Sabtu, 20 September 2014

Akbar Ramadhan, 1112051000019, KPI 5E, Tugas Etika

Nama   : Akbar Ramadhan

NIM    : 1112051000019

Kelas   : KPI 5 E

Tugas   : Etika dan Filsafat Komunikasi

Istilah dan kerancuan istilah dari Etika dan moral, amoral dan immoral, etika dan etiket, moralitas, subjektif, dsb.

Etika adalah adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis.

Sedangkan Moral adalah adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.

Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut KBBI amoral berati tidak bermoral atau tidak berakhlak. Sedangkan menurut bahasa latin artinya tidak mempunyai relevansi etis.

Imoral adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik secara moral buruk atau tidak etis.

Etika dan etiket mempunyai batasan yang sangat tipis. Padahal dua terminologi sangat berbeda satu sama lain. Etika lebih menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Sedangkan etiket memberikan cara yang benar dalam bertindak dan berperilaku.

Moralitas menurut Immanuel Kant adalah hal kenyakinan serta sikap batin dan bukan hanya hal sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum negara, hukum agama atau hukum adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan jika, kriteria mutu moral dari seseorang adalah hal kesetiaannya terhadap hatinya sendiri. Sedangkan menurut W.Poespoprojo Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia.

Subyektif menurut kamus adalah mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Sedangkan norma subjektif adalah norma yang bersifat moral dan tidak dapat memberikan ukuran atau patokan yang memadai.

Membedakan etika deskriptif, etika formatif dan metaetika, hakikat etika filosofis.

Etika Deskrptif adalah etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif berbica mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas membudaya.

Etika Normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal hal buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Awalan meta- (dari bahasa Yunani) mempunyai arti "melebihi", "melampaui". Istilah ini diciptakan untuk menunjukan bahwa yang dibahas disini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita dibidang moralitas.

 

Metaetika bergerak pada tataran bahasa, atau memelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Metaetika dapat ditempatkan dalam wilayah filsafat analitis, dengan pelopornya antara lain filsuf Inggris George Moore (1873-1958). Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai bagian terpenting, bahkan satu-satunya, tugas filsafat.

 

Metaetika merupakan hasil kajian dari etika deskriptif dengan etika normatif, menjelaskan tentang ciri-ciri serta istilah yang berkaitan dengan tindakan bermoral atau sebaliknya seperti kebaikan, kejahatan, tanggung jawab dan kewajiban.

Metaetika merupakan suatu bentuk analitik yang berkaitan dengan menganalisis semua peraturan yang berkaitan dengan tingkah laku, baik dan jahat. Kritikal yang berkaitan dengan mengkritik terhadap apa-apa yang telah di analisis. Metaetika mengkaji asal prinsip-prinsip etika dan penggunaannya. Pertanyaannya adalah: Adakah prinsip-prinsip etika yang merupakan suatu rekaan sosial? Adakah prinsip-prinsip etika sosial ini merupakan gambaran daripada emosi individu? Metaetikalah yang akan menjawab semua persoalaan ini yang memfokuskan kebenaran universal, ketentuan Tuhan, alasan kepada penilaian etika dan definisi istilah-istilah yang berkaitan dengan etika itu sendiri.

 

Metaetika sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya suatu tindakan atau peristiwa. Dalam metaetika, tindakan atau peristiwa yang dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya

 

Hakikat Etika adalah dasar ilmu yang menanamkan tentang sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian.    

 

Annisah Bilqis, 1112051000158, KPI 5 E, tugas etika

Nama   : Annisah Bilqis

NIM    : 1112051000158

Kelas   : KPI 5 E

Tugas   : Etika

1.      Etika I: Seputar istilah dan kerancuan istilah: etika dan moral, amoral dan immoral, etika dan etiket,  moralitas, subjektif, dsb

Etika secara etimolgi berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu Ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan dengan moral yang merupakan istilah bahasa latin, yaitu mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghina dari hal-hal tindakan yang buruk. Moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat peran lain, kehendak,pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, atau buruk. Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan yang lainnya kita dapat mengatakan bahwa antara etika dan moral memiliki obyek yang sama yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk selanjutnya di tentukan posisinya baik atau buruk.

Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut KBBI amoral berati tidak bermoral atau tidak berakhlak. Sedangkan menurut bahasa latin artinya tidak mempunyai relevansi etis. Immoral adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik secara moral buruk atau tidak etis.

