Rabu, 14 Mei 2014

Noor rachmawaty_tugas 2_max weber

Karya Weber pada dasarnya adalah mengemukakan teori tentang rasionalisasi (Brubaker, 1984). Secara spesifik, berkembangnya brokrasi dalam kapitalisme modern, merupakan sebab-akibat dari rasionalisasi hukum, politik, dan industri. Menurutnya, birokratisasi itu sesungguhnya merupakan wujud dari administrasi yang konkrit dari tindakan yang rasional, yang menembus bidang peradaban Barat, termasuk kedalamnya seni musik dan arsitektur. Kecenderungan totalitas ke arah rasionalisasi di dunia Barat merupakan hasil dari pengaruh perubahan sosial.
Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Akan tetapi, pembedaan yang diperlakukan tentang subyek dan obyek tidak harus melibatkan pengorbanan obyektivitas di dalam ilmu-ilmu sosial, atau pembedaan yang menyertakan intuisi sebagai pengganti untuk analisis sebab-musabab yang dapat ditiru. Menurut Weber, ilmu-ilmu sosial bermula dari suatu perasaan bertanggungjawab atas masalah-masalah praktis, dan kemudian dirangsang oleh rasa keharusan manusia memberi perhatian demi terjadinya perubahan sosial yang diinginkan (Giddens, 1986: 164).
Penggunaan ilmu pengetahuan empiris dan analisis logis dapat memperlihatkan kepada seseorang tentang apa yang dapat dicapainya, atau akibat apa saja yang terjadi selanjutnya, serta membantunya menjelaskan sifat dari ideal-idealnya. Akan tetapi, ilmu pengetahuan itu sendiri sulit untuk menerangkan kepadanya tentang keputusan apa yang harus diambil. Analisis Weber mengenai politik dan tentang logika motivasi politik, didasarkan atas pertimbangan-perimbangan ini. Perilaku politik dapat diarahkan dalam suatu etika dari maksud-maksud pokok atau dalam suatu etika pertanggungjawaban. Perilaku ini pada akhirnya bersifat keagamaan, atau paling tidak memiliki bersama dengan perilaku keagamaan dengan atribut-atributnya yang luar biasa.
Inti dari pembahasan Weber tentang sifat obyektivitas merupakan usaha untuk menghilangkan kekacauan, yaitu yang menurut Weber seringkali dianggap menutupi pertalian yang logis antara pertimbangan-pertimbangan ilmiah dan pertimbangan-pertimbangan nilai. Arah tujuan tulisan-tulisan empiris dari Weber sendiri—yang tampak dalam Economy and Society—menyebabkan suatu perubahan tertentu dalam penitikberatan di dalam pendirian tersebut. Weber tidak melepaskan pendirian fundamentalnya tentang pemisahan logis dan mutlak antara pertimnbangan-pertimbangan faktual dan pertimbangan-pertimbangan nilai. Dengan demikian, sosiologi itu sendiri berkaitan dengan perumusan dari prinsip-prinsip umum dan konsepsi-konsepsi jenis umum yang ada hubungannya dengan tindakan sosial. Sebaliknya, sejarah diarahkan ke analisis dan penjelasan sebab-musabab dari tindakan-tindakan, struktur-struktur dan tokoh-tokoh yang khusus dan yang dalam segi budaya memiliki arti penting. (Giddens, 1986: 168-178).
Di sisi lain, Weber dan Marx tampaknya setuju untuk menolak idealisme Hegel, yang menyatakan bahwa di dunia ada yang mendominasi, yaitu national spirit (folk spirit). Durkheim menyatakan bahwa memang ada semangat tertentu dalam kelompok yang mengikat sehingga menjadi unit analisis. Asumsi dasar Marx mengenai saling ketergantungan antara pelbagai institusi dalam masyarakat juga ditekankan dalam fungsionalisme Durkheim, Misalnya, pandangan keduanya mengenai pentingnya hasil tindakan yang tidak dimaksudkan, yang sebenarnya bertentangan dengan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh tentang ini, dapat dilihat pula dalam pengaruh-pengaruh yang tidak diharapkan dari investasi kapitalis yang dimaksudkan untuk meningkatkan keuntungan, akan tetapi secara tidak disengaja mempercepat krisis ekonomi (Johnson, 1986: 163).
Konvensionalisme dalam Perubahan Sosial Menurut Weber:
Assumption &
Beliefs Concerning
Conventionalism
Max Weber
(1864-1920)
Idealism
Stereotype "Volintarism"
1. The Image
Individual
Positive
2. The Image of
Society
Social Structure:
A Network of Meaning
(The relationships between social actions, the social structures, and institutions of capitalism)
3. The Image
Theory
Verstehen:
Empathy Interpretation
4. Methodological
implications
Qualitative Approach
5. Other Label:
- Purdeu (1986)
- Ritzer (1985)
-Pluralist Paradigm
-Social Definition Paradigm


