Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Senin, 19 Mei 2014
Rahmah Adhawiyah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian ke 3
Nur Yaumil Fithroh_Tugas 7_TOR dan Hasil Penelitian ke-3
BAB I
NAMA : Nur Yaumil Fithroh
NIM : 1113054100015
JURUSAN : KESEJAHTERAAN SOSIAL
KELAS : 2A
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut
derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada
konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah
dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam
kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat
dibagi menurut jenis-jenisnya.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup
keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral,
serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam
lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti
keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Didalam kehidupan sehari-hari banyak sekali sampah yang kita
produksi, dari sampah yang organik maupun non organik. Tempat
pembuangan akhir terkadang sangat jauh dari pemukiman yang membutuhkan
jasa manusia untuk mengangkut dan membuang sampah warga ke tempat
pembuangan akhir.
II. PERTANYAAN PENELITIAN
1. Sejahterakah tukang sampah tersebut?
2. Mampukah dia memenuhi kebutuhan hidupnya?
III. METODE PENELITIAN
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat
deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Sifat dari jenis
penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir
dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara
mendalam. Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan
interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan
mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan
perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan
derajat kesepakatan yang ada.
IV. TEORI YANG DIGUNAKAN
Dalam penelitian ini, saya menggunakan teori sosiologi klasik yaitu
teori max weber ( tindakan sosial ). Tindakan sosial menurut Max Weber
adalah Tindakan sosial terjadi ketika individu melekatkan makna
subjektif pada tindakan mereka. Hubungan sosial menurut Weber yaitu
suatu tindakan dimana beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh
tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta diarahkan kepada
tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan saling
menanggapi .
Dalam tindakan ini tindakan khusus aktor ditempatkan pada suatu urutan
motivasi yang bisa dimengerti, dan pemahamannya bisa dianggap sebagai
suatu penjelasan dari kenyataan berlangsungnya perilaku.
V. AREA RISET
• Kegiatan penelitian ini dilakukan di Kamp. Kayu Gede 2, Tangerang
• Objek : Masyarakat.
• Narasumber : Tukang Sampah
BAB II
PEMBAHASAN
I. Pertanyaan Lapangan
1. Nama dan umur bapak berapa?
2. Bapak bekerja sebagai tukang sampah didaerah mana saja?
3. Apakah bapak memiliki istri dan anak?
4. Keluarga ikut merantau atau tinggal dikampung halaman?
5. Apakah istri bapak juga bekerja dan anak-anak bapak sekolah atau tidak?
6. Apakah bapak menikmati pekerjaan menjadi tukang sampah?
7. Gaji bapak perbulan berapa?
8. Apakah gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan bapak sehari-hari?
9. Apa bapak memiliki pekerjaan selain menjadi tukang sampah?
10. Apa suka dan duka bapak dalam bekerja sebagai tukang sampah?
II. Jawaban Penelitian
Nama saya Bapak Samsuri bekerja menjadi tukang sampah di Kamp. Kayu
Gede 2 RW 014, daerah Graha Raya, Tangsel. Saya berumur 60 tahun dan
sudah menekuni pekerjaannya selama kurang lebih 25 tahun. Saya
memiliki keluarga yang terdiri dari seorang istri, dan dua orang anak.
Keluarga saya tinggal di kampung, tepatnya di daerah Purwakarta. Istri
saya bekerja sebagai petani di kampung. Anak pertama saya berumur 16
tahun, dan hanya bisa menempuh pendidikan sampai jenjang SD. Sekarang,
anak pertama saya membantu ibunya bekerja sebagai petani di kampung.
Anak kedua saya masih duduk di kelas 6 SD. Saya menikmati dan
mensyukuri pekerjaan yang saya kerjakan, dari pada saya menganggur dan
tidak dapat menafkahi keluarga saya dikampung. Saya digaji Rp
250.000,00 per bulannya oleh ketua RW setempat.
Penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya,
walaupun terkadang saya harus " tutup lubang, gali lubang". Tidak
jarang saya harus meminjam uang kepada orang lain untuk menutupi
kebutuhan sehari-hari. Pada sore hari, saya juga bekerja serabutan
membantu warga yang membutuhkan pertolongan saya. Tentunya, selama 25
tahun bekerja sebagai tukang sampah, saya banyak mendapatkan
pengalaman, baik suka maupun duka yang memberi warna pada kehidupan
saya. Salah satu hal yang saya sukai saat bekerja adalah apabila ada
yg meminta pertolongan saya, hal tersebut dapat menambah sedikit
penghasilan saya. Walaupun demikian, tak jarang saya juga mengalami
pengalaman yang tak menyenangkan, kadang saya harus tetap bekerja
walaupun saya sedang sakit ataupun pada saat cuacanya tidak
bersahabat. Terkadang saya juga kesal melihat sampah yang bertumpuk di
beberapa tempat dan perlu saya angkut padahal gerobak sampahnya
sendiri sudah penuh. Hal ini jugalah yang menjadi kendala dalam
pekerjaannya.
III. Profil Narasumber
Remaja Merokok :
- Nama : Samsuri
- Alamat : Jl. Kamp. Kayu Gede II
- Umur : 60 tahun
BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Bapak Samsuri, seorang tukang sampah yang sangat bersahabat dengan
warga sekitarnya. Walaupun terkadang dianggap sebagai "orang kecil",
peran seorang tukang sampah tentunya sangat penting bagi kehidupan
masyarakat. Tanpa mereka, lingkungan kita tentunya tidak akan bebas
dari sampah.
Kita sebagai masyarakat harus dapat mendaur ulang sampah agar sampah
tidak menumpuk dan menjadi racun bagi umat manusia. Agar dunia kita
terjaga kebersihannya dan tetap asri.
Anindia Prestiawani Rizki_Tugas 7_TOR Dan Hasil Penelitian Tema Ke-3
"PROSES SOSIALISASI ANTAR WARGA RADIO DALAM"
A. Pendahuluan
Manusia adalah mahkluk sosial, untuk itu manusia memerlukan orang lain untuk dapat bertahan hidup. Manusia perlu mensosialisasikan dirinya dengan orang lain mengenai cara hidup, penyesuaian diri agar dapat berfungsi bagi orang lain. Proses sosialisasi ini merupakan suatu hal yang menjadi pusat penelitian dalam sosiologi pendidikan.
Beberapa ahli mengemukakan mengenai pengertian proses sosial, untuk itu pengertian tentang proses sosial diambil dari berbagai pendapat sehingga menghasilkan suatu pengertian secara utuh. Pembahasan tentang penyesuaian diri dilihat dari penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Sedangkan pembahasan tentang beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan sosial manusia dapat dikaji dari beberapa aspek, misalnya pengaruh bawaan atau genetik dan pengaruh lingkungan atau gabungan dari kedua aspek tersebut. Pembahasan tentang perkembangan tingkah laku kelompok akan mengkaji dari aspek perkembangan anak terkait dengan kelompok tempat mereka melakukan interaksi sosial.
Manusia sebagai mahkluk sosial harus mampu beradaptasi dengan baik terhadap masyarakat sekitar, karena jika tidak maka individu tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat. Untuk itu sangat penting bagi kita dalam mempelajari aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan proses sosialisasi di lingkungan masyarakat.
Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam kehidupan manusia. Dalam lingkungan keluargalah manusia pertama kali belajar beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk itulah, dalam menciptakan individu yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dibutuhkan lingkungan keluarga yang baik.
B. Teori
Penelitian ini menggunakan teori Emile Durkheim. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekedar jumlah dari seluruh bagiannya. Dengan metode teori mengamati kelompok masyarakat, dengan cara observasi dan menjelaskan secara narasi.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana proses sosialisasi antar warga Radio Dalam?
2. Apakah proses sosialisasi antar warga telah tercapai?
D. Metode Lapangan
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilakukan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau ukuran matematis lainnya.
E. Area Riset
Lokasi riset yang saya gunakan adalah Jl H Salim II – Radio Dalam, Jakarta Selatan. Karena tema yang saya gunakan yaitu mengamati proses sosialisasi antar warga Radio Dalam.
