Senin, 19 Mei 2014

Rahmah Adhawiyah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian ke 3

"Upaya Pedagang Kaki Lima dalam Pemenuhan Hidup di Pasar Ciputat"
 
1.      Latar Belakang
PKl merupakan orang yang sedang berjualan di tempat terbuka. PKL banyak ditemukan di Trotoar di tepi Jalan Umum atau di tempat terbuka di lokasi ramai. Dengan demikian "Pedagang Kaki Lima" sebenarnya mengandung arti kiasan bagi pelaku Usaha non Formal.
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pastilah kita memperlukan penghasilan atau pendapatan.Oleh sebab itu pastilah kita membutuhkan pekerjaan yang dimana untuk menunjang kebutuhan hidup.
Namun keterbatasan pendidikan dan ekonomi,maka banyak sebagian masyarakat jakarta yang menjadi pedagang, baik pedagang yang legal mau pun ilegal contohnya pedagang kaki lima. Pedagang Kaki Lima adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas umum, seperti terotoar, pinggir-pinggir jalan umum, dan lain sebagainya.
Pada intinya adalah PKL merupakan sekelompok orang yang melakukan kegiatan perdagangan di pinggir jalan. Keberadaan PKL berlokasi di sekitar atau dekat dengan kawasan fungsional, yang merupakan pusat kegiatan manusia.
 
2.      Teori
Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975). Suatu  tindakan  individu  yang  diarahkan  kepada  benda  mati  tidak  masuk  dalam  kategori tindakan sosial. Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan social ketika  tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada   orang  lain (individu lainnya). Meski tak jarang tindakan  sosial  dapat  berupa  tindakan  yang  bersifat membatin  atau  bersifat  subjektif  yang mungkin terjadi  karena  pengaruh  positif  dari  situasi  tertentu.  Bahkan terkadang tindakan dapat berulang kembali  dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Weber dalam Turner 2000).
 
3.      Metode
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu "teori".
 
4.      Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimana cara pkl mengatur pemasukan agar modal kembali dan mendapat keuntungan?
2.      Bagaimana upaya pkl dalam memenuhi kebutuhan hidupnya?
 
5.      Area Riset
Lokasi penelitian dipasar ciputat. obyek/subyeknya adalah salah satu pedagang kaki lima dipasar tersebut, Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 2014
 
6.      Pertanyaan Lapangan
1.      Kenapa bapak memilih untuk menjadi pkl?
2.      Sudah berapa lama bapak menjadi PKL disini?
3.      Bagaimana penghasilan bapak selama menjadi pkl?
4.      Apakah kendala yang bapak alami selama menjadi pkl?
5.      Bagaimana upaya bapak dalam pemenuhan hidup sehari-hari?
6.      Bagaimana upaya bapak dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak?
  
           Jawaban penelitian
Nama saya bapak dodo, saya lebih memilih untuk menjadi pkl karena saya tidak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak mempunyai modal yang tinggi. Lagi pula kalau menjadi pkl modalnya sudah tersedia dari keluarga seperti gerobak dll.
Saya menjadi pkl sudah cukup lama kira-kira sekitar 10 tahun lebih, ya penghasilan saya kalau dibilang cukup ya dicukup-cukupin  untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak saya,apalagi sekarang sekolah sudah ditanggung pemerintah.
Kendala yang pernah saya alami selama menjadi pkl banyak saingan antar pedagang, pernah kena penertiban satpol pp sehingga saya harus pindah-pindah tempat dan kadang makanan yang saya jual tidak habis sehingga tidak mendapat untung.
Dalam pemenuhan hidup sehari-hari ya saya berjualan seperti sekarang, dan istri saya dirumah juga berjualan makanan-makanan kecil untuk memenuhi kehidupan atau kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk kebutuhan sekolah anak saya sering tabungkan uang hasil berdagang saya setiap hari dicicil supaya ketika ada kebutuhan sekolah yang dibutuhkan (seragam,buku,dll) uangnya sudah terkumpul.

7.      Kesimpulan
Upaya bapak dodo dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya yaitu dengan menjadi pkl dipasar ciputat dan istrinya membantu berjualan makanan kecil dirumah, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tentulah banyak kendala yang dihadapi. Dan bapak dodo bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan cara menyisihkan penghasilannya sehari-hari.

Nur Yaumil Fithroh_Tugas 7_TOR dan Hasil Penelitian ke-3

JUDUL : KESEJAHTERAAN KEHIDUPAN TUKANG SAMPAH DI KAMP. KAYU GEDE.

BAB I

NAMA : Nur Yaumil Fithroh
NIM : 1113054100015
JURUSAN : KESEJAHTERAAN SOSIAL
KELAS : 2A
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut
derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada
konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah
dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam
kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat
dibagi menurut jenis-jenisnya.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup
keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral,
serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam
lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti
keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Didalam kehidupan sehari-hari banyak sekali sampah yang kita
produksi, dari sampah yang organik maupun non organik. Tempat
pembuangan akhir terkadang sangat jauh dari pemukiman yang membutuhkan
jasa manusia untuk mengangkut dan membuang sampah warga ke tempat
pembuangan akhir.

