Minggu, 21 September 2014

Rizky Arif Santoso_Tugas 2_Urbanisasi dan Budaya Perkotaan di Indonesia

NAMA            : RIZKY ARIF SANTOSO

KELAS           : PMI 3

NIM                : 1113054000001

Urbanisasi Dan Budaya Perkotaan di Indonesia

Apa yang dimaksud dengan Urbanisasi?? Urbanisasi berasal dari kata "Urban" yang artinya kota. Secara terminologi, urbanisasi merupakan proses perpindahan pola tingkah laku, budaya, tempat tinggal menuju perubahan yang bersifat modernitas/perkotaan. Pada umumnya masyarakat desa beralih tempat tinggal ke wilayah perkotaan, seperti kota-kota besar misalnya : Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lainnya. Perubahan tingkah laku (pola kehidupan) yang bersifat modernitas juga termasuk kategori urbanisasi. Begitu pula menyukai dan mengaplikasikan budaya yang bisa dibilang "ke kota-kotaan" juga termasuk bagian dari urbanisasi. Lantas apa yang mendorong manusia untuk melakukan urbanisasi.

Latar belakang terjadinya proses urbanisasi yaitu daya tarik dari perkotaan yang megah dan maju dibanding wilayah lainnya sehingga ada hasrat dari masyarakat desa untuk pindah ke kota. Namun, hal utama yang menjadi dasar pendorong terjadinya urbanisasi yaitu karna mereka yakin bahwa hidup di daerah perkotaan dapat merubah status dan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena pada dasarnya masyarakat tidak tahan dengan kondisi kehidupan yang mereka alami, ekonomi serta mata pencaharian yang menjadi pemicu utama untuk pindah ke kota demi menghidupi diri dan keluarganya.

Apa yang membuat mereka yakin bahwa hidup di kota menjamin kesejahteraan dan kehidupan yang layak?? Yaa benar, media elektronik yang memberikan informasi kepada mereka akan kehidupan orang kota yang mewah, lapangan kerja yang banyak, hidup penuh kesejahteraan, dan kemanisan lainnya yang mengundang datangnya proses urbanisasi ini. Memang tidap bisa disalahkan, karena banyak pula orang desa yang mengadu nasib di perkotaan yang sukses dan berhasil menjadi orang kaya, pengusaha, serta mampu hidup lebih sejahtera dari kehidupan sebelumnya. Akan tetapi,  jika saja semua paradigma masyarakat desa demikian, maka akan percuma saja mereka mengadu nasib di perkotaan tanpa bekal baik ilmu, mental dan yang penting kemampuan (skill).

Jadi, bisa dikatakan hal terpenting yang harus dimiliki seseorang yang ingin mengadu nasib di perkotaan ialah kemampuan (skill). Mengapa demikian?? Sebab, tidak sedikit orang yang berpindah serta mengadu nasib ke kota yang mengalami kegagalan dan tidak sesuai apa yang mereka harapkan dan mereka impikan ketika berharap cukup besar akan kesejahteraan hidup yang diberikan jika tinggal di kota.

Banyak masyarakat desa yang mengadu nasib ke kota namun tidak mendapatkan kehidupan apa yang mereka harapkan. Misalnya banyak dari mereka yang tidak memiliki ilmu yang cukup menjadi pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling sekolah. Mereka yang tidak memiliki mental dan skill yang kuat menjadi pemulung, mengamen, bahkan ironinya tidak segan-segan untuk menjadi perampok atau pembunuh bayaran. Sungguh ironi jika ini selalu menjadi budaya negatif yang tak terselesaikan dan tidak menemui titik temu jika masyarakat desa selalu berparadigma "hidup di kota menjamin kesejahteraan hidupnya". Maka hal ini menjadi perhatian yang penting untuk memberikan wawasan yang lebih kepada masyarakat desa dengan pemberian pelatihan dan skill untuk bersaing dan berkompetisi demi menghidupi keluarganya, sehingga mereka tidak perlu hijrah ke kota dengan anggapan demikian.

