Minggu, 18 Mei 2014

Fitri Qomariah_Tugas 7_TOR dan Laporan Hasil Penelitian Tema ke-3

Naiknya Harga Barang-barang Pokok
di Pasar Royal
I. Latar Belakang
Kurangnya bahan dasar dari kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia menjadikan harga barang-barang pokok di Indonesia menjadi mahal sehingga masyarakat di Indonesia sulit untuk memproduksinya. Akibatnya komsumen juga ikut merasakan dampaknya.
Selain terbatasnya bahan baku, produksi impor yang lebih mendominasi pasar juga membuat harga barang-barang pokok semakin tinggi. Sehingga banyak produsen bahan-bahan pokok gulung tikar.
Dengan adanya peristiwa ini, kami membuat sebuah karya tulis yang membahas mengenai sebab dan akibat kenaikan harga barang-barang pokok di Indonesia, mulai dari dasar sampai jatuh ke tangan konsumen.
1. Mengapa Penelitian ini Penting ?
1)     Agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan-bahan pokok yang terdapat di dalam negeri.
2)     Agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan dasar pangan yang diperoleh dari alam dengan sebaik-baiknya.
2. Asumsi
            Naiknya harga pokok di Pasaran mengakibatkan pengangguran. Masyarakat pun dituntut untuk menghemat agar tetap tercukupinya kebutuhan sehari-hari.
II. Pertanyaan Penelitian
1.     Bagaimana caranya agar masyarakat tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari ?
2.     Bagaimana caranya meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat ?
III. Metode dan Penelitian
Metode yang digunakan:
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara, mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.
Teori yang digunakan:
            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fakta sosial yang dipelopori oleh Emile Durkheim, karena subjek yang diteliti ialah sekelompok pedagang pasar. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
IV. Pertanyaan Lapangan
1.     Faktor apa yang menyebabkan kenaikan harga pokok?
2.     Apa dampak yang ditimbulkan dari kenaikan harga pokok?
3.     Siapa saja yang terkena imbas dari kenaikan harga pokok?
V. Area Riset
Lokasi penelitian dilaksanakan di Pasar Royal. Penelitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai beberapa pedagang pasar dan pengunjung/pembeli di Pasar. Penelitian tersebut dilaksanakan pada tanggal  17 Mei 2014.
Hasil Laporan penelitian
Kebutuhan barang-barang pokok di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis, dikarenakan harga barang-barang pokok yang melonjat naik. Sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ini merupakan hal yang harus diatasi dan dicari jalan keluarnya. Apabila bahan-bahan dasar seperti kedelai, sagu, minyak tangah, minyak goreng dan lain-lain akan habis suatu saat nanti, itu akan berakibat buruk pada anak cucu kita.
Kenaikan ini juga berakibat pada kesejahteraan rumah tangga yang sebelumnya dapat memenuhi hampir semua kebutuhannya, tapi setelah langkanya bahan-bahan pokok mereka mulai membatasinya. Dan itu sangat mengganggu ketentraman rumah tangganya. Seharusnya masyarakat dapat mengesampingkan kebutuhan sekunder dan tersier dan harus lebih mengutamakan kebutuhan primer yang berperan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan suatu cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Dampak ini juga berlaku bagi pekerja industri. Banyak perindustrian yang memangkas anggaran pembelian sehingga banyak pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Banyaknya pengangguran akibat kenaikan barang-barang pokok menambah ketentraman Negara Indonesia semakin sulit terwujud.
