Jumat, 17 Oktober 2014

TUGAS KE 4 ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI_DEWI UTARI_1112051000134_KPI 5E

NAMA: DEWI UTARI                             NIM: 1112051000134
KPI 5E
TUGAS KE 4
ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
       I.            Pengertian Filsafat Komunikasi
Onong .U. Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya.[1]
Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, adalah komunikator pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi komunikasi dengan melibatkan unsure tersebut.
Joseph A.Devito dalam bukunya komunikasi antar manusia(1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan komunikasi (konteks) komunikasi sedikitnya mempunya tiga dimensi, yaitu Dimensi fisik, dimensi social-psikologis dan dimensi temporal. Dimensi fisik artinya lingkungan nyataatau berwujud. Dimensi social-psikologis berkaitan dengan suasana di mana komunikasi berlangsung. Dan dimensi temporal berkaitan dengan waktu.
Ketiga dimensi lingkungan di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.[2] Dalam sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Untuk itulah, seorang komunikator harus menciptakan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fisafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
 
DAFTAR PUSTAKA
AP, Sumarno dan Kismiyati, filsafat dan etika komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka. 2007.
 
 


[1] Drs, Sumarno AP, S.H., Dra. Hj. Kismiyati, dkk, Filsafat dan etika komunikasi. (Jakarta: Universitas Terbuka), 2007. h 2.14.
[2] Drs, Sumarno AP, S.H., Dra. Hj. Kismiyati, dkk, Filsafat dan etika komunikasi. h 2.16.

Rabu, 15 Oktober 2014

Arif Syahrizal KPI 5 E tugas 3 1112051000133

Nama               : Arif Syahrizal
NIM                : 1112051000133
Kelas               : KPI 5 E
Tugas Ke         : 3 (tiga)
 
            Poedjawijatna menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia. Philo yang berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu. Arti dari kata sophi adalah kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh diartukan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.
            Menurut kutipan dari Abu Bakar Atjeh dapat diketahui bahawa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. Melihat pengertian filsafat dari segi istilah berarti kita ingin melihat filsafat pada segi definisinya. Untuk membuat definis suatu objek kita harus mengetahui konotasi objek itu. Berikut ini dikutipkan beberapa definis yang dikemukakan oleh beberapa pengarang , sesuai dengan konotasi filsafat yang ditangkap oleh mereka.
            Poedjawijatna mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam dalamnya bagi segala sesuatu bedasarkan pikiran belaka. Kemudian Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah ia mendapatkan pengetahuan itu. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli. Sedangkan menurut Al-Farabi filsafat ialah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
            Dalam rangka memahami apa filsafat itu, marilah kita perdalam sedikit pembahasan ini. Bila dirinci, dapatlah diketahui bahwa kesulitan membuat definisi filsafat, jadi berarti juga sulitnya memahami apa itu filsafat, adalah pertama kerena pengertian filsafat berkembang dari masa ke masa. Kesulitan yang kedua adalah karena pengertian filsafat itu berbeda antara satu tokoh dengan tokoh yang lainnya, dan kesulitan yang ketiga adalah karena kata filsafat itu telah dipakai untuk menunjuk bermacam-macam objek yang sesungguhnya berbeda.
 
 
 
            Dalam garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat, teori nilai. Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat. Yang ketiga, teori nilai atau disebut juga sebagai aksiologi, membicarakan guna pengetahuan tadi. Dalam ringkasannya adalah sebagai berikut ini :
Ø  Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut dengan epistemologi.
Ø  Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut dengan ontologi.
Ø  Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut aksiologi.
 
A.    EPISTEMOLOGI
 
Epistemologi membicarakan simber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.
Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, tatkala ia 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara kawannya yang seumur dengan dia mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dari pada dia dalam bidang yang sama atau berbeda.
Pengetahuan manusia itu ada 3 macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan menggunakan berbagai alat.
Jhon Locke, bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti, bagaimana pun kompleks (ruwet)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Kerana itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
Kelemahan aliran ini cukup banyak. Kelemahan pertama ialah indera terbatas. Dalam hal ini indera tidak mampu melihat kerbau secara keseluruhan dari badannya. Jika kita melihatnya dari depan, yang kelihatan adalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya. Kesimpulannya adalah empiris lemah karena keterbatasan indera manusia. Oleh karena itu muncullah aliran rasionalisme.
Secara singkat aliran rasionalisme menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek.
 
 
 
 
 
 
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, manusia untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengana akal. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal bekerja karena ada bahan dari indera.
Indera dan akal yang bekerja sama belum juga dapat dipercaya mampu mempeoleh pengetahuan yang  lengkap, yang utuh atau sempurna. Dengan indera, manusia hanya mampu mengetahui bagian bagian tertentu tentang objek.
 
