Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Senin, 22 September 2014
Etika dan moral, amoral dan immoral, etika dan etiket, moralitas, subyektif, membedakan antara etika deskriptif, etika normative, dan metaetika, hakekat etika filosofis.
jamillah_pmi3_tugas2_urbanisasi dan budaya perkotaan
A. Urbanisasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dengan demikian urbanisasi adalah suatu proses dengan tanda-tanda sebagai berikut:
1. Terjadinya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota;
2. Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja non agraria di sector tersier(jasa)
3. Tumbuhnya pemukiman menjadi kota
4. Meluasnya pengaruh kota di daerah pedesaan mengenai segi ekonomi,social,kebudayaan,dan psikologis
B. Sebab-Sebab terjadinya Urbanisasi
Pada dasarnya ada 3 hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi :
1.Adanya pertambahan penduduk secara alamiyah
2.Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3.Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai perkembangan kota yang sangat pesat di berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja
Faktor-faktor pendorong (push factors) adalah factor-faktor yang ada pada masyarakat pedesaan sendiri mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah tempat kediamannya. Sedangkan factor-faktor penarik (pull factors) adalah faktor-faktor yang ada di perkotaan dan mampu menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap di perkotaan.
C. Akibat-Akibat Urbanisasi
Hubungan antara desa dan kota bersifat timbal balik dalam arti baik desa maupun kota keduanya pengaruh mempengaruhi. Selanjutnya proses urbanisasiakan menimbulkan akibat lebih jauh lagi , antara lain:
1.Terbentuknya suburb (tempat-tempat pemukiman baru di pinggiran kota,akibat perluasan kota).
2.Makin meningkatnya tuna karya,
3.pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan.
kota merubah atau mempengaruhi desa melalui beberapa cara, seperti:
(i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam;
(ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan;
(iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi;
(iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota.
chairul bahri_PMI3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Apa itu urbanisasi? Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota atau dan kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban.Timbulnya perpindahan penduduk dan desa ke kota disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dari desa dan faktor penarik dari kota. Kota-kota di Indonesia yang menjadi tujuan sebagian besar urbanisasi, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Semarang. Proses urbanibasi dapat menyangkut dua aspek. yaitu berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota dan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah gejala sosial yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Penyebab urbanisasi atau perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan terjadi karena adanya daya tarik (pull factors) dari perkotaan dan daya dorong (push factors) dari perdesaan. Faktor Pendorong dari Desa:
• Faktor pendorong dan desa yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai beriikut.
• Terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa.
• Tanah pertanian di desa banyak yang sudah tidak subur atau mengalami kekeringan.
• Kehidupan pedesaan lebih monoton (tetap/tidak berubah) daripada perkotaan.
• Fasilitas kehidupan kurang tersedia dan tidak memadai.
• Upah kerja di desa rendah.
• Timbulnya bencana desa, seperti banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dan wabah penyakit.
Faktor Penarik dari Kota
• Faktor penarik dan kota yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai berikut.
• Kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan di desa.
• Upah kerja tinggi.
• Tersedia beragam fasilitas kehidupan, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat perbelanjaan.
• Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Terjadinya urbanisasi membawa dampak positil dan negatif, baik bagi desa yang ditinggalkan, maupun bagi kota yang dihuni. Dampak positif urbanisasi bagi desa (daerah asal) sebagai berikut.
• Meningkatnya kesejahteraan penduduk melalui kiriman uang dan hasil pekerjaan di kota.
• Mendorong pembangunan desa karena penduduk telah mengetahui kemajuan dikota.
• Bagi desa yang padat penduduknya, urbanisasi dapat mengurangi jumlah penduduk.
• Mengurangi jumlah pengangguran di pedesaan.
Adapun dampak negatif urbanisasi bagi desa sebagai berikut:
• Desa kekurangan tenaga kerja untuk mengolah pertanian.
• Perilaku yang tidak sesuai dengan norma setempat sering ditularkan dan kehidupan kota.
• Desa banyak kehilangan penduduk yang berkualitas.
Dampak Urbanisasi bagi Kota terdiri dari dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
• Kota dapat memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja.
• Semakin banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas.
Dampak negatif urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
• Timbulnya pengangguran.
• Munculnya tunawisma dan gubuk-gubuk liar di tengah-tengah kota.
• Meningkatnya kemacetan lalu lintas.
• Meningkatnya kejahatan, pelacuran, perjudian, dan bentuk masalah sosial lainnya.
Ada beberapa ciri yamg menonjol pada kebudayaan masyarakat di perkotaan.yaitu:
• a) Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
• b) Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain.