Beberapa barang yang menunjukkan kenaikan cukup tinggi adalah gula pasir, terigu, beras, dan minyak goreng kemasan. Gula pasir misalnya, yang sebelum kenaikan masih seharga Rp 5.200 per kilogram, sehari setelah kenaikan naik menjadi Rp 5.300 per kilogram dan dua hari berikutnya naik lagi menjadi Rp 5.500 per kilogram.
Sementara terigu yang sebelum kenaikan BBM masih dijual Rp 3.800 per kilogram saat ini sudah naik menjadi Rp 4.500 per kilogram atau naik Rp 700. Minyak goreng kemasan yang sebelumnya dijual Rp 6.300-Rp 6.500 per kemasan 600 ml saat ini sudah dijual Rp 7.500. Sedangkan beras, sejak Januari lalu sudah mulai naik dengan besaran Rp 250-Rp 500 per kilogram. Dengan kenaikan harga BBM ini, berarti beras juga sudah mengalami dua kali kenaikan.
Berikut ini adalah kasus yang saya temukan tentang pengrajin tempe yang gulung tikar. Sebut saja beliau Bapak Surahman. Beliau mengaku sudah menjadi pengrajin tempe selama 20 tahun. Tapi 2 tahun terakhir ini beliau merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kedelai yang biasa beliau pesan di tempat langganannya di pasar terdekat. Diakibatkan harga kedelai melonjak drastis. Sehingga tidak terjadi keseimbangan antara modal yang dikeluarkan dengan laba yang diperoleh. Bapak Surahman mengadu bahwa beliau selalu mengalami kerugian setiap memproduksi tempe. Akhirnya beliau memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain.
Dapat kita pelajari dari kasus tersebut. Bapak Surahman yang kesulitan mendapatkan kedelai karena harga perkilonya yang mahal mengharuskan beliau untuk gulung tikar. Bisa kita tanggapi bahwa memang benar penyebab Bapak Surahman gulung tikar adalah bahan baku yang mahal.
Imbas kenaikan harga kebutuhan barang pokok seolah menjadikan masyarakat untuk lebih pintar mengelola keuangan, mengurangi atau bahkan tidak membeli sama sekali kebutuhan-kebutuhan yang dianggap tidak penting. Masyarakat oleh berbagai nasihat yang menyikapi krisis harga ini dituntut untuk berhemat, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kita tidak bisa lagi mengacuhkan atau tak peduli harga-harga barang kebutuhan pokok terus dibiarkan naik seenaknya tanpa ada keputusan pengaturannya. Peran dan aturan pemerintah harus khusus bertindak hanya demi untuk melindungi masyarakat yang terus menjadi korban dalam kehidupan yang terus direpotkan oleh kenaikan harga-harga. Seperti yang terjadi sekarang bahwa setiap tahunnya harga akan naik seiring dengan adanya kenaikan upah/gaji. Mau berapa pun upah/gaji naik itu hanya percuma, jika harga-harga kebutuhan pun ikut naik maka tidak akan pernah mencukupi biaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Faktor-faktor kenaikan harga dipicu karena Supply kebutuhan bahan pokok terganggu oleh perubahan iklim, yaitu tingginya frekuensi hujan yang menyebabkan para petani gagal panen. Cabai dan sayuran mengalami gagal panen di daerah-daerah penghasil cabai dan sayuran. Selain itu kenaikan harga pokok juga dipicu karena naiknya harga BBM. Maka bahan pokok pun akan mengikuti.
Langkanya bahan kebutuhan pokok adalah salah satu masalah serius yang menimpa kondisi ekonomi indonesia. Masalah ini akan sangat terasa sekali di saat menjelang perayaan hari-hari besar seperti hari raya idul fitri, natal, dan hari-hari besar lainnya.
Meskipun pemerintah terkadang melakukan razia pasar untuk terjun langsung melihat penyebab langkanya bahan kebutuhan pokok, namun tindakan ini dirasa masih jauh dari menyelesaikan masalah langkanya kebutuhan pokok itu sendiri.
VI. Kesimpulan
Kenaikan harga barang-barang pokok sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan juga menambah beban bagi masyarakat menengah ke bawah. Ibu rumah tangga pun kesulitan untuk mengatur kebutuhan yang harus dipenuhinya sehari-hari dengan kebutuhan yang lain. Maka masyarakat dituntut harus berhemat agar selalu tercukupi kebutuhannya.

