Sabtu, 04 Oktober 2014

Nama : M. Hidayatul Munir NIM : 1112051000131 Kls/jrsn/smstr : 5 KPI E Tugas : Etika dan Filsafat Komunikasi

Nama                          : M. Hidayatul Munir
NIM                            : 1112051000131
Kls/jrsn/smstr            : 5 KPI E
Tugas                          : Etika dan Filsafat Komunikasi
1.      Definisi Filsafat
Poedjawijatna (1974:1) menyatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab yang berhubungan rapat dengan bahasa Yunani, bahkan asalnya memang dari bahasa Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philoshopia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan shopia; philo artinya cinta dalam arti luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; shopia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja Filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebajikan (lihat juga Windelband, 1958 ;1; 1)
            Jadi, berdasarkan kutipan itu dapatlah diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.
Poedjawitna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang berdasarkan fikiran belaka. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat ialah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, estetika, dan bagi Al Faraby filsafat ialah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya. Pengertian umum filsafat adalah ilmu pengetahan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.
 
2.      Unsur-unsur Filsafat
 
A.    Epistemologi
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan, itulah sebabnya kita sering menyebutnya Istilah filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan, Istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F. Ferrrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94).
Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui beberapa cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang membicarakan tentang ini yaitu: aliran Empirisme, aliran Rasionalisme, Aliran Positivisme, dan aliran intuisionisme.
B.     Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Ada yang menamakan bagian ini Ontologi.
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas; realitas ialah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarny sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan menipu.
                              
C.    Aksiologi
Seandainya ditanyakan kepada, Scorates atau Nietzsche apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadi manusia bijaksana. Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philoshopi of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah.
 
3.      Metode-metode Filsafat
1.       Metode Kritis (Socrates)
Metode kritis disebut juga metode dialektik. Dipergunakan oleh Socrates dan Plato. Harold H Titus mengatakan bahwa metode ini merupakan metode dasar dalam filsafat.
Socrates (470-399 SM) menganalisis objek-objek filsafatnya secara kritis dan dialektis. Berusaha menemukan jawaban yang mendasarkan tentang objek analisanya dengan pemeriksaan yang amat teliti dan terus-menerus. Ia menempatkan dirinya sebagai intelektual mid wife, yaitu orang yang memberi dorongan agar seseorang bisa melahirkan pengetahuannya yang tertimbun oleh pengetahuan semunya. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap orang tahu akan hakekat.
2.       Metode Intuitif (Platinos dan Bergson)
Filsuf yang mengembangkan pemikiran dengan metode ini adalah Platinos (205-275 M) dan Henri Bergson (1859-1941). Platinos menggunakan metode intuitif atau mistik dengan membentuk kelompok yang melakukan kontemplasi religious yang dijiwai oleh sikap kontemplatif.
Filsafat Platinos adalah a way of life. Tapi  bukan doktrin yang dogmatis, merupakan jalan untuk menghayati hidup religious yang mendalam. Dalam kelompoknya Platinos melakukan usaha untuk member semangat dan mengantarkan mereka kedalam kehidupan rohani.
Metode filsafat Platinos disebut metode mistik sebab dimaksudkan untuk menuju pengalaman batin dan persatuan dengan Tuhan.
3.       Metode Skolastik (Aristoteles dan Thomas Aquinas)
Metode Skolastik dikembangkan oleh Thomas Aquinas (1225-1247). Juga disebut metode sintetis deduktif. Metode berpikir skolastik menunjukan persamaan dengan metode mengajar dalam bentuknya yang sistematis dan matang.
Ada dua prinsip utama dalam metode sekolastik yaitu Lectio dan Disputatio.
Lectio adalah perkuliahan kritis, diambil teks-teks dari para pemikir besar yang berwibawa untuk dikaji. Biasanya diberi interpretasi dan komentar-komentar kritis. Disputatio adalah suatu diskusi sistematis dan meliputi debat dialegtis yang sangat terarah
4.       Metode Geometris, Rene Descartes
Rene Descartes (1596-1650) adalah pelopor filsafat modern yang berusaha melepaskan dari pengaruh fisafat klasik. Dalam metodenya Descartes mengintegrasikan logika, analisa geometris dan aljabar dengan menghindari kelemahannya. Metode ini membuat kombinasi dari pemahaman intuitif akan pemecahan soal dan uraian analitis. Mengembalikan soal itu kehal yang telah diketahui tetapi akan menghasilkan pengetian baru.
Menurut Descartes semua kesatuan ilmu harus dikonsepsikan dan dikerjakan  oleh seorang diri saja
5.       Metode Empiris (Thomas Hobbes & John Locke)
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme
6.       Metode Transendental (Immanuel Kant & Neo Skolastik)
Immanuel Kant (1724-1804) dalam filsafat mengembangkan metode kritis transcendental. Kant berpikir tentang unsure-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam rasio manusia. Ia melawan dogmatisme
7.       Metode Fenomenologis (Husserl)
Edmund Husserl (1859-1938) mengembangkan metode fenomenologis dalam filsafat. Menurut Husserl dalam usaha kita mencapai hakekat –pengertian dalam aslinya- harus melalui proses reduksi. Reduksi adalah proses pembersihan atau penyaringan dimana objek harus disaring dari beberapa hal tambahannya. Obyek penyelidikan adalah fenomena. Dan yang kita cari adalah kekhasan hakekat yang berlaku bagi masing-masing fenomena. Fenomena adalah yang menampak. Yaitu data sejauh disadari dan sejauh masuk dalam pemahaman. Obyek justru dalam relasi dengan kesadaran. Jadi fenomena adalah yang menampakkan diri menurut adanya didalam diri manusia.
8.       Metode Dialektis (Hegel, Marx)
Dialektis terjadi dalam langkah-langkah yang dinamakan tesis-antitesis-sintesis. Diungkapkan dalam tiga langkah: dua pengertian yang bertentangan, kemudian dipertemukan dalam suatu kesimpulan. Implikasinya adalah dengan  cara kita menentukan titik tolaknya lebih dulu.
 
