Sabtu, 18 Oktober 2014

Fahmi, KPI 5 E, 1112051000129 | Tugas 4 Etika dan Filsafat Komunikasi

NAMA           : FAHMI
NIM                : 1112051000129
KELAS          : KPI 5 E
 
Filsafat Komunikasi
            Komunikasi adalah proses penyampaian pernyataan antar manusia. Dari manusia kepada manusia. Bahwa manusia dalam komunikasi itu penting, tak dapat disangkal lagi. Dalam komunikasi paling sedikit harus ada tiga unsur, yakni komunikator, pesan atau pernyataan, dan komunikan. Dua dari tiga komponen itu, yakni komunikator dan komunikan adalah manusia dengan segala kompleksitas kejiwaannya.
            Onong U. Effendi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dah metodenya.
            Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise) dan lain sebagainya.
            Dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik  (ada suara selain dari komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan sematik (salah mengartikan makna).
            Untuk mengerti komunikasi dengan sebaik-baiknya, kita perlu memahami diri manusia itu, meskipun memang tidak mudah untuk menerangkanapa manusia itu, disebabkan sifatnya yang kompleks. Ada beberapa aliran atau faham mengenai manusia itu:
1. Faham materialisme
            Faham ini berpandangan bahwwa manusia pada prinsipnya hanyalah materi, atau benda. Memang manusia ada kelebihannya dibandingkan dengan benda lainnya, seperti kerbau dan batu, namun pada hakekatnya sama saja. Manusia adalah materi semata, akibat dari proses unsur kimia.
2. Faham idealisme
            Faham idealisme adalah aliran yang bertentangan secara ekstrim dengan materialisme. Idealisme berasal dari kata eidos yang berarti pikiran. Manusia adalah manusia, karena ia berfikir, karena ia mempunyai ide, karena ia sadar akan dirinya. Manusia belum pernah melihat kapal selam, tetapi ia mengerti kapal selam; belum pernah pergi ke Amerika, tetapi mengerti Amerika. Terkenallah Descartes orang yang terkenal dalam aliran ini, yang terkenal pula prinsipnya yaitu cogito ergo sum, yang berarti: aku berfikir; jadi aku ada. Descartes memandang manusia sama saja dengan kesadarannya. Dan kesadaran tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan jasmani.
            Menurut Descartes, manusia itu terdiri dari dua macam zat yang berbeda secara hakiki, yaitu:
·         Res cogitans (zat yang dapat berpikir)
Res cogitans adalah zat roh, zat yang bebas, tidak terikat oleh hukum alam, bersifat rohaniah.
·         Res extensa (zat yang mempunyai luas)
Res extensa adalah zat materi,, tidak bebas, terikat dan dikuasai oleh hukum alam.
            Kedua zat itu berbeda dan terpisah kehidupannya. Kehidupan manusia berpokok pada kesadarannya, pikirannya yang bebas. Jadi di situ terdapat dualisme antara jiwa dan raga
 
3. Faham eksistensialisme
      Aliran eksistensialisme menentang ke-dua aliran di atas. Menurut kata asalnya:
·         Eks berarti keluar
·         Sistensia berarti berdiri
·         Eksistensi berarti: berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri.
Yang dimaksudkan dengan eksistensi adalah cara manusia berada di dunia, dan cara ini adalah khusus untuk manusia, tidak untuk benda lain. Sebab beradanya manusia di dunia berada dengan benda-benda lain di dunia.
Menurut ajaran eksistensialisme, manusia bukan saja berada di dunia, tetapi juga menghadapi dunia, menghadapi benda lain di dunia. Dan dalam menghadapi barang itu, ia mengerti arti barang yang dihadapinya itu. Dan ia mengerti pula apa itu hidup. Ia mengerti arti dan gunanya api atau kayu. Ia mengerti apa artinya dan apa gunanya bercocok tanam. Kesemuanya itu, bearti manusia adlah subyek, subyek artinya sadar, sadar akann dirinya dan sadar akan obyek-obyek yang dihadapinya.