• c) Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
• d) Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa.
• e) Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan,menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
• f) Perubahan-perubahan social tampak dengan nyata di kota-kota,sebab masyarakat kota biasanya lebih terbuka dalam menerima hal-hal baru.
Referensi:
• Utoyo, Bambang. 2006. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII SMA/MA Program IPS. Bandung: Setia Purna Inves.
rosa juni andri_PMI3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Urbanisasi Dan Budaya Perkotaan
a. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota atau dan kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban.Timbulnya perpindahan penduduk dan desa ke kota disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dari desa dan faktor penarik dari kota
b. Sebab-sebab timbulnya urbanisasi :
1.Adanya pertambahan penduduk secara alamiyah
2.Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3.Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai perkembangan kota yang sangat pesat di berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja.
c. Akibat-Akibat Urbanisasi
Hubungan antara desa dan kota bersifat timbal balik dalam arti baik desa maupun kota keduanya pengaruh mempengaruhi. Selanjutnya proses urbanisasiakan menimbulkan akibat lebih jauh lagi , antara lain:
1.Terbentuknya suburb (tempat-tempat pemukiman baru di pinggiran kota,akibat perluasan kota).
2.Makin meningkatnya tuna karya,
3.pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan.
Seperti dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat In¬donesia lebih dari 80% tinggal di pedesaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris .Masyarakat pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang adem ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah dari segala kesibukan, keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir.
Maka tidak jarang orang kota melepaskan segala kelelahan dan kekusutan pikir tersebut pergilah mereka ke luar kota, karena merupakan tempat yang adem ayem, penuh ketenangan. Tetapi sebetulnya ketenangan masyarakat pedesaan itu hanyalah terbawa oleh sifat masyarakat itu yang oleh Ferdinand Tonies diistilahkan dengan masyarakat gemeinschaft (paguyuban).
Tetapi sebenarnya di dalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala, khususnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan sosial.
Jadi pemerintah diharapkan lebih memperhatikan pembangunan di pedesaan, kerena pembangunan yang tidak merata menyebabkan masyarakat pedesaan melakukan urbanisasi. Dengan pembangunan yang merata di harapkan dapat mengurangi urbanisasi dari desa yang terus meningkat. Dengan berkurangnya urbanisasi perkotaan tidak akan semeraut seperti sekarang ini.
M Fahmi_pmi 3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Urbanisasi Dan Budaya Perkotaan
a. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota atau dan kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban.Timbulnya perpindahan penduduk dan desa ke kota disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dari desa dan faktor penarik dari kota
b. Sebab-sebab timbulnya urbanisasi :
1.Adanya pertambahan penduduk secara alamiyah
2.Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3.Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai perkembangan kota yang sangat pesat di berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja.
c. Akibat-Akibat Urbanisasi
Hubungan antara desa dan kota bersifat timbal balik dalam arti baik desa maupun kota keduanya pengaruh mempengaruhi. Selanjutnya proses urbanisasiakan menimbulkan akibat lebih jauh lagi , antara lain:
1.Terbentuknya suburb (tempat-tempat pemukiman baru di pinggiran kota,akibat perluasan kota).
2.Makin meningkatnya tuna karya,
3.pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan.
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan di daerah bintaro sector 5 gapura banyak sekali masyarakat dari pedesaan yang menetap di sana. Padahal dulu di bintaro ini di huni oleh penduduk asli, tetapi karena banyaknya pendatang mereka mulai tersingkirkan dan menghilang sedikit demi sedikit.
Seperti dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat In¬donesia lebih dari 80% tinggal di pedesaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris .Masyarakat pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang adem ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah dari segala kesibukan, keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir.
Maka tidak jarang orang kota melepaskan segala kelelahan dan kekusutan pikir tersebut pergilah mereka ke luar kota, karena merupakan tempat yang adem ayem, penuh ketenangan. Tetapi sebetulnya ketenangan masyarakat pedesaan itu hanyalah terbawa oleh sifat masyarakat itu yang oleh Ferdinand Tonies diistilahkan dengan masyarakat gemeinschaft (paguyuban).
Tetapi sebenarnya di dalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala, khususnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan sosial.
