Senin, 21 April 2014

FittaFauziah_TugasV_KonsepPenelitianSosiologi

A. Latar yang membelakangi tingkat ekonomi mempengaruhi budaya masyarakat

Sosok pengemis dengan berbagai macam atributnya telah melahirkan
sebuah persepsi kurang menyenangkan baik dari sisi sosial maupun
ekonomi. Fenomena munculnya pengemis diindikasikan karena himpitan
ekonomi yang disebabkan sempitnya lapangan kerja, sumber daya alam
yang kurang menguntungkan dan lemahnya sumber daya manusia (SDM).
Praktek mengemis merupakan masalah sosial, di mana mereka dianggap
telah menyimpang dari nilai dan norma-norma yang berlaku. Mereka
adalah orang sehat dengan kondisi tubuh yang tidak kurang apapun (Bina
Desa, 1987 : 3). Antropolog Parsudi Suparlan (1986; 30) berpendapat
bahwa gelandangan dan pengemis sebagai suatu gejala sosial yang
terwujud di perkotaan dan telah menjadi suatu masalah sosial karena
beberapa alasan. Pertama, di satu pihak menyangkut kepentingan orang
banyak (warga kota) yang merasa wilayah tempat hidup dan kegiatan
mereka sehari-hari telah dikotori oleh pihak gelandangan, dan dianggap
dapat menimbulkan ketidaknyamanan harta benda. Kedua, menyangkut
kepentingan pemerintah kota, di mana pengemis dianggap dapat mengotori
jalan-jalan protokol, mempersukar pengendalian keamanan dan mengganggu
ketertiban sosial. Tidak ditemukan data secara pasti yang mencatat
sejak kapan munculnya tradisi mengemis. Akan tetapi, beberapa informan
mengatakan bahwa tradisi mengemis itu telah ada sejak zaman penjajahan
Belanda, antara tahun 1930-1940an. Bertahannya budaya mengemis
tersugesti oleh 'filsafat hidup' yang dipegang oleh leluhur bahwa
kalau ingin kaya harus miskin dulu, di mana miskin dimaknai dengan
susahnya untuk mempertahankan hidup, sehingga pemikiran itu mendorong
orang untuk giat bekerja dan berperilaku hemat dengan apa yang mereka
dapat.

Munculnya asumsi bahwa lahirnya budaya mengemis disebabkan oleh faktor
ekonomi merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Oleh sebab itu,
dalam menangani masalah pengemis diperlukan adanya kesadaran,
pemahaman yang komprehensif, baik dalam tataran konseptual, penyusunan
kebijakan sampai kepada implementasi kebijakan.


B. Rumusan Masalah

Dari realitas di atas, muncul pertanyaan mengapa masyarakat yang tidak
kekurangan secara ekonomi mau menekuni profesi menjadi pengemis,
bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan
bagaimana pandangan mereka tentang profesi ini, serta nilai-nilai apa
yang disosialisasikan sehingga mendorong mereka berprofesi sebagai
pengemis.

Penelitian ini difokuskan untuk melihat secara etnografis berbagai hal
menyangkut keberadaan komunitas pengemis, khususnya menyangkut
persepsi mereka tentang profesi mengemis, bagaimana proses sosialisasi
nilai itu terjadi baik pada lingkup keluarga maupun di dalam lingkup
masyarakat (komunitas) yang lebih luas. Masalah lain yang dikaji
adalah model-model (modus operandi) dalam praktek mengemis, serta
jaringan antara pengemis yang ada di desa tersebut.

Munculnya Budaya Mengemis

Tidak ditemukan data secara pasti yang mencatat sejak kapan munculnya
tradisi mengemis. Akan tetapi, beberapa informan mengatakan bahwa
tradisi mengemis itu telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, antara
tahun 1930-1940an.

Bertahannya budaya mengemis di desa ini tersugesti oleh 'filsafat
hidup' yang dipegang oleh leluhur bahwa kalau ingin kaya harus miskin
dulu, di mana miskin dimaknai dengan susahnya untuk mempertahankan
hidup, sehingga pemikiran itu mendorong orang untuk giat bekerja dan
berperilaku hemat dengan apa yang mereka dapat.

