Rabu, 15 Oktober 2014

Arif Syahrizal KPI 5 E 1112051000133

NAMA            : ARIF SYAHRIZAL
KELAS           : KPI 5 E
TUGAS           : UTS
NIM                : 1112051000133
ETIKA MENDENGARKAN CERAMAH DI MAJELIS TA'LIM IPISTA
(IKATAN PEMUDA ISLAM TANAH KUSIR )
 
A.    Latar Belakang
 
Dengan perkembangan zaman sekarang ini sudah sangat minim sekali orang orang islam yang ingin memperdalam ilmu keagamaannya melainkan mereka lebih senang mengikuti perkembangan zaman dibandingkan dengan perkembangan islam. Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa zaman atau waktu dapat mempengaruhi keinginan seseorang untuk menuntut ilmu agama.
 
Dalam majelis ta'lim atau yang biasa disebut dengan istilah pengajian bisa dibandingkan peminatnya antara anak muda dengan para bapak-bapak dan hasilnya bahwa para bapak-bapak lah yang mendominasi masalah pengajian, namun pada hakikatnya para bapak-bapaklah yang menentukan generasi penerusnya akan dibawa kemana.
 
Para pemuda adalah generasi penerus dari para orang tua yang sudah tua rentan akan pelajaran. Tidak menutup kemungkinan bahwa apabila para bapak-bapak tidak mendorong para pemuda maka generasinya akan hancur dengan berkembangnya zaman serta bertambahnya kehebatan teknologi. Bisa kita perhatikan banyak para pemuda bahkan anak kecil yang menyalahgunakan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya.
 
Ada beberapa kelompok pemuda yang lemah niat untuk mencari ilmu agama dan ada juga para pemuda yang rajin untuk mencari ilmu agama, namun jika dibandingkan kedua-duanya maka akan lebih besar pemuda yang lemah niat mencari ilmu agama. Pada kesempatan kali ini peneliti akan membahas tentang para pemuda yang rajin dalam menimbah ilmu agama, karena dibalik yang minim itu ada sesuatu yang istimewa dan keistemiwaan itu akan diberikan oleh sang maha pencipta bagi hamba-hambanya yang rajin menuntut ilmu agama.
 
Dalam pengajian juga terdapat peraturan peraturan yang harus diikuti oleh para jamaah agar pengajian tersebut bisa berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pimpinan pengajian, namun yang biasa kita lihat disini adalah banyak para pemuda yang mengikuti pengajian karena ada musiknya atau pun hanya untuk meramaikan saja atau juga hanya untuk mencari jodoh sehingga saat isi ceramah disampaikan oleh sang da'i para jamaahnya banyak yang tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh sang da'i. Sehingga bisa disimpulkan bahwa orang mengaji itu belum tentu dia benar, karena dia saja tidak mengetahui isi ceramah yang disampaikan oleh sang da'i  bagaimana dia bisa mengimplementasikan tentang isi ceramahnya tersebut sedangkan dia tidak mengetahui apa isi ceramahnya tersebut.
 
Saat ceramah disampaikan oleh sang da'i ada berbagai perilaku yang dilakukan oleh para pendengarnya yang diantaranya adalah tidur, memainkan handphone, mengkhayal, berbicara dengan teman sebelahnya. Akan tetapi jika para pendengarnya melakukan hal hal yang telah disebutkan diatas kita harus lihat apa yang melatarbelakangi mereka melakukan hal tersebut. Apakah sang da'i menyampaikan isi ceramah yang membosankan? Atau kah mungkin sang da'i juga tidak memperhatikan para pendengarnya sehingga para pendengranya juga merasa tidak diperhatiakan sehingga meraka juga tidak memperhatiakan da'i tersebut saat ceramah.
 
IPISTA dibentuk pada 13 Oktober 2013, yang berpusat di masjid Al Mujahidin. Pengajian ini bertujuan menciptakan kader kader pemuda yang berjiwa kesatria seperti Rasulullah SAW.
 
Pada penelitian kali ini saya memperoleh berita dari salah seorang panitia IPISTA yang bernama Sholeh, dia adalah orang yang berperan dalam menghidupkan pengajian ini karena ia berkata bahwa apabila tidak diawali maka tidak ada seperti sekarang ini.
 
