Minggu, 21 September 2014

idhaChusaini_PMI5_Tugas Demografi

A.    Pengertian Demografi
 
Demografi berasal dari bahasa Yunani, yaitudemos yang berarti rakyat atau penduduk dan grafein yang berarti menulis. Jadi, demografi adalah tulisan-tulisan atau karangan-karangan mengenai rakyat atau penduduk. Istilah ini dipakai untuk pertama kalinya oleh Achille Guillard dalam tulisannya yang berjudul Elements de Statisque Humaine on Demographic Compares pada tahun 1885.
Beberapa ahli pun punya pendapat masing-masing tentang pengertian dari demografi itu sendiri. Berikut ini pendapat para ahli tersebut.
1.      Menurut Johan Susczmilch (1762), demografi adalah ilmu yang mempelajari hukum Ilahi dalam perubahan-perubahan pada umat manusia yang tampak dari kelahiran, kematian dan pertumbuhannya.
2.      Menurut Achille Guillard, demografi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur.
3.      Menurut George W. Barclay, demografi adalah ilmu yang memberikan gambaran menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika. Demografi mempelajarai tingkah laku keseluruhan dan bukan tingkah laku perorangan.
4.      Menurut Phillip M. Hauser dan Dudley Duncan, demografi adalah ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahan dan sebab-sebab perubahan tersebut.
5.      Menurut D.V. Glass, demografi adalah ilmu yang secara umum terbatas untuk mempelajari penduduk yang dipengaruhi oleh proses demografis, yaitu : fertilitas, mortalitas dan migrasi.
6.      Menurut Donald J. Boague (1973), demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
Dapat disimpulkan bahwa demografi dalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaaan perubahan-perubahan kependudukan dengan memnfaatkan data dan statistic kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara matematis dan statistic dari data penduduk   terutama mengenai perubahan jumlah, persebaran, dan komposisi /strukturnya perubahan- perubahan tersebut dipengaruhi oleh perubahan dan komponen-komponen utama perubahan penduduk, yaitu fertilitas, moralitas, dan imigrasi, yang pada gilirannya yang menyebabka perubahan pada jumlah, struktur, dan persebaran penduduk.  Demografi memberikan gambaran menyeluruh tentang perilaku penduduk, baik secara agregat maupun kelompok[1] 
B.      Sejarah Ilmu Kependudukan Dunia
John graunt(1620-1674), seorang warga Negara inggris, dikenal sebagai pelopor dalam bidang pencatatn statistic penduduk. Bukunya yang berjudul Natural and  Political Observations Mentioned in a Following Index and Made Upon the Bills of Mortality( Graunt, 1662 dalam Iskandar,1994)sebagian besar analisis mortalitas dan selebihnya mengenai fertilitas, migrasi, perumahan, data keluarga, perbedaan antar kota dan Negara, dan jumlag penduduk laki-laki yang berada dalam kelompok umur militer. Data yang digunakan dalam analisis kematian dan kelahiran tersebut bersumber dari catatan kematian(The Bills of Mortality) yang diterbitkan secara berkala oleh petugas gereja setiap minggu. Dari hasil penelitiannya itu, Graunt mencetuskan"hukum-hukum "pertumbuhan penduduk.
Dari hasil penelitian Empiris  terhadap jumlah dan perkembangan penduduk London pada masa itu,  dapat dikatakan bahwa ilmu demografi lahir pada zamannya, oleh karena itu Graunt dikenal pula sebagai Bapak Demografi. Dalam studinya, graunt memperoleh banyak dorongan dari William Petty, seorang ahli statistic. Karya Petty, Political Arithmetic (1690), berpengaruh besar terhadap perkembangan demografi. William Petty (1623-1687) yang hidup semasa dengan Graunt menganjurkan berdirinya Central Statistical Office (Biro Pusat Statistik). selain itu, usaha memanfaatkan data statistic penduduk dilakukan pula oleh Edmund Halley (16561742), seorang astronom, dengan menyusun table kematian modern yang pertama di kota Breslau pada tahun 1687-1691.
Stelah era graunt, perhatian public terhadap masalah kependudukan , baik mengenai pencatatan statistik maupun pertumbuhannya terus meningkat. Dalam sejarah perkembangan ilmu demografi , timbul masalah meengenai pembagian cabang ilmu ini. Awalnya, para pengamatan berpendapaat  bahwa demografi lebih terfokus pada penyusunan statistic penduduk dan analisisnya. Pendapat ini memang dapat dimengerti karena pelopor-pelopor ilmu demografi, seperti Sussmilch dan Guillard menganggap demografi sebagai bio social book keeping, yang artinya kelahiran sebagai factor penambah jumlah penduduk, sedangkan kematian sebagai factor pengurang jumlah penduduk. Kemudian, beberapa pengamat membedakan masalah penduduk menjadi dua, yaitu yang bersifat kuantitatif yang membahas tentang jumlah, persebaran, serta komposisi enduduk, dan yang bersifat kualitatif yang membahas masalah penduduk dari segi genetis dan biologis. Gagasan ini kurang mendapat dukungan karena keduanya mengandung unsur kualitatif dan kuantitatif[2]
C.     Transisi Demografi
Transisi demografi adalah suatu model grafik yang menggambarkan perubahan penduduk dari pertumbuhan penduduk tinggi menuju pertumbuhan penduduk yang stabil. Transisi demografi istilah awalnya hanya menggambarkan pergeseran sosial yang terjadi di masyarakat Barat dari abad 19 ke tahun 1930-an. Pada masa itu masyarakat Eropa yang bertempat tinggal di luar negeri, bergerak dengan kecepatan yang cukup dari tingkat fertilitas dan mortalitas tinggi, ke tingkat fertilitas dan  mortalitas rendah dengan konsekuensi sosial yang besar.
Konsep transisi demografi mencoba menerangkan mengapa negara-negara yang kini tergolong maju mengalami tahapan transisi demografi ini. Tahapan transisi demografi meliputi 3 kurun perkembangan yaitu
Tahap 1 : Kelahiran tinggi dan kematian tinggi
Tahap 2 : Kelahiran masih tinggi, kematian cenderung menurun
Tahap 3 : Kelahiran menurun dan kematian menurun dan menuju stabil
Grafik transisi demografi dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8ejtx6GLRBW02V4ysn__5eieGDhnYwflmuuZ-Ay1hu5Cs96jNP9SpXBXX6T81ySkh74-rTpvLzlmoBf7qm7Hw50kOPNFzpvVWJXQdBJYOKSj2KowOFKiLqUyufK4ukmWdJOuTxX0De8Q/s400/demographic-transition-theory.png
 
