Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Minggu, 18 Mei 2014
Fitri Qomariah_Tugas 7_TOR dan Laporan Hasil Penelitian Tema ke-3
Isra Wahyuni_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan
Pengaruh Handphone dalam Pertumbuhan Remaja
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah cepat, sebagai akibat dari arus globalisasi. Salah satu perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami perkembangan yang cepat adalah telepon seluler (handphone).
Handphone (HP) merupakan sebuah alat komunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap (telepon kabel), namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Sehingga kita dapat berkomunikasi dari sembarang tempat , selama masih ada jaringan sinyal untuk HP yang kita gunakan.
Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, HP / ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.
1. Mengapa penting untuk diteliti
Dalam penelitian ini mengapa menjadi penting untuk diteliti karena dengan kehadiran ponsel dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku sosial.
2. Asumsi
Dewasa ini, peranan ponsel sudah menjadi sebuah kebutuhan primer sehari-hari. Orang-orang sudah bisa dibilang tidak dapat lepas dari ponsel, dikarenakan hampir semua orang telah memiliki ponsel, dari yang kaya hingga yang miskin, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Oleh karena itu, tentunya ponsel / handphone ini memliki pengaruh terhadap kehidupan seorang manusia yag memilikinya.
II. Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
III. Pertanyaan Penelitian
1. Apa pengaruh handphone bagi pertumbuhan remaja?
2. Mengapa handphone meningkat menjadi suatu kebutuhan dikalangan remaja?
IV. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
V. Area Riset
Loasi penelitian dilakukan didaerah jalan Utama Raya, cengkareng Jakarta Barat. Penelitian dilakukan pada tanggal 15 mei 2014. Untuk memperoleh data penelitian dilakukan dengan mewawancarai beberapa remaja pada daerah tersebut.
VI. Pertanyaan Lapangan
1. Sejak kapan anda mulai menggunakan handpone?
2. Apa dampak positif menggunakan handphone?
3. Apa dampak negatif dalam menggunakan handphone?
VII. Hasil Laporan Penelitian
Tidak dipungkiri lagi bahwa kehadiran telepon seluler (ponsel) atau handphone telah merubah kehidupan manusia yang juga berdampak bagi perkembangan remaja. Jarak yang selama ini menjadi penyebab dari kesulitan itu. Sebagian besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada ponsel. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa para remaja memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Alasannya agar bisa berkomunikasi dengan mudah. Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan ponsel adalah, "Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis." Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel seperti sebuah keniscayaan.
Beberapa dari remaja mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi. Kendati demikian, ini menjadi sifat "memaksa". Di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya masih belum mampu membayangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel. Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Inilah kemajuan zaman, suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan. Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negati bagi para penggunanya, khususnya para remaja.
Adapun dampak positif yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara yaitu dapat mempermudah komunikasi tanpa batasan jarak yang dapat menghemat waktu tanpa perlu bertemu langsung, menambah dan mempermudah dalam mengakses informasi dan pengetahuan dengan berbagai fitur yang tersaji dalam ponsel tersebut, dan dapat memperluas jaringan persahabatan.
Selain itu hanphone juga membawa dampak yang negatif, sesuai dengan tema bahwa salah satunya dapat mengganggu perkembangan remaja, dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti kamera, games yang akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/dikampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan handphone untuk mencontek dalam ujian. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi. Handphone juga sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, jika tidak ada kontrol dari orang tua handphone bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar. Dampak lainnya adalah handphone juga berdampak terhadap kesehatan karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Badre tentang dampak negatif penggunaan ponsel bagi kesehatan tertuju pada pola tidur seseorang. Badre menemukan bahwa ketika seorang anak menggunakan telepon dan GSM secara berlebihan akan mengakibatkan kesulitan tidur pada malam hari. Tentunya hal ini akan berdampak pada tingkat kelelahan dan stres, selain itu dampak buruk penggunaan ponsel adanya radiasi sinyal RF. Radiasi ini bisa meningkatkan potensi terkena kanker, terutama pada anak-anak. Lalu handphone berdampak pada rawannya terhadap tindak kejahatan jika kita mengggunakan handphone hanya untuk di pamerkan, dan secara mencolok dapat mengancam nyawa sendiri jika terjadi tindak kejahatan, semisal pencurian dan perampokan. Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat. Handphone juga dapat berdampak pemborosan dengan mempunyai handphone maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan saja.
