Sabtu, 15 Maret 2014

Dinara Oktaviana_Tugas2_Max Weber

1.      Teori Kapitalisme

Dalam buku The Protestan Ethic and The Spirit Capitalism (1904), Max Weber mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat. Menurut Max Weber, muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat beiringan dengan perkembangan Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan. Max Weber berargumen bahwa ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur-sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras. Umat Kalvinis bekerja keras dengan harapan bahwa kemakmuran  merupakan petanda baik dan dapat menuntun mereka ke arah Surga. Mereka tidak mengahambur-hamburkan hasil kerja kerasnya melainkan ditanamkan kembali dalam usaha mereka masing-masing. Melalui cara inilah, menurut Max Weber kapitalisme di Eropa berkembang.

Konsep kedua dari ajaran Protestan adalah Predestination, yaitu hanya beberapa umat yang akan dipilih untuk dibebaskan dari siksaan. Pemilihan ini sudah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan. Oleh karena itu, umat Protestan tidak tahu apakah mereka akan menjadi yang terpilih atau tidak. Agama Protestan muncul dengan konsep yang oleh Weber disebut The Calling, yang berarti ajaran bahwa kewajiban moral paling tinggi dari seorang manusia adalah untuk melaksanakan tugasnya dalam kehidupan sehari-hari Protestan (The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism).

Weber mengembangkan teorinya dengan cara studi perbandingan sejarah di belahan bumi bagian Barat lalu Cina dan India serta beberapa masyarakat lain.

 

2.      Tindakan Sosial

Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975).

 

 

Max Weber mengklasifikasikan tindakan sosial dalam 4 jenis, yaitu :

·         Rasionalitas instrumental

Yaitu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar serta adanya alat-alat untuk mencapai tujuan tindakan tersebut.

Contoh; seseorang yang bernyanyi diatas panggung menggunakan sound system dengan maksud untuk menghibur orang lain dan mereka semua dapat mendengar dengan jelas.

 

·         Rasionalitas yang berorientasi nilai

Yaitu alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut.

Contoh; membantu orang yang sudah tua untuk menyeberang jalan.

Tindakan sosial ini mendahulukan nilai-nilai sosial maupun nilai agama yang dimiliki individu.

 

·         Tindakan  tradisional

Yaitu seseorang berperilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan sebelumnya.

Contoh; saling bermaaf-maafan ketika usai melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri.

 

·         Tindakan afektif

Yaitu tindakan yang diakukan tanpa refleksi atau perencanaan dan dominasi antara perasaan atau emosi.

Contoh; seorang ibu yang memeluk anaknya ketika si anak terjatuh.

 

 

 

3.      Verstehen

Teori Verstehen dikenal juga sebagai teori pemahaman. Teori Vestehen ini menekankan pada pola tingkah laku yang menurut Weber perbuatan si pelaku mempunyai arti subyektif, keinginan mencapai tujuan  serta didorong motivasi. Bagi Weber, Verstehen melibatkan penelitian sistematis dan ketat, bukan hanya sekedar merasakan teks atau fenomena sosial. Max Weber mengembangkan gagasannya menyangkut kepada kehidupan sosial seperti memahami pelaku, interaksi dan sejarah seluruh manusia. Verstehen merupakan prosedur studi yang bersifat rasional. Meskipun begitu, bagi Weber pemahaman tetap merupakan suatu pendekatan unik terhadap moral dan ilmu-ilmu budaya, yang lebih berurusan dengan manusia ketimbang berurusan dengan binatang atau kehidupan non hayati lainnya, inilah yang membedakan sosiolog dengan ilmuwan alam.

