Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Minggu, 18 Mei 2014
Agik_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan
FitaFauziah_TugasVII_PenelitianTema3
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat kita sering memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan
sebagai pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sebagai
"sekolah". Padahal konsep pendidikan adalah belajar seumur hidup, atau
dinyatakan bahwa hidup itu adalah belajar. Pendidikan dapat dibagi
dengan tiga jalur; pertama yang disebutnya pendidikan formal
(pendidikan melalui bentuk sekolah), jalur kedua yang disebutnya
pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah yang masih
diorganisasikan), dan ketiga yang disebutnya pendidikan informal
(pendidikan dalam masyarakat dan keluarga tanpa pengorganisasian
tertentu).
Walaupun begitu, masih banyak di masyarakat kita yang percaya dengan
pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sekolah, sangat
diandalkan dan mengesampingkan pendidikan non formal (agama, etika,
kebudayaan dll.) Hal ini dilandasi karena berkembang asumsi di
masyarakat bahwa dengan sekolah yang tinggi itu dapat mengubah
kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Maka dari itu tidak
mengherankan setiap tahunnya banyak orangtua yang memasukan anaknya ke
sekolah-sekolah. Menurut Prof. Dr. S. Nasution M.A (1983) setidaknya
ada banyak alasan yang menyebabkan orangtua menyekolahkan anak-anaknya
yaitu di antaranya adalah harapan dan kepercayaan bahwa sekolah
mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, pandangan bahwa sekolah
membuka kesempatan memperbaiki nasib, dan masih banyak fungsi sekolah
yang diharapkan orangtua dari sekolah.
Namun sering kali fungsi sekolah yang diharapkan oleh orangtua seperti
yang telah disebutkan di atas sering tidak sesuai dengan harapan.
Sekolah sebagai pendidikan formal seringkali tidak dapat memecahkan
masalah kemiskinan dan pengangguran.
B. Masalah dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini merupakan gambaran mengenai pendidikan formal melalui
sudut pandang subyek-subyek yang berasal dari kalangan yang kurang
mampu secara ekonomi. Ruang lingkup penelitian ini meliputi persepsi
mereka tentang sekolah atau pendidikan, faktor-faktor yang menyebabkan
mereka tidak melanjutkan pendidikan formal, pengalaman-pengalaman
mereka selama menempuh sekolah sampai harapan-harapan yang mereka
inginkan dari dunia pendidikan di Indonesia ini.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
bagaimana para subyek yang peneliti wawancarai melihat kondisi di
sekolah yang ada sekarang. Definisi operasional penelitian ini adalah
mengenai pandangan dari para subyek mengenai pendidikan formal yang
meliputi: (a) Fungsi dan Peran Sekolah bagi mereka, keluarga mereka;
(b) Harapan dan keluh kesah mereka mengenai pendidikan di Indonesia.
C. Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini mengambil metode dari Emile Durkheim yaitu
penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih menekankan
perhatian pada proses daripada produk atau hasil, tertarik pada makna,
sehingga peneliti sendiri merupakan instrumen pokok untuk pengumpulan
dan analisa data. Data didekati melalui instrumen manusia, bukan
melalui inventaris, daftar pertanyaan, atau mesin. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik observasi baik itu melalui pengamatan mengenai
tingkah-laku subyek dan lingkungan sekitar subyek maupun melalui
obrolan-obrolan ringan serta wawancara formal dengan subyek. Wawancara
dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendalam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Profil Subyek Kalangan Menengah ke Bawah
Kalangan Menengah ke bawah yang dimaksud peneliti di sini adalah dua
orang subyek yang peneliti wawancarai. Peneliti memilih kedua orang
subyek ini karena menurut peneliti sesuai dengan masalah yang ingin
peneliti teliti. Dua orang ini berdomisili di kelurahan Limo. Subyek
pertama bernama Ismi dan yang kedua bernama bapak Dirman
Pelaksanaan Penelitian dengan Wawancara
Subjek Pertama bernama Ismawati usia 15 tahun kesehariannya membantu
orang tua mencari barang bekas di jalan atau tempat pembuangan sampah
di Kelurahan Limo
Fitta : Assalam'alaikum, maaf mba ganggu, boleh minta waktu sebentar?
Isma : Wa'alaikumsalam, iya boleh ada apa?
Fitta : masih bersekolah?, kenapa?
Isma : engga, karena tidak ada biaya.
Fitta : sekarang tinggal dengan orang tua? Atau bagaimana?