Hubungan Tentang Agama dan Kapitalisme:
  1. Mempelajari agama dengan mengkritisi kehidupan agama sebagai subyek analisis mendalam.
  1. Melihat adanya spirit agama untuk memobilisir kekuatan ekonomi sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan
  1. Verstehen adalah upaya ekploitasi subyektif nilai-nilai perilaku beragama setiap individu anggota masyarakat
  1. Menganggap kapitalisme berasal dari suatu rasionalitas adanya ide keagamaan (irrational callings)—dalam Calvinisme—sehingga orang bekerja keras demi panggilan Tuhan.
  1. Profesional yang tinggi (etos kerja) ini berada dalam semangat kapitalisme dan etika protestan.

Hubungan Antara Agama dan Rasionalitas dengan Perubahan Sosial.
Konsep Perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang saling mencari pengaruh, yaitu kubu materialisme yang dipelopori oleh Marx dan Durkheim. Dalam proses perubahan sosial, Marx menempatkan kesadaran individu sejajar dengan kesadaran kelas, ideologi dan budaya yang kemudian merupakan medium perantara antara struktur dan individu. Sebab, pada dasarnya, individu itu baik, tetapi masyarakatlah yang membuatnya menjadi jahat. Meskipun Marx dan Weber sama-sama setuju bahwa basis kapitalisme modern adalah produksi masyarakat, akan tetapi Marx mengkhususkan diri dalam kiprahnya, sebab, dinamika sosial adalah faktor penyebab terjadinya konflik total.
Mengenai hubungan Weber dan Marx adalah bahwa ia dipandang lebih banyak bekerja menurut tradisi Marxian ketimbang menentangnya. Karyanya tentang agama (Weber, 1951; 1958a; 1958b), apabila diinterpretasikan menurut sudut pandang ini adalah semata-mata merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa agama bukanlah satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi gagasan, akan tetapi gagasan itu sendiri yang mempengaruhi struktur sosial. Interpretasi karya Weber pada sisi ini jelas menempatkannya sangat dekat dengan teori Marxian. Contoh yang lebih baik dari pandangan bahwa Weber terlihat dalam proses membalikan teori Marxian adalah dalam bidang teori stratifikasi (Ritzer & Goodman, 2003: 36).
Struktur sosial dalam perspektif Weber, didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Jadi, misalnya suatu hubungan sosial seluruhnya dan secara eksklusif terjadi karena adanya probabilitas, dimana akan ada suatu arah tindakan sosial dalam suatu pengertian yang dapat dimengerti secara berarti. Suatu keteraturan sosial yang absah didasarkan pada kemungkinan bahwa seperangkat hubungan sosial akan diarahkan ke suatu kepercayaan akan validitas keteraturan itu. Dalam semua hal ini, realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih besar ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subyektifnya. Karena orientasi subyektif individu mencakup kesadaran akan tindakan yang mungkin dan reaksi-reaksi yang mungkin dari orang lain.
Weber juga mengakui pentingnya stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang fundamental untuk kelas perubahan. Baginya, kelas sosial terdiri dari semua mereka yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi. Menurutnya, kita dapat bicara tentang suatu kelas apabila: (1) sejumlah orang sama-sama memiliki sumber hidup mereka sejauh; (2) komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa kepemilikan benda-benda dan kesempatan memperoleh pendapatan yang terlihat dalam; (3) kondisi-kondisi komoditi atau pasar tenaga kerja (Johnson, 1986: 222).
Weber memandang Marx dan para penganut Marxis pada zamannya sebagai determinis ekonomi yang mengemukakan teori-teori berpenyebab tunggal tentang perubahan sosial. Artinya, teori Marxian dilihat oleh Weber sebagai upaya pencarian semua perkembangan historis pada basis ekonomi dan memandang semua struktur kontemporer dibangun di atas landasan ekonomi semata. Salah satu contoh determinisme ekonomi yang menggangu pikiran Weber adalah pandangan yang mengatakan bahwa ide-ide hanyalah refleksi kepentingan materil (terutama kepentingan ekonomi), dan bahwa kepentingan materi menentukan ideologi (Ritzer & Goodman, 2003: 35).
Weber mencurahkan perhatiannya pada gagasan dan pengaruhnya terhadap ekonomi. Dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), Weber membahas pengaruh gagasan keagamaan terhadap ekonomi. Ia memusatkan perhatian pada Protestanisme terutama sebagai sbuah sistem gagasan, dan pengaruhnya terhadap kemunculan sistem gagasan yang lain, yaitu semangat kapitalisme, dan akhirnya terhadap sistem ekonomi kapitalis. Weber mencurahkan perhatian serupa terhadap agama dunia yang lain, dengan mempelajari bagaimana cara gagasan keagamaan itu merintangi perkembangan kapitalisme dalam masyarakatnya masing-masing (Weber, 1951; 1958). Berdasarkan karya-karya Weber ini, kesimpulannya adalah bahwa Weber mengembangkan gagasan yang bertentangan dengan gagasan Marx.
Konsep legitimasi keteraturan sosial mendasari analisa Weber mengenai institusi ekonomi, politik, dan agama, serta interpretasinya mengenai perubahan sosial. Stabilitas keteraturan sosial yang absah, menurut Weber, tidak tergantung semata-mata pada kebiasaan saja atau pada kepentingan dari individu yang terlibat. Artinya, uniformitas perilaku tidak diperkuat oleh sanksi eksternal. Justru sebaliknya, hal ini didasarkan pada penerimaan individu akan norma-norma atau peraturan-peraturan yang mendasari keteraturan itu sebagai sesuatu yang dapat diterima atau yang diinginkan (Giddens, 1986).
Otoritas legal rasional tersebut di atas, diwujudkan dalam organisasi birokratis. Analisa Weber yang sangat terkenal mengenai organisasi birokratis berbeda dengan sikap yang umumnya terdapat pada masa kini, yang memusatkan perhatiannya pada birokrasi yang tidak efisien, boros, dan nampaknya tidak rasional lagi. Sebaliknya, dalam membandingkan birokrasi dengan bentuk-bentuk administrasi tradisional kuno yang didasarkan pada keluarga besar dan hubungan pribadi, Weber melihat birokrasi modern sebagai satu bentuk organisasi sosial yang paling efisien, sistematis, dan dapat diramalkan. Walaupun organisasi birokratis yang sebenarnya tidak pernah sepenuhnya mengabaikan timbulnya hubungan-hubungan pribadi, namun stidaknya sebagian besar analisa Weber mengenai birokrasi ini mencakup karakteristik-karakteristik yang istimewa, dan dipandang sebagai tipe yang ideal (Johnson, 1986: 226).

