Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Senin, 22 September 2014
Pak ini tugas makalah individual ke 1 saya, nama : DEWI UTARI, NIM : 1112051000134 KPI 5E
Nama : Mohammad Miqdad
Nim : 1112051000075
Definisi Etika, Moral, Moralitas, Etiket, immoral, dan ammoral
Dalam percakapan sehari-hari penggunaan istilah etika dengan etiket, moral dengan moralitas, dan immoral dengan ammoral sering sekali dicampur adukkan. Padahal istilah-istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda-beda.
1. Etika
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu "ta etha". Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
2. Moral, Moralitas, Immoral dan Ammoral
Sedangkan Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata 'moral' yaitu "mos" sedangkan bentuk jamaknya yaitu "mores" yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata 'etika', maka secara etimologis, kata 'etika' sama dengan kata 'moral' karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata 'moral' sama dengan kata 'etika', maka rumusan arti kata 'moral' adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu 'etika' dari bahasa Yunani dan 'moral' dari bahasa Latin.
Adapun Moralitas berasal dari kata sifat Latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan 'moral', hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang "moralitas suatu perbuatan", artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.
Kemudian selain ada istilah "moral", dan "moralitas" terdapat pula istilah "amoral" dan "immoral". Secara etimologis amoral berarti tidak berkaitan dengan moral. Misalnya ada yang mengatakan bahwa bisnis itu amoral, artinya bisnis tidak berkaitan dengan moral. Sedang immoral berarti bertentangan dengan moral.
3. Etika dan Etiket
Selain dikenal istilah etika juga dikenal istilah etiket. Ada persamaan dan perbedaan antara etika dan etiket. Persamaannya adalah bahwa etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kemudian kedua istilah ini juga mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya memberi norma bagi perilaku manusia, sehingga menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Adapun perbedaannya ada beberapa, diantaranya ialah bahwa:
a) Etiket menyangkut cara (tata acara) suatu perbuatan harus dilakukan manusia.
b) Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak seorang diri (ada orang lain di sekitar kita). Bila tidak ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada saksi mata,
c) Etiket bersifat relatif. Sedangkan Etika bersifat absolut. "Jangan mencuri", "Jangan membunuh" merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar.
d) Etiket memandang manusia dari segi lahiriah saja. Orang yang berpegang pada etiket bisa juga bersifat munafik.
Selanjutnya, Etika yang merupakan ilmu menyelidiki tentang tingkah laku moral dibagi atas tiga pendekatan, yaitu :
Ø Etika deskriptif
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Etika dsekriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau sub kultur yang tertentu dalam suatu periode sejarah dan sebagainya.
Ø Etika Normatif
Etika normative merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsung diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Etika normative itu tidak deskriptif melainkan preskriptif atau memerintah, tidak melukiskan melainkan menentukan besar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Secara singkat etika normative bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek. Etika normative dibagi menjadi dua yaitu :
- Etika umum memandang tema-tema umum seperti apa itu norma etis. Mengapa norma dan moral mengikuti kita. Dan apakah itu nilai. Tema-tema seperti itulah yang menjadi objek penyelidikan etika umum.
- Etika khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.
Ø Meta Etika
Dalam bahasa Yunani meta mempunyai arti "melebihi", "melampui". Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi dari pada perilaku etis, yaitu pada taraf "bahasa etis". Atau bahasa yang kita gunakan dalam bidang moral.
Setelah mempelajari tiga cara untuk mempraktekan etika. Kita bisa simpulkan bahwa dalam studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filsofis dan pendekatan filsofis. Pendekatan non filsofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filsofis bisa sebagai normative dan bisa juga sebagai mataetika atau etika analistis.
Daftar Pustaka
Tebba, Sudirman, etika media massa indonesia (jakarta: pustaka irVan 2008)
K. Bertens, Etika, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007).
Nama : Sholahul Imani El Azmi
NIM : 1112051000103
Kelas : KPI 5D
Mata Kuliah : Etika dan Filsafat Komunikasi (Tugas Individu 1)
Istilah dan kerancuan istilah dari Etika dan moral, amoral danimmoral, etika dan etiket, moralitas, subjektif, dsb.
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus(abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy). Sedangkan pengertian Moral (dalam Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalamber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral,diluar suasana etis. Menurut KBBIamoral berati tidak bermoral atau tidak berakhlak. Sedangkan menurut bahasa latin artinya tidak mempunyairelevansi etis. Immoral adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik secara moral buruk atau tidak etis.
Etika dan etiket mempunyai batasan yang sangat tipis. Padahal dua terminologi sangat berbeda satu sama lain. Etika lebih menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Sedangkan etiket memberikan cara yang benar dalam bertindak dan berperilaku.
