Minggu, 21 September 2014

DwikoMaxiRianto_PMI5_Tugas Demografi

Nama  : Dwiko Maxi Rianto

NIM    : 1112054000029

Pengembangan Masyarakat Islam 5A

 

1.      Definisi Demografi

            Demografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti "Demos" = rakyat atau penduduk dan "Grafein" = menulis. Jadi Demografi adalah tulisan-tulisan atau karangan-karangan mengenai rakyat atau penduduk.

            Berikut beberapa definisi Demografi menurut para ahli :

1)      Berdasarkan Multilingual Demographic Dictionary (IUSSP, 1982) Demografi mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumlah, struktur (komposisi penduduk) dan perkembangannya (perubahannya).

2)      Menurut Philip M. Hauser dan Duddley Duncan (1959), Demografi mempelajari jumlah, persebaran, territorial, dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas sosial.

            Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Demografi mempelajari Struktur dan Proses Penduduk di suatu wilayah. Struktur penduduk meliputi jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Struktur penduduk selalu berubah karena proses demografi : fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas sosial.

            Jadi, Demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia, meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

2.      Sejarah Ilmu Kependudukan Dunia

Teori Malthus Tentang Penduduk

            Menurut Malthus, penduduk akan selalu bertambah lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan bahan makanan, kecuali terhambat oleh karena apa yang ia sebutkan sebagai moral restrains, seperti misalnya wabah penyakit atau malapetaka.

Dua Postulat Malthus:

1.      Bahwa Pangan Dibutuhkan Untuk Hidup Manusia; Dan

2.      Bahwa Kebutuhan Nafsu Seksuil Antar Jenis Kelamin Akan Tetap Sifatnya Sepanjang Masa.

            Dalil yang dikemukakan Malthus yaitu bahwa jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara arismatik (deret hitung).

Aliran Marxist (Karl Marx dan Fried Engels)

            Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan makanan). Karl Marx dan Friedrich Engels (1834) adalah generasi sesudah Maltus. Paham Marxist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus, karena menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.

Pendapat Aliran Marxist

  • Populasi manusia tidak menekan makanan, tapi mempengaruhi kesempatan kerja.
  • Kemeralatan bukan terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi karena kaum kapitalis mengambil sebagian hak para buruh
  • Semakin tinggi tingkat populasi manusia, semakin tinggi produktifitasnya, jika teknologi tidak menggantikan tenaga manusia sehingga tidak perlu menekan jumlah kelahirannya, ini berarti ia menolak teori Malthus tentang moral restraint untuk menekan angka kelahiran.

            Masalah kependudukan telah lama diperbincangkan di kalangan masyarakat, namun baru di sekitar abad ke – 18 banyak diantaranya yang mulai menganalisis masalah kependudukan secara sitematis. Meskipun banyak para ahli yang menulis tentang masalah kependudukan di dunia, akan tetapi diantara tokoh-tokoh yang dianggap pakar ilmu kependudukan klasik adalah Thomas Malthus dan Karl Marx, sedangkan untuk generasi berikutnya yang paling menonjol adalah Warren Thompson dengan teori demografi transisinya.

3.      Teori Transisi Demografi

             Teori Transisi demografi adalah model yang menggambarkan perubahan penduduk dari tingkat pertumbuhan yang stabil tinggi (tingkat fertilitas dan  mortalitas yang tinggi) ke tingkat pertumbuhan rendah ( tingkat fertilitas dan mortalitas rendah) yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini didasarkan pada interpretasi yang dimulai pada tahun 1929 oleh para ahli demografi (demografer),perubahan yang diamati adalah tingkat fertilitas dan mortalitas dalam masyarakat selama dua ratus tahun terakhir atau lebih.Transisi demografi istilah awalnya hanya menggambarkan pergeseran sosial yang terjadi dimasyarakat Barat dari abad sembilan belas ke 1930-an.Pada saat itu,masyarakat Eropa yang bertempat tinggal di luar negeri,bergerak dengan kecepatan yang cukup dari tingkat fertilitas dan mortalitas tinggi,ke tingkat fertilitas dan  mortalitas rendah,dengan konsekuensi sosial yang besar. Umumnya ada empat tahap dalam proses transisi, yaitu:

·        Tahap 1: Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka kematian tinggi menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah;

·     Tahap 2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik menghasilkan penurunan angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah penduduk naik.