Jadi pemerintah diharapkan lebih memperhatikan pembangunan di pedesaan, kerena pembangunan yang tidak merata menyebabkan masyarakat pedesaan melakukan urbanisasi. Dengan pembangunan yang merata di harapkan dapat mengurangi urbanisasi dari desa yang terus meningkat. Dengan berkurangnya urbanisasi perkotaan tidak akan semeraut seperti sekarang ini.
sarah fauziah audina_PMI3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Urbanisasi Dan Budaya Perkotaan
A. Urbanisasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dengan demikian urbanisasi adalah suatu proses dengan tanda-tanda sebagai berikut:
Terjadinya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota;
Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja non agraria di sector tersier(jasa)
Tumbuhnya pemukiman menjadi kota
Meluasnya pengaruh kota di daerah pedesaan mengenai segi ekonomi,social,kebudayaan,dan psikologis
B. Sebab-Sebab terjadinya Urbanisasi
Pada dasarnya ada 3 hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi :
1.Adanya pertambahan penduduk secara alamiyah
2.Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3.Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai perkembangan kota yang sangat pesat di berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja
Faktor-faktor pendorong (push factors) adalah factor-faktor yang ada pada masyarakat pedesaan sendiri mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah tempat kediamannya. Sedangkan factor-faktor penarik (pull factors) adalah faktor-faktor yang ada di perkotaan dan mampu menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap di perkotaan.
C. Akibat-Akibat Urbanisasi
Hubungan antara desa dan kota bersifat timbal balik dalam arti baik desa maupun kota keduanya pengaruh mempengaruhi. Selanjutnya proses urbanisasiakan menimbulkan akibat lebih jauh lagi , antara lain:
1.Terbentuknya suburb (tempat-tempat pemukiman baru di pinggiran kota,akibat perluasan kota).
2.Makin meningkatnya tuna karya,
3.pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan.
kota merubah atau mempengaruhi desa melalui beberapa cara, seperti:
(i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam;
(ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan;
(iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi;
(iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota.
Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Berdasarkan penelitian yang saya lakukan di daerah Kemayoran, Kelurahan Kebon Kosong, kecamatan Kemayoran Gempol Jakarta pusat. Di daerah kemayoran ini dulu nya banyak masyarakat asli yang tinggal di sini, namun sekarang penduduk asli sudah mulai tersingkirkan dengan adanya para pendatang dari kampung yang menetap di sana. Hal ini sesuai dengan teori durkheim bahwa yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi secara masal dan menyeluruh adalah faktor stuktural. Durkheim mengatakan bahwa proses pembangunan yang dilakukan negara hanya terpusat di kota.
Padahal jika wilayah pedesaan juga mendapat perhatian dalam pembangunan supastruktur maupun infrastruktur mereka tidak melakukan urbanisasi massal seperti ini. Dengan tidak pemerataan pembangunan maka masyarakat desa melakukan perpindahan dari desa ke kota untuk memenuhi keinginannya.
Jadi diharapkan pemerintah Indonesia bisa melakukan pembangunan dengan merata sehingga masyarakat pedasaan tidak pindah ke kota. Sehingga terciptanya keseimbangan antara kota dan desa dan tidak meningkatnya arus urbanisasi yang lebih besar.
abdulrahman_PMI3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Nama : Abdul Rahman
NIM : 1113054000030
Jurusan : PMI3
Sosiologi Perkotaan: Urbanisasi dan Budaya Perkotaan
Sosiologi perkotaan sendiri diartikan sebagai studi tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah perkotaan yang mencakup struktur, proses perubahan, masalah yang muncul adalah urbanisasi, tata ruang, pola kebijakan dll. Salah satu kajian yang akan dibahas dalam mempelajari Sosiologi perkotaan adalah urbanisasi.
Urbanisasi merupakan perpindahan masyarakat dari desa ke kota. Orang-orang yang datang kekota dianggap sebagai penambah jumlah penggangguran, perusak lingkungan, penambah suasana semrawut, pendorong meningkatnya kejahatan dan macam2 persoalan lainnya. Di sisi lain mereka pun dianggap sebagai penghambat kegiatan pembanguna di desa, penyebab kurangnya tenaga kerja dalam sektor pertanian, pembawa ulah kenakalan remaja desa dan sebagainya.
Sebenarnya yang harus dipersalahkan bukanlah urbanisasi , karna urbanisasi merupakan konsekuensi logis perkembangan kota yang mebuat orang desa tertarik untuk mendatanginya. Yang kiranya harus kita pertanyakan adalah : mengapa orang-orang desa mengalir ke kota sehingga angka urban meningkat ? itu sekilas kutipan dari H.Asep djaja saefulloh dalam majalah prisma 10 oktober 1995. Jakarta Bandung Surabaya dll adalah contoh kota metropolitan yang ada diindonesia, akan tetapi dari kota tersebut banyak persoalan yang terjadi ketika dikaitkan dengan urban ini sendiri. Misalanya pasar modern hampir tidak ada didaerah desa apalagi daerah perbatasan sendiri. Mengapa demikian karna dalam teori webber dikemukakan bahwa suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi, disini kita bisa lihat bahwa faktor yang mendasar adalah belum meratanya pembangunan yang terjadi Indonesia, maka jangan pernah mencemooh kaum urban yang ada dikota.