 

4.      Karismatik

Karisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung” atau “pemberian Tuhan”. Menurut Weber, karisma hanyalah presepsi pengikut atau masyarakat bahwa seorang pemimpin diberkati oleh Tuhan dengan kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Weber berpendapat bahwa karisma terjadi pada saat adanya krisis sosial, seorang pemimpin hadir dengan visi yang menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi krisis sosial tersebut, kemudian pemimpin menarik pengikut atau masyarakat yang percaya terhadap visi itu dan kemudian mereka mengalami suatu keberhasilan. Dengan demikian, para pengikut atau masyarakat percaya bahwa pemimpin tersebut sebagai orang yang diberkati dan mempunyai kemampuan luar biasa. Pemimpin karismatik mendapatkan otoritasnya dari kemampuan atau ciri-ciri luar biasa, atau mungkin dari keyakinan pihak pengikut bahwa pemimpin itu memang mempunyai ciri-ciri tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer, George dan Douglas J Goodman. 2009.Teori Sosiologi Modern. Yogyakarta : Kreasi Wacana

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi.Jakarta: Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Fauzia Firdawati_Tugas 2_Teori Max Weber

Fauzia Firdawati

Kesejahteraan Sosial / 2A

1113054100006

 

Teori Max Weber

1.     Teori Kapitalisme

Max Weber hidup tatkala Eropa Barat sedang menjurus ke arah pertumbuhan kapitalisme modern. Situasi demikian mendorong Weber untuk mencari sebab – sebab hubungan antara tingkah laku agama dan ekonomi, terutama pada masyarakat Eropa Barat yang mayorias beragama protestan. Titik perhatian Weber sesungguhnya sudah menjadi perhatian Karl Marx, di mana pertumbuhan kapitalisme modern pada saat itu telah menimbulkan kegoncangan – kegoncangan hebat di lapangan kehidupan sosial masyarakat Eropa Barat. Weber tidak berselisih dengan pendapat Marx dalam hal ini, terutama tentang ciri – ciri yang menandai tumbuhnya kapitalisme modern itu.

Adapun karakteristik Spirit Kapitalisme modern menurut Weber adalah sebagai berikut.

1.      Adanya usaha – usaha ekonomi yang diorganisir dan dikelola secara rasional di atas landasan prinsip – prinsip ilmu pengetahuan dan berkembangnya pemilikan/kekayaan pribadi.

2.      Berkembangnya produksi untuk pasar.

3.      Produksi untuk massa dan melalui massa.

4.      Produksi untuk uang.

5.      Adanya anthusiasme, etos dan efisiensi maksimal yang menuntut pengabdian manusia kepada panggilan kerja.

 

Masyarakat kapitalis memandang manusia terutama sebagai pekerja dan tidak peduli apapun yang menjadi pekerjaan mereka. Inilah yang disebut dengan vocational ethics yang merupakan tingkah laku yang menonjol dari Spirit Kapitalisme modern. Mereka yang miskin vocational ethicsnya akan runtuh, dan mereka memiliki vocational ethics akan dengan baik meningkatkan prestasi hidupnya.

Keseluruhan elemen di atas merupakan tipe ideal dari karakteristik kapitalisme modern. Selanjutnya elemen – elemen tersebut masuk dalam masyarakat kapitalis dalam berbagai bentuk dan kondisi sebagai berikut.

1.      Rational capital accounting and bussines management (perhitungan modal dan pengelolaan usaha secara rasional).

2.      Appropriation of all means of production (pengerahan segala sarana produksi secara tepat guna).

3.      Rational technique of production (penggunaan teknik – teknik produksi rasional).

4.      Rational law (hukum rasional).

5.      Free labor (adanya tenaga kerja yang bebas).

6.      Commerzialization and marketing of the products of labor(komersialisasi serta pemasaran hasil – hasil produksi dan tenaga kerja).

 

2.     Teori Verstehen

Kata pemahaman dalam bahasa Jerman adalah  verstehen. Pemakaian istilah ini secara khusus oleh Weber dalam penelitian historis adalah sumbangan yang paling banyak dikenal dan paling controversial, terhadap metodologi sosiologi kontemporer. Ketika kita mengerti apa yang dimaksud Weber dengan kata verstehen, kita pun menggarisbawahi beberapa masalah dalam menafsirkan maksud Weber, muncul dari masalah umum dalam pemikiran metodologis Weber.

