Minggu, 18 Mei 2014

Agik_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan

Penyalahgunaan Internet di Kalangan Remaja
 
1.     Latar Belakang
internet adalah jaringan besar yang saling berhubungan dari jaringan-jaringan komputer yang menghubungkan orang-orang dan komputer-komputer diseluruh dunia, melalui telepon, satelit dan sistem-sistem komunikasi yang lain. Internet dibentuk oleh jutaan komputer yang terhubung bersama dari seluruh dunia, memberi jalan bagi informasi (mulai dari text, gambar, audio, video, dan lainnya ) untuk dapat dikirim dan dinikmati bersama. Untuk dapat bertukar informasi, digunakan protocol standar yaitu Transmision Control Protocol dan internet Protocol yang lebih dikenal sebagai TCP/IP.
Pada dasarnya Internet diciptakan sebagai alat komunikasi dan pengiriman data antar komputer, akan tetapi pada dewasa ini sering kita temui tentang penyalah gunaan internet. Yaitu bukan digunaan sebagai tujuan utama tersebut melainkan di gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, contohnya digunakan untuk maen game online dan untuk membuka situs-situs yang berbau pornogrfi.
1.       Mengapa penelitian itu penting?
a.       Agar para remaja menyadari bahwa mereka salah karena menggunakan internet tidak pada tujuannya.
b.      Agar para remaja tidak mengulangi lagi perbuatan mereka, yaitu menggunakan internet tidak pada tujuannya.
 
2.       Pertanyaan Penelitian
a.       Bagaimana cara mencegah penyalah gunaan internet pada kalangan remaja?
b.      Bagaimana pemanfaatan internet agar tidak terjadi penyalahgunaan internet?
 
3.       Metode dan Penelitian
Metode yang digunakan:
 
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara, mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yaitu penyalahgunaan internet pada kalangan remaja di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.
 
 
Teori yang digunakan:
            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fakta sosial (Emile Durkheim), karena subjek yang diteliti ialah Para remaja di masyarakat. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
 
4.       Pertanyaan Lapangan
a.       Apa faktor utama para remaja di masyarakat menyalahgunakan internet?
b.      Apa dampak yang timbul dari penyalahgunaan internet tersebut?
 
5.       Area Riset
Lokasi yang saya teliti adalah jl. H. taiman , kampong gedong, pasar rebo. Saya meneliti di daerah tersebut karena tempat ini sangat strategis, yaitu di daerah ini terdapat dua warnet yang selalu ramai di kunjungi oleh para remaja yang menyalahgunakan internet, yaitu dengan maen game online dan sebagainya.
 
6.       Hasil Penelitian
Kebanyakan dari kalangan remaja menyalahgunakan internet kaena di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
     a. Kurangnya pengawasan dari orangtua,
b. Peran guru di sekolah masih kurang,
      c. Pergaulan yang salah jalur,
d. Rendahnya pengetahuan tentang IPTEK,
e. Rendahnya Iman dan Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
f. Adanya godaan dari dalam hati yang tidak dapat dicegah untuk membuka situs-situs negative,
      g.Dan masih banyak lagi lainnya.
 
                                       Oleh karena itu agar tidak terjadi penyalah gunaan internet ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi penyalahgunaan internet pada kalangan remaja tersebut, yaitu:
 
      A Dalam penggunaan internet kita harus bisa memfilter mana situs yang baik dan mana situs yang  tidak baik,
      b. Hindari membuka situs yang sekiranya tidak terlalu penting dan sekiranya membawa dampak negative bagi kita,
      c. Perkuatlah Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
      d. Tambahlah ilmu pengetahuan tentang IPTEK dan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari adanya kemajuan IPTEK tersebut,
e. Orang tua harus lebih ketat dalam mengawasi anak-anaknya agar jangan sampai terjerumus ke perbuatan-perbuatan negative yang dapat merusak moral mereka,
f. Guru-guru di sekolahan juga seharusnya lebih tegas lagi untuk menyampaikan tentang internet dan dampak-dampak yang ditimbulkannya dan mencegah jangan sampai muridnya melakukan penyalahgunaan internet. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
7.       Narasumber
a.       Pelajar SMP:
Nama: Ahmad Faris
Umur: 14 tahun
Kelas: VIII
 
b.      Pelajar SMA:
Nama: Dimas Saputra
Umur: 16 tahun
Kelas: XI
 

FitaFauziah_TugasVII_PenelitianTema3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat kita sering memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan
sebagai pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sebagai
"sekolah". Padahal konsep pendidikan adalah belajar seumur hidup, atau
dinyatakan bahwa hidup itu adalah belajar. Pendidikan dapat dibagi
dengan tiga jalur; pertama yang disebutnya pendidikan formal
(pendidikan melalui bentuk sekolah), jalur kedua yang disebutnya
pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah yang masih
diorganisasikan), dan ketiga yang disebutnya pendidikan informal
(pendidikan dalam masyarakat dan keluarga tanpa pengorganisasian
tertentu).