Pengertian Moralitas menurutImmanuel Kant adalah hal kenyakinanserta sikap batin dan bukan hanya halsekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum negara, hukum agama atau hukum adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan jika, kriteria mutu moral dari seseorang adalah hal kesetiaannya terhadap hatinya sendiri. Sedangkan menurut W.Poespoprojo Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia.
Subjektif adalah mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya segala sesuatu hendaklah dibahas secara objektif.
Etika Deskriptif, Etika Normatif danMataEtika, Hakikat Etika Filosofis
Etika Deskrptif adalah etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif berbica mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas membudaya.
Etika Normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal hal buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.
Mataetika adalah kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun kaidah-kaidah bahasa aspek moralitas, khususnya yang berkaitan dengan bahasa etis (yaitu bahasa yang digunakan dalam bidang moral). Kebahasaan seseorang dapat menimbulkan penilaian etis terhadap ucapan mengenai "yang baik" dan "yang buruk" dan kaidah logika.
Hakikat Etika Filosofis adalah dasar ilmu yang menanamkan tentang sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian. Jadi, berbeda hakikatfilosofisnya lebih ke cabang filsafat untuk penilaian akan suatu perilaku.
Tugas 1: Seputar Istilah dan Kerancuan Istilah
Nama : Syifa Maulidina
NIM : 1112051000150
Semester/ Prodi/ Kelas : 5/ KPI/ E
Merujuk pada buku Etika oleh K. Bertens, Cetakan kesepuluh: Februari 2007, diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
ETIKA dan MORAL
Etika menurut Bertens:
- Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya.
- Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya.
- Bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.
- Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir.
Sejalan dengan pengertian etika sebagaimana disebutkan sebelumnya, Bartens mengatakan bahwa kata yang sangat dekat dengan "etika" adalah "moral". Kata ini dari bahasa latin "mos", jamaknya "mores" yang juga berarti adat kebiasaan. Dengan merujuk pada arti kata etika yang sesuai, maka arti kata moral yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Maka ini pula yang berkaitan dengan kesadaran moral, artinya kesadaran manusia tentang dirinya sendiri dan memaknai dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan. Dalam hal ini manusia dapat membedakan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan.
AMORAL dan IMMORAL
Bertolak dari istilah-istilah Inggris oleh Concise Oxford Dictionary, dan masih, menurut K. Bertens, kata "amoral" diartikan sebagai"unconcerned with, out of the sphere of moral, non moral". Jadi, kata "amoral" berarti "tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non moral", dengan kata lain berarti "tidak bermoral, tidak berakhlak". Immoral dijelaskan sebagai "opposed to morality, morally evil". Jadi, kata "immoral" berarti "bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis". Tetapi sebaiknya kata "amoral" diartikan sebagai "netral dari sudut moral, tidak mempunyai relevansi etis".
ETIKA dan ETIKET
Dalam rangka menjernihkan istilah karena kerancuan istilah, harus disimak lagi perbedaan antara etika dan etiket. Etika di sini berarti moral, dan etiket berarti sopan santun. Jika dilihat asal usulnya sebenarnya tidak ada hubungan antara kedua istilah ini. Hal itu menjadi lebih jelas, jika membandingkan bentuk kata ini dalam bahasa Inggris, yaitu ethic dan etiquette. Tetapi dipandang menurut artinya, istilah ini memang dekat satu sama lain. Di samping perbedaan, ada pula persamaan. Pertama, etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kedua, baik etika dan etiket mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Menurut K. Bartens ada empat perbedaan secara umum antara etika dan etiket:
- Etiket menyangkut cara untuk melakukan suatu perbuatan benar sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi etika tidak sebatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah perbuatan ini boleh dilakukan atau tidak sesuai dengan pertimbangan baik atau buruknya sebagai akibat dari perbuatan itu.
- Etiket hanya formalitas, bila tidak ada orang yang hadir atau tidak ada saksi mata yang melihat, maka etiket tidak berlaku. Sebaliknya, etika selalu berlaku, tidak bergantung pada hadir tidaknya pada orang lain atau ada tidaknya saksi mata. Etika adalah bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya.
- Etiket bersifat relatif, yaitu hal yang dianggap tidak sopan bagi suatu kebudayaan, mungkin saja di kebudayaan lainnya dianggap sopan. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar, apabila melakukan kebaikan mendapat pujian dan melakukan kesalahan akan mendapat sanksi.
- Etiket bicara tentang kita hanya memandang manusia dari lahiriah, bisa saja orang tampil tampak luar sebagai pribadi yang sangat sopan dan halus, tetapi di dalamnya penuh kebusukan. Sedangkan etika memandang manusia dari dalam, sikap etis dan baik yang timbulnya dari kesadaran dirinya.