Teori Rasionalitas Perubahan Sosial Max Weber (1864-1920) adalah sebagai berikut:
  1. Traditional RationalityTujuannya adalah perjuangan nilai yang berasal dari tradisi kehidupan masyarakat (sehingga ada yang menyebut sebagai tindakan yang non-rational).
  2. Value Oriented Rationality: Suatu kondisi dimana masyarakat melihat nilai sebagai potensi hidup, sekalipun tidak aktual dalam kehidupan keseharian.
  3. Affective Rationality: Jenis Rational yang bermuara dalam hubungan emosi yang sangat mendalam, dimana ada relasi hubungan khusus yang tidak dapat diterangkan di luar lingkaran tersebut.
  4. Purpossive RationalityTujuannya adalah "tindakan" dan "alat" dari bentuk rational yang paling tinggi yang dipilihnya"Etika Protestan" dan "Semangat "Kapitalisme".
Inti Teori Weber tentang perubahan sosial adalah terletak pada:
  1. Weber dan Marx tampaknya setuju untuk menolak idealisme Hegel, yang menyatakan bahwa di dunia ada yang mendominasi, yaitu national spirit (folk spirit). Durkheim juga menyatakan bahwa memang ada semangat tertentu dalam kelompok yang mengikat sehingga menjadi unit analisis (analisis parameter)
  2. Berbeda dengan Weber yang menyatakan bahwa sebelum terjadinya teknologi terlebih dahulu telah terjadi perubahan gagasan baru dalam pola pemikiran masyarakat, dalam pemikiran Marx justru sebaliknya.
  3. Marx dan Weber sama-sama setuju bahwa basis kapitalisme modern adalah produksi masyarakat.

Selasa, 13 Mei 2014

Meidi Kartikasari_tugas6_penelitian lapangan tentang kehidupan pedagang kecil

BAB I
T.O.R PENELITIAN LAPANGAN
"Kehidupan Pedagang kecil di daerah Kuningan, Jakarta Selatan"
 
A.   Latar Belakakang
Pada umumnya kota adalah tempat pemukiman yang relative besar,penduduknya sangat padat,dan permanen dari individu yang secara sosial heterogen, semakin besar semakin padat. Dengan begitu kota merupakan pusat masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari.
Dari hal itu perkembangan waktu kota dianggap sebagian besar  penduduk sebagai tempat yang menjanjikan dalam mencari mata pencaharian. Banyak orang yang pindah dari desa ke kota.Dalam beberapa hal itu,menyebabkan perubahan mereka itu. Kebanyakan warga perkotaan menjadi bersifat individualis dan interaksianya bersifat impersonal, dan menciptakan orientasi masyarakat hanya ingin mendapatkan sebatas keuntungan ekonomi untuk dirinya sendiri, hal ini membuat semakin lemah ikatan kelompok kekerabatan antar warga. Ini akan menimbulkan serentetan masalah bagi masyarakat bersangkutan, oleh karenanya masyarakat kota haraus dapat membangun mekanisme-mekanisme baru untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan psikologi.
 
B.   Metode Sosiologi yang digunakan
Dalam penelitian ini saya menggunakan metodelogi sosiologi dari Emil Durkhem. Karena pada penelitian yang saya ambil, memiliki subjek yang bisa digolongkan sebagai kelompok. Metodenya jelas yaitu, obsevasi karena saya terjun langsung ke kelompok masyarakat tersebut.
 
C.   Tujuan
Untuk mengungkapkan dan menjelaskan pandangan terhadap pedagang kecil di derah kuningan, Jakarta selatan tersebut. Dengan memahami pola, maka dapat dikenali dan ditemui kendala dan hambatan yang dapat terjadi dalam berupaya mencari nilai tambah dan cenderung berwawasan kedepan lebih baik.
Sedangkan tujuan praktisnya adalah tersedianya data bagaimana pandangan pedagang kecil ini akan hal ketertiban. Yang mana berhubungan dengan pemahaman warga akan hal menjaga dan menciptakan keteraturan dalam kehidupan bersama dengan elemen masyarakat lainnya.
D.   Kegiatan
1.      Nama kegiatan : Penelitian lapangan dengan tema "Kehidupan  masyarakat kecil di daerah Kuningan,Jakarta selatan".
2.      Bentuk kegiatan : Penelitian lapangan langsung untuk mengetahui sisi lain dari kehidupan pedagang kecil di Jakarta khususnya di daerah Kuningan, Jakarta selatan.
 
E.    Waktu , Tempat , dan Narasumber
Hari/Tanggal : Kamis , 8 Mei 2014
Waktu           : 10.00 – sampai dengan selesai
Tempat          : bawah halte busway GOR Sumantri (depan Plaza Festival) Kuningan,jak-sel.
Narasumber  : 1. Ibu Hartati (penjual gorengan)
                        2.Bapak Hendri (penjual minuman)
 
F.    Pertanyaan dan Jawaban
1.      Maukah bapak kalau diberi tempat khusus untuk berdagang?
Jawab : Mau saja, tapi tidak sanggup untuk membayarnya
 
 
 
G.   Metode
Dalam penelitian lapangan dengan tema tersebut metode yang saya gunakan adalah kualitatif.
 
H.   Penutup
Demikian laporan penelitian lapangan ini saya sampaikan,semoga informasi yang saya dapat dalam kegiatan  tersebut bisa berguna untuk orang banyak .Atas perhatianya saya ucapkan terima kasih, semoga mendapat respon dan dukungan yang positif.
 