Narasumber 1:
Nama              : Surahman
Umur               : 45 tshun
Pekerjaan        : Pengrajin tempe/penjual tempe
Narasumber 2:
Nama              : Aves
Umur               : 39 tahun
Pekerjaan        : Penjual sayur
Fitri Qomariah
1113054100034
Kessos 2A

Isra Wahyuni_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan

Pengaruh Handphone dalam Pertumbuhan Remaja

 

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

          Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah cepat, sebagai akibat dari arus globalisasi. Salah satu perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami perkembangan yang cepat adalah telepon seluler (handphone).


Handphone (HP) merupakan sebuah alat komunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap (telepon kabel), namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Sehingga kita dapat berkomunikasi dari sembarang tempat , selama masih ada jaringan sinyal untuk HP yang kita gunakan.

 

           Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, HP / ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.

 

1. Mengapa penting untuk diteliti

Dalam penelitian ini mengapa menjadi penting untuk diteliti karena dengan kehadiran ponsel  dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku sosial.


2. Asumsi

Dewasa ini, peranan ponsel sudah menjadi sebuah kebutuhan primer sehari-hari. Orang-orang sudah bisa dibilang tidak dapat lepas dari ponsel, dikarenakan hampir semua orang telah memiliki ponsel, dari yang kaya hingga yang miskin, dari anak-anak hingga orang dewasa. 

Oleh karena itu, tentunya ponsel / handphone ini memliki pengaruh terhadap kehidupan seorang manusia yag memilikinya.


II. Teori Sosiologi

            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.


III. Pertanyaan Penelitian

1. Apa pengaruh handphone bagi pertumbuhan remaja?

2. Mengapa handphone meningkat menjadi suatu kebutuhan dikalangan remaja?

 

IV. Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

 

V. Area Riset

Loasi penelitian dilakukan didaerah jalan Utama Raya, cengkareng Jakarta Barat. Penelitian dilakukan pada tanggal 15 mei 2014. Untuk memperoleh data penelitian dilakukan dengan mewawancarai beberapa remaja pada daerah tersebut.

 

VI. Pertanyaan Lapangan

1. Sejak kapan anda mulai menggunakan handpone?

2. Apa dampak positif menggunakan handphone?

3. Apa dampak negatif dalam menggunakan handphone?

 

VII.  Hasil Laporan Penelitian

      Tidak dipungkiri lagi bahwa kehadiran telepon seluler (ponsel) atau handphone telah merubah kehidupan manusia yang juga berdampak bagi perkembangan remaja. Jarak yang selama ini menjadi penyebab dari kesulitan itu. Sebagian besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada ponsel. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa para remaja memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Alasannya agar bisa berkomunikasi dengan mudah. Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan ponsel adalah, "Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis." Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel seperti sebuah keniscayaan.


        Beberapa dari remaja mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi. Kendati demikian, ini menjadi sifat "memaksa".  Di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya masih belum mampu membayangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel. Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Inilah kemajuan zaman, suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan. Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negati bagi para penggunanya, khususnya para remaja.

          Adapun dampak positif yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara yaitu dapat mempermudah komunikasi tanpa batasan jarak yang dapat menghemat waktu tanpa perlu bertemu langsung, menambah dan mempermudah dalam mengakses informasi dan pengetahuan dengan berbagai fitur yang tersaji dalam ponsel tersebut, dan dapat memperluas jaringan persahabatan.

          Selain itu hanphone juga membawa dampak yang negatif, sesuai dengan tema bahwa salah satunya dapat mengganggu perkembangan remaja, dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti  kamera, games yang akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/dikampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan handphone untuk mencontek dalam ujian. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi. Handphone juga sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, jika tidak ada kontrol dari orang tua handphone bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar. Dampak lainnya adalah handphone juga berdampak terhadap kesehatan karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Badre tentang dampak negatif penggunaan ponsel bagi kesehatan tertuju pada pola tidur seseorang. Badre menemukan bahwa ketika seorang anak menggunakan telepon dan GSM secara berlebihan akan mengakibatkan kesulitan tidur pada malam hari. Tentunya hal ini akan berdampak pada tingkat kelelahan dan stres, selain itu dampak buruk penggunaan ponsel adanya radiasi sinyal RF. Radiasi ini bisa meningkatkan potensi terkena kanker, terutama pada anak-anak. Lalu handphone berdampak pada rawannya terhadap tindak kejahatan jika kita mengggunakan handphone hanya untuk di pamerkan, dan secara mencolok dapat mengancam nyawa sendiri jika terjadi tindak kejahatan, semisal pencurian dan perampokan. Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat. Handphone juga dapat berdampak pemborosan dengan mempunyai handphone maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan saja.