II. PERTANYAAN PENELITIAN
1. Sejahterakah tukang sampah tersebut?
2. Mampukah dia memenuhi kebutuhan hidupnya?

III. METODE PENELITIAN
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat
deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Sifat dari jenis
penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir
dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara
mendalam. Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan
interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan
mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan
perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan
derajat kesepakatan yang ada.

IV. TEORI YANG DIGUNAKAN
Dalam penelitian ini, saya menggunakan teori sosiologi klasik yaitu
teori max weber ( tindakan sosial ). Tindakan sosial menurut Max Weber
adalah Tindakan sosial terjadi ketika individu melekatkan makna
subjektif pada tindakan mereka. Hubungan sosial menurut Weber yaitu
suatu tindakan dimana beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh
tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta diarahkan kepada
tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan saling
menanggapi .
Dalam tindakan ini tindakan khusus aktor ditempatkan pada suatu urutan
motivasi yang bisa dimengerti, dan pemahamannya bisa dianggap sebagai
suatu penjelasan dari kenyataan berlangsungnya perilaku.

V. AREA RISET
• Kegiatan penelitian ini dilakukan di Kamp. Kayu Gede 2, Tangerang
• Objek : Masyarakat.
• Narasumber : Tukang Sampah


BAB II
PEMBAHASAN
I. Pertanyaan Lapangan
1. Nama dan umur bapak berapa?
2. Bapak bekerja sebagai tukang sampah didaerah mana saja?
3. Apakah bapak memiliki istri dan anak?
4. Keluarga ikut merantau atau tinggal dikampung halaman?
5. Apakah istri bapak juga bekerja dan anak-anak bapak sekolah atau tidak?
6. Apakah bapak menikmati pekerjaan menjadi tukang sampah?
7. Gaji bapak perbulan berapa?
8. Apakah gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan bapak sehari-hari?
9. Apa bapak memiliki pekerjaan selain menjadi tukang sampah?
10. Apa suka dan duka bapak dalam bekerja sebagai tukang sampah?

II. Jawaban Penelitian
Nama saya Bapak Samsuri bekerja menjadi tukang sampah di Kamp. Kayu
Gede 2 RW 014, daerah Graha Raya, Tangsel. Saya berumur 60 tahun dan
sudah menekuni pekerjaannya selama kurang lebih 25 tahun. Saya
memiliki keluarga yang terdiri dari seorang istri, dan dua orang anak.
Keluarga saya tinggal di kampung, tepatnya di daerah Purwakarta. Istri
saya bekerja sebagai petani di kampung. Anak pertama saya berumur 16
tahun, dan hanya bisa menempuh pendidikan sampai jenjang SD. Sekarang,
anak pertama saya membantu ibunya bekerja sebagai petani di kampung.
Anak kedua saya masih duduk di kelas 6 SD. Saya menikmati dan
mensyukuri pekerjaan yang saya kerjakan, dari pada saya menganggur dan
tidak dapat menafkahi keluarga saya dikampung. Saya digaji Rp
250.000,00 per bulannya oleh ketua RW setempat.

Penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya,
walaupun terkadang saya harus " tutup lubang, gali lubang". Tidak
jarang saya harus meminjam uang kepada orang lain untuk menutupi
kebutuhan sehari-hari. Pada sore hari, saya juga bekerja serabutan
membantu warga yang membutuhkan pertolongan saya. Tentunya, selama 25
tahun bekerja sebagai tukang sampah, saya banyak mendapatkan
pengalaman, baik suka maupun duka yang memberi warna pada kehidupan
saya. Salah satu hal yang saya sukai saat bekerja adalah apabila ada
yg meminta pertolongan saya, hal tersebut dapat menambah sedikit
penghasilan saya. Walaupun demikian, tak jarang saya juga mengalami
pengalaman yang tak menyenangkan, kadang saya harus tetap bekerja
walaupun saya sedang sakit ataupun pada saat cuacanya tidak
bersahabat. Terkadang saya juga kesal melihat sampah yang bertumpuk di
beberapa tempat dan perlu saya angkut padahal gerobak sampahnya
sendiri sudah penuh. Hal ini jugalah yang menjadi kendala dalam
pekerjaannya.