Ø Pertanyaan Lapangan
1. Bagaimana proses sosialisasi antar warga di sini?
2. Apakah proses tersebut telah tercapai sebagaimana mestinya?
3. Adakah warga yang kurang bersosialisasi itu menjadi terkucilkan?
4. Bagaimana cara menyikapi warga yang kurang bersosialisasi tersebut?
5. Apa harapan kedepannya untuk warga sekitar?
Ø Jawaban Pertanyaan Lapangan
Proses sosialisasi antar warga Radio Dalam telah berjalan baik dan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dibuat, seperti kerja bakti pada hari minggu. Prosesnya pun berjalan lancar walaupun sering kali ada kejanggalan seperti warga yang kurang bersosialisasi mungkin karena mereka sibuk dengan pekerjaannya dan kurang ada waktu luang, namun itu tidak membuat saya mengucilkan mereka yang kurang bersosialisasi. Jika mereka kurang bersosialisasi dengan warga sekitar, ada baiknya warga lah yang bersosialisasi dengan mereka. Memberi informasi perkembangan sekitar tempat tinggalnya, mengajak dan mengikut sertakan mereka pada kegiatan-kegiatan yang akan diadakan oleh warga. Harapan saya yaitu semoga proses sosialisasi warga disini dapat berjalan lebih baik lagi dan mereka yang kurang bersosialisasi dapat menyisikan waktunya untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Karena manusia tidak dapat hidup tanpa bersosialisasi.
Ø Profil Narasumber
· Nama : Mira
· Usia : 43 tahun
· Alamat : Jl H Salim II – Radio Dalam
· Status : Ibu Rumah Tangga
Laporan Harian Praktikum
Laporan Harian Praktikum
Laporan Harian Praktikum
RIZKIANINGSIH_TUGAS7_TOR DAN HASIL PENELITIAN KE-3
"Keberadaan Anak Jalanan Di Kawasan Blok M Terhadap Kehidupan Sosial"
A. PENDAHULUAN
Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Pada zaman sekarang, keluarga saat ini sangat rentan terhadap kondisi, perubahan dan pengaruh lingkungan terjadi. Karena itu, banyak anggota keluarga yang kurang terpenuhi kebutuhannya sehingga melakukan apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka, salah satunya dengan menjadi anak jalanan yang mencari nafkah atau hidup mandiri di jalanan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup di jalanan.
B. TEORI
Penelitian ini menggunakan teori Emile Durkheim. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekedar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi, melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-faka sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan akan terikat kepada tindakan individu.
C. PERTANYAAN PENELITIAN
1. Bagaimana latar belakang munculnya anak jalanan
2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial
D. METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena sosial, metode kualitatif juga menekankan pada persoalan kedalaman data bukan hanya banyaknya data tersebut, penelitian ini menerangkan suatu fenomena sosial mengenai dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial.
E. AREA RISET
Dilaksanakan di : Terminal Blok M Jakarta Selatan
Objek : Anak Jalanan
Waktu Observasi : Sabtu 18Mei 2014 dan dilanjutkan Minggu 19Mei 2014
F. HASIL PENELITIAN
Dalam penelitian ini, saya menggunakan teknik wawancara terhadap anak jalanan, penelitian mengenai dampak dari keberadaan anak jalanan. Salah satunya bernama Pipit umur 19tahun dia berasal dari Madiun dan pergi ke Jakarta tahun 2012 bersama kakak dan adiknya dia mengakui bahwa dia berinisiatif sendiri untuk pergi ke ibu kota karena kehidupan keluarganya dikampung sangat miskin. Kemiskinan merupakan salah satu hal penyebab munculnya anak jalanan sekaligus tindak kejahatan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak jalanan yang membawa berbagai macam senjata tajam untuk melampiaskan kekesalan mereka ketika tidak diberi uang. Anak jalanan juga termasuk sebab yang menambah jumlah kemiskinan, karena para orang tua telah mewariskan kemiskinan kepada anaknya. Karena anak diterlantarkan dan hidup di jalanan, maka hal ini memberikan efek buruk bagi si anak karena lingkungan tempat mereka berada kurang baik, karena umumnya mereka bergaul dan berteman dengan orang yang tidak hanya sebaya usia, tapi juga dengan orang yang lebih dewasa seperti preman, supir metromini dan kondektur yang sebagian berperilaku buruk, seperti merokok, berbicara kasar, serta tindakan kriminalitas lainnya. Keberadaan anak jalanan atau anak terlantar ini sering kali meresahkan masyarakat, selain dapat menambah jumlah kemiskinan, tapi juga menambah tingkat kriminalitas, dan premanisme, karena banyak anak jalanan yang membawa benda-benda tajam, seperti paku, pisau kecil dan sebagainya yang bertujuan untuk menakuti orang lain agar memberikan sejumlah uang kepada mereka. Tujuan penelitian ini adalah, untuk mengetahui bagaimana latar belakang munculnya anak jalanan, dan untuk mengetahui bagaimana dampak yang ditimbulkan dari keberadaan anak jalanan dalam kehidupan sosial.