Konsep Penelitian

Agar penelitian ini terarah sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang
diterapkan, maka perlu terlebih dahulu disusun konsep pemikiran dalam
melaksanakan penelitian ini. Penelitian ini menganalisis tentang
banyaknya jumlah gelandang dan pengemis di Pusat Perbelanjaan seperti
Mall dan Pasar, Latar Belakang Pengemis, Alasan Pengemis, dimana
sasaran akhir dari program adalah meningkatkan partisipasi dari orang
lain yang mau mengeluarkan ide / pemikiran / solusi sampai
penghimpunan dana untuk membantu hidup mereka, minimal pembekalan
keterampilan mereka agar dapat berwiraswasta untuk menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Wawancara Sample

Fitta : Assalamu'alaikum

maaf mengganggu bu boleh saya mewawancarai ibu sebentar..?

Ibu Aminah : Wa'alaikum salam, oh ia boleh de.

Fitta : Nama ibu siapa terus usia ibu berapa?

Ibu Aminah : Saya Aminah usia saya 65 tahun.

Fitta : Ibu berasal dari daerah mana?

Ibu Aminah : saya dari Bogor, de.

Fitta : sudah berapa tahun ibu tinggal dan mengemis di Jakarta terus
tinggal dimana ibu? Maaf ya bu

Ibu Aminah : ±2 tahun, disini saya tidak punya tempat tinggal, saya
tidur dimana aja sama anak-anak jalanan.

Fitta : sebab ibu rela menjadi pengemis apa bu?

Ibu Aminah : sebenarnya saya tidak mau menjadi pengemis, tapi harus
bagaimana lagi, dulu saya pemulung, dibantu oleh suami dan anak saya,
kemudian suami saya meninggal, disitu saya putus asa, ekonomi saya
semakin menipis dan saya harus ngasih makan pada anak kedua saya.
Kemudian ada ibu-ibu dikampung saya mengajak saya ikut dengannya, saya
bertanya "mau dibawa kemana bu? Terus pekerjaannya apa?" tanya saya,
ibu - ibu itu menjawab,"pokoknya ibu ikut saya, nanti juga tahu"
setelah saya ikut dengannya ternyata saya diajak mengemis di
purwakarta dan anak saya di titipkan di panti asuhan.

Fitta : oh seperti itu, terus apakah ibu tidak takut tidur dimana aja?

Ibu Aminah : tidak de, karna sudah biasa, terus anak-anak jalanannya juga baik.

Fitta : maaf buu, penghasilan ibu sehari rata-rata berapa ya bu?

Ibu Aminah : Ah saya tidak banyak de, tidak seperti orang-orang di
pusat kota sehari paling banyak 30.000, seringnya mendapat 20.000 atau
15.000.

Fitta : Dari dan sampai jam berapa ibu keliling?

Ibu Aminah : dari jam 6 sampai 3 sore atau sampai dzuhur.

Fitta : Bu, Apakah ada pengemis lain yang mengemis uangnya hanya untuk
berfoya-foya?

Ibu Aminah : Oh banyak de, mereka mengemis hanya untuk mabuk-mabukan,
senang-senang, melupakan ibadah. ibu sangat menyayangkannya, ingat ya
de kita jangan sampai ketinggalan shalat yang 5 waktu.

Fitta : Pasti bu, Insyaallah tidak akan sampai begitu. Harapan ibu
kepada Pemerintah apa?

Ibu Aminah : Harapan saya, saya ingin pemerintah memberikan pekerjaan
kepada pengemis-pengemis seperti saya, seperti rencana pemerintah di
Jakarta, yang akan memperkerjakan anak jalanan, pengemis, dll sebagai
pembersih jalan dan menggajihnya setiap bulan, itu sangat mulia
dibandingkan pekerjaan ini, tapi saya sangat menyayangkan kepada
pengemis Jakarta yang tidak mau diatur oleh Pemerintah.

Fitta : emmm gitu,, Ibu mungkin segini saja, maaf ya bu sudah
mengganggu waktu ibu, makasi atas perhatiannya.