 

Max Weber juga memasukkan problem pemahaman dalam pendekatan sosiologisnya, yang sebagaimana cenderung ia tekankan adalah salah satu tipe sosiologis dari sekian kemungkinan lain. Karena itulah ia menyebutkan perspektifnya sebagai sosiologi interpretatif atau pemahaman. Menjadi ciri khas rasional dan positivisnya bahwa ia mentransformasikan konsep tentang pemahaman. Meski begitu, baginya pemahaman tetap merupakan sebuah pendekatan unik terhadap moral dan ilmu-ilmu budaya, yang lebih berurusan dengan manusia ketimbang dengan binatang lainnya atau kehidupan non hayati. Manusia bisa memahami atau berusaha memahami niatnya sendiri melalui instropeksi, dan ia bisa menginterpretasikan perbuatan orang lain sehubungan dengan niatan yang mereka akui atau diduga mereka punyai.

 

Teori Verstehen masih sangat relevan untuk digunakan dalam penelitian sosiologi hingga saat ini. Perubahan sosial yang dinamis dalam perkembangan masyarakat harus selalu diperbaharui dengan pengamatan dan pemahaman. Satu titik simpul yang membuat perubahan bukan hanya dari sudut pandang dimana kebanyakan orang melihatnya. Tetapi dari sudut pandang berbeda yang dapat kita kaji melalui penjelasan fakta tanpa mempersoalkan baik buruknya fakta yang terjadi (non-etis).

3.     Tindakan Sosial

Menurut Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan - tindakan sosial dan menguraikannya dengan menerangkan sebab – sebab tindakan tersebut. Dengan demikian, yang menjadi inti dari sosiologi adalah arti yang nyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan – alasan subyektif. Itulah yang kemudian menjadi pokok penyelidikan Max Weber dan disebutnya sebagai Verstehende Sociologie. Dalam hal ini verstehende adalah suatu metode pendekatan yang berusaha mengerti makna mendasari dan mengitari peristiwa sosial dan historis. Pendekatan ini bertolak pada gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para actor yang terlbat di dalamnya.

 

Weber membagi tindakan sosial menjadi empat, yakni sebagai berikut :

 

1.      Zweck rational, yaitu tindakan sosial yang dilandasi pertimbangan – pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya (juga dalam menanggapi orang lain di sekitarnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup). Dengan kata lain, zweck rational adalah tindakan  sosial yang ditujukan untuk mencapai semaksimal mungkin dengan menggunakan dana serta daya seminimal.

2.      Wert rational, yaitu tindakan sosial yang rasional, tetapi dilandaskan pada nilai – nilai absolut tertentu. Nilai yang dijadikan landasan ini bisa nilai etis, estetis, keagamaan, atau nilai – nilai lain. Dengan demikian, manusia selalu menyandarkan tindakannya yang rasional pada keyakinan terhadap suatu nilai tertentu.

3.      Affectual, yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosional. Seperti ungkapan rasa cinta, ledakan kemarahan, dan rasa kasihan.

4.      Tradisional, yaitu tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada tradisi atau masa lampau. Dalam hal ini, yang dimaksud tradisi adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di masa lampau. Mekanisme tindakan ini berlandaskan atas hukum – hukum normatif yang telah ditentukan oleh masyarakat.

 

Meskipun Weber membedakan empat bentuk tindakan, ia sepenuhnya sadar bahwa tindakan tertentu biasanya terdiri dari kombinasi dari keempat tipe tindakan tersebut. Weber juga berargumen bahwa sosiolog harus lebih memahami tindakan yang lebih memiliki variasi rasional daripada memahami tindakan yang didominasi oleh perasaan atau tradisi.

 

 

4.     Kharisma

Teori saat ini mengenai kepemimpinan karismatik amatlah berpengaruh oleh ide-ide dari ahli social awal bernama Max Weber. Karisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung” atau “pemberian tuhan”. Seperti kemampuan melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan. Menurut Weber, karisma terjadi saat terdapat sebuah krisis social, seorang pemimpin muncul dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi untuk krisis itu, pemimpin menarik pengikut yang percaya pada visi itu, mereka mengalami beberapa keberhasilan yang membuat visi itu dapat terlihat dapat dicapai, dan para pengikut dapat mempercayai bahwa pemimpin itu sebagai orang yang luar biasa. 