III. Profil Narasumber
Remaja Merokok :
- Nama : Samsuri
- Alamat : Jl. Kamp. Kayu Gede II
- Umur : 60 tahun

BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Bapak Samsuri, seorang tukang sampah yang sangat bersahabat dengan
warga sekitarnya. Walaupun terkadang dianggap sebagai "orang kecil",
peran seorang tukang sampah tentunya sangat penting bagi kehidupan
masyarakat. Tanpa mereka, lingkungan kita tentunya tidak akan bebas
dari sampah.
Kita sebagai masyarakat harus dapat mendaur ulang sampah agar sampah
tidak menumpuk dan menjadi racun bagi umat manusia. Agar dunia kita
terjaga kebersihannya dan tetap asri.

Anindia Prestiawani Rizki_Tugas 7_TOR Dan Hasil Penelitian Tema Ke-3

"PROSES SOSIALISASI ANTAR WARGA RADIO DALAM"

 

A.    Pendahuluan

Manusia adalah mahkluk sosial, untuk itu manusia memerlukan orang lain untuk dapat bertahan hidup. Manusia perlu mensosialisasikan dirinya dengan orang lain mengenai cara hidup, penyesuaian diri agar dapat berfungsi bagi orang lain. Proses sosialisasi ini merupakan suatu hal yang menjadi pusat penelitian dalam sosiologi pendidikan.

Beberapa ahli mengemukakan mengenai pengertian proses sosial, untuk itu pengertian tentang proses sosial diambil dari berbagai pendapat sehingga menghasilkan suatu pengertian secara utuh. Pembahasan tentang penyesuaian diri dilihat dari penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Sedangkan pembahasan tentang beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan sosial manusia dapat dikaji dari beberapa aspek, misalnya pengaruh bawaan atau genetik dan pengaruh lingkungan atau gabungan dari kedua aspek tersebut. Pembahasan tentang perkembangan tingkah laku kelompok akan mengkaji dari aspek perkembangan anak terkait dengan kelompok tempat mereka melakukan interaksi sosial.

Manusia sebagai mahkluk sosial harus mampu beradaptasi dengan baik terhadap masyarakat sekitar, karena jika tidak maka individu tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat. Untuk itu sangat penting bagi kita dalam mempelajari aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan proses sosialisasi di lingkungan masyarakat.

Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam kehidupan manusia. Dalam lingkungan keluargalah manusia pertama kali belajar beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk itulah, dalam menciptakan individu yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dibutuhkan lingkungan keluarga yang baik.

 

B.     Teori

Penelitian ini menggunakan teori Emile Durkheim. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekedar jumlah dari seluruh bagiannya. Dengan metode teori mengamati kelompok masyarakat, dengan cara observasi dan menjelaskan secara narasi.

 

C.    Pertanyaan Penelitian

1.      Bagaimana proses sosialisasi antar warga Radio Dalam?

2.      Apakah proses sosialisasi antar warga telah tercapai?

 

D.    Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.

 

E.     Area Riset

Lokasi riset yang saya gunakan adalah Jl H Salim II – Radio Dalam, Jakarta Selatan. Karena tema yang saya gunakan yaitu mengamati proses sosialisasi antar warga Radio Dalam.

 

Ø  Pertanyaan Lapangan

1.      Bagaimana proses sosialisasi antar warga di sini?

2.      Apakah proses tersebut telah tercapai sebagaimana mestinya?

3.      Adakah warga yang kurang bersosialisasi itu menjadi terkucilkan?

4.      Bagaimana cara menyikapi warga yang kurang bersosialisasi tersebut?

5.      Apa harapan kedepannya untuk warga sekitar?

 

Ø  Jawaban Pertanyaan Lapangan

Proses sosialisasi antar warga Radio Dalam telah berjalan baik dan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dibuat, seperti kerja bakti pada hari minggu. Prosesnya pun berjalan lancar walaupun sering kali ada kejanggalan seperti warga yang kurang bersosialisasi mungkin karena mereka sibuk dengan pekerjaannya dan kurang ada waktu luang, namun itu tidak membuat saya mengucilkan mereka yang kurang bersosialisasi. Jika mereka kurang bersosialisasi dengan warga sekitar, ada baiknya warga lah yang bersosialisasi dengan mereka. Memberi informasi perkembangan sekitar tempat tinggalnya, mengajak dan mengikut sertakan mereka pada kegiatan-kegiatan yang akan diadakan oleh warga. Harapan saya yaitu semoga proses sosialisasi warga disini dapat berjalan lebih baik lagi dan mereka yang kurang bersosialisasi dapat menyisikan waktunya untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Karena manusia tidak dapat hidup tanpa bersosialisasi.

