dari ahli social awal bernama Max Weber. Karisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung” atau “pemberian tuhan”. Seperti kemampuan melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan. Weber (1947) menggunakan istilah itu untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh yang bukan didasarkan pada tradisi atau otoritas formal, tetapi lebih atas persepsi pengaruh pengikut bahwa pemimpin diberkati dengan kualitas yang luar biasa.

Muh Nur Muhaimin_Tugas 2_ Masa Depan Desa-desa Kita

MASA DEPAN DESA-DESA KITA
Penyusun : Muh Nur Muhaimin
    Keberadaan desa telah dikenal lama dalam tatanan pemerintahan di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Masyarakat di Indonesia secara turun temurun hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut dengan desa.
Pada zaman modern seperti saat sekarang ini yang telah kita rasakan, perubahan-perubahan sosial yang berlansung secara cepat di dalam segenap ruang lingkup kehidupan masyarakat sosial sudah ditunjukkan oleh berbagai penelitian tentang desa-desa yang berada di Indonesia khususnya di pulau jawa, yang secara pelan-pelan memperlihatkan semakin lemahnya daya dukung desa terhadap kebutuhan yang diperlukan oleh penduduknya.  Pada awal abad ke19 munculah gejala-gejala yang mengakibatkan pola kehidupan warga masyarakat desa bergeser dari sektor pertanian menjadi sektor-sektor non pertanian,  contohnya ialah dagang dalam skala kecil, buruh pabrik, buruh tani, menjual jasa dan keterampilan dan sebagainya. Karena sektor pertanian semakin lama hanya mampu memenuhi kebutuhan penduduknya pada tingkat subtansi.

Deshinta Ria Liany_Tugas2_Teori Max Weber

TEORI MAX WEBER

TEORI KAPITALISME
Etika Protestan dan kapitalisme
Kaum Marxisme menegaskan bahwa agama Protestant merupakan suatu refleksi ideologis dari perubahan-perubahan ekonomi yang didatangkan dengan perkembangan awal kapitalisme. Dengan menolak hal ini sebagai suatu titik pengelihatan yang wajar, karya Weber bermula dari keganjilan penyimpangan yang jelas terlihat dan yang diidentifikasinya serta penjelasannya merupakan orisinalitas sebenarnya dari Etika Protestan. Biasanya demikianlah bahwa mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh tidak acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan dengan agama, karena kegiatan-kegiatan mereka tertuju pada dunia ‘materil’. Akan tetapi agama Protestan disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katolik, dan dengan demikian memasukkan suatu faktor keagamaan di semua bidang kehidupan para penganutnya. Dari sini dapat dilihat hubungan antara agama Protestan dengan kapitalisme modern.

Kamis, 13 Maret 2014

Erby Eko Y_Tugas 2_Teori Max Weber


Teori Max Weber
Max Weber memiliki beberapa pemikiran yang sampai akhirnya menjadi sebuah teori,yaitu:
1.Kapitalisme
Weber mengartikan kapitalisme sebagai upaya manusia untuk mendapatkan keuntungan melakukan kegiatan-kegiatan usaha yang dikelola secara pribadi. Meski demikian, kegiatan usaha yang dimaksud bukanlah sekedar perdagangan dan pertukaran barang yang sudah ada sejak dahulu di masyarakat manapun.

Julia Rahmania_Tugas2_Max Weber


Nama              : Julia Rahmania

Teori-teori Max Weber
Teori  Capitalisme
Weber dan Etika Protestan
            Pembahasan klasik dan paling berpengaruh tentang hubungan antara etika dan agama, khususnya yang berkaitan dengan bidang ekonomi, adalah yang dilakukan oleh Weber. Tesisnya yang terkenal yang diungkapkan dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism membuktikan bahwa munculnya zaman modern dengan Kapitalisme-nya itu mempunyai akar dalam pandangan etis dan keagamaan Kristen Protestan, khususnya Calvinisme. Tesis ini merupakan bantahan terhadap tesis Marx tentang transisi dari feodalisme ke kapitalisme.

