Minggu, 19 Oktober 2014

Tugas EtikaFilkom4_1112051000019

Nama  : Akbar Ramadhan

NIM    : 1112051000019

Definisi Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (versethen) secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, dan metodenya. Disisi lain Filsafat komunikasi adalah disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis mengenai teori dari proses komunikasi yang meliputi berbagai dimensi dan berdasarkan bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode komunikasi Mengacu pada paradigm Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan waktu, tempat, gangguan (noise) dan lain-lain.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :

-         Dimensi fisik

-         Dimensi sosial-piskologis

-         Dimensi temporal (waktu)

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.

            Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berfikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berfikir. Dalam melihat objek disekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia akan selalu bertanya-tanya. Usaha manusia untuk memikirkan dunia sekitarmya menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga pokok masalah, yaitu :

1.      Ontologi           : apakah yang ingin kita ketahui?

Membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, hakikat apa yang dikaji.

2.      Epistomologi     : bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?

Membahas tentang pengetahuan.

3.      Aksiologi          : apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?

Membahas tentang nilali kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh akan dijawab oleh aksiologi yaitu teori tentang nilai.

Ketiga pertanyaan tersebut ternyata sangat mendasar dan merupakan pengkajian secara filsafat terhadap ilmu.  Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok dibawah ini:

1.      Apa yang aku ketahui?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya?

3.      Apakah aku yakin?

4.      Apakah aku benar?

Keempat pertanyaan ini berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi, dan logika.

            Menurut Lanigan metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.

            Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelediki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih fundamental lagi bersangkutan dengan criteria bagi penelitian terhadap kebenaran dan kepalsuan.

            Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu.

            Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang penyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengerrtian bersama. 

Tugas Ke -4_Umu Kulsum_KPI 5D_1112051000108

Umu Kulsum
1112051000108
KPI 5D
Filsafat Komunikasi Apakah itu?
 
Menurut Prof. Onong Uchjana Effendi MA: dalam bukunya "Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi", bahwa Filsafat Komunikasi adalah suatu diiplin yang menelaah pemahaman yang secara fundamental, metodelogis, sistematis, analisis, kritis, holitis teori, proses komunikasi yang meliputi segala dimensi bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknik dan peranannya.
Joseph A Devito : dalam bukunya Komunikai Antar Manusia menyebutkan adanya lingkungan komunikasi sedikitnya ada 3 dimensi yaitu:
1.      Dimensi fisik, lingkungan nyata atau berwujud
2.      Dimensi sosial atau psikologi, lingkunngan kejiwaan antara si komunikator dan komunikan.
3.      Dimensi temporal (waktu), mencangkup waktu dalm sehari maupun dalam hubungan sejarah dimana komunikasi berlangsung.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi ini akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain.
Hal lain dari proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsure gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistori pesan. Dalam suatu system komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suradari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang salah ada di komunikator-komunikan), serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:22).
Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantik, perlu mendapat pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri. Tanpa bahasa manusia tidak dapat menngkomunikasikan hasil berfikirnya kepada orang lain. Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau penyataan dari hasil pikiran seseorang. Sebagai mahluk yang berfikir, maka manusia mempunyai hak untuk menyatakan hasil pikirannya tersebut. Di sinilah mulainya proses komunikasi. Karena manusia mempunyai hak untuk menyatakan pikirannya, maka manusia juga memounyai kewajiban untuk mendengarkannya.
Hak adalah seutau yang boleh dikerjakan oleh manusia, sedangkan kewajiban adalah suatu yang harus dikerahkan oleh manusia. Interaksi antara manusia yang satu sebagai komunikator dengan manusia yang lain sebagai komunikan apabila didasari dengan adanya hak dan kewajiban tersebut maka akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang seimbang dan harmonis. Menurut Astrid S. Susanto (1996:16) masyarakat ideal harmonis adil tercapai apabila :
1.      Pendapat-pendapat norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi
2.      Sifat-sifat khas dari materi publisistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat
3.      Apabaila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara pemberi lambang (komunikator), dan penerima lambang (komunikan) terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
Daftar Pustaka :
Sumarno AP, Kisyanti El Karimah, Nining Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka)
 

Thabitha Dhiraja/1112051000141/KPI5E/Etika dan Filsafat Komunikasi

Apa Itu Filsafat Komunikasi?

Pengertian Filsafat Komunikasi

Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya, yang artinya kita mencoba untuk menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi. Onong U Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya.

Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan temoat, waktu, gangguan dan sebagainya.