MORALITAS
Moralitas hanya terdapat pada manusia dan tidak pada makhluk lain. Makhluk yang paling dekat dengan manusia tentunya binatang. Banyak filsuf berpendapat bahwa manusia adalah binatang-plus: binatang yang ditambah dengan suatu perbedaan khas. Di antara jawaban-jawaban yang diberikan pelbagai filsuf: perbedaan khas itu rasio, bakat untuk menggunakan bahasa, kesanggupan untuk tertawa, untuk menciptakan banyak inovasi, tapi sekurang-kurangnya satu lagi: manusia adalah binatang-plus karena mempunyai kesadaran moral.
Moralitas merupakan suatu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk di bawah tingkat manusiawi lainnya. Pada tahap binatang tidak ada kesadaran baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan yang tidak pantas dilakukan.
SUBYEKTIF
Norma-norma dapat bersifat obyektif dan dapat pula bersifat subyektif. Di antara norma subyektif, ada yang disebut perasaan moral, namun sebagai norma: perasaan moral tidak dapat memberikan ukuran atau patokan yang memadai. Sebab perasaan moral selalu mempunyai banyak variasinya, tergantung pada kondisi fisik dan suasana hati emosi manusia.
Etika subyektif, secara definisi bisa diartikan bahwa suatu tindakan yang baik dan buruk tidaklah dinilai dari akibat, hasil atau tujuan., melainkan tindakan tersebut sudah dipahami dan diyakini secara subyektif telah mengandung makna kebaikan atau keburukan. dengan kata lain tindakan dianggap bernilai moral atau tidak bermoral karena tindakan itu dilaksanakan terlepas dari apa tujuan dan akibat dari tindakan itu, contoh berbohong, mencuri, dianggap mutlak merupakan tindakan buruk dan tidak bemoral dalam sudut etika ini.
ETIKA DESKRIPTIF, ETIKA NORMATIF, dan METAETIKA
Studi tentang moralitas dapat dibedakan menjadi pendekatan non filosofis dan filosofis. Pendakatan non filosofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filosofis bisa sebagai etika normatif, bisa juga sebagai metaetika atau etika analitis. Etika deskriptif, normatif, dan metaetika ini merupakan cara atau metode untuk mempelajari moralitas atau pendekatkan ilmiah tentang tingkah laku moral yang dalam konteks ini sering dilakukan.
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan, serta mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan atau subkultur tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya. Etika deskriptif hanya melukiskan, tidak memberikan penilaian. Misalnya, ia melukiskan adat mengayau dan hanya melukiskan, tidak memeriksa apakah norma-norma pada adat kebudayaan itu benar atau tidak.
Beda dengan etika normatif tidak hanya melukiskan tetapi juga mengemukakan pendapat penilaian tentang perilaku manusia. Bersambung dari permisalan sebelumnya, di sini ia tidak lagi membatasi hanya sebagai penonton atau seperti halnya pada etika deskriptif, ia mulai melibatkan diri dan berani untuk menentang apabila pada adat mengayau ini terdapat pelanggaran norma-norma.
Hal yang sama bisa dirumuskan juga dengan mengatakan bahwa etika normatif itu tidak deskriptif melainkan prespektif (=memerintahkan), tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral, mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk. Singkatnya etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek.
Lebih lanjut etika normatif dibagi menjadi dua; etika umum dan etika khusus. Etika khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus. Tetapi studi lebih dalam menunjukkan bahwa metaetika merupakan bagian dari etika khusus, karena metaetika mengarahkan perhatiannya kepada arti khusus. Filsuf Inggris George Moore, misalnya, dalam bukunya yang berisi analisis terhadap kata yang sangat penting dalam konteks etika, yakni kata "baik". Ia tidak bertanya apakah menjadi pendonor organ tubuh untuk ditransplantasi pada pasien yang membutuhkan itu disebut baik dari sudut moral dan apakah syarat-syaratnya agar perbuatan itu disebut baik. Ia hanya bertanya apakah artinya dari kata "baik", menyoroti arti khusus kata "baik"dengan membandingkan kalimat "Menjadi pendonor organ tubuh adalah perbuatan baik" dengan kalimat jenis lain seperti "Mobil ini masih dalam keadaan baik".
Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai tugas yang sangat penting bagi filsafat atau bahkan sebagai satu-satunya tugasnya. Karena perkaitannya dengan filsafat, metaetika ini kadang-kadang juga disebut dengan etika analitis.