Rabu, 12 Maret 2014

Muh Nur Muhaimin_tugas1_Dinamika pedesaan

Dinamika Desa dalam Tinjauan Sejarah dan kebijakan Pembangunan di Indonesia
Oleh : Muh Nur Muhaimin

A. Transformasi dan perubahan sosial masyarakat pedesaan.

     Pembangunan atau pengembangan pedesaan sangat di perlukan untuk Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sebesar kurang lebih 60%, melakukan pertanian sebagai mata pencaharian, dan mereka tinggal di pedesaan. Pembangunan atau pengembangan pedesaan ('rural development), menurut Mosher (Mosher, 1969, h. 91), dapat mempunyai tujuan:
 1.  Pertumbuhan sektor pertanian.

Anindia Prestiawani Rizki_Tugas2_Max Weber

Nama                          : Anindia Prestiawani Rizki

NIM                            : 1113054100013

Jurusan/Kelas            : Kesejahteraan Sosial / 2A

 

Teori Birokrasi

 

     Organisasi merupakan satu unit sosial yang dibentuk untuk mencapai matlamat tertentu. Sekolah juga merupakan satu contoh organisasi. Di dalam organisasi, kita tidak boleh lari daripada mengaplikasikan  teori-teori organisasi yang ada dan salah satu teori yang paling berpengaruh dalam bidang organisasi dan pentadbiran ialah Teori Birokrasi.

 

     Dari segi konsep, Weber merujuk birokrasi sebagai satu jenis struktur pentadbiran yang dibangunkan dalam satu pertubuhan dimana adanya autoriti “rasional-sah” (Scott, 2003). Weber menerangkan jenis birokrasi yang ideal dari sudut yang positif, beliau menganggap organisasi birokrasi adalah organisasi yang lebih rasional dan lebih cekap. Jenis birokrasi yang ideal termasuklah tidak ada jenis autoriti atau perhubungan yang lain, tidak mempunyai persahabatan dan permusuhan, tidak mempunyai komplot, dan tidak mempunyai badan jawatankuasa. Sesuatu birokrasi yang dikatakan ideal hanya wujud dimana individu memberi dan menerima arahan sebagai satu peraturan dalam sistem rasional.

 

     Terdapat tiga jenis autoriti yang dikenalpasti oleh Weber iaitu autoriti tradisional, autoriti “rasional-sah” dan autoriti karismatik :-

 

     a)  Autoriti tradisional (Traditional authority) yaitu kepercayaan dalam tradisi yang telah diamalkan sejak berzaman-zaman lamanya.  Ini adalah berlandaskan perwarisan daripada autoriti terdahulu, kemudian orang yang memegang autoriti tersebut mempunyai kuasa dan memberi arahan manakala orang bawahan pula akan menerima sahaja perintah atasan dengan alasan bahawa perkara yang diperintahkan oleh orang atasan itu merupakan cara untuk menyelesaikan semua masalah. 

 

     b)  Autoriti rasional-sah (Rational-legal authority) iaitu kepercayaan dalam “legaliti” sebagai corak dalam peraturan normatif dan mengangkat kebenaran dalam autoriti seperti isu-isu berkenaan arahan. Autoriti “rasional-sah” adalah berdasarkan sistem peraturan yang menghormati arahan, oleh sebab itulah sistem ini disebutkan mempunyai kerasionalan. Perintah atau arahan harus dipatuhi selagi mana mereka konsisten dengan peraturan tersebut. 

 

     c) Autoriti karismatik (charismatic authority) pula merujuk kepada kepatuhan kepada sifat-sifat yang ada pada seseorang individu yang boleh dicontohi. Individu yang memegang autoriti seperti ini akan menunjukkan ciri-ciri pemerintahan dalam corak normatif ataupun peraturan. Autoriti ini juga melibatkan kualiti luar biasa yang ada pada pemimpin dimana arahan tidak terikat kepada penghormatan dan kesetiaan.



     Objektif utama teori birokrasi ialah untuk menjadikan sesebuah organisasi menjadi lebih cekap dan segala urusan pekerjaan di dalam organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tujuan diwujudkan sistem hierarki dalam organisasi birokrasi pula adalah untuk membina sistem rantaian arahan yang tersusun.