Banyak faktor yang memengaruhi terhadap transisi penduduk yaitu 
1. tingkat kesehatan
2. keadaan geografis
3. kebijakan politis 
4. kemajuan iptek
5. perubahan pola pikir masyarakat dan lainnya[3]
 
 


[1] Tim Penulis Lembaga Demografi UI, Dasar-Dasar Demografi , Jakarta:Salemba Empat, 2011. Hlm 2-3
[2] Tim Penulis Lembaga Demografi UI, Dasar-Dasar Demografi , Jakarta:Salemba Empat, 2011. Hlm 3-4

Rizky Arif Santoso_Tugas 2_Urbanisasi dan Budaya Perkotaan di Indonesia

NAMA            : RIZKY ARIF SANTOSO

KELAS           : PMI 3

NIM                : 1113054000001

Urbanisasi Dan Budaya Perkotaan di Indonesia

Apa yang dimaksud dengan Urbanisasi?? Urbanisasi berasal dari kata "Urban" yang artinya kota. Secara terminologi, urbanisasi merupakan proses perpindahan pola tingkah laku, budaya, tempat tinggal menuju perubahan yang bersifat modernitas/perkotaan. Pada umumnya masyarakat desa beralih tempat tinggal ke wilayah perkotaan, seperti kota-kota besar misalnya : Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lainnya. Perubahan tingkah laku (pola kehidupan) yang bersifat modernitas juga termasuk kategori urbanisasi. Begitu pula menyukai dan mengaplikasikan budaya yang bisa dibilang "ke kota-kotaan" juga termasuk bagian dari urbanisasi. Lantas apa yang mendorong manusia untuk melakukan urbanisasi.