Dikota identik material dan didesa sangat kental dengan rohani contoh masalah adalah saat kita hadapi para pekerja yang ada di kota hanya memikirkan bekerja dan hasil pekerjaannya yang berupa materi berbeda dengan didesa para petani bekerja dengan rohani karna memegang teguh hal agamisnya. Hal ini sama dengan teori Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai persekutuan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat–alat yang diperlukan agar anggota masing-masing dapat mempertahankan diri. Perbedaan antara kota dan pedesaan menurut mereka adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi.
Menurut Durkheim, transisi sosial akan mempengaruhi kohesi sosial atau yang oleh Durkheim sendiri disebutnya sebagai solidaritas sosial. Kita bisa saksikan ketika kita berada dikota dan didesa perbedaannya adalah di kota (komplek) banyak yang tidak mengenal dengan tetangganya sendiri berbeda dengan di desa yang mengenalnya. Hal ini hanya sepele akan tetapi kita tidak boleh mengabaikkan tetangga kita sendiri karna manusia adalah makhluk sosial.
Aditiya Awaludin_PMI 3_Tugas 2_Urbanisasi dan perkotaan di Indonesia
Durkheim berpikir bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat, suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Dari teori durkheim diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat ingin mempertahankan integritas dan taraf hidup mereka, seperti contohnya masyarakat desa yang ingin memperbaiki perekonomiannya di kota, hal inilah yang memicu tingkat urbanisasi tiap tahunnya selalu meningkat
Urbanisasi merupakan fenomena yang biasa terjadi di sebuah negara, khususnya negara-negara berkemabang seperti Indonesia. Urbanisasi terjadi akibat adanya faktor-faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan masyarakat melakukan perpindahan ke daerah lain. Faktor yang dominan adalah masalah ekonomi. Dengan alasan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat berpindah dari satu daerah ke daerah lain yang dianggap mampu menyediakan sumber-sumber perekonomian yang baik. Hal ini biasanya terjadi pada masyarakat desa yang melakukan migrasi ke perkotaan, khususnya adalah kota-kota besar yang dalam bayangan mereka mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang luas dan beragam, dan tentunya dengan harapan untuk penghasilan yang lebih baik secara ekonomi. Anggapan mereka tidak keliru, karena kenyataannya kota-kota besar memang menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak dan beragam. Namun demikian menjadi keliru jika mereka masih menganggap mudah untuk mengakses ragam pekerjaan yang disediakan oleh kota-kota besar, terlebih lagi pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Tentu saja mereka tidak akan mempertimbangkan hal ini, dan pada akhirnya merekapun melakukan migrasi besar-besaran dengan hanya bermodakan "nekat". Tidak ada modal keahlian maupun modal finansial yang mereka miliki sebagai langkah untuk bertahan di perkotaan dengan kehidupan yang serba modern, heterogen dan individualistis.
Di Indonesia, gejala urbanisasi mulai tampak menonjol sejak tahun 1970 -an, di saat pembangunan sedang digalakkan, ter utama di kota-kota besar. Beberapa faktor disinyalir menjadi pendorong meningkatnya arus urbanisasi, di antaranya: (1) perbedaan pertumbuhan dan ketidakmerataan fasilitas antara desa dengan kota dalam berbagai aspek kehidupan (2) semakin meluas dan membaiknya sarana dan prasarana transportasi, (3) pertumbuhan industri di kota-kota besar yang banyak membuka peluang kerja, (4) pembangunan pertanian, khususnya melalui paket program revolusi hijau. Tetapi pada umumnya faktor ekonomi dianggap sebagai faktor utama menjadi pendorong arus urbanisasi.
contoh kasus
Fakta dilapangan yang saya teliti, di kawasan ciputat, berhubung saya juga tinggal dikawasan ciputat dan asli warga ciputat. Banyaknya orang-orang desa yang mengadu nasibnya di jakarta tidak hanya jakarta, banyak juga orang-orang yang merantau dari desa mereka menuju ciputat. Ciputat memang bukan jakarta tetapi banyak warganya itu adalah hasil urbanisasi.