 

     Pada pendapat saya, teori Weber ini adalah baik diamalkan di mana-mana organisasi mahupun di sekolah. Teori ini membuatkan sistem organisasi di sekolah menjadi lebih sistematik dan efisyen. Sistem hierarki yang dilaksanakan membantu pentadbir membahagikan tugas-tugas orang bawahannya seperti Guru Penolong Kanan, guru-guru, kerani dan sebagainya mengikut tugas masing-masing dan tidak berlaku persilangan/pertindihan tugas. Selain itu juga, teori ini dapat mengukuhkan tanggungjawab masing-masing terhadap bidang tugas sendiri. Walaubagaimanapun, teori ini cenderung kepada amalan pengurusan berbentuk pemusatan kuasa iaitu autoriti atau kuasa dalam sesebuah organisasi terletak didalam tangan satu golongan kecil.autoriti atau kuasa dalam sesebuah organisasi terletak didalam tangan satu golongan kecil. Golongan ini biasanya terdiri daripada Pengetua dan Penolong Kanan. Kebiasaannya, arahan mereka perlu didengar dan dilaksanakan tanpa sebarang bantahan.

 

Selasa, 11 Maret 2014

Bls: kartika al ashzim_tugas(1)_Pembahasan(teori emile durkheim)




Pada Selasa, 11 Maret 2014 0:06, Kartika Al azhim <kartikaalazhim@yahoo.co.id> menulis:



Pada Senin, 10 Maret 2014 23:38, Kartika Al azhim <kartikaalazhim@yahoo.co.id> menulis:
TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM
Emile Durkheim dipandang sebagai pewaris tradisi Pencerahan karena penekanannya pada sains dan reformisme sosial. Tetapi Durkheim juga dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif. Durkheim melegitimasi sosiologi di Perancis dan karyanya akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan perkembangan teori sosiologi pada khususnya.          
Secara politik, Durkheim adalah seorang liberal, tetapi secara intelektual ia tergolong lebih konservatif. itu terbukti ketika gagasan Marx tentang perlunya revolusi sosial bertolak belakang dengan gagasan reformasi Durkheim. akibatnya, gagasan Durkheim tentang keteraturan dan reformasi menjadi dominan sedangkan gagasan Marxian merosot.
Fakta-fakta sosial. Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Dalam The Rule of Sociological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. dalam bukunya yang berjudul Suicide (1897/1951) Durkheim berpendapat bawa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi.
Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosial yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. durkheim mengembangkan pandangan sosiologi tersendiri dan mencoba menunjukkan kegunaannya dalam studi ilmiah tentang bunuh ini.
Dalam The Rule Of Sociological Method, ia membedakan antara dua tipe fakta sosial :
Material dan Nonmaterial.
Durkheim lebih mengutamakan pada fakta nonmaterial ( mislanya kultur, institusi sosial) daripada fakta sosial material (misalnya birokrasi, hukum). Itu terbukti dalam karyanya paling awal yang berjudul The Division Of Labor In Society (1893/1964), perhatiannya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan berada dalam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan terutama oleh fakta sosial nonmaterial, khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif yang kuat. Menurut Durkheim, pembagian kerja dalam masyarakat modern menimbulkan beberapa patologi (pathologies). Dengan kata lain, divisi kerja bukan metode yang memadai yang dapat membantu menyatukan masyarakat. Kecenderungan sosiologi konservatif durkheim terlihat ketika ia menganggap revolusi tak diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Menurutnya, berbagai reformasi dapat memperbaiki dan menjaga sistem sosial modern agar tetap berfungsi. Meski ia mengakui bahwa tak mungkin kembali ke masa lalu di mana kesadaran kolektif masih menonjol, namun ia menganggap bahwa dalam masyarakat modern moralitas bersama dapat diperkuat dan karena itu manusia akan dapat menanggulangi penyakit sosial yang mereka alami dengan cara yang lebih baik.
Agama. Dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms Of Religious Life (1912/1965), ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhr fakta sosial nonmaterial yakni agama.
Durkheim membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Ia yakin bahwa ia akan dapat secara lebih baik menemukan akar agama itu dengan jalan membandingkan masyarakat primitif yang sederhana ketimbang di dalam mayarakat modern yang kompleks. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sakral dan yang lainnya bersifat profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme  (tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan). Durkheim menyimpulkan bahwa mayarakat dan agama (kesatuan kolektif) adalah satu dan sama.




indahchoirunnissa_tugas1_teori Emile Durkheim

Teori Sosiologi Modern
 TEORI – TEORI  EMILE DURKHEIM
Ø  Teori solidaritas
Ø  Fakta sosial
Ø  Teori bunuh diri
Ø  Teori tentang Agama
1.     Teori solidaritas
Menurut Emile Durkheim ,solidaritas sosial adalah “kesetiakawanan yang menunjukan pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama”.
Solidaritas sosial dibagi menjadi dua yaitu:
Solidaritas mekanik

Cari Blog Ini