Latar belakang terjadinya proses urbanisasi yaitu daya tarik dari perkotaan yang megah dan maju dibanding wilayah lainnya sehingga ada hasrat dari masyarakat desa untuk pindah ke kota. Namun, hal utama yang menjadi dasar pendorong terjadinya urbanisasi yaitu karna mereka yakin bahwa hidup di daerah perkotaan dapat merubah status dan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena pada dasarnya masyarakat tidak tahan dengan kondisi kehidupan yang mereka alami, ekonomi serta mata pencaharian yang menjadi pemicu utama untuk pindah ke kota demi menghidupi diri dan keluarganya.

Apa yang membuat mereka yakin bahwa hidup di kota menjamin kesejahteraan dan kehidupan yang layak?? Yaa benar, media elektronik yang memberikan informasi kepada mereka akan kehidupan orang kota yang mewah, lapangan kerja yang banyak, hidup penuh kesejahteraan, dan kemanisan lainnya yang mengundang datangnya proses urbanisasi ini. Memang tidap bisa disalahkan, karena banyak pula orang desa yang mengadu nasib di perkotaan yang sukses dan berhasil menjadi orang kaya, pengusaha, serta mampu hidup lebih sejahtera dari kehidupan sebelumnya. Akan tetapi,  jika saja semua paradigma masyarakat desa demikian, maka akan percuma saja mereka mengadu nasib di perkotaan tanpa bekal baik ilmu, mental dan yang penting kemampuan (skill).

Jadi, bisa dikatakan hal terpenting yang harus dimiliki seseorang yang ingin mengadu nasib di perkotaan ialah kemampuan (skill). Mengapa demikian?? Sebab, tidak sedikit orang yang berpindah serta mengadu nasib ke kota yang mengalami kegagalan dan tidak sesuai apa yang mereka harapkan dan mereka impikan ketika berharap cukup besar akan kesejahteraan hidup yang diberikan jika tinggal di kota.

Banyak masyarakat desa yang mengadu nasib ke kota namun tidak mendapatkan kehidupan apa yang mereka harapkan. Misalnya banyak dari mereka yang tidak memiliki ilmu yang cukup menjadi pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling sekolah. Mereka yang tidak memiliki mental dan skill yang kuat menjadi pemulung, mengamen, bahkan ironinya tidak segan-segan untuk menjadi perampok atau pembunuh bayaran. Sungguh ironi jika ini selalu menjadi budaya negatif yang tak terselesaikan dan tidak menemui titik temu jika masyarakat desa selalu berparadigma "hidup di kota menjamin kesejahteraan hidupnya". Maka hal ini menjadi perhatian yang penting untuk memberikan wawasan yang lebih kepada masyarakat desa dengan pemberian pelatihan dan skill untuk bersaing dan berkompetisi demi menghidupi keluarganya, sehingga mereka tidak perlu hijrah ke kota dengan anggapan demikian.

Fakta lapangan yang saya teliti di daerah Kampung Mangga, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara terdapat sebuah pemukiman padat di dalam wilayah Sutet (Sumber Tegangan Tinggi). Disana didominasi oleh masyarakat pindahan (pelaku urbanisasi). Hampir 80% mata pencaharian mereka yaitu berdagang yang kesehariannya keliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan demi menghidupi keluarga dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berdagang merupakan pilihan terakhir mereka jika mereka tidak dapat berkompetisi dan kalah bersaing dengan yang lain. Sebab, keahlian atau skill yang mereka miliki di desa belum tentu sama dibutuhkan jika hidup di kota. Sehingga jika mereka tak menggali kemampuan yangmereka miliki maka akan sulit beradaptasi.