 

Konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma (charisma) menurut Weber (1947) lebih ditekankan kepada kemampuan pemimpin yang memiliki kekuatan luarbiasa dan mistis. Menurutnya, ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu :

1.      Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luar biasa,

2.      Adanya krisis sosial

3.      Adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut

4.      Adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural

5.      Adanya bukti yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.

 

Para pemimpin akan lebih mungkin dipandang sebagai karismatik jika mereka membuat pengorbanan diri, mengambil resiko pribadi, dan mendatangkan biaya tinggi untuk mencapai visi yang mereka dukung. Kepercayaan terlihat menjadi komponenpenting dari karismatik, dan pengikut lebih mempercayai pemimpin yang kelihatan tidak terlalu termotivasi oleh kepentingan pribadi daripada oleh perhatian terhadap pengikut. Yang paling mengesankan adalah seorang pemimpin yang benar-benar mengambil resiko kerugian pribadi yang cukup besar dalam hal status, uang posisi kepemimpinan atau keanggotaan dalam organisasi. 

 

Dalam hal selektivitas yang dimiliki komunikan ini diketahui bahwa seseorang akan memilih pesan tergantung pada dua faktor:

a)      Expectation of reward – mengharapkan ganjaran.

b)      Effort to be required – menghendaki suatu usaha.

Dengan kata lain besar kecilnya kedua faktor tersebut dapat menentukan pemilihan komunikan terhadap pesan tertentu.  

 

 

 

Sumber        :

·        http://lebak-kauman.blogspot.com/2013/02/teori-kepemimpinan-karismatik.html

·        http://ninnaastuti.blogspot.com/2012/01/verstehen-max-weber.html

·        http://ratnaputri92.blogspot.com/2012/01/verstehen-pemahaman.html

·        http://bayuwidyaswara.blogspot.com/2011/05/teori-max-weber.html

 

