Minggu, 18 Mei 2014

Julia Rahmania_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian ke 3

Penelitian ke 3
 
JUDUL           : PROFIL KEHIDUPAN SOSIAL  ANAK PUNK
 
NAMA            : JULIA RAHMANIA
NIM                : 1113054100012
JURUSAN      : KESEJAHTERAAN SOSIAL
KELAS           : 2A
 
I.                   LATAR BELAKANG
Pada masa kini dengan adanya globalisasi, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia. Sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan tujuan dari masing-masing individu, maka muncul kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok social itu diantaranya terbentuk dari beberapa anak muda yang mempunyai tujuan serta mempunyai sebuah tujuan dan ideologi yang sama.
Dengan gaya dandanan rambut di cat dihadapkan keatas serta memakai anting-anting. Setiap hari mereka biasa berkumpul di pusat keramaina kota, seperti perempatan atau dipertigaan jalan, dan memiliki gaya khas tersendiri. Namun kadang mereka juga menempati lahan kosong maupun bangunan-bangunan yang tidak terpakai. Mereka melakukan aktivitas seperti makan dan tidur juga di tempat itu. Dan kita juga akan sering menjumpai pada acara-acara musik atau konser. Mereka mempunyai motto equality (persamaan hak), karna itulah banyak diantara remaja-remaja yang tertarik dengan komunitas itu. "Punk" hanya aliran tetapi jiwa dan kepribadian pengikutnya, akan kembali lagi ke masing-masing individu.
Dalam artikel yang pernah saya baca, punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Ada juga dari psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
 
II.                PERTANYAAN PENELITIAN
1.      Bagaimana kehidupan sosial anak punk di Kota Depok?
2.      Bagaimana hubungan atau interaksi anak punk dengan masyarakat yang berada di Kota Depok?
3.      Faktor apa sajakah yang mempengaruhi mereka menjadi anak punk?
 