Ibu Aminah : oh ia de sama-sama


Pengemis Anak Jalanan

1.Apakah kamu masih sekolah?
Ya, saya masih sekolah kelas V SD

2.Jika kamu masih sekolah, lantas apa yang kamu lakukan di jalanan?
Saya berada di jalanan untuk membantu ibu mencari uang dengan cara mengemis

3.Dalam semingggu, berapa kali kamu melakukan pekerjaan ini?
Hampir setiap hari aku ke tempat ini untuk bekerja, mulai siang sampai malam

4.Kapan dan di mana kamu biasa melakukan pekerjaan ini?
Saya berada di tempat ini setelah saya pulang sekolah sampai nanti
malam. Saya biasanya mencari uang di depan Cinere Mall sini

5.Sejak kapan kamu melakukan pekerjaan ini?
Saya melakukan pekerjaan ini sejak saya duduk di kelas IV SD

6.Apakah kamu masih mempunyai keluarga?
Saya masih mempunyai keluarga, tapi ayah saya sudah tidak ada. Jadi
saat ini saya tinggal bersama ibu dan adik saya

7.Bagaimana kondisi ekonomi keluarga kamu?
Kondisi ekonomi keluarga saya masih kekurangan, makanya saya bekerja seperti ini

8.Apakah penghasilan dari pekerjaan ini cukup untuk kebutuhan sehari-hari?
Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan makan masih cukup, tapi jika
untuk kebutuhan yang lain masih kurang

9.Bersama siapa kamu biasa melakukan pekerjaan di jalanan ini?
Saya melakukan pekerjaan ini bersama ibu dan adik saya

10.Apa yang membuat kamu bersedia melakukan pekerjaan ini?
Saya mau melakukan pekerjaan ini karena kemauan saya sendiri untuk
membantu perekonomian keluarga dan meringankan beban ibu

11.Apa pendapat kamu tentang sekolah?
Saya merasa sekolah itu tidak enak, lebih enak bermain dengan teman
sambil mencari uang

12.Menurut kamu apakah pekerjaan ini tidak mengganggu kegiatan belajar?
Saya tidak merasa terganggu dengan pekerjaan saya sebagai pengemis disini

13.Apakah kamu tidak takut menghadapi dunia di jalanan yang keras?
Tidak, soalnya saya sudah biasa tinggal di jalanan seperti ini.
Lagipula disini temannya juga banyak

14.Permasalahan apa yang sering kamu hadapi saat kamu berada di jalanan?
Ya, saya pernah tertangkap razia paling permasalahan yang sering
timbul adalah pada saat ada razia petugas keamanan

15.Pernahkah kamu tertangkap razia petugas keamanan?
Ya, saya pernah tertangkap razia

16.Apa yang kamu lakukan pada saat ada razia oleh petugas keamanan?
Begitu saya tahu akan ada razia, saya langsung lari dan bersembunyi
ditempat yang aman

17.Apa yang dilakukan petugas keamanan kepada kamu jika kamu tertangkap razia?
Saya pernah dipukul, diinjak dan dicubit oleh petugas keamanan

18.Adakah kebahagiaan yang pernah kamu dapatkan sebagai anak jalanan?
Tidak ada, lebih enak tinggal di rumah bisa main dengan teman-teman
dantidak perlu dikejar-kejar sama petugas keamanan

19.Apa harapan dan cita-cita kamu sebenarnya?
Tidak tahu, yang jelas saya ingin bermain di rumah dengan teman-teman

20.Apa suka duka kamu saat menjadi anak jalanan?
Sukanya pada saat dapat uang banyak, kalau dukanya pada saat ditangkap
petugas keamanan.

Nur Yaumil Fithroh_Tugas 5_Laporan Penelitian Lapangan

Nama : Nur Yaumil Fithroh
NIM : 1113054100015
Jurusan : Kessos 2 A

TEMA :
PERILAKU REMAJA MEROKOK DAN DAMPAK PADA KELUARGA

I. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui orang merokok di
mana-mana, baik di kantor, di pasar ataupun tempat umum lainnya atau
bahkan di kalangan rumah tangga sendiri. Kebiasaan merokok dimulai
dengan adanya rokok pertama. Umumnya rokok pertama dimulai saat usia
remaja. Sejumlah studi menemukan penghisapan rokok pertama dimulai
pada usia 11-13 tahun (Smet, 1994).

Pada remaja saat ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat
tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan
bagi perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi
perokok sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Berbagai kandungan
zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negative pada tubuh
penghisapnya, apalagi dengan perokok pasif yang tidak merokok tetapi
merasakan dampak buruk dari rokok tersebut.