B.     Pertanyaan dan Hasil Wawancara
 
1.      Apakah ada kriteria dalam pemilihan calon sang penceramah?
 
Ketika kita akan melakukan kegiatan pengajian rutinitas ataupun bulanan maka kita akan memilih calon sang penceramah atau bisa digaris besarkan kita yang mencari sang penceramah agar para pendengarnya juga bisa menikmati ceramahnya tersebut, karena jika sebelum pengajian dilakukan pemberitaan kepada para jamaahnya siapa yang akan menyampaikan isi tausiahnya maka para jamaahnya akan melihat siapa yang ceramah. Jika sang penceramah merupakan orang yang sudah tidak asing lagi mereka dengar maka mereka akan mengikuti pengajian tersebut, namun apabila sang calon penceramah merupakan dari kalangan yang biasa biasa saja maka mereka akan berpikir pikir lagi apakah dia harus mengikuti pengajian tersebut ada tidak.
 
Jadi dalam hal ini kami memperhatikan sekali kriteria dalam pemilihan calon sang pencermah, agar apabila sang penceramah menyampaikan isi dari ceramahnya tersebut para pendengarnya bisa memperhatikannya dan tidak melakukan hal hal yang bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Apabila sang pendengar bisa memperhatikan sang penceramah dengan baik maka para pendengarnya bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan bisa juga menyampaikannya kepada orang lain agar orang lain juga bisa mengetahuinya dan melakukan hal apa yang dilakukan dari yang satu ke yang lainnya.
 
Selain sang penceramah dari kalangan yang terkenal atau isi isi ceramahnya bagus sang penceramah juga harus bisa membawa suasana pengajian artinya sang penceramahnya juga harus bisa menyisihkan dari , karena ini adalah ceramah pengajian bukan ceramah wajib yang biasa disampaikan pada waktu khutbah jum'at. Pada saat ini penceramah yang bisa mengimbangkan antara sendau gurau dengan keseriusannya dalam penyampaian isi ceramah sangat jarang sekali, namun yang ada pada saat ini atau yang biasa muncul di televisi (TV) kebanyakan yang mengedepankan atau mengutamkan sendau guraunya dibandingkan dengan apa yang di sampaikannya di depan khalayak.
 
Pemilihan calon sang da'i sangat mempengaruhi tentang kedatangan para jamaah, karena biasanya jika sang penceramahnya bagus maka jamaahnya pun akan banyak akan tettapi sebaliknya apabila sang penceramahnya dari kalangan yang biasa biasa saja atau bahkan dari kalangan yang bukan ahlinya maka jamaah yang hadir pun akan sedikit sekali.
 
2.      Apakah ada batasan batasan waktu dalam menyampaikan isi ceramah?
 
Sebenarnya dalam ajaran islam tidak diperkanankan tentang batasan waktu yang diberikan panitia kepada sang da'i, karena itu dapat membuat sang da'i merasa terbatas sekali dalam penyampaiannya isi ceramahnya dan hasilnya pun mungkin tidak maksimal. Namun bila dilihat dari kondisi seperti sekarang sekarang ini kebanyakan orang yang memperhitungkan waktu untuk duduk di dalam majelis itu sangat banyak sekali dibandingkan ia duduk dikantor untuk berkerja.
 
Dari awal ceramah pun pada dasarnya para pendengar sudah memprediksikan berapa waktu yang dibutuhkan penceramah tersebut untuk menyampaikan pesan pesan agama dan biasanya apabila sang pencermah sudah melewati batas yang ditentukan oleh panitia maka para pendengarnya pun akan merasa sudah gelisah atau sudah tidak fokus lagi sehingga hal ini yang sangat menjadi bahan tolak ukur apakah para pendengarnya tersebut benar benar ingin mendengarkan ceramah atau tidak.
 
Jadi pada dasarnya bahwa waktu itu sangat penting dalam penyampaian isi ceramah. Maka sang penceramah juga harus bisa merangkum isi ceramahnya dengan singkat dan padat, agar para pendengarnya tidak merasa bosan dan jenuh sehingga para pendengarnya pun bisa menjadikan isi cermahnya sebagai bahan pedoman kehidupannya dalam sehari-hari.
 