III.             METODE PENELITIAN
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu "teori".
IV.             Teori Yang Digunakan
Dalam penelitian ini, saya menggunakan teori sosiologi klasik yaitu Emil Durkheim tentang kesadaran/kelompok sosial. Sebenarnya bisa saja saya memilih teori dari weber yaitu tindakan/komunitas. Tetapi menurut saya itu belum pas, sebab di dalam penelitian ini saya lebih memfokuskan kepada suatu kelompok sosial anak punk. Metode yang digunakan adalah observasi dan hasil dari penelitian tersebut berupa narasi.
V.                Area Riset
Ø  Kegiatan penelitian ini dilakukan di sekitar jalan Kota Depok
Ø  Objek                    : Anak Punk
Ø  Subjek                   : Kelompok
Ø  Narasumber           : Doni (22 tahun) dan Obie (19 tahun)
Ø  Waktu                   : Penelitian berlangsung pada hari Kamis 15 Mei 2014
VI.             Output penelitian
Dari latar belakang diatas, komunitas punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya dan ideologi komunitas punk hampir mirip dengan para pendahulu seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil berkualitas rendah secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).
Di kota Depok sudah mulai banyak yang mengikuti komunitas punk, mulai dari usia muda hingga ada yang berusia tua. Mulai dari anak SD sampai perguruan tinggi. Ada yang hanya ikut gaya atau cara berpakaian punk sampai ada juga yang ikut masuk dalam komunitas ini. Anak punk yang berada di jalanan ada sebagian masih sekolah, namun tidak sedikit yang tidak bersekolah. Mereka yang tidak sekolah biasanya memang sudah lepas dari orang tua, mereka yang benar-benar sudah hidup terbiasa di jalanan. Sehingga tidak ada kontrol sama sekali dari keluarga mereka. Banyak kegiatan yang mereka lakukan saat berada di jalanan antara lain dengan cara mengamen, ada juga yang menjadi pengatur jalan (polisi cepek) di perempatan atau pertigaan, dan sebagainya. Mereka melakukan semua itu beralasan hanya untuk mencari sesuap nasi, karena dengan cara-cara itu mereka bisa mendapatkan uang. Namun sebagian anak punk juga ada yang menjual segala sesuatu tentang punk mulai dari t-shirt, kaset CD, jaket, aksesoris punk dan sebagainya dijual di sebuah toko kecil yang biasa mereka sebut dengan distro.
Perilaku kehidupan komunitas punk di di kota Depok bagi masyarakat luas dianggap sebagai perilaku yang menyimpang identik dengan sebuah kekerasan, pengacau, berandal, dan sebagainya. Bagi mereka kekerasan hanyalah suatu tindakan bodoh namun entah kenapa hampir setiap acara musik yang diadakan oleh mereka selalu terjadi keributan. Kekerasan yang mereka lakukan kadang muncul karena dari pengaruh minuman keras. Minuman keras sudah tidak terlepas dari kehidupan mereka yang sebagian besar memang peminum minuman keras.
Kekerasan dalam komunitas mereka sendiri tidak jarang terjadi. Perkelahian antar anak Punk atau sekedar saling melakukan tindakan kekerasan ketika mereka berjoget didepan panggung sebuah acara musik punk. Kekerasan saat mereka menikmati musik ini seperti sudah menjadi sebuah ritual dalam komunitas punk. Saling memukul dan saling menendang bahkan bergulat bergulingan menjadi hal yang biasa saat mereka berjoget mengikuti irama lagu. Hal ini mereka anggap sebagai ungkapan kebebasan. Dalam komunitas ini kekerasan tidaklah menjadi sesuatu yang anti sosial. Menurut mereka, mereka melakukan kekerasan biasanya karena mereka diganggu lebih dahulu. Namun mereka bukanlah sumber dari kekacauan.
Banyak faktor mengapa seseorang ikut dalam sebuah komunitas punk. Antara lain karena mereka mempunyai sebuah tujuan dan ideologi yang sama. Sehingga mereka mudah menerima sebuah golongan yang dianggap sebagai sesuatu yang sama, yaitu tujuan yang ingin di capai. Ada juga yang tertarik dari motto komunitas punk, yaitu Equality atau persamaan hak. "Aliran Punk lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik Punk dan adanya gejala perasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing. Sehingga mereka mengubah gaya hidup dengan gaya hidup Punk. Di sisi lain ada juga komunitas punk ini yang mempunyai kegiatan positif.
Semisal Doni dan Obie adalah contoh kecil kenapa mereka harus memilih punk sebagai prinsip hidup mereka yang berlandaskan DIY (do it yourself ). Mereka besar di masyarakat yang mengkulturkan penyeragaman selera. Masyarakat yang terlalu munafik untuk hal-hal yang dianggap " tabu ". Mereka memberontak dengan setiap kekuatan yang mereka miliki yaitu memilih etika punk sebagai jalan hidup mereka. Penampilan mereka dan cara hidup mereka sebagai counter cultur terhadap penyeragaman selera. Sebagai menusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, mereka memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi self difennce mereka terhadap serangan-serangan pengekangan ekspresi diri ( offence of cultur mainstream ) , penyeragaman selera, dan cultur budaya " mapan  "yang di ciptakan oleh mayoritas masyarakat. Doni dan Obie bukanlah pemuda-pemuda yang lari dari tanggung jawab. Pemuda yang cengeng atau masih menjadi benalu bagi orang tua mereka. Dengan etika DIY ( do it yourself / berdikari) dan prinsip yang mereka miliki memberikan sesuatu yang berarti dalam hidup mereka. Doni adalah pemuda yang menjadi tulang punggung keluarga, ia seorang perantau. Sekarang dia bekerja di salah satu instansi pemerintah, sorenya mengambil part time di usaha temannya. Sedangkan Obie adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Depok, yang sangat sadar dan sangat mencintai keluarganya. mereka memilih punk bukan karena terpaksa atau sekedar ikut-ikutan saja, punk bagi mereka cara menyikapi hidup dengan tidak tergantung kepada orang laen dengan terjemahan yang sangat sederhana yaitu mandiri. Hari-hari mereka pun tidak selalu berpenampilan punk saja. Hari biasa mereka berpenampilan layaknya orang normal lainnya. Mereka mempunyai jadwal yang rutin seminggu sekali, untuk melepas kepenatan dan bercanda tawa di pinggiran trotoar tiap malam minggu mulai jam 10 malam. Disaat anak-anak muda yang lain lebih memilih diskotik atau tempat hiburan lainnya. Mereka  memilih jalanan sebagai tempat mereka berbaur bersama dengan kawan-kawan street punk  yang juga masing-masing dari anak-anak punk ini mempunyai profesi yang berbeda di keseharian mereka. Ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, mahasiswa, tukang sablon, tukang parkir, pelajar dll. Ketika saya terjun langsung ke lokasi dimana mereka sering nongkrong, ternyata mereka adalah sosok-sosok yang sangat humoris bersahabat dan cerdas, sangat beda dengan kesan dari luar yang terlihat sangar dan menyeramkan, perasaan mereka lebih lembut dari salju sekalipun.
Namun ketika hantaman labelisasi dan pencitraan tak berimbang oleh media juga golongan masyarakat yang mempunyai ideologi " mapan " . Mereka di jadikan tumbal dari "kegagalan" sistem penerapan budaya normal yang di dengungkan masyarakat umum dan pemerintah. Sehingga membuat golongan ini ( punk ) sebagai budaya yang tidak di inginkan karena merupakan budaya impor dari luar. Hal ini menjadikan mereka menjadi pribadi-pribadi yang terkekang kebebasan ekspresinya dalam berpenampilan. oleh masyrakat yang menjunjung norma dan adat istiadat ketimuran. Padahal menjadi punk bukan bagaimana kamu harus mirip menjadi punk rock star, tapi bagaimana kamu menghilhami diri, menggali potensi yang ada pede dengan do it yourself yang di pegang. Dan jika di ambil benang merah dari " kegagalan " budaya normal tadi, indikatornya bukan terletak pada bagiamana cara berpakian anak-anak ini. Tapi kemampuan generasi muda itu memahami dan menyerap setiap budaya dari luar, dan di terjemahkan ke dalam ruang berpikir yang luas. Tapi akhirnya kemunafikan masyarakatlah yang tidak memberikan ruang untuk memberi kebebasan berekspresi. Berpenampilan aneh, seronok = sesuatu yang tidak baik dan akan di cap sebagai minor personal. Jika kita berpikir legowo dan mau terbuka dengan lapang dada. Bukankah " kemandirian " generasi muda yang menjadi modal awal suatu bangsa, selain faktor yang lain.
Dan seperti yang telah dijelaskan diatas, ada empat faktor lingkungan yang mempengaruhi remaja:
1.         Lingkungan keluarga.
 Keluarga sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan remaja. Kasih sayang orang tua dan anggota keluarga yang lain akan memberi dampak dalam kehidupan mereka. Demikian pula cara mendidik dan contoh tauladan dalam keluarga khususnya orang tua akan sangat memberi bekasan yang luar biasa. Seorang remaja juga memerlukan  komunikasi yang baik dengan orang tua, karena ia ingin dihargai, didengar dan diperhatikan keluhan-keluhannya. Dalam masalah ini, diperlukan orang tua yang dapat bersikap tegas, namun akrab (friendly). Mereka harus bisa bersikap sebagai orang tua, guru dan sekaligus kawan. Dalam mendidik anak dilakukan dengan cara yang masuk akal (logis), mampu menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk, melakukan pendekatan persuasif dan memberikan perhatian yang cukup. Semua itu tidak lain, karena remaja sekarang semakin kritis dan wawasannya berkembang lebih cepat akibat arus informasi dan globalisasi.
2.     Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah rumah kedua, tempat remaja memperoleh pendidikan formal, dididik dan diasuh oleh para guru. Dalam lingkungan inilah remaja belajar dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan daya pikirnya. Bagi remaja yang sudah menginjak perguruan tinggi, nampak sekali perubahan perkembangan intelektualitasnya. Tidak hanya sekedar menerima dari para pengajar, tetapi mereka juga berfikir kritis atas pelajaran yang diterima dan mampu beradu argumen dengan pengajarnya.
Dalam lingkungan sekolah guru memegang peranan yang penting, sebab guru bagaikan pengganti orang tua. Karena itu diperlukan guru yang arif bijaksana, mau membimbing dan mendorong anak didik untuk aktiv dan maju, memahami perkembangan remaja serta seorang yang dapat dijadikan tauladan. Guru menempati tempat istimewa di dalam kehidupan sebagian besar remaja. Guru adalah orang dewasa yang berhubungan erat dengan remaja. Dalam pandangan remaja, guru merupakan cerminan dari alam luar. Remaja percaya bahwa guru merupakan gambaran sosial yang diharapkan akan sampai kepadanya, dan mereka mengambil guru sebagai contoh dari masyarakat secara keseluruhan. Dan remaja menyangka bahwa semua orang tua, kecuali orang tua mereka, berfikir seperti berfikirnya guru-guru mereka.
3.  Lingkungan teman pergaulan.
Teman sebaya adalah sangat penting sekali pengaruhnya bagi remaja, baik itu teman sekolah, organisasi maupun teman bermain. Dalam kaitannya dengan pengaruh kelompok sebaya, kelompok sebaya mempunyai peranan penting dalam penyesuaian diri remaja, dan bagi persiapan diri di masa mendatang. Serta berpengaruh pula terhadap pandangan dan perilakunya. Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung kepada orang tua. Akan tetapi pada waktu yang sama ia takut kehilangan rasa nyaman yang telah diperolehnya selama masa kanak-kanaknya.
            4. Lingkungan dunia luar
Merupakan lingkungan remaja selain keluarga, sekolah dan teman pergaulan, baik
lingkungan masyarakat lokal, nasional maupun global. Lingkungan dunia luar akan
memperngaruhi remaja, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik itu benar
maupun salah, baik itu islami maupun tidak. Lingkungan dunia luar semakin besar
pengaruhnya disebabkan oleh faktor-faktor kemajuan teknologi, transportasi,
informasi maupun globalisasi.
Pada masa remaja, emosi masih labil, pencarian jati diri terus menuntut untuk mencari apa potensi yang ada di dalam diri masing-masing. Pada masa inilah seseorang sangat rapuh, mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Seiring dengan pesatnya perkembangan scane punk yang ada di Indonesia, komunitas punk mampu menyihir remaja Indonesia untuk masuk ke dalam komunitas punk. Tetapi tidak semua remaja Indonesia tertarik dengan apa yang ada di dalam punk itu sendiri. Sebagian remaja di Indonesia hanya mengkonsumsi sedikit yang ada di dalam punk. Contoh kecil, seorang remaja berpakaian ala punk, tetapi dia tidak idealis, dia tidak menganut paham ideologi punk, dia juga suka musik cengeng yamg lembut bak seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya. Dari contoh kecil tersebut, komunitas punk masih bisa dibilang sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja Indonesia, bahkan bisa dibilang mempunyai andil dan bertanggung jawab terhadap kebebasan berekspresi remaja Indonesia. Keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja ikut dalam komunitas punk. Maka peran orang tua dan lingkungan mereka sangatlah berpengaruh untuk membentuk kepribadian seseorang.

Agik_Tugas 7_TOR dan Hasil Laporan Penelitan

Penyalahgunaan Internet di Kalangan Remaja
 
1.     Latar Belakang
internet adalah jaringan besar yang saling berhubungan dari jaringan-jaringan komputer yang menghubungkan orang-orang dan komputer-komputer diseluruh dunia, melalui telepon, satelit dan sistem-sistem komunikasi yang lain. Internet dibentuk oleh jutaan komputer yang terhubung bersama dari seluruh dunia, memberi jalan bagi informasi (mulai dari text, gambar, audio, video, dan lainnya ) untuk dapat dikirim dan dinikmati bersama. Untuk dapat bertukar informasi, digunakan protocol standar yaitu Transmision Control Protocol dan internet Protocol yang lebih dikenal sebagai TCP/IP.
Pada dasarnya Internet diciptakan sebagai alat komunikasi dan pengiriman data antar komputer, akan tetapi pada dewasa ini sering kita temui tentang penyalah gunaan internet. Yaitu bukan digunaan sebagai tujuan utama tersebut melainkan di gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, contohnya digunakan untuk maen game online dan untuk membuka situs-situs yang berbau pornogrfi.
1.       Mengapa penelitian itu penting?
a.       Agar para remaja menyadari bahwa mereka salah karena menggunakan internet tidak pada tujuannya.
b.      Agar para remaja tidak mengulangi lagi perbuatan mereka, yaitu menggunakan internet tidak pada tujuannya.
 
2.       Pertanyaan Penelitian
a.       Bagaimana cara mencegah penyalah gunaan internet pada kalangan remaja?
b.      Bagaimana pemanfaatan internet agar tidak terjadi penyalahgunaan internet?
 
3.       Metode dan Penelitian
Metode yang digunakan:
 
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara, mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yaitu penyalahgunaan internet pada kalangan remaja di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.
 
 
Teori yang digunakan:
            Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fakta sosial (Emile Durkheim), karena subjek yang diteliti ialah Para remaja di masyarakat. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah dilakukan.
 
4.       Pertanyaan Lapangan
a.       Apa faktor utama para remaja di masyarakat menyalahgunakan internet?
b.      Apa dampak yang timbul dari penyalahgunaan internet tersebut?
 
5.       Area Riset
Lokasi yang saya teliti adalah jl. H. taiman , kampong gedong, pasar rebo. Saya meneliti di daerah tersebut karena tempat ini sangat strategis, yaitu di daerah ini terdapat dua warnet yang selalu ramai di kunjungi oleh para remaja yang menyalahgunakan internet, yaitu dengan maen game online dan sebagainya.
 
6.       Hasil Penelitian
Kebanyakan dari kalangan remaja menyalahgunakan internet kaena di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
     a. Kurangnya pengawasan dari orangtua,
b. Peran guru di sekolah masih kurang,
      c. Pergaulan yang salah jalur,
d. Rendahnya pengetahuan tentang IPTEK,
e. Rendahnya Iman dan Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
f. Adanya godaan dari dalam hati yang tidak dapat dicegah untuk membuka situs-situs negative,
      g.Dan masih banyak lagi lainnya.
 
                                       Oleh karena itu agar tidak terjadi penyalah gunaan internet ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi penyalahgunaan internet pada kalangan remaja tersebut, yaitu:
 
      A Dalam penggunaan internet kita harus bisa memfilter mana situs yang baik dan mana situs yang  tidak baik,
      b. Hindari membuka situs yang sekiranya tidak terlalu penting dan sekiranya membawa dampak negative bagi kita,
      c. Perkuatlah Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
      d. Tambahlah ilmu pengetahuan tentang IPTEK dan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari adanya kemajuan IPTEK tersebut,
e. Orang tua harus lebih ketat dalam mengawasi anak-anaknya agar jangan sampai terjerumus ke perbuatan-perbuatan negative yang dapat merusak moral mereka,
f. Guru-guru di sekolahan juga seharusnya lebih tegas lagi untuk menyampaikan tentang internet dan dampak-dampak yang ditimbulkannya dan mencegah jangan sampai muridnya melakukan penyalahgunaan internet. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
7.       Narasumber
a.       Pelajar SMP:
Nama: Ahmad Faris
Umur: 14 tahun
Kelas: VIII
 
b.      Pelajar SMA:
Nama: Dimas Saputra
Umur: 16 tahun
Kelas: XI
 

FitaFauziah_TugasVII_PenelitianTema3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat kita sering memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan
sebagai pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sebagai
"sekolah". Padahal konsep pendidikan adalah belajar seumur hidup, atau
dinyatakan bahwa hidup itu adalah belajar. Pendidikan dapat dibagi
dengan tiga jalur; pertama yang disebutnya pendidikan formal
(pendidikan melalui bentuk sekolah), jalur kedua yang disebutnya
pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah yang masih
diorganisasikan), dan ketiga yang disebutnya pendidikan informal
(pendidikan dalam masyarakat dan keluarga tanpa pengorganisasian
tertentu).

Walaupun begitu, masih banyak di masyarakat kita yang percaya dengan
pendidikan formal atau lebih sering kita sebut sekolah, sangat
diandalkan dan mengesampingkan pendidikan non formal (agama, etika,
kebudayaan dll.) Hal ini dilandasi karena berkembang asumsi di
masyarakat bahwa dengan sekolah yang tinggi itu dapat mengubah
kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Maka dari itu tidak
mengherankan setiap tahunnya banyak orangtua yang memasukan anaknya ke
sekolah-sekolah. Menurut Prof. Dr. S. Nasution M.A (1983) setidaknya
ada banyak alasan yang menyebabkan orangtua menyekolahkan anak-anaknya
yaitu di antaranya adalah harapan dan kepercayaan bahwa sekolah
mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, pandangan bahwa sekolah
membuka kesempatan memperbaiki nasib, dan masih banyak fungsi sekolah
yang diharapkan orangtua dari sekolah.

