Selasa, 05 Mei 2015

Tugas Observasi Kelurahan Petir Kecamatan Cipondoh Kota Tanggerang Provinsi Banten

Nida ul yanah 1112052000020

Sofwatillah Amin 1112052000015

Ahriyani Silvia 1112052000001

BPI VI

Tugas Kualitatif  gathering data pada suatu wilayah/kelurahan

 

BAB I

A.    PENDAHULUAN

Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ) Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal   2 Mei. Pemerintah pertama kali menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari pendidikan Nasional  ( Hardiknas) pada tanggal 16 Desember 1959. Tanggal 2 Mei dipilih sebagai Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ) Indonesia karena pada tanggal tersebut lahir seorang pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Seperti yang kami baca dari sebuah artikel yang diposting oleh info news.com bahwa Ki hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga di lingkungan kraton Yogyakarta.  Saat usianya genap 40 tahun ia berganti nama menjadi Ki Hajar  Dewantara. Sejak saat itu Ki Hajar Dewantara tak lagi menggunakan gelar kebangsawanan Raden Mas di depan namanya, hal ini bertujuan agar ia bisa bebas dekat dengan kehidupan rakyat tanpa dibatasi oleh ningrat dan darah biru kehidupan keraton.

Ki Hajar  Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun karena sakit ia tidak sampai tamat. Ia kemudian menjadi wartawan di beberapa surat kabar diantaranya Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,  Kaoem Moeda,  Tjahaja Timoer dan  Poesara.  Tulisan-tulisan Ki Hajar  Dewantara pada surat kabar tersebut sangat komunikatif dan tajam sehingga mampu membangkitkan semangat patriotik dan antikolonial bagi rakyat Indonesia saat itu.

Di usia yang masih terbilang muda disamping kesibukannya sebagai seorang wartawan Ki Hajar  Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Ia aktif melakukan propaganda pada organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 untuk mensosialisasikan serta menggugah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara kepada masyarakat Indonesia. Pada 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Karya-karya Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia diantara adalah kalimat-kalimat filosofis seperti "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan" menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini.

Ki Hajar  Dewantara pada masa era kolonialisme Belanda adalah seseorang yang berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan.. beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia,berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Karena sifat beraninya dan semua jasa-jasanyalah seorang    Ki Hajar Dewantara disebut sebagai bapak pelopor pendidikan di Indonesia. Pendidikan dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara bukan tanpa perjuangan, ia pernah diasingkan ke negara Belanda karena pernah mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda. Ini bukti bahwa untuk mempelopori pendidikan di Indonesia butuh perjuangan yang sangat besar juga  membuktikan bahwa pendidikan berperan penting dalam membangun dan memajukan bangsa di segala bidang.  

Standar Pendidikan di Indonesia diatur oleh seperangkat atau sistem rencana yang isinya mengatur pola pendidikan di Indonesia dan dijadikan sebagai pedoman seluruh pelajar di Indonesia yang disebut dengan kurikulum. Kurikulum pendidikan di Indonesia acap kali mengalami perubahan seiring dengan bergantinya mentri Pendidikan, terus bergantinya kurikulum Pendidikan di Indonesia menyebabkan ketidak jelasannya standar mutu pendidikan yang mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.

Permasalahan pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi PR bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya adalah tidak meratanya fasilitas dan sumber daya manusia yang menunjang pendidikan ke seluruh peloksok-peloksok negeri ini, pasalnya masih ada daerah-daerah yang belum tersentuh secara menyeluruh dalam hal pendidikan. Selain itu masih banyak anak/siswa yang putus sekolah di tengah jalan. Data yang kami kutip dari http://pdsp.kemdikbud.go.id/ ( Pusat Data Statistik Pendidikan ) menyatakan bahwa :

  • 7.732.280 anak usia 7-18 tahun tidak/belum bersekolah
  • Persentase angka putus sekolah:
    • 1,63% dari total pelajar SD & MI di Indonesia terpaksa putus sekolah
    • 2,22% dari total pelajar SMP & MTs di Indonesia terpaksa putus sekolah
    • 2,33% dari total pelajar SM & MA di Indonesia terpaksa putus sekolah
  • Persentase angka keberlangsungan sekolah:
    • 10,54% dari seluruh lulusan SD di Indonesia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
    • 13,66% dari seluruh lulusan SMP/MTs di Indonesia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
    • 35,65% dari seluruh lulusan SM/MA di Indonesia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
  • Masa keberlangsungan sekolah berdasarkan gender di Indonesia:
    • Rata-rata siswa laki-laki di Indonesia hanya menempuh pendidikan selama delapan tahun
    • Rata-rata siswa perempuan di Indonesia hanya menempuh pendidikan selama tujuh tahun
  • Rasio partisipasi sekolah berdasarkan usia:
    • hanya 54,6% siswa usia 16-18 tahun yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA

Permasalahan-permasalahan di atas adalah landasan pemikiran kami untuk melakukan penelitian / wawancara tentang taraf pendidikan setelah lulus SMA/sederajat di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tengerang Provinsi Banten. Diwilayah tersebut mempunyai taraf pendidikanya sangat rendah. Karena mayoritas tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi setelah lulus dari SMA/sederajat. Kami berpendapat demikian, karena pada awal kami berkunjung kesana kami langsung menemukan fakta yang diungkapkan oleh kelurahan yang kami datangi bahwa pada tahun 2014 dari 6000 orang yang mengenyam pendidikan di tingkat SMA/sederajat hanya 116 orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini diperkuat lagi dengan kenyataan yang kami temui di lapangan bahwa banyak anak-anak SMA/sederajat yang telah menyelesaikan ujian nasional  justru mereka bukan disibukan dengan  mencari perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikan mereka, akan tetapi mereka lebih sibuk mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan yang mereka fikir lebih bermanfaat dibandingkan dengan meneruskan pendidikan diperguruan tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

1.      Langkah-langkah Observasi

Pada hari pertama, Senin 27 Mei 2015 kami terjun kelapangan menuju kelurahan Petir tanpa membawa surat pengantar dari fakultas, karena pada saat yang sama banyak permintaan surat dari Mahasiswa terkait tugas, jadi pihak TU butuh waktu sedikit lebih banyak untuk menyelesaikan semua permintaan surat Mahasiswa. hal itu sedikit menjadi hambatan bagi kami. Untungnya pihak kelurahan tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Di sana kami bertemu dengan Pak Hasanudin salah satu staff kelurahan Petir, dengan sedikit perbincangan dan basa-basi sopan santun kami berhasil membuatnya percaya akan tujuan dan iktikad baik kami, walhasil Pak Hasanudin menyambut kami dengan ramah. Dari hasil percakapan kami, pihak kelurahan menceritakan sedikit tentang gambaran mengenai kelurahan Petir. Seperti yang kami tuliskan di awal mengenai surt pengantar, maka kami belum bisa mendapatkan data tertulis secara resmi dari kelurahan demi ketertiban administrasi. Keesokan harinya pada tanggal 28 Mei kami datang kembali bersamaan dengan selesainya surat pengantar dari fakultas. Sesuai dengan apa yang kami harapkan, pihak kelurahan langsung memberikan data kelurahan yang kami butuhkan berupa profil kelurahan berikut jumlah data penduduknya.

2.      Informan

Setelah mendapatkan data base dari kelurahan mengenai tingkat pendidikan di kelurahan Petir, kami memutuskan untuk pergi kerumah ketua RT yang dekat dari para narasumber.

3.      Narasumber

Narasumber pada penelitian kali ini adalah para alumni SMA/Sederajat yang tinggal di Kelurahan Petir. Terdapat 65 RT dan kami mengambil 5 RT  (RT 06/10, RT 03/05, RT 05/03, RT 01/01 dan RT 09/10) yang setiap RT kami mewawancarai 3 orang jadi semuanya berjumlah 15 orang. Lima orang pertama(Ridho,Syifa,Ainun, dan Deden)

Ketika kami mewawancarai mereka lebih memilih untuk melanjutkan ke Universitas yang mreka inginkan. Bagi mereka kuliah itu penting, sebab pada zaman sekarang untuk mencari pekerjaan sangatlah menentukan berdasarkan dari mana mereka menempuh sekolah ke perguruan tinggi atau universitas.