 

 

Kesimpulan

         Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat "memaksa", membuat manusia menjadi tergantung padanya.

         Dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh handphone maka sebagai remaja, bijaklah dalam penggunaannya. Handphone/ ponsel tidak hanya sebagai teknologi komunikasi namun juga sebagai hal yang mencerminkan ikatan emosional dan budaya yang melambangkan status sosial manusia sehingga manusia selalu melihat ponsel sebagai ukuran status manusia dan berlomba untuk selalu mendapat serta mengganti ponsel dengan tipe yang terbaru.

 

Narasumber:

Nama: selly saputri

Umur: 16 thn

Status:  pelajar SMA kelas X

 

Nama : Fikri Haikal

Umur : 15 thn

Status : pelajar SMP kelas IX

 

Nama : Risti

Umur: 14 thn

Status : pelajar SMP kelas VIII

 

Nama: Noval Rizki. Z

Umur:  14 thn

Status : pelajar SMP kelas IX

Eko Radityo_Tugas 7_Penelitian Sosiologi

Sulitnya Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

1.      Latar Belakang

Setelah lulus kuliah dan memiliki gelar sarjana tentu yang ada di pikiran mahasiswa tersebut akan memudahkannya dalam mencari pekerjaan. Karena mereka merasa memiliki modal yang lebih dari orang lain yang tidak memiliki gelar sarjana. Tapi, pada kenyataanya tidak semudah yang di bayangkan. Seorang sarjana tidak semata-mata langsung mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan yang diinginkannya. Dalam dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit, sedangkan sarjana yang memiliki ilmu yang tidak terlalu dibutuhkan perusahaan tentu akan mengalami kesulitan juga dalam mendapatkan pekerjaan. Faktanya hanya sarjana ilmu-ilmu tertentu yang banyak dibutuhkan pada dunia kerja seperti sarjana ilmu ekonomi ataupun sarjana ilmu hukum. Lalu bagaimana dengan sarjana ilmu lainnya? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan? Ketidakmerataan jumlah lowongan pekerjaan bagi sarjana yang ilmunya beragam telah menjadi masalah yang menyulitkan banyak sarjana Indonesia.

-          Mengapa itu penting?

Topik ini telah menjadi masalah yang besar, karena telah menjadi masalah semua sarjana yang lulus kuliah. Yang seharusnya dengan bersusah payah berkuliah untuk mendapatkan gelar yang dapat digunakan sebagai modal untuk memudahkan dalam mendapat pekerjaan, tetapi tetap kesulitan dalam mendapat pekerjaan.

-          Asumsi

Sarjana yang lulus setiap tahunnya dengan ilmu yang banyak dan beragam tidak seimbang dengan kebutuhan dunia kerja sesungguhnya. Yang pada kenyataan dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit.

2.      Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.

3.      Pertanyaan Penelitian

Bagaimana sarjana muda mencari pekerjaan?

4.      Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

5.      Area Riset

Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai mahasiswa yang baru lulus kuliah.

 

6.      Pertanyaan Lapangan

a.       Apa yang membuat anda sulit mencari pekerjaan?

b.      Apakah lowongan pekerjaan yang banyak tersedia sesuai dengan ilmu sarjana anda?

c.       Berapa banyak perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana anda?

d.      Apakah teman kuliah anda juga memiliki masalah yang sama dengan anda?

e.       Bagaimana dengan keadaan seperti ini agar anda tidak kalah dalam persaingan mencari pekerjaan dengan sarjana yang lain?