3.      Apakah ada cara cara khusus dalam menangani jamaah yang kurang memperhatikan sang da'i?
 
Sebenarnya kita tidak memiliki cara cara khusus dalam menangani hal tersebut karena bagi kami itu kembali kepada dirinya sendiri apakah jamaahnya tersebut ingin mendaptkan isi dari ceramahnya tersebut ataukah hanya cuma sekedar hadir karena ajakan dari teman atau pun saudara.
 
Saat jamaah sudah merasa bosan dengan sang da'i maka kami akan menyelinginya dengan musik hadroh dan sahalawat sehingga sang pendengarnya pun merasa terhibur dengan hal tersebut.
 
C.     Kesimpulan
 
Etika adalah ilmu yang mempelajari tentang baik buruk perbuatan manusia yang didasarkan atas norma norma yang berlaku di masyarakat sekitar dan etika juga merupakan tujuan yang di ciptakan manusia sebagai penentua hasil akhir perbuatannya tersebut baik atau buruk.
 
Pada saat ini saya meneliti tentang sikap yang dilakukan pemuda masjid dalam mengikuti kegiatan agama yang diantaranya adalah mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh para mubaligh. Hasil yang dapat diperoleh adalah bahwa kesadaran remaja atau pemuda masjid akan hal mendengarkan ceramah sangat minim sekali di karenakan ada berbagai faktor yang melatarbelakangi mereka melakukan hal tersebut.
 
Mereka memberikan tanggapan dan alasan yang memang masuk kedalam logika atau masuk akal. Diantara tanggapan mereka adalah bahwa mereka sangat bosan dengan apa yang disampaikan oleh sang penceramah karena sang penceramah tidak mengetahui dulu kepada siapa ia memberikan ceramah, jadi cermah yang disampaikan juga tidak mengenai hati para remeja tersebut sehingga ia merasa jenuh dan bosan. Seorang penceramah sebelum memberikan ceramah seharusnya adalah mengetahui terlebih dahulu karakteristik dari para pendengarnya. 
 
Selain itu juga sang penceramah juga harus memperhatikan batasan waktu saat menyampaikan ceramah agar para pendengarnya tidak merasa bosan dengan waktu yang amat panjang dan ketika sang penceramah membuat waktu itu terasa panjang maka para pendengarnya pun akan merasa gelisah atau sikap yang di perlihatkan oleh para pendengarnya akan mencermikan muka yang merasa jenuh serta sikap duduk yang serba salah sehingga apa yang di sampaikan oleh sang penceramah tidak bisa masuk diahti yang artinya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
 
 

TUGAS_UTS_Ahmad Nurul Macky_1112051000086

I.                   Latar Belakang
 
a.       Persoalan Etika yang dikaji
Istilah "Kindegarden" atau taman kanak-kanak baru dipakai Froebel tahun 1837 pemikiran untuk mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak telah ada jauh sebelum itu. Bebrapa tokoh penting seperti Martin Luther, Comenius, Pestalozzi, Darwin dan Saguin memberi sumbangan yang tak ternilai untuk menyarankan agar anak laki-laki sebaiknya di beri pendidikan formal. Hal ini didasarkan atas penyataan bahwa anak laki-laki pada saat itu merupakan tulang punggung keluarga yang harus mampu menghidupi keluarganya, mendidik, membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Untuk itu  anak laki-laki sebaiknya bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ia juga menyarankan agar musik dan olahraga di masukkan dalam kurikulum (Frost dan Kissinger 1976).
Tokoh lain adalah John Comenius (1592-1670) ia menginginkan agar semua anak mendapat kesempatan belajar di sekolah. Idenya yang cemerlang dan masih dipakai sampai sekarang adalah kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum) dan kurikulum yang memberi kesempatan anak untuk belajar pengalaman langsung. Kurikulum yang terintegrasi tidak memisahkan bidang studi seperti matematika, sains, ilmu sosial, seni dan bahasa.
Charles Darwin (1959) menulis buku tentang The Origin of species dimana ia menyatakan bahwa setiap individu yang adaftif akan survive atau tetap hidup dan melanjutkan keturunannya. Oleh karena itu agar anak bisa tetap hidup maka ia harus berlatih beradaptasi dengan lingkungannya. Disamping itu, para pendidik perlu menyadari adanya perbedaan antar individu yang berdampak pada perbedaan cara belajarnya.
Jean jacques Rousseau (1712-1778) ia menuangkan pikirannya tentang paud dalam novelnya Emile. Ia menuangkan pendapat bahwa anak adalah miniatur oarang dewasa dan menyarankan agar anak di didik sebagaimana kodratnya. Ia berpendapat bahwa pendidikan sebaiknya di sesuaikan dengan usia anak. Menurutnya anak usia lahir sampai lima tahun belajar terbanyak melalui aktivitas fisiknya. Sementara anak usia lima tahun sampai dua belas tahun belajar melalui pengalaman langsung dan melalui eksplorasi terhadap lingkungannya.
 
b.      Alasan (Filosofis dan Praktis)
Saat ini sudah ada begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang berdiri di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari yang bersertifikasi internasional, berlatar agama, hingga lainnya. Begitu banyaknya penawaran dan embel-embel tersebut, tak heran orangtua kebingungan harus memilih yang mana yang tepat untuk anak. 
Namun, pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa diberikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini.
Begitu juga hal yang dilakukan oleh R.A Nurul Yaqin. R.A yang didirikan oleh Hj. Nurjannah ini terbentuk pada tanggal 11 November 2006 terinspirasi dari kurangnya pendidikan anak usia dini yang berada di lingkungan kampung baru kebon jeruk sukabumi selatan. R.A yang awalnya menggunakan halaman masjid ini, kini telah berpindah ke kediaman beliau yang terletak di jl. Pahlawan raya no.51 sukabumi selatan kebon jeruk Jakarta barat. Tujuan dibentuk nya R.A Nurul Yaqin ini adalah:
·         Meningkatkan pemahaman dalam beragama
·         Mengembangkan nilai sosialisasi dan potensi dalam diri anak
·         Meningkatkan pengetahuan atau pengalaman melalui kemampuan daya pikir
·         Menumbuhkan minat baca dan rasa ingin tahu pada anak
·         Memberikan fasilitas bermain bagi keluarga yang tidak mampu
·         Membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa dan meningkatkan SDM anak sejak usia dini
 
c.       Kasus yang diangkat
Ada banyak masalah yang dihadapi oleh R.A Nurul Yaqin. Diantaranya ada anak usia dini yang ia temui memperbolehkan pengasuhnya ikut ke dalam kelas. Disini jelas, pengasuh mengambil alih otoritas orangtua. Padahal tenaga pendidik tidak menyarankan pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak harus belajar mandiri. Kemudian saya pernah melihat dalam kelas ada seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya berani mengambil risiko. Yang jadi masalah di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, adalah kurangnya pelatihan guru-guru agar terus menjadi lebih baik, tak adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua, dan kurang kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini lainnya.
 Perlu diketahui lagi, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari 18 bulan.
BAB II
II.                Teori Etika
1. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme. Pertama,
egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia
dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang boleh saja
yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan
yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi.
Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Menurut teori ini, tidak
ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitu suatu tindakan yang peduli pada
orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentingan
dirinya. Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri
(self-interest).
Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang
lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang
lain.
2. Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak
mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number). Paham
utilitarianisme sebagai berikut: (1) Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat,
konsekuensi, atau tujuan dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak, (2) dalam
mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah
kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan, (3) kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang
memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu,
sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang kepentingan orang banyak.
 
BAB III
III.             Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang merupakan penggambaran, pemahaman, interpretasi,  penafsiran, pengembangan,  dan eksplorasi terhadap suatu masalah penelitian. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan serta pengaruh dari suatu fenomena. Dalam pendekatan metode ini bentuk penjelasan tentang fenomena yang dibahas, yang bertujuan untuk memahami makna sehingga menghasilkan daya deskriptif yang mampu menggambarkan secara luas tentang prosedur etika pada lembaga/institusi komunikasi yang pada penilitian kali ini mengangkat permasalah etika yang ada di R.A Nurul Yaqin JL.Pahlawan Raya No.51 Sukabumi Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.
 
1.      Subjek dan Objek Penelitian
-      Subjek Penelitian
Subjek penelitianya adalah  R.A Nurul Yaqin sebagai suatu lembaga institusi yang akan diteliti.
-          Objek Penelitian
Objek penelitianya adalah  mengapa dalam melaksanakan tugas mulia tersebut, di R.A ini seringkali banyak masalh etika yang terjadi?
 