MUDILLAH/1112051000132/KPI5E/ETIKA&FILSAFAT/TUGASKE-4

Nama: Mudillah

NIM: 1112051000132

Kelas: KPI 5E

Tugas: ke-4 

 

Apa itu filsafat komunikasi?

Setelah mempelajari "apa itu komunikasi?" terdahulu, maka sampailah untuk pada pengertian filsafat komunikasi. Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu yang sedalam-dalamnya. Untuk itu seseorang harus berusaha mengupas komunikasi sedalam-dalamnya, artinya mencoba menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi.

Onung U, Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya.

Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi; komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek, tidaklah cukup  untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur terasebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise), dan lain sebagainya.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia, menyebutkan adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi mempunyai tiga dimensi:

1.      Dimensi fisik

Dimensi ini artinya lingkungan nyata atau berwujud. Contoh: dalam ruangan (bangsal) baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga atau di luar ruangan baik di taman, di jalan dan lain sebagainya.

Dimensi fisik berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apa pun bentuk tempat tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan (apa yang disampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana pesan disampaikan)

2.      Dimensi sosial-psikologis

Dimensi ini artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Contoh: status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembira, rasa duka, dan sebagainya.

Dimensi sosial-psikologis berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.

3.      Dimensi temporal (waktu)

Dimensi ini mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Contoh: pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, abad sebelum Masehi, abad pertengahan, dan lain sebagainya.

 

Ke tiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contoh : A berjanji kepada B akan datang jam 7 malam (konteks temporal) tetapi ia terlambat, keterlambatannya dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan A dan B menjadi permusuhan (konteks sosial-psikologis), dan kemudian dapat mengakibatkan kedekatan fisik yang berubah (dimensi fisik).

 Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah unsur noise. Noise adalah gangguan dalam komunikasi yg mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima komunikan.  Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik, psikologis, serta gangguan semantik. Misalnya saja gangguan semantik, dimana komunikator dan komunikan memberi makna yang berlainan. Contoh orang berbicara dengan bahasa yang berbeda atau menggunakan istilah yang sulit dipahami, dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, seorang komunikator harus memperhatikan pesan apa yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya kepada komunikan agar terjadi komunikasi yang efektif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fisafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.



 
Sent from Windows Mail
 

Nama `: M. Hidayatul Munir NIM `: 1112051000131 Kls/jrsn/smstr : 5 KPI E Tugas : Ke 4 Etika Filsafat Dan Komunikasi

Nama              `: M. Hidayatul Munir
NIM                `: 1112051000131
Kls/jrsn/smstr : 5 KPI E
Tugas              : Ke 4 Etika Filsafat Dan Komunikasi
FILSAFAT KOMUNIKASI, APAKAH ITU
1.      Pengertian Filsafat Komunikasi
Komunikasi sebagai ilmu telah dipelajari dan telah ditunjukan ciri-cirinya pada kegiatan sebelumnya. Sekarang sampailah pada pengertian filsafat komunikasi. Filsafat sebagai cara berfikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya, artinya kita mencoba menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi.
Onong U. Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi  mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstchen) secara fundamental, metodologis sistematis, analitis kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya. Proses komunikasi dengan ketujuh dimensinya telah di bahas pada kegiatan belajar 1. Begitu rumit dan kompleks proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia.
Mengacu pada paradigma Lasswell dengan lima unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan, dan lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :
a.)    Dimensi Fisik
b.)    Dimensi Sosial-psikologis
c.)    Dimensi Temporal (waktu)
Dimensi Fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Contoh : Dalam ruangan (bangsal) baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga atau di luar ruangan baik di taman, di jalan dan sebagainya.
Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, di mana komunikasi berlangsung. Apapun bentuk tempat tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).
Dimensi Sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komikator dan komunikan.
Contoh : Status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembira, rasa duka dan sebaginya.
Dimensi Sosial-psikologis berkaitan dengan suasana dimana komunakasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana Formalitas maupun informalitas, suasana serius atau senda gurau pastilah akan berbeda suasana komunikannya. Komunikasi yang berlangsung di tempat pesta berbeda dengan di tempat orang berduka cita, yang satu suasana gembira, yang lainnya suasana sedih.
Contoh : Pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, abad sebelum masehi, abad pertengahan, masa pencerahan, abad modern, masa kini dan sebagainya.
Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinteraksi masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contoh Seseorang yang berjanji datang jam 7 malam (konteks temporal) terlambat, keterlambatannya dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan menjadi permusuhan (konteks sosial-psikologis) dan kemudian dapat mengakibatkan kedekatan fisik yang berubah karena pemilihan rumah makan untuk makan malam (lingkungan fisik.
Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adaah unsur gangguan (noise). Noise adalah ganguan dalm komunikasi yang mendistorsi pesan.  Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suara dari selain komunikastor). Psikologis (pemikiran yang sudah ada di suara dari selain komunikan) serta ganguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29)
Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan hasil berfikirnya kepada orang lain. Kegiatan berfikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak di masa obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak.
Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Melihat rumitnya proses komunikasi dan banyaknya unsur dalam komunikasi apabila didalami secara filosofis akan mengangkat esensi dari komunikan ini sendiri. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pemikiran seseorang.
Dengan Demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang  pernyataan  manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian manusia.
 
DAFTAR PUSTAKA
Sumarno AP,Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka,2007)
 
 

Trisaka Oktarian_KPI 5/E_Tugas Etika 4

Nama   : Trisaka Octarian

Kelas   : KPI 5/E

NIM    : 1112051000130

Filsafat Komunikasi

 

Komunikasi sebagai ilmu telah dipelajari dan telah ditunjukkan ciri-cirinya pada kegiatan sebelumnya. Sekarang sampailah pada pengertian filsafat komunikasi. Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Untuk itu kita berusaha mengupas komunikasi sedalam-dalamnya, artinya kita mencoba menemukan hak ikat/inti/esensi dari komunikasi.

Onong U. Effendi dalam bukunya ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis dan holitis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknisnya dan metodenya.

Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise)  dan lain sebagainya.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1. Dimensi fisik.

2. Dimensi sosial-psikologis.

3. Dimensi temporal (waktu).

            Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Contohnya adalah dalam ruang bangunan (bangsal) baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga atau diluar ruangan, baik ditaman, dijalan dan sebagainya.

            Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apa pun bentuk tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).

            Dimensi sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Contohnya adalah: status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembira, rasa duka dan sebagainya.

            Dimensi sosial psikologis berkaitan dengan suasana di mana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikasn akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana formalitas maupun informalitas, suasana serius atau senda gurau pastilah akan berbea suasana komunikasinya. Komunikasi yang berlangsung di tempat pesta berbeda dengan di tempat orang berduka cita, yang satu suasana gembira, yang lainnya suasana sedih

            Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah di mana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu di pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan terseut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.

            Ketiga dimensi lingkungan komunikasi  di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat pehatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adlah gangguan komunikaso yang mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29).

            Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantik, perlu mendapat pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan baik oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri.

Kemudian ada beberapa faham atau aliran mengenai manusia itu menurut Onong U. Effendy yaitu:

 

 

1. Faham materialisme

       Pemahaman ini berpandangan bahwa manusia pada prinsipnya hanyalah materi, atau benda;lain tidak. Memang manusia ada kelebihannya dibandingkan dengan benda lainnya. Seperti kerbau atau batu.

2. Faham idealisme

       Faham idealisme adalah aliran yang bertentangan secara ekstrim dengan faham materialisme. Idealisme berasal dari perkataan eidos, yang berarti pikiran. Manusia adalah manusia, karena ia berpikir, karena ia mempunyai idea, karena ia sadar akan dirinya.

       Descrates memandang manusia sama saja dengan kesadarannya. Dan kesadaran tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan persentuhan dengan alam jasmani. Dalam kesadaran itu terdapat idea, tetapi idea itu sama sekali tidak berasal dari kontak dengan alam di luar kesadaran. Memang Descrates tidak memungkiri adanya realitas di luar kesadaran, tetapi ia memisahkan kesadaran dari dunia luar.