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS
Berbicara tentang keadaan atau peristiwa yang pernah dialami atau disaksikan, maka tidak pernah melakukannya dengan netral saja. Kita menyetujui atau menolak, kita memuji atau mencela, perbuatan yang dialami atau disaksikan adalah baik dan patut dicontoh oleh masyarakat luas atau akan sebaliknya, adalah buruk dan sebenarnya tidak boleh demikian atau sebaliknya, dan lain sebagainya.
Etika sebagai cabang ilmu melanjutkan kecenderungan kita dalam hidup sehari-hari, mulai dari merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan, tidak jarang kita berbeda pendapat dengan teman. Maka akan muncul pertanyaan; siapa yang benar? Siapa yang mempunyai argumen yang paling kuat? Ada dasar obyektif apa untuk pendapat kita? Kita harus berpegang teguh pada norma apa? Menjadi tugas etika untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan demikian etika filsafat didefinisikan sebagai refleksi kritis, metodis, dan sistematis tentang tingkah laku manusia, sejauh berkaitan dengan norma.
Dari sudut pandang normatif, etika filsafat merupakan wacana yang khas bagi perilaku kehidupan manusia, dibandingkan dengan ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia. Etika filsafat termasuk salah satu cabang ilmu filsafat dan malah dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. Dalam konteks filsafat yunani kuno etika filsafat sudah terbentuk terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Etika filsafat merupakan ilmu, tetapi sebagai filsafat ia tidak merupakan suatu ilmu emperis, artinya ilmu yang didasarkan pada fakta dan dalam pembicaraannya tidak pernah meniggalkan fakta. Ilmu-ilmu itu bersifat empiris, karena seluruhnya berlangsung dalam rangka empiris (pengalaman inderawi) yaitu apa yang dapat dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan. Ilmu emperis berasal dari observasi terhadap fakta-fakta dan jika ia berhasil merumuskan hukum-hukum ilmiah, maka kebenaran hukum-hukum itu harus diuji lagi dengan berbalik kepada fakta-fakta. Dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain, etika filsafat tidak membatasi gejala-gejala konkret. Tentu saja, filsafat berbicara juga tentang yang konkret, kadang-kadang malah tentang hal-hal yang amat konkret, tetapi ia tidak berhenti di situ.
Menurut Sokrates orang yang mempunyai pengetahuan tentang baik pasti akan melakukan kebaikan juga. Orang yang berbuat jahat, dilakukan karena tidak ada pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika. Makanya ia berbuat jahat. Bila orang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika, belum terjamin perilakunya baik. Disini berbeda dari pengalaman ilmu pasti. Orang-orang yang hampir yang tidak mendapat pendidikan di sekolah, tetapi selalu hidup dengan perilaku baik dengan sangat mengagumkan. Namun demikian, ada kebenarannya juga dalam pendapat Sokrates tadi, pengetahuan tentang etika merupakan suatu unsur penting, supaya orang dapat mencapai kematangan perilaku yang baik. Untuk memperoleh etika baik, studi tentang etika dapat memberikan suatu kontribusi yang berarti sekalipun studi itu sendiri belum cukup untuk menjamin etika baik dapat terlaksana secara tepat.
Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan). Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral, sedangkan kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakkan manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. (Surajiyo: 2005)
etika 1
Nim : 1112051000076
Jurusan : KPI (5-C)
Etika I :seputar istilah dan kerancuan istilah : etika dan moral, amoral dan immoral, etika dan etiket, moralitas, subyektif dsb. Membedakan antara etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika ; hakikat etika filosofis.
Etika dan moral
secara etimologi (bahasa) "etika" berasal dari bahasa yunani ethos. Dalam bentuk tunggal, "Ethos" berarti kebiasaan, adat, akhlak, cara berpikir. Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang apa yang biasa di lakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Etika dapat disimpulkan sebagai nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.Sedangkan moral menurut Hurlock (1990) adalah tata cara, adat , kebiasaan perilaku yan telah menjadi kebiaasaan bagi anggota suatu budaya. Moral adalah adalah sifat atau keseluruhan asas serta nilai yang berkenaan/menyangkut dengan baik buruknya sikap maupun perbuatan.
Amoral dan immoral
Amoral artinya tidak berhubungan dengan konteks moral. Amoral juga sering disebut non moral yang berarti tidak memiliki keterkaitan dengan masalah moral. Sedangkan immoral merupakan suatu tindakan yang berlawanan dengan moral. Immoral dapat diartikan sebagai suatu perilaku yang tidak bermoral.
Etika dan etiket
Etika merupakan segala hal yang menyangkut cara atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang atau kelompok tertentu. Sedangkan etiket memberikan dan menunujukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan bisa dilakukan antara ya dan tidak. Sementara itu etiket bersifat relatif yang artinya bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan etiket tertentu. Etika dan etiket memiliki persamaan menyangkut tindakan dan perilaku manusia, etika dan etiket sama sama mengatur prilaku manusia secara normatif.