Dan 11 orang (Arifin,Afifah,Nissa,Iqbal,Yuri,Rizky,Adit, dan Tika) lainnya memilih untuk bekerja, Sebab menurut mereka kuliah itu hanya membuang waktu dan menghabiskan banyak biaya. Bagi mereka kerja itu dapat menghasilkan uang dan uang yang mereka hasilkan dari hasil kerjanya itu sendiri bisa membuat mereka senang membeli banyak barang yang mereka suka. Berbeda jika mereka harus kuliah dan hanya belajar, tidak bisa menikmati hidup yang mereka sukai. 4 tahun kuliah bagi mereka sangat membuang-buaang waktu, lebih baik digunakan untuk bekerja dan menikmati masa muda mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

GAMBARAN UMUM KELURAHAN

Kelurahan Petir

Alamat                        : Jl. KH. Ahmad Dahlan Kec. Cipondoh - Tangerang

No. Telepon                : 021 - 5575507

Lurah                           :

Luas Wilayah              : 1, 28 km2

Jumlah Penduduk : 25.493

Jumlah RW                 : 10

Jumlah RT : 65

 

1.      Jumlah Penduduk Menurut

a.       Jenis Kelamin

1)      Laki-Laki              : 12.875 Orang

2)      Perempuan            : 12.618 Orang

Jumlah             : 25.493 Orang

 

b.      Kepala Keluarga (KK)      : 6.836 KK

 

c.       Kewarganegaraan

WNI :  Laki-laki          : 12.875 Orang

Perempuan      : 12.618 Orang

   Jumlah          : 25.493 Orang

 

WNA : Laki-laki         : -

            Perempuan      : -

                Jumlah         : -

 

2.      Jumlah Penduduk Menurut Mobilitas/Mutasi Penduduk

a.       Lahir

1)      Laki-laki                :  4

2)      Perempuan            :  5

Jumlah             :  9

 

b.      Mati

1)      Laki-laki                : 5

2)      Perempuan            : 8

Jumlah             : 13

 

c.       Datang

1)      Laku-laki               : 2

2)      Perempuan            : 2

Jumlah             : 4

 

d.      Pindah

1)      Laki-laki                : 9

2)      Perempuan            : 1

Jumlah             : 10

 

3.      Jumlah Penduduk Menurut Agama

a.       Islam                           : 23.148

b.      Keristen                       : 681

c.       Katolik                                    :1.664

d.      Budha                         :  -

e.       Hindu                          : -

Jumlah             : -

 

4.      Jarak Ibu Kota dengan Kelurahan

a.       Jarak dari Provinsi Kota ke Kelurahan           : 13 Km

b.      Jarak dari Ibu Kota ke Kelurahan                   : 24 Km

c.       Jarak dari Ibu Kota Provinsi Ke Kelurahan    : 62 Km

d.      Jarak dari Ibu Kota Negara Ke Kelurahan     : 20 Km

 

5.      Jumlah Penduduk Menurut Usia

a.       Kelompok Pendidikan

1)      00-05 Tahun    : 1.911 Orang

2)      06-11 Tahun    : 1.281 Orang

3)      12-17 Tahun    : 2.855 Orang

4)      18-Keatas        : 1720 Orang

 

6.      Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

a.       Lulusan Pendidikan Umum

1)      Taman Kanak-kanak   : 768 Orang

2)      Sekolah Dasar             : 3.228 Orang

3)      SMP/SLTP                  : 3.118 Orang

4)      SMA/SLTA                : 6.825 Orang

5)      SMK                           : 1.706 Orang

6)      Akademik/DT-D3        : 612 Orang

7)      Sarjana/S1-S3              : 116 Orang

 

b.      Lulusan Pendidikan Khusus

1)      Pondok Pesantren        : 85 Orang

2)      Madrasah Aliyah         : 912 Orang

3)      Pendidkan Keagamaan : -

4)      Sekolah Luar Biasa     : 3 Orang

5)      Kursus Ketrampilan    : 62 Orang

6)      Paket C                       : 17 Orang

 

 

 

7.      Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

a.       Karyawan                                : 3.506 Orang

b.      Wiraswasta/Pedagang             : 313 Orang

c.       Tani                                         : 285 Orang

d.      Pertukangan                            : 74 Orang

e.       Pensiun TNI/Polri/Sipil           : 132 Orang

f.       Pengusaha                               : 5 Orang

g.      Pemulung                                :  -

h.      Jasa                                          :  364 Orang

 

 

8.      Bentuk Gedung Kelurahan Tampak dari Depan :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9.Letak Peta Kelurahan Peti

BAB IV

HASIL TEMUAN

Setelah semua data yang kami inginkan telah kami peroleh dari pihak kelurahan, kemudian kami bertiga mendatangi rumah para narasumber yang kami dapatkan dari rekomendasi Pak Rt setempat. Dari para narasumber yang kami wawancarai kami menyimpulkan bahwa para lulusan SMA/sederajat di kelurahan Petir mengartikan kuliah hanyalah membuang-buang waktu saja, waktu 4 tahun untuk mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan bagi mereka lebih baik dihabiskan untuk bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui bekerja. Mereka mengatakan hal itu dengan sangat yakin dan antusias, bagi mereka bekerja sedini mungkin adalah  jalan terbaik untuk menata masa depan yang cemerlang. Kuliah bukan lagi menjadi prioritas utama bagi mereka. Bekerja dan bekerja adalah tujuan utama bagi para lulusan SMA/sederajat di kelurahan Petir. Dari 15 orang yang kami wawancarai 11 orang lebih memilih bekerja dan 4 orang lainnya memilih kuliah.