Selain dampak yang tidak sehat bagi tubuh remaja perokok, keluarga
pun merasa resah dengan anak nya yang mulai mengkonsumsi rokok yang
memiliki 4000 racun dalam 1 batang rokok.

- Mengapa Penelitian ini penting?
Maraknya perokok dan kurangnya pengawasan dari keluarga banyak anak
dibawah umur sampai remaja pun sudah mencoba untuk merokok. Dengan
berbagai macam alasan yang mungkin tidak dapat diterima karena merokok
merupakan kegiatan menyakiti diri sendiri dengan perlahan-lahan.
Merusak organ paru-paru dalam tubuh.


II. PERTANYAAN PENELITIAN
1. Dari mana remaja mengenal rokok?
2. Sejak kapan dan mengapa remaja merokok?
3. Tanggapan dan tindakan keluarga terhadap remaja merokok?

III. METODE
Metode kualitatif mengutamakan bahan atau hasil pengamatan yang sukar
diukur dengan angka atau ukuran yang matematis meskipun kejadian itu
nyata dalam masyarakat. Yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah wawancara (interview).

Erby Eko Y_Tugas 5_Laporan Penelitian Lapangan

Nama:Erby Eko Y

NIM:1113054100008

Kelas:Kessos 2A

Tema; Kesadaran Masyarakat Terhadap Kebersihan di Kranggan

 

A. LATAR BELAKANG

Kata sampah pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Jika mendengar kata sampah, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah setumpuk kotoran yang menimbulkan aroma busuk yang sangat menyengat. Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses yang cenderung merusak lingkungan di sekitarnya.

Unsur-unsur yang mempengaruhi bertambahnya jumlah sampah adalah aktivitas manusia, jumlah penduduk, dan sistem pengelolaan sampah. Pertama, sampah disebabkan oleh aktivitas manusia. Jumlah sampah tidak sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang yang kita gunakan sehari-hari. Kedua, jumlah penduduk,laju pertumbuhan penduduk yang semakin pesat di kota-kota besar, khususnya Kranggan juga menyebabkan peningkatan dari jumlah sampah. Ketiga, sistem pengelolaan sampah,sistem pengelolaan sampah, khususnya di Kranggan juga perlu mendapat perhatian khusus. Timbunan sampah yang semakin luas, terbatasnya lahan yang akan difungsikan sebagai tempat pengolahan sampah menjadi aspek yang perlu diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat. Problematika seperti ini timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam sebagai tempat pembuangan sampah.

Kesadaran masyarkat tehadap kebersihan masih sangat kurang,masih banyak yang mengesampingkan tentang kebersihan. Seharusnya masyarakat sadar dengan kebersihan karena kebersihan sangat mencermikan pribadi mereka masing-masing.

 

B. PERTANYAAN PENELITIAN

1. Bagaimana peran serta masyarakat Kranggan dalam mengelola sampah?

2. Apa yang membuat kesadaran masyarakat kurang terhadap lingkungannya?

3. Bagaimana cara  menghilangkan sifat buruk masyarakat terhadap buang sampah sembarangan?

4.  Apa solusi yang tepat dari permasalahan sampah di Kranggan?

 

C. METODE PENELITIAN

Metode yang saya gunakan yaitu metode kualitatif karena mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang di peroleh.