Isma : iya masih sama orang tua.
Fitta : boleh tau tinggal dimana? Rumah sendiri atau sewa?
Isma : di limo depok, rumah ngontrak
Fitta : Kamu berapa bersaudara?, Bapak Ibu kerjanya apa?
Isma : anak pertama dari dua bersaudara, bapak dan ibu juga pemulung
Fitta : Hasil dari memulung sehari dapet kisaran berapa?, pengeluaran berapa?
Isma : 50 rb sehari, untuk makan sehari 10 rb
Fitta : Kalau dikalikan sebulan bisa mencapai 1 juta-an untuk kamu sendiri.
Isma : kalo dihitung seperti itu memang iya bisa mencapai 1 juta,
namun karena perhari tidak tentu jadi sebulan ya sudah dikumpulkan ke
orang tua.
Fitta : kamu pernah menabung? Berapa pernah dapat menabung?
Isma : pernah coba menabung, tapi tidak setiap hari, nabung di
celengan, pernah baru sebulan sudah dibongkar karena butuh biaya
berobat adik sakit.
Fitta : Orang tua kamu tidak menyuruh untuk melanjutkan sekolah?
Isma : bapak bilang sekolah Cuma buang2 uang, karena sekolah tinggi
tinggi juga belum dapet kerjaan layak, malah banyak pengangguran.
Fitta : kalau kamu sendiri apa masih ada keinginan untuk sekolah?
Isma : masih ada tapi biaya untuk sekolah tidak murah
Fitta : Menurut kamu lebih baik mencari uang dengan memulung atau
mencari ilmu dengan sekolah?, kenapa?
Isma : lebih baik memulung, karena bisa bantu cari uang untuk orang tua
Fitta : menurut kamu seberapa penting si pendidikan itu?
Isma : tidak tau, karena dlu SD pernah sekolah tetapi tidak terpakai
apa yang dipelajari, makanya SMP saya tidak melanjutkan, disamping
memang biayanya tidak ada.
Fitta : kalo boleh berandai atau berharap, apa harapan kamu yang
mungkin mengenai pendidikan?
Isma : ingin sekolah gratis tanpa ada biaya apapun, kan sekarang
gratis katanya tetapi yang lainnya masih harus beli dan prosesnya
sulit
Fitta : Tetapi paling tidak untuk biaya sudah digratiskan, namun
seperti seragam dan ongkos bisa coba menabung sedikit.
Fitta : Bagaimana caranya untuk mewujudkan harapan kamu?
Isma : iya betul saya ingin pemerintah benar-benar menggratiskan
sekolah jadi saya bisa bersekolah, dan sepulang sekolah saya bisa
memulung untuk membantu orang tua.
Fitta : Jika ada yang ingin membantu kamu lebih meilih dibantu dengan
uang, atau dibantu melanjutkan sekolah?
Isma : saya lebih baik disekolahkan.
Fitta : baik kalo begitu terima kasih atas waktunya ya, semoga harapan
kamu bisa terwujud.
Isma : amin
Subyek ke dua adalah bapak Dirman 45 tahun, dia berprofesi sebagai
Tukang Ojek di jalan Limo Raya
Fitta : Maaf pak bisa minta waktu sebentar?
Dirman : iya mba mau diantar kemana?
Fitta : engga pak mau tanya – tanya sebentar boleh?
Dirman : oh iya mumpung tidak ada penumpang.
Fitta : iya pak kalo nanti ada penumpang tidak apa-apa dicukupkan saja.
Dirman : oo gitu, mau nanya apa mba? Alamat?
Fitta : bukan pak ini ada tugas kuliah.
Dirman : ya sudah mau tanya apa?
Fitta : bapak selain ngojek, apa punya usaha atau pekerjaan lain?
Dirman : enggak neng saya Cuma ngojek aja setiap hari mangkal disini.
Fitta : begitu ya, trus istri kerja?
Dirman : istri dirumah aja mba ngurus anak, anak saya ada 4 yang dua
masih kecil yang pertama mungkin seumuran mba ini.
Fitta : anak pertama sudah lulus sekolah? Sudah bekerja juga?
Dirman : iya anak pertama saya lulusan SMA tetapi tidak kuliah dan
sekarang menganggur.
Fitta : lho kenapa ga kerja, sudah coba melamar pekerjaan? Lalu anak
yang lain masih bersekolah?