Harapan kami semoga keinginan untuk mengenyam pendidikanlebih tinggi semakin meningkat seirng dengan perkembangan zaman yang sangat pesat. Majunya negara berbanding lurus dengan taraf pendidikan masyarakatnya.

Social Mapping Kelurahan Jati Padang Pasar Minggu Administrasi Kota Jakarta Selatan

Social Mapping
Kelurahan Jati Padang Kec. Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Selatan
Oleh
Siti Assa'adah 1112052000007
Siti Nurafriyanti 1112052000024
Firda Zanariyah 1112052000031
BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Indonesia ini, mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dengan total pemeluknya mencapai 87,18%, dari selururh total populasi penduduk Indonesia. Kemudian Kristen Protestan sebanyak 6,96%, Katolik sebanyak 2,9%, Hindu sebanyak 1,69%, Budha sebanyak 0,70%, dan Konghucu sebanyak 0,05%.
Agama merupakan hal terpenting bagi setiap orang, khususnya bagi mereka yang mempunyai kepercayaan terhadap agama, baik itu agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain. Agama dapat memberikan ketenangan batin bagi para pemeluk agama tersebut, karena agama merupakan hal yang bersinggungan dengan Tuhan. Hubungan manusia dengan sang pencipta, kepercayaan terhadap hal-hal gaib, kehidupan setelah mati dan sebagainya, itulah yang membuat banyak orang percaya kepada Tuhan melalui agama.

Alasan Memilih Kelurahan Jati Padang
Keluarahan Jati Padang berada di pinggiran kota yang beradministrasi di kota Jakarta Selatan dan di katakan dalam daerah yang berkembang pesat seperti transportasi, akses jalan yang mudah di tempuh, dan berada di daerah strategis.
Walau di daerah yang begitu berkembang pesat tetapi tidak mengurangi adanya kegiatan keagamaan dan bangunan keagamaan terutama masjid dan musholah. Inilah alasan kelompok kami memilih untuk meneliti tentang keagamaan yang ada di daerah kelurahan Jati Padang. Salah satu anggota kelompok kami merupakan warga di daerah ini sehingga kami dengan mudah dapat mengakses tempat-tempat di daerah ini, terutama bangunan keagamaan dan tetap membutuhkan informan kunci.

BAB II
METODE YANG DI GUNAKAN
Dalam mencari data di kelurahan Jati Padang, kami menggunakan teknik wawancara tidak formal dengan warga sekitar untuk memastikan data yang kami dapatkan dari kantor kelurahan. Dari kantor kelurahan kami melanjutkan pengamatan ke salah satu rumah warga yang mengetahui daerah tersebut atau kami menyebutnya informan kunci yaitu Bapak. H. Zainul Aznam, yang bertempat tinggal di Jl. Jati Padang IV gg. Wahid rt 008 rw 03 015 Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Selatan. Seperti yang kami sebutkan di atas kami melakukan sebuah wawancara tidak formal atau ngobrol santai dengan beliau.
Dari pembicaraan tersebut kami mendapatkan data tambahan tentang dimana saja letak lokasi yang menjadi sasaran penelitian kami di daerah tersebut karena, data yang kami dapatkan dari kelurahan hanya alamat Rt/Rw nya saja sedangkan salah satu anggota kami yang bertempat tinggal di daerah tersebut pun kurang mengetahui oleh karena kami membutuhkan informan kunci.
BAB III
Gambaran Umum Kelurahan
Batas wilayah kelurahan Jati Padang di sebelah barat berbatasan dengan Jl. Marga Satwa/ Jl. Warung Jati Barat, Kelurahan Ragunan. Dari sebelah Timur berbatasan dengan Jl. Salihara dan Holticulutra, Kelurahan Pasar Minggu. Sedangkan sebelah Utara berbatasan dengan Jl. Pejaten Raya, kelurahan Pejaten Barat, dan dari sebelah selatan berbatasan dengan Jl. Ring Road/ TB. Simatupang kelurahan Kebagusan.
Sedangkan untuk kondisi wilayah kelurahan Jati Padang yaitu :
Luas Wilayah : 249,77ha
Jumlah Penduduk : 42.969 jiwa
Jumlah KK : 7880 KK
Jumlah RW : 10 RW
Jumlah RT : 101 RT
Jumlah anggota LMK : 10 LMK
Penelitian kami mengenai keagamaan tentunya kami hanya mencari data tentang prasarana serta hal yang menyangkut tentang keagamaan, yaitu mengenai jumlah tempat ibadah di kelurahan tersebut. Dari data yang kami dapat Kelurahan tersebut mempunyai 15 Masjid, 28 Mushola dan 1 gereja untuk pendidikan keagamaan kelurahan tersebut mempunyai 5 Madrasah Ibtidaiyyah. Sedangkan untuk kegiatan Majlis Ta'lim kelurahan ini mempunyai 51 kegiatan Majlis Ta'lim dengan jumlah jam'ah kurang lebih 2.000 orang. Untuk tempat ibadah agama lain selain di atas yang telah kami sebutkan seperti Vihara, Pura dan Klenteng kami tidak mendapatkan data dari kelurahan.