2.      Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah populasi dan sample. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian. Tempat penelitianya adalah di secretariat R.A Nurul Yaqin Sukabumi Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat dari tanggal 9 Oktober 2014 s/d 10 Oktober 2014
 
3.      Teknik Pengumpulan Data
 Alat pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut
-          Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
-           Observasi
Observasi adalah pengamatan secara sengaja, sistematis, mengenai fenomena social yang kemudian dilakukan pencatatan.
 
 
 

TUGAS_3_Ahmad Nurul Macky_1112051000086

FILSAFAT
A.    Definisi Filsafat
Secara harfiah, istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani yakniPhilosophia, kemudian dalam perkembangannya dikenal juga dalam beberapa bahasa diantaranya Belanda, Jerman dan Perancis yang dikenal sebagai philosophie, dalam bahasa Inggris disebut philosophy, philosophia dalam bahasa Lain dan falsafah dalam bahasa Arab.
Dari pengertian-pengertian secara istilah diatas, memunculkan beberapa pemahaman makna filsafat yang berbeda-beda. Namun para filsuf yang berupa philosophien merumuskan bahwa terdapat dua unsur pokok dalam istilah filsafat secara harfiah tersebut yang terbagi atas dua akar kata yaitu phillien dan shopos  serta philos  dan sophia.
Kemudian para filsuf tersebut mencoba untuk menguraikan satu persatu pengertian dari kedua kelompok unsur pokok tersebut. Unsur pokok pertama yakni phillien dan shopos,phillien memiliki arti mencintai dan shopos memiliki arti bijaksana. Dari pengertian secara harfiah dari kedua kata tersebut, maka bermakna bahwa filsafat berarti mencintai segala sesuatu yang memiliki sifat kebijaksanaan.
Sedangkan arti atau makna dari kata philosophia ditinjau dari akar kata philos dan shopia memiliki arti kawan kebijaksanaan. Dengan kata lain philosopie berarti menurut katanya ialah mencintai akan kebijaksanaan dan berusaha untuk memilikinya.Kebijaksanaan yang dimaksud memiliki kandungan arti hakikat. Seorang filsuf berarti seorang yang mencintai kebijaksanaan dan mencari hakikat sedalam-dalamnya.
Untuk batasan-batasan filsafat sendiri, para filsuf memiliki ukuran dan batasan yang berbeda. Setiap masing-masing filsuf memiliki rumusan dan batasan tersendiri mengenai filsafat. Perbedaan tersebut sangat beragam, terkadang perbedaan itu berdasarkan essensialnya. Namun semua perbedaan itu tidak benar-benar mendasar. Namun secara jelasnya, perbedaan yang beragam tersebut dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi etimologi dan dari segi terminologi.
Secara etimologi, seperti yang sudah diuraikan diatas sebelumnya bahwa filsafat berasal dari beberapa bahasa sesuai dengan pendapat masing-masing. Ada yang beranggapan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', ada juga yang berasal dari bahasa Yunani ''philosophia' yang merupakan sumber akar pula dari 'philosophy' yang berasal dari bahasa Inggris.
Sedangkan secara terminologi, ada banyak tokoh dan ahli dalam bidang filsafat yang mengemukakan definisi filsafat tersebut sesuai dengan kecenderungan pemikiran dan pandangan mereka masing-masing terhadap filsafat itu sendiri. Diantaranya yaitu:
1.      Menurut Plato filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan yang asli.
2.      Menurut Aristoteles filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,ekonomi, politik dan estetika.
3.      Menurut Al Farabi filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Dan beberapa pengertian lainnya masih banyak filsuf yang mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun dari semua uraian diatas dapat ditarik garis besarnya bahwa filsafat ialah ilmu yang mencari dan mendalami tentang sesuatu secara sungguh-sungguh sehingga mencapai hakikat dari situasi tersebut.
B.     Unsur-unsur filsafat
Unsur-unsur filsafat terbagi menjadi tiga macam, antara lain:
1.      Ontologi
Secara harfiah, ontologi berasal dari bahasa Yunani; ta onta yang berarti 'yang berbeda' dan logi yang berarti ilmu pengetahuan/ajaran. Bisa disimpulkan ontologi ialah ilmu pengetahuan tentang yang berada. Secara sederhananya ontologi ialah ilmu tentang agama. Dalam levelnya ia berada di metafisik/abstrak, kemudian diurunkan ke ilmu pengetahuan (epistomologi).