Agung Laksono Wibowo_Tugas 6_TOR & Hasil Penelitian Tema Ke-2

Meledaknya Urbanisasi Keterbatasan Lahan Pemukiman Penduduk DKI
 
       I.            Latar Belakang
   Manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari sandang, pangan dan tempat tinggal yang layak, untuk mendapatkan semua itu, maka harus dilakukan usaha yang ekstra. Mendapatkan kehidupan yang lebih baik adalah hak asasi setiap manusia, oleh karena itu usaha atau kegiatan manusia mencari kehidupan yang lebih baik tidak dapat dipisahkan dari sekitar kita.
   Migrasi menurut KBBI (2007) adalah perpindahan penduduk dari satu tempat (negara dsb) ke tempat (negara dsb) lain untuk menetap. Terdapat beberapa macam pola perpindahan penduduk, misalnya imigrasi (perpindahan penduduk ke luar negeri), emigrasi (perpindahan penduduk dari luar ke dalam negeri), transmigrasi (suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk ke daerah lain di dalam wilayah Indonesia) dan urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota).
   Keinginan warga desa di daerah untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi dan tempat tinggal yang layak secara instan telah menjadi polemik bagi sebagian kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dsb. Daya tampung dari kota-kota tersebut tidak seimbang dengan jumlah para transmigran. Kemacetan lalu lintas, munculnya pemukiman kumuh, pemukiman liar dan polusi karena industri merupakan contoh dari dampak urbanisasi. Disamping itu, terdapat cukup banyak kendala bagi pemerintah kota untuk mengetahui jumlah penduduknya adalah banyaknya transmigran gelap yang bertambah di kota- kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta setiap tahunnya.
   Urbanisasi memiliki faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik urbanisasi antara lain kehidupan kota yang lebih modern, sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap, banyak lapangan pekerjaan di kota dan pendidikan yang lebih berkualitas di kota. Sedangkan faktor pendorong urbanisasi adalah lahan pertanian yang semakin sempit, lapangan pekerjaan yang terbatas, sarana dan prasarana yang terbatas, memiliki impian kuat untuk menjadi orang kaya. Dampak dari urbanisasi terhadap kota tujuan antara lain kemerosotan lingkungan fisik, seperti polusi, konvensi lahan dan lahan tidur yang kurang terkontrol dan meningkatnya lahan pemukiman kumuh. Rusaknya fasilitas umum karena kurangnya kesadaran warga kota dan merasa fasilitas tersebut bukan miliknya. Pemukiman kumuh yang tumbuh di bantaran sungai juga merupakan dampak negatif dari urbanisasi, imbasnya banjir karena warga yang membuang sampah ke sungai, pencemaran oleh limbah domestik dan masalah kesehatan warga sekitar bantaran karena mengkonsumsi air dari sungai yang tercemar. Mungkin agak keluar dari konteks, tapi orang-orang di Indonesia memang kuat dan tahan banting, buktinya banyak pemukiman di bawah SUTET dan hidup di bantaran sungai.
A.    Penting Penelitian
     Adapun alasan saya mengangkat tema penelitian ini, karena tema "Meledaknya Urbanisasi Keterbatasan Lahan Pemukiman Penduduk DKI" cukup menarik untuk saya observasi dalam tugas penelitian ini. Terkait dengan tema yang saya angkat ini, merupakan salah satu permasalahan sosial Negara Indonesia ini dari tahun ke tahun, hingga sekarangpun pemerintah kewalahan dalam mengentaskan permasalahan ini. Untuk itu, saya mengambil tema ini yakni untuk sarana pembelajaran, maupun kajian bagi saya pada permasalahan sosial di Negara ini, khususnya kota metropolitan, Jakarta.
B.     Asumsi
   Urbanisasi dipicu dengan adanya perbedaan pertumbuhan atau ketidakmerataan fasilitas pembangunan, khususnya antara daerah pedesaan dan perkotaan. Akibatnya, wilayah perkotaan menjadi magnet menarik bagi kaum urban untuk mencari pekerjaan. Dengan demikian, urbanisasi sejatinya merupakan suatu proses perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk atau masyarakat. Akan tetapi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, meledaknya urbanisasi merupakan salah satu polemik yang dibilang menjadi permasalahan sosial yang menjadi beban berat bagi Pemerintah Pusat maupun Pemprov untuk mengentaskan permasalahan sosial tersebut.
 
    II.            Teori Penelitian
 
   Teori yang saya gunakan dalam observasi ini ialah tindakan sosial menurut Max Weber, yang terjadi ketika individu melekatkan makna subjektif pada tindakan mereka. Hubungan sosial menurut Weber , yaitu suatu tindakan dimana beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan saling menanggapi. Sedangkan metode yang saya lakukan adalah observasi dengan wawancara dan hasil dari observasi saya berupa narasi.
 
