Minggu, 19 Oktober 2014

sarah meida pratiwi/1112051000160/kpi 5e/tugas filsafat komunikasi

Sarah Meida Pratiwi
1112051000160
KPI 5 E
Pengertian Filsafat Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian pernyataan antar manusia. Dan manusia kepada manusia. Bahwa manusia dalam komunikasi itu penting, tak dapat  disangkal lagi. Dalam komunikasi paling sedikit harus ada tiga unsur, yakni komunikator, pesan atau pernyataan, dan komunikan. Dua dari tiga komponen itu yakni komunikator dan komunikan adalah manusia dengan segala kompleksitas kejiwaannya.
Komunikasi sebagai ilmu telah dipelajari dan telah ditunjukan ciri-cirinya pada kegiatan sebelumnya. Sekarang sampailah pada pengertian filsafat komunikasi. Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Untuk itu kita berusaha mengupas komunikasi sedalam-dalamnya, artinya kita mencoba menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi.
Onong U. Efendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunkasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya.
Mengacu pada paradigm Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise), dan lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:
  1. Dimensi fisik
  2. Dimensi social-psikologis
  3. Dimensi temporal (waktu)
Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau terwujud (tangible). Dimensi fisik berkaitan dengan tempat, di mana komunikasi berlangsung. Dimensi social-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi ini berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Ketiga dimensi lingkungan komunikasi ini akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.
Unsur lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Dalam suatu system komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) sera gangguan semantic (salah mengartikan makna).
Menurut Ernass Cssirer, manusia disebut sebagai animal symbolicum, yaitu makhluk yang mempergunakan symbol, yang secara generic mempunyai cakupan yang lebih luas daripada homo sapiens. Hal ini disebabkan dalam berpikirnya manusia mempergunakan symbol.
Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengomunikasikan hasil berpikirnya kepada orang lain, kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana objek-objek yang factual ditransformasikan menjadi symbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak.
Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang. Sebagai makhluk yang bergikir, maka manusia mempunyai hak untuk menyatakan hasil pikirannya tersebut. Disinilah mulainya proses komunikasi. Karena manusia mempunyai hak untuk menyatakan pikirannya, maka manusia juga mempunyai kewajiban untuk mendengarnya.
Hak adalah sesuatu yang boleh dikerjakan oleh manusia, sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dikerahkan oleh manusia. Interaksi antar manusia yang satu sebagai komunikator dengan manusia yang lain sebagai komunikan apabila didasari akan adanya hak dan kewajiban tersebut maka akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang seimbang dan harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

Fitri Permata Sari / KPI 5E / Tugas Etika 4

Nama              : Fitri Permata Sari
NIM                : 1112051000151
Kelas               : KPI 5/E
Tugas              : Etika dan Filsafat Komunikasi
 
Filsafat Komunikasi
Pengertian Filsafat Komunikasi
Filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya.
Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsure tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan dan lain-lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:
1.      Dimensi fisik.
Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud. Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apapun bentuk tempat, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).
2.      Dimensi sosial-psikologis.
Dimensi sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi sosial-psikologis berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana formalitas maupun informalitas, suasana serius atau sendu gurau pastilah akan berbeda suasana komunikasinya.
3.      Dimensi temporal (waktu).
Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah di mana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan tersebut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.
      Ketiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.
      Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsure gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan sematik (salah mengartikan makna).
 Tiga macam gangguan
1.      Fisik = Interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain.
Contohnya: Desingan mobil yang lewat, dengungan computer, kaca mata.
2.      Psikologis = Interferensi kognitif atau mental.
Contohnya: Prasangka dan bias pada sumber-penerima, pikiran yang sempit.
3.      Sematik = Pembicara dan pendengar memberi arti yang berlainan.
Contohnya: Orang berbicara dengan bahasa yang berbeda,menggunakan jargon atau istilah yang terlalu rumit yang dipahami pendengar.
Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan sematik, perlu mendapatkan pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan baik oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang berpikir homo-sapiens sehingga mampu mengkomunikasikan pikirannya, oleh Ernst Cassirer manusia disebut sebagai animal symbolicum, yaitu mahkluk yang mempergunakan symbol, yang secara generic mempunyai cakupan yang lebih luas daripada homo sapiens. Hal ini disebabkan dalam berpikirnya manusia mempergunakan symbol.
Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengomunikasikan hasil berpikirnya kepada orang lain. Kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi symbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu dilakukan.
Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atay pernyataan dari hasil pikiran seseorang.
Menurut Astrid S. Susanto, masyarakat ideal harmois dan adil tercapai apabila:
1.      Pendapat-pendapat dan norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi.
2.      Sifat-sifat khas dari materi publisistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.
3.      Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara pemberi lambang (komunikator) dan penerima lambang (komunikan) terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis. Dengan kata lain, publisistik terutama menyelidiki bagaimana dan faktor-faktor apa dalam masyarakat yang harus diperhatikan oleh komunikator maupun komunikan dalam mengggunakan proses komunikasi, agar supaya harmoni tidak terganggu ataupun sebaliknya agar ideal dapat didekati.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
 