7.      Laporan Hasil Penelitian

Ketidakseimbangan jumlah lowongan pekerjaan dengan jumlah sarjana(pencari pekerjaan) menjadi faktor utama sulitnya mencari pekerjaan. Keadaan itu diperparah dengan sedikitnya ilmu sarjana yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Perusahaan-perusahaan banyak yang mencari sarjana ilmu ekonomi atau ilmu hukum. Keadaan ini tentu makin mempersulit para sarjana yang mencari pekerjaan tetapi memiliki ilmu sarjana yang kurang di butuhkan oleh dunia kerja ataupun perusahaan.

Keadaan seperti ini dibuktikan dengan keterangan responden yang mengaku hanya sedikit perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana yang mereka miliki. Permasalahan ini juga menjadi permasalahan banyak sarjana lainnya yang memiliki ilmu sarjana yang beragam yang pada kenyataannya tidak terlalu dibutuhkan dunia kerja. Untuk para sarjana yang memiliki ilmu sarjana yang hanya sedikit dibutuhkan oleh dunia kerja harus dapat membekali diri dengan kemampuan lainnya di samping ilmu sarjananya. Seperti memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, menguasai bahasa asing, maupun kemampuan lainnya yang tentunya akan menjadikan nilai tambah bagi sarjana tersebut agar mampu bersaing dengan sarjana lainnya dalam mendapatkan pekerjaan.

 

Narasumber:

1.      Nama       : Joko Yono

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Karyawan

2.      Nama       : Budi Sobari

Umur       : 26 tahun

Pekerjaan : Sopir Pribadi

3.      Nama       : Fatimah Zahra

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Pegawai swasta

4.      Nama       : Arman Suherman

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Customer Service

 

Eko Radityo_Tugas 6_ Penelitian Sosiologi

Dilema Memilih Kuliah atau Bekerja Setelah Lulus SMA

1.      Latar Belakang

Setelah berakhirnya masa sekolah yaitu sampai jenjang SMA banyak siswa yang bingung menentukan pilihan antara memilih kuliah untuk meneruskan studi atau langsung bekerja. Bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan memiliki kemampuan dalam segi biaya yang cukup untuk kuliah biasanya mereka akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi, bagi mereka yang tingkat ekonominya kurang dan tidak memiliki kemampuan dalam segi biaya untuk kuliah cenderung akan memilih langsung bekerja. Dengan biaya kuliah yang mahal membuat tidak semua siswa bisa melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Untuk siswa yang tingkat ekonominya kurang tetapi ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi tentu akan menjadi masalah. Mereka akan di hadapkan oleh pilihan yang membingungkan antara kuliah(tapi tidak memiliki biaya) atau bekerja(tapi belum siap).

-          Mengapa itu penting?

Melihat banyaknya siswa yang telah lulus SMA tapi bingung untuk memilih kuliah atau bekerja dan masalah ini telah terjadi berulang-ulang kali.

-          Asumsi

Dengan melihat masalah ini yang terjadi telah berulang-ulang kali tentunya ini harus ditemukan penyelesaiannya agar tidak terjadi lagi kebingungan yang sama pada angkatan selanjutnya.

2.      Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.

3.      Pertanyaan Penelitian

Bagaimana baiknya memilih antara kuliah atau bekerja setelah lulus SMA bagi siswa?

4.      Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

5.      Area Riset

Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai siswa yang baru lulus SMA.

6.      Pertanyaan Lapangan

a.       Apa yang menjadi pilihan anda antara kuliah atau bekerja?

b.      Apa yang menjadi hambatan anda untuk kuliah?

c.       Apakah sekolah anda memberikan bantuan maupun pengarahan untuk memilih kuliah yang terjangkau dengan anda?

d.      Apa saja usaha yang anda lakukan untuk berkuliah?

e.       Apakah harapan anda kedepannya?