Kesimpulan
Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat "memaksa", membuat manusia menjadi tergantung padanya.
Dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh handphone maka sebagai remaja, bijaklah dalam penggunaannya. Handphone/ ponsel tidak hanya sebagai teknologi komunikasi namun juga sebagai hal yang mencerminkan ikatan emosional dan budaya yang melambangkan status sosial manusia sehingga manusia selalu melihat ponsel sebagai ukuran status manusia dan berlomba untuk selalu mendapat serta mengganti ponsel dengan tipe yang terbaru.
Narasumber:
Nama: selly saputri
Umur: 16 thn
Status: pelajar SMA kelas X
Nama : Fikri Haikal
Umur : 15 thn
Status : pelajar SMP kelas IX
Nama : Risti
Umur: 14 thn
Status : pelajar SMP kelas VIII
Nama: Noval Rizki. Z
Umur: 14 thn
Status : pelajar SMP kelas IX
Eko Radityo_Tugas 7_Penelitian Sosiologi
Sulitnya Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah
1. Latar Belakang
Setelah lulus kuliah dan memiliki gelar sarjana tentu yang ada di pikiran mahasiswa tersebut akan memudahkannya dalam mencari pekerjaan. Karena mereka merasa memiliki modal yang lebih dari orang lain yang tidak memiliki gelar sarjana. Tapi, pada kenyataanya tidak semudah yang di bayangkan. Seorang sarjana tidak semata-mata langsung mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan yang diinginkannya. Dalam dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit, sedangkan sarjana yang memiliki ilmu yang tidak terlalu dibutuhkan perusahaan tentu akan mengalami kesulitan juga dalam mendapatkan pekerjaan. Faktanya hanya sarjana ilmu-ilmu tertentu yang banyak dibutuhkan pada dunia kerja seperti sarjana ilmu ekonomi ataupun sarjana ilmu hukum. Lalu bagaimana dengan sarjana ilmu lainnya? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan? Ketidakmerataan jumlah lowongan pekerjaan bagi sarjana yang ilmunya beragam telah menjadi masalah yang menyulitkan banyak sarjana Indonesia.
- Mengapa itu penting?
Topik ini telah menjadi masalah yang besar, karena telah menjadi masalah semua sarjana yang lulus kuliah. Yang seharusnya dengan bersusah payah berkuliah untuk mendapatkan gelar yang dapat digunakan sebagai modal untuk memudahkan dalam mendapat pekerjaan, tetapi tetap kesulitan dalam mendapat pekerjaan.
- Asumsi
Sarjana yang lulus setiap tahunnya dengan ilmu yang banyak dan beragam tidak seimbang dengan kebutuhan dunia kerja sesungguhnya. Yang pada kenyataan dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit.
2. Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana sarjana muda mencari pekerjaan?
4. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
5. Area Riset
Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai mahasiswa yang baru lulus kuliah.
6. Pertanyaan Lapangan
a. Apa yang membuat anda sulit mencari pekerjaan?
b. Apakah lowongan pekerjaan yang banyak tersedia sesuai dengan ilmu sarjana anda?
c. Berapa banyak perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana anda?
d. Apakah teman kuliah anda juga memiliki masalah yang sama dengan anda?
e. Bagaimana dengan keadaan seperti ini agar anda tidak kalah dalam persaingan mencari pekerjaan dengan sarjana yang lain?
7. Laporan Hasil Penelitian
Ketidakseimbangan jumlah lowongan pekerjaan dengan jumlah sarjana(pencari pekerjaan) menjadi faktor utama sulitnya mencari pekerjaan. Keadaan itu diperparah dengan sedikitnya ilmu sarjana yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Perusahaan-perusahaan banyak yang mencari sarjana ilmu ekonomi atau ilmu hukum. Keadaan ini tentu makin mempersulit para sarjana yang mencari pekerjaan tetapi memiliki ilmu sarjana yang kurang di butuhkan oleh dunia kerja ataupun perusahaan.
Keadaan seperti ini dibuktikan dengan keterangan responden yang mengaku hanya sedikit perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana yang mereka miliki. Permasalahan ini juga menjadi permasalahan banyak sarjana lainnya yang memiliki ilmu sarjana yang beragam yang pada kenyataannya tidak terlalu dibutuhkan dunia kerja. Untuk para sarjana yang memiliki ilmu sarjana yang hanya sedikit dibutuhkan oleh dunia kerja harus dapat membekali diri dengan kemampuan lainnya di samping ilmu sarjananya. Seperti memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, menguasai bahasa asing, maupun kemampuan lainnya yang tentunya akan menjadikan nilai tambah bagi sarjana tersebut agar mampu bersaing dengan sarjana lainnya dalam mendapatkan pekerjaan.