Moralitas
Moralitas mencangkup tentang baik buruknya suatu perbuatan manusia. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas atau nilai yang berkenaan dengan baik atau buruknya suatu prilaku.
Subyektif
Subyektif berarti mengenai atau menurut pandangan sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Subyektif bersifat relatif. Penilaian yang diputuskan pun semata berasal dari menduga-duga.
Etika Deskriptif
Etika deskriptif memberikan gambaran tingkah laku moral dalam arti luas. Sepertii kebiasaan, anggapan tentang baik atau buruk, dan lain sebagainya. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, etika deskriptif hanya melukiskan dan tidak memberikan penilaian.
Etika Normatif
Etika normatif mendasarkan pendirianya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Dalam etika normatif, norma dinilai dan setiap manusia di tentukan.
Metaetika
Yang dipelajari dalam ilmu metaetika bukanlah moralitas secara langsung. Melainkan ucapan-ucapan kita dibidang moralitas. Dapat dikatakan pula, metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan etis.
Hakikat Etika Filosofisetika
filosofis dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berfikir, yang dilakukan oleh manusia, etika merupakan bagian dari filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat
M Fahmi Nurdin_PMI 3_Tugas 2_Urbanisasi dan Budaya Perkotaan
Urbanisasi dan Budaya Perkotaan
Seperti yang kita ketahui urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari desa ke kota, pasti tentu nya ada sebab dan akibat atas hal tersebut. Seperti hal nya daerah yang saya tinggali, tepatnya di daerah Serpong Tangerang Selatan. Di Serpong saat ini hampir 20% dari penduduk serpong ialah mereka yang datang dari luar kota, dan menetap di Serpong. Bukan suatu keanehan untuk di lihat, tapi hal ini memang sudah menjadi realita yang terjadi pada saat ini. Kebanyakan dari mereka bahkan rela pindah ke kota walaupun meninggalkan keluarga mereka di Desa asal mereka tinggal. Itu hasil pengamatan saya terhadap orang-orang pendatang di lingkungan saya. Hal ini dapat menjadikan dasar ukuran yang membuat kita bertanya sebetulnya ada apa, karena apa dan mengapa mereka pindah ke kota. Dan saya pun mengamati beberapa saat untuk penyelesaian paper ini.
Ada kaum urban di lingkungan saya, sebut saja nama nya fulan, beliau asal kota pemalang. Sudah menetap di Serpong sekitar 10 tahun. Sekarang beliau sudah mempunyai 1 anak yang berusia 4 tahun. Awal belliau tinggal di Serpong memang bukan menjadi awal beliau pindah ke kota. Awalnya beliau sudah bertempat di Jakarta lalu pindah ke Serpong, dengan alasan perkerjaan. Sikap kaum urban atau pendatang memang sangat ramah terhadap pribumi, hal ini juga yang menjadi dasar dari di terimanya para pendatang di lingkungan kami, mereka pun pandai bergaul, bermasyarakat, dan sesekali mereka ikut aktif dalam kegiatan bermasyarakat seperti contoh shalat berjama'ah, kerja bakti membersihkan lingkungan, dan merayakan hari kemerdekaan Indonesia.
Si fulan ini berkerja di salah satu instansi yang gaji nya standard upah minimum rata-rata. Setiap bulan uang yang di prolehnya untuk di bayarkan kontrakan tempat tinggal dan makan sehari-hari. Nah disini beda nya kaum urban dengan kaum pribumi. Si kaum urban lebih memanfaatkan uang yang di prolehnya untuk kebutuhan dan usaha tambahan, beda dengan masyarakat pribumi pada umumnya, lebih senang menggunakan hasil kerja nya selama satu bulan untuk dibelikan barang-barang pemuas hati dan foya-foya. Lambat laun mulai terlihat perkembangan ekonomi dari para pendatang, mulai dari mengontrak dan jualan di warung kecil, hingga pindah mengontrak di kios demi mempunyai usaha tambahan. Dan sekali lagi karena kegigihannya dan pantang menyerahnya, hal tersebut menghasilkan hasil yang setimpal. Sekarang si fulan mempunyai harta yang terbilang diatas rata-rata orang pribumi pada umumnya, dalam tanda kutip yang menetap di lingkungan saya.
Saya akan menghubungkan masalah social ini dengan teori yang di kemukakan oleh Max Webber. Yaitu teori Tindakan Rasional, dan saya ambil "Rasionalitas praktis", beliau menuturkan, Rasionalitas praktis yang didefinisikan sebagai setiap jalan hidup yang memandang dan menilai aktifitas-aktifitas duniawi dalam kaitannya dengan kepentingan individu yang murni pragmatis dan egoistis.