Rahmah Adhawiyah_Tugas5_Term Of Reference Penelitian Sosiologi

Nama: Rahmah Adhawiyah
Nim    : 1113054100037
Kesejahteraan Sosial 2A
 
 
Kehidupan dari seorang pedagang kaki lima dipasar sandratex
 
1. Latar Belakang
 
Jakarta merupakan salah satu wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang padat dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pastilah kita memerlukan penghasilan atau pendapatan.Oleh sebab itu pastilah kita membutuhkan pekerjaan yang dimana untuk menunjang kebutuhan mereka.
Namun keterbatasan pendidikan dan ekonomi,maka banyak sebagian masyarakat jakarta yang menjadi pedagang,baik pedagang yang legal mau pun ilegal contohnya pedagang kaki lima yang sering kali menjadi masalah penertiban dikota jakarta belum lama ini.
Pedagang Kaki Lima adalah mereka yang melakukankegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menjalankanusahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas umum, seperti terotoar, pinggir-pinggir jalan umum, dan lain sebagainya
Masalah pedagang kaki lima bagi sebagian orang dan pemerintahan adalah sebuah masalah bagi kota jakarta,menurut mereka. Pedagang kaki Lima merupakan suatu kelengkapan kota – kota di seluruh dunia dari dahulu. Sebagai kelengkapan, pedagang kaki lima tidak mungkin dihindari atau ditiadakan. Yang harus dilakukan dalam menyikapi keberadaan PKL tersebut adalah melalui penataan, pembinaan, dan pengawasan. PKL memiliki fungsi ekonomi, sosial, dan budaya yang membentuk suatu kawasan perkotaan.
Pada intinya adalah PKL merupakan sekelompok oarng yang melakukan kegiatan perdagangan di pinggir jalan. Keberadaan PKL berlokasi di sekitar atau dekat dengan kawasan fungsional, yang merupakan pusat kegiatan manusia.
 
 
2. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana hubungan sosial antar Pedang Kaki Lima lainnya?
2.  Apakah pendapatan anda sudah mencukupi kebutuhan sehari-hari?
3.  Dalam menjalani sebuah usaha kendala apa saja yang sering di hadapi?
 
 
3. Metode
Metode yang digunakan ialah metode Kualitatif. Karena datanya berdasarkan cara kerja dan cenderung menggunakan analisis.

Della Azizah_tugas 5_penelitian sosiologi kesadaran beretika dalam diri remaja

BAB I

PENDAHULUAN

Penelitian Sosiologi

Tema : kesadaran Beretika dalam diri Remaja

1.    Latar belakang

Remaja adalah mereka yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggung jawab. Masa remaja ditandai dengan pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah terbayangkan dan di alami.

Berbicara tentang remaja selalu dapat tanggapan yang beraneka ragam. Dalam bergaul, kita juga harusmemperhatikan tentang bagaimana etika-etikanya pergaulan yang benar. Kesadaran beretika seharusnya sudah dibangun sejak masih kecil.etika adalah aturan pergaulan hidup di masyarakat, jadi etika pergaulan remaja sendiri adala sopan santun atau tata krama dalam bergaul yang sesuai dengan situasi dan keadaan serta tidak melanggar baik  norma agama, norma kesopanan, norma adat, hukum dan lainnya.  Pada dasarnya manusia di tuntut untuk saling mengenal dan saling membantu. Namun dalam bergaul ada nilai-nilai yang harus di pedomani. Nilai-nilai tersebut harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. agar tingkah laku remaja dapat diterima dan disenangi oleh siapa saja yang bergaul dengan mereka. Dan disinilah kita akan mengetahui bagaimana pentingnya sebuah etika dalam pergaulan. Maka seluruh remaja akan menjadi terkontrol dan terkendali.tetapi yang kita lihat sekarang ini sangatlah berbeda jauh dari keinginan yang diharapkan oleh bangsa kita. Kebanyakan para remaja zaman sekarang belum mengetahui akan pentingnya etika bergaul, sehingga mereka pun bersikap semaunya tidak terkendali dan tidak terkontrol. Jadi kesadaran etika dalam remaja akan hilang  jika seorang remaja salah bergaul yang menghilangkan norma-norma yang ada.  

2.    Pertanyaan penelitian   

a.      Bagaimana meningkatkan keadaran beretika dalam diri remaja ?

b.      Bagaimana memberikan arahan agar remaja tidak salah dalam mengambil pergaulan yang salah ?

c.       Bagaimana menerapkan beretika yang baik ?

d.      Bagaiman cara untuk remaja agar berpendapat bahwa beretika itu penting ?

e.      Pergaulan bagaimanakah yang tidak melanggar norma dan yang diharapkan masyarakat ?

 

 

3.    Metode yang di gunakan

 Metode yang digukan dalam penelitian ini adalah kuatitatif yaitu metode yang mengarah pada menganalisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka dan memberikan angket kepada mahasiswa. Gejala yang di teliti di ukur dengan skala,indeks,dan tebel.