 

7.      Hasil Laporan Penelitian

Kebanyakan dari para responden memilih untuk berkuliah untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Tetapi keinginan mereka ini terhambat akan biaya kuliah yang tergolong terlalu mahal buat mereka. Dengan tingkat ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah tentunya sulit untuk memenuhi biaya kuliah yang tinggi. Pihak sekolah dinilai kurang memberikan pengarahan maupun bantuan kepada siswa yang miskin tapi memiliki keinginan untuk berkuliah. Karena pengarahan yang kurang dari pihak sekolah maka banyak terjadi kebingungan antara memilih kuliah atau bekerja. Siswa yang telah lulus SMA yang tingkat ekonominya menengah ke bawah bisa tetap berkuliah dengan cara mencari beasiswa. Tetapi tentunya beasiswa tidaklah datang dengan sendirinya. Mereka harus mencarinya dengan berbekal nilai yang bagus, karena dewasa ini pemerintah maupun pihak swasta bnyak membuka beasiswa bagi siswa miskin yang berprestasi dan ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

 

Narasumber:

1.      Nama       : Raka Wahyu

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

2.      Nama       : Ilham Soleh

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

3.      Nama       : Dwiky Rama

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

4.      Nama       : Dewa Barata

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

 

Lisda Nur Asiah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian Tema ke 3

Tema : Kehidupan Seorang Penjual Jamu Gendong Keliling
 
        I.            Latar Belakang
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional untuk Indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya.

Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terleih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kapsul, dan kaplet.

Dalam perkembangan pola kehidupan global, keberadaan jamu dala kehidupan terasa mulai terancam dengan hadirnya berbagai jenis obat yang ternyata lebih cepat membereskan rasa sakit ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi eksistensi jamu sebagai obat tadisional. Apalagi, pola pemikiran orang sekarang lebih banyak pada obat-obat modern yang lebih praktis dan lebih cepat kerjanya. Tetapi, tukang penjual jamu tidak pernah merasa tersaingi sebab pangsa pasar mereka masih tetap ada.

Seperti kita ketahui, dalam gaya hidup sehat, menjaga kesehatan memang merupakan aspek penting yang harus selalu kita lakukan jangan sampai kita mengalami gangguan kesehatan karena badan yang kecapekan atau sebangsanya. Pada saat badan mengalami kecapekan,sebenarnya pada saat tersebut membutuhkan regenerasi sel dan sebagainya. Dan, tukang penjual jamu memahami kebutuhan tersebut sehingga mereka siap dengan ramuan sehatnya.

Ø  Mengapa Penelitian itu penting ?
Adapun beberapa alasan mengapa saya mengangkat tema penelitian ini yakni memecahkan rasa ingin tahu masalah yang dihadapi, menambah wawasan tentang penelitian kehidupan seorang penjual jamu gendong keliling.

Ø  Asumsi
Jamu cenderung lebih efektif untuk keluhan kesehatan jangka lama yang tidak merespon baik terhadap obat tradisional. Jamu biasanya memiliki efek samping lebih banyak, dan mungkin lebih aman untuk digunakan lebih sering lagi.

      II.            Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.

    III.            Pertanyaan penelitian
1)      Bagaimana profile kehidupan penjual jamu keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ?
2)      Apa motivasi dari penjual jamu keliling tersebut ?
 
    IV.            Metode
Metode yang saya gunakan adalah "Metode Kualitatif" yaitu metode yang mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian datanya dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif. Pengamatan dilakukan dengan cara wawancara.

      V.            Area
Lokasi penelitian dilaksanakan di jalan Rawabelong IIE, Jakarta Barat. Penelitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai penjual jamu keliling yang sedang berdagang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2014.

    VI.            Pertanyaan lapangan
 
1.       Sudah berapa lama menjual jamu keliling ini ?
2.       Dari pukul berapa sampai pukul berapa anda menjual jamu ini dan dimana sajakah anda menjualnya ?
3.       Jenis apa saja jamu yang di jual dan apa saja manfaatnya?