 

Ø  Profil Narasumber

·         Nama                     : Mira

·         Usia                       : 43 tahun

·         Alamat                  : Jl H Salim II – Radio Dalam

·         Status                    : Ibu Rumah Tangga

Laporan Harian Praktikum

Nama                : Lutfi Amrullah
 
Laporan Harian Praktikum
Hari Ketiga
Pada hari Rabu tanggal 14 Mei 2014 Saya Lutfi dan teman saya Fachrulrodzi berencana ingin berkunjung kerumah RT setempat, saya berencana ingin bertanya-tanya tentang Demografi desa cogrek, tetapi pada saat saya berkunjung kerumah pak RT, pak RT dan keluarga sedang tidak ada dirumah/pergi. Lalu saya merubah program, saya dan teman saya mencari warga setempat untuk bertanya tentang budidaya jamur sudah menyebar luas atau belom? Ternyata hasil survei saya dan teman saya banyak warga setempat yang sudah mengenal tentang jamur tiram yang ada di pon-pes Riyadlul Jannah. Dan dengan tidak sengaja ada bapak yang mau bercerita tentang jamur, tetapi bapak itu bukan asli kampung situ, dia asli lampung..dia bercerita budidaya jamur yang dilampung, selain bercerita jamur tiram bapak itu juga bercerita tentang jamur barat, jamur kuping, dan masih banyak lagi..dari situ saya mendapat ilmu dan wawasan yang lumayan untuk saya dan teman saya.

Laporan Harian Praktikum

Nama                    : Lutfi Amrullah
 
Laporan Harian Praktikum
Hari kedua
Pada hari selasa tanggal 13 Mei 2014 saya Lutfi dan teman saya Fachrulrodzi hadir kembali kelokasi cogrek tempat budidaya jamur tiram, tapi pada hari ini kegiatan saya lain, saya berkeliling kampung setempat untuk melihat pandangan masayarakat sekitar seperti apa, bahwa dikampung sekitar banyak penangkaran ikan terutama ikan lele, dan ada pembiakan ayam tapi tidak banyak seperti penangkaran ikan, lalu saya keliling  lagi melihat perumahan atau gambaran tentang desa cogrek..karna saya datangnya telat saya hanya menjalani kegiatan seperti itu supaya saya bisa melihat gambaran tentang desa cogrek.

Laporan Harian Praktikum

Nama                    : Lutfi Amrullah
 
Laporan Harian Praktikum
Hari pertama
Pada hari Senin tanggal 12 Mei 2014 saya Lutfi memulai praktikum dengan teman saya Fachrulrodzi, pada ditempat lokasi saya bertanya-tanya tentang budidaya jamur tiram, saya dan teman saya bertanya tentang budidaya jamur kepada pegawai yang sudah lama bekerja disitu dia sedang membungkus jamur yang sudah waktunya dipetik dan dipasarkan..lalu setelah itu saya dan teman saya ikut membantu pekerja disitu, saya membantu ibu yang sedang memasukkan serbuk kayu kedalam plastik, dan teman saya ikut membantu mengikatnya. Saya melihat itu mungkin sangat mudah membuatnya, tapi pas saya ikut membantu ternyata susah tidak asal membungkusnya, perlu tekhnik dalam membungkusnya, ujung plastik harus di lipat dan diketruk2 hingga padat tidak boleh sampai bertekuk, saya sudah mencoba 3x dan saya masih gagal, saya terus mencobanya dan akhirnya saya bisa..saya membantu sampai pekerja selesai.

RIZKIANINGSIH_TUGAS7_TOR DAN HASIL PENELITIAN KE-3

"Keberadaan Anak Jalanan Di Kawasan Blok M Terhadap Kehidupan Sosial"

A. PENDAHULUAN

Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Pada zaman sekarang, keluarga saat ini sangat rentan terhadap kondisi, perubahan dan pengaruh lingkungan terjadi. Karena itu, banyak anggota keluarga yang kurang terpenuhi kebutuhannya sehingga melakukan apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka, salah satunya dengan menjadi anak jalanan yang mencari nafkah atau hidup mandiri di jalanan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup di jalanan.

B. TEORI

Penelitian ini menggunakan teori Emile Durkheim. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekedar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi, melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-faka sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan akan terikat kepada tindakan individu.

C. PERTANYAAN PENELITIAN

1. Bagaimana latar belakang munculnya anak jalanan
2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial

D. METODE

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena sosial, metode kualitatif juga menekankan pada persoalan kedalaman data bukan hanya banyaknya data tersebut, penelitian ini menerangkan suatu fenomena sosial mengenai dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial.

E. AREA RISET

Dilaksanakan di : Terminal Blok M Jakarta Selatan
Objek : Anak Jalanan
Waktu Observasi : Sabtu 18Mei 2014 dan dilanjutkan Minggu 19Mei 2014