Dampaknya adalah kemacetan sepanjang jalan ciputat yang biasa terjadi di pagi dan sore hari, karen padatnya kendaraan dari arah ciputat menuju jakarta, karena ciputat adalah jalur utama menuju kota jakarta, Dan mungkin diantara pengguna kendaraan tersebut bukanlah warga asli ciputat. Masalah kedua adalah banyaknya gepeng yang berkeliaran di bawah fly over ciputat, sebagian dari mereka adalah warga desa yang tidak mampu bersaing di perkotaan.
Padahal jika wilayah pedesaan juga mendapat perhatian dalam pembangunan infrastruktur mereka tidak akan melakukan urbanisasi. Dengan tidak pemerataan pembangunan maka masyarakat desa melakukan perpindahan dari desa ke kota untuk memenuhi keinginannya.
TUGAS 1 ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Nama : Apik Sopankatanya
NIM : 1112051000162
Kelas : KPI/ V/E
I. Etika dan Moral
Etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" dalam bentuk tunggal, atau "etha" dalam bentuk jamak atau plural. Poerwadarminta (1953) menyimpulkan bahwa etika adalah sama dengan akhlak, yaitu pemahaman tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta pemahaman tentang hak dan kewajiban orang. Etika sebagai kajian ilmu membahas tentang moralitas atau tentang manusia terkait dengan perilakunya terhadap manusia lain dan sesama manusia.[1] Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin "mores".[2] Tentang kata moral bahwa etimologinya sama dengan etika sekalipun asalnya berbeda, perlu diperhatikan bahwa kata ini bisa dipakai sebagai nomina (kata benda) atau sebagai adjektiva (kata sifat).[3] Kita misalnya mengatakan "perbuatan manusia ini tidak bermoral". Dengan itu dimaksud bahwa kita menggangap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma etis yang berlaku dalam masyarakat.
II. Amoral dan Immoral
Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral diterangkan sebagai "unconcerned with,out of the sphere of moral,non-moral". Jadi artinya adalah tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar etis, non-moral. Dalam kamus yang sama, immoral dijelaskan sebagai "opposed to morality;morality evil". Jadi kata Inggris immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik.[4]
III. Etika dan Etiket
Seperti yang dijelaskan di atas etika adalah sama dengan akhlak, yaitu pemahaman tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta pemahaman tentang hak dan kewajiban orang. Sedangkan etiket sesuatu cara atau ketentuan yang dilakukan atau tidak lakukan oleh suatu anggota masyarakat tertentu, dimana cara atau ketentuan tersebut ditentukan oleh kelompok masyarakat tertentu tersebut. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, dan bersifat relative. Suatu etiket yang digunakan oleh suatu kelompok, mungkin saja tidak sesuai dengan kelompok lain. Perbedaan etika dan etiket dapat dilihat dari contoh berikut ini : mencuri atau mengambil milik orang lain atau berdusta adalah domain dari etika. Karena pada masyarakat dimana pun juga, mencuri dan berdusta adalah tidak etis bagi orang yang melakukan (bersifat universal). Dan contoh etiket, yaitu bersalaman dengan tangan kanan, atau menyatakan setuju dengan mengangguk. Aturan tersebut tidak bersifat universal dan berlaku bagi beberapa kelompok saja.
IV. Etika Deskriptif, Etika Normatif dan Meta Etika
Etika sebagai ilmu tingkah laku atis atau moral mempunyai berbagai cara pendekatan atau cara mempelajarinya. Dengan kata lain ada berbagai pendekatan etika, yaitu : [5]
1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif adalah suatu kajian etika yang bertujuan untuk menggambarkan tingkah laku moral dalam arti luas: tentang baik dan buruk, tentang tindakan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan kelompok masyarakat, atau komunitas tanpa memberikan penilaian.
2. Etika Normatif
Etika normative bukan hanya menggambarkan etika dari masing-masing kelompok komunitas, tetapi memberikan penilaian terhadap etika-etika yang berlaku (dengan sendirinya menggunakan kriteria etis dan tidak etis), sehingga menentukan benar atau etis , tidak benar atau tidak etis.
3. MetaEtika
Cara lain untuk mempraktikan etika sebagai ilmu adalah metaetika. Dapat dikatakan metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-uacapan kita dibidang moralitas.