Fakta lapangan yang saya teliti di daerah Kampung Mangga, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara terdapat sebuah pemukiman padat di dalam wilayah Sutet (Sumber Tegangan Tinggi). Disana didominasi oleh masyarakat pindahan (pelaku urbanisasi). Hampir 80% mata pencaharian mereka yaitu berdagang yang kesehariannya keliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan demi menghidupi keluarga dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berdagang merupakan pilihan terakhir mereka jika mereka tidak dapat berkompetisi dan kalah bersaing dengan yang lain. Sebab, keahlian atau skill yang mereka miliki di desa belum tentu sama dibutuhkan jika hidup di kota. Sehingga jika mereka tak menggali kemampuan yangmereka miliki maka akan sulit beradaptasi.

Sesungguhnya mereka mengetahui bahwa hidup di kota tidaklah semudah apa yang diimpikan, karena masalah ekonomi yang menjerat kehidupan mereka membuat mereka mau tidak mau berhijrah ke kota walau bisa dibilang nekat karena datang dengan tanpa keahlian. Disamping itu, lapangan pekerjaan di wilayah tempat tinggal mereka sebelumnya sangatlah minim (sedikit) sehingga ketika mereka mengetahui bahwa di kota banyak lapangan pekerjaan, mereka tidak berpikir panjang untuk segera hijrah ke kota untuk mengadu nasib. Akan tetapi, walaupun mereka hidup di kota juga tak jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya, budaya dan tradisi mereka tak akan pernah hilang dan lenyap, keramahan, kesantunan, bersosial tetap mereka lakukan walau kebanyakan masyarakat di perkotaan bersifat individualis sekali pun.

Menurut teori Durkheim, apa yang dialami masyarakat desa terdorong hijrah dan mengadu nasib di kota ialah faktor struktural. Durkheim menyatakan bahwa proses pembangunan yang dilakukan negara hanya terpusat di kota. Padahal, jika saja wilayah pedesaan juga mendapat perhatian dalam pembangunan infrastruktur maupun suprastruktur maka tidaklah terjadi urbanisasi yang tak terbatas seperti saat ini. Dengan tidak meratanya pembangunan, maka tidaklah salah jika masyarakat desa lebih memilih berhijrah ke kota dengan kemewahan fasilitas baik dari infra maupun suprastruktur di perkotaan.

Dengan demikian, sangatlah penting perhatian pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakan khususnya program pemerataan pembangunan dalam rangka terciptanya kondisi yang seimbang antara desa maupun kota. Sehingga anggapan atau paradigma masyarakat desa akan jaminan hidup yang sejahtera akan terputus karena wilayah tempat tinggal mereka sudah mengalami kemajuan baik infrastruktur maupun suprastrukturnya. Dampak besar yang akan dirasakan yaitu masyarakat desa tidak perlu hijrah ke kota untuk mengadu nasib sebab di wilayah mereka sudah terdapat lapangan pekerjaan sehingga mereka hidup dengan sejahtera dan negara pun akan mengalami kemajuan dari segi ekonomi dan sosial. Jadi, besar dan majunya suatu negara bergantung dari kesejahteraan masyarakat desanya.

 

Re: Tugas 2_Nur Muhaimin_PMI 3

Sumber =

Peter Salim, Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta, Modern English Press, 2002, hal_1693

H. Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar. Jakarta, Rineka Cipta, 1991, hal_249

J.W.Schoorl, Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang  Berkembang. Jakarta, PT Gramedia, 1982,hal_263

http://dwirahmanismail.blogspot.com/2013/01/budaya-masyarakat-perkotaan.html


Pada 21 September 2014 16.04, m.nur. muhaimin <m.nur.muhaimin@gmail.com> menulis:

URBANISASI DAN BUDAYA PERKOTAAN

        Sebelum saya menjelaskan terlalu jauh mengenai urbanisasi ini, saya mencoba menjelaskaan dari dasar-dasar terlebih dahulu mengenai beberapa pengertian dan maksud dari setiap kata pada sub judul diatas baik yang bersumberkan dari para pemikir atau tokoh-tokoh terkemuka yang mana kredibilitasnya sudah tidak bisa kita tidak ragukan lagi. Yang saya berpatokan atau berefrensikan buku, artikel, internet dan lain-lain.

A.  Pengertian Urbanisasi

        Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.

        Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.

        Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi. 

        Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari  berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut. 

B.  Sebab-Sebab Urbanisasi

        Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:

1)      Adanya pertambahan penduduk secara alamiah

2)      Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota

3)      Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..

C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar

        Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan  atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;

1)      Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.

2)      Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

3)      Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

4)      Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.

  

D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi

        Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.

Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:

BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN

Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

           

     Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.

 

Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:

1.    Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.

2.    Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.

3.    Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.

4.    Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,

5.    Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.

Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.


Oleh : Nur Muhaimin

Nim : 1113054000008

Kelas : PMI 3


Tugas 2_Nur Muhaimin_PMI 3

URBANISASI DAN BUDAYA PERKOTAAN

        Sebelum saya menjelaskan terlalu jauh mengenai urbanisasi ini, saya mencoba menjelaskaan dari dasar-dasar terlebih dahulu mengenai beberapa pengertian dan maksud dari setiap kata pada sub judul diatas baik yang bersumberkan dari para pemikir atau tokoh-tokoh terkemuka yang mana kredibilitasnya sudah tidak bisa kita tidak ragukan lagi. Yang saya berpatokan atau berefrensikan buku, artikel, internet dan lain-lain.

A.  Pengertian Urbanisasi

        Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.

        Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.

        Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi. 

        Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari  berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut. 

B.  Sebab-Sebab Urbanisasi

        Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:

1)      Adanya pertambahan penduduk secara alamiah

2)      Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota

3)      Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..

C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar

        Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan  atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;

1)      Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.

2)      Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

3)      Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

4)      Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.

  

D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi

        Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.

Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:

BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN

Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

           

     Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.

 

Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:

1.    Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.

2.    Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.

3.    Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.

4.    Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,

5.    Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.

Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.


Oleh : Nur Muhaimin

Nim : 1113054000008

Kelas : PMI 3

Fitri Permata Sari / 1112051000151 / KPI 5 E / Tugas Etika 1

Nama              : Fitri Permata Sari
NIM                : 1112051000151
Kelas               : KPI 5/E
Tugas              : Etika dan Filsafat Komunikasi
ETIKA DAN MORAL
Etika berasal dari kata Yunani "Ethos" yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata latin "Mos" yang dalam bentuk jamaknya "Mores" yang berarti juga adat atau cara hidup.
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan moraldipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Etika adalah analisa pernyataan kehidupan. Peniaian bukan moral yang disinggung sejauh diperlukan dalam rangka pembicaraan pernyataan kewajiban.
Moral adalah pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakukan (akhlak).
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral yang dilakukan seseorang karena kurangnya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum cukup umur. Sedangkan, Immoral adalah tindakan tidak bermoral yang dilakukan seseorang walaupunorang tersebut sudah tahu bahwa hal tersebut memang salah dan tetap melakukannya.
ETIKA DAN ETIKET
Etiket adalah kebudayaan yang ada didalam suatu masyarakat. Sedangkan, Etika adalah ilmu yang mempelajari dan mengkritisi budaya tersebut.
MORALITAS; SUBYEKTIF
            Moralitas berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Moralitas Subyektif adalah moralitas yang melihat perbuatan dipengaruhi oleh pengetahuan dan perhatian pelakunya, latar belakang, stabilitas emosional, dan perlakuan personal lainnya. Moralitas ini mempertanyakan apakah perbuatan itu sesuai atau tidak dengan suara hari nurani pelakunya. Moralitas subjektif sebagai norma berhubungan dengan semua perbuatan yang diwarnai niat pelakunya., niat baik atau niat buruk.
PERBEDAAN ANTARA ETIKA DESKRIPTIF, ETIKA NORMATIF DAN METAETIKA
            Etika deskriptif mempunyai dua bagian yang sangat penting. Yang pertama ialah sejarah kesusilaan dan yang kedua ialah fenomenologi kesusilaan. Etika normatif berarti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik, buruk, benar, dan salah. Metaetika yaitu menganalisis logika perbuatan dalam kaitan baik dan buruk, benar dan salah.
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS       
            Etika filsafat sebagai cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsure-unsur tingkah laku dalam pendapat-pendapat secara spontan.kebutuhan refleksi dapat dirasakan antara lain karena pendapat etik tidak kurang berbeda dengan pendapat orang lain. Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan)

kuliah demografi

Nama                    : Faisal Amin

Jurusan                : PMI (Pengembangan Masyarakat islam)