Hasil Laporan Penelitian
Seorang penjual jamu gendong keliling yang menggunakan baju khas jawa kebaya dan kain jarit serta selendang itu bernama Mbak Sri. Beliau adalah asli orang solo dari cara berbicaranya masih terdengar kental gaya kemayu orang solo meskipun telah lama tinggal di Jakarta. Tutur katanya lembut mejadikan konsumen merasa senang saat membelinya. Saat ini Mbak Sri tinggal di jalan Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Wanita kelahiran 1976 mempunyai satu orang anak.

Mbak Sri sudah sekitar 4tahun menjual jamu keliling, tiap pagi  dengan berjalan kaki beliau berkeliling menyusuri jalan menawarkan jamu kepada pelangganya. Bahkan, beliau tidak segan mendatangi rumah-rumah mewah yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan masyarakat umumnya. Bagi beliau yang penting dagangan laku. Beliau yakin bahwa para pemilik harta banyak tersebut tetap menjunjung tinggi gaya hidup sehat dan menjaga kesehatan. Keyakinan inilah yang membuat wanita penjual jamu ini bertahan untuk terus menekuni perkerjaan tersebut.

Mbak Sri menjual jamunya dari jam 07.00 – 10.00 WIB dan dilanjutkan lagi pada pukul 02.30-17.30 WIB. Jamu yang dijualnya hasil racikannya sendiri, sebab menurut beliau saat ini ada juga jamu gendong yang bukan alami tapi jamu instan yang di beli di pasaran. Inilah yang menjadikan kelebihan dari jamu buatan wanita asal solo ini alami dan bebas bahan kimia.

Ada berbagai macam jenis jamu yang di jual wanita asal solo ini termasuk jamu kunyit asam, jamu daun pepaya, jamu pahitan, serta jamu beras kencur. Manfaat jamu gendong banyak sekali seperti jamu kunyit asam bermanfaat melancarkan datang bulan. Jamu daun pepaya untuk melancarkan asi bagi ibu yang baru saja melahirkan selain itu jamu pepaya juga bermanfaat untuk menambah nafsu makan. Jamu pahitan dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan, seperti untuk gatal-gatal, kencing manis, kurang nafsu makan, menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol.  Serta jamu beras kencur untuk kekebalan tubuh.

  VII.            Kesimpulan :
Dari penelitian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, mengingat jamu gendong dikonsumsi secara luas oleh masyarakat, perlu peningkatan mutu. Untuk itu, disarankan agar dalam pembuatan jamu gendong menggunakan takaran standar, tidak hanya dengan perkiraan komposisi. Dengan perlakuan secara standar, akan menghasilkan jamu gendong terstandar pula sehingga jamu yang diedarkan kepada masyarakat mempunyai ciri khas untuk setiap penjual jamu .

Profil Nara sumber :
Nama                            : Sri Ningsih
Profesi                          : Penjual jamu
Usia                               : 38tahun
 
Lisda Nur Asiah
1113054100030
Kesejahteraan Sosial 2A

Sabtu, 17 Mei 2014

Dinara Oktaviana_Tugas7_Hasil laporan penelitian

KEHIDUPAN SEORANG PENJUAL BAJIGUR DI JAGAKARSA

 

       I.            Latar Belakang

Maraknya makanan cepat saji (fast food) dan junk food yang menawarkan berbagai macam pilihan dengan harga bervariasi mulai dari harga yang mahal sampai murah membuat masyarakat lebih memilih makanan tersebut. Selain banyak pilihan dan harga terjangkau, makanan cepat saji mudah didapatkan hanya dengan memesan melalui telepon dan akan diantar sampai rumah atau tempat yang ingin dituju serta menjanjikan ketepatan waktu. Kemudahan-kemudahan yang diberikan selain memanjakan masyarakat dapat pula membuat masyarakat  lupa akan keberadaan para penjual makanan tradisional. Keadaaan seperti ini sungguh tidak baik dan bagaikan satu hantaman bagi para penjual makanan dan jajanan tradisional. Salah satu yang merasakan dampak dari makanan cepat saji ialah penjual bajigur. Bajigur, minuman tradisional dari Jawa Barat yang berbahan utama gula aren dan santan. Minuman ini begitu populer dimasanya sebelum tergerus oleh zaman. Bajigur biasa disajikan bersama pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus, kacang kedelai, klepon, kue pisang, timus dan lain sebagainya. Tetapi bajigur tidak sepopuler dulu, eksistensi penjual bajigur semakin jarang bukan berarti telah punah. Masih ada beberapa dari mereka bertahan hidup dengan menjual bajigur. Walau harus diakui bahwa penghasilan dari menjual bajigur di zaman modern tidak sebesar dulu.