9.       Metode Nen-Positivistis
Non-positivisme adalah satu cara pandang open mind untuk mendapatkan keunikan informasi serta tidak untuk generalisasi, yang entry pouint pendekatannya berawal dari pemaknaan untuk menghasilkan teori dan bukan mencari pembenaran terhadap suatu teori ataupun menjelaskan suatu teori, dikarenakan kebenaran yang diperoleh ialah pemahaman terhadap teori yang dihasilkan. Untuk ini dalam non positivisme terdapat tiga hal penyikapan, yaitu:
Memusatkan perhatian pada interaksi antara actor dengan dunia nyata.
 
10.   Metode Analitika Bahasa (Wittgenstein)
Analisa bahasa adalah metode netral. Tidak mengandaikan epistemology, metafisika, atau filsafat. Metode Wittgenstein mempunyai maksud positif dan negatif. Positif maksudnya bahasa sendirilah yang dijelaskan. Apakah memang dapat dikatakan dan bagaimanakah dapat dikatakan.
Segi positif diarahkan pada segi negatif dengan jalan poositif mempunyai efektherapeutis (penyembuhan) terhadap kekeliuran dan kekacauan
4.      Hakikat Filsafat
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas, ialah ke-real-an "real" artinya kenyataan yang sebenarnya, kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara, atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
            Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat susunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos. Adapun hakikat manusia dibicarakan oleh antropologi; ini juga cabang teori hakikat. Pembahasan hakikat Tuhan dilakukan oleh fheodicen, juga cabang dari teori hakikat. Theodicon untuk filsafat agama. Filsafat agama juga termasuk ke dalam teori hakikat, demikian pula filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan lain-lain.
            Dalam hakikat filsafat pertama yang kita bicarakan adalah realitas benda-benda. Apakah sesuai penampakannya (appearance) atau sesuatu yang bersembunyi di balik penampakan itu? Dalam pertanyaan tersebut muncullah 4 atau 5 aliran yaitu materialisme, idealisme, dualisme, dan agnostisisme.
 