Della Azizah_tugas7_tor dan hasil penelitian
Penelitian Sosiologi
Tema : pemenuhan kebutuhan hidupan seorang kue putu dijaman modern
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Menurut situs wikipedia yang saya baca Kue putu berasal dari bahasa jawa (puthu) adalah jenis makanan indonesia berupa kue yang berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras butiran kasar. Kue ini dikukus dengan diletakkan didalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan dan dijual pada saat matahari terbenam sampai larut malam. Suara khas uap yang keluar dai alat suitan ini sekaligus menjadi alat promosi bagi pedagang yang berjualan dan masyarakatpun sering menyebut kue ini dengan kue nagis karena dari suara uap yang keluar dari suitan.
Kebanyakan kue putu ini bewarna hijau , sejumlah pedagang di indonesia mengganti bambu dengan pipa PVC dengan alasan kepraktisan meskipun dari segi kesehatan penggunaann PVC membahayakan. Dan begitu juga di daerah yang saya wawancarai mendapatkan beberapa pedagang kue putu juga sudah mengganti bambu dengan pipa PVC.
Dijaman modern ini seorang pedagang kue putu haruslah berjuang untuk berjulan karena menurut pedagang kue putu yang saya wawancarai walaupun hanya berjualan makanan tradisional harus bisa berdagang dengan kualitas baik dan dengan bahan-bahan yang baik juga itu lah cara abang rahman untuk menarik peminat masyarakat di sekitarnya.
Biasanya cara itulah yang bisa ia lakukan walaupun dengan pendidikan yang kurang dia bisa berjualan dengan baik dan bisa menghidupi orang tuanya yang sudah tua dan adiknya yang masih kecil ,itu yang mendorong dia harus berjuang menghidupi keluarganya yang kurang beruntung itu.
· Mengapa Penting untuk diteliti
Penelitian ini penting untuk di teliti karena saya melihat adanya kurang peminat kue putu di jaman modern ini.
· Asumsi
Menurut masyarakat, banyak yang tidak menemukan kue putu ini di jaman sekarang mungkin karena kue ini sudah jarang peminatnya di kota, tetapi banyak pula yang sangat merindukan kue ini. Dan banyak yang ingin tahu penghidupan seorang kue putu di jaman modern ini.
B. Teori yang mendukung riset lapangan
Dalam penelitian ini saya menggunakan teori Max Weber dan metode yang saya gunakan adalah observasi dan hasil dari penelitian saya berupa narasi.
C. Pertanyaan penelitian
1. Bagaimana seorang pedagang kue putu untuk menghidupi keluarganya ?
D. Metode lapangan yang digunakan
Dalam penelitian ini saya menggunkan metode kualitatif yaitu Metode ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang di peroleh. Metode ini di pakai apabila data hasil penelitian tidak dapat di ukur dengan angka atau dengan ukuran lainnya yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif di maksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak di peroleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Dalam metode kualitatif saya menggunakan metode Metode studi kasus
Penelitian yang memusatkan perhatian pada fenomena-fenomena (gejala sosial) yang nyata dalam masyarakat, yang ditelaah adalah keadaan masyarakat yang dilihat dari persoalan atau kasus tertentu , baik dalam suatu lembaga, kelompok, maupun individu. Adapun cara pelaksanaannya dengan teknik wawancara, dengan panduan daftar pertanyaan , atau dengan pengamatan partisipan. Dalam penelitian ini harus dengan membaur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dengan tidak memberi sugesti kepada masyarakat yang di teliti.
E. Area riset
Penelitian ini saya lakukan di sekitar pinggir jalan raya kampung waru ciseeng. Pada hari minggu 18 mei 2014 pukul 15.30 WIB.