BAB  IV
TEMUAN
Kelurahan Jati Padang yang menjadi tempat penelitian kami memiliki wilayah yang sangat luas kurang lebih 249,77 ha ini mempunyai 15 Masjid yang jarak tempuhnya luamayan jauh dan harus menggunakan transportasi umum atau pribadi karena di kelurahan tersebut banyak komplek. Namun, kelurahan Jati Padang mempunyai musholah yang sangat banyak kurang lebih 28 mushola dengan jumlah jama'ah yang tidak menentu setiap harinya, karena Masjid dan Mushola ada yang terletak di pinggiran jalan sehingga siapapun bisa melakukan ibadah shalat di Masjid atau Musholah tersebut. Di kelurahan ini kami hanya menemukan satu data gereja yang bernama Gereja Santa Maria dengan pendeta Dr. Markus B. Tembang.
Dari data tersebut kami mendapatkan temuan bahwa di kelurahan Jati Padang mayoritas agama masyarakatnya adalah Islam, terbukti dari jumlah Majlis Ta'lim di Kelurahan tersebut kurang lebih ada 51 Masjlis Ta'lim yang mempunyai 63 guru tetap yang memberikan kajian atau siraman rohani kepada jama'ah yang begitu banyak kurang lebih 2.000 orang jama'ah. Dan untuk sarana pendidikan keagamaan kami  menemukan 5 sekolah untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah saja. Sedangkan yang lainnya itu sekolah-sekolah umum.
Dari hasil obrolan kami dengan informa kunci bahwa kelurahan Jati Padang dikenal memiliki banyaknya pemuka agama seperti Ustad dan Kiai. Oleh karena dari temuan, data yang kami dapatkan hasil dari kelurahan dan obrolan dengan informan kunci kami menyimpulkan bahwa benar Kelurahan Jati Padang masyoritas adalah Islam. Dan kami juga menyimpulkan bahwa peran agama merupakan hal yang sangat penting di daerah tersebut walau tidak adanya pondok pesantresn tetapi para Ustad dan Kiai dapat memberikan peran pentin dalam penyebaran agama Islam.

Rizky Arif Santoso,Suryo Widodo, Aulia Ulfa_Tugas Ke-4_Laporan Penelitian Desa Bojong

LAPORAN PENELITIAN DESA BOJONG, KECAMATAN KEMANG,

 KABUPATEN BOGOR

BAB I

Latar Belakang

A.    Latar Belakang

Kami satu team terdiri dari tiga orang yaitu Rizky Arif Santoso, Suryo Widodo, dan Aulia Ulfa. Kami bertiga melakukan penelitian di daerah Ciampeak, Bogor tepatnya di desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Pada awalnya kami mendapatkan lokasi tersebut karena dapat pemberitahuan dari teman kelas kami yang kebetulan lebih dahulu meneliti di desa Semplak Barat daerah Ciampeak, Bogor.