1.      Menggunakan angket

2.      Wawancara pada remaja

Meidi Kartikasari_Tugas5_Laporan penelitian lapangan

BAB I
LAPORAN PENELITIAN LAPANGAN
"Kepedulian Masyarakat Manggarai terhadap Pembuangan Limbah Sampah"
 
A.    Latar Belakang
Salah satu factor yang menyebabkan rusaknya linkungan hidup yang sampai pada saat iniyng tetap menjadi "PR" yang besar bagi seluruh masyarakat Indonesia adalah factor pembuangan limbah sampah khususnya plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit di kelola. Manusia memang di anugerahi Panca Indera yamg berguna mendeteksi berbagai macam hal yang mengancam hidupnya. Namun di dalam masyarakat modern ini muncul bebagai bentuk ancaman yang tidak terdeksi oleh panca indera kita, yaitu berbagai macam racun yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
 
Lebih dari 75.000 bahan kimia sintesis telah dihasilkan oleh manusia dalam beberapa puluh tahun terakhir. Banyak darinya yang tidak berwarna, berasa dan berbau, namun potensial menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Sebagian besar dampak yang diakibatkannya memang berdampak panjang, seperti kanker, kerusakan saraf, gangguan reproduksi dan lain-lain.
 
Sifat racun sintesis yang tidak berbau dan berwarna, dan dampak kesehatannya dalam jangka panjang, membuat lepas dari perhatian kita. Kita lebih risau dengan gangguang yang bisa kita rasakan langsung oleh Panca Indera.
 
Hal ini terlebihh dari kasus sampah, dimana gangguan nbau yang menusuk dan pemandangan (keindahan/kebersihan) sangat menarik perhatian Panca Indera kita. Begitu dominannya gangguan baud an pemandangan sampah inilah yang telah mengalihkan kita dari bahaya racun dari sampah, yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan generasi penerus kita.
 
 
B.     PERTANYAAN
1.      Apa dampak dari penguraian limbah sampah?
2.      Apa dampak dari pembakaran plastik?
 
 
C.    METODE
Berdasarkan pertanyan-pertanyaan saya diatas, metode yang saya gunakan adalah metode kualitatif.
 

Minggu, 20 April 2014

Rr Aisyah Perwitasari_Tugas5_Term Of Reference Penelitian Sosiologi

Nama : Rr. Aisyah Perwitasari

NIM : 1113054100018

Kesejahteraan Sosial 2A

Judul : Kesejahteraan Pedagang Lapak disepanjang Jalur Puncak

 

I.                   Latar belakang

Lapak ialah tempat dimana para pedagang kaki lima dijalur puncak mencari pendapatan sehari-hari. Untuk mendapatkan kesejahteraan mereka harus mempertahankan lapaknya yang akhir-akhir ini sedang tersandung masalah. Akan ada penggusuran, alasannya lapak mereka berdiri dipinggir jalan puncak yang menghalangi bangunan seperti Bank, kantor-kantor, restoran ataupun rumah-rumah warga.

Para pedagang lapak ini tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali mendirikan lapak mereka. Jadi, para pedagang hanya mengandalkan para lapaknya saja.

Pemerintah sekitar telah memberikan izin untuk mendirikan lapak meraka dengan catatan memperhatikan keindahan dan kebersihan di sepanjang jalan puncak. Ada sekitar 80 pedagang di daerah Gadog Kecamatan Megamendung.

 

II.                Pertanyaan Penelitian

1.      Bagaimana kesejahteraan para pedagang lapak?

2.   Bagaimana kehidupan mereka bila lapak mereka tergusur?

 

III.             Metode

Metode yang digunakan ialah metode Kualitatif. Karena datanya berdasarkan cara kerja dan cenderung menggunakan analisis dan tidak menggunakan uji statistik atau menghitung.

Deshinta Ria Liany_Tugas5_Term Of Reference Penelitian Sosiologi

Strategi Bertahan Hidup di Kampung Sawah dari Penggusuran Pembangunan Perumahan

I.                    Latar Belakang

Pembangunan perumahan dan permukiman dewasa ini menunjukkan perkembangan yang cukup besar, dimana hal tersebut merupakan salah satu solusi untuk memenuhi tingginya tingkat kebutuhan perumahan dan permukiman sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk terutama diperkotaan. Laju permintaan kebutuhan rumah secara nasional mencapai 800.000 unit per tahun, sementara kemampuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rumah sebesar 200.000 unit per tahun.

Untuk menjawab ketidakseimbangan itu pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 menargetkan membangun rumah baru layak huni sebesar 1.350.000 unit,  dimana untuk tahun 2007 pemerintah menargetkan mampu membangun 280.000 unit. Dilihat dari gambaran tersebut, tentunya diperlukan suatu tindakan bagi segenap organisasi yang bergerak dibidang perumahan untuk dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan perumahan. Kondisi lain yang terkait dengan pengembangan perumahan dan permukiman adalah ketersediaan lahan yang semakin sempit dengan harga lahan yang mahal, terutama di perkotaan. Kondisi ini menciptakan pilihan untuk membangun rumah susun dalam skala besar sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di perkotaan itu sendiri.

Tingginya tingkat kebutuhan perumahan baik berupa perumahan horizontal maupun rumah susun, yang mana merupakan bagian dari suatu wilayah yang tertata dengan sistematis, terencana, memiliki fasilitas lengkap bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, serta terintegrasi dengan rencana tata ruang dan rencana wilayah adalah merupakan peluang pasar yang cukup baik bagi pelaku bisnis perumahan, namun memerlukan sumber daya lahan dan dana yang cukup besar.

Konsumen perumahan terdiri dari dua kelompok yaitu masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, kepentingan bagi masyarakat ini adalah cenderung kepada kondisi perumahan yang memiliki fasilitas yang lengkap dan kemudahan akses menuju pusat kegiatannya, sehingga jenis perumahan yang dipilih pada umumnya adalah perumahan menengah dan perumahan mewah yang telah dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang memadahi seperti pengerasan jalan, open space berikut tamannya, fasilitas olah raga, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Harga yang ditawarkan oleh pengembang cenderung menjadi pilihan yang kedua karena tingkat pendapatan yang diperoleh masyarakat ini telah mencukupi untuk penyediaan perumahannya. Sedangkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kepentingan yang utama adalah keterjangkauan terhadap harga rumah yang ditawarkan oleh pengembang, sehingga jenis perumahan yang menjadi pilihannya adalah jenis rumah sederhana dengan harga murah yang umumnya memiliki fasilitas yang minim. Melihat situasi konsumen tersebut, pengembang dalam menjalankan usahanya lebih mementingkan penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dari pada penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, karena terkait dengan keamanan dan keuntungan yang lebih baik dalam berinvestasi.

Pemerintah selaku penyelenggara penyediaan perumahan bagi masyarakat terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, telah menerbitkan undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur tentang peluang kerja sama, pemberian subsidi dan pembebasan PPn, dengan maksud untuk lebih menarik minat para pengembang agar mau mengembangkan perumahan dan permukiman bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, sehingga dapat membantu percepatan tugas pemerintah dalam penyediaan perumahan bagi masyarakat, serta dapat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dari sisi keterjangkauan daya beli.

Dengan melihat kondisi tersebut diatas maka perlu dibangun suatu sistem yang dapat memberikan kemungkinan dapat memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan penyediaan perumahan. Salah satu solusi tersebut adalah kerja sama antar berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta untuk pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman bagi masyarakat. Dengan pola kerja sama akan diperoleh banyak manfaat antara lain terpenuhinya kebutuhan perumahan.

Namun di desa Kampung Sawah banyak rumah penduduk yang mengalami penggusuran akibat pembangunan perumahan Harvest City. Sebagian penduduk setuju dan pergi meninggalkan tempat tinggalnya, namun sebagian ada yang bertahan menempati tempat tinggalnya.

 

II.                  Pertanyaan Penelitian

1.       Apa yang melatarbelakangi penggusuran rumah penduduk di Kampung Sawah terjadi?

2.       Siapa pelaku dari penggusuran rumah penduduk tersebut?

3.       Dampak yang diperoleh dari penggusuran rumah penduduk tersebut.


III.           Metode

Metode kualitatif mengutamakan bahan atau hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka atau ukuran yang matematis meskipun kejadian itu nyata dalam masyarakat. Beberapa metode yang termasuk dalam metode kualitatif adalah sebagai berikut:

·          Metode historis, yaitu metode pengamatan yang menganalisisperistiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

 

·          Metode komparatif, yaitu metode pengamatan dengan membandingkan bermacam-macam masyarakat serta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan sebagai petunjuk tentang perilaku suatu masyarakat pada masa lalu dan masa mendatang.