Etika dan Etiket memiliki perbedaan dan persamaan yaitu dalam kehiduoan sehari-hari. Batas antara etika dan etiket tidak jauh tipis. Padahal dua pengertian ini secara istilah sangat berbeda satu sama lain. Dalam persamaannya etika dan etiket menyangkut tindakan dan perilaku manusia, sedangkan dalam perbedaannya etika menyangkut cara perbuatan oleh seseorang atau kelompok tertentu etiket berlaku dalam pergaulan sosial. Etiket bersifat relatif. Dan etiket hanya menyangkut segi lahiriah saja. Sedangkan etika lebih menyangkut kepada aspek internal manusia.

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia. (W.Poespoprojo, 1998: 18).

Subjektif adalah mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya segala sesuatu hendaklah dibahas secara objektif.

 

2.      Membedakan antara: etika deskriptif, etika normatif, dan  mataetika, hakikat etika filosofis.

Etika deskriptif ialah berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya.

Etika Normatif memiliki persamaan mengenai sikap dan perilaku yang harus dimiliki manusia tetapi mengikuti norma-norma yang telah disepakati di masyarakat agar bertindak secara baik  dan menghindarkan hal-hal yang buruk.

Mataetika merupakan kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun kaidah-kaidah bahasa aspek moralitas, khususnya yang berkaitan dengan bahasa etis (yaitu bahasa yang digunakan dalam bidang moral). Kebahasaan seseorang dapat menimbulkan penilaian etis terhadap ucapan mengenai "yang baik" dan "yang buruk" dan kaidah logika.

Hakikat Etika Filosofis adalah dasar ilmu yang menanamkan tentang sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian. Jadi, berbeda hakikat filosofisnya lebih ke cabang filsafat untuk penilaian akan suatu perilaku.

NAMA :BUNGAWATI, NIM : 1112050000332, PMI 5, TUGAS demografi

NAMA : BUNGAWATI

NIM      : 1112054000032

Prodi      : Pengembangan Masyarakat Islam

Semester : 5 (lima)

Tugas      : Demografi

 

1.    Definisi Demografi

 

1.    Menurut Johan Sussmilch (1762 dalam iskandar 1994) berpendapat demografi adalah ilmu yang mempelajari hukum tuhan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pada umat manusia yang terlihat dari jumlah kelahiran, kematian dan pertumbuhannya.

2.    Menurut Donald J. Boague (1973) demografi adalah ilmu yang  mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.

3.    Menurut United Nation (1855) Demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia, demografi sebagai studi ilmiah masalah penduduk yang berkaitan dengan jumlah, struktur, serta pertumbuhannya. Masalah demografi lebih dikaitkan pada studi kuantitatif dari berbagai factor yang memengaruhi pertumbuhan penduduk, yaitu fertilitas, moralitas dan migrasi.

Dan disimpulkan dari 3 definisi di atas demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara sistematis dan statistik dari data penduduk terutama mengenai perubahan jumlah, persebaran dan komposisi atau strukturnya.

 

 

2.    Sejarah Ilmu Kependudukan Demografi

 

Sejarahnya untuk pencatatan kependudukan sudah dilakukan dalam ruang lingkup yang kecil dan digunakan secara terbatas, menurut John Graunt (1620-1674), seorang warga Negara inggris dikenal sebagai pelopor dalam bidang pencatatan statistik penduduk. Graunt 1662 dalam iskandar 1994 yang berisi analisis mortalitas, fertilitas. Migrasi, perumahan dan keluarga, perbedaan antara kota dan Negara, jumlah penduduk laki-laki yang berada pada kelompok militer. Data yang digunakan dalam analisis kematian dan kelahiran bersumber dari catatan kematian (The Bills Of Mortality), graunt mencetuskan "hukum-hukum" pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleg tiga komponen demografi yaitu fertilitas, mortalitas dan migrasi (masuk/inmigration dan keluar/outmigration). Selisih antara fertilitas dan mortalitas disebut pertumbuhan  reproduktif  pertubuhan alamiah, selisih migrasi masuk dan migrasi keluar disebut migrasi neto.

Data sensus penduduk data registrasi kelahiran, kematian, perpindahan penduduk, seperti

Pt = Po + (B – D) + (Mi –Mo)

Dimana: Pt             : jumlah penduduk pada tahun t

              Po             : jumlah penduduk pada tahun dasar (0)

              B (brith)   : jumlah kelahiran selama periode 0 - t

              D (death)  : jumlah kematian selama periode 0 – t

              Mo            : jumlah migrasi keluar selama periode 0 - t

             Mi              : jumlah migrasi masuk selama periode 0 – t

 

 Dan adapun menurut Sussmilch dan Guillard demografi sebagai bio social book-keeping, yang artinya kelahiran sebagai penambah penduduk sedangkan kematian sebagai factor pengurang jumlah  penduduk. Dan menurut Edmund halley (1656-1742) seorang astronom dengan menyusun tabel kematian (life table) modern yang pertama dikota Breslau pada tahun 1687-1691.