[1] Prof.Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Etika & Hukum Kesehatan, (Jakarta: Rineka Cipta,2010),hlm.1
[2] Drs.Sudarsono,S.H. M.Si, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,(Jakarta: Rineka Cipta,2001),hlm.188
[3] K.Bertens, Etika, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993),hlm.7
[4] K.Bertens, Etika, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993),hlm.8
[5] Prof.Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Etika & Hukum Kesehatan, (Jakarta: Rineka Cipta,2010),hlm.11
Ajeng dwi rahma putri_tugas 2_PMI 3_Urbanisasi dan budaya perkotaan
Pengertian, Penyebab, Dampak Urbanisasi Apa itu urbanisasi? Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota atau dan kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban.Timbulnya perpindahan penduduk dan desa ke kota disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dari desa dan faktor penarik dari kota. Kota-kota di Indonesia yang menjadi tujuan sebagian besar urbanisasi, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Semarang. Proses urbanibasi dapat menyangkut dua aspek. yaitu berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota dan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah gejala sosial yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Penyebab urbanisasi atau perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan terjadi karena adanya daya tarik (pull factors) dari perkotaan dan daya dorong (push factors) dari perdesaan. Faktor Pendorong dari Desa:
• Faktor pendorong dan desa yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai beriikut.
• Terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa.
• Tanah pertanian di desa banyak yang sudah tidak subur atau mengalami kekeringan.
• Kehidupan pedesaan lebih monoton (tetap/tidak berubah) daripada perkotaan.
• Fasilitas kehidupan kurang tersedia dan tidak memadai.
• Upah kerja di desa rendah.
• Timbulnya bencana desa, seperti banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dan wabah penyakit.
Faktor Penarik dari Kota
• Faktor penarik dan kota yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai berikut.
• Kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan di desa.
• Upah kerja tinggi.
• Tersedia beragam fasilitas kehidupan, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat perbelanjaan.
• Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Terjadinya urbanisasi membawa dampak positil dan negatif, baik bagi desa yang ditinggalkan, maupun bagi kota yang dihuni. Dampak positif urbanisasi bagi desa (daerah asal) sebagai berikut.
• Meningkatnya kesejahteraan penduduk melalui kiriman uang dan hasil pekerjaan di kota.
• Mendorong pembangunan desa karena penduduk telah mengetahui kemajuan dikota.
• Bagi desa yang padat penduduknya, urbanisasi dapat mengurangi jumlah penduduk.
• Mengurangi jumlah pengangguran di pedesaan.
Adapun dampak negatif urbanisasi bagi desa sebagai berikut:
• Desa kekurangan tenaga kerja untuk mengolah pertanian.
• Perilaku yang tidak sesuai dengan norma setempat sering ditularkan dan kehidupan kota.
• Desa banyak kehilangan penduduk yang berkualitas.
Dampak Urbanisasi bagi Kota terdiri dari dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
• Kota dapat memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja.
• Semakin banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas.
Dampak negatif urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
• Timbulnya pengangguran.
• Munculnya tunawisma dan gubuk-gubuk liar di tengah-tengah kota.
• Meningkatnya kemacetan lalu lintas.
• Meningkatnya kejahatan, pelacuran, perjudian, dan bentuk masalah sosial lainnya.
Ada beberapa ciri yamg menonjol pada kebudayaan masyarakat di perkotaan.yaitu:
• a) Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
• b) Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain.
• c) Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
• d) Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa.
• e) Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan,menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
• f) Perubahan-perubahan social tampak dengan nyata di kota-kota,sebab masyarakat kota biasanya lebih terbuka dalam menerima hal-hal baru.
Referensi:
• Utoyo, Bambang. 2006. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII SMA/MA Program IPS. Bandung: Setia Purna Inves.
Tugas etika 1
Savinatun Naja
1112051000120
KPI 5D
ETIKA DAN MORAL
Dari segi etimologi etika berasal dari kata Latin "Ethicos" yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurutpengertian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah, bahwa etika adalah suatu ilmu yang mebicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.
Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak).
Moral adalah kepahaman atau pengertian mengenai hal yang baik dan hal yang tidak baik. Sedangkan etika adalah tingkah laku manusia, baik mental maupun fisik mengenai hal-hal yang sesuai dengan moral itu.
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non-moral.
Immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis.
ETIKA DAN ETIKET
Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
MORALITAS
Moralitas berasal dari kata dasar "moral" berasal dari kata "mos" yang berarti kebiasaan. Kata "mores" yang berarti kesusilaan, dari "mos", "mores". Moralitas yang secara dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat.
SUBYEKTIF
Mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya.
ETIKA DESKRIPTIF
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya, adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif hanya melukiskan dan tidak memberi penilaian.
ETIKA NORMATIF
Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Etika normatif mendasarkan pendiriannya atas norma.
METAETIKA
Yang dipelajari dalam ilmu metaetika bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Dapat dikatakan pula, metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS
Etika tidak membatasi diri sebagai ilmu yang empiris, yang berjalan dengan gejala konkret. Etika juga melampaui yang konkret, untuk bertanya ada apa di balik gejala konkret tersebut. Ia bertanya apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Ia bertanya apakah suatu perbuatan dapat dibenarkan atau tidak. Sebagai filsafat, etika adalah filsafat yang membatasi diri pada pertanyaan " apa itu moral?" dan pertanyaan "apa yang harus dilakukan oleh manusia?". Oleh karena itu, etika sering disebut sebagai filsafat praktis. Praktis karena langsung berhubungan dengan perilaku manusia. Praktis di sini bukan berarti etika adalah buku siap pakai. Bidangnya bukan teknis melainkan reflektif. Etika menganalisis tema seperti : hati nurani, kebebasan, tanggungjawab, nilai, norma, kewajiban, keutamaan, dll. Etika bergerak di bidang intelektual, tetapi objeknya langsung berkaitan dengan praktek hidup kita.
Teori tindakan rasional nilai
Teori tindakan rasional nilai memiliki sifat bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut.
Dalam permasalahan ini saya mengaitkan dengan teori tindakan rasional nilai milik Marx Webber sebab teori merupakan teori yang menitik beratkan pertimbangan dan perhitungan yang sadar.
Teori struktural
Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern.
Durkheim berpikir bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat, suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Teori fungsionalisme yang menekankan kepada keteraturan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain, dengan kata lain masyarakat senantiasa berada dalam keadaan berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa dan setiap struktur yang ada, fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula semua institusi yang ada diperlukan oleh sistem sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat dari kondisi dinamika dalam keseimbangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya jika tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.
Teori kelas Maxisme
Bertumpu pada pemikiran bahwa sejarah dari masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas. Dengan kata lain, teori kelas berpraanggapan bahwa pelaku utama dalam masyarakat adalah kelas-kelas sosial. Misalnya saja keterasingan manusia adalah hasil penindasan suatu kelas oleh kelas lainnya. Teori yang dikemukakan oleh Karl Marx ini bukanlah teori yang eksplisit, melainkan sebuah latar belakang uraian Marx tentang hukum perkembangan sejarah, kapitalisme dan sosialisme. Dalam teori ini, Marx membedakan masyarakat berdasarkan mode produksi (teknologi dan pembagian kerja). Dari masing-masing mode produksi tersebut lahir sistem kelas yang berbeda dimana suatu kelas mengontrol sistem produksi (kelas pemilik modal) dan kelas yang lain merupakan produsen langsung serta penyedia layanan untuk kelas dominan (kelas buruh). Faktor ekonomi inilah yang akhirnya mengatur hubungan sosial pada masyarakat kapitalisme.
Wilayah Cempaka Putih terletak di kota Tanggerang Selatan, wilayah ini merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Daerah khusus Ibu Kota Jakarta. Hal inilah yang membuat para kaum urban banyak menempati wilayah ini, hal itu dikarenakan daerah kukusan cukup padat dan banyak para urban memlih tinggal karena banyak akses pekerjaan diwilayah ini. Selain itu Tanggerang juga dikenal sebagai daerah penyokong ibu kota Jakarta sama halnya seperti Bekasi dan Bogor.
Diwilayah Cempaka Putih ini banyak sekali kaum urban yang berasal dari pulau Jawa, diantaranya dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seperti yang kita ketahui suku Jawa merupakan suku yang sangat cepat membaur dan akrab dengan lingkungan tempat dimana mereka tinggal, hal itu dikarenakan sifat mereka yang cenderung bersahabat, menyenangkan dan legowo. Sehingga hampir disetiap wilayah di Indonesia terdapat kaum urban yang berasal dari tanah Jawa. Khusus di wilayah ini kaum urban yang menetap mayoritas berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kebanyakan hijrah meninggalkan kampung halaman dari mulai awal tahun 90-an, ketika saya tanyakan apa motif dan tujuan mereka meninggalkan kampung dan lebih memilih hijrah ke kota besar, mereka menjawab kota lebih menjanjikan masa depan yang lebih baik ketimbang desa, di kota menurut mereka pekerjaan jauh lebih melimpah. Dari salah satu narasumber yang wawancara beliau akrab dipanggil Pak Andri dan sudah meninggalkan pekalongan kampong halamannya sejak tahun 1995, beliau berkata bahwa hidup dikota ternyata tidak semanis apa yang dianggapnya dahulu ketika semasih hidup didesa, hidup dikota ternyata dituntut untuk menjadi pribadi yang serba bisa dan serba siap melakukan apapun. Menurutnya jika kekota hanya dengan bekal nekat saja maka yang didapat hanyalah kesedhian dan penyeselan yang tiada akhir. Beliau sendiri yang sudah hidup hampir 20 tahun dikota hanya memiliki usaha warung sembako dirumahnya dan usahanya itu harus dapat mencukupi kebutuhan 3 anaknya dan 1 orang istrinya.