Ekologi Manusia

Gelombang yang Berbalik
"Ekologi Manusia"
Ahmad Afandi                  1111054000007
            Pada awal dua dasawarsa terakhir abad kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis yang multidimensional yang segi aspeknya meliputi aspek kehidupan, kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik. Adapun pada krisis yang meliputi dimensi intelektual adalah moral dan spiritual atau krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia.
Di Amerika, dimana kompleksitas industri militer telah menjadi bagian yang integral dari pemerintah. Pentagon mencoba membujuk kita bahwa membangun lebih banyak senjata akan membuat negara menjadi lebih aman. Kenyataan yang terjdi malah sebaliknya , semakin banyak senjata yang kita dapatkan semakin bahanya negara kita. Dengan demikian kekuatan senjata nuklir terikat erat yang tiada lain merupakan aspek-aspek berbeda dari ancaman yang sama terhadap uamt manusia. Dengan perkembngannya yang terus-menerus, kemungkinan akan terjadinya kepunahan global itu setiap harinya semakin besar. Bahkan tanpa mempertimbangkan ancaman malapetaka nuklir sekali[un, ekosistem global dan evolusi kehidupan selanjutnya di bumi berada dalam bahaya yang serius dan bisa berakhir dalam suatu bencana ekologis dalam sekala besar.
            Peradaban terus tumbuh ketika tanggapan terhadap tangan awal berhasil membangkitkan momentum budaya yang membawa masyarakat keluar dari kondisi equilibrium memasuki suatu keseimbangan yang berlebihan yang tampil sebagai hal yang baru. Dengan meliahat hakikat dari tantangan-tantangan kita, bukan pada berbagai gejala krisis melainkan pada peruabahan yang mendasari di lingkungan alam dan sosial kita. Oleh karena itu kita dapat mengenali titik temu dari sejumlah transisi.
1.                  Rentangan waktu yag dikaitkan dengan sistem patriarkhal ini sekurang-kurangnya tiga ribu tahun, suatu periode yang begitu panjang sehingga kita tidak dapar mengatakan apakah kita sedang menghadapi proses siklus karena informasi kita miliki tentang masa sebelum patriarki trlampau sedikit.
2.                  Transisi kedua yang akan beradmpak kuat pada kehidupan kita dipaksakan, kepada kita oleh runtuhnya, zaman bahan bakar fosil.
3.      Transisi ketiga berkaitanya dengan nilai-nilai budaya. Transisi ini bisa dengan melibatkan juga dengan istilah "Perubahan Paradima", yaitu perubahan yang penting dalam pemikiran,presepsi, dan nilai-nilai yang membentuk suatu visi realitas didominasi oleh budaya kita yang telah berusia beberapa ratusan tahun, yang selama itu paradigma telah membentuk masyarakat Barat modern dan telah mempengaruhi seluruh dunia secara  signifikan. Nilai-nilai tentang revolusi ilmiah, pencerahan, dan revolusi industri nilah yang meliputi kepercayaan bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya pendekatan yang shohih terhadap pengetahuan; pandangan bahwa alam semesta merupakan suatu sistem mekanis yang terdiri atas balik-balaok  bangunan materi pokok.
            Transformasi budaya sebesar dan sedalam ini tidak dapat dicegah. Artinya transformasi ini tidak dapat dilawan tetapi dilawan tetapi sebaliknya harus disambut sebagai satu-satunya pelarian dan penderitaa, kehancuran dan kebekuan. Yang kita perlukan untuk mempersiapkan diri menghadapi transisi besar yang hampir kita masuki ini adalah suatu pengujian kembali secara mendalam premis-premis dan nilai-nilai budaya kita, suatu penolakan mode-model konseptual yang telah kehabisan dan gunanya, dan suatu penerimaan baru terhadap nilai-nilai yang telah ditinggalkan pad priode-periode sebelum sjearah kebudayaan kita.
            Kemenangan polaperilaku bersaing atas perilaku kerja sama merupakan salah satu manifestasi penting dari tendensi menonjolkan diri dalam masyarakat kita. Tendensi ini berakar pada pandangan yang keliru tentang alam yang dimilki oleh para pengikut Darwin dalam Ilmu Sosial.  Oleh karena itu, persaingan telah dipandang sebagai kekuatan pendorong ekonomi,"pendekatan agresif"  telah menjadi ideal dunia usaha, dan perilaku ini telah dipadu dengan eksploitasi terhadap SDA untuk menciptakan pola-pola konsumsi bersaingan.
            Gerakan-gerakan masyarakat yang meliputi persoalan-persoalan sosial dan lingkungan, yang menunjukan batas-batas pertumbuhan, yang mendukung etika ekologi baru, dan mengembangkan teknologi lunak yang sesuai. Gerakan yang seperti inilah terhadap suatu perhatian yang semakin besar pada ekologi, yang diungkapkan oleh gerakan-gerakan masyarakat yang meliputi persoalan-persoalan sosial dan lingkungan.
 
 
 

tugas 2

TUGAS 2
Nama : Ajeng Dwi  Rahma Putri
Kelas : PMI 2
NIM : 1113054000019
 
 
 