 

·          Metode studi kasus, yaitu suatu metode pengamatan tentang suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga, ataupun individu-individu. Alat-alat yang digunakan dalam studi kasus adalah wawancara (interview), pertanyaan-pertanyaan atau kuesioner (questionaire), daftar pertanyaan, dan teknik keterlibatan si peneliti dalam kehidupan sehari-hari dari kelompok sosial yang sedang diamati (participant observer technique).

Elita Noveliyanti_Tugas5_Term Of Reference Penelitian Sosiologi

Nama   :Elita Noveliyanti

Nim     :1113054100002

Kelas   :Kesejahteraan sosial 2A

 

TEMA: Kehidupan Masyarakat miskin (pengemis) didaerah komplek perumahan bintaro

I.Latar Belakang
            Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Seharusnya pengemis di bantu oleh pemerintah dengan memeberikan mereka pelatihan-pelatihan agar mereka memepunyai keahlian,setelah mereka mempunya keahlian pemerintah seharusnya memberikan modal agar kemampuan yang mereka punya dapat berguna dan bermanfaat untuk hidup mereka yakni membantu keadaan ekonomi mereka sendiri.

            Alasan seseorang atau kelompok menjadi pengemis kebanyakan yaitu: pertama, karena secara lahir mereka cacat dan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja, pun tak ada yang menangung biaya hidupnya. Mereka memperlihatkan kecacatannya untuk mengundang belas kasih orang lain. Kedua, karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Ketiga, karena terpaksa. Entah terpaksa oleh keadaan atau dikoordinir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung  jawab.

            Anggapan masyarakat terhadap pengemis yaitu orang malas yang tidak mau bekerja untuk dirinya sendiri maunya hanya meminta-minta saja padahal masih banyak yang bisa di lakukan mereka tidak dengan mengemis seperti menjadi pembantu rumah tangga,tukang kebun atau lainnnya.

II. Pertanyaan Penelitian

-          Bagaimana seluk beluk pengemis di komplek perumahan jln.puter bintaro sektor 5?

-          Bagaimana keadaan kehidupan pengemis di daerah ini?

 

III. Metode

            Metode yang di gunakan yaitu metode kualitatif karena mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang di peroleh. Dan sebagai jenis penelitian yang temuannya tidak di peroleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.

Julia Rahmania_Tugas5_Term Of Reference Penelitian Sosiologi

JUDUL           : PROFIL PENERIMA BERAS MISKIN (RASKIN) DI SEKITAR DAERAH SAWANGAN
 
NAMA            : JULIA RAHMANIA
NIM                : 1113054100012
JURUSAN      : KESEJAHTERAAN SOSIAL
KELAS           : 2A
 
I.                   LATAR BELAKANG
 
Raskin adalah salah satu program pemerintah untuk membantu masyarakat yang miskin dan rawan pangan, agar mereka mendapatkan beras untuk kebutuhan rumah tangganya. Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin.
Tidak semua masyarakat Indonesia yang berhak atas raskin, hanya mereka yang tergolong miskin dan rawan pangan yang dapat menerima raskin. Untuk memilih kelompok yaitu sesuai criteria yang ditetapkan data keluarga miskin dan rawan pangan dikumpulkan dari berbagai sumber seperti kelurahan, LSM, dll.
Biaya hidup yang semakin naik dari tahun ke tahun tetapi pendapatan yang stagnan (bahkan minim) dari masyarakat marginal atau miskin adalah asusmi awalnya.

II.                PERTANYAAN PENELITIAN
1.      Apa yang menyebabkan raskin ini ada?
2.      Siapakah penerima raskin sesungguhnya?
3.      Apa tanggapan warga sekitar tentang adanya raskin?
 
III.             METODE PENELITIAN
Menggunakan Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang dalam menganalisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka. Gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel, atau formula-formula tertentu yang cenderung menggunakan uji statistik. Menurut Creswell dalam Asmadi Alsa (2007), penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berwujud bilangan, yang dianalisis menggunakan statistik. Fungsinya untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik. Selain itu juga untuk melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu memengaruhi variabel yang lain. Kajian pustaka dilakukan dengan uji lapangan dan mencari literatur di internet.


 
 
 

Cari Blog Ini