Bila saya amati kehidupan antar sesama kaum urban dikota-kota besar seperti Jakarta ini mereka cenderung harmonis khususnya di lingkungan kampong kukusan, depok jawa barat ini. Suasana kekeluargaan yang kental sangat terasa di kampung ini, tidak pernah ditemui kecekcokan antar sesama warga baik yang satu daerah maupun yang lain daerah, meskipun wilayah ini penduduk aslinya adalah warga keturunan betawi, tetapi ini bukan menjadi masalah bagi kaum urban yang berada di wilayah ini, mereka tanpa kesulitan berbaur dengan warga asli yang mendiami kampung itu, saling tenggang rasa dan menghormati satu sama lain merupakan kunci keakuran dari setiap elemen warga yang berada di kampung kukusan ini. Hal menarik juga terlihat di kampung ini meskipun penduduk nya beraneka ragan dan dari beraneka macam suku tetapi mereka tidak menonjolkan kebudayaan daerah mereka masing-masing, kebudayaan itu mengalami akulturasi sehingga timbul budaya-budaya baru yang terjadi akibat berbaurnya antara budaya dari setiap daerah asal mereka.
Taufik Abdullah (KPI 5 E) Etika dan Filsafat Komunikasi
Kelas : KPI 5/E
Tugas : ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Pengertian etika (etimologi) berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos
yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika
tersebut merupakan studi tentang "benar atau salah" dalam tingkah laku
atau perilaku manusia (right or wrong in human conduct). Menurut
Austin Fogothey, dalam bukunya Right and Reason Ethic (1953), etika
berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan tentang manusia dan
masyarakat sebagai antropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu
politik, dan hukum. Secara umum pengertian etika adalah hubungan
dengan perbuatan seseorang yang dapat menimbulkan penilaian dari pihak
lainnya akan baik-buruknya perbuatan yang bersangkutan.
Etika membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan
tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban kewajiban
manusia. Etika lebih condong ke arah ilmu tentang baik atau buruk.
Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode etik. Sedangkan
moral merupakan keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan dengan
baik buruk. Dua kaidah dasar moral adalah kaidah sikap baik dan kaidah
sikap keadilan.
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral yang dilakukan
seseorang karena kurangnya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum
cukup umur. Sedangkan, Immoral adalah tindakan tidak bermoral yang
dilakukan seseorang walaupunorang tersebut sudah tahu bahwa hal
tersebut memang salah dan tetap melakukannya.
Etika dan Etiket
Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang
atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukan cara yang
tepat dalam bertindak. Sementara itu etika memberikan norma tentang
perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan itu
bisa dilakukan antara ya atau tidak. Berdasarkan penggunaanya, etiket
hanya berlaku dalam pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku
ketika ada orang lain. Sementara itu etika tidak memperhatikan orang
lain ada atau tidak.
Moralitas
Menurut W. Poespoprojo, moralitas adalah kualitas dalam perbuatan
manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik
atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan
manusia. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan/atau
nilai yang berkenaan dengan baik buruk.
Subyektif
Menurut KBBI, subyektif berarti mengenai atau menurut pandangan
(perasaan sendiri), tidak langsung mengenai pokok atau halnya.
Subyektif bersifat relatif. Penilaian yang di ambil dari hasil
meduga-duga. Berdasarkan perasaan atau selera orang.
Membedakan antara: Etika deskriptif, Etika Normatif, dan MetaEtika.
Etika Deskriptif
Etika deskriptif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti
luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik atau buruk,
tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif
mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau
subkultur tertentu.
Etika Normatif
Etika normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat
mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara
lebih kritis. Etika normatif juga bisa mempersoalkan apakah norma itu
benar atau tidak.
MetaEtika
Metaetika merupakan kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan
etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji
secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan
dengan baik atau buruk.
Hakikat Etika Filosofis
Etika filosofis dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari
kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Etika
merupakan bagian dari filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat
dilepaskan dari filsafat.