PEMBANGUNAN DESA INDUSTRI
BERBASIS PERTANIAN INDUSTRI
SAMPAI TAHUN 2030
 
Pembangunan dalam era reformasi juga harus dapat membawa perubahan dan menghasilkan pembaruan. Dengan bertolak dari pemikiran demikian, maka pembangunan dalam era reformasi untuk dihadapkan sampai tahun 2030 harus diberi makna perubahan yang menghasilkan pembaruan juga.kita ubah visi dan misi pembangunan nasional menjadi berawal dari desa. Desa tidak hanya menjadi fokus pembangunan, tetapi juga menjadi titik tolak pembangunan. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga manusianya. Masyarakat yang kurang pendidikannya dan kurang produktif apalagi untuk berfikir yang rasional sudah menjadi stigma yang berlaku bertahun-tahun. Semua itu kalau tidak diusahakan perubahan, lama-kelamaan desa kita akan menjadi cagar-budaya di tengah-tengah dunia yang bergelimang kapitalistik dan liberalistik ini. Reformasi yang sudah kita cetuskan harus bisa berfungsi sebagai kunci untuk membuka desa kita menjadi titik tolak pembangunan bangsa dan negara ini.
Empat paradigma baru.
 Desa memang bisa menjadi titik tolak pembangunan nasional yang bukan saja manyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia desa seutuhnya, maka keterbukaan desa menjadi persyaratan utama. Dengan keterbukaan desa maka paradigma baru yang akan saya utarakan dalam makalah saya ini bisa masuk ke dalam desa, sehingga terjadi proses reformasi di desa. Dengan demikian desa akan menjadi mandiri, tidak menjadi aparat dan tidak takut akan proses pengaruh eksternal yang masuk seperti kapitalisme, liberalisme, individualisme, karena karakter desa yang asli masih bisa membantengi , sehingga kearifan-kearifan desa tetap dominan dalam desa yang sudah bisa menerima pandangan maju. Secara riil keempat paradigma baru dapat mewujudkan skema peradaban baru di pedesaan kita. Tidak dibedakan antara desa di gunung, di pesisir, di tepi hutan, di tepi pesawahan, di dataran tinggi ataupun di dataran rendah. Tidak dibedakan pula antara masyarakat desa yang hidup dari padi, palawija, sayuran, buah-buahan, tanaman kayu, ternak, ikan ataupun dari warung, industri, perdagangan, pariwisata, pijat, tenaga, dalam dan apapun lagi lainnya. Semua bisa diwujudkan asalkan berniat mengisi reformasi pembangunan nasional kita yang bertolak dari desa. Paradigma baru yang saya kemukakan adalah pertama, bahwa pertanian itu proses industri. Kedua, bahwa pertanian dan desa itu univalent. Ketiga, bahwa desa menjadi desa industri yang berbasis pertanian industri. Keempat, bahwa desa industri itu merupakan satu sistem. Dengan paradigma baru itu maka mentalita industrial harus bisa dididikan kepada warga desa seluruhnya, termasuk petani. Petani dengan mentalita industrial mengelola usaha taninya berharap bisa merombak pemikiran petani yang saat ini berproduksi tanpa target yang jelas, tanpa berorientasi pada kontinuitas produk, tanpa berorientasi pada kualitas, dan target yang dihasilkan. Mentalita industrial juga harus dididikan pada segenap warga desa. Dengan demikian ada univalensi antara desa dan pertanian. Keduanya agar bereaksi dan menghasilkan produk maka harus bervalensi sama. Membangun desa juga berarti membengun pertanian, begitu sebaliknya. Produk dari reaksi itu ialah desa industri yang akan menghasilkan nilai tambah bagi desa dan warganya. Dengan orientasi pada menghasilkan nilai tambah itu , warga desa akan menjadi lebih progresif, krearif, dinamis semua di manfaatkan di desa. Seluruh warga desa dan petaninya perlu dididik untuk bergerak dalam pemikiran sistem. Artinya mereka mesti tahu apa-apa saja yang merupakan subsistemnya dalam desa industri yang berbasis pertanian industri. Subsistem vertikal merupakan subsistem kelembagaan, sedangkan subsistem horizontal merupakan subsistem proses. Subsistem vertikal berisikan empat lembaga yang merupakan "stakeholders" desa industri itu. Adapun subsistem horizontal merupakan subsistem proses yang terdiri dari subsistem primer yang menghasilkan benih, pupuk, pestisida, alat pertanian, dan processing.
 