Joseph A Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1.      Dimensi Fisik

2.      Dimensi Sosio-Psikologis

3.      Dimensi Temporal (waktu)

Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud. Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat. Di mana komuikasi berlangsung. Dimensi Sosio-Psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi ini berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam satu hari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Dimensi ini jelas berkaitan dengan waktu.

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinterkasi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contoh: seseorang yang berjanji datang jam 7 malam (konteks temporal) terambat, keterlambatannya dapat mengakibatkan kedekatan fisik yang berubah karena pemilihan rumah makan untuk makan malam (lingkungan fisik), perubahan-perubahan inilah yang menjadikan komunikasi selalu bersifat dinamis.

Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang  mendistrosi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada dikepala komunikator-komunikan) serta gangguan sematik (salah mengartikan makna).

Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan sematik, perlu mendapatkan pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan oleh komunikator atau pun komunikan, yatu manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang berpikir homo-sapiens sehingga mampu mengkomunikasikan pikirannya, oleh Ernst Cassirer manusia disebut sebagai animal symbolicum , yaitu makhluk yang mempergunakan symbol, yang secara generic mempunyai cakupan yang lebih luas daripada homo sapiens. Hal ini disebabkan dalam berpikirnya manusia mempergunakan symbol.

Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan hasil berpikirnya kepada oranglain. Kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi symbol-symbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu dilakukan.

Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Melihat rumitnya proses komunikasi dan banyaknya yang unsur dalam komunikasi apabila didalami secara filosofis akan mengangkat esensi dari komunikasi itu sendiri. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang.

Menurut Astrid S.Susanto, masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:

1.      Pendapat-pendapat dan norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi

2.      Sifat-sifat khas dari materi publistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.

3.      Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara komunikator dan komunikan terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis. Dengan kata lain, publisistik terutama menyelidiki bagaimana dan faktor-faktor apa dalam masyarakat yang harus diperhatikan oleh komunikator maupun komunikan dalam mempergunakan komunikasi, agar supaya harmoni tidak terganggu ataupun sebaliknya agar ideal dapat didekati.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

 

TUGAS 4 / SITI AISYAH_KPI_5E_1112051000144

Filsafat Komunikasi
Onong U. Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu displin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analisis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya,  fungsinya, tekniknya, dan metodenya.
Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. misalnya, berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise) dan lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:
1. Dimensi fisik
Artinya lingkungan nyata atau berwujud. Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat dimana komunikasi berlangsung. Apapun bentuk tempat tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan yang disampaikan selain juga bentuk pesan yang menyampaikan. Contoh: dalam ruangan, di taman , di jalan , dan sebagainya.
2. Dimensi social-psikologis
Artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. contoh: status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya dan sebagainya. Dimensi social-psikologis berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Suasana baik dalam diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana formalitas maupun informalita, suasana serius atau sendau gurau pastilah akan berbeda suasana komunikasinya. Komunikasi yang berlangsung ditempat pesta berbeda dengan ditempat orang berduka cita, yang satu suasananya gembira yang lainnya suasana sedih.
3. Dimensi temporal (waktu)
Mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Contoh: pagi, siang, sore, malam hari, abad sebelum masehi, pertengahan, abad modern, masa kini dan sebaginya. Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu pagi hari sebelum berangkat kerja untuk  berkomunikasi dengan keluarganya. Sebagaian orang ynag lain menggunakan waktu sore hari atau malam hari setelah selesai tugas-tugas kantor untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena khalayak dari dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan tersebut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristowa komunikasi.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi diatas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contoh: seseorang yang berjanji datang jam 7 malam (konteks temporal) terlambat, keterlambatannya dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan menjadi permusuhan (konteks social-psiokologis), dan kemudian dapat mengakibatkan kedekatan fisik yang berubah karena pamilihan rumah makan malam (lingkungan fisik). Perubahan-perubahan inilah yang menjadikan komunikasi selalu bersifat dinamis.
Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. dalam suatu system komunikais ada ganggguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan ynag diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa  gangguan fisik (ada suara lain dari komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan semantic (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29).
Tiga macam gangguan :
1.      Fisik, yaitu interfrensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain.
Contoh, desingan mobil yang lewat, dengungan computer, kaca mata.
2.      Psikologis, yaitu interferensi kognitif atau mental.
Contoh, prasangka dan bias pada sumber penerima, pikiran yang sempit.
3.      Semantic, yaitu pembicara dan pendengar memberi arti yang berlainan.
Contoh, orang yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan istilah yang terlalu rumit yang dipahami pendengar.
Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantic, perlu mendaptakan pembahasan yang lebih khusus. Hal ini berkaitan dengan bahasa yang dilakukan baik oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu senidiri. Manusia sebagai makhluk yang berfikir homo sapiens sehingga mampu mengkomunikasikan pikirannya. Oleh Ernst Cassirer manusia disebut sebagai animal symbolicum, yaitu makhluk yang mempergunakan symbol, yang secara genetic mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada homo sapiens. Hal ini disebabkan dalam berpikirnya manusia menggunakan symbol. (Suriasumantri, 1995:171).
Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan hasil berpikirnya kepada orang lain. Kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak memiliki kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana objek-objek yang factual ditransformasikan menjadi symbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara factual tidak berada ditempat dimana kegiatan berpikir itu dilakukan.
Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang. Sebagai makhluk yang berfikir, manusia mempunyai hak untuk menyatakan hasil pemikirannya tersebut dan mempunyai kewajiban untuk mendengarkannya.
Hak adalah sesuatu yang boleh dikerjakan oleh manusia, sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dikerahkan oleh manusia. Interaksi antar manusia yang satu sebagai komunikator dengan manusia yang lain sebagai komunikan apabila didasari akan adanya hak dan kewajiban tersebut maka akan menghasilkan suatu proses komunikais yang seimbang dan harmonis. Menurut Astrid S. Susanto (1996:16) masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:
1.      Pendapat-pendapat norma-norma dalam masyarakat diarahkan keapda harmonisasi.
2.      Sifat-sifat khas dari materi publisistik/ komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.
3.      Apabila dalam proses komunikais terjadi pula komunikais yang harmonis, yaitu apabila antar pemberi lambang (komunikator) dan penerima lambang (komunikan) terdapat pengertian saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan  suatu masyarakat harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