 

 

 

 

3.    Teori Transisi Demografi

Teori transisi dalam istilah dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama yaitu, penduduk, kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perpindahan penduduk (mobilitas/migrasi). Konsep transisi demografi yang dikenal secara umum hanya memeperhatikan perubahan pertumbuhan penduduk secara ilmiah yaitu factor kelahiran, kematian (netenstein, 1945).

Transisi demografi dibedakan menjadi empat tahapan:

1.      Tahap (pre-industrial)

Pertumbuhan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kematian yang tinggi  sekitar 40-50 per 1.000 penduduk. Jumlah kelahiran dan kematian yang sangat tinggi ini tidak terkendali setiap tahunnya. dan panen yang gagal dan harga-harga yang tinggi telah menyebabkan kelaparan sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit sangat lemah. Keadaan ini diperparah dengan meluasnya penyakit menular sehingga menyebabkan angka kematian tinggi.

2.      Tahap (Early industrial)

Angka kematian menurun dengan tajam akibat revolusi industry serta kemajuan teknologi dan mulai ditemukannya obat-obatan, tertama antibiotik, penisislin. sementara angka kelahiran menurunnya tingkat kematian dan masih tingginya tingkat kelahiran menurut amat lambat  dan masih tetap tinggi yang disebabkan karena kepercayaan atau pandangan mengenai jumlah anak banyak lebih menguntungkan. Menurunnya tingkat kematian dan masih tingginya tingkat kelahiran mengakibatkan jumlah penduduk meningkat dengan cepat.

3.      Tahap (Industrial)

Angka kematian terus menurun dengan kecepatan yang melambat. Dipihak lain angka kelahiran mulai menurun dengan tajam sebagai akibat dari perubahan perilaku melahirkan dan tersedianya alat/cara kontrasepsi serta adanya peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat.

4.      Tahap (mature industrial)

Anka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertimbuhan pendudukan juga rendah yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang maju.

nama :BUNGAWATI ,NIM : 1112054000032, PMI 5, tugas demografi


Jumat, 19 September 2014

tugas demografi

NAMA : INDAH KURNIAWATI

NIM : 1112054000028

PRODI/ SEMESTER : PENGEMBENGAN MASYARAKAT ISLAM / LIMA (5)

MATA KULIAH : DEMOGRAFI

TUGAS MANDIRI DEMOGRAFI

1.      DEFINISI DEMOGRAFI

Pengertian tentang demografi berkembang seiring dengan perkembangan keadaan penduduk serta penggunaan statistik kependudukan yang dialami oleh para penulis kependudukan pada zamannya. Berikut beberapa contoh tentang perkembangan pengertian demografi.

Johan Sussmilch (1762, dalam iskandar,1994) berpendapat bahwa demografi adalah ilmu yang mempelajari hukum tuhan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pada umat manusia yang terlihat dari jumlah kelahiran, kematian, dan pertumbuhannya.

Achille Guillard (1855) memberikan definisi demografi sebagai ilmu yang mempelajari sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur, yaitu meliputi perubahan secara umum, fisiknya, peradabannya, intelektualitasnya, dan kondisi moralnya.

David V. Glass (1953) menekankan bahwa demografi terdapat pada studi penduduk sebagai akibat pengaruh dari proses demografi, yaitu fertilisasi, mortalitas, dan migrasi.

Goerge W. Barclay (1970) mendefinisikan demografi sebagai ilmu yang memberikan gambaran secara statistik tentang penduduk. Demografi mempelajari perilaku penduduk secara menyeluruh bukan perorangan. 

Dengan mengacu kepada definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa ilmu demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara sistematis dan statistik dari data kependudukan terutamam mengenai perubahan jumlah, persebaran, dan komposisi/strukturnya. Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh perubahan pada komponen-komponen utama pertumbuhan penduduk yaitu, fertilitas, moralitas, dan migrasi, yang pada gilirannya menyebabkan perubahan pada jumlah, struktur, dan persebaran penduduk.

2.      SEJARAH ILMU KEPENDUDUKAN DUNIA

Menurut sejarahnya, upaya-upaya untuk pencatatan statistik kependudukan sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu, meskipun masih dilakukan dalam ruang lingkup yang kecil dan digunakan secara terbatas. John Graunt (1620-1624), seorang warga Negara inggris, dikenal sebagai pelopor dalam bidang pencatatan statistik penduduk. Bukunya yang berjudul Natural And Political Observations Mentioned In A Following Index And Made Upon (The Bills Of Mortality) yang diterbitkan secara berkala oleh petugas gereja setiap minggu. Dari hasil penelitiannya itu, Graunt mencetuskan "hukum-hukum" pertumbuhan penduduk.