Tokoh yang memperkenalkan istilah ontologi ini ialah C. Wolff (1679-1714)
2.      Epistomologi
Secara harfiah epistomologi terdiri dari kata 'episteme' yang berarti pengetahuan dan kata 'logos' yang berarti teori. Sehingga dalam istilah bahasa Inggris epistomlogi dikenal sebagai 'Theory of knowledge'. Epistomologi secara artian yang lebih rinci diistilahkan sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari lebih dalam tentang asal  mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.
3.      Aksiologi
Secara harfiahnya aksiologi berasal kata Yunani yang terdiri dari axion yang berarti nilai dan logos  yang berarti teori tentang nilai. Sedangkan secara istilahnya aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mempertanyakan dan mempelajari secara mendalam tentang bagaimana manusia menggunakan ilmunya. 
Aksiologi dibagi menjadi dua yaitu estetika yang berarti artistik, praktis dan bersifat relatif, serta etika yang berarti nilai atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai kata ethic.
C.     Metode
Dalam ilmu filsafat ada banyak sekali metode-metode yang dimilikinya. Sesuai dengan referensi buku yang dikutip ini, ada sekitar sepuluh metode filsafat konkret yang terdapat didalam Dicionary Of Philosophy yang dikutip oleh DR. Anton Bakker, antara lain:
1.      Metode kritis
Dipelopori oleh Socrates dan Plato yang bersifat analisa isitilah pendapat melalui cara diskusi dan bertanya.
2.      Metode intuitif
Dipelopori oleh Platinos dan Bregson, dengan cara intropeksi pembersihan intelektual serta persucian moral dan dengan jalan pembaruan antara kesadaran dan proses perubahan.
3.      Metode skolastik
Dipelopori oleh Aristoteles, Tomas Aquinas dan filsuf abad pertengahan. Bersifat sintetis deduktif.
4.      Metode matematis
Yang dipeolopori oleh Descrates dan pengikutnya. Dengan cara menganalisa hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat yang sederhana.
5.      Metode empiris
Dipelopori oleh Hobbes, Locke, Barkeley dan Hume. Metode ini mengatakan bahwa hanya pengalaman lah yang menyajikan pengertian yang benar.
6.      Metode transendental
Dipelopori oleh Kant dan Neo-Skolastik. Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
7.      Metode dialektis
Dipelopori oleh Marx dan Hegel. Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri.
8.      Metode fenomenologis
Dipelopori oleh Husserl dan eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis, refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
9.      Metode Neo-Positivitis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.
10.  Metode analitika bahasa
Dipelopori oleh Wittgenstein, dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknyaucapan-ucapan filosofi. 
D.    Hakikat Filsafat
Pada hakikatnya filsafat merupakan ilmu yang berasal dari pemikirian manusia secara menyeluruh. Dapat dikatakan juga filsafat ialah sumber dari segala ilmu. Ilmu yang mencari dan mendalami tentang kebenaran dari sebuah kebenaran yang sudah ada melalui beragai proses dan metode-metode yang beragam. 
Dalam penacapaian kebenerannya yang sudah dianggap benar sebelumnya, hal ini menandakan bahwa pengetahuan manusia terhadap kebenaran itu sebenarnya terbatas dan tidak berkembang dengan pemikiran yang lain. Karena filsafat adalah satu titik penemuan tentang hakikat kebenaran yang sudah ada namun ingin dikembangkan lagi secara mendalam karena penyelesaian masalah dalam filsafat itu bersifat mendalam dan universal.
Berfikir mengenai filsafat sebenarnya lebih unggul daripada berfikiran tentang ilmu yang lainnya. Karena filsafat tidak hanya berhenti di satu titik saja,namun berkembang. Berbeda halnya dengan ilmu lain yang hanya selesai dan berhenti sampai pada pemikiran awal saja.
Dikutip pula dari pengertian filsafat oleh Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segtala sesuatu dengtan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat mengahsilakn pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya mencapai pengetahuan itu. 
 
 

Cari Blog Ini