Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Minggu, 18 Mei 2014
Lisda Nur Asiah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian Tema ke 3
Sabtu, 17 Mei 2014
Dinara Oktaviana_Tugas7_Hasil laporan penelitian
KEHIDUPAN SEORANG PENJUAL BAJIGUR DI JAGAKARSA
I. Latar Belakang
Maraknya makanan cepat saji (fast food) dan junk food yang menawarkan berbagai macam pilihan dengan harga bervariasi mulai dari harga yang mahal sampai murah membuat masyarakat lebih memilih makanan tersebut. Selain banyak pilihan dan harga terjangkau, makanan cepat saji mudah didapatkan hanya dengan memesan melalui telepon dan akan diantar sampai rumah atau tempat yang ingin dituju serta menjanjikan ketepatan waktu. Kemudahan-kemudahan yang diberikan selain memanjakan masyarakat dapat pula membuat masyarakat lupa akan keberadaan para penjual makanan tradisional. Keadaaan seperti ini sungguh tidak baik dan bagaikan satu hantaman bagi para penjual makanan dan jajanan tradisional. Salah satu yang merasakan dampak dari makanan cepat saji ialah penjual bajigur. Bajigur, minuman tradisional dari Jawa Barat yang berbahan utama gula aren dan santan. Minuman ini begitu populer dimasanya sebelum tergerus oleh zaman. Bajigur biasa disajikan bersama pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus, kacang kedelai, klepon, kue pisang, timus dan lain sebagainya. Tetapi bajigur tidak sepopuler dulu, eksistensi penjual bajigur semakin jarang bukan berarti telah punah. Masih ada beberapa dari mereka bertahan hidup dengan menjual bajigur. Walau harus diakui bahwa penghasilan dari menjual bajigur di zaman modern tidak sebesar dulu.
- Mengapa penting untuk diteliti
Zaman semakin berkembang menuju modern dan banyak pilihan kuliner yang ditawarkan. Sedangkan bajigur minuman tradisional, mungkin kini hanya para orang tua yang kenal dengan bajigur. Penting untuk diteliti agar dapat mengetahui bagaimana bajigur menghidupi para penjual minuman tradisional.
- Asumsi
Adanya berbagai makanan dan minuman yang kekinian, membuat para penjual makanan dan minuman tradisional semakin terpojokkan.
II. Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
III. Pertanyaan Penelitian
1) Bagaimana kehidupan seorang penjual bajigur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ?
IV. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati kehidupan seseorang yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik
V. Area Riset
Penelitian dilaksanakan di jalan belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mewawancarai seorang penjual bajigur yang sedang berdagang. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2014.
VI. Pertanyaan Lapangan
1) Apakah dengan menjual bajigur pilihan terakhir ?
2) Apakah bajigur masih menjadi minuman yang dicari masyarakat ?
3) Bagaimana cara menarik masyarakat agar tertarik dengan bajigur ?
4) Berkeliling mulai jam berapa ?
5) Anda seorang perantau atau asli sini ?
VII. Hasil Laporan Penelitian
Seorang penjual bajigur yang dikenal sebagai pak Ali sudah sejak lama menjual bajigur sekitar dari tahun 1997 hingga sekarang. Beliau mengaku saat ini hanya dapat menjual bajigur untuk menghidupi istri dan membiayai sekolah tiga anaknya. Sebelum menjadi penjual bajigur, beliau sempat kerja serabutan. Laki-laki kelahiran tahun 1962 ini tinggal di kontrakan kecil di daerah ciganjur. Beliau asli Jakarta yang terkadang mengeluh mahalnya harga pangan di ibu kota. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk berhenti sebagai penjual bajigur. Kata pak Ali, bajigur jarang diminati masyarakat saat ini karena kalah saing dengan capucino cincau yang marak dipinggir jalan. Bajigur dikenal sebagai minuman hangat, tetapi kini pak Ali menjadikan bajigur minuman dingin dengan harapan agar menarik perhatian masyarakat untuk membeli. Dan ternyata cara itu berhasil walau hanya sedikit yang berminat tetapi itu satu kemajuan. Beliau bekeliling mulai pukul 08.00 – 17.00 WIB. Pak Ali berkeliling sekitar setu babakan, ciganjur dan jagakarsa. Pembeli bajigur biasanya para lanjut usia sedangkan anak-anak atau remaja lebih memilih membeli kedelai, timus, ubi rebus dan jagung rebus. Pendapatan yang diperoleh pak Ali tidak menentu kadang Rp80.000 tak jarang juga hanya Rp20.000. Dengan penghasilan yang pas-pasan pak Ali tetap bertekad mensekolahkan anak-anaknya walaupun itu harus pinjam sana-sini. Laki-laki berkumis ini berharap baijgur tidak punah agar generasi selanjutnya mengenal minuman tradisional yang biasa diminum pada suasana dingin. Suara khas yang digunakan ketika berjualan bajigur membuat masyarakat sekitar hafal betul akan kedatangan pak Ali "guuur yang anget yang anget yang dingin guur aya aya aya".