F. HASIL PENELITIAN

Dalam penelitian ini, saya menggunakan teknik wawancara terhadap anak jalanan, penelitian mengenai dampak dari keberadaan anak jalanan. Salah satunya bernama Pipit umur 19tahun dia berasal dari Madiun dan pergi ke Jakarta tahun 2012 bersama kakak dan adiknya dia mengakui bahwa dia berinisiatif sendiri untuk pergi ke ibu kota karena kehidupan keluarganya dikampung sangat miskin. Kemiskinan merupakan salah satu hal penyebab munculnya anak jalanan sekaligus tindak kejahatan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak jalanan yang membawa berbagai macam senjata tajam untuk melampiaskan kekesalan mereka ketika tidak diberi uang. Anak jalanan juga termasuk sebab yang menambah jumlah kemiskinan, karena para orang tua telah mewariskan kemiskinan kepada anaknya. Karena anak diterlantarkan dan hidup di jalanan, maka hal ini memberikan efek buruk bagi si anak karena lingkungan tempat mereka berada kurang baik, karena umumnya mereka bergaul dan berteman dengan orang yang tidak hanya sebaya usia, tapi juga dengan orang yang lebih dewasa seperti preman, supir metromini dan kondektur yang sebagian berperilaku buruk, seperti merokok, berbicara kasar, serta tindakan kriminalitas lainnya. Keberadaan anak jalanan atau anak terlantar ini sering kali meresahkan masyarakat, selain dapat menambah jumlah kemiskinan, tapi juga menambah tingkat kriminalitas, dan premanisme, karena banyak anak jalanan yang membawa benda-benda tajam, seperti paku, pisau kecil dan sebagainya yang bertujuan untuk menakuti orang lain agar memberikan sejumlah uang kepada mereka. Tujuan penelitian ini adalah, untuk mengetahui bagaimana latar belakang munculnya anak jalanan, dan untuk mengetahui bagaimana dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial.

Della Azizah_tugas7_tor dan hasil penelitian

Penelitian Sosiologi

Tema : pemenuhan kebutuhan hidupan seorang kue putu dijaman modern

 BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar belakang

          Menurut situs wikipedia yang saya baca Kue putu berasal dari bahasa jawa (puthu) adalah jenis makanan indonesia berupa kue yang berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras butiran kasar. Kue ini dikukus dengan diletakkan didalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan dan dijual pada saat matahari terbenam sampai larut malam. Suara khas uap yang keluar dai alat suitan ini sekaligus menjadi alat promosi bagi pedagang yang berjualan dan masyarakatpun sering menyebut kue ini dengan kue nagis karena dari suara uap yang keluar dari suitan.

Kebanyakan kue putu ini bewarna hijau , sejumlah pedagang di indonesia mengganti bambu dengan pipa PVC dengan alasan kepraktisan meskipun dari segi kesehatan penggunaann PVC membahayakan. Dan begitu juga di daerah yang saya wawancarai mendapatkan beberapa pedagang kue putu juga sudah mengganti bambu dengan pipa PVC.

Dijaman modern ini seorang pedagang kue putu haruslah berjuang untuk berjulan karena menurut pedagang kue putu yang saya wawancarai  walaupun  hanya berjualan makanan tradisional harus bisa berdagang dengan kualitas baik dan dengan bahan-bahan yang baik juga itu lah cara abang rahman untuk menarik peminat masyarakat di sekitarnya.

Biasanya cara itulah yang bisa ia lakukan walaupun dengan pendidikan yang kurang dia bisa berjualan dengan baik dan bisa menghidupi orang tuanya yang sudah tua dan adiknya yang masih kecil ,itu yang mendorong dia harus berjuang menghidupi keluarganya yang kurang beruntung itu.

·         Mengapa Penting untuk diteliti

Penelitian ini penting untuk di teliti karena saya melihat adanya kurang peminat kue putu di jaman modern ini.

·         Asumsi

Menurut masyarakat, banyak yang tidak menemukan kue putu ini di jaman sekarang mungkin karena kue ini sudah jarang peminatnya di kota, tetapi banyak pula yang sangat merindukan kue ini. Dan banyak yang ingin tahu penghidupan seorang kue putu di jaman modern ini.

 

B.     Teori yang mendukung riset lapangan

Dalam penelitian ini saya menggunakan teori Max Weber dan metode yang saya gunakan adalah observasi dan hasil dari penelitian saya berupa narasi.

C.    Pertanyaan penelitian

1.      Bagaimana seorang pedagang kue putu untuk menghidupi keluarganya ?

 

D.     Metode lapangan yang digunakan

Dalam penelitian ini saya menggunkan metode kualitatif yaitu Metode ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang di peroleh. Metode ini di pakai apabila data hasil penelitian tidak dapat di ukur dengan angka atau dengan ukuran lainnya yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif di maksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak di peroleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Dalam metode kualitatif saya menggunakan metode Metode studi kasus

Penelitian yang memusatkan perhatian pada fenomena-fenomena (gejala sosial) yang nyata dalam masyarakat, yang ditelaah adalah keadaan masyarakat yang dilihat dari persoalan atau kasus tertentu , baik dalam suatu lembaga, kelompok, maupun individu. Adapun cara pelaksanaannya dengan teknik wawancara, dengan panduan daftar pertanyaan , atau dengan pengamatan partisipan. Dalam penelitian ini harus dengan membaur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dengan tidak memberi sugesti kepada masyarakat yang di teliti.

