Minggu, 19 Oktober 2014

Achmad Faizal Riwanto/ 1112051000155/ KPI 5E/ Etika Filsafat Komunikasi

Nama   : Achmad Faizal Riwanto
NIM    : 1112051000155
Kelas   : KPI 5E
 
Definisi dan Pengertian Filsafat Komunikasi
Filsafat komunikasi, apakah itu? Sebelum kita tahu apa itu filsafat komunikasi, maka kita harus mengetahui pengertian dari filsafat dan komunikasi. Secara epistimologi filsafat terdiri dari dua kata yaitu Philein: mencintai; sophos: kearifan/kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah usaha untuk mencintai kearifan. Komunikasi Secara terminologis, para ahli telah mendefinikan komunikasi dalam berbagai prespektif. Dalam prespektif filsafat, komunikasi dimaknai untuk mempersoalkan apakah hakikat komunikator/komunikan, dan bagaimana ia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta (Rakhmat, 1997: 8).
Menurut Onong U. Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analistis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknik dan perannya.
Mengacu pada paradigma Laswell dengan lima unsur komunikasi, ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise), dan lain sebagainya.
Joseph A. Devito dalam bukunya, Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:
1.      Dimensi Fisik
Artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apapun bentuk tempat tersebut pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan), selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).
Contoh: dalam ruangan baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga atau di luar lingkungan baik di taman, di jalan dan sebagainya.
 
2.      Dimensi sosial-psikologis
Artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi ini berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikan akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.
Contoh: pagi hari, siang hari, malam hari, abad pertengahan, masa pencerahan, abad modern, masa kini dan sebagainya.
 
3.      Dimensi temporal
Dimensi ini mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Sebagian orang menggunakan waktu di pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan terseut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi  di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat pehatian adalah unsur gangguan (noise), yaitu gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Dalam suatu kominkasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29).
Oleh karena itu, seorang komunikator harus memperhatikan pesan apa yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya kepada komunikan agar terjadi komunikasi yang efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fisafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama

Tugas 4_Milki Amirus Sholeh_1112051000138_KPI 5E

A. Filsafat Komuniaksi

Menurut Prof. Onong Uchajana Effendi ( 2003: 321), filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (vestehen,Germany) secara lebih mendalam, fundamental, metologis, sitematis, analitis, kritis, dan komprehensif teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodenya.
Bidang komunikasi, meliputi komuniaksi sosial, organisasional, bosnis politik, internasional, komunikasi antar budaya, pembangunan, tradisional, dan lain-lain.

Pemikiran Richard L. Lanigan

Richard L. Lanigan secara khusus membahas analisis filosofis atau proses komunikasi. Dalam ilmu komunikasi biasanya meletakan beberapa titik refleksinya pada pertanyaan-pertanyaan,yaitu:

• Apa yang aku ketahui ? ( masalah ontologi atau metafisika )
• Bagaimana aku mengetahuinya ? ( masalah epistemologi )
• Apakah aku yakin ? ( masalah aksiologi )
• Apakah aku benar ? ( masalah logika )

Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan temoat, waktu, gangguan dan sebagainya.

Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Melihat rumitnya proses komunikasi dan banyaknya yang unsur dalam komunikasi apabila didalami secara filosofis akan mengangkat esensi dari komunikasi itu sendiri. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang.

Menurut Astrid S.Susanto, komunikasi dalam masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:
1. Pendapat-pendapat dan norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi
2. Sifat-sifat khas dari materi publistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.
3. Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara komunikator dan komunikan terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis. Dengan kata lain, publisistik terutama menyelidiki bagaimana dan faktor-faktor apa dalam masyarakat yang harus diperhatikan oleh komunikator maupun komunikan dalam mempergunakan komunikasi, agar supaya harmoni tidak terganggu ataupun sebaliknya agar ideal dapat didekati.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

Tugas_4_Milki Amirus Sholeh

A. Filsafat Komuniaksi

Menurut Prof. Onong Uchajana Effendi ( 2003: 321), filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (vestehen,Germany) secara lebih mendalam, fundamental, metologis, sitematis, analitis, kritis, dan komprehensif teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodenya.
Bidang komunikasi, meliputi komuniaksi sosial, organisasional, bosnis politik, internasional, komunikasi antar budaya, pembangunan, tradisional, dan lain-lain.

Pemikiran Richard L. Lanigan

Richard L. Lanigan secara khusus membahas analisis filosofis atau proses komunikasi. Dalam ilmu komunikasi biasanya meletakan beberapa titik refleksinya pada pertanyaan-pertanyaan,yaitu:

• Apa yang aku ketahui ? ( masalah ontologi atau metafisika )
• Bagaimana aku mengetahuinya ? ( masalah epistemologi )
• Apakah aku yakin ? ( masalah aksiologi )
• Apakah aku benar ? ( masalah logika )

Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan temoat, waktu, gangguan dan sebagainya.

Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Melihat rumitnya proses komunikasi dan banyaknya yang unsur dalam komunikasi apabila didalami secara filosofis akan mengangkat esensi dari komunikasi itu sendiri. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang.

Menurut Astrid S.Susanto, komunikasi dalam masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:
1. Pendapat-pendapat dan norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi
2. Sifat-sifat khas dari materi publistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.
3. Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara komunikator dan komunikan terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis. Dengan kata lain, publisistik terutama menyelidiki bagaimana dan faktor-faktor apa dalam masyarakat yang harus diperhatikan oleh komunikator maupun komunikan dalam mempergunakan komunikasi, agar supaya harmoni tidak terganggu ataupun sebaliknya agar ideal dapat didekati.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

Tugas Etika dan Filsafat Komunikasi ke 4

Nama : Nenden Nelawati

NIM  : 1112051000135

Kelas : KPI 5 E


Filsafat Komunikasi
Onong U. Effeandi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, krisis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, tekniknya, dan metodenya.
Jisep A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :
1.      Dimensi Fisik. Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, apapun bentuk tempat tersebut pasti ada pengaruh tertentu atas kandungan pesan.
 
Contoh : Dalam ruangan (bangsal) baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga, atau diluar ruangan baik ditaman, dijalan dan sebagainya.
 
2.      Dimensi Sosial-Psikologis. Dimensi ini artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi ini berkaitan dengan suasana komunikasi berlangsung. Suasana pada diri komunikator maupun komunikan, akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan. Suasana formalitas maupun informalitas.
 
Contoh : Status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembira, rasa duka dan sebagainya. 
 
3.      Dimensi Temporal (waktu). Dimensi ini mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung.
 
Contoh : pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, abad sebelum masehi, abad pertengahan,  masa pencerahan (renaissance), abad modern, masa kini dan sebagainya.
 
Sebagian orang menggunakan waktu pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Sebagian orang laing menngunakan waktu sore hari atau malam hari setelah selesai tuvas-tugas kantor untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan tersebut dikomunikasikan.
Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gannguan ini dapat berupa fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada dikepala komunikator-komunikan), serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29).
Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan hasil berpikirnya kepada orang lain. Kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dimana objek-objek yang faktual ditranformasikan menjadi symbol-simbol bahsa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada ditempat dimana kegiatan berpikir itu dilakukan. Pemikiran terhadap bahsa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.[1]
 


[1] Sumarno AP, Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti. Filsafat  dan etika Komunikasi. Universitas Terbuka. (Jakarta:2007).hal : 214-218

Tugas EtikaFilkom4_1112051000019

Nama  : Akbar Ramadhan

NIM    : 1112051000019

Definisi Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (versethen) secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, dan metodenya. Disisi lain Filsafat komunikasi adalah disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis mengenai teori dari proses komunikasi yang meliputi berbagai dimensi dan berdasarkan bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode komunikasi Mengacu pada paradigm Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan waktu, tempat, gangguan (noise) dan lain-lain.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :

-         Dimensi fisik

-         Dimensi sosial-piskologis

-         Dimensi temporal (waktu)

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.

            Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berfikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berfikir. Dalam melihat objek disekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia akan selalu bertanya-tanya. Usaha manusia untuk memikirkan dunia sekitarmya menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga pokok masalah, yaitu :

1.      Ontologi           : apakah yang ingin kita ketahui?

Membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, hakikat apa yang dikaji.

2.      Epistomologi     : bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?

Membahas tentang pengetahuan.

3.      Aksiologi          : apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?

Membahas tentang nilali kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh akan dijawab oleh aksiologi yaitu teori tentang nilai.

Ketiga pertanyaan tersebut ternyata sangat mendasar dan merupakan pengkajian secara filsafat terhadap ilmu.  Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok dibawah ini:

1.      Apa yang aku ketahui?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya?

3.      Apakah aku yakin?

4.      Apakah aku benar?

Keempat pertanyaan ini berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi, dan logika.

            Menurut Lanigan metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.

            Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelediki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih fundamental lagi bersangkutan dengan criteria bagi penelitian terhadap kebenaran dan kepalsuan.

            Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu.

            Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang penyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengerrtian bersama. 

Tugas Ke -4_Umu Kulsum_KPI 5D_1112051000108

Umu Kulsum
1112051000108
KPI 5D
Filsafat Komunikasi Apakah itu?
 