Graunt menyarankan agar penelitian yang menyangkut penduduk lebih menekankan aspek komposisi penduduk menurut jenis kelamin, Negara, umur, agama, dan sebagainya. Keistimewaan dari pendekatan yang dipergunakan oleh Graunt adalah kehati-hatiannya dan kekritisannya dalam pengmpulan data. Apabila informasi yang ada dirasakan terlalu sedikit, maka Gaunt mengambil sampel untuk melakukan estimasi. Ia melakukan penelitian empiris terhadap jumlah dan perkembangan penduduk London pada massa itu.

Dari usaha graunt dalam bidang kependudukan yang mencakup topik-topik yang menarik, dapat dikatakan bahwa ilmu demografi lahir pada zamannya. Oleh karena itu, Graunt dikenal pula sebagai bapak demografi. Dalam studinya, Graunt memperoleh banayak dorongan dari William Petty, seorang ahli statistik. Karya Petty, political Arthmetic (1690), berpengaruh besar terhadap perkembangan demografi. William Petty (1623-1687) yang hidup sezaman dengan Graunt menganjurkan berdirinya Central Statistical office (biro pusat statistik). Selain itu, usaha memanfaatkan data statistik penduduk dilakukan pula oleh Edmund Halley (1656-1742), seorang astronom, dengan menyusun tabel kematian (life table) modern yang pertama dikota Breslau pada tahun (1687-1691).

Setelah era Graunt, perhatikan publik terhadap masalah kependudukan, baik mengenai pencatatan statistik maupun pertumbuhannya terus meningkat. Dalam sejarah perkembangan ilmu demografi, timbul masalah mengenai pembagian ilmu cabang ini. Awalnya, para pengamat berpendapat bahwa demografi lebih terfokus pada penyusunan statistik penduduk dan analisisnya. Pendapat ini memang dapat dimengerti karena pelopor-pelopor ilmu demografi, seperti Sussmilch dan Guillard menganggap demografi seabagai bio-social book-keeping, yang artinya kelahiran sebagai faktor penambah jumlah penduduk, sedangkan kematian sebagai faktor pengurang jumlah penduduk. Kemudian beberapa pengamat membedakan masalah penduduk menjadi dua, yaitu yang bersifat kuantitatif yang membahas tentang jumlah, persebaran, serta komposisi penduduk, dan yang bersifat kualitatif yang membahas masalah penduduk dari segi genetis dan biologis. Gagasan ini kurang mendapat dukungan karena ternyata keduanya mengandung unsur kualitatif dan kuantitatif.   

Pada kongres masalah kependudukan di paris, Adolphe Landry (1945) secara matematis membuktikan adanya hubungan antara unsur-unsur demografi, seperti kelahiran, kematian, jenis kelamin, dan umur. Landry menyarankan penggunaan istilah demografi murni (pure demography) untuk cabang ilmu demografi yang bersifat analitis-matematis unutuk memebdakannya dengan analisis kependudukan, yang lebih luas sifatnya. Saran ini mendapat tanggapan posistif. Dalam demografi murnia atau disebut pula demografi formal, berbagai tekhnik perhitungan data kependudukan dikembangkan. Dengan menggunakan berbagai metode perhitungan dan estimatis, dapat diperoleh gambaran penduduk dan variabel-variabael demografi lainnya, baik pada waktu sekarang maupun pada massa yang akan datang. Oleh karena itu, diperlukan pula disiplin ilmu lain untuk dapat menjawab atau menjelaskan "mengapa" terjadi perubahan-perubahan dalam variabel-variabel demografi.

Berdasarkan penegrtian dan sejarah perekembangan demografi maka demografi saat ini tidak saja dipelajari secara murni, tetapi juga dipelajari secara lebih luas dengan mengindahkan variabel-varibel nondemografi (sosial,ekonomi, budaya, lingkungan, dan politik), dengan kata lain, demografi bukan lagi meruapakan disiplin ilmu yang tersendiri, tetapi lebih merupakan ilmu yang bersifat interdisipliner.

Selain itu, dari perkembangan aplikasi demografi, terutama dalam peranannya untuk mengenalisis fenomena kependudukan, dapat dikatakan bahwa ilmu demografi sangat berguna seabagi instrumen atau alat analisis yang dapat dipakai untuk membedah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan permasalahan kependudukan pada umumnya. Demografi berperan sebagai alat analisis (tools of analysis) dengan kemampuan dapat dijadikan tolak ukur perbandingan keadaan demografi sekelompok penduduk tertentu dengan kelompok penduduk yang lai, atau perbandingan antar waktu dalam analisis tren kependudukan. Hal ini amat berguna, baik untuk memonitor kemajuan maupun memonitor hasil-hasil pembangunan sosial dan ekonomi.