E.    Area riset

Penelitian ini saya lakukan di sekitar pinggir jalan raya kampung waru ciseeng. Pada hari minggu 18 mei 2014 pukul 15.30 WIB.

 

F.    Hasil penelitian

Siang hari dibawah terik matahari sekitar pukul 14.00 WIB seorang pemuda berumur 25 tahun memikul dagangannya di sekitar perkampungan warga. Ia berjalan dari rumah melewati jalan raya tanpa rasa lelah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia anak pertama dari 3 bersaudara. Anak pertama yang memiliki tanggung jawab untuk membiayai dua adiknya yang masih kecil karena ibunya sudah tua. Pemuda itu bernama Rahman. Dia berjualan kue putu sekitar 7 tahun. Kue yang biasa ia dagangkan sekitar 200-250 kue dengan harga Rp500 ya sangat murah sekali di jaman sekarang ini dengan uang Rp500 kita bisa dapat kue yang telah jarang ditemui. Ia berjualan mulai pukul 14.00-11.00 WIB. Jika dagangannya tidak habis ia akan simpan untuk dijual esok hari atau dimakan ramai-ramai dengan keluarganya. Abang Rahman membuat kue putu ini sendiri bersama niat baiknya untuk menghidupi keluarganya.  Dia berkeliling dari gang duku parung sampai kampung waru Ciseeng. Abang Rahman enggan menceritakan tentang ayahnya. Ia hanya menceritakan ibu dan adiknya. Abang Rahman belum menikah karena menurut dia untuk hidup sendiri saja sulit apalagi menghidupi orang lain . Selain menjadi pedagang kue putu, biasanya dipanggil untuk memperbaiki kabel listrik Telkom. jika dagangan kue tidak habis biasanya ia hanya mendapatkan uang Rp50.000-Rp100.000 saja, dan dengan uang yang segitu ia cukup-cukupkan untuk membiayai kehidupannya. Tetapi jika dagangannya laku maka akan mendapatkan Rp125.000 perhari dan masih dipotong untuk modal bahan-bahan kue berjualan besok yaitu sekitar setengahnya. Dari pendapatan itu ia cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah dua orang adiknya.

·      Profil narasumber

Nama : rahman

Umur :25 tahun

Pekerjaan : pedagang kue putu

Alamat rumah : gang. duku rt01 parung-bogor

Kesimpulan

Kue putu merupakan jenis makanan indonesia  yang berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras butiran kasar. Kue ini dikukus dengan diletakkan didalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan dan dijual pada saat matahari terbenam sampai larut malam.

 Walupun kue putu sudah jarang diminati oleh masyarakat tetapi bang rahman pun tidak menyerah untuk berjualan, walaupun kadang tidak habis dagangannya.  Di jaman ini makanan tradisional seperti kue putu ini pun sudah perlahan mulai hilang karena adanya makanan siap saji.  pedagang ini biasanya ada dikampung-kampung saja tetapi di kampung pun yang berjualan sudah mulai sedikit dan banyak yang beralih bekerja di PT. Di kota pun sangat jarang sekali ditemukannya kue ini karena kebanyakan dari mereka berdagang makanan yang diminati saja.

Indah choirunnissa _tugas7_TOR PENELITIAN

TOR PENELITIAN  LAPANGAN "PERILAKU SOSIAL ANAK PUNK DI DAERAH CIKOKOL TANGERANG".

I.                    LATAR BELAKANG
Kita sering melihat sekelompok pemuda berdiri di lampu merah atau di sudut – sudut kota dengan membawa gitar kecil sambil bernyanyi dan sesekali mereka mengamen diangkot untuk mendapatkan uang. Dengan dandanan yang urakan dan  gaya rambut mohawk ala kaum indian mereka seolah percaya diri dan nyaman dengan gaya hidup yang mereka jalani. Keberadaan punk sebagai bentuk tindakan penolakan terhadap segala macam penindasan yang banyak terjadi terutama di kalangan masyarakat kelas bawah atau pekerja. Orang biasanya mengenal anak punk hanya dari dandanannya yang unik, beda dari yang lain, seperti baju kumal, jaket berspike , celana ketat, sepatu boots dan berambut mohawak ala kaum indian dan juga memakai anting – anting besar.
·         Mengapa penting untuk diteliti
Penelitian ini penting untuk diteliti karena menyangkut masalah sosial yang harus ditangani dan untuk mengetahui cara menyelesaikan konflik serta dampak yang terjadi akibat kehadiran anak punk.
·         Asumsi
Terdapat pandangan hidup dari segi ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat di Indonesia. Sejumlah masyarakat yang melihat anak jalanan berstyle punk sering kali berpandangan bahwa hidup mereka itu bebas. Tetapi ada sebagian kecil dari anak- anak punk mengamen dengan harapan untuk membantu perekonomian keluarga mereka, maka dari itu kita sebagai masyarakat harus berpandangan hidup yang baik .
 
 
I.                   LANDASAN TEORI
 teori ini digunakan teori dari max weber, sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakan – tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, tindakan merupakan suatu perbuatan perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu, bagi Weber ,dunia terwujud karena tindakan sosial. Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan berorentasi atau dipengaruhi oleh orang lain.
 
 
.
II.                PERTANYAAN PENELITIAN
1.      Apasajakah pengaruh postif dan negatif adanya anak punk?
2.      Bagaimana pemecahan dan penyeselaian masalah adanya anak punk?
 
 
III.             METODE
 
Penelitian ini menggunakan motode pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan, dan observasi.
 
IV.             AREA RISET
 
Kegiatan penlitian ini dilakukan di Pinggiran Jalan Tangerang.
             Objek : Anak punk
  Narasumber : bang jabonk
  Waktu penelitian :  17- 18 mei 2014
 
HASIL PENELITIAN
 
Komunitas(anak) punk di dalam masyarakat biasanya dianggap sebagai masalah sosial didaerah setempat. Tetapi yang sebenarnya , mereka sama dengan anak – anak lain yang ingin mencari kebebasan ,dengan gaya busana yang khas, simbol – simbol, dan tata cara hidup yang dicuri dari kelompok – kelompok kebudayaan lain yang lebih mapan , merupakan upaya membangun indentitas berdasarkan simbol-simbol .
 
 Pengaruh postif dan negatif dari komunitas(anak punk) ini , kembali lagi ke cara pandang masyarakat itu sendiri. Memang ,sebagian komunitas punk memberikan dampak negatif bagi seseorang, terutama remaja yang jiwanya masih labil dan belum mengerti makna punk sendiri. Sebenarnya anak punk adalah bebas tetapi beranggung jawab artinya mereka juga berani bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang dilakukannya. Karena aliran dan gaya hidup yng dijalani para punker emang aneh ,maka pandangan miring dari masyarakat selalu ditunjukan pada mereka. Padahal banyak diantara punkers yang mempunyai kepedulian sosial.
Pengaruh positif adanya komunitas pun tersebut, antara lain;
Komunitas punk juga bergerak dibidang fashion , mereka membuat t-shirt , kaos, aksesoris , dengan jumlah yang lebih banyak dan juga desain yang lebih variatif.
Sedangkan pengaruh negatifnya adalah ;
Gaya dandan yang tidak sesuai dengan etika dan budaya Indonesia sehingga mendapatkan pandangan sebelah mata dan negatif dari masyarakat.
 
Pemecahan dan penyeselaian didalam menyelesaikan masalah komunitas punk
Persebaran komunitas punk yang sangat marak dikota –kota salah satunya tangerang, dengan gaya hidup bebas tanpa ada aturan yang mengatur segala aktivitas serta perilaku mereka, masalah gaya hidup negatif pada anak punk tersebut dapat diselesaikan dengan beberapa cara seperti menjauhkan ank dari lingkungan teman – teman sepermainan yang berilaku menyimpang.
Didirikannya panti sosial atau panti rehabilitasi juga menjadi realatif pemecahan  lainnya karena dalam panti rehabilitasi, anak punk yang bermasalah akan  diberikan suatu shock terapi agar anak tersebut menjadi jera dan menyesal telah melakukan hal – hal negatif dan menyimpang sehingga nantinya dia tidak akan lagi menjadi anak punk dengan gaya hidup yang  merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
KESIMPULAN
Fenomena anak punk jumlahnya memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan ,setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang mohawk ala suku indian, dengan warna – warni terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot kaos hitam, jaket kulit ,penuh tato dan gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat disekelilingnya ,dan juga memakai anting – anting besar di telinganya.

Meidi Kartikasari_tugas7_TOR PENELITIAN

T.O.R LAPORAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN
"KEHIDUPAN MASYARAKAT MISKIN Di DAERAH MENTENG ATAS,JAK-SEL"
 
A.   Latar Belakang
Konsep pemahaman tentang kemiskinan sangat beragam, mulai dari sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dan juga ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan yang cukup dasar dalam kehidupan sehari-hari, kurangnya kesempatan berusaha dan juga kurangnya lapangan pekerjaan, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Kemiskinan juga dapat diartikan sebagai ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi. Tetapi pada umumnya, ketika kemiskinan dibicarakan, yang dimaksud adalah kemiskinan material. Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Ini yang sering disebut dengan kemiskinan konsumsi. Status miskin dalam kehidupan juga relatif . ada  standar tertentu yang dapat mengelompokan seseorang masuk dalam kategori masyarakat miskin.
-Mengapa penting untuk di teliti
  Untuk mengetahui seberapa banyak orang miskin yang belum diketahui di daerah jakarta ini.
-Asumsi
  Pandangan dari penelitian ini bahwa kemiskinan di daerah jakarta sangatlah banyak sehingga sulit untuk menemukan solusi dan memecahkan masalah tersebut.
B.   Metodelogi Sosiologi yang Digunakan
Dalam penelitian ini saya menggunakan metodelogi sosiologi dari Emil Durkhem. Karena pada penelitian yang saya ambil, memiliki subjek yang bisa digolongkan sebagai kelompok. Metodenya jelas yaitu, obsevasi karena saya terjun langsung ke kelompok masyarakat tersebut.
 