·      Tahap 3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita, urbanisasi, dan kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah tangga menginginkan jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka kelahiran. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi sudah mulai menurun;

·      Tahap 4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan berumah tangga melaksanakan pembatasan kelahiran dan mereka cenderung bekerja di luar  rumah. Banyaknya anak cenderung hanya 2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat rendah atau bahkan mendekati nol.

 

 

Thabitha Dhiraja/KPI_5E/Etika dan Filsafat Komunikasi/Tugas1

Nama : Thabitha Nasthy Dhiraja

NIM : 1112051000141

Kelas : KPI 5E

Tugas 1 Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika dan Moral

Secara etimologi (bahasa) "etika" berasal dari kata bahasa Yunani "ethos" yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, perasaan, cara berpikir. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas akhlak.  Etika Merupakan cabang filsafat moral, yang berbicara mengenai tindakan manusia dalam kaitannya dengan tujuan utama hidupnya.

Etika membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban kewajiban manusia. Etika lebih condong ke arah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode etik. Sedangkan moral  merupakan keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk. Dua kaidah dasar moral adalah kaidah sikap baik dan kaidah sikap keadilan.

Amoral dan Immoral

Amoral adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral yang dilakukan seseorang karena kurangya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum cukup umur. Sedangkan, Immoral adalah tindakan bermoral yang dilakukan seseorang walaupun orang tersebut sudah tahu bahwa hal tersebut memang salah dan tetap melakukannya.

Etika dan Etiket

Kadang dalam kehidupan sehari hari, batas antara etika dan etiket bisa sangat tipis. Padahal dua terminologi tersebut sangat berbeda satu sama lain, meskipun di sana sini tetap masih ada persamaan antara etika dan etiket. Berikut adalah beberapa perbedaan pokok antara etika dan etiket (Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004:257)

Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang atau kelompok tertentu. Etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan bisa dilakukan antara ya dan tidak. Etika jauh lebih bersifat mutlak, prinsip etika bisa sangat universal dan tidak bisa ada proses tawar menawar.

Etiket ialah memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak yang harus dilakukan oleh manusia. Yaitu cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Etiket bersifat relatif, yang berarti bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan etiket tertentu.

Moralitas

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia.

Subyektif

Subyektif ialah lebih kepada keadaan dimana seseorang berpikiran relatif. Penilaian yang dihasilkan dari menduga duga, berdasarkan perasaan atau selera orang.

Etika Deskriptif, Etika Normatif, MetaEtika

Etika Deskriptif

Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya, etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya.

Etika Normatif

Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan yang seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi, etika normatif merupakan norma norma yang dapat menuntun manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang di sepakati dan berlaku di masyarakat.

MetaEtika

Sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya suatu tindakan atau peristiwa. Dalam MetaEtika, tindakan atau peristiwa yang dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya.

Hakikat Etika Filosofis

Etika termasuk filsafat dan dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. Dalam konteks yunani kuno, etika sudah terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Ciri khas filsafat itu dengan jelas tampak pada etika. Etika pun tidak berenti pada yang konkret, pada yang secara faktual dilakukan, tapi ia bertanya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Tentang yang baik atau yang buruk untuk dilakukan.


FAHMI, KPI 5 E "ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI"

NAMA            : FAHMI
NIM                : 1112051000129
KELAS           : KPI 5 E
 
Etika dan Filsafat Komunikasi
 
Etika dan Moral

Etika sebagai filsafat, berarti mencari keterangan yang benar, mencari ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk bagi tingkah laku manusia. Serta mencari norma-norma, ukuran-ukuran mana susial itu, tindakan manakah yang paling dianggap baik. Dalam filsafat, masalah baik dan buruk (good and evil) dibicarakan dalam etika. Tugas etika tidak lain berusaha untuk hal yang baik dan yang dikatakan buruk. Sedangkan tujuan etika, agar setiap manusia mengetahui dan menjalankan perilaku, sebab perilaku yang baik bukan saja bagi dirinya saja, tetapi juga penting bagi orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara, dan yang terpenting bagi Tuhan yang Maha Esa.
Moral menurut PN. Masnizah Mohd adalah menyangkut tentang persoalan yang benar atau salah, sesuatu yang perlu dilakukan dan ditinggalkan atau alasan-alasan tertentu pada suatu keadaan tertentu, sedangkan etika merupakan studi mengenai bagaimana tingkah laku suatu individu atau golongan bernilai baik atau sebaliknya yang berdampak pada sosial. Etika juga dapat diartikan sebagai suatu disiplin ilmu, prinsip moral, kaedah moral yang diwujudkan dalam suatu perbuatan manusia yang betul menurut akal pikiran.
Jadi kesimpulan perbedaan etika dan moral yaitu, moral dapat mengarahkan manusia tentang bagaimana cara manusia harus bertingkah karena moral bersifat mengikat dan harus dilakukan oleh individu atau kelompok agar dapat diterima di lingkungan bermasyarakat tersebut. Etika dapat memberikan alasan yang logis mengapa manusia harus mengikuti arahan moral di lingkungannya. Selain itu, etika dapat membuat manusia menjadi tahu dan sadar apa yang harus dilakukan agar berdampak baik untuk dirinya dan orang lain.
 
Amoral dan Immoral

            Amoral adalah sebuah tindakan tidak berhubungan dengan konteks moral yang dilakukan oleh seseorang karena kurangnya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum cukup umur. Maksudnya adalah seperti anak kecil yang telanjang ketika ada tamu di rumah. Mereka tidak mengerti bahwa berlari tanpa busana adalah hal yang tidak sopan.
            imoral adalah pemberontakan atau lawan dari sikap bermoral. Contoh seorang dewasa memukul anak kecil yang tidak bersalah. Istilah lain untuk mengerti immoral adalah tidak etis, jahat, tidak bermoral atau tidak berakhlak.
 
Etika dan Etiket

            Etika adalah aturan yang mengatur perbuatan dari dalam diri kita dan perbuatan itu datangnya asli dari diri kita sendiri,dan apapun yang kita perbuat selalu datangnya dari diri kita,tanpa ada paksaan dari pihak manapun. dan orang yang beretika dia tidak mungkin membohongi dirinya sendiri karena dia tau aturannya. Contoh, larangan untuk mencuri tetap ada walaupun tidak ada yang melihat kita mencuri.
Etiket adalah  perilaku kita sehari - hari  yang kita lakukan dan memandang orang yang ada di sekeliling kita apakah tersinggung atau tidaknya orang dengan perbuatan kita, dan orang yang ber etiket mungkin saja dia bisa membohongi dirinya sendiri karena perbuatannya itu hanya untuk menghargai orang yang ada di sekelilingnya saja tidak murni keluar dari hati nuraninya yang secara tidak langsung dilakukan untuk mendapatkan pujian dari sekelilingnya. Contoh, sendawa di saat makan melakukan perilaku yang dianggap tidak sopan. Namun, hal itu tidak berlaku jika kita makan sendirian, kemudian sendawa dan tidak ada orang yang melihat sehingga tidak ada yang beranggapan bahwa kita tidak sopan.
 
Moralitas

           Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia.
 
Subjektif

Subjektif
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Penilaian yang di ambil dari hasil meduga-duga. Berdasarkan perasaan atau selera orang.
 
Membedakan antara: etika deskriptif, etika normatif, dan  mataetika, hakikat etika filosofis.

Etika deskriptif ialah berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya.

Etika normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Etika normatif juga bisa mempersoalkan apakah norma itu benar atau tidak.

Metaetika adalah kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan dengan baik atau buruk.

Hakikat Etika Filosofis adalah dasar ilmu yang menanamkan tentang sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian. Jadi, berbeda hakikat filosofisnya lebih ke cabang filsafat untuk penilaian akan suatu perilaku.

Trs: tugas 1: etika I



Pada Minggu, 21 September 2014 18:54, Sarah Meida <sarah.meidaa@yahoo.co.id> menulis:


Sarah Meida Pratiwi
KPI 5 E
1112051000160         
 
ETIKA DAN MORAL
            Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berati watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin, yaitu mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berati juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral hampir sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan. Moral digunakan untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
AMORAL DAN IMMORAL
            Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut kamus Bahasa Indonesia, tidak bermoral berati tidak berakhlak, sedangkan dalam sudut pandang bahasa latin, netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis. Immoral menurut Concise Oxford Dictionary adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis.
ETIKA DAN ETIKET
            Istilah etiket berasal dari etiquette (Prancis) yang berati undangan, yang lazim dipakai raja-raja Prancis saat mengadakan pesta. Definisi etiket, menurut pakar ada beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan tatacara dan sikat baik dalam pergaulan antarmanusia beradab. Perbedaanya dengan etika yaitu, etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya. Lalu etiket menetapkan cara untuk melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang diharapkan. Etika adalah nurani (batiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
MORALITAS           
            Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideology atau gabungan dari beberapa sumber.
SUBYEKTIF
            Subyektif adalah lebih kepada keadaan seseorang berpikiran relative, hasil dari menduga-duga, berdasarkan perasaan atau selera orang. Sedangkan objektif adalah sikap yang lebih pasti, bisa diyakini keabsahannya, tapi juga melibatkan perkiraan dan asumsi.
PERBEDAAN ETIKA DESKRIPTIF, ETIKA NORMATIF DAN META-ETIKA         
            Etika deskriptif adalah etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya, etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta apa adanya, yakini mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai fakta yang terkait dengan situai dan realitas yang membudaya.
            Etika normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi, etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuia dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.
            MetaEtika atau etika analisis tidak berkaitan fakta-fakta empiris atau historis, dan juga tidak melakukan penilaian evaluasi atau normatif. Meta-Etika lebih suka mengkaji persoalan-persoalan etika, seperti pertanyaan: apa makna dari penggunaan ungkapan "benar" atau "salah"?. Merupakan etika yang berusaha memberikan arti istilah dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk membenarkan penyataan-pernyataan etika.


Nurlaila_PMI 5_Tugas 1

Nama : Nurlaila
NIM : 1112054000027
Jurusan : PMI 5
 
A.     DEFINISI DEMOGRAFI
Pengertian tentang demografi berkembang seiring dengan perkembangan keadaan penduduk serta penggunaan statistik kependudukan yang dialami oleh para penulis kependudukan pada zamannya. Berikut beberapa contoh tentang perkembangan pengertian demografi.
·         Johan Sussmilch (1762, dalam Iskandar, 1994) berpendapat bahwa demografi adalah ilmu yang memepelajari hukum Tuhan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pada umat manusia yang terlihat dari jumlah kelahiran, kematian, dan pertumbuhannya.
·         Achille Guillard (1855) memberikan definisi demografi debagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur, yaitu meliputi perubahan secara umum, fisisknya, peradabannya, intelektualitasnya, dan kondisi moralnya.
·         David V. Glass (1953) menekankan bahwa demografi terbatas pada studi penduduk sebagai akibat pengaruh dari proses demografi, yaitu fertilitas, moralitas, dan migrasi.
 