F. Hasil penelitian
Siang hari dibawah terik matahari sekitar pukul 14.00 WIB seorang pemuda berumur 25 tahun memikul dagangannya di sekitar perkampungan warga. Ia berjalan dari rumah melewati jalan raya tanpa rasa lelah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia anak pertama dari 3 bersaudara. Anak pertama yang memiliki tanggung jawab untuk membiayai dua adiknya yang masih kecil karena ibunya sudah tua. Pemuda itu bernama Rahman. Dia berjualan kue putu sekitar 7 tahun. Kue yang biasa ia dagangkan sekitar 200-250 kue dengan harga Rp500 ya sangat murah sekali di jaman sekarang ini dengan uang Rp500 kita bisa dapat kue yang telah jarang ditemui. Ia berjualan mulai pukul 14.00-11.00 WIB. Jika dagangannya tidak habis ia akan simpan untuk dijual esok hari atau dimakan ramai-ramai dengan keluarganya. Abang Rahman membuat kue putu ini sendiri bersama niat baiknya untuk menghidupi keluarganya. Dia berkeliling dari gang duku parung sampai kampung waru Ciseeng. Abang Rahman enggan menceritakan tentang ayahnya. Ia hanya menceritakan ibu dan adiknya. Abang Rahman belum menikah karena menurut dia untuk hidup sendiri saja sulit apalagi menghidupi orang lain . Selain menjadi pedagang kue putu, biasanya dipanggil untuk memperbaiki kabel listrik Telkom. jika dagangan kue tidak habis biasanya ia hanya mendapatkan uang Rp50.000-Rp100.000 saja, dan dengan uang yang segitu ia cukup-cukupkan untuk membiayai kehidupannya. Tetapi jika dagangannya laku maka akan mendapatkan Rp125.000 perhari dan masih dipotong untuk modal bahan-bahan kue berjualan besok yaitu sekitar setengahnya. Dari pendapatan itu ia cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah dua orang adiknya.
· Profil narasumber
Nama : rahman
Umur :25 tahun
Pekerjaan : pedagang kue putu
Alamat rumah : gang. duku rt01 parung-bogor
Kesimpulan
Kue putu merupakan jenis makanan indonesia yang berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras butiran kasar. Kue ini dikukus dengan diletakkan didalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan dan dijual pada saat matahari terbenam sampai larut malam.
Walupun kue putu sudah jarang diminati oleh masyarakat tetapi bang rahman pun tidak menyerah untuk berjualan, walaupun kadang tidak habis dagangannya. Di jaman ini makanan tradisional seperti kue putu ini pun sudah perlahan mulai hilang karena adanya makanan siap saji. pedagang ini biasanya ada dikampung-kampung saja tetapi di kampung pun yang berjualan sudah mulai sedikit dan banyak yang beralih bekerja di PT. Di kota pun sangat jarang sekali ditemukannya kue ini karena kebanyakan dari mereka berdagang makanan yang diminati saja.
Indah choirunnissa _tugas7_TOR PENELITIAN
Meidi Kartikasari_tugas7_TOR PENELITIAN
1.Menurut jenisnya.
Dalam hal ini kemiskinan dibedakan menjadi:
a.Kemiskinan absolut/mutlak
Adalah keadaan yang mana pendapatan kasar bulanan tidak mencukupi untuk membeli keperluan minimum sebuah isi rumah yang diukur berdasarkan tahap perbelanjaan minimum.1
b.Kemiskinan relative
Adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara sesuatu tingkat pendapatan lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada masyarakat desa tertentu bias jadi termiskin pada masyarakat desa yang lain.2
2.Menurut penyebabnya
Dilihat dari segi penyebabnya kemiskinan dapat dibagi menjadi
Kemiskinan struktural ini adalah suatu kondisi di mana sekelompok orang berada di dalam wilayah kemiskinan, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan, bahkan juga anak-anaknya. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan, dan bisa dikatakan mengalami "kemiskinan abadi". Jika seorang pemulung punya anak, dan dia tidak memiliki biaya untuk memberikan gizi yang cukup, maka akan berdampak kepada kecerdasan sang anak, lalu juga tidak punya biaya menyekolahkan anaknya, maka seakan-akan keluar dari wilayah kemiskinan hanyalah sebuah angan-angan. 3
Apa yang bisa membawa orang keluar dari kemiskinan struktural ? Paling tidak secara teoritis ada 2 (dua) hal, yaitu (1) gizi yang baik semasa balita, serta (2) pendidikan yang memadai. Dengan dua hal tersebut, kemiskinan struktural bisa diatasi perlahan-lahan. Dengan demikian, program nasional atau gerakan masyarakat pemberian gizi tambahan untuk balita miskin juga salah satu upaya penting dalam menanggulangi kemiskinan struktural ini. Demikian juga dengan penyediaan sekolah yang gratis untuk masyarakat miskin. Program anak asuh yang menjadi inisiatif masyarakat beberapa tahun yang lalu juga merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan struktural. 4
B. Kemiskinan kultural
Disebut kemiskinan kultural, adalah budaya yang membuat orang miskin, yang dalam antropologi disebut Koentjaraningrat dengan mentalitas atau kebudayan kemiskinan sebagai adanya budaya miskin. Seperti, masyarakat yang pasrah dengan keadaannya dan menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang.5