Namun sering kali fungsi sekolah yang diharapkan oleh orangtua seperti
yang telah disebutkan di atas sering tidak sesuai dengan harapan.
Sekolah sebagai pendidikan formal seringkali tidak dapat memecahkan
masalah kemiskinan dan pengangguran.

B. Masalah dan Tujuan Penelitian

Penelitian ini merupakan gambaran mengenai pendidikan formal melalui
sudut pandang subyek-subyek yang berasal dari kalangan yang kurang
mampu secara ekonomi. Ruang lingkup penelitian ini meliputi persepsi
mereka tentang sekolah atau pendidikan, faktor-faktor yang menyebabkan
mereka tidak melanjutkan pendidikan formal, pengalaman-pengalaman
mereka selama menempuh sekolah sampai harapan-harapan yang mereka
inginkan dari dunia pendidikan di Indonesia ini.

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
bagaimana para subyek yang peneliti wawancarai melihat kondisi di
sekolah yang ada sekarang. Definisi operasional penelitian ini adalah
mengenai pandangan dari para subyek mengenai pendidikan formal yang
meliputi: (a) Fungsi dan Peran Sekolah bagi mereka, keluarga mereka;
(b) Harapan dan keluh kesah mereka mengenai pendidikan di Indonesia.

C. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini mengambil metode dari Emile Durkheim yaitu
penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih menekankan
perhatian pada proses daripada produk atau hasil, tertarik pada makna,
sehingga peneliti sendiri merupakan instrumen pokok untuk pengumpulan
dan analisa data. Data didekati melalui instrumen manusia, bukan
melalui inventaris, daftar pertanyaan, atau mesin. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik observasi baik itu melalui pengamatan mengenai
tingkah-laku subyek dan lingkungan sekitar subyek maupun melalui
obrolan-obrolan ringan serta wawancara formal dengan subyek. Wawancara
dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendalam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Subyek Kalangan Menengah ke Bawah

Kalangan Menengah ke bawah yang dimaksud peneliti di sini adalah dua
orang subyek yang peneliti wawancarai. Peneliti memilih kedua orang
subyek ini karena menurut peneliti sesuai dengan masalah yang ingin
peneliti teliti. Dua orang ini berdomisili di kelurahan Limo. Subyek
pertama bernama Ismi dan yang kedua bernama bapak Dirman

Pelaksanaan Penelitian dengan Wawancara

Subjek Pertama bernama Ismawati usia 15 tahun kesehariannya membantu
orang tua mencari barang bekas di jalan atau tempat pembuangan sampah
di Kelurahan Limo