Daftar Pustaka
·         Fatchurrahman, M. 1990. Pengantar Filsafat. Padang: Universitas Andalas.
·         Prof. Dr. Ahmad Tafsir. 2002. Filsafat Umum( Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra). PT. Remaja Rosdakarya Offset. Bandung
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tugas 3_Apik Sopankatanya_1112051000162_KPI 5E

Tugas 3_Apik Sopankatanya_1112051000162_KPI 5/E

A.    Definisi Filsafat

Istilah filsafat berasal dari bahsa Yunani "philosophia" yang dalam perkembangan berikutnya dikenal di dalam bahasa lain yaitu "philosophie" (Jerman, Belanda, dan Perancis); philosophy (Inggris); philosophia (Latin); dan falsafah (Arab).[1] Adapun pengertian filsafat menurut beberapa para filsuf adalah, menurut Plato (427-347 SM.) filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Aristoteles (384-332 SM) mengatakan filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika,logika,retorika,etika,ekonomi,politik dan estetika (filsafat keindahan) dan Al Farabi (870-950 M) mengemukakan filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.[2]

Dari beberapa defininisi di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh,radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

B.     Unsur-unsur Filsafat

1.      Ontologi

 Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu taonta berarti yang berbeda, dan logos yang artinya ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berbeda. [3] Di dalam ontologi terdapat beberapa aliran yang penting yaitu : Dualisme, Monisme (materialisme), Idealisme, Aguosticisme.

2.      Epistemologi

Epistemologi berasal dari kata episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistemology adalah salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan,struktur, metode, dan validitas pengetahuan.

3.      Aksiologi

Istilah aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu dan teori. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi juga menunjukkan kaidah apa yang harus diperhatikan di dalam menerapkan ilmu ke dalam praktis.

C.    Metode

Di dalam Dictionary of Philosophy yang dikutip oleh DR.Anton Bakker disebutkan adanya sepuluh metode yaitu:

1.      Metode kritis   (Socrates, Plato)                                             

2.      Metode Intuitif (Platinos, Bergson)   

3.      Metode skolastik ( Aristoteles,Thomas Aquinas)                                          

4.      Metode matematis ( Descartes dan pengikutnya)                                          

5.      Metode empiris ( Hobbes,Locke,Barkeley,Hume)    

6.      Metode transcendental ( Kant, Neo-Skolastik)                     

7.      Metode dialektis ( Hegel, Marx)

8.      Metode fenomenologis ( Husserl)

9.      Metode Neo-positivistis

10.  10.Metode analitika bahasa (Wittgenstein)

 

D.    Hakikat Filsafat

1.      Hakikat merupakan istilah filsafat yang dimaksudkan sebagai pemahaman atau hal yang paling mendasar.

2.      Filsafat tidak saja berbicara wujud atau materi sebagaimana ilmu pengetahuan tapi juga berbicara makna yang terdapat di belakangnya.

3.      Hakikat filsafat adalah sebagai akibat berfikir radikal

4.      Filsafat adalah kebebasan berfikir terhadap sesuatu tanpa batas dan mengacu pada hukum keraguan atas segala hal.

 

 

 



[1] Drs.Sudarsono,S.H.M.Si, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,(Jakarta: PT Rineka Cipta,2001),hlm.10-12

[2] Drs.A.Susanto,M.Pd, Filsafat Ilmu,(Jakarta: PT Bumi Aksara,2013),hlm.2-3

[3] [3] Drs.Sudarsono,S.H.M.Si, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,hlm.118

NAMA : M. HIDAYATUL MUNIR NIM : 1112051000131 KLS/SMSTR : 5 KPI E Tugas : Etika dan Filsafat Komunikasi