C.   Tujuan
Untuk mengetahui kemiskinan di Indonesia, mengetahui factor penyebab terjadinya kemiskinan, serta mengetahui cara penanggulangan kemiskinan yang ada.
 
D.   Kegiatan
1.      Nama kegiatan : Penelitian lapangan dengan tema "Kehidupan  masyarakat miskin  di daerah Menteng Atas,Jakarta selatan".
2.      Bentuk kegiatan : Penelitian lapangan langsung untuk mengetahui sisi lain dari Keidupan masyarakat miskin di daerah Menteng Atas, Jakarta selatan.
 
E.    Waktu, Tempat, dan Narasumber
Hari/Tanggal : Kamis , 15 Mei 2014
Waktu           : 10.00 – sampai dengan selesai
Tempat          : Jln. Menteng atas selatan 2 gg 2 , menteng atas Jakarta selatan.
Narasumber  : 1. Bapak H. Yahya (ketua RT setempat)
 
F.    Pertanyaan dan Jawaban
1.      Menurut Bapak apa saja factor penyebab kemiskinan itu terjadi?
Jawaban: Kemiskinan itu terjadi disebabkan oleh  faktor , yaitu : kemiskinan alamiah yang terjadi karna terbatasnya sumber pencarian mereka. Kemiskinan buatan terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat embuat sebagian warganya tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang telah teredia.
 
G.   Metode
Dalam penelitian lapangan dengan tema tersebut metode yang saya gunakan adalah kualitatif.
 
H.   Penutup
Demikian laporan penelitian lapangan ini saya sampaikan,semoga informasi yang saya dapat dalam kegiatan  tersebut bisa berguna untuk orang banyak .Atas perhatianya saya ucapkan terima kasih, semoga mendapat respon dan dukungan yang positif.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
HASIL PENELITIAN
 
Adapun kemiskinan, berdasarkan kategorinya bias dibedakan menurut dan penyebabnya.
1.Menurut jenisnya.
Dalam hal ini kemiskinan dibedakan menjadi:
a.Kemiskinan absolut/mutlak
Adalah keadaan yang mana pendapatan kasar bulanan tidak mencukupi untuk membeli keperluan minimum sebuah isi rumah yang diukur berdasarkan tahap perbelanjaan minimum.1

b.Kemiskinan relative 
Adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara sesuatu tingkat pendapatan lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada masyarakat desa tertentu bias jadi termiskin pada masyarakat desa yang lain.2

2.Menurut penyebabnya
Dilihat dari segi penyebabnya kemiskinan dapat dibagi menjadi
A. Kemiskinan structural
Kemiskinan struktural ini adalah suatu kondisi di mana sekelompok orang berada di dalam wilayah kemiskinan, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan, bahkan juga anak-anaknya. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan, dan bisa dikatakan mengalami "kemiskinan abadi". Jika seorang pemulung punya anak, dan dia tidak memiliki biaya untuk memberikan gizi yang cukup, maka akan berdampak kepada kecerdasan sang anak, lalu juga tidak punya biaya menyekolahkan anaknya, maka seakan-akan keluar dari wilayah kemiskinan hanyalah sebuah angan-angan. 3
Apa yang bisa membawa orang keluar dari kemiskinan struktural ? Paling tidak secara teoritis ada 2 (dua) hal, yaitu (1) gizi yang baik semasa balita, serta (2) pendidikan yang memadai. Dengan dua hal tersebut, kemiskinan struktural bisa diatasi perlahan-lahan. Dengan demikian, program nasional atau gerakan masyarakat pemberian gizi tambahan untuk balita miskin juga salah satu upaya penting dalam menanggulangi kemiskinan struktural ini. Demikian juga dengan penyediaan sekolah yang gratis untuk masyarakat miskin. Program anak asuh yang menjadi inisiatif masyarakat beberapa tahun yang lalu juga merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan struktural. 4

B. Kemiskinan kultural
Disebut kemiskinan kultural, adalah budaya yang membuat orang miskin, yang dalam antropologi disebut Koentjaraningrat dengan mentalitas atau kebudayan kemiskinan sebagai adanya budaya miskin. Seperti, masyarakat yang pasrah dengan keadaannya dan menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang.5

Cari Blog Ini