Jumat, 16 Mei 2014
Meidi Kartikasari_tugas 7_TOR dan hasil penelitian ketiga tentang masyarakat miskin
Bing Voucher 400$ & 475$ Available -Speakmeme.com
Rabu, 14 Mei 2014
FittaFauziah_TugasVI_PenelitianTemaKe2
Pendahuluan
Fenomena anak jalanan sebetulnya sudah berkembang lama, tetapi saat
ini semakin menjadi perhatian dunia, seiring dengan meningkatnya
jumlah anak jalanan di berbagai kota besar di dunia. Di Indonesia,
saat ini diperkirakan terdapat 50.000 anak, bahkan mungkin lebih, yang
menghabiskan waktu yang produktif dijalanan. Yang mana anak jalanan
ini merupakan usia belajar dan usia produktif seharusnya menjadi aset
generasi bangsa dimasa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk
meneliti bagaimana gambaran konsep diri anak jalanan usia remaja dan
mengapa konsep diri tersebut dapat terbentuk. Konsep diri adalah
gambaran deskriptif dan evaluatif individu mengenai diri sendiri;
penelitian atau penaksiran mengenai diri sendiri, ataupun cara
seseorang memandang dirinya sendiri. Menurut Baldwin dan Holmes (dalam
Calhoun dan Acocella 1995), faktor pembentuk konsep diri remaja adalah
orangtua, kawan sebaya, masyarakat, dan belajar. Melalui konsep diri
akan terbentuk pandangan atau pola pikir untuk mengembangkan diri
menjadi generasi bangsa yang baik dengan memiliki watak kebangsaan
Sementara itu, Departemen Sosial (dalam Terloit 2001) membuat suatu
definisi operasional dari anak jalanan, yaitu anak yang menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di
jalanan dan tempat- tempat umum lainnya. Mereka biasanya berusia 6 –
18 tahun, masih sekolah atau sudah putus sekolah, tinggal dengan
orangtua maupun tidak, atau tinggal di jalanan sendiri maupun dengan
teman- temannya, dan mempunyai aktivitas di jalanan, baik
terus-menerus maupun tidak.
Beberapa faktor utama, yang diakui oleh masyarakat dan beberapa tokoh,
yang menyebabkan timbulnya anak jalanan, antara lain kemiskinan,
disfungsi keluarga, dan kekerasan dalam keluarga. Berdasarkan uraian
di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana gambaran
konsep diri anak jalanan usia remaja dan mengapa konsep diri tersebut
dapat terbentuk. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk
memberi gambaran konsep diri pada anak jalanan usia remaja serta
bagaimana konsep diri tersebut terbentuk.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan teori Karl Marx karena penelitian ini
terkait kelas sosial, keikut sertaan subjek dalam masalah sosial,
penulis pun merekomendasikan untuk dapat berkontribusi menyelesaikan
masalah sosial ini. Pendekatan Penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif di
sini berupa studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang
anak jalanan yang sudah putus hubungan dengan keluarganya, dan
berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi dan
berusia remaja.