NAMA           : M. HIDAYATUL MUNIR
NIM                : 1112051000131
KLS/SMSTR : 5 KPI E
1.      Etika
Secara etimologi (bahasa) " etika" berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam bentuk tunggal , "ethos" berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan , adat, akhlak, perasaan, cara berfikir. Dalam bentuk jamak, ta etha berarti adat kebiasaan. Dalam istilah filsafat etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.
2.      Pengertian Moral
Arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bawa moral adalah penentuan baik buruk terhada perbuatan dan kelakuan.
Secara istilah moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, peringai, kehendak, pendapat atau perbuatan secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Selanjutnya pengertian moral dijumpai juga dalam The Anvenced Leaner's Dictionary of Current English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai berikut:
1.   Prinsip-prinsip yang berkenaan dangan benar dan salah, baik dan buruk.
2.   Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
3.   Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
3.      Pengertian Amoral dan imoral
Ø  K. Bertens, Etika, 1993;7-8 mengatakan mengenai istilah antara amoral dan immoral dalam bahasa Indonesia mengalami kesulitan. Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral diterangkan 'unconcerned with,out of the sphere of moral, non moral'. Jadi kata Inggris amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis, non moral. Sedangkan immoral dijelaskan sebagai opposed to morality, morally evil yang berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk tidak etis.
Ø  Menurut Dr. W. Poespoprodjo, L. Ph. S. S., Filsafat Moral, 1986;102; kata amoral, nonmoral berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral tidak mempunyai arti moral. Istilah immoral artinya moral buruk (buruk secara moral).
 
4.      Perbedaan Etika dan Etiket
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, batas antara etika dan etiket bisa sangat tipis. Padahal dua terminologi tersebut sangat berbeda satu sama lain, meskipun di sana sini tetap masih ada persamaan antara etika dan etiket.
Sementara ada perbedaan pokok antara etika dan etiket (lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004; 257):
a)      Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri.
b)     Etiket hanya berlaku dalam pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku ketika ada orang lain. Sementara itu, etika tidak memerhatikan orang lain atau tidak.
c)      Etiket bersifat relatif. Dalam arti bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan etiket tertentu
d)     Etiket hanya menyangkut segi lahiriah saja, sedangkan etika lebih menyangkut aspek internal manusia
5.      Moralitas
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas atau nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Dua kaidah dasar Moral :
a)      Kaidah sikap baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik baik itu harus dinyatakan dalm bentuk yang konkret tergantung dari apa yang baik dalam situasi konkret itu.
b)      Kaidah keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing.
 
6.      Subyektif
Norma bersifat subyektif dan akibatnya sering kali di ganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis atau tidaknya.
7.      Perbedaan Etika Deskritif, Etika Normatif dan Metaetika
a)      Etika Deskritif
Etika Deskritif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik dan buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskritif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau subkultur tertentu. Oleh karena itu, etika deskritif tidak memberikan pemikiran apapun, ia hanya memaparkan, serta lebih bersifat netral.
b)      Etika Normatif
Etika Normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Etika Normatif berarti sistem-sistem yang dimaksud  untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik atau buruk (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1996:217).
Etika Normatif dibagi menjadi dua bagian yaitu:
Ø  Etika umum
Ø  Etika Khusus
Etika umum menekankan pada tema-tema umum, seperti. Apa yang dimaksud norma etis?  Mengapa norma moral mengikat kita? Bagaimana hubungan tanggung jawab dengan kebebasan? Sedangkan etika khusus adalah upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip etika umum ke dalam perilaku manusia yang khusus. Etika khusus juga dinamakan etika terapan.
c)      Metaetika
Bagian lain etika adalah metaetika, yaitu kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan baik atau buruk. Perkembangan lebih lanjut dari metaetika adalah filsafat analitis.
            Lorens Bagus dalam kamus filsafat (1996) merincikan pandangan beberapa filsuf mengenai teori etika, antara lain:
Ø  Scorates beranggapan bahwa menderita selalu lebih baik daripada berbuat jahat.
Ø  Plato memandang yang baik sebagai suatu forma eternal yang harus direalisasikan dalam kehidupan manusia
Ø  Aristoteles memandang bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan atau eudai monia (kesejahteraan, kesentosaan). Kebajikan dapat ditemukan dengan mencari "jalan tengah emas" (Via Media Aura)
8.      Hakikat Etika Filosofis
Filsafat ialah seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, tentang baik atau buruk untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.
Florence Kluckholn, mengidentifikasikan sejumlah orientasi nilai yang tampaknya berkaitan dengan masalah kehidupan dasar:
1.      Manusia berhubungan dengan alam atau lingkungan fisik, dalam arti mendominasi, hidup dengan atau ditaklukan alam.
2.      Manusia menilai sifst/hakikat manusia sebagai baik atau campuran antara baik dan buruk.
3.      Manusia hendaknya bercermin pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Orientasi nilai tersebut sangat berbeda di antara berbagai kebudayaan dan subbudaya dalam masyarakat, khususnya sebagai bagian dari peranan-peranan social yang mereka sandang dalam masyarakat. Nilai-nilai mempunyai tingkatan-tingkatan seperti :
1.      Nilai-nilai akhir atau abstrak, seperti: keadilan, persamaan, kebebasan, kedamaian, dan kemajuan social.
2.      Nilai-nilai tingkat menengah, seperti : kualitas keberfungsian manusia/pribadi, keluarga yang baik, pertumbuhan dll.
3.      Nilai-nilai tingkat ketiga merupakan nilai-nilai instrumental atau operasional yang mengacu kepada ciri-ciri perilaku dari lembaga social yang baik.
4.      Nilai-nilai dan norma-norma yang telah diinternalisasikan ke dalam diri individu tersebut, sebagai prinsip-prinsip etik.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Mufid, Etika dan Filsafat Komunikasi, Kencana, Jakarta, 2009
Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A. Penerbit : PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010