Hal ini yang menjadi dasar saya berfikir bahwa sikap kaum urban yang datang ke perkotaan memang tidak di salahkan dan menjadi suatu hal yang tidak bisa di larang, karena sah-sah saja. Akan tetapi dari hal tersebut perlahan membuat masyarakat yang menetap di kota tersaingi, dan bahkan diambil kedudukan nya. Memang sudah menjadi hal wajar bila berkompetisi dalam kehidupan, tetapi hal ini juga menjadi hal yang lama kelamaan membuat sikap respect terhadap para kaum urban menjadi berkurang. Karena itu tadi, tersingkirnya masyarakat yang tinggal di perkotaan akibat kalah persaingan. Kalau sudah seperti ini apakah masyarakat kota harus berpindah ke pedesaan agar dapat leluasa dalam berkehidupan.
Awal saya berpendapat seperti ini karena menurut saya, kenapa kita manusia sudah di beri tempat tinggal oleh Allah, dan diberikan tempat lahir yang berbeda-beda masih saja datang ke tempat lahir orang untuk mengambil apa yang menjadi hak orang tersebut didaerahnya, itu menurut pemikiran saya. Karena saya berdasar atas pendapat Max Webber dalam teori Tindakan Rasional nya.
Saran saya dalam kasus ini ialah, boleh-boleh saja melakukan perpindahan penduduk atas dasar ekonomi, tapi bagaimana cara nya hal ini bukan menjadikan kebiasaan yang merugikan masyarakat yang ketempatan di datangi, tapi menjadi nili tambah bagi mereka yang ketempatan di tempati kampung nya. Contoh, masyarakat yang datang dari desa tidak hanya datang untuk mencari uang saja, tapi dengan catatan beberapa tahun yang akan datang mereka memiliki penghasilan didesa nya, dan dapat merubah desa mereka menjadi sejahtera dan dapat menghidupi mereka sendiri. Sebaliknya, masyarakat kota yang tempat nya di datangi oleh para kaum urban haruslah punya nilai tambah dari hal ini, pemerintah harus melakukan sosialisai untuk mereka membuat berbagai lahan usaha yang membuat mereka mampu memberi lapangan pekerjaan untuk mereka (kaum urban) ketika datang ke kota. Dan hal ini juga dapat membuat masyarakat kota tidaklah kalah saing dengan mereka para pendatang.
M.Turmudzi Fikrul I.PMI5 1112054000001
DEMOGRAFI
Dari segi kata berasal dari dua kata yunani, yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk dan grafein yang berarti menggambar ataumenulis. Demografi dapat diartikan sebagai tulisan atau gambaran tentang penduduk, istilah ini pertama kali dipakai oleh Achille guillard dalam karyanya yang berjudul ''Elements de statistique humaine, ou demoghraphie comparee'' atau Elements of human statistics or comprative demoghraphy (dalam Iskandar 1994).
Demografi berkembang seiring dengan perkembangan keada'an penduduk serta pengguna'an statistik kependudukan yang dialami oleh para penulis kependudukan pada zamannya.
Demografi atau kependudukan adalah Ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan Manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi serta penua'an. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegara'an, Agama, atau etnisitas tertentu.
SEJARAH ILMU KEPENDUDUKAN
Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 245 juta jiwa. Menjadikan Negara ini Negara dengan penduduk terbanyak ke-4 didunia.
Menurut sejarah, Upaya-upaya untuk pencatatan statistic kependudukan sudah dilakukan sejak berabat-abat yang lalu, meskipun masih dilakukan dalam ruang lingkup yang kecil dan digunakan secara terbatas. John Graunt (1620-1674) dikenal sebagai pelopor pencatatan statistic penduduk.
TEORI TRANSISI DEMOGRAFI
Istilah transisi demografi pada dasarnya dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama pertumbuhan penduduk, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (mobilitas/migrasi). Dari berbagai literatur dapat disarikan bahwa transisi demografi dibedakan atas empat tahapan yaitu : tahap 1. (pre Industrial), tahap ke 2. (early Industrial), tahap 3. (Industrial), dan tahap ke 4. Mature Industrial.
Tugas Pertama Moral
Fadel M. Anugrah
1112051000113
KPI 5D
ETIKA DAN MORAL
etika berasal dari kata Latin "Ethicos" yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurutpengertian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Moral dan etika adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena pada dasarnya moral adalah tingkah laku yang telah diatur atau ditentukan oleh etika. Moral sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu moral baik dan moral jahat. Moral baik ialah segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai baik, begitu juga sebaliknya dengan moral yang jahat. Menurut Russel swanburg Moral adalah pernyataan pikiran yang berhubungan dengan semangat atau keantusiasan seseorang dalam bekerja.
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut kamus Bahasa Indonesia, tidak bermoral berarti tidak berakhlak. Sedangkan dalam sudut bhasa latin, netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis. Immoral menurut Concise Oxford Dictionary adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis.
ETIKA DAN ETIKET
Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
MORALITAS
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Moralitas merupakan suatu cirri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk dibawah tingkat manusia. Moralitas berasal dari kata dasar "moral" berasal dari kata "mos" yang berarti kebiasaan. Kata "mores" yang berarti kesusilaan, dari "mos", "mores".
SUBYEKTIF
moral yang memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi pengertian dan persetujuan pelaku, selain juga dipengaruhi dan dikondisikan oleh latar belakangnya, pendidikannya, kemantapan emosinya dan sifat-sifat pribadi lainnya.
ETIKA DESKRIPTIF
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Etika dsekriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau sub kultur yang tertentu dalam suatu periode sejarah dan sebagainya.
ETIKA NORMATIF
Etika normative merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsung diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Etika normative itu tidak deskriptif melainkan preskriptif atau memerintah, tidak melukiskan melainkan menentukan besar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral..
METAETIKA
Awalan meta berasal dari bahasa yunani mempunyai arti melebihi atau melampui mata etika. Mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Mataetika kadang-kadang juga disebut etika analitis. Setelah mempelajari tiga cara untuk mempraktekan etika. Kita bisa simpulkan bahwa dalam studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filsofis dan pendekatan filsofis. Pendekatan non filsofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filsofis bisa sebagai normative dan bisa juga sebagai mataetika atau etika analistis.
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS
Etika termasuk filsafat dan dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. Dalam konteks filsafat Yunani kuno, etika sudah terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Ciri khas filsafat itu dengan jelas tampak pada etika. Etika pun tidak berhenti pada yang konkret, pada yangs ecara factual dilakukan, tapi ia bertanya tentang yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Tentang yang baik atau yang buruk untuk dilakukan.
Fwd:
Dari: Nurul Hidayanti <nunuhdynti@gmail.com>
Tanggal: 22 September 2014 17.31
Subjek:
Kepada: kuliahtantan@gmail.com
Nama : Nurul Hidayanti
NIM : 1112051000027
Kelas : KPI 5D
ETIKA DAN MORAL
Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaiannya sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang di nilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Dalam Encyclopedia Britanica, etika dinyatakan dengan tegas sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dari konsep konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah dan sebagainya.
Kesadaran moral merupakan faktor penting untuk memungkinkan tindakan manusia agar selalu bermoral, berprilaku susila, lagi pula tindakannya akan sesuai dengan norma yang berlaku.
AMMORAL DAN IMMORAL
Ammoral tidak berhubungan dengan konteks moral. Immoral adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik.
ETIKA DAN ETIKET
Etika merupakan teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari sisi baik dan buruk sejauh yang masih dapat ditentukan oleh akal. Sedangkan etiket merupakan peraturan sopan santun dalam pergaulan dan hidup bermasyarakat.
MORALITAS
Moralitas merupakan kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia.
ETIKA DESKRIPTIF
Etika deskriptif menjadi sering menjadi bahasan dalam ilmu sosiologi. Etika deskriptif bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak, predikat-predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan dilapangan penelitian.
ETIKA NORMATIF
Etika normatif tidak seperti etika deskriptif yang hanya melihat dari luar sistem nilai etika yang berlaku, tetapi etika normatif melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian-penilaian tentang perilaku manusia. Dalam etika normatif tidak bersikap netrla dalam melihat norma.
METAETIKA
Metaetika di definisikan sebagai pengkajian tentang asal usul dan makna konsep-konsep yang berhubungan dengan etika. Metaetika merupakan kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun kaidah-kaidah bahasa aspek moralitas, khususnya yang berkaitan dengan bahasa etis (yaitu bahasa yang digunakan dalam bidang moral)
HAKIKAT ETIKA FILOSOFIS
Etika bergerak di bidang intelektual, tetapi objeknya langsung berkaitan dengan praktek hidup kita. Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat. Karena itu, bila ingin mengetahui unsur unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Etika menganalisis tema seperti: hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, kewajiban, keutamaan,dll.
fadly rahman_pmi 3_tugas 2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.
Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.
Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi.
Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut.
B. Sebab-Sebab Urbanisasi
Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:
1) Adanya pertambahan penduduk secara alamiah
2) Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3) Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..