Semester            : 5

Nim                        : 1112054000017

 

1)   Defenisi Demografi

Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu. [1]

Sedangkan menurut Philip M Hauser dan Duddley Duncan (1959) Demografi mempelajari jumlah, persebaran, territorial, dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu yang biasanya timbul dari natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak territorial (migrasi) dan mobilitas social (perubahan status). [2]

Dari dua pengertian diatas demografi adalah ilmu yang mempelajaru struktur dan Proses Penduduk di suatu wilayah. Struktur penduduk meliputi jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Struktur penduduk selalu berubah karena proses demografi : fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas sosial. Demografi adalah studi tentang penduduk khususnya mengenai kelahiran, perkawinan, kematian dan perpindahan. Studi ini menyangkut jumlah, persebaran geografis, komposisi penduduk dan perubahannya dari waktu ke waktu.

2)     Sejarah ilmu kependudukan

Ilmu kependudukan adalah suatu ilmu yang mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumah, sruktur (komposisi penduduk dan perkembangan dan perubahannya. (Multilingual Demografic Dictionary, 1982).

Menurut Philip M. Hauser dan Duddley Duncan ilmu kependudkan adalah Ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan dan penyebab perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status).

Jadi jika disimpulkan ilmu kependudukan ialah ilmu yang mempelajari struktur dan proses  penduduk di suatu wilayah, yang strukturnya meliputi : Jumlah, Persebaran dan Komposisi Penduduk. Struktur penduduk ini dapat selalu berubah-rubah dan perubahan ini disebabkan karena proses demografi yaitu : kelahiran, kematian dan migrasi penduduk.

 

 

3 (tiga) variable dasar demografi (basic demografic variable) :

1)      having children

2)      moving

3)      dying

Ruang Lingkup Ilmu Kependudukan

Demografi menekankan pada kajian-kajian sebagai berikut :

1)      Besar atau jumlah, komposisi dan distribusi penduduk dalam suatu wilayah.

2)      Perubahan-perubahan dari jumlah penduduk, komposisi dan distribusinya.

3)      Komponen-komponen dari perubahan tersebut

4)      Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan komponen-komponen tersebut.

5)      Konsekuensi dari perubahan baik jumlah, komposisi ataupun distribusi dalam komponen-komponen tersebut

3)  Teori transisi demografi

Transisi demografi adalah perubahan terhadap fertilitas dan mortilitas yang besar ke tingkat fertilitas dan mortalitas rendah  yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini didasarkan pada interpretasi yang dimulai pada tahun 1929 oleh para ahli demografi (demografer),perubahan yang diamati adalah tingkat fertilitas dan mortalitas dalam masyarakat selama dua ratus tahun terakhir atau lebih. [3]

Menurut blacker (1947) ada 5 tahap dalam teori transisi demografi,dimana khususnya phase 2 dan 3 adalah tahap transisi.

1.       Tahap stasioner tinggi

Tahapan Stasioner tinggi dimana tingkat kelahiran tinggi tapi tingkat kematiannya juga tinggi jadi tingkat pertumbuhannya nol.

 

2.       Tahap awal perkembangan

Tahapan stationer awal perkembangan dimana tingkat kelahiran tinggi (ada budaya pro natalis), tingkat kematiannya lamban menurun jadi tingkat pertumbuhannya lamban.

 

3.       Tahap akhir perkembangan

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran menurun, tingkat kematian menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran jadi tingkat pertumbuhannya cepat.

 

4.       Tahap stasioner rendah

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran rendah, tingkat kematian rendah  jadi tingkat pertumbuhannya nol/sangat rendah.

 

5.       Tahap menurun

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran rendah, tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat kematian  jadi tingkat pertumbuhannya negatif.