tugas4_Ahmad Zainuddin Syah_KPI5C

FILSAFAT KOMUNIKASI
Filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan kepada manusia lain yang tanpa disadari   mengacu pada aspek-aspek tertentu.
Filsafat komunikasi adalah disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis mengenai teori dari proses komunikasi  yang meliputi berbagai dimensi dan berdasarkan bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode komunikasi. Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan(penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator. Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect.
Onong Ucahana Efendy,  Filsafat komunikasi adalah Suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis,kritis, dan holistik tentang teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensinya.
Richard Lanigan, "Communication Models in Philosophy, Review and Commentary" membahas secara khusus "analisis filsafati mengenai komunikasi". Richard Lanigan mengatakan: bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini :Apa yang aku ketahui,   Bagaimana aku mengetahuinya , Apakah aku yakin, Apakah aku benar.
Laurie Ouellette Chair & Amit Pinchevski, Menurut Laurie Ouellette Chair dan Amit Pinchevski, Filsafat Komunikasi secara luas peduli dengan masalah teoritis,analitis,dan politik yang melintasi batas-batas yang terjadi begitu saja untuk di analisa dalam studi komunikasi. 
Manusia sebagai mahluk sosial akan selalu berhubungan dengan manusia lain melalui komunikasi. Retrokira sebagai ilmu mengenai pernyataan antar manusia diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles. Gagasan awal mengenai pernyataan antarmanusia dinyatakan dalam model sederhana, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan. Perkembangan selanjutnya menjadi ilmu komunikasi dengan model yang lebih rumit, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek.
            Istilah komunikasi berasal dari kata communis yang berarti sama. Sama dalam arti maknanya. Berkomunikasi berarti mempunyai tujuan untuk punya arti yang sama. Kajian komunikasi dari sudut pandang filsafat ilmu komunikasi dimaksudkan agar pemahaman terhadap proses komunikasi bersifat radikal atau mendalam, sistematis dan menyeluruh. Kajian ini dimaksudkan untuk mendapatkan esensi atau hakikat komunikasi. Pernyataan ini adalah pesan. Sebelum pesan sampai pada khalayak atau penerima pesan, haruslah dilakukan pertimbangan.
            Mempelajari komunikasi sebagai ilmu akan menjadi dasar bagi seseorang untuk memahami komunikasi dari tinjauan filsafati. Mengerti filsafat ilmu komunikasi akan mempermudah seseorang dalam menyusun pikirannya sebagai isi pesan komunikasi. Isi pesan yang tersusun secara logis, etis dan estetis merupakan usaha agar proses komunikasi efektif. 
 
SUMBER
·         Ridwan. Aang. Filsafat Komunikasi. 2013. Bandung: Pustaka Setia
  • Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Ar Ruzz. 2005.
  • Effendy, Onong Uchyana. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya. 1994.
 
 
 


Cari Blog Ini