Fitta : Assalam'alaikum, maaf mba ganggu, boleh minta waktu sebentar?
Isma : Wa'alaikumsalam, iya boleh ada apa?
Fitta : masih bersekolah?, kenapa?
Isma : engga, karena tidak ada biaya.
Fitta : sekarang tinggal dengan orang tua? Atau bagaimana?
Isma : iya masih sama orang tua.
Fitta : boleh tau tinggal dimana? Rumah sendiri atau sewa?
Isma : di limo depok, rumah ngontrak
Fitta : Kamu berapa bersaudara?, Bapak Ibu kerjanya apa?
Isma : anak pertama dari dua bersaudara, bapak dan ibu juga pemulung
Fitta : Hasil dari memulung sehari dapet kisaran berapa?, pengeluaran berapa?
Isma : 50 rb sehari, untuk makan sehari 10 rb
Fitta : Kalau dikalikan sebulan bisa mencapai 1 juta-an untuk kamu sendiri.
Isma : kalo dihitung seperti itu memang iya bisa mencapai 1 juta,
namun karena perhari tidak tentu jadi sebulan ya sudah dikumpulkan ke
orang tua.
Fitta : kamu pernah menabung? Berapa pernah dapat menabung?
Isma : pernah coba menabung, tapi tidak setiap hari, nabung di
celengan, pernah baru sebulan sudah dibongkar karena butuh biaya
berobat adik sakit.
Fitta : Orang tua kamu tidak menyuruh untuk melanjutkan sekolah?
Isma : bapak bilang sekolah Cuma buang2 uang, karena sekolah tinggi
tinggi juga belum dapet kerjaan layak, malah banyak pengangguran.
Fitta : kalau kamu sendiri apa masih ada keinginan untuk sekolah?
Isma : masih ada tapi biaya untuk sekolah tidak murah
Fitta : Menurut kamu lebih baik mencari uang dengan memulung atau
mencari ilmu dengan sekolah?, kenapa?
Isma : lebih baik memulung, karena bisa bantu cari uang untuk orang tua
Fitta : menurut kamu seberapa penting si pendidikan itu?
Isma : tidak tau, karena dlu SD pernah sekolah tetapi tidak terpakai
apa yang dipelajari, makanya SMP saya tidak melanjutkan, disamping
memang biayanya tidak ada.
Fitta : kalo boleh berandai atau berharap, apa harapan kamu yang
mungkin mengenai pendidikan?
Isma : ingin sekolah gratis tanpa ada biaya apapun, kan sekarang
gratis katanya tetapi yang lainnya masih harus beli dan prosesnya
sulit
Fitta : Tetapi paling tidak untuk biaya sudah digratiskan, namun
seperti seragam dan ongkos bisa coba menabung sedikit.
Fitta : Bagaimana caranya untuk mewujudkan harapan kamu?
Isma : iya betul saya ingin pemerintah benar-benar menggratiskan
sekolah jadi saya bisa bersekolah, dan sepulang sekolah saya bisa
memulung untuk membantu orang tua.
Fitta : Jika ada yang ingin membantu kamu lebih meilih dibantu dengan
uang, atau dibantu melanjutkan sekolah?
Isma : saya lebih baik disekolahkan.
Fitta : baik kalo begitu terima kasih atas waktunya ya, semoga harapan
kamu bisa terwujud.
Isma : amin



Subyek ke dua adalah bapak Dirman 45 tahun, dia berprofesi sebagai
Tukang Ojek di jalan Limo Raya

Fitta : Maaf pak bisa minta waktu sebentar?
Dirman : iya mba mau diantar kemana?
Fitta : engga pak mau tanya – tanya sebentar boleh?
Dirman : oh iya mumpung tidak ada penumpang.
Fitta : iya pak kalo nanti ada penumpang tidak apa-apa dicukupkan saja.
Dirman : oo gitu, mau nanya apa mba? Alamat?
Fitta : bukan pak ini ada tugas kuliah.
Dirman : ya sudah mau tanya apa?
Fitta : bapak selain ngojek, apa punya usaha atau pekerjaan lain?
Dirman : enggak neng saya Cuma ngojek aja setiap hari mangkal disini.
Fitta : begitu ya, trus istri kerja?
Dirman : istri dirumah aja mba ngurus anak, anak saya ada 4 yang dua
masih kecil yang pertama mungkin seumuran mba ini.
Fitta : anak pertama sudah lulus sekolah? Sudah bekerja juga?
Dirman : iya anak pertama saya lulusan SMA tetapi tidak kuliah dan
sekarang menganggur.
Fitta : lho kenapa ga kerja, sudah coba melamar pekerjaan? Lalu anak
yang lain masih bersekolah?
Dirman : iya mba dia sudah coba melamar pekerjaan dimana-mana, namun
tidak ada yang diterima karena saat di tes atau wawancara tidak
memenuhi kriteria. Anak yang kedua masih SMP, dan yang dua lagi tidak
sekolah harusnya sekolah SD.
Fitta : lho kenapa tidak disekolahkan pak?
Dirman : enggak mba nanti malah seperti kakak nya disekolahkan
mahal-mahal tidak menjamin bisa kerja, karena disekolah itu tidak
diajarkan kerja, yang diajarkan tidak bermanfaat buat mencari uang.
Fitta : jadi menurut bapak pendidikan tidak penting?
Dirman : kalo untuk orang pas – pasan seperti saya kurang penting,
lebih baik anak dari kecil diajarkan mencari uang saja biar kalo besar
sudah bisa mencari uang.
Fitta : dari bapak ngojek disini setiap hari rata-rata dapat berapa rupiah pak?
Dirman : ya ga tentu mba, rata-rata 60rb-100rb, bensin 15rb, makan
10rb, rokok 5rb jadi bawa pulang rata-rata 70rb-50rb
Fitta : kalo rata – rata segitu sebulan bisa 2 jt-an ya pak?
Dirman : haha iya mba klo dihitung seperti itu ya memang, tapi kan
keadaannya berbeda kalo sebenarnya kan buat makan ama bayar kontrakan
juga.
Fitta : ooh rumah masih ngontrak ya pak, lalu harapan bapak seperti
apa untuk masa depan anak – anak bapak sendiri?
Dirman : mau nya sih sekolah gratis tapi benar-benar gratis, karena
anak saya yang SMP itu sudah gratis SPP nya tapi masih harus beli ini
itu seperti LKS, biaya olah raga/ praktek dll itu yang memberatkan
saya.
Fitta : lalu apa harapan bapak untuk dunia pendidikan agar pendidikan
itu menjadi penting?
Dirman : ya harusnya di sekolah itu tidak kebanyakan teori, harus
diajarkan ilmu2 yang berguna buat kehidupan sehari-hari, anak sekarang
bisanya Cuma tawuran aja.
Fitta : begitu ya pak.
Dirman : maaf mba ada penumpang itu, apa masih ada yang mau ditanyakan?
Fitta : oh iya pak silahkan diantar saja, saya cukup pak terima kasih
atas waktunya, semoga bapak selalu dapat rejeki yang banyak ya pak.
Dirman : ammin mba sama – sama semoga tugasnya juga dapat nilai bagus..
Fitta : ammin pak