       Menurut Descrates, manusia itu terdiri dari dua macam zat yang berbeda secara hakiki, yaitu :

Res exstensa adalah zat materi, tidak bebas, terikat dan dikuasai oleh hukum alam.

Res cogitans adalah zat roh, zat yang bebas, tidak terikat oleh hukum alam, bersifat rohanian.

3. Faham eksistensialisme

            Aliran eksistensialisme menentang kedua aliran terdahulu. Menurut kata asalnya:

-eks berarti keluar

-sistensia berarti berdiri

- eksistensi berarti: berdiri sebagian diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri

            Yang dimaksudkan dengan eksistensi ialah cara manusia berada di dunia, dan cara ini adalah khusus untuk manusia, ia tidak untuk lain benda. Sebab beradanya manusia di dunia berbeda dengan beradanya benda-benda lain di dunia.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain mnuju kemengertiaan bersama.

 

Sumber:

DRS. Onong U. Effendy, M.A. Dimensi-dimensi Komunikasi.

 

Annisah Bilqis, 1112051000158, KPI 5E, tugas ke-4

Nama   : Annisah Bilqis

NIM    : 1112051000158

Kelas   : KPI 5E

Tugas   : Etika dan Filsafat Komunikasi ke-4

 

Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (versethen) secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, dan metodenya. Mengacu pada paradigm Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan waktu, tempat, gangguan (noise) dan lain-lain.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :

-          Dimensi fisik

-          Dimensi sosial-piskologis

-          Dimensi temporal (waktu)

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.

            Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berfikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berfikir. Dalam melihat objek disekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia akan selalu bertanya-tanya. Usaha manusia untuk memikirkan dunia sekitarmya menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga pokok masalah, yaitu :

1.      Ontologi          : apakah yang ingin kita ketahui?

Membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, hakikat apa yang dikaji.

2.      Epistomologi   : bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?

Membahas tentang pengetahuan.

3.      Aksiologi         : apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?

Membahas tentang nilali kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh akan dijawab oleh aksiologi yaitu teori tentang nilai.

Ketiga pertanyaan tersebut ternyata sangat mendasar dan merupakan pengkajian secara filsafat terhadap ilmu.  Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok dibawah ini:

1.      Apa yang aku ketahui?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya?

3.      Apakah aku yakin?

4.      Apakah aku benar?

Keempat pertanyaan ini berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi, dan logika.

            Menurut Lanigan metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.

            Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelediki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih fundamental lagi bersangkutan dengan criteria bagi penelitian terhadap kebenaran dan kepalsuan.

            Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu.

            Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang penyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengerrtian bersama.

Jumat, 17 Oktober 2014

Tugas 4: Filsafat Komunikasi?

Nama                                      : Syifa Maulidina

NIM                                        : 1112051000150

Semester/ Prodi/ Kelas          : 5/ KPI/ E

            Onong Uchjana Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya, menyadari bahwa begitu rumit dan kompleks proses komunikasi yang dilakukan manusia.

            Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan lima unsur, yakni dalam model komunikasi Harold Lasswell (1948) who (komunikator), says what (pesan), in which channel (media), in whom (komunikan), with what effect (efek).

            Joseph A. Devito (1997) dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1.      Dimensi fisik, lingkungan nyata atau berwujud.

2.      Dimensi sosial psikologis, lingkungan hubungan kejiwaan antar komunikator dan komunikan.

3.      Dimensi temporal (waktu), mencakup waktu dalam sehari mau pun dalam hubungan sejarah di mana komunikasi berlangsung.

Pada teori ini, ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contohnya: orang A berjanji dengan orang B akan datang jam 10 pagi (dimensi temporal), tetapi orang A terlambat dan membuat orang B merasa jengkel (dimensi sosial psikologis), akhirnya orang B mengubah jam dan tempat pertemuan yang lain (dimensi fisik).

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yg merupakan studi sistematis mengenal sifat alami dari ilmu, khususnya dari metode-metodenya, konsep-konsep dasar penggarapan-penggarapannya, dan letaknya dalam kerangka umum dari bidang-bidang intelektual (A. Cornelius Benjamin, 1975).

Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berpikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berpikir. Dalam melihat objek di sekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia sekitarnya menghasilkan pengetahuan, ilmu dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yaitu:

  1. Ontologi: menjawab "Apa objek formalnya?"
  2. Epistemologi: menjawab "Bagaimana menemukan ilmu itu?"
  3. Aksiologi: menjawab "Mengapa demikian?"

Ontologi membahas tentang apa objek formal yang ingin diketahui, hakikat apa yang ingin dikaji. Menekankan pada usaha untuk menemukan jawaban terhadap objek formal. Apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya? Metafisika sebagai cabang filsafat yang membahas hakikat kenyataan.

Epistemologi adalah tentang pengetahuan, menjawab pertanyaan kedua, bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Berupaya menemukan jawaban bagaimana munculnya ilmu itu.

Aksiologi adalah tentang nilai, menjawab pertanyaan ketiga, penilaian kegunaan, penilaian baik dan buruk, dari pengetahuan yang kita peroleh. Menekankan pada mengapa ilmu itu demikian.

Fungsi teori komunikasi sangat relevan dan bermanfaat dalam mempelajari filsafat komunikasi. Manfaat teori komunikasi, yakni memperjelas proses pencapaian kebenaran dalam ilmu komunikasi sebagaimana yang dicari dalam filsafat komunikasi. Sejalannya teori komunikasi dan filsafat komunikasi adalah pendekatan umum dalam mengamati proses komunikasi :

  1. Tingkat bertanya
  2. Tingkat observasi
  3. Tingkat membentuk jawaban (teori)

Dasar-dasar ilmiah suatu ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, akan selalu berpijak pada tiga hal isu: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Jadi tujuan mempelajari filsafat komunikasi adalah mencari jawaban-jawaban yg berpijak dari tiga isu penting filsafat ilmu. Dengan demikian, filsafat komunikasi adalah studi mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

Tugas 4/ Filsafat Komunikasi/ Apik Sopankatanya/ 1112051000162/ KPI 5E

Tugas 6/ Filsafat Komunikasi/ Apik Sopankatanya/ 1112051000162/ KPI 5E

 

FILSAFAT KOMUNIKASI

A.    Pengertian filsafat komunikasi

Onong U Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman ( verstehen ) secara fundamental, metodoligis, sistemik, analitis, kritis dan holitis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi dan metodenya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang peryataan manusia yang disampaikan kepada manusia lain menuju kemengertian bersama.

B.     Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis terhadap komunikasi

Untuk mengkaji secara ontologis, epistemologis dan aksiologis terhadap komunikasi pemikiran Richard Lanigan dalam karyanya yang berjudul "Communication Models in Philosophy, Review and Commentary" membahas secara khusus "analisis filsafat mengenai komunikasi" (philosophic analysis on communication). (Effendi, 1993:332). Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi subbidang utama menurut justifikasinya yang diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan di bawah ini :

1.      Apa yang aku ketahui ?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya ?

3.      Apakah aku yakin ?

4.      Apakah aku benar ?

Keempat pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan secara sistemstis, studi terhadap metafifika-berkaitan dengan kajian ontologis-epistemologis, aksiologis dan logika.

1.      Metafisika

Metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita. Berkaitan dengan komunikasi, metafisika berkaitan dengan :

a.       Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dengan alam semesta

b.      Sifat dan fakta bagi tujuan,perilaku, penyebab dan aturan.

c.       Problema pilihan, khusunya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia.

 

2.      Epistemologi

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah dilandasi oleh :

a.       Kerangka pemikiran yang logis

b.      Penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran

c.       Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara factual

 

3.      Aksiologi

Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun. Tinjauan terhadap filsafat komunikasi, Ricard Lanigan mengatakan bahwa aksiologi merupakan studi tentang etika dan estetika. 

Masalah ini sangat penting bagi komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa lambing. Hal ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh pesan tersebut. Karena itu, seorang komunikator harus terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pesan yang akan dikomunikasikan etis atau tidak,estetis atau tidak.[1]

 

 

 



[1] Sumarno AP,Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka,2007), hlm.2.14-2.21

Cari Blog Ini