 III.            Metode Penelitian
   Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara langsung kepada narasumber dan melakukan pengamatan dilapangan (observasi). Metode wawancara atau metode interview, mencakup cara yang dipergunakan seseorang untuk tujuan atau tugas tertentu mencoba mendapatkan keterangan dari responden.wawancara dalam suatu penelitian  yang bertujuan mengumpulkan keterangan-keterangan merupakan pembantu utama dari metode observasi. Dan menggunakan pula metode kuantitatif, yang menunjukkan data statistic matematis.
 
 
 IV.            Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimanakah dampak yang ditimbulkan dari meledaknya urbanisasi bagi pemukiman penduduk DKI ?
2.      Apakah motif dari para pelaku urban di DKI Jakarta ?
 
    V.            Area Riset
Lokasi yang saya jadikan sebagai objek observasi adalah  pemukiman penduduk di Bantaran Sungai Pesing, Grogol, Jakarta Barat. Subjek saya dalam observasi ini adalah Penduduk yang bermukim di Bantaran Sungai Pesing,Grogol, Jakarta Barat.
 
 VI.            Laporan Penelitian
 
Persoalan pemukiman yang berada di wilayah "abu-abu" seperti bantaran sungai, kolong tol, dan pinggiran waduk kerap menjadi persoalan berlarut-larut di kota-kota besar Indonesia, termasuk Jakarta. Menurut Dinas Perumahan DKI Jakarta, jumlah penduduk tahun 2011 adalah sejumlah 9.607. 787 jiwa dengan kepadatan penduduk 13. 157, 63 jiwa/km2. Dari jumlah tersebut, penduduk miskin di Jakarta pada Maret 2012 berjumlah 363.200 jiwa (3,69%) .
 
Dari 662 km2 luas DKI Jakarta, 49,47% di antaranya adalah perumahan dan permukiman di mana 5,4% di dalamnya adalah permukiman kumuh. Data direktori Kumuh Tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Pemerintah DKI Jakarta menyebutkan bahwa masih ada 392 RW kumuh di Jakarta. Berdasarkan hasil survei di atas, hal tersebut dilatarbelakangi oleh meledaknya angka urbanisasi yang menyebabkan keterbatasan lahan pemukiman bagi penduduk DKI. Sehingga mau tidak mau, suka maupun tidak suka, mereka para pelaku urban, khususnya warga sekitar bantaran sungai pesing, Grogol, Jakarta Barat yang telah saya observasi, mereka dengan sangat terpaksa bermukim di sana karena mereka tidak mampu menemukan kehidupan layak yang berdampak pada kemiskinan. Yang pada akhirnya mereka membangun bedeng atau gubuk di sekitar bantaran sungai pesing. Dan hal itu pula ditengarai oleh terbatasnya lahan pemukiman di DKI Jakarta yang mayoritas dibangun lahan perindustrian maupun perumahan elit.
 
Narasumber :
Nama  : Suparjo
Usia    : 55 tahun
Profesi : Pedagang Kelontong
Daerah Asal : Wonogiri
 
VII.            Kesimpulan
 
   Urbanisasi adalah masalah penyebaran penduduk yang tidak merata antara wilayah desa dengan wilayah kota yang dapat menimbulkan beragam permasalahan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Urbanisasi merupakan salah satu proses yang tercepat di antara berbagai perubahan sosial di seluruh dunia termasuk Indonesia sendiri. Masyarakat yang melakukan urbanisasi memiliki beberapa alasan dilihat dari faktor pendorong dan penarik. Faktor-faktor tersebut bisa mengarahkan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang layak, tetapi hal tersebut hanya bisa terlaksana bila para urban memiliki skill yang dibutuhkan di daerah tujuan.
 
Urbanisasi menimbulkan banyak masalah diantaranya yakni minimnya lahan kosong di daerah perkotaan, meningkatkan kemacetan, pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi, menambah polusi di daerah perkotaan dan masalah yang paling signifikan yaitu meningkatnya angka kemiskinan. Masalah yang ditimbulkan urbanisasi begitu banyak, oleh karena itu perlu segera penanganan yang serius dari pemerintah daerah, dan juga pemerintah pusat. Namun pada akhirnya, berbagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi urbanisasi memerlukan kerja sama dari berbagai pihak mulai dari pemerintah dan penduduknya. Tanpa adanya sinergisitas dalam melaksanakan upaya penekanan urbanisasi, maka meledaknya urbanisasi tidak akan dapat ditanggulangi.

 
Nama : Agung Laksono Wibowo
NIM   : 1113054100004
Kelas  : 2A
Prodi  : Kesejahteraan Sosial
 

Cari Blog Ini