Ada beberapa masalah dalam mengaplikasikan teori transisi demografi bagi negara-negara berkembang. Bila di Eropa, penurunan mortalitas lebih dikarenakan pembangunan sosio ekonomi, namun penurunan mortalitas dan fertilitas di negara-negara berkembang lebih karena pengaruh faktor-faktor lain seperti: peningkatan pemakaian kontrasepsi, peningkatan perhatian pemerintah, modernisasi, pembangunan, tingkat kesehatan, keadaan geografis, kebijakan politis, kemajuan iptek, perubahan pola pikir masyarakat dan lainnya.

Sabtu, 20 September 2014

KHAIRUL ANAM-PMI-5

1.      Demografi

Adalah ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.[1]

 

2.      Sejarah Kependudukan Dunia

Para Ahli memperkirakan pada sekitar 35.000 tahun yang lalu. Tepatnya Pada tahun 1 sesudah Masehi, penduduk dunia diperkirakan berjumlah 250 juta. Jadi membutuhkan waktu 35.000 tahun untuk mencapai jumlah penduduk 250 juta orang.

Pada tahun 1650, penduduk dunia diperkirakan berjumlah 500 juta. jadi diperlukan waktu sekitar 1650 tahun menjadikan penduduk dunia dua kali lipat.

Pada tahun 1850 penduduk dunia menjadi 1 milyar (1.000.000.000) jumlahnya. Dan masih diperlukan waktu sekitar 200 tahun untuk menjadikan penduduk dua kali lipat dari jumlah sebelumnya.

Pada tahun 1930 penduduk dunia diperkirakan mencapai 2 milyar. Dengan demikian hanya diperlukan waktu kurang dari 100 tahun untuk menjadi penduduk dunia dua kali lipat sebelumnya.

Pada Tahun 1976 penduduk dunia telah mencapai sekitar 4 milyar. Jadi hanya diperlukan sekitar 36 tahun saja untuk melipatgandakan penduduk dunia dari jumlah sebelumnya

Pada tahun 1985 penduduk dunia sudah mencapai 4,845 milyar jiwa. Dalam tempo hanya 9 tahun saja pertambahan penduduknya mencapai 845 juta. Istilah population explotion menggambarkan betapa hebatnya angka pertumbuhan penduduk dunia dewasa ini sehingga sebuah ledakan bom yang dahsyat.

Berdasarkan perhitungan pada ahli, penduduk dunia mencapai 8 milyar. Para ahli dan orang awam sama-sama tercengang melihat fakta perkembangan yang demikian cepat itu. Sehingga mereka sering mereka-reka atau membuat semacam spekulasi, salah satu spekulasi menyebutkan bahwa pada masa 900 tahun mendatanghanya akan terdapat area tempat tinggal 1/32 inci persegi untuk setiap orang didunia (Nuveen, 1966).

 

3.      Teori Transisi Demografi

            Pertumbuhan penduduk di belahan dunia sebelah barat tidak dapat dijelaskan hanya oleh teori Malthus saja. Selama dan setelah revoluasi industri, banyak negara barat mengalami fenomena pertumbuhan yang terus berlangsung hingga abad ke-20 setelah perang Dunia Ke-1, beberapa diantara negara-negara itu seperti Perancis, Inggris dan Skandinavia menunjukkan bahwa pertumbuhannya telah terhenti atau adanya gejala akan berhenti. Oleh karena itu perlu adanya teori baru yang dapat menjelaskan pertumbuhan yang eksplosif sifatnya dan juga pertumbuhan yang terhenti-henti sifatnya. Observasi ini digarap secara sistematis oleh para ahli demografi berkebangsaan Amerika Warren Thompson pada tahun 1929 dan diberi nama hipotesis transisi demografi. Thompson dan kawan-kawannya terus menghaluskan hipotesisnya secara sistematis dan sekarang dikenal dengan nama "Theory Of The Demografic Transition" atau teori transisi demografi. Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.

a.      Tahap 1: Jika Angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran, menghasilkan angka pertumbuhan nol.

b.      Tahap 2: Jika Angka kematian menurun tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, maka akan menghasilkan angka pertumbuhan yang positif dan meningkat terus.

c.       Tahap 3: Jika Angka kematian terus menerus dan disertai dengan menurunnya angka kelahiran, maka akan menghasilkan pertumbuhan yang positif akan tetapi menurun.

d.      Tahap 4: Jika Angka kematian dan angka kelahiran juga rendah, maka hasilnya adalah pertumbuhan yang semakin berkurang yang pada akhir akan mencapai nol..