Hasil dan Pembahasan
Pemuda sebagai generasi bangsa harus memiliki watak yang baik dan
dibangun dari pengetahuan yang cukup. Sumber pengetahuan didapat dari
keluarga, sekolah, teman, dan lingkungan. Dalam keluarga subjek dari
penelitian ini keluarganya bisa dibilang tidak harmonis, diawali
masalah ekonomi yang sulit kedua orang tuanya berpisah dan subjek pun
merasa tidak ada yang menyayanginya sehingga pengetahuan yang didapat
dari keluarga terbilang kurang baik dalam pembentukan konsep diri
untuk membangun watak kebangsaan.
Subjek memang pernah sekolah namun hanya sampai SD kelas 5 itu sudah
empat tahun lalu seharusnya sekarang subjek duduk dikelas 3 SMP,
dilihat dari tingkat pendidikan kelas 5 SD belum memadai dalam bekal
keilmuan, dan konsep pembangun watak, dari sini subjek menganggap
pendidikan tidaklah penting karena dengan pendidikannya tidak ada
gunanya terutama untuk menyambung hidup dalam kerasnya ibukota.
Untuk teman karena subjek banyak di jalan jadi teman-temannya ya
merupakan anak jalanan lain, pedagang, preman, supir transportasi jadi
ilmu yang didapat sebatas ilmu untuk mencari makan dan hidup dijalan
sama sekali tidak ada pengembangan diri, motivasi apalagi pembentukan
watak.
Beberapa dimensi diatas memiliki lingkungan yang saling mendukung
khususnya dalam pembentukan watak yang saat ini terbentuk sebagai
seorang remaja yang merasa terisingkir dari keluarga, dimasyarakat pun
dianggap sampah, bahkan dalam keilmuan sosial anak jalanan dianggap
masalah sosial. Dalam undang-undang mereka harusnya dilindungi dan
dipelihara oleh negara diberi kehidupan yang layak, selayaknya
generasi muda karena nasib bangsa masa mendatang merupakan bagian dari
tangan anak – anak yang sekarang menjadi anak jalanan tersebut.
Dengan banyaknya anak jalanan berarti makin banyak generasi bangsa
kita yang sia – sia dan terabaikan, mereka tidak mendapatkan hak nya
mulai dari pendidikan, kehidupan yang layak sampai kepada proses
pengembangan diri yang terpaku hanya mencari kebutuhan perut. Jadi
jangan salahkan jika mereka akan terus menjadi masalah sosial.
Perlu adanya penanganan yang serius baik dari pemerintah maupun
masyarakat agar anak jalanan dapat dibina demi generasi penerus bangsa
yang berkualitas, jika mereka tetap diabaikan bagaimana nasib bangsa
ini dimasa mendatang.
Penutup
Kesimpulan dan Saran
Anak jalanan merupakan bagian dari masyarakat dan masalah sosial yang
harus di selesaikan, karena mereka menjadi anak jalanan bukanlah
kemauan mereka sendiri namun mereka tercebur dalam lingkungan yang
seharusnya bukan tempat mereka. Anak jalanan merupakan generasi
penerus bangsa yang sangat penting untuk masa depan bangsa negara ini.
Penulis menyarankan bagi pembaca tergugah hatinya untuk bisa
berkontribusi dalam menangani masalah sosial ini. Demikian penelitian
ini dibuat semoga dapat bermanfaat.
Noor Rachmawaty_tugas 3_karl marx
Teori konflik muncul sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik di dalam masyarakat. Asumsi dasar teori ini ialah bahwa semua elemen atau unsur kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bias menjalankan fungsinya dengan baik. Namun demikian, teori ini mempunyai akar dalam karya Karl Marx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan oleh beberapa pemikir sosial yang berasal dari masa-masa kemudian. Karl Marx melahirkan sebuah aliran, yaitu aliran komunisme. Teori konflik adalah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.
Pada dasarnya pandangan teori konflik tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori funsionalisme structural karena keduanya sama-sama memandang masyarakat sebagai satu sistem yang tediri dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Sedangkan teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya. Kunci untuk memahami Marx adalah idenya tentang konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa bermacam-macam, yakni konflik antara individu, kelompok , atau bangsa. Marx mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.