C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar
Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;
1) Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.
2) Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.
3) Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
4) Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.
D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi
Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.
Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:
BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN
Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.
Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:
1. Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.
2. Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.
3. Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.
4. Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,
5. Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.
Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.
musyafa ahmad_pmi3_tugas2_urbanisasi dan budaya perkotaan
Perpindahan penduduk dari desa kekota karena daya tarik kota atau tekanan penduduk di daerah pedesaan.
Bahkan pada umumnya urbanisasi itu diartikan sebagai suatu proses, yang membawa bagian yang semakin besar dari penduduk suatu negara untuk berdiamm di pusat-pusat perkotaan.
Jadi dari dua pengertian diatas saya bisa kongklusikan bahwa gejala pertumbuhan kota tidak perlu berarti, terjadinya urbanisasi. Kalau tambahan penduduk di desa-desa menurut perbandingan sejalan dengan pertumbujan penduduk di kota, maka tidak dapat dikatakan ada proses urbanisasi.
Ketika berbicara yang namanya urbanisasi baik dari sudut pandang yang implisit dan eksplisit kita tidak boleh mengejewantahkan bahwa setiap kasus dalam ilmu sosial pasti tidak bisa di pisahkan dengan hukum kausalitas atau juga bisa dikatakan dengan istilah hukum sebab akibat dari adanya suatu kasus, begitupun juga dengan urbanisasi yang tidak boleh di pisahkan dengan hukum kausalitas ini. Maka dari berikut akan saya jabarkan mengenai sebab-sebab adanya urbanisasi tersebut.
B. Sebab-Sebab Urbanisasi
Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menyebabkan timbulnya urbanisasi, yaitu diantaranya adalah:
1) Adanya pertambahan penduduk secara alamiah
2) Terjadinya arus perpindahan dari desa ke kota
3) Tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup kota, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan tersedianya kesempatan kerja..
C. Dampak Urbanisasi Bagi Kota-Kota Besar
Seperti kita ketahuai di lapangan salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan perkotaan atau juga kita sering kenal dengan istilah urbanisai ini adalah sebagaimana berikut yanga insya allah akan saya jabarnya secara implisit atau bisa juga secara sederhana dan ringkas;
1) Terbentuknya sburb, tempat-tempat pemukiman baru di pinggir kota, yang terjadi akibat perluasan kota karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.
2) Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.
3) Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan. Orang terpaksa tinggal dalam rumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
4) Lingkungan hidup yang tidak sehat, apabila ditambah dengan adanya berbagai kerawanan sosial memberi pengaruh yang negative terhadap pendidikan generasi muda. Hal ini akan menjadi tempat permainan yang sangat subur untuk berkembangnya kenakalan anak-anak merupakan emberio bagi tumbuhnya kejahatan anak-anak.
D. Usaha-Usaha Menanggulangi Urbanisasi
Agar urbanisasi ini tidak semakin terkendali maka harus ada terobosan-terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait agar permasalahan urbanisasi ini bisa cepat teruraikan.
Adapun mengenai penanggulangan ini, yang saya kutip dari dan kaji dari buku "ilmu sosial dasar" karangan abu ahmadi adalah seperti berikut ini:
BUDAYA MASYARAKAT PERKOTAAN
Masyarakat perkotaan atau bisa juga kita sebut Urban Community adalah suatu masyarakat yang mendiami perkotaan. Masyarakat perkotaan mempunyai cara kehidupan serta karakteristik yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Masyarakat perkotaan lebih cenderung memlih mengutamakan keamanan di bandingkan dengan masyarakat pedasaan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan juga kebersamaan.
Ada beberapa ciri-ciri dari masyarakat perkotaan yaitu:
1. Kehidupan beragamanya sangat kurang di bandingkan dengan masyarakat pedesaan. Biasanya masyarakat perkotaan melakukan hanya bertempat di rumah peribadatan saja.
2. Jalan pikir rasional adalah jalan pikir masyarakat perkotaan di mana berbeda dengan masyarakt pedesaan yang mungkin masih memiliki kepercayaan pada yang ghaib.
3. Interaksi yang terjadi diantara masyarakat perkotaan berbeda dengan pedesaan yang biasanya masyarakat perkotaan melakukan interaksi karena adanya factor kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum.
4. Di perkotaan hubungan antara penduduknya sangat renggang atau bisa dibilang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya sehingga jarang adanya komunikasi ataupun interaksi dengan lingkungan sekitarnya,
5. Biasanya orang perkotaan lebih bias mengurus dirinya sendiri di bandingkan dengan masyarakat pedesaan.
Jadi itulah kebudayaan perkotaan atau keseharian masyarakt perkotaan yang membedakan mereka dengan masyarakat pedesaan.