Fahmi, KPI 5E. Tugas etika dan filsafat komunikasi

Nama               : Fahmi
NIM                : 1112051000129
Kelas               : KPI 5 E
 
Definisi Filsafat
            Hatta mengemukakan pengertian filsafat itu lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu. Nanti, bila orang telah banyak membaca atau mempelajari filsafat, orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu menurut konotasi filsafat yang ditangkapnya. Tetapi menurut Poedjawijatna bahawa kata filsafat berasal dari bahasa Arab yang berhubungan rapat dengan Yunani. Kata Yunaninya adalah philosophia yang terdiri dari philo dan sophia. Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu. Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi, menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin menjadi pandai, cinta pada kebijakan.
            Hasbulla bakry mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia. Sehingga dapan menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
 
Unsur-unsur Filsafat
 
1. Epistimologi
            Istilah epistimologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94). Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar (Suriasumantri J, 1990:101). Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya:
·         Empirisme
Empirisme berasal dari bahasa Yunani empeirikos yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
·         Rasionalisme
Dasar dari aliran ini adalah akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme, yang disebabkan kelemahan alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Gula pahit bagi orang demam, karena lidah orang yang demam memang tidak normal.
·         Positivisme
Tokoh aliran ini adalah August Comte, ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu  dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen.. eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat di dengan timbangan, dan sebagainya. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. "Terukur" itulah sumbangan positivisme.
·         Intuisionisme
Henri bergson mengemukakan bahwa tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak utuh (spartial), sedangkan intuisi dapat mengahasilkan pengetahuan yang utuh (tetap).
2. Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat atau ontologi. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dengan demikian Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran. Contoh, kita melihat suatu objek, fatamorgana. Apakah real atau tidak? Tidak. Fatamorgana itu bukan hakikat, atau hakikat fatamorgana ialah tidak ada.
3. Aksiologi
            Untuk melihat kegunaan filsafat untuk apa, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran, kedua filsafat sebagai pandangan hidup fungsinya mirip sekali dengan agama yaitu menjadi pedoman yang isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan, dan ketiga filsafat sabagai metode pemecahan masalah yaitu dengan memecahkan masalah dengan mencari penyebab paling awal.
            Berdasarkan uraian diatas sudah dapat diketahui bahwa filsafat itu bagus untuk dipelajari karena besar sekali kegunaannya. Namun jika anda menganggap kalau filsafat itu membingungkan, tidak usah "nekad" untuk memahami teori filsafat sebanyak-banyaknya. Yang penting adalah membiasakan diri berpikir mendalam, yaitu memikirkan sesuatu dibalik fakta empirik,jangan mudah puas dengan jawaban yang ditemukan, terhadap jawaban yang ditemukan itu ragukanlah, lantas renungkan lagi, selain itu berpikirlah seluas-luasnya, yaitu dengan cara memandang setiap permasalahan dari sebanyak-banyaknya sudut pandang.
 