[1] KBBI Offline

anam kh menambahkan Anda ke lingkarannya dan mengundang Anda untuk bergabung dengan Google+

anam kh menambahkan Anda ke lingkarannya dan mengundang Anda untuk bergabung dengan Google+.
Gabung dengan Google+
Google+ menjadikan berbagi di web semakin menyerupai berbagi di kehidupan nyata.
Lingkaran
Cara mudah untuk berbagi beberapa hal dengan teman kuliah, hal yang lain dengan orang tua, dan tidak berbagi apa-apa dengan atasan. Seperti halnya di kehidupan nyata.
Hangouts
Percakapan lebih baik dilakukan sambil bertatap muka. Gabung dengan Hangout video dari komputer atau ponsel Anda untuk bersosialisasi, menonton video YouTube bersama, atau bertukar cerita dengan maksimal 9 teman sekaligus.
Mobile
Chatting berkelompok secepat kilat. Foto yang diupload otomatis. Tampilan yang merangkum hal-hal yang terjadi di sekitar. Kami membuat Google+ dengan mempertimbangkan perangkat mobile.
Anda menerima pesan ini karena anam kh mengundang kuliahtantan.semangat@blogger.com untuk bergabung dengan Google+. Berhenti berlangganan email ini.
Google Inc., 1600 Amphitheatre Pkwy, Mountain View, CA 94043 USA

Giovanni_KPI 5/E_Etika dan Filsafat Komunikasi

Nama  : Giovanni

NIM    : 1112051000142

Kelas   : KPI 5/E

Tugas  : Etika dan Filsafat Komunikasi

 

Etika I : Seputar Istilah dan Kerancuan Istilah: Etika dan Moral, Amoral dan Immoral, Etika dan Etiket, Moralitas, Subyektif, dsb. Membedakan Antara: Etika Deskriptif, Etika Normatif, dan Metaetika; Hakikat Etika Filosofis.

 

Etika dan Moral

Etika berdasarkan istilah filsafat berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas. Etika dibedakan dalam tiga pengertian pokok, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Moral menurut Hurlock (1990), adalah tata cara, kebiasaan, dan adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Moral merupakan suatu keyakinan tentang benar salah, baik atau buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial dan mendasari tindakan atau pemikiran.

Dari kedua definisi di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa etika merupakan ilmu yang mengkaji tentang moral, apakah moral itu baik atau buruk berdasarkan nilai yang dianut oleh suatu golongan masyarakat. Etika lebih condong ke arah ilmu tentang baik atau buruk. Sedangkan moral merupakan penilaian terhadap suatu perbuatan apakah baik atau buruk.

Amoral dan Immoral

Amoral artinya tidak berhubungan dengan konteks moral. Amoral juga sering diartikan dengan non moral yang berarti tidak memiliki keterkaitan dengan masalah moral. Sedangkan immoral merupakan tindakan yang bertentangan dengan moral. Immoral juga biasa diartikan dengan tindakan yang tidak bermoral.

Etika dan Etiket

Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan itu bisa dilakukan antara ya atau tidak. Berdasarkan penggunaanya, etiket hanya berlaku dalam pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku ketika ada orang lain. Sementara itu etika tidak memperhatikan orang lain ada atau tidak.

Moralitas

Menurut W. Poespoprojo, moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan/atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk.

Subyektif

Menurut KBBI, subyektif berarti mengenai atau menurut pandangan (perasaan sendiri), tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Subyektif bersifat relatif. Penilaian yang di ambil dari hasil meduga-duga. Berdasarkan perasaan atau selera orang.

Membedakan antara: Etika deskriptif, Etika Normatif, dan MetaEtika.

Etika Deskriptif

Etika deskriptif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik atau buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau subkultur tertentu.

Etika Normatif

Etika normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Etika normatif juga bisa mempersoalkan apakah norma itu benar atau tidak.

MetaEtika

Metaetika merupakan kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan dengan baik atau buruk.

Hakikat Etika Filosofis

Etika filosofis dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Etika merupakan bagian dari filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat. 

Cari Blog Ini