Dirman : iya mba dia sudah coba melamar pekerjaan dimana-mana, namun
tidak ada yang diterima karena saat di tes atau wawancara tidak
memenuhi kriteria. Anak yang kedua masih SMP, dan yang dua lagi tidak
sekolah harusnya sekolah SD.
Fitta : lho kenapa tidak disekolahkan pak?
Dirman : enggak mba nanti malah seperti kakak nya disekolahkan
mahal-mahal tidak menjamin bisa kerja, karena disekolah itu tidak
diajarkan kerja, yang diajarkan tidak bermanfaat buat mencari uang.
Fitta : jadi menurut bapak pendidikan tidak penting?
Dirman : kalo untuk orang pas – pasan seperti saya kurang penting,
lebih baik anak dari kecil diajarkan mencari uang saja biar kalo besar
sudah bisa mencari uang.
Fitta : dari bapak ngojek disini setiap hari rata-rata dapat berapa rupiah pak?
Dirman : ya ga tentu mba, rata-rata 60rb-100rb, bensin 15rb, makan
10rb, rokok 5rb jadi bawa pulang rata-rata 70rb-50rb
Fitta : kalo rata – rata segitu sebulan bisa 2 jt-an ya pak?
Dirman : haha iya mba klo dihitung seperti itu ya memang, tapi kan
keadaannya berbeda kalo sebenarnya kan buat makan ama bayar kontrakan
juga.
Fitta : ooh rumah masih ngontrak ya pak, lalu harapan bapak seperti
apa untuk masa depan anak – anak bapak sendiri?
Dirman : mau nya sih sekolah gratis tapi benar-benar gratis, karena
anak saya yang SMP itu sudah gratis SPP nya tapi masih harus beli ini
itu seperti LKS, biaya olah raga/ praktek dll itu yang memberatkan
saya.
Fitta : lalu apa harapan bapak untuk dunia pendidikan agar pendidikan
itu menjadi penting?
Dirman : ya harusnya di sekolah itu tidak kebanyakan teori, harus
diajarkan ilmu2 yang berguna buat kehidupan sehari-hari, anak sekarang
bisanya Cuma tawuran aja.
Fitta : begitu ya pak.
Dirman : maaf mba ada penumpang itu, apa masih ada yang mau ditanyakan?
Fitta : oh iya pak silahkan diantar saja, saya cukup pak terima kasih
atas waktunya, semoga bapak selalu dapat rejeki yang banyak ya pak.
Dirman : ammin mba sama – sama semoga tugasnya juga dapat nilai bagus..
Fitta : ammin pak
B. Sekolah Tidak Berfungsi Mempersiapkan Anak Untuk Suatu Pekerjaan
Seperti yang telah diuraikan oleh Prof. Dr. S. Nasution M.A harapan
kebanyakan orangtua dan murid pada sekolah adalah untuk mempersiapkan
anak untuk suatu pekerjaan. Maka dari itulah muncul STM, SMK dan
sebagainya untuk menjawab harapan-harapan ini. Namun, pada
kenyataannya pendidikan formal belum tentu mampu untuk mempersiapkan
tenaga kerja dan juga mengurangi kemiskinan.
Seperti yang terjadi dengan subyek pertama dia pernah sekolah namun
sekolah tidak membantunya untuk mendapatkan kehidupan yang layak,
begitu juga subyek ke dua yaitu bapak Dirman iya memiliki anak yang
telah lulus SMA namun sulit mendapat pekerjaan.
Bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin adalah sangat
sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak apalagi jika mereka tidak
bersekolah dan memiliki skill apapun. Jikalau mereka mendapatkan
pekerjaan biasanya pekerjaan mereka itu didapat karena adanya jaringan
kekerabatan seperti yang peneliti lihat di usaha-usaha Warteg, Kusen
dan Las di kelurahan Limo ini. Mereka biasanya mengambil
saudara-saudaranya yang berasal dari kampung mereka untuk dipekerjakan
atau istilah halusnya membantu usaha tersebut. Namun demikian tetap
saja bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin pilihan
bekerja sangat terbatas karena pekerjaan yang bagus kemungkinan besar
hanya akan ditempati oleh orang-orang yang memiliki modal yang lebih
baik. Baik itu modal ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya
Harapan-Harapan Subyek Pada Pendidikan Formal
Berdasarkan wawancara peneliti dengan para subyek ada harapan-harapan
yang disematkan kepada pendidikan di Indonesia ini untuk ke depannya
lebih baik lagi
BAB III
PENUTUP
Uraian yang telah dipaparkan oleh peneliti memang dirasa masih kurang
memadai untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi para subyek
yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, peneliti mendapati
faktor utama yang menyebabkan tidak berlanjutnya para Subyek menempuh
pendidikan adalah ketidakmampuan ekonomi dan juga persepsi akan
seberapa pentingnya pendidikan untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Walaupun begitu dengan segala kekurangan pendidikan formal di
Indonesia ini. Para subyek tetap menaruh harapan pada pendidikan
formal untuk dapat setidaknya memperbaiki nasib mereka. Dan karena itu
mereka berharap agar pendidikan itu murah dan terjangkau kalau memang
tidak bisa gratis dan juga ada perhatian dari pemerintah terhadap
orang-orang seperti mereka ini.