 

Arif Syahrizal KPI 5 E 1112051000133 tugas 1

NAMA            : ARIF SYAHRIZAL
KELAS           : KPI 5 E
TUGAS           : 1 ( SATU)
 
1.      Carilah istilah dan kerancuan istilah : Etika dan Moral, Amoral dan Immoral, Etika dan Etiket, Moralitas, Subyektif. Dan membedakan antara : Etika Deskriptif, Etika Normatif dan Metaetika ; Hakikat Etika Filosofis.
 
Ø  Perbedaan pokok antara Etika dan Etiket.
Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Sedangkan etiket memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu, etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan bisa dilakukan anatara ya dan tidak. Pembahasan etika lebih menitikberatkan pada baik buruknya atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban tanggung jawab manusiawi dan etiket berkaitan dengan apa yang menjadi dasar bahwa tindakan manusia adalah baik atau buruk, benar atau salah.
 
Ø  Perbedaan antara Etika dan Moral
Etika lebih condong ke arah ilmu tentang baik atau buruk suatu perbuatan yang dilkukan. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode etik.moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk. Moral mempunyai dua kaidah yaitu :
a.       Kaidah sikap baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap kita baik itu harus dinyatakan dalam bentuk yang pasti atau konkret, tergantung dari apa yang baik dalam situasi kongkret itu.
b.      Kaidah keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing.
 
 
 
 
 
 
Ø  Perbedaan antara Etika Deskriptif, Etika Normatif dan Meta Etika.
a.       Etika Deskriptif
Etika Deskriptif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau subkultur tertentu. Oleh karena itu, etika deskriptif tidak memberikan pemikiran apa pun, ia hanya memaparkan. Etika deskriptif lebih bersifat netral.
 
b.      Etika Normatif
Etika Normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Ia juga bisa mempersoalkan apakah norma itu benar atau tidak. Etika normatif berarti sistem-sistem yang dimaksud untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik atau buruk. Etika normatif dibagi menjadi dua, yaitu Etika Umum dan Etika Khusus.
 
c.       Metaetika
Bagian lain etika adalah metaetika, yaitu kajian etika yang ditunjukan pada ungkapan-ungapan etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dakaji secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan dengan "baik" dan "buruk".
 
Ø  Perbedaan antara Amoral dan Immoral.
 
a.    K. Bertens, Etika, 1993;7-8 mengatakan mengenai istilah antara amoral dan immoral dalam bahasa Indonesia mengalami kesulitan. Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral diterangkan 'unconcerned with,out of the sphere of moral, non moral'. Jadi kata Inggris amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis, non moral. Sedangkan immoral dijelaskan sebagai opposed to morality, morally evil yang berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk tidak etis.
b.    Menurut Dr. W. Poespoprodjo, L. Ph. S. S., Filsafat Moral, 1986;102; kata amoral, nonmoral berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral tidak mempunyai arti moral. Istilah immoral artinya moral buruk (buruk secara moral).
 
 
 
 
Ø  Pengertian tentang Moralitas
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas atau nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Dua kaidah dasar Moral :
a)    Kaidah sikap baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik baik itu harus dinyatakan dalm bentuk yang konkret tergantung dari apa yang baik dalam situasi konkret itu.
b)   Kaidah keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing.
 
Ø  Subyektif
Norma bersifat subyektif dan akibatnya sering kali di ganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis atau tidaknya.
 
Ø  Hakikat Etika Filosopis
Filsafat ialah seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, tentang baik atau buruk untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.
 
 
 
 
 
 
 
Florence Kluckholn, mengidentifikasikan sejumlah orientasi nilai yang tampaknya berkaitan dengan masalah kehidupan dasar:
1.    Manusia berhubungan dengan alam atau lingkungan fisik, dalam arti mendominasi, hidup dengan atau ditaklukan alam.
2.    Manusia menilai sifst/hakikat manusia sebagai baik atau campuran antara baik dan buruk.
3.    Manusia hendaknya bercermin pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
 
Orientasi nilai tersebut sangat berbeda di antara berbagai kebudayaan dan subbudaya dalam masyarakat, khususnya sebagai bagian dari peranan-peranan social yang mereka sandang dalam masyarakat. Nilai-nilai mempunyai tingkatan-tingkatan seperti :
1.    Nilai-nilai akhir atau abstrak, seperti: keadilan, persamaan, kebebasan, kedamaian, dan kemajuan social.
2.    Nilai-nilai tingkat menengah, seperti : kualitas keberfungsian manusia/pribadi, keluarga yang baik, pertumbuhan dll.
3.    Nilai-nilai tingkat ketiga merupakan nilai-nilai instrumental atau operasional yang mengacu kepada ciri-ciri perilaku dari lembaga social yang baik.
4.    Nilai-nilai dan norma-norma yang telah diinternalisasikan ke dalam diri individu tersebut, sebagai prinsip-prinsip etik.
 

Cari Blog Ini