Sesungguhnya mereka mengetahui bahwa hidup di kota tidaklah semudah apa yang diimpikan, karena masalah ekonomi yang menjerat kehidupan mereka membuat mereka mau tidak mau berhijrah ke kota walau bisa dibilang nekat karena datang dengan tanpa keahlian. Disamping itu, lapangan pekerjaan di wilayah tempat tinggal mereka sebelumnya sangatlah minim (sedikit) sehingga ketika mereka mengetahui bahwa di kota banyak lapangan pekerjaan, mereka tidak berpikir panjang untuk segera hijrah ke kota untuk mengadu nasib. Akan tetapi, walaupun mereka hidup di kota juga tak jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya, budaya dan tradisi mereka tak akan pernah hilang dan lenyap, keramahan, kesantunan, bersosial tetap mereka lakukan walau kebanyakan masyarakat di perkotaan bersifat individualis sekali pun.

Menurut teori Durkheim, apa yang dialami masyarakat desa terdorong hijrah dan mengadu nasib di kota ialah faktor struktural. Durkheim menyatakan bahwa proses pembangunan yang dilakukan negara hanya terpusat di kota. Padahal, jika saja wilayah pedesaan juga mendapat perhatian dalam pembangunan infrastruktur maupun suprastruktur maka tidaklah terjadi urbanisasi yang tak terbatas seperti saat ini. Dengan tidak meratanya pembangunan, maka tidaklah salah jika masyarakat desa lebih memilih berhijrah ke kota dengan kemewahan fasilitas baik dari infra maupun suprastruktur di perkotaan.

Dengan demikian, sangatlah penting perhatian pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakan khususnya program pemerataan pembangunan dalam rangka terciptanya kondisi yang seimbang antara desa maupun kota. Sehingga anggapan atau paradigma masyarakat desa akan jaminan hidup yang sejahtera akan terputus karena wilayah tempat tinggal mereka sudah mengalami kemajuan baik infrastruktur maupun suprastrukturnya. Dampak besar yang akan dirasakan yaitu masyarakat desa tidak perlu hijrah ke kota untuk mengadu nasib sebab di wilayah mereka sudah terdapat lapangan pekerjaan sehingga mereka hidup dengan sejahtera dan negara pun akan mengalami kemajuan dari segi ekonomi dan sosial. Jadi, besar dan majunya suatu negara bergantung dari kesejahteraan masyarakat desanya.

 

Re: Tugas 2_Nur Muhaimin_PMI 3

Sumber =

Peter Salim, Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta, Modern English Press, 2002, hal_1693

H. Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar. Jakarta, Rineka Cipta, 1991, hal_249

J.W.Schoorl, Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang  Berkembang. Jakarta, PT Gramedia, 1982,hal_263

http://dwirahmanismail.blogspot.com/2013/01/budaya-masyarakat-perkotaan.html


Pada 21 September 2014 16.04, m.nur. muhaimin <m.nur.muhaimin@gmail.com> menulis:

URBANISASI DAN BUDAYA PERKOTAAN

        Sebelum saya menjelaskan terlalu jauh mengenai urbanisasi ini, saya mencoba menjelaskaan dari dasar-dasar terlebih dahulu mengenai beberapa pengertian dan maksud dari setiap kata pada sub judul diatas baik yang bersumberkan dari para pemikir atau tokoh-tokoh terkemuka yang mana kredibilitasnya sudah tidak bisa kita tidak ragukan lagi. Yang saya berpatokan atau berefrensikan buku, artikel, internet dan lain-lain.

A.  Pengertian Urbanisasi

        Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.

        Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.

        Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi. 

        Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari  berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut. 

B.  Sebab-Sebab Urbanisasi

        Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:

1)      Adanya pertambahan penduduk secara alamiah

2)      Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota

3)      Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..

C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar

        Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan  atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;

1)      Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.

2)      Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

3)      Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

4)      Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.

  

D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi

        Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.

Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:

BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN

Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

           

     Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.

 

Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:

1.    Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.

2.    Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.

3.    Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.

4.    Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,

5.    Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.

Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.


Oleh : Nur Muhaimin

Nim : 1113054000008

Kelas : PMI 3


Tugas 2_Nur Muhaimin_PMI 3

URBANISASI DAN BUDAYA PERKOTAAN

        Sebelum saya menjelaskan terlalu jauh mengenai urbanisasi ini, saya mencoba menjelaskaan dari dasar-dasar terlebih dahulu mengenai beberapa pengertian dan maksud dari setiap kata pada sub judul diatas baik yang bersumberkan dari para pemikir atau tokoh-tokoh terkemuka yang mana kredibilitasnya sudah tidak bisa kita tidak ragukan lagi. Yang saya berpatokan atau berefrensikan buku, artikel, internet dan lain-lain.

A.  Pengertian Urbanisasi

        Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.

        Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.

        Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi. 

        Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari  berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut. 

B.  Sebab-Sebab Urbanisasi

        Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:

1)      Adanya pertambahan penduduk secara alamiah

2)      Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota

3)      Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..

C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar

        Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan  atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;

1)      Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.

2)      Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

3)      Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

4)      Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.

  

D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi

        Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.

Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:

BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN

Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

           

     Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.

 

Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:

1.    Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.

2.    Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.

3.    Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.

4.    Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,

5.    Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.

Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.


Oleh : Nur Muhaimin

Nim : 1113054000008

Kelas : PMI 3

Fitri Permata Sari / 1112051000151 / KPI 5 E / Tugas Etika 1

Nama              : Fitri Permata Sari
NIM                : 1112051000151
Kelas               : KPI 5/E
Tugas              : Etika dan Filsafat Komunikasi
ETIKA DAN MORAL
Etika berasal dari kata Yunani "Ethos" yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata latin "Mos" yang dalam bentuk jamaknya "Mores" yang berarti juga adat atau cara hidup.
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan moraldipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Etika adalah analisa pernyataan kehidupan. Peniaian bukan moral yang disinggung sejauh diperlukan dalam rangka pembicaraan pernyataan kewajiban.
Moral adalah pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakukan (akhlak).
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral yang dilakukan seseorang karena kurangnya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum cukup umur. Sedangkan, Immoral adalah tindakan tidak bermoral yang dilakukan seseorang walaupunorang tersebut sudah tahu bahwa hal tersebut memang salah dan tetap melakukannya.
ETIKA DAN ETIKET
Etiket adalah kebudayaan yang ada didalam suatu masyarakat. Sedangkan, Etika adalah ilmu yang mempelajari dan mengkritisi budaya tersebut.
MORALITAS; SUBYEKTIF
            Moralitas berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Moralitas Subyektif adalah moralitas yang melihat perbuatan dipengaruhi oleh pengetahuan dan perhatian pelakunya, latar belakang, stabilitas emosional, dan perlakuan personal lainnya. Moralitas ini mempertanyakan apakah perbuatan itu sesuai atau tidak dengan suara hari nurani pelakunya. Moralitas subjektif sebagai norma berhubungan dengan semua perbuatan yang diwarnai niat pelakunya., niat baik atau niat buruk.
PERBEDAAN ANTARA ETIKA DESKRIPTIF, ETIKA NORMATIF DAN METAETIKA
            Etika deskriptif mempunyai dua bagian yang sangat penting. Yang pertama ialah sejarah kesusilaan dan yang kedua ialah fenomenologi kesusilaan. Etika normatif berarti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik, buruk, benar, dan salah. Metaetika yaitu menganalisis logika perbuatan dalam kaitan baik dan buruk, benar dan salah.
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS       
            Etika filsafat sebagai cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsure-unsur tingkah laku dalam pendapat-pendapat secara spontan.kebutuhan refleksi dapat dirasakan antara lain karena pendapat etik tidak kurang berbeda dengan pendapat orang lain. Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan)

kuliah demografi

Nama                    : Faisal Amin

Jurusan                : PMI (Pengembangan Masyarakat islam)

Semester            : 5

Nim                        : 1112054000017

 

1)   Defenisi Demografi

Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu. [1]

Sedangkan menurut Philip M Hauser dan Duddley Duncan (1959) Demografi mempelajari jumlah, persebaran, territorial, dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu yang biasanya timbul dari natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak territorial (migrasi) dan mobilitas social (perubahan status). [2]

Dari dua pengertian diatas demografi adalah ilmu yang mempelajaru struktur dan Proses Penduduk di suatu wilayah. Struktur penduduk meliputi jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Struktur penduduk selalu berubah karena proses demografi : fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas sosial. Demografi adalah studi tentang penduduk khususnya mengenai kelahiran, perkawinan, kematian dan perpindahan. Studi ini menyangkut jumlah, persebaran geografis, komposisi penduduk dan perubahannya dari waktu ke waktu.

2)     Sejarah ilmu kependudukan

Ilmu kependudukan adalah suatu ilmu yang mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumah, sruktur (komposisi penduduk dan perkembangan dan perubahannya. (Multilingual Demografic Dictionary, 1982).

Menurut Philip M. Hauser dan Duddley Duncan ilmu kependudkan adalah Ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan dan penyebab perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status).

Jadi jika disimpulkan ilmu kependudukan ialah ilmu yang mempelajari struktur dan proses  penduduk di suatu wilayah, yang strukturnya meliputi : Jumlah, Persebaran dan Komposisi Penduduk. Struktur penduduk ini dapat selalu berubah-rubah dan perubahan ini disebabkan karena proses demografi yaitu : kelahiran, kematian dan migrasi penduduk.

 

 

3 (tiga) variable dasar demografi (basic demografic variable) :

1)      having children

2)      moving

3)      dying

Ruang Lingkup Ilmu Kependudukan

Demografi menekankan pada kajian-kajian sebagai berikut :

1)      Besar atau jumlah, komposisi dan distribusi penduduk dalam suatu wilayah.

2)      Perubahan-perubahan dari jumlah penduduk, komposisi dan distribusinya.

3)      Komponen-komponen dari perubahan tersebut

4)      Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan komponen-komponen tersebut.

5)      Konsekuensi dari perubahan baik jumlah, komposisi ataupun distribusi dalam komponen-komponen tersebut

3)  Teori transisi demografi

Transisi demografi adalah perubahan terhadap fertilitas dan mortilitas yang besar ke tingkat fertilitas dan mortalitas rendah  yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini didasarkan pada interpretasi yang dimulai pada tahun 1929 oleh para ahli demografi (demografer),perubahan yang diamati adalah tingkat fertilitas dan mortalitas dalam masyarakat selama dua ratus tahun terakhir atau lebih. [3]

Menurut blacker (1947) ada 5 tahap dalam teori transisi demografi,dimana khususnya phase 2 dan 3 adalah tahap transisi.

1.       Tahap stasioner tinggi

Tahapan Stasioner tinggi dimana tingkat kelahiran tinggi tapi tingkat kematiannya juga tinggi jadi tingkat pertumbuhannya nol.

 

2.       Tahap awal perkembangan

Tahapan stationer awal perkembangan dimana tingkat kelahiran tinggi (ada budaya pro natalis), tingkat kematiannya lamban menurun jadi tingkat pertumbuhannya lamban.

 

3.       Tahap akhir perkembangan

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran menurun, tingkat kematian menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran jadi tingkat pertumbuhannya cepat.

 

4.       Tahap stasioner rendah

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran rendah, tingkat kematian rendah  jadi tingkat pertumbuhannya nol/sangat rendah.

 

5.       Tahap menurun

Tahap akhir perkembangan dimana pada tingkat ini kelahiran rendah, tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat kematian  jadi tingkat pertumbuhannya negatif.

Ada beberapa masalah dalam mengaplikasikan teori transisi demografi bagi negara-negara berkembang. Bila di Eropa, penurunan mortalitas lebih dikarenakan pembangunan sosio ekonomi, namun penurunan mortalitas dan fertilitas di negara-negara berkembang lebih karena pengaruh faktor-faktor lain seperti: peningkatan pemakaian kontrasepsi, peningkatan perhatian pemerintah, modernisasi, pembangunan, tingkat kesehatan, keadaan geografis, kebijakan politis, kemajuan iptek, perubahan pola pikir masyarakat dan lainnya.

Cari Blog Ini