Fitri Qomariah_Tugas 7_TOR dan Laporan Hasil Penelitian Tema ke-3
Isra Wahyuni_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan
Pengaruh Handphone dalam Pertumbuhan Remaja
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah cepat, sebagai akibat dari arus globalisasi. Salah satu perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami perkembangan yang cepat adalah telepon seluler (handphone).
Handphone (HP) merupakan sebuah alat komunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap (telepon kabel), namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Sehingga kita dapat berkomunikasi dari sembarang tempat , selama masih ada jaringan sinyal untuk HP yang kita gunakan.
Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, HP / ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.
1. Mengapa penting untuk diteliti
Dalam penelitian ini mengapa menjadi penting untuk diteliti karena dengan kehadiran ponsel dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku sosial.
2. Asumsi
Dewasa ini, peranan ponsel sudah menjadi sebuah kebutuhan primer sehari-hari. Orang-orang sudah bisa dibilang tidak dapat lepas dari ponsel, dikarenakan hampir semua orang telah memiliki ponsel, dari yang kaya hingga yang miskin, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Oleh karena itu, tentunya ponsel / handphone ini memliki pengaruh terhadap kehidupan seorang manusia yag memilikinya.
II. Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
III. Pertanyaan Penelitian
1. Apa pengaruh handphone bagi pertumbuhan remaja?
2. Mengapa handphone meningkat menjadi suatu kebutuhan dikalangan remaja?
IV. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
V. Area Riset
Loasi penelitian dilakukan didaerah jalan Utama Raya, cengkareng Jakarta Barat. Penelitian dilakukan pada tanggal 15 mei 2014. Untuk memperoleh data penelitian dilakukan dengan mewawancarai beberapa remaja pada daerah tersebut.
VI. Pertanyaan Lapangan
1. Sejak kapan anda mulai menggunakan handpone?
2. Apa dampak positif menggunakan handphone?
3. Apa dampak negatif dalam menggunakan handphone?
VII. Hasil Laporan Penelitian
Tidak dipungkiri lagi bahwa kehadiran telepon seluler (ponsel) atau handphone telah merubah kehidupan manusia yang juga berdampak bagi perkembangan remaja. Jarak yang selama ini menjadi penyebab dari kesulitan itu. Sebagian besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada ponsel. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa para remaja memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Alasannya agar bisa berkomunikasi dengan mudah. Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan ponsel adalah, "Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis." Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel seperti sebuah keniscayaan.
Beberapa dari remaja mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi. Kendati demikian, ini menjadi sifat "memaksa". Di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya masih belum mampu membayangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel. Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Inilah kemajuan zaman, suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan. Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negati bagi para penggunanya, khususnya para remaja.
Adapun dampak positif yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara yaitu dapat mempermudah komunikasi tanpa batasan jarak yang dapat menghemat waktu tanpa perlu bertemu langsung, menambah dan mempermudah dalam mengakses informasi dan pengetahuan dengan berbagai fitur yang tersaji dalam ponsel tersebut, dan dapat memperluas jaringan persahabatan.
Selain itu hanphone juga membawa dampak yang negatif, sesuai dengan tema bahwa salah satunya dapat mengganggu perkembangan remaja, dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti kamera, games yang akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/dikampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan handphone untuk mencontek dalam ujian. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi. Handphone juga sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, jika tidak ada kontrol dari orang tua handphone bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar. Dampak lainnya adalah handphone juga berdampak terhadap kesehatan karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Badre tentang dampak negatif penggunaan ponsel bagi kesehatan tertuju pada pola tidur seseorang. Badre menemukan bahwa ketika seorang anak menggunakan telepon dan GSM secara berlebihan akan mengakibatkan kesulitan tidur pada malam hari. Tentunya hal ini akan berdampak pada tingkat kelelahan dan stres, selain itu dampak buruk penggunaan ponsel adanya radiasi sinyal RF. Radiasi ini bisa meningkatkan potensi terkena kanker, terutama pada anak-anak. Lalu handphone berdampak pada rawannya terhadap tindak kejahatan jika kita mengggunakan handphone hanya untuk di pamerkan, dan secara mencolok dapat mengancam nyawa sendiri jika terjadi tindak kejahatan, semisal pencurian dan perampokan. Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat. Handphone juga dapat berdampak pemborosan dengan mempunyai handphone maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan saja.