3.      TEORI TRANSISI DEMOGRAFI

Istilah transisi demografi pada dasarnya dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama pertumbuhan penduduk, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (mobilitas/migrasi). Akan tetapi, konsep transisi demografi yang dikenal secara umum hanya memperhatikan perubahan pertumbuhan penduduk secara ilmiah, yaitu faktor kelahiran dan kematian. (Notenstein,1945).  Tahapan-tahapan tersebut didasarkan atas pengalaman perubahan pola fertilisasi dan mortalitas yang terjadi dibeberapa Negara di Eropa pada masa lampau.

Tahap I (Pre-Industrial)

Pertumbuhan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kemtian yang tinggi, sekitar 40-50 per 1.000 penduduk. Jumlah kelahiran dan kematian yang sangat tinggi ini tidak terkendalikan setiap tahunnya. Selain itu, panen yang gagal dan harga-harga yang tinggi telah menyebabkan kelaparan sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit sangat lemah. Keadaan ini diperparah dengan meluasnya penaykit menular sehingga menyebabkan angka kematian yang tinggi.

Tahap II (Early Industrial)

Angka kematian menurun dengan tajam akibat revolusi industri serta kemajuan teknologi dan juga mulai ditemukannya obat-obatan, terutama antibiotic penisilin. Sementara itu angka kelahiran menurun amat lambat dan masih tetap tinggi, yang disebabkan karena kepercayaan atau pandangan menegnai jumlah anak banyak lebih menguntungkan. Menurunnya tingkat kematian dan masih tingginya tingkat kelahiran mengkibatkan jumlah penduduk meningkat dengan cepat.

Tahap III (Industrial)

Angka kematian trus menurun dengan kecepatan yang melambat. Di pihak lain, angka kelahiran mulai menurun denagn tajam sebagai akibat dari perubahan prilaku melahirkan dan tersedianya alat/cara kontarsepsi serta adanya peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di Eropa perubahan prilaku melahirkan terutama terjadi pada para wanita yang ingin berhenti melahirkan karena terlalu banyak anak (stopping behavior). Di Negara berkembang, perubahan prilaku melahirkan dan diterimanya konsep keluarga kecil yang di dukung oleh program keluarga berencana (KB) pemerintah sangat membentu menurunkan tingkat fertilitas.

Tahap IV (Mature Industrial)

Angka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertumbuhan penduduk juga rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang maju.[1]            



[1] Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo, Ph. D & Omas Bulan Samosir, Ph. D. Dasar-Dasar Demografi. Jakarta: Salemba Empat, 2013.

Nurdin Araniri_PMI 5_Definisi Demografi

1.      Definisi Demografi

Kata demografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti: Demos adalah rakyat atau penduduk dan Grafein adalah  menulis. Jadi demografi adalah tulisan-tulisan atau karangan-karangan mengenai rakyat atau penduduk. Donald J. Bogue didalam bukunya yang berjudul "Principles of Demography" memberi difinisi demografi:

            "Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk dan perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi yaitu kelahiran (fertalitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial"


Disamping definisi dari Bogue ada beberapa definisi dari para ahli demografi:

Johan Suszmilch (1762): Demografi adalah mempelajari hukum Illahi dalam perubahan-perubahan dan pada umat manusia yang tampak dari kelahiran, kematian dan pertumbuhan.

Philip M. Hauser & Dudley Duncan: Demografi mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab perubahan tersebut.

2.     

Sejarah Ilmu Kependudukan (Demografi)

Demografi sebagai salah satu ilmu telah berkembang sejak 3 abad yang lalu. John Graunt, seorang pedagang pakaian yang hidup pada abad ke 17 di London, dianggap sebagai bapak demografi. Ia melakukan analisis data kelahiran dan kematian, dan dari hasil analisinya dikemukannya batasan-batasan umum tentang kematian (Mortality), kelahiran (Fertality), migrasi dan perkawinan dalam hubungan dengan proses penduduk.

Dalam sejarah perkembangannya demografi timbul masalah mengenai pembagian cabang ilmu. Methorst dan Sirks membedakan masalah penduduk menjadi dua yaitu yang bersifat kuantatif (demografi) dan kaulitatif yang membahas masalah penduduk dari segi genetis dan biologis. Pada tahun 1937 di Paris selama kongres masalah kependudukan dilangsungkan, Adolphe Laundry telah membuktikan secara matematik adanya hubungan antara unsur-unsur demografi seperti kelahiran, kematian, jenis kelamin, umur dan sebagainya. Ia menyarankan penggunaan istilah PURE DEMOGRAPHY untuk cabang ilmu demografi yang bersifat analitik-matematik dan lain dari ilmu demografi yang bersifat deskriptif. 