Walaupun begitu, masih banyak di masyarakat kita yang percaya dengan
pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sekolah, sangat
diandalkan dan mengesampingkan pendidikan non formal (agama, etika,
kebudayaan dll.) Hal ini dilandasi karena berkembang asumsi di
masyarakat bahwa dengan sekolah yang tinggi itu dapat mengubah
kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Maka dari itu tidak
mengherankan setiap tahunnya banyak orangtua yang memasukan anaknya ke
sekolah-sekolah. Menurut Prof. Dr. S. Nasution M.A (1983) setidaknya
ada banyak alasan yang menyebabkan orangtua menyekolahkan anak-anaknya
yaitu di antaranya adalah harapan dan kepercayaan bahwa sekolah
mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, pandangan bahwa sekolah
membuka kesempatan memperbaiki nasib, dan masih banyak fungsi sekolah
yang diharapkan orangtua dari sekolah.

Namun sering kali fungsi sekolah yang diharapkan oleh orangtua seperti
yang telah disebutkan di atas sering tidak sesuai dengan harapan.
Sekolah sebagai pendidikan formal seringkali tidak dapat memecahkan
masalah kemiskinan dan pengangguran.

B. Masalah dan Tujuan Penelitian

Penelitian ini merupakan gambaran mengenai pendidikan formal melalui
sudut pandang subyek-subyek yang berasal dari kalangan yang kurang
mampu secara ekonomi. Ruang lingkup penelitian ini meliputi persepsi
mereka tentang sekolah atau pendidikan, faktor-faktor yang menyebabkan
mereka tidak melanjutkan pendidikan formal, pengalaman-pengalaman
mereka selama menempuh sekolah sampai harapan-harapan yang mereka
inginkan dari dunia pendidikan di Indonesia ini.

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
bagaimana para subyek yang peneliti wawancarai melihat kondisi di
sekolah yang ada sekarang. Definisi operasional penelitian ini adalah
mengenai pandangan dari para subyek mengenai pendidikan formal yang
meliputi: (a) Fungsi dan Peran Sekolah bagi mereka, keluarga mereka;
(b) Harapan dan keluh kesah mereka mengenai pendidikan di Indonesia.

C. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini mengambil metode dari Emile Durkheim yaitu
penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih menekankan
perhatian pada proses daripada produk atau hasil, tertarik pada makna,
sehingga peneliti sendiri merupakan instrumen pokok untuk pengumpulan
dan analisa data. Data didekati melalui instrumen manusia, bukan
melalui inventaris, daftar pertanyaan, atau mesin. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik observasi baik itu melalui pengamatan mengenai
tingkah-laku subyek dan lingkungan sekitar subyek maupun melalui
obrolan-obrolan ringan serta wawancara formal dengan subyek. Wawancara
dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendalam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Subyek Kalangan Menengah ke Bawah

Kalangan Menengah ke bawah yang dimaksud peneliti di sini adalah dua
orang subyek yang peneliti wawancarai. Peneliti memilih kedua orang
subyek ini karena menurut peneliti sesuai dengan masalah yang ingin
peneliti teliti. Dua orang ini berdomisili di kelurahan Limo. Subyek
pertama bernama Ismi dan yang kedua bernama bapak Dirman

Pelaksanaan Penelitian dengan Wawancara

Subjek Pertama bernama Ismawati usia 15 tahun kesehariannya membantu
orang tua mencari barang bekas di jalan atau tempat pembuangan sampah
di Kelurahan Limo