 

Sabtu, 18 Oktober 2014

Muhammad Arif Fathurrahman_KPI 5E_Etika dan Filsafat Komunikasi Tugas ke-4

Nama               : Muhammad Arif Fathurrahman
NIM                : 1112051000154
Kelas               : KPI 5E
Tugas               : Etika dan Filsafat Komiunikasi ke-4
 
Filsafat Komunikasi
Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Untuk itu kita berusaha mengupas komunikasi sedalam-dalamnya, artinya kita mencoba menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi.
Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise) dan lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:
1.      Dimensi fisik
Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, di mana komunikasi berlangsung. Apa pun bentuk tempat tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).
 
2.      Dimensi sosial-psikologis
Dimensi sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi sosial-psikologis berkaitan dengan suasana di mana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.
3.      Dimensi temporal (waktu)
Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah di mana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu pagi hari untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Sebagian orang lain menggunakan waktu sore atau malam hari untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan tersebut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal lain dari proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan.  Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang dis ampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suaradari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang salah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29)
Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantik, perlu mendapat pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan baik oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengomunikasikan hasil berpikirnya kepada orang lain. Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang. Sebagai makhluk yang berpikir, maka manusia mempunyai hak untuk menyatakan hasil pikirannya tersebut. Di sinilah mulainya proses komunikasi. Karena manusia mempunyai hak untuk menyatakan pikirannya, maka manusia juga mempunyai kewajiban untuk mendengarkannya.
Hak adalah sesuatu yang boleh dikerjakan oleh manusia, sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dikerahkan oleh manusia. Interaksi antar manusia yang satu sebagai komunikator dengan manusia yang lain sebagai komunikan apabila didasari akan adanya hak dan kewajiban tersebut maka akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang seimbang dan harmonis. Menurut Astrid S. Susanto, (1996:16) masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:
1.      Pendapat-pendapat norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi
2.  Sifat-sifat khas dari materi publisistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat
3.   Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara pemberi lambang (komunikator) dan penerima lambang (komunikan) terdapat pengertian. Saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
 
Daftar Pustaka :
Sumarno AP, Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komuniksi, (Jakarta: Universtitas Terbuka, 2007).
 
 

Giovanni_KPI 5/E_Tugas Etika 4

Nama  : Giovanni

Kelas   : KPI 5/E

NIM    : 1112051000142

Tugas  : Etika dan Filsafat Komunikasi

 

Filsafat Komunikasi

Onong U. Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan FIlsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebgai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secar fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya.

Apabila mengacu kepada paradigma Lasswell yang mengemukakan definisi komunikasi dengan lima unsurnya yaitu komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan ke lima unsure tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise), dan lain sebagainya.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Menurutnya lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi, diantaranya:

1.      Dimensi Fisik

2.      Dimensi Sosial-Psikologis

3.      Dimensi Temporal

Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apa pun bentuk tempat tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang ingin kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan). Adapun dimensi fisik dapat dicontohkan sebagai berikut: dalam ruangan (bangsal) baik ruang rapat, runag sekolah, ruang keluarga, ataupun di luar ruangan baik di taman, di jalan dan lain sebagainya

Dimensi sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi sosial-psikologis berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana formalitas maupun informalitas, suasana serius atau senda gurau pastilah kn berbeda komunikasinya. Komunikasi yang berlangsung di tempat pesta  berbeda dengan di tempat orang berduka cita, yang satu suasana gembira yang lainnya suasana sedih. Contoh dari dimensi sosial-psikologis adalah status pendidikan, status ekonomi, norma agm, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembir, rasa duka, dan sebaginya.

Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung, seperti pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, abad sebelum masehi, abad pertengahan, dan sebagainya.  Dimensi temporal jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya.  Sebagian orang lain menggunakan waktu sore hari tu malam hari setelah selesai tugas-tugas kantor untuk berkomunikasi dengna keluarganya.  Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan tersebut dikomunikasikan, yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disampaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.

Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut

1.      Gangguan fisik, adanya suara dari selin komunikator. Misalnya, desingan mobil yang lewat, dengungan komputer, dan sebagainya.

2.      Gangguan psikologis, pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan. Misalnya, prasangka dan bias pada sumber penerima, pikiran yang sempit.

3.       Gangguan semantik, kesalahan dalam mengartikan makna. Misalnya, orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang terlalu rumit yang dipahami pendengar.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa fisafat komunikasi merupakan studi yang menelaah tentang proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan secara lebih mendalam.

 

Sumber    :

Sumarno AP, Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komuniksi, (Jakarta: Universtitas Terbuka, 2007).

Cari Blog Ini