 

3.      Teori Transisi Demografi

Teori Transisi Demografi yaitu teori yang menerangkan tentang perubahan penduduk dari tingkat pertumbuhan yang stabil tinggi (tingkat kematian dan kelahiran yang tinggi) ketingkat pertumbuhan rendah (tingkat kelahiran dan kematian rendah). Teori ini didasarkan pada pengalaman negara Eropa pada abad ke-19. Teori ini tidak berlaku umum. Alasannya karena pembangunan ekonomi dapat merupakan faktor yang cukup untuk membawa tingkat kelahiran dan kematian ketingkat yang lebih rendah, tetapi bukan merupakan faktor yang harus ada.

Kamis, 18 September 2014

Tugas DEMOGRAFI

 

DEMOGRAFI

 

 

Description: uin.jpg

 

Di susun oleh :

Arif Rahman Hadi (1112054000026)

 

 

Dosen :

Dr. Tantan Hermansyah

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikas

 

 

A.    Definisi Demografi

Demografi mempelajari jumlah, persebaran, teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status).

Dari kedua definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah. Struktur penduduk meliputi : jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Struktur penduduk ini selalu berubah-ubah, dan perubahan tersebut disebabkan karena proses demografi, Yaitu : kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan migrasipenduduk.[1]

B.     Sejarah Ilmu Kependudukan

Mengenai pencatatan penduduk di awali pada tahun 1815 seorang yang benama rafles telah melakukan pendataan penduduk tentang nama, umur, pekerjaan, catatan kematian, kelahiran, & perkawinan serta ciri ciri demografis lainnya. ciri-demografislainnya

Tahun 1850 Gubernur Jenderal Merkus menugaskan P. Bleeker untuk meninjau data penduduk pada seluruh karesidenan di Jawa , dan ini Jawa diterbitkan tahun 1870. Tahun 1880 Belanda memberlakukan pelaporan penduduk dengan sistim kartu mingguan . Dan setelah Jepang menduduki Indonesia(1942 1945), sistim ini diganti dengan sistim Regristasi Vital yaitu regristasi yg menyangkut kelahiran, kematian, kematian janin, kelahiran, kematian, janin abortus , perkawinan & perceraian.

Hal ini dilanjutkan sampai pasca kemerdekaan, sampai pernah dilakukan Proyek Sampel Regristasi Penduduk (SRPI) yg dilakukan oleh BPS, BKKBN, Depdagri , & Depkes. Tahun 2003 diadakan penataan adiministrasi kependudukanoleh Dirjen Administrasi Kependudukan Depdagri untuk memberikan identitas pada tiap penduduk.

Registrasi penduduk adalah proses pencatatan penduduk yang dilakukan secara mandiri oleh warga ketika terjadi perubahan-perubahan jumlah penduduk. Ini dilakukan oleh Depdagri melalui kantor desa setempat. Permasalahan yg muncul akibat sistem pencatatan ini :

1.    Seorang bayi yang mati setelah lahir, harusnya dilaporkan sebagai proses  kelahiran & kematian, namun hal ini biasanya tidak dilaporkan.

2.    Terlambatnya pelaporan kelahiran

3.    Jauhnya jarak kantor desa dg rumah warga

4.    Kelahiran akibat kehamilan diluar nikah, tdk dilaporkan krn dianggap aib nikah, dianggap aib.

C.     Teori Transisi Demografi

Teori Malthus.

Thomas Malthus merupakan orang pertama yang menulis secara sistematis tentang bahaya dari pertumbuhan. Ia merupakan ahli politik ekonomi Inggris. Pendapat Malthus dikenal dengan "naturalaw" atau hukum alamiah yang mempengaruhi atauu menentukan pertumbuhann penduduk. Menurunya, penduduk akan terus bertambah lebihh cepat dibanding dengan pertambahan bahan makan. Kecuali terhambat oleh penyakit atau malapetaka
- Warren Thompson

Teori ini muncul sebagai dampak dari fenomena pertumbuhan yang terus berlangsung hingga abad ke-20 hingga perang dunia pertama, yang merupakan akibat dari revolusi industri, beberapa diantara negara-negara itu seperti Perancis, Inggris dan Skandinavia menunjukkan bahwa pertumbuhannya telah terhenti atau adanya gejala akan berhenti.
Teori hasil dari observasi Thompson dan kawan-kawan pada 1929 ini diberi nama "hipotesis transisi demografi", dan sekarang teori yang telah diperbaiki ini dikenal dengan nama "theory of the demographic transition" atau teori transisi demografi. Teorii ini menggambarkan empat prooporsi yang saing berhubungan yang diinnyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.

Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.
Tahap 1 : Jika Angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran, menghasilkan angka pertumbuhan nol (zero)

Tahap 2 : Jika Angka kematian menurun tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, maka akan menghasilkan angka pertumbuhan yang positif dan meningkat terus

Tahap 3 : Jika Angka kematian terus menerus dan disertai dengan menurunnya angka kelahiran, maka akan menghasilkan pertumbuhan yang positif akan tetapi menurun.

Tahap 4 : Jika Angka kematian dan angka kelahiran juga rendah, maka hasilnya adalah pertumbuhan yang semakin berkurang yang pada akhir akan mencapai nol (zero)

 

- Teori Transisi Demografi Blacker (1948)

Blacker membagi transisi demografi dalam 5 tahap :

1. Stationer tinggi

Tingkat kelahiran yang tinggi, tingkat kematian yang tinggi dan pertambahan alami yang nol. Contohnya : Eropa pada abad ke 14

2. Awal perkembangan

Tingkat kelahiran yang tinggi, tingkat kematian menurun dan pertambahan alami lambat. Contohnya : India sebelum tahun PD II

3. Akhir perkembangan

 Tingkat kelahiran menurun, tingkat kematian lebih cepat dari pada tingkat kelahiran dan pertambahan alami cepat. Contohnya :India setelah PD II

4. Stationer rendah

Tingkat kelahiran yang rendah, tingkat kematian yang rendah, dan pertambahan alami nol/ sangat rendah. Contohnya : Amerika Serikat pada tahun 1930-an.

5. Menurun

Tingkat kelahiran yang rendah, tingkat kematian yang lebih tinggi dari pada tingkat kelahiran, pertambahan alami negatif. Contohnya ; Perancis sebelum PD II.


- Transisi Demografi menurut Bogue (1965)

  Tahap transisi sebagai berikut :


1. Pratransisi (Pre- Transitional)

    Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi.

2. Tahap Transisi (Transitional)

    Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas tinggi dan tingkat mortalitas rendah.

3. Tahap Pasca Transisi (Past Transitional)

    Dinyatakan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas sudah rendah.

Teori transisi demografi menggambarkan berubahnya tingkat pertumbuhan penduduk dari tingkat yang tinggi menuju tingkat yang rendah yang dapat dilihat melalui tiga tahapan.
Pada tahap pertama, mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggii karena berada pada tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi, sehingga berlangsung lama. Tingginya tingkat kematian saat itu dikarenakan belum ditemukanya obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Ppada saat ini tingkat kelahiran yang tinggi juga disebabbkann oleh perseppsi masyarakat yang menganut paham banyak anak banyak rejeki, selain itu juga belum ditemukanya alat kontrasepsi.

Pada tahap kedua, masuk pada tahap dimana tingkat kematian sudah mulai turun, hal ini disebabkan oleh ditemukanya "penicilin". Namun tingkat kelahiran masih tetap tingi sebagai akibat dari penemuan penicilin yang secara tidak langsung membendung tingkat kematian yang tinggi/ menurunkann tingkat kematian

Pada tahap ketiga, tingkat kelahiran sudah dapat dikendalikan, karena pada saat ini telah ada sistem pengobatan yang baik, serta telah ditemukanya slat kontrasepsi. Pada tahap ini di Indonesia sedang gencar-gencarnya program Keluarga Berencana. Selain itu pada tahap ini juga telah ada campur tangan dari pemerintah dan meningkatnya kesejahteraan keluarga dan pendidikan. Tingkat kematian dan tingkat kelahiran sudah mulai dapat seimbang.[2]

 



                                  



[1] Demografi Umum (Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D). Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta

 

[2] Lucas, David.1990. Pengantar Kependudukan. Gajah Mada univ. Press: Yogyakarta.
Lembaga Demografi FE UI. 1981. Dasar-dasar demografi. Jakarta : Lembaga Penerbit Lembaga Fakultas UI.

 

Tugas Demografi_Siti Nur Rahmah_PMI 5

NAMA                : SITI NUR RAHMAH

                     NIM                   : 1112054000018

TUGAS DEMOGRAFI

 

1.      Definisi Demografi dalam rumus Statistik?

Jawab:

            Ialah Ilmu demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara matematis dan statistik dari data penduduk terutama mengenai perubahan jumlah, pesebaran, dan komposisi/strukturnya. Dalam demografi murni atau disebut pula demografi formal, berbagai teknik perhitungan data kependudukan dikembangkan. dengan menggunakan berbagai metode perhitungan dan estimasi, dapat diperoleh gambaran penduduk dan variabel-variabel demografi lainnya, baik pada waktu sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Model-model atau rumus-rumus statistik dan matematik (formal) sering kelihatan menakjubkan dan mempunyai kegunaan yang besar.

            Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh tiga komponen yaitu fertilitas, mortalitas dan migrasi. Berdasarkan komponen tersebut maka suatu metode komponen sederhana yang dapat digunakan untuk mengestimasi jumlah penduduk jika tersedia data sensus penduduk dan data registrasi kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk yang memuaskan adalah sebagai berikut.

 

Pt  = P0 + (B-D) + (Mi-Mo)

di mana:

Pt                     : Jumlah penduduk pada tahun t

P0                     : Jumlah penduduk pada tahun dasar (0)

B (birth)          : Jumlah kelahiran selama periode 0 – t

D (daeth)         : Jumlah kematian selama periode 0 – t

Mo                   : Jumlah migrasi keluar selama 0 – t

Mi                    : Jumlah migrasi masuk selama 0 – t

             Persamaan sederhana ini disebut persamaan keseimbangan (balancing equation) yang juga dapat dilihat dalam bentuk :

 

Pt - P0  = Ra + Mn

 

Di mana:

Pt - P0                   : Menyatakan pertumbuhan jumlah penduduk dalam periode                          waktu 0 – t  

Ra = B – D       : Menyatakan pertumbuhan jumlah penduduk alamiah

Mn = Mi – Mo  : Menyatakan pertumbuhan jumlah penduduk karena migrasi

 

2.      Sejarah Ilmu Kependudukan?

Jawab:

            Menurut sejarahnya, upaya-upaya untuk pencatatan statistik kependudukan sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu, meskipun masih dilakukan dalam ruang lingkup yang kecil dan digunakan secara terbatas. John Graunt (1620 – 1674), seorang warga negara Inggris, yang dikenal sebagai pelopor dalam bidang pencatatan statistik penduduk. Graunt menyarankan agar penelitian yang menyangkut penduduk lebih menekankan aspek komposisi penduduk menurut jenis kelamin, negara, umur, agama, dan sebagainya. Keistimewaan dari pendekatan yang dipergunakan oleh Graunt adalah kehati-hatiannya dan kekritisannya dalam pengumpulan data. Apabila informasi yang ada dirasakan terlalu sedikit, maka Graunt mengambil sempel melaksanakan estimasi.

 

3.      Transisi Demografi?

Jawab:

            Transisi demografi pada dasrarnya dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama pertumbuhan penduduk, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk  (mobilitas/ migrasi. Akan tetapi, konsep transisi demografi yang dikenal secara umum hanya memperhatikan perubahan pertumbuhan penduduk secara alamiah, yaitu faktor kelahiran dan kematian (Notenstein, 1945).

            Dari berbagai literatur dapat disarikan bahwa transisi demografi dibedakan atas empat tahapan. Tahapan-tahapan tersebut didasarkan atas pengelaman perubahan pola fertilitas dan moralitas yang terjadi dibeberapa negara di Eropa pada masa lampau.

Tahap I (Pre-industrial)

            Pertumbuhan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, sekitar 40-50 per 1.000 penduduk. Jumlah kelahiran dan kematian yang sangat tinggi ini tidak terkendali setiap tahunnya. Selain itu,  panen yang gagal dan harga-harga yang tinggi telah menyebabkan kelaparan sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit sangat lemah. Keadaan ini diperparah dengan meluasnya penyakit menular sehingga menyebakan angga kematian tinggi.

 

Tahap II (Early Industrial)

            Angka kematian menurun dengan tajam akibat revolusi industri serta kemajuan teknologi dan juga mulai ditemukannya obat-obatan, terutama antibioti penisilin. Sementara itu, angka kelahiran menurun amat lambat dan masih tetap tinggi, yang disebabkan karena kepercayaan atau pandangan mengenai jumlah anak banyak lebih menguntungkan. Menurunnya tingkat kematian dan masih tingginya tingkat kelahiran mengakibatkan jumlah penduduk meningkat dengan cepat.

 

Tahap III (Industrial)

            Angka kematian terus menurun dengan kecepatan yang melambat. Di pihak lain, angka kelahiran mulai menurun dengan tajam sebagai akibat dari perubahan prilaku melahirkan dan tersedianya alat/cara kontrasepsi serta adanya peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di Eropa perubahan perilaku melahirkan terutama terjadi pada para wanita yang ingin berhenti karena terlalu banyak anak (Shopping behavior). Di negara berkembang, perubahan perilaku melahirkan dan diterimanya konsep kecil yang  didukung oleh program keluarga berencana (KB) pemerintah sangan membantu menurunkan tingkat fertilitas.

 

Tahap IV (Mature Industrial)

            Angka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertumbuhan penduduk juga rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat maju


Cari Blog Ini