Metode Filsafat
Metode filsafat diartikan sebagai suatu cara atau jalan tentang bagaimana berfilsafat baik dan benar. Dalam diskursus metode filsafat dapat juga diartikan sebagai bidang kajian tentang metode yang digunakan oleh para filosof dalam berfilsafat. Hal ini dapatdiartikan bahwa dalam suatu Sejarah Filsafat setiap Filosof dalam mengembangkan pemikiran filsafatnya selalu memakai metodenya masing-masing dalam usahanya untuk mencapai kebenaranya yang hakiki. Beberapa contoh metode filsafat yang dikembangkan oleh para filusof masa lalu adalahsebagai berikut:
1.      Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang dikemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan danmemperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan,membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
 
2.      Metode Intuitif : Plotinus dan bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral),sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsungmengenai kenyataan.
 
3.      Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4.      Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itudi dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
 
5.      Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan(impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
 
6.      Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
 Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalananalisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.
 
7.      Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis, refleksi atas fenomindalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
 
8.      Metode Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triadetesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan.
 
9.      Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalanmempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
 
10.  Metode analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atautidaknya ucapan-ucapan filosofis.
 
Hakikat Filsafat
Filsafat merupakan sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan alam dan biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat juga dianggap sebagai kreasi berpikir dengan menggunakan metode-metode ilmiah untuk memahami dunia. Filsafat bertujuan untuk memahami dunia dan memperpadukan hasil dan ilmu pengetahuan ke ilmu pengetahuan special agar menjadi suatu pandangan hidup yang seragam. Itu merupakan tujuan Filsafat dari jaman Thales (Bapak Filsafat) hingga jaman sekarang.
Di masa sekarang ini, manusia bercorak individualistis, humanistis, romantis, sehingga manusia cepat beralih pada kepentingan-kepentingan dekat dan "dunia" memiliki arti yang lain bagi manusia. Kondisi manusia yang hidup di perkotaan, dengan kendaraan, perumahan, dan segalanya yang ada di kota, membuat manusia semakin jauh dengan dunia astronomis.
Dahulu, bangsa Yunani purba banyak dicemaskan oleh masalah diam dan perubahan, yang mana perubahan yang mereka maksudkan adalah perubahan fisik/alam, seperti atom-atom yang bergerak, air yang mengalir, dan lain-lain. Tapi, ketika masalah itu belum selesai, perhatian manusia tertarik ke perubahan-perubahan dalam bentuk lain, seperti adat istiadat, hubungan-hubungan, dan lain-lain. Hal itu menunjukkan keragaman, sementara keragaman menghasilkan banyak penafsiran. Maka, hal itulah yang membuat Filsafat tetap ada hingga sekarang, hanya saja, sekarang ia menjadi penafsiran dari hidup, maka kondisinya menjadi sama seperti dahulu, dimana Filsafat adalah suatu usaha untuk memahami dunia dimana kita hidup.
Karena kehidupan yang kita jalani penuh kekerasan, maka dorongan untuk berfilsafat terus muncul dan bersemayam dalam kehidupan modern. Tapi waktu sekarang ini amat terbatas, sehingga untuk berfilsafat kita hanya mempunyai kesempatan untuk memikirkan sebagian masalah-masalah dengan mengajukan pertanyaan yang tidak menyeluruh, sehingga tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang menjadi hajat hidup banyak orang.
Biasanya, hanya ada sedikit orang yang mengajukan pertanyaan :
- Adakah alam semesta ini suatu alam semesta dari pikiran atau hanya dari benda mati?
- Dapatkah ia masih menganut suatu pandangan keagamaan mengenai manusia?
- Adakah Tuhan itu?
- Dari apa benda tersebut?
- Saya hidup. Apa itu hidup?
- Ada apa sesudah mati?
- Apa itu benar dan apa itu salah?
- Apakah pertanyaan ini bisa terjawab?
- Apa yang mejadi batas sebuah pengetahuan?
- apakah tanpa mata keindahan ada? Apakah tanpa organ lain keindahan itu ada? Lalu, apa itu keindahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang menjijikan, ngeri, mengapa begitu bodoh terlintas di dalam kepala kita. Tetapi, justru itulah masalah-masalah Filsafat. Karena itulah Filsafat ada. Filsafat ada karena manusia bertanya tentang hidup, Filsafat ada karena adanya masalah-masalah tersebut.

Cari Blog Ini