Implikasi Berdirinya Desa Industri
Dengan asumsi bahwa kebijakan pembangunan nasional kita memang bisa direformasi berangkat dari desa industri  yang berbasis pertanian industri maka kita harus bisa mereformasi pertanian kita. Sungguh suatu ironi, kalau di negeri kita yang agraris dan bahari ini justru kemiskinan bersumber dari desa baik yang di gunung ataupun di pantai. Desa bukan lagi menjadi sumber "gemah ripah loh jinawi",  tetapi sumber "rumah rapuh rohnya juga mati". Desa sudah puluhan tahun ditinggalkan, meski dalam era revolusi fisik 1945-1950 menjadi sumber keunggulan perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaanya. Industri-indutri modern dan besar di bangun di lahan-lahan desa, tetapi bukan milik orang desa. Hampir semuanya milik orang luar. Jalan-jalan besar pun dibangun d atas lahan-lahan pertanian dan desa, dengan modal asing dan hutangan luar negri pemerintah. Dengan tumbuhnya desa industri akan terjadi proses konsolidasi pertanian, baik bersifat menyatunya lahan pertanian menghasilkan suatu produk bahan industri, ataupun menyatunya suatu bentuk usaha tani meski lahan produksinya berpencar-pencar. Konsolidasi pertanian demikian pada akhirnya berimplikasi terjadinya proses konsolidasi lahan. Prose ini akan menyelamatkan lahan pertanian tidak beralih fungsi, atau kalaupun harus beralih fungsi misalnya sebagai jalan tol, atau lapangan golf dalam rangka industri pariwisata.
Menghadapi Era 2030.
Dari segi kebutuhan air untuk padi sawah kita akan menghadapi tantangan dari kebutuhan air untuk pemukiman, industri, perhotelan dan lain-lain. hal itu belum kita perhitungkan betapa besarnya kita kehilangan air yang dikirim dari hulu akibat gundulnya daerah aliran sungai dan hutan-hutan kita. Ditinjau dari perubahan iklim global yang disebabkan meningginya suhu global akibat proses rumah kaca, kemudian mencairnya es kutub yang meninggikan permukaan laut, semua tentu bisa berdampak negatif pada luasnya areal pesawahan dan produksi padi kitayang sebagian besar masih hasil panen lahan sawah. Karena itu kita harus tinggalkan kebijakan perberasan in. Kita harus menggantinya dengan program pemberagaman pangan dan yang berbasis tepung. Contoh lain ialah biofuel. Inipun merupakan target jangka panjang untuk bisa di capai dalam membangun desa industri. Desa industri akan menjadi tempat pelaksanaan industri itu dan semuanya menjadi garapan warga desa dan milik warga desa. Penyiapan tenaga-tenaga SDM yang berkeahlian itu merupakan program jangka menengah. Demikian untuk berbagai materi untuk bisa diusahakan dalam pertanian industri. Subsistem primer misalnya dalam jangka menengah harus bisa menyelenggarakan sistem pengadaan benih tanaman unggulan untuk proses industri di desa industri. Dengan adanya target jangka panjang dan menengah seperti contoh di atas, maka dalam jangka pendek perlu diisi dengan program-program diseminasi ke masyarakat luas mengenai paradigma baru, program desa industri, pertanian industri, kebutuhan SDM. Perlu dalam jangka waktu pendek itu didekati "stakeholder" kelembagaan sehingga mereka memiliki wawasan yang sama dalam reformasi pembangunan yang bertitik tolak dari desa itu. Sesudah bisa dibayangkan apa yang bisa dikerjakan baik sebagai program jangka panjang, jangka menengah, maupun jangka pendek, maka untuk menghadap ke tahun 2030 dapat dikemukakan misalnya, lima tahun pertama untuk program jangka waktu pendek, sepuluh tahu berikutnya untuk jangka waktu menengah dan sepuluh tahun terakhir untuk jangka waktu panjang. Semua upaya ini merupakan proses pendidikan masyarakat baik masyarakat desa, maupun untuk segenap "stakeholders" atau subsistem vertikal maupun subsisem horizontal.
Kalau program pembangunan nasional hingga 2030 benar-benar akan direformasikan, bertitik tolak dari pembanguan pedesaan, maka terjadilah konsolidasi desa dan pertanian dalam bentuk desa industri sebagai satu sistem itu. Semua itu bisa diwujudkan apabila ada dukungan dari perguruan tinggi sebagai subsistem kelembagaan yang merupakan "think tank" dalam segala proses reformasi pertanian yang berisi konsolidasi desa dan pertanian. Semua program itu dapat direalisasikan kalau tersedia dana. Bank konsolidasi lahan yang berfungsi sebagai "pasar modal" juga akan sangat besar perannya, karena harus bisa berfungsi sebagai stimulator dan akselerator, disamping sebagai fasilitator seluruh kegiatan industri dalam desa industri yang berbasis pertanian industri itu.
 
