Minggu, 15 Maret 2015

Nama : Rizky Arif Santoso

Kelas : PMI 4

NIM  : 1113054000001

 

ANTROPOLOGI  BUDAYA

 

A.    PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI BUDAYA

Antropologi budaya adalah cabang antropologi yang berfokus pada   penelitian variasi kebudayaan diantara kelompok manusia. Antropologi budaya  mengumpulkan data mengenai dampak proses ekonomi dan politik global terhadap realitas budaya lokal. Para antropolog budaya menggunakan berbagai metode, diantaranya pengamatan partisipatif (participant observation), wawancara dan survei. Penelitian antropologi budaya sering dikategorikan sebagai penelitian lapangan karena seorang antropolog harus menetap dalam kurun waktu yang cukup lama di lokasi penelitiannya.

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang masyarakat yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Istilah antropologi berasal dari bahasa Yunani, yakidari kata antropos = manusia, dan logos = ilmu. Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial.

Salah satu pengertian pertama tentang pengertian istilah "kebudayaan" berdas cabang ilmu sosial arkan antropologi adalah oleh Sir Edward Burnett Tylor, antropolog asal Inggris dalam halaman pertama bukunya yang terbit tahun 1897: "Kebudayaan, atau peradaban, diambil dalam artinya yang luas dan etnografis, adalah keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, kesusilaan, hukum, adat-istiadat dan kemampuan dan kebiasaan lain mana pun yang didapati manusia sebagai anggota masyarakat. Istilah "peradaban" di kemudian hari diganti definisinya oleh V. Gordon Childe, di mana "kebudayaan" menjadi istilah perangkum dan "peradaban" menjadi satu jenis khusus kebudayaan.

Wawasan antropologis tentang "kebudayaan" antara lain mencerminkan reaksi terhadap wacana sebelumnya di dunia Barat, yang berdasarkan pada perlawanan antara "budaya" dan "alam", di mana sejumlah manusia dianggap masih hidup dalam "keadaan alamiah". Para antropolog menyatakan bahwa kebudayaan justru merupakan "alam manusia" dan semua manusia memiliki kemampuan untuk menyusun pengalaman, menterjemahkan penyusunan ini secara simbolis berkat kemampuan berbicara dan mengajarkan paham tersebut ke manusia lainnya.

Karena manusia mendapati kebudayaan melalui proses belajar enculturation dan sosialisasi, orang yang tinggal di tempat yang berbeda atau keadaan yang berbeda, akan mengembangkan kebudayaan yang berbeda. Para antropolog juga mengemukakan bahwa melalui kebudayaan, orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara non-genetik, sehingga orang yang tinggal di lingkungan yang berbeda sering akan memiliki kebudayaan yang berbeda. Teori antropologi terutama berasal dari kesadaran dan minat akan perselisihan antara segi lokal (kebudayaan tertentu) dan global (kemanusiaan secara umum, atau jaringan hubungan antara orang di tempat atau keadaan yang berbeda).

Ruang Lingkup Antropologi

Menurut March Swartz dan David K. Jordan, ruang lingkup antropologi adalah;

1)      Asal muasal hidup manusia dari periode ke periode.

2)      Perkembangan struktur fisik dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

3)      Bertugas untuk memahami manusia secara utuh.

Demikian pula Zerihun Dodda, Ia juga membagi ruang lingkup antropologi demikian, akan tetapi ia menambahkan material dan warisan budaya manusia di dalamnya.

 

B.     FUNGSIONLITAS ANTROPOLOGI

Selama ini antropologi hanya diidentikan sebagai disiplin ilmu budaya yang hanya mempelajari etnisitas diberbagai belahan dunia. Mata masyarakat kurang melihat fungsionalitas antropologi sebagi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan sosial. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Namun lebih bijaknya, ini menjadi sebuah otokritik bagi para antriooplog dan disiplin ilmu antropologi untuk lebih menginformasikan ke masayarakat terkait dengan fungsionalitasnya dalam kehidupan sosial.

Terkait dengan fungsi disiplin ilmu antropologi sendiri, menjadi hal unik untuk dikaji tentang sudut pandang antropologi yang membedakannya dengan ilmu sosial lainnya. Pada suatu perbandingan, jika sosiologi lebih menitikberatkan suatu fenomena sosial dengan memperhatikan pola interaksi masyarakat yang berada didalamnya dan berujung pada sebuah modernisasi dan kehidupan yang berperadaban. Pada sudut pandang yang berbeda, antropologi memandang suatu fenoma sosial yang terjadi dimasyarakat dengan mengakitkan pada nilai, norma, adat, tradisi, dan budaya yang berada dikehidupan masyarakat tersebut. Antropologi menempatkan fungsinya sebagai disiplin ilmu yang memakai perspektif budaya (mengedepankan nilai-nilai budaya) dalam penyelesaian masalah kehidupan sosial manusia.

Kegunaan antropologi dalam masyarakat adalah untuk membantu masyarakat mempelajari perbedaan yang ada, dalam perbedaan itu masyarakat harus bisa belajar untuk bersatu, tanpa harus memandang perbedaan yang ada dalam masyarakat.

C.     MENGAPA HARUS MEMPERLAJARI ANTROPLOGI

Saat ini telah banyak budaya di Indonesia dan dunia, baik perbedaan secara bahasa, warna kulit, peraturan, cara hidup dan lain sebagainya. Semua itu akan menjadi masalah besar jika tidak ada cara untuk menyatukannya, maka dari itu ilmu antropologi hadir untuk mempelajari semua adat istiadat dan budaya-budaya. Dan juga untuk mempersatukan rakyat walaupun berbeda-beda baik secara fisik maupun non-fisik

Referensi :

· http://lytya-24.blogspot.com/2011/11/isd-antropologi_23.html

· http://caesario-nanda.blogspot.com/2011/10/ilmu-sosial-dasar-dalam-bidang.html

  

Sabtu, 14 Maret 2015

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

Nama : Hoirunnisa
Kelas : BPI 6
Nim   : 1112052000009

RINGKASAN MATERI BAB 3 : PARADIGMA DALAM METODE KUALITATIF

yang terdiri dari Post Positivis, Konstruktivisme Sosial,

Advokasi Partisipatoris, dan Pragmatis

 

Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filsuf, peneliti, maupun oleh para praktisi melalui model-model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma. Paradigma, menurut Bogdan dan Biklen, adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian. Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi. Khun dalam The Structure of Scientific Revolution mendefinisikan paradigm ilmiah sebagai contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-contoh termasuk hokum, teori, aplikasi dan instrumentasi secara bersama-sama yang menyediakan model yang darinya muncul tradisi yang koheren dari penelitian ilmiah. Penelitian yang pelaksanaannya didasarkan pada paradigma bersama berkomitmen untuk menggunakan aturan dan standar praktek ilmiah yang sama.

Berdasarkan definisi Khun tersebut, Harmon mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berfikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. Sedangkan Capra mendefinisikan paradigm sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya. Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin mengkonstruksi realitas. Pertama ada realitas objektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas subjektif tentang pengertian-pengertian kita. Kedua paradigma sebagai pandangan dunia seseorang tersebut, membangun realitas yang dipersepsikan tentang realitas, memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas objektif dan membimbing interpretasi seseorang pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada kedua realitas yang tampak maupun yang tidak tampak. Ada bermacam-macam paradigma, tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigm (paradigma keilmuan, namun untuk memudahkan diterjemahkan secara harfiah sebagai paradigma ilmiah) dan naturalistic paradigm atau paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivism, sedangkan paradigma alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis.

Pembahasan mengenai paradigma, tidak semua para ahli menamakannya dengan paradigma. Dalam buku Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed karangan John W.Creswell, ia memilih menggunakan istilah pandangan dunia, karena memiliki arti kepercayaan dasar yang memandu tindakan. Peneliti lain lebih suka menyebutnya paradigma, epistemology, ontology atau metodologi penelitian yang telah diterima secara luas. Ia memandang pandangan dunia sebagai orientasi umum terhadap dunia dan sifat penelitian yang dipegang kukuh oleh peneliti. Pandangan dunia ini seringkali dipengaruhi oleh bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi mahasiswa, kepercayaan para pembimbing dan pihak fakultas terhadap bidang tersebut. Ada pandangan dunia yang akan dibahas, yaitu post positivisme, konstruktivisme, advokasi atau partisipatoris, dan pragmatism. Elemen-elemen penting dalam setiap pandangan dunia yaitu :

Post Positivisme

Konstruktivisme

Advokasi/ Partisipatoris

Pragmatis

Determinasi

Pemahaman

Bersifat politis

Efek-efek tindakan

Reduksionisme

Makna yang beragam dari partisipan

Berorientasi pada isu pemberdayaan

Berpusat pada masalah

Observasi dan pengujian empiris

Konstruksi sosial dan historis

Kolaboratif

Bersifat pluralistik

Verifikasi teori

Penciptaan teori

Berorientasi pada perubahan

Berorientasi pada praktik dunia nyata

 

A.    Pandangan dunia post positivisme

Asumsi-asumsi post positivis merepresentasikan bentuk tradisional penelitian, yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif etimbang kualitatif. Pandangan ini terkadang disebut sebagai metode saintifik. Dalam buku Philips dan Burbules, kita akan menemukan sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam paradigma penelitian ini, antara lain :

1.      Pengetahuan bersifat konjektural atau terkaan atau tidak berlandaskan apapun, bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kebenaran absolut. Untuk itulah, bukti yang dibangun dalam penelitian seringkali lemah dan tidak sempurna.

2.      Sebagian besar penelitian kuantitatif, misalnya, selalu diawali dengan pengujian atas suatu teori.

3.      Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan pertimbangan-pertimbangan logis. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan observasi pengukuran tertentu yang diisi oleh partisipan.

4.      Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang relevan dan benar, yang dapat menjelaskan situasi yang sebenarnya.

5.      Aspek terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif, para peneliti harus menguji kembali metode-metode yang sekiranya mengandung bias.

Dalam buku yang berjudul "Catatan Kecil tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan" karangan Conny R.Semiawan dijelaskan bahwa, positivisme bersumber dari orientasi ilmu alam yang kajiannya diarahkan pada pengembangan teori. Riset seperti ini mendasarkan pengetahuannya pada fakta yang dapat diamati secara langsung dan percaya bahwa secara ontologism hanya ada satu realitas tunggal. Para positivis percaya bahwa setiap riset bebas nilai dalam mempersoalkan aksiologi penelitian. Dalam kajian epistemology hubungan antara yang hendak mengetahui dan materi pengetahuan bersifat independen. Adanya hubungan sebab akibat yang mendahului atau muncul bersamaan dengan efeknya adalah ciri lain dari paradigma positivis. Pada umumnya para positivis lebih menekankan logika deduktif atau mendasarkan kajiannya pada hipotesis teori tertentu. Paradigma positivis yang paling terkenal adalah metode eksperimental. Dalam metode ini hipotesis dijabarkan secara logis dari teori dan mencakup suatu test dalam kondisi terawasi.

 

B.     Pandangan dunia konstruktivisme sosial

Pandangan dunia ini biasanya dipandang sebagai suatu pendekatan dalam penelitian kualitatif. Konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia dimana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka. Makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu. Makna-makna ini pun cukup banyak dan beragam sehingga peneliti dituntut untuk lebih mencari kompleksitas pandangan-pandangan ketimbang mempersempit makna-makna menjadi sejumlah kategori dan gagasan. Peneliti berusaha mengandalkan sebanyak mungkin pandangan partisipan tentang situasi yang tengah diteliti.untuk mengeksplorasi pandangan-pandangan ini, perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa sangat luas dan umum, sehingga partisipan dapat mengkonstruksi makna atas situasi tersebut, yang biasanya tidak asli atau tidak dipakai dalam interaksi dengan orang lain. Semakin terbuka pertanyaan tersebut tentu akan semakin baik, agar peneliti bisa mendengarkan dengan cermat apa yang dibicarakan dan dilakukan partisipan dalam kehidupan mereka.

Dalam konteks konstruktivisme, peneliti memiliki tujuan utama, yakni berusaha memaknai, makna-makna yang dimiliki ornag lain tentang dunia ini, ketimbang mengawali penelitiannya dengan suatu teori (seperti dalam post positivisme). Terkait dengan konstruktivisme ini, Crotty memperkenalkan sejumlah asumsi :

1.      Para peneliti kualitatif cenderung menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar partisipan dapat mengungkapkan pandangan-pandangannya.

2.      Para peneliti kualitatif harus memahami konteks atau latar belakang partisipan mereka.

3.      Proses penelitian kualitatif bersifat induktif dimana didalamnya peneliti menciptakan makna dari data-data lapangan yang dikumpulkan.

 

C.     Pandangan dunia advokasi dan partisipatoris

Pandangan ini berasumsi bahwa penelitian harus dihubungkan dengan politik dan agenda politis. Untuk itulah, penelitian ini pada umumnya memiliki agenda aksi demi reformasi yang diharapkan dapat mengubah kehidupan partisipan. Peneliti dapat mengawali penelitian mereka dengan salah satu dari isu-isu ini sebagai fokus penelitiannya. Pandangan dunia ini berfokus pada kebutuhan-kebutuhan suatu kelompok atau individu tertentu yang mungkin termaginalkan secara sosial. Terdapat ringkasan oleh Kemmis dan Wilkinson tentang karakteristik-karakteristik inti dari penelitian advokasi :

1.      Pada akhir penelitian ini, para peneliti harus memunculkan agenda aksi demi reformasi dan perubahan.

2.      Penelitian ini ditekankan untuk membantu individu-individu agar bebas dari kendala-kendala yang muncul dari media, bahasa, aturan-aturan kerja dan relasi kekuasaan dalam ranah pendidikan.

3.      Penelitian ini bersifat emansipatoris yang berarti bahwa penelitian ini membantu membebaskan manusia dari ketidakadilan yang dapat membatasi perkembangan.

4.      Penelitian ini juga bersifat praktis dan kolaboratif, karena ia hanya dapat sempurna , jika dikolaborasikan dengan penelitian-penelitian lain.

 

D.    Pandangan dunia pragmatik

Paradigma filosofis yang satu ini memiliki banyak bentuk, tetapi pada umumnya pragmatisme sebagai pandangan dunia lahir dari tindakan-tindakan, situasi-situasi dan konsekuensi-konsekuensi yang sudah ada, dan bukan dari kondisi-kondisi sebelumnya. Pandangan dunia ini berpijak pada aplikasi dan solusi atas masalah yang ada. Pragmatisme pada hakikatnya merupakan dasar filosofis untuk setiap bentuk penelitian, khususnya penelitian metode campuran :

1.      Pragmatisme dapat digunakan untuk penelitian campuran.

2.      Setiap peneliti memiliki kebebasan dalam memilih metode, teknik dan prosedur.

3.      Para peneliti pragmatis selalu melihat apa dan bagaimana meneliti, seraya mengetahui apa saja akibat-akibat yang akan mereka terima.

4.      Kaum pragmatis setuju bahwa penelitian selalu muncul dalam konteks sosial, historis, politis, dan lain sebagainya.

5.      Kaum pragmatis percaya akan dunia eksternal yang berada diluar fikiran .

 

 

DAFTAR PUSTAKA

J. Moleong, Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

R.Semiawan, Conny. 2007. Catatan Kecil tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Kencana.

W.Creswell, John. 2010. Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

 


TUGAS METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

RINGKASAN MATERI BAB 3 : PARADIGMA DALAM METODE KUALITATIF

yang terdiri dari Post Positivis, Konstruktivisme Sosial,

Advokasi Partisipatoris, dan Pragmatis

 

Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filsuf, peneliti, maupun oleh para praktisi melalui model-model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma. Paradigma, menurut Bogdan dan Biklen, adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian. Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi. Khun dalam The Structure of Scientific Revolution mendefinisikan paradigm ilmiah sebagai contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-contoh termasuk hokum, teori, aplikasi dan instrumentasi secara bersama-sama yang menyediakan model yang darinya muncul tradisi yang koheren dari penelitian ilmiah. Penelitian yang pelaksanaannya didasarkan pada paradigma bersama berkomitmen untuk menggunakan aturan dan standar praktek ilmiah yang sama.

Berdasarkan definisi Khun tersebut, Harmon mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berfikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. Sedangkan Capra mendefinisikan paradigm sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya. Pada dasarnya ada kesukaran apabila seseorang ingin mengkonstruksi realitas. Pertama ada realitas objektif yang ditelaah, dan hal itu ditelaah melalui realitas subjektif tentang pengertian-pengertian kita. Kedua paradigma sebagai pandangan dunia seseorang tersebut, membangun realitas yang dipersepsikan tentang realitas, memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari realitas objektif dan membimbing interpretasi seseorang pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada kedua realitas yang tampak maupun yang tidak tampak. Ada bermacam-macam paradigma, tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigm (paradigma keilmuan, namun untuk memudahkan diterjemahkan secara harfiah sebagai paradigma ilmiah) dan naturalistic paradigm atau paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivism, sedangkan paradigma alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis.

Pembahasan mengenai paradigma, tidak semua para ahli menamakannya dengan paradigma. Dalam buku Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed karangan John W.Creswell, ia memilih menggunakan istilah pandangan dunia, karena memiliki arti kepercayaan dasar yang memandu tindakan. Peneliti lain lebih suka menyebutnya paradigma, epistemology, ontology atau metodologi penelitian yang telah diterima secara luas. Ia memandang pandangan dunia sebagai orientasi umum terhadap dunia dan sifat penelitian yang dipegang kukuh oleh peneliti. Pandangan dunia ini seringkali dipengaruhi oleh bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi mahasiswa, kepercayaan para pembimbing dan pihak fakultas terhadap bidang tersebut. Ada pandangan dunia yang akan dibahas, yaitu post positivisme, konstruktivisme, advokasi atau partisipatoris, dan pragmatism. Elemen-elemen penting dalam setiap pandangan dunia yaitu :

Post Positivisme

Konstruktivisme

Advokasi/ Partisipatoris

Pragmatis

Determinasi

Pemahaman

Bersifat politis

Efek-efek tindakan

Reduksionisme

Makna yang beragam dari partisipan

Berorientasi pada isu pemberdayaan

Berpusat pada masalah

Observasi dan pengujian empiris

Konstruksi sosial dan historis

Kolaboratif

Bersifat pluralistik

Verifikasi teori

Penciptaan teori

Berorientasi pada perubahan

Berorientasi pada praktik dunia nyata

 

A.    Pandangan dunia post positivisme

Asumsi-asumsi post positivis merepresentasikan bentuk tradisional penelitian, yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif etimbang kualitatif. Pandangan ini terkadang disebut sebagai metode saintifik. Dalam buku Philips dan Burbules, kita akan menemukan sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam paradigma penelitian ini, antara lain :

1.      Pengetahuan bersifat konjektural atau terkaan atau tidak berlandaskan apapun, bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kebenaran absolut. Untuk itulah, bukti yang dibangun dalam penelitian seringkali lemah dan tidak sempurna.

2.      Sebagian besar penelitian kuantitatif, misalnya, selalu diawali dengan pengujian atas suatu teori.

3.      Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan pertimbangan-pertimbangan logis. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan observasi pengukuran tertentu yang diisi oleh partisipan.

4.      Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang relevan dan benar, yang dapat menjelaskan situasi yang sebenarnya.

5.      Aspek terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif, para peneliti harus menguji kembali metode-metode yang sekiranya mengandung bias.

Dalam buku yang berjudul "Catatan Kecil tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan" karangan Conny R.Semiawan dijelaskan bahwa, positivisme bersumber dari orientasi ilmu alam yang kajiannya diarahkan pada pengembangan teori. Riset seperti ini mendasarkan pengetahuannya pada fakta yang dapat diamati secara langsung dan percaya bahwa secara ontologism hanya ada satu realitas tunggal. Para positivis percaya bahwa setiap riset bebas nilai dalam mempersoalkan aksiologi penelitian. Dalam kajian epistemology hubungan antara yang hendak mengetahui dan materi pengetahuan bersifat independen. Adanya hubungan sebab akibat yang mendahului atau muncul bersamaan dengan efeknya adalah ciri lain dari paradigma positivis. Pada umumnya para positivis lebih menekankan logika deduktif atau mendasarkan kajiannya pada hipotesis teori tertentu. Paradigma positivis yang paling terkenal adalah metode eksperimental. Dalam metode ini hipotesis dijabarkan secara logis dari teori dan mencakup suatu test dalam kondisi terawasi.

 

B.     Pandangan dunia konstruktivisme sosial

Pandangan dunia ini biasanya dipandang sebagai suatu pendekatan dalam penelitian kualitatif. Konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia dimana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka. Makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu. Makna-makna ini pun cukup banyak dan beragam sehingga peneliti dituntut untuk lebih mencari kompleksitas pandangan-pandangan ketimbang mempersempit makna-makna menjadi sejumlah kategori dan gagasan. Peneliti berusaha mengandalkan sebanyak mungkin pandangan partisipan tentang situasi yang tengah diteliti.untuk mengeksplorasi pandangan-pandangan ini, perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa sangat luas dan umum, sehingga partisipan dapat mengkonstruksi makna atas situasi tersebut, yang biasanya tidak asli atau tidak dipakai dalam interaksi dengan orang lain. Semakin terbuka pertanyaan tersebut tentu akan semakin baik, agar peneliti bisa mendengarkan dengan cermat apa yang dibicarakan dan dilakukan partisipan dalam kehidupan mereka.

Dalam konteks konstruktivisme, peneliti memiliki tujuan utama, yakni berusaha memaknai, makna-makna yang dimiliki ornag lain tentang dunia ini, ketimbang mengawali penelitiannya dengan suatu teori (seperti dalam post positivisme). Terkait dengan konstruktivisme ini, Crotty memperkenalkan sejumlah asumsi :

1.      Para peneliti kualitatif cenderung menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar partisipan dapat mengungkapkan pandangan-pandangannya.

2.      Para peneliti kualitatif harus memahami konteks atau latar belakang partisipan mereka.

3.      Proses penelitian kualitatif bersifat induktif dimana didalamnya peneliti menciptakan makna dari data-data lapangan yang dikumpulkan.

 

C.     Pandangan dunia advokasi dan partisipatoris

Pandangan ini berasumsi bahwa penelitian harus dihubungkan dengan politik dan agenda politis. Untuk itulah, penelitian ini pada umumnya memiliki agenda aksi demi reformasi yang diharapkan dapat mengubah kehidupan partisipan. Peneliti dapat mengawali penelitian mereka dengan salah satu dari isu-isu ini sebagai fokus penelitiannya. Pandangan dunia ini berfokus pada kebutuhan-kebutuhan suatu kelompok atau individu tertentu yang mungkin termaginalkan secara sosial. Terdapat ringkasan oleh Kemmis dan Wilkinson tentang karakteristik-karakteristik inti dari penelitian advokasi :

1.      Pada akhir penelitian ini, para peneliti harus memunculkan agenda aksi demi reformasi dan perubahan.

2.      Penelitian ini ditekankan untuk membantu individu-individu agar bebas dari kendala-kendala yang muncul dari media, bahasa, aturan-aturan kerja dan relasi kekuasaan dalam ranah pendidikan.

3.      Penelitian ini bersifat emansipatoris yang berarti bahwa penelitian ini membantu membebaskan manusia dari ketidakadilan yang dapat membatasi perkembangan.

4.      Penelitian ini juga bersifat praktis dan kolaboratif, karena ia hanya dapat sempurna , jika dikolaborasikan dengan penelitian-penelitian lain.

 

D.    Pandangan dunia pragmatik

Paradigma filosofis yang satu ini memiliki banyak bentuk, tetapi pada umumnya pragmatisme sebagai pandangan dunia lahir dari tindakan-tindakan, situasi-situasi dan konsekuensi-konsekuensi yang sudah ada, dan bukan dari kondisi-kondisi sebelumnya. Pandangan dunia ini berpijak pada aplikasi dan solusi atas masalah yang ada. Pragmatisme pada hakikatnya merupakan dasar filosofis untuk setiap bentuk penelitian, khususnya penelitian metode campuran :

1.      Pragmatisme dapat digunakan untuk penelitian campuran.

2.      Setiap peneliti memiliki kebebasan dalam memilih metode, teknik dan prosedur.

3.      Para peneliti pragmatis selalu melihat apa dan bagaimana meneliti, seraya mengetahui apa saja akibat-akibat yang akan mereka terima.

4.      Kaum pragmatis setuju bahwa penelitian selalu muncul dalam konteks sosial, historis, politis, dan lain sebagainya.

5.      Kaum pragmatis percaya akan dunia eksternal yang berada diluar fikiran .

 

 

DAFTAR PUSTAKA

J. Moleong, Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

R.Semiawan, Conny. 2007. Catatan Kecil tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Kencana.

W.Creswell, John. 2010. Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

 

Dauatus Saidah_pmi 4_Tugas 1_Pengertian Antropologi Budaya dan Ruang Lingkupnya

Nama   : Dauatus Saidah
Nim     : 1113054000016
Tugas   : 1
 
A.    Mengapa harus Mempelajari Antropologi Budaya di PMI
 
Sebelum beranjak ke sana, kita harus tahu dahulu apa sih antropologi budaya? Kata Antropologi sendiri merupakan kombinasi dari dua kata yang diambil dari bahasa Yunani yaitu anthropos yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu. Secara singkat Antropologi Budaya adalah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.
Kenapa sih harus mempelajari Antropologi Budaya di PMI? PMI adalah suatu jurusan yang mengarahkan mahasiswa/i nya belajar mengenai masyarakat, karena sudah jelas dari nama jurusannya adalah "Pengembangan Masyarakat Islam", jadi sebagian besar mata kuliahnya mengajarkan ilmu sosial, yang nantinya akan bermanfaat dan sangat dibutuhkan ketika kita terjun ke masyarakat.
Ketika kita terjun ke masyarakat, kita akan melihat banyak sifat, karakter, bahkan budaya mereka yang berbeda-beda. Jika kita belajar Antropologi Budaya, ini sangat menolong kita, karena ketika kita terjun ke masyarakat nanti tidak akan merasa kaget atau kesusahan mengahadapi banyaknya Budaya di masyarakat.
 
B.     Pengertian dan Ruang Lingkup Kajian Antropologi Budaya
 
·         Pengertian Antropologi Budaya
Kata Antropologi sendiri merupakan kombinasi dari dua kata yang diambil dari bahasa Yunani yaitu anthropos yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu.
Dari definisi secara harfiah inilah kita bisa menyimpulkan bahwa antropologi adalah studi ilmu yang membahas tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik, serta kebudayaannya baiik itu tradisi, cara berperilaku, dan nilai moral. Antropologi sendiri sangat erat kaitannya dengan sosiologi, karna sosiologi sendiri juga membahas tentang manusia sebagai mahluk sosial serta interaksinya dengan yang lain.
 
·         Ruang Lingkup Antropologi Budaya
Ruang lingkup pelajaran antropologi meliputi semua manusia dan gejala kebudayaan, termasuk proses yang mengakibatkan timbulnya fenomena dan berbagai bentuk persamaan dan perbedaan(keanekawarnaan). Berhubung lingkup pelajaran antropologi meliputi fenomena biologis(manusia) dan sosial.
Antropologi terbagi atas empat cabang ilmu yakni; Prehistori, Etnolinguistik, Etnologi, dan Etnopsikologi.
Ø  Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mngenal tulisan.
Ø  Etnolinguistik adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia/bumi.
Ø  Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
Ø  Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam perubahan adat istiadat dan universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
 
C.     A.    Fungsionalitas Antropologi Budaya dalam dalam Proses Pengembangan Masyarakat
Jadi, fungsi Antropologi Budaya dalam proses pengembangan masyarakat adalah bisa menghadapi berbagai macam budaya yang ada di masyarakat ketika kita terjun ke masyarakat/ meneliti sesuatu kepada masyarakat.
 
 
 
 
 

Rabu, 11 Maret 2015

Assalamualaikum pak, tugas sebelumnya juga sudah saya lampirkan kemarin sore melalui Gmail.

Maria Angelina/ BPI 6/ FIDKOM

1112052000003

Metodologi Penelitian Kualitatif

Deskripsi Kamar


Kamar saya, terletak di kanan belakang di dalam rumah yang bersampingan dengan kamar mandi. Letaknya pun tak jauh dari ruang tamu dan tangga. kamar saya memiliki dua jendela berukuran 1,5x1 meter yang berfungsi sebagai ventilasi udara ke dalam kamar, dilapisi gorden berwarna krem agak kecoklatan. Cat jendela berwarna putih dengan tangkai besi berwarna hijau tua yang berbentuk lingkaran menyerupai bunga di setiap bentuknya.

Kamar yang berukuran  3x4 m dengan tinggi sekitar 2,5 m ini pun memakai warna cat dinding yang lembut yaitu warna putih berpadu dengan warna krem sehingga memberikan kesan sejuk, natural dan tenang. Pada pintu kamar yang berwarna coklat, terdapat beberapa poster boyband korea kesukaan saya, anatara lain boyband EXO-K, EXO-M, Shinee dan juga actor korea favorit saya, Kim So Hyun.

Di samping pintu kamar, terdapat sis dinding yang dihiasi gantungan kaligrafi mungil bertuliskan lafaz Allah dan Nabi Muhammad. Ketika memasuki kamar, maka banyak orang-orang yang memberi kesan bahwa kamar saya mempunyai lampu yang redup, gelap , menyeramkan karena didukung juga oleh nuansa rumah saya yang sepi dikarenakan hanya ditinggali oleh dua jiwa,lampu bercahaya redup itu  dikarenakan ibu saya memasang lampu kamar yang watt-nya tidak besar karena dapat meminimalisir keborosan dalam listrik.

Untuk membaca buku di dalam kamar,  dibutuhkan penerang yang lebih terang,maka dari itu setiap saya membaca buku, saya lebih menyukai membaca di ruang tamu yang berlampu terang. Namun dengan penerangan kamar yang sedikit remang membuat saya lebih cepat mengantuk dan tertidur karena tidak memberikan efek silau pada mata karena tidak perlu mematikan lampu kamar lagi ketika ingin tidur

Di dalam kamar terdapat beberapa perabotan seperti lemari, kasur, meja kursi, rak buku dan tempelan dinding. Ketika memasuki kamar, di sebelah kanan pintu terdapat lemari kecil yang digunakan sebagai tempat penyimpanan album foto dari zaman ibu saya muda hingga sekarang ini, beberapa file tentang resep-resep masakan dan diatas lemari terdapat beberapa pigura foto yang saya pajang, yakni foto keluarga dan teman-teman Aliyah saya.

Di samping itu, terdapat lemari besar berwarna hitam yang memiliki dua pintu berisi pakaian sehari-hari, baik untuk diluar ataupun di dalam rumah. Di kanan ruangan, persis di samping lemari besar hitam terdapat rak kecil berukuran panjang berwarna kuning yang biasanya dipergunakan untuk menyimpan tas, kaset-kaset music,alat-alat melukis dan beberapa buku lama nan using saat ibu saya masih bekerja dulu di kantor.

Bisa dibilang, kamar saya adalah tempat serbaguna untuk banyak menaruh barang-barang seperti dokumen, boneka-boneka, baju-baju saat saya masih bayi,buku-buku lama, dsb. Di hadapan rak tersebut,  terdapat kasur yang biasa saya gunakan untuk tidur. Kasur itu bertingkat dua, yakni kasur atas dan kasur bawah berwarna biru dongker.

Kasur saya saat ini menggunakan seprai berwarna biru muda bergambar animasi sapi. Di atas kasur, terdapat dua bantal,satu bantal imut bergambar kodok keroppi berwarna hijau, satu guling, selimut strawberry shortcake berwarna pink, dan beberapa boneka diantara lain satu boneka monyet, dua boneka perempuan kecil, satu boneka anjing puppy berwarna coklat muda dan tiga boneka babi ukuran kecil dan besar berwarna pink.

Di samping kasur terdapat rak buku yang berisi buku-buku saya yang cukup banyak, mulai dari buku-buku kuliah, kamus-kamus, buku tentang beberapa Bahasa Negara luar, beberapa novel dan juga komik-komik koleksi saya. Di rak paling atas terdapat boneka Barbie berkostum bola yang masih terbungkus rapi dengan kotaknya dan satu buah jam yang berukuran 10x10 cm. Jarak antara rak buku dengan kasurpun hanya berkisar sekitar 30 cm saja.

Lalu di samping kiri sebelah Kasur yang letaknya langsung berlawanan arah dengan pintu, terdapat lemari lagi berwarna biru dan putih berukuran sekitar 1x1,5 meter yang berisi kain-kain seperti taplak meja, seprai, gorden, dan juga berisi beberapa buku saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Diatas lemarinya terdapat sebuah kaca yang biasa saya gunakan setiap hari, bedak, lotion, parfum, minyak angin dan berbagai aksesoris wanita lainnya.

Tak jauh dari situ, yakni di sebelah kiri yang sejajar dengan jendela kamar terdapat kipas angin dan sebuah papan tulis yang gunanya sebagai reminder, tempat menulis vocabulary , huruf hiragana, dan catatan penting lainnya. Lalu, di bagian dinding kamar, terdapat beberapa hiasan kamar yakni diatas rak buku terdapat sebuah kaligrafi yang berukuran cukup panjang sekitar 60x40 cm yang bertuliskan lafaz ayat kursi yang dibeli oleh ibu sewaktu pulang dari Makkah.

Di sbelah kanan kaligrafi terdapat lukisan yang saya bingkai dan dibuat oleh teman saya dari bahan cat air. Gambar itu merupakan sebuah pemandangan dalam hutan yang biasanya tergambar dalam buku-buku dongengdan full colour. Di dinding yang tepat di atas kasur saya, adapula wallpaper dinding berupa sepeda ontel yang dihiasi dengan pohon sakura diatasnya, sehingga memberikan kesan nuansa di jepang pada saat musim semi,

Lalu terdapat pula sebuah bingkai yang isinya berupa washi dari bahan kain berbentuk sepasang orang jepang memakai baju kimono yang letaknya berdampingan dengan wallpaper dinding. Kamar yang saya tempati, sebisa mungkin saya sulap dengan hiasan-hiasan gambaran Negara lain sebagai acuan motivasi saya untuk dapat pergi kesana.itulah beberapa deskripsi tentang kamar saya yang terletak di sebuah rumah yang berlokasikan di BSD Tangerang Selatan.

Cari Blog Ini