Kesimpulan
Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat "memaksa", membuat manusia menjadi tergantung padanya.
Dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh handphone maka sebagai remaja, bijaklah dalam penggunaannya. Handphone/ ponsel tidak hanya sebagai teknologi komunikasi namun juga sebagai hal yang mencerminkan ikatan emosional dan budaya yang melambangkan status sosial manusia sehingga manusia selalu melihat ponsel sebagai ukuran status manusia dan berlomba untuk selalu mendapat serta mengganti ponsel dengan tipe yang terbaru.
Narasumber:
Nama: selly saputri
Umur: 16 thn
Status: pelajar SMA kelas X
Nama : Fikri Haikal
Umur : 15 thn
Status : pelajar SMP kelas IX
Nama : Risti
Umur: 14 thn
Status : pelajar SMP kelas VIII
Nama: Noval Rizki. Z
Umur: 14 thn
Status : pelajar SMP kelas IX
Eko Radityo_Tugas 7_Penelitian Sosiologi
Sulitnya Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah
1. Latar Belakang
Setelah lulus kuliah dan memiliki gelar sarjana tentu yang ada di pikiran mahasiswa tersebut akan memudahkannya dalam mencari pekerjaan. Karena mereka merasa memiliki modal yang lebih dari orang lain yang tidak memiliki gelar sarjana. Tapi, pada kenyataanya tidak semudah yang di bayangkan. Seorang sarjana tidak semata-mata langsung mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan yang diinginkannya. Dalam dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit, sedangkan sarjana yang memiliki ilmu yang tidak terlalu dibutuhkan perusahaan tentu akan mengalami kesulitan juga dalam mendapatkan pekerjaan. Faktanya hanya sarjana ilmu-ilmu tertentu yang banyak dibutuhkan pada dunia kerja seperti sarjana ilmu ekonomi ataupun sarjana ilmu hukum. Lalu bagaimana dengan sarjana ilmu lainnya? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan? Ketidakmerataan jumlah lowongan pekerjaan bagi sarjana yang ilmunya beragam telah menjadi masalah yang menyulitkan banyak sarjana Indonesia.
- Mengapa itu penting?
Topik ini telah menjadi masalah yang besar, karena telah menjadi masalah semua sarjana yang lulus kuliah. Yang seharusnya dengan bersusah payah berkuliah untuk mendapatkan gelar yang dapat digunakan sebagai modal untuk memudahkan dalam mendapat pekerjaan, tetapi tetap kesulitan dalam mendapat pekerjaan.
- Asumsi
Sarjana yang lulus setiap tahunnya dengan ilmu yang banyak dan beragam tidak seimbang dengan kebutuhan dunia kerja sesungguhnya. Yang pada kenyataan dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit.
2. Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana sarjana muda mencari pekerjaan?
4. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
5. Area Riset
Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai mahasiswa yang baru lulus kuliah.
6. Pertanyaan Lapangan
a. Apa yang membuat anda sulit mencari pekerjaan?
b. Apakah lowongan pekerjaan yang banyak tersedia sesuai dengan ilmu sarjana anda?
c. Berapa banyak perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana anda?
d. Apakah teman kuliah anda juga memiliki masalah yang sama dengan anda?
e. Bagaimana dengan keadaan seperti ini agar anda tidak kalah dalam persaingan mencari pekerjaan dengan sarjana yang lain?
7. Laporan Hasil Penelitian
Ketidakseimbangan jumlah lowongan pekerjaan dengan jumlah sarjana(pencari pekerjaan) menjadi faktor utama sulitnya mencari pekerjaan. Keadaan itu diperparah dengan sedikitnya ilmu sarjana yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Perusahaan-perusahaan banyak yang mencari sarjana ilmu ekonomi atau ilmu hukum. Keadaan ini tentu makin mempersulit para sarjana yang mencari pekerjaan tetapi memiliki ilmu sarjana yang kurang di butuhkan oleh dunia kerja ataupun perusahaan.