Dengan mengacu kepada definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara metematis dan statisktik dari data penduduk terutama mengenai perubahan jumlah, persebaran, dan komposisi/strukturnya.
B.     SEJARAH PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA
Pembahasan transisi demografi tidak terlepas dari persoalan pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, perlu kiranya mengetahui persoalan penduduk dan sejarah pertumbuhannya. Pada permulaan tahun Masehi, 1 AD, jumlah penduduk dunia diperkirakan masih sekitar 250.000.000 jiwa dengan angka pertumbuhan sekitar 0,04% per tahun. Pada abad berikutnya, kemajuan teknologi di Eropa dan di beberapa belahan dunia lain mulai memperlihatkan dampaknya. Penemuan obat-obatan (seperti penisilin) dan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan amat mengurangi berbagai penyakit.
Selain itu, penemuan alat transportasi berdampak pada perluasan perdagangan yang membuat persediaan bahan pangan lebih mudah didapat dan pada gilirannya memperbaiki nutrisi penduduk. Tingkat kematian yang tinggi pada abad sebelumnya mulai menurun dan angka harapan hidup mulai meningkat secara perlahan-lahan. Terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang cukup tajam ini menandai masuknya era modern dari sejarah demografi yang dinyatakan sebagai transisi demografi tahap kedua. Perubahan prilaku masyarakat agraris ke masyarakat modern bersamaan dengan terjadinya industrialisasi dan urbanisasi dianggap mempunyai dampak pada perubahan prilaku demografi.
Di negara-negara maju, tahap transisi demografi yang terjadi pada abad ke-20 mempunyai titik kematangannya, yang ditandai dengan terjadinya penurunan angka kelahiran dan kematian sampai pada titik terendah. Pada masa setelah Perang Dunia II, angka pertumbuhan penduduk di negara-negara tersebut telah menunjukan tanda-tanda mencapai di bawah angka satu persen.Bahkan pada priode 1995-2000, angka pertumbuhan penduduk rata-rata untuk beberapa negara maju, seperti Swedia, Prancis, dan Jepang mencapai angka yng sangat rendah, masing-masing sebesar 0,11 %, 0,37% dan 0,25% per tahun.
C.     TEORI TRANSISI DEMOGRAFI
Istilah transisi demografi pada dasarnya dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama perubahan penduduk, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (mobilitas/migrasi). Akan tetapi, konsep transisi demografi yang dikenal secara umum hanya memperlihatkan perubahan pertumbuhan penduduk secara alamiah, yaitu faktor kelahiran dan kematian.
Dari berbagai literature dapat disarikan bahwa transisi demografi dibedakan atas 4 tahapan. Tahapan-tahapan tersebut didasarkan atas pengalaman perubahan pola fertilitas dan mortalitas yang terjadi di beberapa negara di Eropa pada masa lampau.
1.      Tahap I (Pre-industrial)
Perubahan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, sekitar 40-50 per 1.000 penduduk. Jumlah kelahiran dan kematian yang sangat tinggi ini tidak terkendali setiap tahunnya.
2.      Tahap II (Early Industrial)
Angka kematian menurun dengan tajam akibat revolusi industri serta kemajuan teknologi dan juga mulai ditemukannya obat-obatan, terutama antibiotik pensilin. Sementara itu, angka kelahiran menurun amat lambat dan masih tetap tinggi, yang disebabkan karena kepercayaan atau pandangan mengenai jumlah anak banyak lebih menguntungkan.
3.      Tahap III (Industrial)
Angka kematian terus menurun dengan kecepatan yang melambat. Di pihak lain, angka kelahiran mulai menurun dengan tajam sebagai akibat dari perubahan perilaku melahirkan dan tersedianya alat / cara kontrasepsi serta adanya peningkatn pendidikan dan kesehatan masyarakat.
4.      Tahap IV (Mature Indutrial)
Angka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertumnuhan penduduk yang rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang maju.
 
Oleh karena erat kaitannya dengan variabel vital (fertilitas dan mortalitas), konsep transisi demografi seiring pula disebut sebagai transisi vital (transisi fertilitas dan transisi mortalitas). Secara lebih spesifik, Coale (1973) menggambarkan transisi fertilitas dalam bentuk penurunan angka kelahiran total, dari tingkat fertilitas yang tinggi sampai kepada tingkat fertilitas yang rendah, atau mencapai tahap penggantian penduduk, yakni apabila angka reproduksi neto sama dengan 1. Di sebagian besar negara-negara berkembang, di mana data kematian orang dewasa tidak banyak tersedia, angka kematian bayi menjadi indikator utama dalam menentukan tingkat transisi mortalitas.

Cari Blog Ini