Menurut Prof. Onong Uchjana Effendi MA: dalam bukunya "Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi", bahwa Filsafat Komunikasi adalah suatu diiplin yang menelaah pemahaman yang secara fundamental, metodelogis, sistematis, analisis, kritis, holitis teori, proses komunikasi yang meliputi segala dimensi bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknik dan peranannya.
Joseph A Devito : dalam bukunya Komunikai Antar Manusia menyebutkan adanya lingkungan komunikasi sedikitnya ada 3 dimensi yaitu:
1.      Dimensi fisik, lingkungan nyata atau berwujud
2.      Dimensi sosial atau psikologi, lingkunngan kejiwaan antara si komunikator dan komunikan.
3.      Dimensi temporal (waktu), mencangkup waktu dalm sehari maupun dalam hubungan sejarah dimana komunikasi berlangsung.
Ketiga dimensi lingkungan komunikasi ini akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain.
Hal lain dari proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsure gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistori pesan. Dalam suatu system komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suradari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang salah ada di komunikator-komunikan), serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:22).
Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantik, perlu mendapat pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri. Tanpa bahasa manusia tidak dapat menngkomunikasikan hasil berfikirnya kepada orang lain. Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau penyataan dari hasil pikiran seseorang. Sebagai mahluk yang berfikir, maka manusia mempunyai hak untuk menyatakan hasil pikirannya tersebut. Di sinilah mulainya proses komunikasi. Karena manusia mempunyai hak untuk menyatakan pikirannya, maka manusia juga memounyai kewajiban untuk mendengarkannya.
Hak adalah seutau yang boleh dikerjakan oleh manusia, sedangkan kewajiban adalah suatu yang harus dikerahkan oleh manusia. Interaksi antara manusia yang satu sebagai komunikator dengan manusia yang lain sebagai komunikan apabila didasari dengan adanya hak dan kewajiban tersebut maka akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang seimbang dan harmonis. Menurut Astrid S. Susanto (1996:16) masyarakat ideal harmonis adil tercapai apabila :
1.      Pendapat-pendapat norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi
2.      Sifat-sifat khas dari materi publisistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat
3.      Apabaila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara pemberi lambang (komunikator), dan penerima lambang (komunikan) terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
Daftar Pustaka :
Sumarno AP, Kisyanti El Karimah, Nining Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka)
 

Thabitha Dhiraja/1112051000141/KPI5E/Etika dan Filsafat Komunikasi

Apa Itu Filsafat Komunikasi?

Pengertian Filsafat Komunikasi

Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya, yang artinya kita mencoba untuk menemukan hakikat/inti/esensi dari komunikasi. Onong U Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya.

Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan temoat, waktu, gangguan dan sebagainya.

Joseph A Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1.      Dimensi Fisik

2.      Dimensi Sosio-Psikologis

3.      Dimensi Temporal (waktu)

Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud. Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat. Di mana komuikasi berlangsung. Dimensi Sosio-Psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Dimensi ini berkaitan dengan suasana dimana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam satu hari maupun dalam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Dimensi ini jelas berkaitan dengan waktu.

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi di atas akan selalu berinterkasi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contoh: seseorang yang berjanji datang jam 7 malam (konteks temporal) terambat, keterlambatannya dapat mengakibatkan kedekatan fisik yang berubah karena pemilihan rumah makan untuk makan malam (lingkungan fisik), perubahan-perubahan inilah yang menjadikan komunikasi selalu bersifat dinamis.

Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat perhatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adalah gangguan dalam komunikasi yang  mendistrosi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada dikepala komunikator-komunikan) serta gangguan sematik (salah mengartikan makna).

Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan sematik, perlu mendapatkan pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan oleh komunikator atau pun komunikan, yatu manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang berpikir homo-sapiens sehingga mampu mengkomunikasikan pikirannya, oleh Ernst Cassirer manusia disebut sebagai animal symbolicum , yaitu makhluk yang mempergunakan symbol, yang secara generic mempunyai cakupan yang lebih luas daripada homo sapiens. Hal ini disebabkan dalam berpikirnya manusia mempergunakan symbol.

Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan hasil berpikirnya kepada oranglain. Kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat dilakukan apabila manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi symbol-symbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu dilakukan.

Pemaknaan terhadap bahasa yang sama akan mengakibatkan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai. Melihat rumitnya proses komunikasi dan banyaknya yang unsur dalam komunikasi apabila didalami secara filosofis akan mengangkat esensi dari komunikasi itu sendiri. Hal yang paling mendasar dari proses komunikasi adalah adanya statement atau pernyataan dari hasil pikiran seseorang.

Menurut Astrid S.Susanto, masyarakat ideal harmonis dan adil tercapai apabila:

1.      Pendapat-pendapat dan norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi

2.      Sifat-sifat khas dari materi publistik/komunikasi dipergunakan sesuai dan demi perwujudan ataupun peningkatan harmoni dalam masyarakat.

3.      Apabila dalam proses komunikasi terjadi pula komunikasi yang harmonis, yaitu apabila antara komunikator dan komunikan terdapat pengertian, saling mempengaruhi dalam rangka perwujudan suatu masyarakat harmonis. Dengan kata lain, publisistik terutama menyelidiki bagaimana dan faktor-faktor apa dalam masyarakat yang harus diperhatikan oleh komunikator maupun komunikan dalam mempergunakan komunikasi, agar supaya harmoni tidak terganggu ataupun sebaliknya agar ideal dapat didekati.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

 

Cari Blog Ini