B. Sekolah Tidak Berfungsi Mempersiapkan Anak Untuk Suatu Pekerjaan

Seperti yang telah diuraikan oleh Prof. Dr. S. Nasution M.A harapan
kebanyakan orangtua dan murid pada sekolah adalah untuk mempersiapkan
anak untuk suatu pekerjaan. Maka dari itulah muncul STM, SMK dan
sebagainya untuk menjawab harapan-harapan ini. Namun, pada
kenyataannya pendidikan formal belum tentu mampu untuk mempersiapkan
tenaga kerja dan juga mengurangi kemiskinan.

Seperti yang terjadi dengan subyek pertama dia pernah sekolah namun
sekolah tidak membantunya untuk mendapatkan kehidupan yang layak,
begitu juga subyek ke dua yaitu bapak Dirman iya memiliki anak yang
telah lulus SMA namun sulit mendapat pekerjaan.

Bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin adalah sangat
sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak apalagi jika mereka tidak
bersekolah dan memiliki skill apapun. Jikalau mereka mendapatkan
pekerjaan biasanya pekerjaan mereka itu didapat karena adanya jaringan
kekerabatan seperti yang peneliti lihat di usaha-usaha Warteg, Kusen
dan Las di kelurahan Limo ini. Mereka biasanya mengambil
saudara-saudaranya yang berasal dari kampung mereka untuk dipekerjakan
atau istilah halusnya membantu usaha tersebut. Namun demikian tetap
saja bagi kalangan menengah ke bawah atau kalangan miskin pilihan
bekerja sangat terbatas karena pekerjaan yang bagus kemungkinan besar
hanya akan ditempati oleh orang-orang yang memiliki modal yang lebih
baik. Baik itu modal ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya

Harapan-Harapan Subyek Pada Pendidikan Formal

Berdasarkan wawancara peneliti dengan para subyek ada harapan-harapan
yang disematkan kepada pendidikan di Indonesia ini untuk ke depannya
lebih baik lagi

BAB III
PENUTUP

Uraian yang telah dipaparkan oleh peneliti memang dirasa masih kurang
memadai untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi para subyek
yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, peneliti mendapati
faktor utama yang menyebabkan tidak berlanjutnya para Subyek menempuh
pendidikan adalah ketidakmampuan ekonomi dan juga persepsi akan
seberapa pentingnya pendidikan untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Walaupun begitu dengan segala kekurangan pendidikan formal di
Indonesia ini. Para subyek tetap menaruh harapan pada pendidikan
formal untuk dapat setidaknya memperbaiki nasib mereka. Dan karena itu
mereka berharap agar pendidikan itu murah dan terjangkau kalau memang
tidak bisa gratis dan juga ada perhatian dari pemerintah terhadap
orang-orang seperti mereka ini.

Cari Blog Ini