Fitta : Assalam'alaikum, maaf mba ganggu, boleh minta waktu sebentar?
Isma : Wa'alaikumsalam, iya boleh ada apa?
Fitta : masih bersekolah?, kenapa?
Isma : engga, karena tidak ada biaya.
Fitta : sekarang tinggal dengan orang tua? Atau bagaimana?
Isma : iya masih sama orang tua.
Fitta : boleh tau tinggal dimana? Rumah sendiri atau sewa?
Isma : di limo depok, rumah ngontrak
Fitta : Kamu berapa bersaudara?, Bapak Ibu kerjanya apa?
Isma : anak pertama dari dua bersaudara, bapak dan ibu juga pemulung
Fitta : Hasil dari memulung sehari dapet kisaran berapa?, pengeluaran berapa?
Isma : 50 rb sehari, untuk makan sehari 10 rb
Fitta : Kalau dikalikan sebulan bisa mencapai 1 juta-an untuk kamu sendiri.
Isma : kalo dihitung seperti itu memang iya bisa mencapai 1 juta,
namun karena perhari tidak tentu jadi sebulan ya sudah dikumpulkan ke
orang tua.
Fitta : kamu pernah menabung? Berapa pernah dapat menabung?
Isma : pernah coba menabung, tapi tidak setiap hari, nabung di
celengan, pernah baru sebulan sudah dibongkar karena butuh biaya
berobat adik sakit.
Fitta : Orang tua kamu tidak menyuruh untuk melanjutkan sekolah?
Isma : bapak bilang sekolah Cuma buang2 uang, karena sekolah tinggi
tinggi juga belum dapet kerjaan layak, malah banyak pengangguran.
Fitta : kalau kamu sendiri apa masih ada keinginan untuk sekolah?
Isma : masih ada tapi biaya untuk sekolah tidak murah
Fitta : Menurut kamu lebih baik mencari uang dengan memulung atau
mencari ilmu dengan sekolah?, kenapa?
Isma : lebih baik memulung, karena bisa bantu cari uang untuk orang tua
Fitta : menurut kamu seberapa penting si pendidikan itu?
Isma : tidak tau, karena dlu SD pernah sekolah tetapi tidak terpakai
apa yang dipelajari, makanya SMP saya tidak melanjutkan, disamping
memang biayanya tidak ada.
Fitta : kalo boleh berandai atau berharap, apa harapan kamu yang
mungkin mengenai pendidikan?
Isma : ingin sekolah gratis tanpa ada biaya apapun, kan sekarang
gratis katanya tetapi yang lainnya masih harus beli dan prosesnya
sulit
Fitta : Tetapi paling tidak untuk biaya sudah digratiskan, namun
seperti seragam dan ongkos bisa coba menabung sedikit.
Fitta : Bagaimana caranya untuk mewujudkan harapan kamu?
Isma : iya betul saya ingin pemerintah benar-benar menggratiskan
sekolah jadi saya bisa bersekolah, dan sepulang sekolah saya bisa
memulung untuk membantu orang tua.
Fitta : Jika ada yang ingin membantu kamu lebih meilih dibantu dengan
uang, atau dibantu melanjutkan sekolah?
Isma : saya lebih baik disekolahkan.
Fitta : baik kalo begitu terima kasih atas waktunya ya, semoga harapan
kamu bisa terwujud.
Isma : amin



Subyek ke dua adalah bapak Dirman 45 tahun, dia berprofesi sebagai
Tukang Ojek di jalan Limo Raya

Fitta : Maaf pak bisa minta waktu sebentar?
Dirman : iya mba mau diantar kemana?
Fitta : engga pak mau tanya – tanya sebentar boleh?
Dirman : oh iya mumpung tidak ada penumpang.
Fitta : iya pak kalo nanti ada penumpang tidak apa-apa dicukupkan saja.
Dirman : oo gitu, mau nanya apa mba? Alamat?
Fitta : bukan pak ini ada tugas kuliah.
Dirman : ya sudah mau tanya apa?
Fitta : bapak selain ngojek, apa punya usaha atau pekerjaan lain?
Dirman : enggak neng saya Cuma ngojek aja setiap hari mangkal disini.
Fitta : begitu ya, trus istri kerja?
Dirman : istri dirumah aja mba ngurus anak, anak saya ada 4 yang dua
masih kecil yang pertama mungkin seumuran mba ini.
Fitta : anak pertama sudah lulus sekolah? Sudah bekerja juga?
Dirman : iya anak pertama saya lulusan SMA tetapi tidak kuliah dan
sekarang menganggur.
Fitta : lho kenapa ga kerja, sudah coba melamar pekerjaan? Lalu anak
yang lain masih bersekolah?
Dirman : iya mba dia sudah coba melamar pekerjaan dimana-mana, namun
tidak ada yang diterima karena saat di tes atau wawancara tidak
memenuhi kriteria. Anak yang kedua masih SMP, dan yang dua lagi tidak
sekolah harusnya sekolah SD.
Fitta : lho kenapa tidak disekolahkan pak?
Dirman : enggak mba nanti malah seperti kakak nya disekolahkan
mahal-mahal tidak menjamin bisa kerja, karena disekolah itu tidak
diajarkan kerja, yang diajarkan tidak bermanfaat buat mencari uang.
Fitta : jadi menurut bapak pendidikan tidak penting?
Dirman : kalo untuk orang pas – pasan seperti saya kurang penting,
lebih baik anak dari kecil diajarkan mencari uang saja biar kalo besar
sudah bisa mencari uang.
Fitta : dari bapak ngojek disini setiap hari rata-rata dapat berapa rupiah pak?
Dirman : ya ga tentu mba, rata-rata 60rb-100rb, bensin 15rb, makan
10rb, rokok 5rb jadi bawa pulang rata-rata 70rb-50rb
Fitta : kalo rata – rata segitu sebulan bisa 2 jt-an ya pak?
Dirman : haha iya mba klo dihitung seperti itu ya memang, tapi kan
keadaannya berbeda kalo sebenarnya kan buat makan ama bayar kontrakan
juga.
Fitta : ooh rumah masih ngontrak ya pak, lalu harapan bapak seperti
apa untuk masa depan anak – anak bapak sendiri?
Dirman : mau nya sih sekolah gratis tapi benar-benar gratis, karena
anak saya yang SMP itu sudah gratis SPP nya tapi masih harus beli ini
itu seperti LKS, biaya olah raga/ praktek dll itu yang memberatkan
saya.
Fitta : lalu apa harapan bapak untuk dunia pendidikan agar pendidikan
itu menjadi penting?
Dirman : ya harusnya di sekolah itu tidak kebanyakan teori, harus
diajarkan ilmu2 yang berguna buat kehidupan sehari-hari, anak sekarang
bisanya Cuma tawuran aja.
Fitta : begitu ya pak.
Dirman : maaf mba ada penumpang itu, apa masih ada yang mau ditanyakan?
Fitta : oh iya pak silahkan diantar saja, saya cukup pak terima kasih
atas waktunya, semoga bapak selalu dapat rejeki yang banyak ya pak.
Dirman : ammin mba sama – sama semoga tugasnya juga dapat nilai bagus..
Fitta : ammin pak

B. Sekolah Tidak Berfungsi Mempersiapkan Anak Untuk Suatu Pekerjaan

Seperti yang telah diuraikan oleh Prof. Dr. S. Nasution M.A harapan
kebanyakan orangtua dan murid pada sekolah adalah untuk mempersiapkan
anak untuk suatu pekerjaan. Maka dari itulah muncul STM, SMK dan
sebagainya untuk menjawab harapan-harapan ini. Namun, pada
kenyataannya pendidikan formal belum tentu mampu untuk mempersiapkan
tenaga kerja dan juga mengurangi kemiskinan.

Seperti yang terjadi dengan subyek pertama dia pernah sekolah namun
sekolah tidak membantunya untuk mendapatkan kehidupan yang layak,
begitu juga subyek ke dua yaitu bapak Dirman iya memiliki anak yang
telah lulus SMA namun sulit mendapat pekerjaan.

Bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin adalah sangat
sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak apalagi jika mereka tidak
bersekolah dan memiliki skill apapun. Jikalau mereka mendapatkan
pekerjaan biasanya pekerjaan mereka itu didapat karena adanya jaringan
kekerabatan seperti yang peneliti lihat di usaha-usaha Warteg, Kusen
dan Las di kelurahan Limo ini. Mereka biasanya mengambil
saudara-saudaranya yang berasal dari kampung mereka untuk dipekerjakan
atau istilah halusnya membantu usaha tersebut. Namun demikian tetap
saja bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin pilihan
bekerja sangat terbatas karena pekerjaan yang bagus kemungkinan besar
hanya akan ditempati oleh orang-orang yang memiliki modal yang lebih
baik. Baik itu modal ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya

Harapan-Harapan Subyek Pada Pendidikan Formal

Berdasarkan wawancara peneliti dengan para subyek ada harapan-harapan
yang disematkan kepada pendidikan di Indonesia ini untuk ke depannya
lebih baik lagi

BAB III
PENUTUP

Uraian yang telah dipaparkan oleh peneliti memang dirasa masih kurang
memadai untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi para subyek
yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, peneliti mendapati
faktor utama yang menyebabkan tidak berlanjutnya para Subyek menempuh
pendidikan adalah ketidakmampuan ekonomi dan juga persepsi akan
seberapa pentingnya pendidikan untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Walaupun begitu dengan segala kekurangan pendidikan formal di
Indonesia ini. Para subyek tetap menaruh harapan pada pendidikan
formal untuk dapat setidaknya memperbaiki nasib mereka. Dan karena itu
mereka berharap agar pendidikan itu murah dan terjangkau kalau memang
tidak bisa gratis dan juga ada perhatian dari pemerintah terhadap
orang-orang seperti mereka ini.

Fitri Qomariah_Tugas 7_TOR dan Laporan Hasil Penelitian Tema ke-3

Naiknya Harga Barang-barang Pokok
di Pasar Royal
I. Latar Belakang
Kurangnya bahan dasar dari kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia menjadikan harga barang-barang pokok di Indonesia menjadi mahal sehingga masyarakat di Indonesia sulit untuk memproduksinya. Akibatnya komsumen juga ikut merasakan dampaknya.
Selain terbatasnya bahan baku, produksi impor yang lebih mendominasi pasar juga membuat harga barang-barang pokok semakin tinggi. Sehingga banyak produsen bahan-bahan pokok gulung tikar.
Dengan adanya peristiwa ini, kami membuat sebuah karya tulis yang membahas mengenai sebab dan akibat kenaikan harga barang-barang pokok di Indonesia, mulai dari dasar sampai jatuh ke tangan konsumen.
1. Mengapa Penelitian ini Penting ?
1)     Agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan-bahan pokok yang terdapat di dalam negeri.
2)     Agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan dasar pangan yang diperoleh dari alam dengan sebaik-baiknya.
2. Asumsi
            Naiknya harga pokok di Pasaran mengakibatkan pengangguran. Masyarakat pun dituntut untuk menghemat agar tetap tercukupinya kebutuhan sehari-hari.
II. Pertanyaan Penelitian
1.     Bagaimana caranya agar masyarakat tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari ?
2.     Bagaimana caranya meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat ?
III. Metode dan Penelitian
Metode yang digunakan:
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara, mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.
Teori yang digunakan:
            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fakta sosial yang dipelopori oleh Emile Durkheim, karena subjek yang diteliti ialah sekelompok pedagang pasar. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
IV. Pertanyaan Lapangan
1.     Faktor apa yang menyebabkan kenaikan harga pokok?
2.     Apa dampak yang ditimbulkan dari kenaikan harga pokok?
3.     Siapa saja yang terkena imbas dari kenaikan harga pokok?
V. Area Riset
Lokasi penelitian dilaksanakan di Pasar Royal. Penelitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai beberapa pedagang pasar dan pengunjung/pembeli di Pasar. Penelitian tersebut dilaksanakan pada tanggal  17 Mei 2014.
Hasil Laporan penelitian
Kebutuhan barang-barang pokok di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis, dikarenakan harga barang-barang pokok yang melonjat naik. Sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ini merupakan hal yang harus diatasi dan dicari jalan keluarnya. Apabila bahan-bahan dasar seperti kedelai, sagu, minyak tangah, minyak goreng dan lain-lain akan habis suatu saat nanti, itu akan berakibat buruk pada anak cucu kita.
Kenaikan ini juga berakibat pada kesejahteraan rumah tangga yang sebelumnya dapat memenuhi hampir semua kebutuhannya, tapi setelah langkanya bahan-bahan pokok mereka mulai membatasinya. Dan itu sangat mengganggu ketentraman rumah tangganya. Seharusnya masyarakat dapat mengesampingkan kebutuhan sekunder dan tersier dan harus lebih mengutamakan kebutuhan primer yang berperan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan suatu cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Dampak ini juga berlaku bagi pekerja industri. Banyak perindustrian yang memangkas anggaran pembelian sehingga banyak pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Banyaknya pengangguran akibat kenaikan barang-barang pokok menambah ketentraman Negara Indonesia semakin sulit terwujud.
Beberapa barang yang menunjukkan kenaikan cukup tinggi adalah gula pasir, terigu, beras, dan minyak goreng kemasan. Gula pasir misalnya, yang sebelum kenaikan masih seharga Rp 5.200 per kilogram, sehari setelah kenaikan naik menjadi Rp 5.300 per kilogram dan dua hari berikutnya naik lagi menjadi Rp 5.500 per kilogram.
Sementara terigu yang sebelum kenaikan BBM masih dijual Rp 3.800 per kilogram saat ini sudah naik menjadi Rp 4.500 per kilogram atau naik Rp 700. Minyak goreng kemasan yang sebelumnya dijual Rp 6.300-Rp 6.500 per kemasan 600 ml saat ini sudah dijual Rp 7.500. Sedangkan beras, sejak Januari lalu sudah mulai naik dengan besaran Rp 250-Rp 500 per kilogram. Dengan kenaikan harga BBM ini, berarti beras juga sudah mengalami dua kali kenaikan.
Berikut ini adalah kasus yang saya temukan tentang pengrajin tempe yang gulung tikar. Sebut saja beliau Bapak Surahman. Beliau mengaku sudah menjadi pengrajin tempe selama 20 tahun. Tapi 2 tahun terakhir ini beliau merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kedelai yang biasa beliau pesan di tempat langganannya di pasar terdekat. Diakibatkan harga kedelai melonjak drastis. Sehingga tidak terjadi keseimbangan antara modal yang dikeluarkan dengan laba yang diperoleh. Bapak Surahman mengadu bahwa beliau selalu mengalami kerugian setiap memproduksi tempe. Akhirnya beliau memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain.
Dapat kita pelajari dari kasus tersebut. Bapak Surahman yang kesulitan mendapatkan kedelai karena harga perkilonya yang mahal mengharuskan beliau untuk gulung tikar. Bisa kita tanggapi bahwa memang benar penyebab Bapak Surahman gulung tikar adalah bahan baku yang mahal.
Imbas kenaikan harga kebutuhan barang pokok seolah menjadikan masyarakat untuk lebih pintar mengelola keuangan, mengurangi atau bahkan tidak membeli sama sekali kebutuhan-kebutuhan yang dianggap tidak penting. Masyarakat oleh berbagai nasihat yang menyikapi krisis harga ini dituntut untuk berhemat, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kita tidak bisa lagi mengacuhkan atau tak peduli harga-harga barang kebutuhan pokok terus dibiarkan naik seenaknya tanpa ada keputusan pengaturannya. Peran dan aturan pemerintah harus khusus bertindak hanya demi untuk melindungi masyarakat yang terus menjadi korban dalam kehidupan yang terus direpotkan oleh kenaikan harga-harga. Seperti yang terjadi sekarang bahwa setiap tahunnya harga akan naik seiring dengan adanya kenaikan upah/gaji. Mau berapa pun upah/gaji naik itu hanya percuma, jika harga-harga kebutuhan pun ikut naik maka tidak akan pernah mencukupi biaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Faktor-faktor kenaikan harga dipicu karena Supply kebutuhan bahan pokok terganggu oleh perubahan iklim, yaitu tingginya frekuensi hujan yang menyebabkan para petani gagal panen. Cabai dan sayuran mengalami gagal panen di daerah-daerah penghasil cabai dan sayuran. Selain itu kenaikan harga pokok juga dipicu karena naiknya harga BBM. Maka bahan pokok pun akan mengikuti.
Langkanya bahan kebutuhan pokok adalah salah satu masalah serius yang menimpa kondisi ekonomi indonesia. Masalah ini akan sangat terasa sekali di saat menjelang perayaan hari-hari besar seperti hari raya idul fitri, natal, dan hari-hari besar lainnya.
Meskipun pemerintah terkadang melakukan razia pasar untuk terjun langsung melihat penyebab langkanya bahan kebutuhan pokok, namun tindakan ini dirasa masih jauh dari menyelesaikan masalah langkanya kebutuhan pokok itu sendiri.
VI. Kesimpulan
Kenaikan harga barang-barang pokok sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan juga menambah beban bagi masyarakat menengah ke bawah. Ibu rumah tangga pun kesulitan untuk mengatur kebutuhan yang harus dipenuhinya sehari-hari dengan kebutuhan yang lain. Maka masyarakat dituntut harus berhemat agar selalu tercukupi kebutuhannya.

Narasumber 1:
Nama              : Surahman
Umur               : 45 tshun
Pekerjaan        : Pengrajin tempe/penjual tempe
Narasumber 2:
Nama              : Aves
Umur               : 39 tahun
Pekerjaan        : Penjual sayur
Fitri Qomariah
1113054100034
Kessos 2A

Isra Wahyuni_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan

Pengaruh Handphone dalam Pertumbuhan Remaja

 

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

          Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah cepat, sebagai akibat dari arus globalisasi. Salah satu perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami perkembangan yang cepat adalah telepon seluler (handphone).


Handphone (HP) merupakan sebuah alat komunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap (telepon kabel), namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Sehingga kita dapat berkomunikasi dari sembarang tempat , selama masih ada jaringan sinyal untuk HP yang kita gunakan.

 

           Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, HP / ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.

 

1. Mengapa penting untuk diteliti

Dalam penelitian ini mengapa menjadi penting untuk diteliti karena dengan kehadiran ponsel  dapat menimbulkan suatu perubahan perilaku sosial.


2. Asumsi

Dewasa ini, peranan ponsel sudah menjadi sebuah kebutuhan primer sehari-hari. Orang-orang sudah bisa dibilang tidak dapat lepas dari ponsel, dikarenakan hampir semua orang telah memiliki ponsel, dari yang kaya hingga yang miskin, dari anak-anak hingga orang dewasa. 

Oleh karena itu, tentunya ponsel / handphone ini memliki pengaruh terhadap kehidupan seorang manusia yag memilikinya.


II. Teori Sosiologi

            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.


III. Pertanyaan Penelitian

1. Apa pengaruh handphone bagi pertumbuhan remaja?

2. Mengapa handphone meningkat menjadi suatu kebutuhan dikalangan remaja?

 

IV. Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

 

V. Area Riset

Loasi penelitian dilakukan didaerah jalan Utama Raya, cengkareng Jakarta Barat. Penelitian dilakukan pada tanggal 15 mei 2014. Untuk memperoleh data penelitian dilakukan dengan mewawancarai beberapa remaja pada daerah tersebut.

 

VI. Pertanyaan Lapangan

1. Sejak kapan anda mulai menggunakan handpone?

2. Apa dampak positif menggunakan handphone?

3. Apa dampak negatif dalam menggunakan handphone?

 

VII.  Hasil Laporan Penelitian

      Tidak dipungkiri lagi bahwa kehadiran telepon seluler (ponsel) atau handphone telah merubah kehidupan manusia yang juga berdampak bagi perkembangan remaja. Jarak yang selama ini menjadi penyebab dari kesulitan itu. Sebagian besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada ponsel. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa para remaja memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Alasannya agar bisa berkomunikasi dengan mudah. Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan ponsel adalah, "Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis." Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel seperti sebuah keniscayaan.


        Beberapa dari remaja mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi. Kendati demikian, ini menjadi sifat "memaksa".  Di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya masih belum mampu membayangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel. Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Inilah kemajuan zaman, suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan. Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negati bagi para penggunanya, khususnya para remaja.

          Adapun dampak positif yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara yaitu dapat mempermudah komunikasi tanpa batasan jarak yang dapat menghemat waktu tanpa perlu bertemu langsung, menambah dan mempermudah dalam mengakses informasi dan pengetahuan dengan berbagai fitur yang tersaji dalam ponsel tersebut, dan dapat memperluas jaringan persahabatan.

          Selain itu hanphone juga membawa dampak yang negatif, sesuai dengan tema bahwa salah satunya dapat mengganggu perkembangan remaja, dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti  kamera, games yang akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/dikampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan handphone untuk mencontek dalam ujian. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi. Handphone juga sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, jika tidak ada kontrol dari orang tua handphone bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar. Dampak lainnya adalah handphone juga berdampak terhadap kesehatan karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Badre tentang dampak negatif penggunaan ponsel bagi kesehatan tertuju pada pola tidur seseorang. Badre menemukan bahwa ketika seorang anak menggunakan telepon dan GSM secara berlebihan akan mengakibatkan kesulitan tidur pada malam hari. Tentunya hal ini akan berdampak pada tingkat kelelahan dan stres, selain itu dampak buruk penggunaan ponsel adanya radiasi sinyal RF. Radiasi ini bisa meningkatkan potensi terkena kanker, terutama pada anak-anak. Lalu handphone berdampak pada rawannya terhadap tindak kejahatan jika kita mengggunakan handphone hanya untuk di pamerkan, dan secara mencolok dapat mengancam nyawa sendiri jika terjadi tindak kejahatan, semisal pencurian dan perampokan. Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat. Handphone juga dapat berdampak pemborosan dengan mempunyai handphone maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan saja.

 

 

Kesimpulan

         Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat "memaksa", membuat manusia menjadi tergantung padanya.

         Dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh handphone maka sebagai remaja, bijaklah dalam penggunaannya. Handphone/ ponsel tidak hanya sebagai teknologi komunikasi namun juga sebagai hal yang mencerminkan ikatan emosional dan budaya yang melambangkan status sosial manusia sehingga manusia selalu melihat ponsel sebagai ukuran status manusia dan berlomba untuk selalu mendapat serta mengganti ponsel dengan tipe yang terbaru.

 

Narasumber:

Nama: selly saputri

Umur: 16 thn

Status:  pelajar SMA kelas X

 

Nama : Fikri Haikal

Umur : 15 thn

Status : pelajar SMP kelas IX

 

Nama : Risti

Umur: 14 thn

Status : pelajar SMP kelas VIII

 

Nama: Noval Rizki. Z

Umur:  14 thn

Status : pelajar SMP kelas IX

Eko Radityo_Tugas 7_Penelitian Sosiologi

Sulitnya Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

1.      Latar Belakang

Setelah lulus kuliah dan memiliki gelar sarjana tentu yang ada di pikiran mahasiswa tersebut akan memudahkannya dalam mencari pekerjaan. Karena mereka merasa memiliki modal yang lebih dari orang lain yang tidak memiliki gelar sarjana. Tapi, pada kenyataanya tidak semudah yang di bayangkan. Seorang sarjana tidak semata-mata langsung mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan yang diinginkannya. Dalam dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit, sedangkan sarjana yang memiliki ilmu yang tidak terlalu dibutuhkan perusahaan tentu akan mengalami kesulitan juga dalam mendapatkan pekerjaan. Faktanya hanya sarjana ilmu-ilmu tertentu yang banyak dibutuhkan pada dunia kerja seperti sarjana ilmu ekonomi ataupun sarjana ilmu hukum. Lalu bagaimana dengan sarjana ilmu lainnya? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan? Ketidakmerataan jumlah lowongan pekerjaan bagi sarjana yang ilmunya beragam telah menjadi masalah yang menyulitkan banyak sarjana Indonesia.

-          Mengapa itu penting?

Topik ini telah menjadi masalah yang besar, karena telah menjadi masalah semua sarjana yang lulus kuliah. Yang seharusnya dengan bersusah payah berkuliah untuk mendapatkan gelar yang dapat digunakan sebagai modal untuk memudahkan dalam mendapat pekerjaan, tetapi tetap kesulitan dalam mendapat pekerjaan.

-          Asumsi

Sarjana yang lulus setiap tahunnya dengan ilmu yang banyak dan beragam tidak seimbang dengan kebutuhan dunia kerja sesungguhnya. Yang pada kenyataan dunia kerja sesungguhnya sarjana yang ilmunya di butuhkan banyak perusahaan hanya sedikit.

2.      Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.

3.      Pertanyaan Penelitian

Bagaimana sarjana muda mencari pekerjaan?

4.      Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

5.      Area Riset

Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai mahasiswa yang baru lulus kuliah.

 

6.      Pertanyaan Lapangan

a.       Apa yang membuat anda sulit mencari pekerjaan?

b.      Apakah lowongan pekerjaan yang banyak tersedia sesuai dengan ilmu sarjana anda?

c.       Berapa banyak perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana anda?

d.      Apakah teman kuliah anda juga memiliki masalah yang sama dengan anda?

e.       Bagaimana dengan keadaan seperti ini agar anda tidak kalah dalam persaingan mencari pekerjaan dengan sarjana yang lain?

7.      Laporan Hasil Penelitian

Ketidakseimbangan jumlah lowongan pekerjaan dengan jumlah sarjana(pencari pekerjaan) menjadi faktor utama sulitnya mencari pekerjaan. Keadaan itu diperparah dengan sedikitnya ilmu sarjana yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Perusahaan-perusahaan banyak yang mencari sarjana ilmu ekonomi atau ilmu hukum. Keadaan ini tentu makin mempersulit para sarjana yang mencari pekerjaan tetapi memiliki ilmu sarjana yang kurang di butuhkan oleh dunia kerja ataupun perusahaan.

Keadaan seperti ini dibuktikan dengan keterangan responden yang mengaku hanya sedikit perusahaan yang membutuhkan ilmu sarjana yang mereka miliki. Permasalahan ini juga menjadi permasalahan banyak sarjana lainnya yang memiliki ilmu sarjana yang beragam yang pada kenyataannya tidak terlalu dibutuhkan dunia kerja. Untuk para sarjana yang memiliki ilmu sarjana yang hanya sedikit dibutuhkan oleh dunia kerja harus dapat membekali diri dengan kemampuan lainnya di samping ilmu sarjananya. Seperti memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, menguasai bahasa asing, maupun kemampuan lainnya yang tentunya akan menjadikan nilai tambah bagi sarjana tersebut agar mampu bersaing dengan sarjana lainnya dalam mendapatkan pekerjaan.

 

Narasumber:

1.      Nama       : Joko Yono

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Karyawan

2.      Nama       : Budi Sobari

Umur       : 26 tahun

Pekerjaan : Sopir Pribadi

3.      Nama       : Fatimah Zahra

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Pegawai swasta

4.      Nama       : Arman Suherman

Umur       : 25 tahun

Pekerjaan : Customer Service

 

Eko Radityo_Tugas 6_ Penelitian Sosiologi

Dilema Memilih Kuliah atau Bekerja Setelah Lulus SMA

1.      Latar Belakang

Setelah berakhirnya masa sekolah yaitu sampai jenjang SMA banyak siswa yang bingung menentukan pilihan antara memilih kuliah untuk meneruskan studi atau langsung bekerja. Bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan memiliki kemampuan dalam segi biaya yang cukup untuk kuliah biasanya mereka akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi, bagi mereka yang tingkat ekonominya kurang dan tidak memiliki kemampuan dalam segi biaya untuk kuliah cenderung akan memilih langsung bekerja. Dengan biaya kuliah yang mahal membuat tidak semua siswa bisa melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Untuk siswa yang tingkat ekonominya kurang tetapi ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi tentu akan menjadi masalah. Mereka akan di hadapkan oleh pilihan yang membingungkan antara kuliah(tapi tidak memiliki biaya) atau bekerja(tapi belum siap).

-          Mengapa itu penting?

Melihat banyaknya siswa yang telah lulus SMA tapi bingung untuk memilih kuliah atau bekerja dan masalah ini telah terjadi berulang-ulang kali.

-          Asumsi

Dengan melihat masalah ini yang terjadi telah berulang-ulang kali tentunya ini harus ditemukan penyelesaiannya agar tidak terjadi lagi kebingungan yang sama pada angkatan selanjutnya.

2.      Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim. Metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.

3.      Pertanyaan Penelitian

Bagaimana baiknya memilih antara kuliah atau bekerja setelah lulus SMA bagi siswa?

4.      Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

5.      Area Riset

Lokasi penelitian di komp. PU, Rempoa, Ciputat Timur. Untuk memperoleh data yaitu dengan mewawancarai siswa yang baru lulus SMA.

6.      Pertanyaan Lapangan

a.       Apa yang menjadi pilihan anda antara kuliah atau bekerja?

b.      Apa yang menjadi hambatan anda untuk kuliah?

c.       Apakah sekolah anda memberikan bantuan maupun pengarahan untuk memilih kuliah yang terjangkau dengan anda?

d.      Apa saja usaha yang anda lakukan untuk berkuliah?

e.       Apakah harapan anda kedepannya?

 

7.      Hasil Laporan Penelitian

Kebanyakan dari para responden memilih untuk berkuliah untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Tetapi keinginan mereka ini terhambat akan biaya kuliah yang tergolong terlalu mahal buat mereka. Dengan tingkat ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah tentunya sulit untuk memenuhi biaya kuliah yang tinggi. Pihak sekolah dinilai kurang memberikan pengarahan maupun bantuan kepada siswa yang miskin tapi memiliki keinginan untuk berkuliah. Karena pengarahan yang kurang dari pihak sekolah maka banyak terjadi kebingungan antara memilih kuliah atau bekerja. Siswa yang telah lulus SMA yang tingkat ekonominya menengah ke bawah bisa tetap berkuliah dengan cara mencari beasiswa. Tetapi tentunya beasiswa tidaklah datang dengan sendirinya. Mereka harus mencarinya dengan berbekal nilai yang bagus, karena dewasa ini pemerintah maupun pihak swasta bnyak membuka beasiswa bagi siswa miskin yang berprestasi dan ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

 

Narasumber:

1.      Nama       : Raka Wahyu

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

2.      Nama       : Ilham Soleh

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

3.      Nama       : Dwiky Rama

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

4.      Nama       : Dewa Barata

Umur       : 18 tahun

Pekerjaan : Pelajar

 

 

Cari Blog Ini