Segi-segi pemikiran filosofis Marx berpusat pada usaha untuk membuka kedok sistem nilai masyarakat, pola kepercayaan dan bentuk kesadaran sebagai ideologi yang mencerminkan dan memperkuat kepentingan kelas yang berkuasa. Meskipun dalam pandangannya, orientasi budaya tidak seluruhnya ditentukan oleh struktur kelas ekonomi, orientasi tersebut sangat dipengaruhi dan dipaksa oleh struktur tersebut. Tekanan Marx pada pentingnya kondisi materiil seperti terlihat dalam struktur masyarakat, membatasi pengaruh budaya terhadap kesadaran individu para pelakunya. Terdapat beberapa segi kenyataan sosial yang Marx tekankan, yang tidak dapat diabaikan oleh teori apa pun yaitu antara lain adalah, pengakuan terhadap adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling bertentangan diantara orang-orang dalam kelas berbeda, pengaruh yang besar dari posisi kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang serta bentuk kesadaran dan berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial, merupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Marx lebih cenderung melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsungnya dominasi mereka. Selanjutnya, mereka pun berusaha mengungkapkan berbagai kepentingan yang berbeda dan bertentangan yang mungkin dikelabui oleh munculnya konsensus nilai dan norma. Apabila konsensus terhadap nilai dan norma ada, para ahli teori konflik menduga bahwa konsensus itu mencerminkan kontrol dari kelompok dominan dalam masyarakat terhadap berbagai media komunikasi (seperti lembaga pendidikan dan lembaga media massa), dimana kesadaran individu dan komitmen ideologi bagi kepentingan kelompok dominan dibentuk.
Perspektif konflik yang berakar pada pemikiran Karl Marx, betapapun radikalsme diakui sebagai salah satu jalan keluar sehingga sangat erat dengan revolusi, hal ini tidak dimaksudkan menumpahkan darah. George Ritzer misalnya mengatakan bahwa tidak benar kalau Marxisme dikatakan sebagai ideology radikal yang haus darah (a bloodthirsty radical ideology). Marx adalah seorang humanis. Hatinya terluka melihat pnderitaankaum buruh akibat eksploitasi di bawah sistem yang kapitalistik. Rasa kemanusiaan itu mendorongnya untuk mencetuskan keinginan merubah tatanan kapitalistik dalam sistem yang mapan tetapi dalam praktek mengeksplotasi masyarakat. Oleh karena itu, sistem tersebut harus diubah agar menjadi lebih manusiawi. Tetapi hal itu hanya harus mungkinterjadi dalam sistem sosialis. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial.
Karl Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan social manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan-kekuatan produks. Dengan demikian masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi. Jadilah kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi.
Teori Marx di atas memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dan kelas-kelas social sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kleas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan social. Sebenarnya sebagaimana yang ia kumandangkan, sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah pertentangan-pertentangan kelas. Marx menghadirkan suatu analisis yang kompleks dan masih relevan tentang dasar-dasar historis ketidaksetaraan di dalam kapitalisme dan bagaimana cara mengubahnya. Walaupun teori-teorinya terbuka untuk berbagai interpretasi, namun kita tidak mencoba untuk menghadirkan interpretasi tentangnya yang membuat teori-teorinya konsisten dengan studi-studi historis aktualnya.
Marx percaya bahwa masyarakat terbentuk di sekeliling kontradiksi-kontadiksi yang hanya bisa di selesaikan melauli perubahan sosial yang aktual. Salah satu kontradiksi mendasar yang di lihat Marx adalah antara sifat dasar manusia dan syarat-syarat kerja di dalam kapitalisme. Bagi Marx sifat dasar manusaia dikaitkan dengan kerja yang mengekspresikan dan mentranfomasikan hakikat kita. Dibawah kapitelisme, kerja kita kita dijual sebagai komoditas, dan hal lain menyebabkan kita teraliensi dari aktivitas produktif kita. Analisis marx terhadap masyarakat kapitalis. Kita mulai dengan konsep sentral tentang komoditas-komoditas, kemudian melihat kontradiksi antara nilai-guna komoditas tersebut dan nilai-tukarnya. Di dalam kapitalisme, nilai komoditas tukar cenderung melebihi penggunaanya yang aktual di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, oleh karena itu, komoditas-komoditas mulai tampak terpisah dari kerja manusia dan kebutuhan manusia dan pada akhirnya tampak menjadi berkuasa atas manusia. Marx menyebut hal ini dengan fetisisme komoditas. Fetisisme ini merupakan suatu bentuk reifikasi, dan pengaruhnya lebih dari sekedar terhadap komoditas-komoditas: secara khusus, mempengaruhi sistem ekonomi yang mulai terlihat seperti kekuatan objektif dan nonpolitis yang menentukan kehidupan manusia. Karena refikasi ini, kita tidak melihat bahwa ide kapital memuat suatu relasi sosial yang kontadiktif antara orang-orang yang mengambil keuntungan dari investasi-investasi dan orang-orang yang bekerja menyediakan nilai-surplus yang membentuk keuntungan. Marx percaya kalau kapitalisme adalah sesuatu yang baik dan bahwa kritik pedasnya terhadap kapitalisme adalah sesuatu yang baik dari sudut kemungkinannya dimasa yang akan datang.
Marx merasa mampu memperkirakan nasib kapitalisme dimasa depan karena dia berpegangan pada pemahaman materialisme historisnya. Dengan fokus pada kekuatan produksi, Marx mampu memperkirakan tren sejarah yang memungkinkanya menentukan di titik-titik mana saja aksi-aksi politik dapat efektif. Aksi dan refolusi politik sangat diperlukan karena relasi produksi dan ideologi menentukan perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Dalam pandangan Marx perubahan-perubahan ini akhirnya akan melahirkan masyarakat komunis.
Noor rachmawaty_tugas 2_max weber
Assumption & Beliefs Concerning | Conventionalism Max Weber (1864-1920) Idealism Stereotype "Volintarism" |
1. The Image Individual | Positive |
2. The Image of Society | Social Structure: A Network of Meaning (The relationships between social actions, the social structures, and institutions of capitalism) |
3. The Image Theory | Verstehen: Empathy Interpretation |
4. Methodological implications | Qualitative Approach |
5. Other Label: - Purdeu (1986) - Ritzer (1985) | -Pluralist Paradigm -Social Definition Paradigm |
|
|
|
|
|
- Traditional Rationality: Tujuannya adalah perjuangan nilai yang berasal dari tradisi kehidupan masyarakat (sehingga ada yang menyebut sebagai tindakan yang non-rational).
- Value Oriented Rationality: Suatu kondisi dimana masyarakat melihat nilai sebagai potensi hidup, sekalipun tidak aktual dalam kehidupan keseharian.
- Affective Rationality: Jenis Rational yang bermuara dalam hubungan emosi yang sangat mendalam, dimana ada relasi hubungan khusus yang tidak dapat diterangkan di luar lingkaran tersebut.
- Purpossive Rationality: Tujuannya adalah "tindakan" dan "alat" dari bentuk rational yang paling tinggi yang dipilihnya"Etika Protestan" dan "Semangat "Kapitalisme".
- Weber dan Marx tampaknya setuju untuk menolak idealisme Hegel, yang menyatakan bahwa di dunia ada yang mendominasi, yaitu national spirit (folk spirit). Durkheim juga menyatakan bahwa memang ada semangat tertentu dalam kelompok yang mengikat sehingga menjadi unit analisis (analisis parameter)
- Berbeda dengan Weber yang menyatakan bahwa sebelum terjadinya teknologi terlebih dahulu telah terjadi perubahan gagasan baru dalam pola pemikiran masyarakat, dalam pemikiran Marx justru sebaliknya.
- Marx dan Weber sama-sama setuju bahwa basis kapitalisme modern adalah produksi masyarakat.