Keadaan seperti ini dibuktikan dengan keterangan responden yang mengaku hanya sedikit perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana yang mereka miliki. Permasalahan ini juga menjadi permasalahan banyak sarjana lainnya yang memiliki ilmu sarjana yang beragam yang pada kenyataannya tidak terlalu dibutuhkan dunia kerja. Untuk para sarjana yang memiliki ilmu sarjana yang hanya sedikit dibutuhkan oleh dunia kerja harus dapat membekali diri dengan kemampuan lainnya di samping ilmu sarjananya. Seperti memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, menguasai bahasa asing, maupun kemampuan lainnya yang tentunya akan menjadikan nilai tambah bagi sarjana tersebut agar mampu bersaing dengan sarjana lainnya dalam mendapatkan pekerjaan.
Narasumber:
1. Nama : Joko Yono
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Karyawan
2. Nama : Budi Sobari
Umur : 26 tahun
Pekerjaan : Sopir Pribadi
3. Nama : Fatimah Zahra
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Pegawai swasta
4. Nama : Arman Suherman
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Customer Service
Eko Radityo_Tugas 6_ Penelitian Sosiologi
Dilema Memilih Kuliah atau Bekerja Setelah Lulus SMA
1. Latar Belakang
Setelah berakhirnya masa sekolah yaitu sampai jenjang SMA banyak siswa yang bingung menentukan pilihan antara memilih kuliah untuk meneruskan studi atau langsung bekerja. Bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan memiliki kemampuan dalam segi biaya yang cukup untuk kuliah biasanya mereka akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi, bagi mereka yang tingkat ekonominya kurang dan tidak memiliki kemampuan dalam segi biaya untuk kuliah cenderung akan memilih langsung bekerja. Dengan biaya kuliah yang mahal membuat tidak semua siswa bisa melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Untuk siswa yang tingkat ekonominya kurang tetapi ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi tentu akan menjadi masalah. Mereka akan di hadapkan oleh pilihan yang membingungkan antara kuliah(tapi tidak memiliki biaya) atau bekerja(tapi belum siap).
- Mengapa itu penting?
Melihat banyaknya siswa yang telah lulus SMA tapi bingung untuk memilih kuliah atau bekerja dan masalah ini telah terjadi berulang-ulang kali.
- Asumsi
Dengan melihat masalah ini yang terjadi telah berulang-ulang kali tentunya ini harus ditemukan penyelesaiannya agar tidak terjadi lagi kebingungan yang sama pada angkatan selanjutnya.
2. Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana baiknya memilih antara kuliah atau bekerja setelah lulus SMA bagi siswa?
4. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
5. Area Riset
Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai siswa yang baru lulus SMA.
6. Pertanyaan Lapangan
a. Apa yang menjadi pilihan anda antara kuliah atau bekerja?
b. Apa yang menjadi hambatan anda untuk kuliah?
c. Apakah sekolah anda memberikan bantuan maupun pengarahan untuk memilih kuliah yang terjangkau dengan anda?
d. Apa saja usaha yang anda lakukan untuk berkuliah?
e. Apakah harapan anda kedepannya?
7. Hasil Laporan Penelitian
Kebanyakan dari para responden memilih untuk berkuliah untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Tetapi keinginan mereka ini terhambat akan biaya kuliah yang tergolong terlalu mahal buat mereka. Dengan tingkat ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah tentunya sulit untuk memenuhi biaya kuliah yang tinggi. Pihak sekolah dinilai kurang memberikan pengarahan maupun bantuan kepada siswa yang miskin tapi memiliki keinginan untuk berkuliah. Karena pengarahan yang kurang dari pihak sekolah maka banyak terjadi kebingungan antara memilih kuliah atau bekerja. Siswa yang telah lulus SMA yang tingkat ekonominya menengah ke bawah bisa tetap berkuliah dengan cara mencari beasiswa. Tetapi tentunya beasiswa tidaklah datang dengan sendirinya. Mereka harus mencarinya dengan berbekal nilai yang bagus, karena dewasa ini pemerintah maupun pihak swasta bnyak membuka beasiswa bagi siswa miskin yang berprestasi dan ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Narasumber:
1. Nama : Raka Wahyu
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
2. Nama : Ilham Soleh
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
3. Nama : Dwiky Rama
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar
4. Nama : Dewa Barata
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar