Senin, 19 Mei 2014

Ari Herlangga_Tugas 7_TOR dan Hasil Penelitian ke3

Nama: Ari Herlangga

Kelas : Kessos 2A

1113054100027

 

 

 

 

ALASAN SISWA MEMILIH JURUSAN IPA DI SMA NEGERI 94 JAKARTA BARAT

 

 

          BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sebagai siswa SMA Negeri 94 Jakarta Barat, memilih jurusan IPA ataupun IPS merupakan suatu kewajiban. Dimana dalam memilih jurusan tersebut siswa pasti memiliki banyak pertimbangan tentang berbagai konsekuensi yang akan dihadapi jika mengambil jurusan IPA maupun IPS.

Akan tetapi, penulis merasa ada kejanggalan dimana dalam dua pilihan itu terjadi ketidakseimbangan yang begitu menyolok. Yaitu ketika kita dihadapkan dengan fakta bahwa peminat jurusan IPA jauh lebih banyak dibandingkan dengan peminat jurusan IPS. Hal ini menggugah rasa ingin tahu penulis untuk meneliti kasus tersebut.

 

B.     Rumusan Masalah

Dari rumusan di atas, maka perumusan masalah yang peneliti angkat adalah: "Apa alasan siswa SMA Negeri 94 Jakarta Barat kelas XI IPA tahun ajaran 2013/2014 memilih jurusan IPA?"

 

C.    Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang penulis simpulkan pada laporan ini terdiri dari dua bagian yaitu sebagai berikut :

·         H0           : Tidak adanya pengaruh antara hubungan tersedianya jumlah jurusan di PTN dengan minat siswa masuk jurusan IPA

·         H1        : Adanya pengaruh antara hubungan tersedianya jumlah jurusan di PTN dengan minat siswa masuk jurusan IPA

 

D.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat tingkat minat siswa memasuki jurusan IPA terhadap  jumlah jurusan di PTN.

 

E.     Manfaat Penelitian

1.      Mengetahui alasan siswa memasuki jurusan IPA.

2.      Mengetahui tingkat minat siswa terhadap jurusannya.

3.      Mengetahui prospek masa depan siswa terhadap diterimanya di PTN.

         BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Tinjauan Pustaka

 

Setelah melakukan pebelajaran selama 2 semester, siswa diharuskan memilih antara jurusan IPA atau IPS untuk melanjutkan pembelajarannya di kelas XI sampai dengan kelas XII. Adapun mata pelajaran pokok di jurusan IPA meliputi : Biologi, Fisika, Kimia, dan Matemtika. Sedangkan mata pelajaran pokok di jurusan IPS meliputi : Sosiologi, Geografi, Ekonomi, dan Sejarah.

 

 

B.     Kerangka Pemikiran dan Anggapan Dasar

 

Setelah melakukan analisis terhadap perumusan masalah, penulis menarik anggapan dasar yang didapat dari mendengar dan menduga alasan siswa lebih memilih masuk jurusan IPA karena:

1.      Gengsi jika harus masuk IPS.

2.      Kehendak orang tua.

3.      Jumlah jurusan di PTN akan lebih luas.

4.      Ajakan teman / pacar.

5.      Memang menyukai mata pelajaran IPA.

6.      Jumlah pendidik jurusan IPA lebih banyak.

7.      Alasan lain.

 

 

C.    Hipotesa

 

Hipotesis yang penulis simpulkan pada laporan  ini adalah karena tuntutan orang tua. Sebagian besar orang tua berharap anaknya dapat masuk jurusan IPA agar mereka lebih terjamin masa depannya. Anggapan ini seperti sudah menjadi paradigma lama. Padahal, siswa berhak memilih jurusan sesuai dengan passion mereka masing-masing.

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

A.    Tempat dan Waktu Penelitian

            Dalam melaksanakan penelitian ini kami melakukannya di lingkungan SMA Negeri 94 Jakarta Barat. Alasan dipilihnya SMA Negeri 94 Jakarta Barat terutama kalangan XII adalah karena terbatasnya waktu dan saya alumni SMA tersebut.

Penelitian ini kami lakukan selama 15 Mei 2014, sampai dengan 19 Mei 2014. Adapun penyebab terhambatnya proses penelitian ini dikarenakan terbenturnya jadwal pembelajaran dengan jadwal libur sehabis UN.

 

 

B.     Bentuk dan Strategi Penelitian

            Dalam melakukan penelitian terhadap peminatan jurusan IPA, penulis menggunakan teknik Random Sampling dengan cara menyebarkan angket untuk diisi oleh responden. Responden sasaran kami adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA Negeri 94 Jakarta Barat. Akan  tetapi karena beberapa kendala waktu dan teknis, angket yang dapat terkumpul hanya 2 yaitu dari XII IPA 1 dan XII IPA 2.

 

 

C.    Sumber Data

            Sumber data berupa angket yang kami sebarkan kepada semua siswa kelas XII IPA SMA Negeri 94 Jakarta Barat.

 

 

D.    Teknik Sampling

            Sampel adalah sebagian data yang diteliti namun sudah mencakup seluruh data yang ada pada bahan dan rencana penelitian. Pada konteks ini, teknik sampling yang penulis terapkan adalah teknik random sampling.

 

 

 

E.     Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data menggunakan angket.Metode ini kami lakukan karena jangka waktu yang kami miliki dalam proses pembuatan laporan ini terbatas sehingga kami harus menggunakan angket untuk mempermudah dan mempercepat proses pengumpulan data kami.

            Metode ini kami lakukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada responden dengan menyertakan opsi pada setiap pertanyaannya.

 

 

F.     Prosedur Penelitian

Dalam melakukan penulisan laporan penelitian ini, penulis menggunakan prosedur penelitian sebagai berikut :

1.      Menentukan masalah yang akan diteliti.

2.      Studi pendahuluan.

3.      Merumuskan suatu masalah.

4.      Merumuskan anggapan dasar.

5.      Pendekatan penelitian.

a.         Pendekatan kuantitatif

b.        Pendekatan kualitatif

6.      Menentukan variabel dan sumber data.

 

         BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.    Penyajian Data

Data kami peroleh dari hasil menyebar angket. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :

No.

Alasan

Jumlah Siswa

XII IPA 1

XII IPA 4

1

Gengsi

-

-

2

Kehendak orang tua

6

11

3

Jumlah PTN yang tersedia

12

13

4

Ajakan teman/pacar

3

-

5

Bisa lintas jurusan di PTN

3

1

6

Menyukai mapel IPA

10

7

7

Jumlah pendidik lebih banyak

-

-

8

Alasan lainya

-

-

Total

34

32

 

B.     Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan paparan data hasil pengisian angket oleh responden, dapat diketahui bahwa hipotesa penulis pada BAB II belum tepat karena alasan siswa masuk jurusan IPA sebagian besar bukan karena tuntutan orang tua, melainkan karena tersedianya jumlah jurusan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lebih banyak dari IPA. Hal itu terlihat jelas pada kedua kelas yang dijadikan sampel. Baik XII IPA 1 maupun XII IPA 4, masing-masing beralasan masuk jurusan IPA karena peluang masuk PTN akan lebih mudah jika mereka berasal dari jurusan IPA, sedangkan tuntutan orang tua hanyalah faktor pendukung.


 

Deshinta Ria Liany_Tugas7_TOR3 dan Hasil Penelitian 3

UPAYA MASYARAKAT SODONG UNTUK BERSEKOLAH

DI SDN 01 KLAPANUNGGAL

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.       Latar Belakang

                Dewasa ini, penting bagi setiap warga negara beserta pemerintah untuk saling bekerjasama memfokuskan perhatian mereka dalam memberantas kemiskinan yang terjadi terutama pada masyarakat pedesaan dimana mereka banyak menghadapi dan dihadapi oleh beragam masalah yang terjadi, diantaranya adalah kurangnya peran serta pemerintah secara nyata dalam 'mengurus' kepentingan dan kebutuhan masyarakat pedesaan, wilayah tempat tinggal mereka yang terisolasi baik terhadap dunia luar maupun terhadap akses-akses yang seharusnya mereka nikmati sebagai fasilitas negara terutama akses akan sumber daya terlebih pendidikan, sehingga berdampak pada pertumbuhan dan kemajuan desa menjadi relatif lambat. Selain itu, mereka berpandangan sempit bahwa pendidikan bukanlah segalanya. Hal ini, menyebabkan mereka mengalami krisis motivasi dan keinginan akan kebutuhan pendidikan yang berujung pada rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan di tingkat masyarakat pedesaan.

                Maka dari itu, diperlukan pula usaha dalam meningkatkan kesadaran masyarakat pedesaan akan pentingnya pendidikan dalam menyiapkan generasi yang berkualitas untuk kepentingan masa depan desa yang terkait dengan eksistensi serta keberlangsungan hidup dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan kehidupan yang berkelanjutan baik bagi masyarakat di pedesaan pada khususnya maupun bangsa pada umumnya, hingga menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan pokok dalam kehidupan mereka dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi.

                Dalam usaha memberantas kemiskinan yang terjadi, terlebih yang dialami oleh masyarakat pedesaan selama ini menimbulkan suatu cambukan dasyat bagi seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintahan untuk melakukan berbagai upaya-upaya dalam rangka memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesadaran mereka akan kebutuhan pendidikan. Pemerintah pun tampaknya sudah mulai sadar bahwa salah satu yang menjadi kendalanya adalah kesenjangan dan ketidakadilan. Sehingga, upaya-upaya penanggulangan dalam mengentaskan kemiskinan pada masyarakat pedesaan ini dapat diselesaikan melalui upaya pendidikan dan pelatihan, yaitu dengan mendidik dan memberdayakan masyarakat baik miskin maupun tidak miskin.

                Peranan bidang pendidikan merupakan salah satu upaya pembangunan dalam memberantas kebodohan dan diharapkan mampu memberantas kemiskinan yang terjadi serta dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakatnya, terlebih masyarakat di pedesaan yang tingkat kesejahteraan hidupnya cukup rendah dibandingkan masyarakat disekitar perkotaan yang mudah dan serba cepat dalam mengakses sumber daya yang tersedia. Dalam pencapaiannya, upaya lain yang dilakukan untuk mendukung tercapainya pemberantasan kemiskinan melalui partisipasi masyarakat untuk bergotong royong dan saling membantu dalam melakukan pemberdayaan secara terpadu, berkelanjutan dengan sasarannya yang jelas.

                Pada kenyataannya, masih banyak masyarakat Indonesia khususnya mereka yang berada di pedesaan belum mengenyam pendidikan. Padahal, secara bersama-sama pemerintah pusat dan pemerintah daerah mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya mencerdaskan bangsa.

                Pentingnya penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat di desa Sodong untuk meraih pendidikan. Saya sangat tertarik dengan upaya yang mereka lakukan demi meraih pendidikan. Masyarakat desa Sodong sangat mementingkan pendidikan demi memperbaiki kehidupannya kelak di masa yang akan datang. Mereka percaya bahwa jika anak-anaknya menjadi anak yang pandai dan rajin, maka mereka tidak akan malas untuk bekerja.

2.       Teori

                Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975).  Suatu  tindakan  individu  yang  diarahkan  kepada  benda  mati  tidak  masuk  dalam  kategori tindakan sosial. Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan social ketika  tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada   orang  lain (individu lainnya). Meski tak jarang tindakan  sosial  dapat  berupa  tindakan  yang  bersifat membatin  atau  bersifat  subjektif  yang mungkin terjadi  karena  pengaruh  positif  dari  situasi  tertentu.  Bahkan terkadang tindakan dapat berulang kembali  dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Weber dalam Turner 2000).

 

3.       Metode

                Metode kualitatif mengutamakan bahan atau hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka atau ukuran yang matematis meskipun kejadian itu nyata dalam masyarakat. Beberapa metode yang termasuk dalam metode kualitatif adalah sebagai berikut.

Metode historis, yaitu metode pengamatan yang menganalisisperistiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

Metode komparatif, yaitu metode pengamatan dengan membandingkan bermacam-macam masyarakat serta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan sebagai petunjuk tentang perilaku suatu masyarakat pada masa lalu dan masa mendatang.

Metode studi kasus, yaitu suatu metode pengamatan tentang suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga, ataupun individu-individu. Alat-alat yang digunakan dalam studi kasus adalah wawancara (interview), pertanyaan-pertanyaan atau kuesioner (questionaire), daftar pertanyaan, dan teknik keterlibatan si peneliti dalam kehidupan sehari-hari dari kelompok sosial yang sedang diamati (participant observer technique).