Narasumber:
1. Nama : Joko Yono
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Karyawan
2. Nama : Budi Sobari
Umur : 26 tahun
Pekerjaan : Sopir Pribadi
3. Nama : Fatimah Zahra
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Pegawai swasta
4. Nama : Arman Suherman
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Customer Service
Eko Radityo_Tugas 6_ Penelitian Sosiologi
Dilema Memilih Kuliah atau Bekerja Setelah Lulus SMA
1. Latar Belakang
Setelah berakhirnya masa sekolah yaitu sampai jenjang SMA banyak siswa yang bingung menentukan pilihan antara memilih kuliah untuk meneruskan studi atau langsung bekerja. Bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan memiliki kemampuan dalam segi biaya yang cukup untuk kuliah biasanya mereka akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi, bagi mereka yang tingkat ekonominya kurang dan tidak memiliki kemampuan dalam segi biaya untuk kuliah cenderung akan memilih langsung bekerja. Dengan biaya kuliah yang mahal membuat tidak semua siswa bisa melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Untuk siswa yang tingkat ekonominya kurang tetapi ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi tentu akan menjadi masalah. Mereka akan di hadapkan oleh pilihan yang membingungkan antara kuliah(tapi tidak memiliki biaya) atau bekerja(tapi belum siap).
- Mengapa itu penting?
Melihat banyaknya siswa yang telah lulus SMA tapi bingung untuk memilih kuliah atau bekerja dan masalah ini telah terjadi berulang-ulang kali.
- Asumsi
Dengan melihat masalah ini yang terjadi telah berulang-ulang kali tentunya ini harus ditemukan penyelesaiannya agar tidak terjadi lagi kebingungan yang sama pada angkatan selanjutnya.
2. Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana baiknya memilih antara kuliah atau bekerja setelah lulus SMA bagi siswa?
4. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
5. Area Riset
Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai siswa yang baru lulus SMA.
6. Pertanyaan Lapangan
a. Apa yang menjadi pilihan anda antara kuliah atau bekerja?
b. Apa yang menjadi hambatan anda untuk kuliah?
c. Apakah sekolah anda memberikan bantuan maupun pengarahan untuk memilih kuliah yang terjangkau dengan anda?
d. Apa saja usaha yang anda lakukan untuk berkuliah?
e. Apakah harapan anda kedepannya?
7. Hasil Laporan Penelitian
Kebanyakan dari para responden memilih untuk berkuliah untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Tetapi keinginan mereka ini terhambat akan biaya kuliah yang tergolong terlalu mahal buat mereka. Dengan tingkat ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah tentunya sulit untuk memenuhi biaya kuliah yang tinggi. Pihak sekolah dinilai kurang memberikan pengarahan maupun bantuan kepada siswa yang miskin tapi memiliki keinginan untuk berkuliah. Karena pengarahan yang kurang dari pihak sekolah maka banyak terjadi kebingungan antara memilih kuliah atau bekerja. Siswa yang telah lulus SMA yang tingkat ekonominya menengah ke bawah bisa tetap berkuliah dengan cara mencari beasiswa. Tetapi tentunya beasiswa tidaklah datang dengan sendirinya. Mereka harus mencarinya dengan berbekal nilai yang bagus, karena dewasa ini pemerintah maupun pihak swasta bnyak membuka beasiswa bagi siswa miskin yang berprestasi dan ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Narasumber:
1. Nama : Raka Wahyu
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
2. Nama : Ilham Soleh
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
3. Nama : Dwiky Rama
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
4. Nama : Dewa Barata
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Lisda Nur Asiah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian Tema ke 3
Sabtu, 17 Mei 2014
Dinara Oktaviana_Tugas7_Hasil laporan penelitian
KEHIDUPAN SEORANG PENJUAL BAJIGUR DI JAGAKARSA
I. Latar Belakang
Maraknya makanan cepat saji (fast food) dan junk food yang menawarkan berbagai macam pilihan dengan harga bervariasi mulai dari harga yang mahal sampai murah membuat masyarakat lebih memilih makanan tersebut. Selain banyak pilihan dan harga terjangkau, makanan cepat saji mudah didapatkan hanya dengan memesan melalui telepon dan akan diantar sampai rumah atau tempat yang ingin dituju serta menjanjikan ketepatan waktu. Kemudahan-kemudahan yang diberikan selain memanjakan masyarakat dapat pula membuat masyarakat lupa akan keberadaan para penjual makanan tradisional. Keadaaan seperti ini sungguh tidak baik dan bagaikan satu hantaman bagi para penjual makanan dan jajanan tradisional. Salah satu yang merasakan dampak dari makanan cepat saji ialah penjual bajigur. Bajigur, minuman tradisional dari Jawa Barat yang berbahan utama gula aren dan santan. Minuman ini begitu populer dimasanya sebelum tergerus oleh zaman. Bajigur biasa disajikan bersama pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus, kacang kedelai, klepon, kue pisang, timus dan lain sebagainya. Tetapi bajigur tidak sepopuler dulu, eksistensi penjual bajigur semakin jarang bukan berarti telah punah. Masih ada beberapa dari mereka bertahan hidup dengan menjual bajigur. Walau harus diakui bahwa penghasilan dari menjual bajigur di zaman modern tidak sebesar dulu.