 

Jumat, 14 Maret 2014

Della Azizah_tugas2_max weber

Teori-Teori Utama Max Weber

Della azizah_
Dalam teori max weber ada 4 teori utama yang ia kemukakan yaitu : 1. Teori kapitalisme
Awalnya teori kapitalisme ini, Max Weber mengetahui dari etika protestan yaitu yang berarti mensejahteraan manusia dan bagaimana untuk berhemat dalam hidup ini, contoh itu bisa juga di kategorikan dengan melakukan kepentingan ekonomi. Jadi menurut Max Weberkapitalisme adalah suatu upaya manusia mendapatkan keuntungan dengan usaha pribadi dan dalam kapitalisme rasional harus menggunakan perhitungan perhitungan akutansi tetapi usaha yang di lakukan bukanhanya perdagangan dan pertukaran barang.

tugas_mingguan_ADIATMA_PMI8_Sosilogi_Pedesaan

DESA: RETROSPEKSI KE-1800MENUJU PROSPEK 2030
S.M.P Tjondronegoro
ADIATMA
1110054000035
Sosiologi Pedesaan
Melakukan kilas balik atas pembangunan desa tentu sangatlah mudah di bandingkan dengan mendeskripsikan prospek desa, karena sedikit banyak mengenai masa lampau terdapat kisah dan hasil laporan tertulis, sedangkan untuk menerawang hari masa depan bisa mimpi bila data dan informasi untuk rendy Study  masih sangat kurang.

Nur Yaumil Fithroh_Tugas 2_Teori Sosiologi Max Weber

Nama                  : Nur Yaumil Fithroh

TEORI SOSIOLOGI MAX WEBER

-         Teori Karismatik

 Teori saat ini mengenai kepemimpinan karismatik amatlah berpengaruh oleh ide-ide dari ahli social awal bernama Max Weber. Karisma berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung” atau “pemberian tuhan”. Seperti kemampuan melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan. Weber (1947) menggunakan istilah itu untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh yang bukan didasarkan pada tradisi atau otoritas formal, tetapi lebih atas persepsi pengaruh pengikut bahwa pemimpin diberkati dengan kualitas yang luar biasa.

Muh Nur Muhaimin_Tugas 2_ Masa Depan Desa-desa Kita

MASA DEPAN DESA-DESA KITA
Penyusun : Muh Nur Muhaimin
    Keberadaan desa telah dikenal lama dalam tatanan pemerintahan di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Masyarakat di Indonesia secara turun temurun hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut dengan desa.
Pada zaman modern seperti saat sekarang ini yang telah kita rasakan, perubahan-perubahan sosial yang berlansung secara cepat di dalam segenap ruang lingkup kehidupan masyarakat sosial sudah ditunjukkan oleh berbagai penelitian tentang desa-desa yang berada di Indonesia khususnya di pulau jawa, yang secara pelan-pelan memperlihatkan semakin lemahnya daya dukung desa terhadap kebutuhan yang diperlukan oleh penduduknya.  Pada awal abad ke19 munculah gejala-gejala yang mengakibatkan pola kehidupan warga masyarakat desa bergeser dari sektor pertanian menjadi sektor-sektor non pertanian,  contohnya ialah dagang dalam skala kecil, buruh pabrik, buruh tani, menjual jasa dan keterampilan dan sebagainya. Karena sektor pertanian semakin lama hanya mampu memenuhi kebutuhan penduduknya pada tingkat subtansi.

Deshinta Ria Liany_Tugas2_Teori Max Weber

TEORI MAX WEBER

TEORI KAPITALISME
Etika Protestan dan kapitalisme
Kaum Marxisme menegaskan bahwa agama Protestant merupakan suatu refleksi ideologis dari perubahan-perubahan ekonomi yang didatangkan dengan perkembangan awal kapitalisme. Dengan menolak hal ini sebagai suatu titik pengelihatan yang wajar, karya Weber bermula dari keganjilan penyimpangan yang jelas terlihat dan yang diidentifikasinya serta penjelasannya merupakan orisinalitas sebenarnya dari Etika Protestan. Biasanya demikianlah bahwa mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh tidak acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan dengan agama, karena kegiatan-kegiatan mereka tertuju pada dunia ‘materil’. Akan tetapi agama Protestan disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katolik, dan dengan demikian memasukkan suatu faktor keagamaan di semua bidang kehidupan para penganutnya. Dari sini dapat dilihat hubungan antara agama Protestan dengan kapitalisme modern.

Cari Blog Ini