4.       Pertanyaan Penelitian

1.       Bagaimana upaya masyarakat Sodong dalam meraih pendidikan di SDN Klapanunggal 01?

2.       Bagaimana motivasi orang tua kepada anak-anak agar mau bersekolah?

 

5.       Area Riset

        Lokasi penelitian di salah satu rumah warga di desa Sodong, Kec.Klapanunggal, Kab.Bogor. obyek/subyeknya adalah salah satu kelurga di desa Sodong, yaitu keluarga Bapak Suryana. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 2014.

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.       Pertanyaan Lapangan

1.       Sudah berapa lama bapak tinggal di desa ini?

2.       Siapa saja anggota keluarga di rumah ini?

3.       Siapa saja anak bapak yang masih bersekolah?

4.       Apakah profesi/pekerjaan bapak?

5.       Adakah kendala dalam upaya menyekolahkan anak-anak bapak?

6.       Apakah solusi dan upaya dalam menghadapi kendala untuk tetap dapat menyekolahkan anak anak bapak?

7.       Adakah bantuan dari pemerintah daerah setempat atau bantuan beasiswa untuk sekolah anak-anak bapak?

8.       Bagaimana semangat anak-anak bapak dalam bersekolah?

9.       Bagaimana cara bapak mendidik anak-anak agar tetap bersemangat sekolah?

10.   Hingga jenjang tingkat berapakah anak-anak bapak akan disekolahkan?

 

2.       Jawaban Penelitian

Nama saya Suryana, saya tinggal disini sudah sejak lahir, sekitar 55 tahun. Anggota keluarga di rumah ini ada 5 orang. Saya, istri dan 3 orang anak. Anak saya ada 2 orang yang masih bersekolah, anak kedua dan anak ketiga. Kalau anak pertama saya sudah lulus SMK sekarang bekerja di PT. JS Jakarta. Anak kedua dan ketiga masih sekolah di SDN Klapanunggal 01.

Saya bekerja sebagai petani disini, karena disini masih banyak sawah. Kendala dalam menyekolahkan anak-anak saya yaitu untuk keperluan sekolah. Keperluan sekolahnya itu seperti beli buku setiap pergantian semester, beli sepatu, beli seragam, dan alat-alat tulis. Solusinya ya kadang saya meminjam uang ke atasan saya (yang punya sawah), nah uangnya saya gantikan dengan gaji saya. Hutang saya dipotong dari gaji saya.

Kalau bantuan dari pemerintah cuma buku BOS sama SPP gratis, buku BOS kan cuma dikasih buku-buku paket aja yang tebal-tebal, nah kalau LKS nya beli. Beasiswa di SDN 01 Klapanunggal jarang, karena biaya sekolah saja sudah gratis.

Anak-anak saya sangat bersemangat untuk sekolah. Saya sering memotivasi mereka untuk selalu belajar, belajar, dan belajar. Saya selalu mendorong mereka untuk menuntut ilmu hingga akhir hayat. Karena agar mereka juga belajar beretika (sopan santun) agar selalu menghormati orang tuanya.

Sebenarnya saya ingin sekali menyekolahkan anak saya hingga jenjang S1. Namun, saya tidak ada biaya. Tetapi saya pernah dengar "kalau untuk menuntut ilmu, rezeki pasti ada aja yang datang". Saya ingin sekali kuliahkan anak pertama saya, namun karena sekarang sudah kerja, dia lebih memilih bekerja terlebih dahulu.


Profil Narasumber
Nama : Suryana
Usia : 55 tahun
Alamat : Kp.babakan RT003/011 Desa Sodong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor 16820
Pekerjaan : Petani

 

3.       Kesimpulan

Upaya yang dilakukan oleh Bapak Suryana dalam menyekolahkan anak-anaknya sangatlah berat. Dalam menyekolahkan anak-anaknya sudah pasti kendala itu ada, sehingga beliau harus meminjam uang demi membeli peralatan sekolah anak-anaknya. Beliau tak pernah letih mencari uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Beliau pun selalu memotivasi anak-anaknya agar tetap bersemangat meraih pendidikan hingga akhir hayat.

Rahmah Adhawiyah_Tugas7_TOR dan Hasil Penelitian ke3

"Upaya Pedagang Kaki Lima dalam Pemenuhan Hidup di Pasar Ciputat"
 
1.      Latar Belakang
PKl merupakan orang yang sedang berjualan di tempat terbuka. PKL banyak ditemukan di Trotoar di tepi Jalan Umum atau di tempat terbuka di lokasi ramai. Dengan demikian "Pedagang Kaki Lima" sebenarnya mengandung arti kiasan bagi pelaku Usaha non Formal.
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pastilah kita memperlukan penghasilan atau pendapatan.Oleh sebab itu pastilah kita membutuhkan pekerjaan yang dimana untuk menunjang kebutuhan hidup.
Namun keterbatasan pendidikan dan ekonomi,maka banyak sebagian masyarakat jakarta yang menjadi pedagang, baik pedagang yang legal mau pun ilegal contohnya pedagang kaki lima. Pedagang Kaki Lima adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas umum, seperti terotoar, pinggir-pinggir jalan umum, dan lain sebagainya.
Pada intinya adalah PKL merupakan sekelompok orang yang melakukan kegiatan perdagangan di pinggir jalan. Keberadaan PKL berlokasi di sekitar atau dekat dengan kawasan fungsional, yang merupakan pusat kegiatan manusia.
 
2.      Teori
Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975). Suatu  tindakan  individu  yang  diarahkan  kepada  benda  mati  tidak  masuk  dalam  kategori tindakan sosial. Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan social ketika  tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada   orang  lain (individu lainnya). Meski tak jarang tindakan  sosial  dapat  berupa  tindakan  yang  bersifat membatin  atau  bersifat  subjektif  yang mungkin terjadi  karena  pengaruh  positif  dari  situasi  tertentu.  Bahkan terkadang tindakan dapat berulang kembali  dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Weber dalam Turner 2000).
 
3.      Metode
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu "teori".
 
4.      Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimana cara pkl mengatur pemasukan agar modal kembali dan mendapat keuntungan?
2.      Bagaimana upaya pkl dalam memenuhi kebutuhan hidupnya?
 
5.      Area Riset
Lokasi penelitian dipasar ciputat. obyek/subyeknya adalah salah satu pedagang kaki lima dipasar tersebut, Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 2014
 
6.      Pertanyaan Lapangan
1.      Kenapa bapak memilih untuk menjadi pkl?
2.      Sudah berapa lama bapak menjadi PKL disini?
3.      Bagaimana penghasilan bapak selama menjadi pkl?
4.      Apakah kendala yang bapak alami selama menjadi pkl?
5.      Bagaimana upaya bapak dalam pemenuhan hidup sehari-hari?
6.      Bagaimana upaya bapak dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak?
 
           Jawaban penelitian
Nama saya bapak dodo, saya lebih memilih untuk menjadi pkl karena saya tidak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak mempunyai modal yang tinggi. Lagi pula kalau menjadi pkl modalnya sudah tersedia dari keluarga seperti gerobak dll.
Saya menjadi pkl sudah cukup lama kira-kira sekitar 25 tahun lebih, ya penghasilan saya kalau dibilang cukup ya dicukup-cukupin  untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak saya,apalagi sekarang sekolah sudah ditanggung pemerintah.
Kendala yang pernah saya alami selama menjadi pkl banyak saingan antar pedagang, pernah kena penertiban satpol pp sehingga saya harus pindah-pindah tempat dan kadang makanan yang saya jual tidak habis sehingga tidak mendapat untung.
Dalam pemenuhan hidup sehari-hari ya saya berjualan seperti sekarang, dan istri saya dirumah juga berjualan makanan-makanan kecil untuk memenuhi kehidupan atau kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk kebutuhan sekolah anak saya sering tabungkan uang hasil berdagang saya setiap hari dicicil supaya ketika ada kebutuhan sekolah yang dibutuhkan (seragam,buku,dll) uangnya sudah terkumpul.

7. Profil Narasumber
Nama: Bpk. Dodo Sutedjo
Umur: 54th
Pekerjaan: Pedagang Kaki Lima
 
8.      Kesimpulan
    Upaya bapak dodo dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya yaitu dengan menjadi pkl dipasar ciputat dan istrinya membantu berjualan makanan kecil dirumah,         dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tentulah banyak kendala yang dihadapi. Dan bapak dodo bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan cara menyisihkan             penghasilannya sehari-hari.

Qayumah_tugas7_tor dan hasil penelitian

TEMA :  KEHIDUPAN SEKELOMPOK TUKANG URUT DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN SEHARI-HARI

 

A.LATAR BELAKANG

Menurut pemahaman saya tukang urut merupakan seorang yang memiliki keahlian dalam hal memijat untuk membantu orang yang sakit pegal-pegal maupun tidak enak badan. Menurut website www.KamusBahasaIndonesia.org tukang urut adalah tukang pijit dan tukang pijit adalah orang yang pekerjaanya memijat (tukang urut).

Pada zaman sekarang ini banyak orang yang menggunakan jasa seorang tukang urut ketika merasa tidak enak badan, namun bukan hanya untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh melaikan  menggunakan jasa tukang urut untuk memanjakan tubuh yang lelah setelah beraktivitas.

Keberadaan tukang urut saat ini bisa dikatakan banyak karena kebutuhan manusia yang semakin membutuhkannya, bahkan saat ini memanjakan tubuh dengan di urut sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat terutama para pekerja untuk bisa menghilangkan rasa lelah setelah bekerja mereka menggunakan jasa tukang urut untuk menghilangkan rasa lelahnya.

Biasanya kita dapat menggunakan jasa tukang yang berada dekat dari wilayah kita yang bisa langsung dating kerumah kita, maupun dijalan yang menawarkan jasa tukang urut dan ada juga di salon yang dinamakan massage.

Sering kita mendengar atau bertanya-tanya tentang bagaimana seorang tukang urut dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saya mengangkat tema ini untuk menjawab pertanyaan masyarakat maupun pertannyaan saya sendiri bagaimana seorang tukang urut dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

B. PERTANNYAAN

1. Apakah sebagai seorang tukang urut sudah dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari ?

C. METODE PENELITIAN

Metode yang saya gunakan adalah metode kualitatif yaitu wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

Didalam metode kuantitatif ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang.

 

D. AREA RISET

Wilayah penelitian :  jalan musyawarah  Jakarta selatan (daerah ragunan).

Waktu penelitian : jumat tanggal 16 mei  2014.

Narasumber : dua orang tukang urut

E. TEORI SOSIOLOGI

Teori yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah teori EMILE DURKHEIM yaitu Fakta Sosial material.

Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.

Fakta sosial Material

Fakta sosial material lebih mudah dipahami karena bisa diamati. Fakta sosial material  tersebut sering kali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuta yang sama-sama berada diluar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial nonmaterial.

 

F. HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang saya lakukan kepada dua narasumber yang bekerja sebagi tukang urut yang bernama ibu sayem dan ibu mariam, pendidikan dan keadaan ekonomi yang mereka alami sehingga mendorong mereka untuk bekerja sebagai tukang urut dengan keahlian yang mereka miliki.

 mereka bekerja sebagai seorang tukang urut keliling dengan menawarkan jasanya dari rumah ke rumah maupun melalui panggilan sebagai tukang urut, sebagai tukang urut keliling mereka mulai berkeliling dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 5 sore namun terkadang jika ada panggilan mereka bisa sampai jam 10 malam, alat atau bahan yang digunakan untuk mengurut diantaranya minyak kelapa yang dibuat sendiri dan koin atau cincin untuk mengerok. Pendapatan yang mereka terima setiap hari tidak lah tentu karen tidak setiap hari ada yang menggunakan jasanya, biasanya mereka mendapat 20 ribu sampai 70 ribu per harinya.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka juga menjual opak dan emping, mereka berkeliling mencari pelanggan yang ingin diurut sambil menawarkan opak dan emping yang mereka bikin sendiri. Karena jika mereka hanya mengandalkan pekerjaan sebagai tukang urut yang tidak tentu pendapatanya mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

PROFIL NARASUMBER

Ada dua narasumber dalam penelitian ini :

1. NAMA : sayem

UMUR : 55 tahun

PEKERJAAN : tukang urut keliling

2. NAMA : mariam

UMUR : 62 tahun

PEKERJAAN : tukang urut keliling

G. KESIMPULAN

Bekerja sebagai tukang urut merupakan cara ibu sayem dan ibu mariam dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun sebenarnya bekerja sebagai tukang urut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya namun dengan pendidikan dan usia mereka saat ini yang mendorong mereka menjadi tukang urut dan keahlian yang mereka miliki dalam mengurut.

 

QAYUMAH

1113054100001

KESEJAHTERAAN SOSIAL

Cari Blog Ini