 

-          Mengapa penting untuk diteliti

Zaman semakin berkembang menuju modern dan banyak pilihan kuliner yang ditawarkan. Sedangkan bajigur minuman tradisional, mungkin kini hanya para orang tua  yang kenal dengan bajigur. Penting untuk diteliti agar dapat mengetahui bagaimana bajigur menghidupi para penjual minuman tradisional.

 

-          Asumsi

Adanya berbagai makanan dan minuman yang kekinian, membuat para penjual makanan dan minuman tradisional semakin terpojokkan.

 

 

    II.            Teori Sosiologi

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.

 

 III.            Pertanyaan Penelitian

1)      Bagaimana kehidupan seorang penjual bajigur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ?

 

 IV.            Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati kehidupan seseorang yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik

 

    V.            Area Riset

Penelitian dilaksanakan di jalan belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mewawancarai seorang penjual bajigur yang sedang berdagang. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2014.

 

 

 VI.            Pertanyaan Lapangan

1)      Apakah dengan menjual bajigur pilihan terakhir ?

2)      Apakah bajigur masih menjadi minuman yang dicari masyarakat ?

3)      Bagaimana cara menarik masyarakat agar tertarik dengan bajigur ?

4)      Berkeliling mulai jam berapa ?

5)      Anda seorang perantau atau asli sini ?

 

VII.            Hasil Laporan Penelitian

Seorang penjual bajigur yang dikenal sebagai pak Ali sudah sejak lama menjual bajigur sekitar dari tahun 1997 hingga sekarang. Beliau mengaku saat ini hanya dapat menjual bajigur untuk menghidupi istri dan membiayai sekolah tiga anaknya. Sebelum menjadi penjual bajigur, beliau sempat kerja serabutan. Laki-laki kelahiran tahun 1962 ini tinggal di kontrakan kecil di daerah ciganjur. Beliau asli Jakarta yang terkadang mengeluh mahalnya harga pangan di ibu kota. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk berhenti sebagai penjual bajigur. Kata pak Ali, bajigur jarang diminati masyarakat saat ini karena kalah saing dengan capucino cincau yang marak dipinggir jalan. Bajigur dikenal sebagai minuman hangat, tetapi kini pak Ali menjadikan bajigur minuman dingin dengan harapan agar menarik perhatian masyarakat untuk membeli. Dan ternyata cara itu berhasil walau hanya sedikit yang berminat tetapi itu satu kemajuan. Beliau bekeliling mulai pukul 08.00 – 17.00 WIB. Pak Ali berkeliling sekitar setu babakan, ciganjur dan jagakarsa. Pembeli bajigur biasanya para lanjut usia sedangkan anak-anak atau remaja lebih memilih membeli kedelai, timus, ubi rebus dan jagung rebus. Pendapatan yang diperoleh pak Ali tidak menentu kadang Rp80.000 tak jarang juga hanya Rp20.000. Dengan penghasilan yang pas-pasan pak Ali tetap bertekad mensekolahkan anak-anaknya walaupun itu harus pinjam sana-sini. Laki-laki berkumis ini berharap baijgur tidak punah agar generasi selanjutnya mengenal minuman tradisional yang biasa diminum pada suasana dingin. Suara khas yang digunakan ketika berjualan bajigur membuat masyarakat sekitar hafal betul akan kedatangan pak Ali "guuur yang anget yang anget yang dingin guur aya aya aya".

 

 

 

 

Cari Blog Ini