- Mengapa penting untuk diteliti
Zaman semakin berkembang menuju modern dan banyak pilihan kuliner yang ditawarkan. Sedangkan bajigur minuman tradisional, mungkin kini hanya para orang tua yang kenal dengan bajigur. Penting untuk diteliti agar dapat mengetahui bagaimana bajigur menghidupi para penjual minuman tradisional.
- Asumsi
Adanya berbagai makanan dan minuman yang kekinian, membuat para penjual makanan dan minuman tradisional semakin terpojokkan.
II. Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
III. Pertanyaan Penelitian
1) Bagaimana kehidupan seorang penjual bajigur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ?
IV. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati kehidupan seseorang yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik
V. Area Riset
Penelitian dilaksanakan di jalan belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mewawancarai seorang penjual bajigur yang sedang berdagang. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2014.
VI. Pertanyaan Lapangan
1) Apakah dengan menjual bajigur pilihan terakhir ?
2) Apakah bajigur masih menjadi minuman yang dicari masyarakat ?
3) Bagaimana cara menarik masyarakat agar tertarik dengan bajigur ?
4) Berkeliling mulai jam berapa ?
5) Anda seorang perantau atau asli sini ?
VII. Hasil Laporan Penelitian
Seorang penjual bajigur yang dikenal sebagai pak Ali sudah sejak lama menjual bajigur sekitar dari tahun 1997 hingga sekarang. Beliau mengaku saat ini hanya dapat menjual bajigur untuk menghidupi istri dan membiayai sekolah tiga anaknya. Sebelum menjadi penjual bajigur, beliau sempat kerja serabutan. Laki-laki kelahiran tahun 1962 ini tinggal di kontrakan kecil di daerah ciganjur. Beliau asli Jakarta yang terkadang mengeluh mahalnya harga pangan di ibu kota. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk berhenti sebagai penjual bajigur. Kata pak Ali, bajigur jarang diminati masyarakat saat ini karena kalah saing dengan capucino cincau yang marak dipinggir jalan. Bajigur dikenal sebagai minuman hangat, tetapi kini pak Ali menjadikan bajigur minuman dingin dengan harapan agar menarik perhatian masyarakat untuk membeli. Dan ternyata cara itu berhasil walau hanya sedikit yang berminat tetapi itu satu kemajuan. Beliau bekeliling mulai pukul 08.00 – 17.00 WIB. Pak Ali berkeliling sekitar setu babakan, ciganjur dan jagakarsa. Pembeli bajigur biasanya para lanjut usia sedangkan anak-anak atau remaja lebih memilih membeli kedelai, timus, ubi rebus dan jagung rebus. Pendapatan yang diperoleh pak Ali tidak menentu kadang Rp80.000 tak jarang juga hanya Rp20.000. Dengan penghasilan yang pas-pasan pak Ali tetap bertekad mensekolahkan anak-anaknya walaupun itu harus pinjam sana-sini. Laki-laki berkumis ini berharap baijgur tidak punah agar generasi selanjutnya mengenal minuman tradisional yang biasa diminum pada suasana dingin. Suara khas yang digunakan ketika berjualan bajigur membuat masyarakat sekitar hafal betul akan kedatangan pak Ali "guuur yang anget yang anget yang dingin guur aya aya aya".