Desa Bojong merupakan desa yang berada diperbatasan kota dan bersebelahan dengan kota Depok. Sebelum memasuki wilayah Desa Bojong, dipintu gerbang terdapat monumen Helikopter yang menyimbolkan adanya tempat lapangan udara dan Angkatan Udara. Desa Bojong memiliki tanah seluas 22 hektar. Desa Bojong walau lokasinya dekat dengan susasana perkotaan, namun sama hal-nya dengan des-desa yang lain yakni terdapat sawah-sawah serta ladang yang cukup luas dan merata diberbagai area di desa Bojong. Selain itu, desa Bojong juga terdapat gunung-gunung dan tanaman yang masih terjaga.

Area yang masih asri dan alami ini dipimpin oleh Kepala Desa yang bernama ... . Kantor desa yang berada tepat di tengah-tengah desa merupakan pusat berkumpulnya berbagai  komponen aparatur desa Bojong. Desa Bojong memiliki keunikan tersendiri, disamping letak lokasi yang berbatasan dengan kota dan lingkungan alam yang masih alami, mata pencaharian warga desa Bojong pun juga bervariasi. Mata pencaharian desa Bojong ada yang sebagai petani, pedagang, pengusaha home industry, hingga pabrik seperti pabrik Chiki dan Garmen. Keunikan dari mata pencaharian ini yang membuat kagum dengan desa Bojong.

Namun suasana alam yang masih asri dan segar, bervariasinya mata pencaharian warganya dinodai dengan adanya sengketa lahan tiga desa oleh Angkatan Udara. Tiga desa yang mengalami sengketa lahan yang diklaim oleh ankatan udara yaitu desa Bojong, desa Bantarsari dan desa Semplak. Permasalahan yang dialami tiga desa ini khususnya desa yang menjadi lokasi / tempat praktek lapangan ini mendorong kami untuk terus mencari info lebih detail dan menggali pernyataan warga sekaligus aparatur desa mengenai sengketa lahan tersebut. Hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri untuk kami teliti ada apa dan mengapa desa Bojong bisa diklaim oleh pihak Angkatan Udara setempat?? Siapakah pihak yang benar dan salah dalam kasus sengketa ini dimata hukum?? Dan sudahkan ada solusi atau jalan yang ditempuh desa Bojong dalam mengatasi masalah yang pelik tersebut ??

Semua data dan info akan kami bahas dalam laporan ini. Kami harap dapat bermanfaat dan membuka hati kita untuk membantu dan menolong pihak yang dirugikan.

 

B.     Fokus Pembahasan

Fokus pembahasan kami dalam praktek lapangan pada kasus sengketa lahan Desa Bojong oleh pihak Angkatan Udara setempat. Selain pada kasus sengketa lahan, desa Bojong juga memiliki beberapa masalah seperti masalah sistem perairan sawah, penyakit DBD hingga Cikungunya, masalah sertifikasi tanah warga hingga pengklaiman lahan Desa Bojong. Dari beberapa masalah yang terdapat di desa Bojong, hal yang menarik hati kami untuk menelisik masalah yang dihadapi desa Bojong ialah sengketa lahan. Selama di lokasi, kami mendatangi dan sekaligus mewawancarai Aparatur Desa seperti Sekertaris Desa dan Ketua RW setempat. Berbagai pernyataan dan keluhan yang kami dapat dari hasil wawancara, mereka pun juga sudah berusaha dan mendatangi DPR dan BPN untuk membantu menyelesaikan kasus sengketa lahan ini. Namun, hingga saat ini kasus tersebut menggantung dan dibiarkkan berlarut-larut hingga tak tahu apa keputusannya. Inilah yang membuat kami memfokuskan masalah kepada sengketa lahan desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

 

C.     Deskripsi Lapangan

·         Lokasi                               :  Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

·         Luas Wilayah                    :  22 Hektare

·         Jumlah Penduduk             : 11.415 dengan rincian Laki-laki 5.537 dan Perempuan 5.537

·         Budaya                              : Gendang Pencak

·         Tradisi                               : Gotong Royong, Kerja Bakti, Pengajian.

·         Kuliner Khas                     : Rengginang, Deblo dan Combro.


BAB III

Gambaran Umum

 

A.    Lokasi Wilayah

Desa Bojong, sebuah desa yang berada di Kabupaten Bogor, tepatnya berada di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berbatasan dengan Desa Semplak Barat dan Banjar Sari. Luas wilayah dari Desa Bojong ini sendiri kurang lebih mencapai 42 hektar, jauh lebih luas dibandingkan dengan desa-desa yang berada diperbatasannya. Dan terbagi menjadi 5 kampung yaitu bojong hilir,bojong kaum,bojong kidul,bojong lebak, dan bojong bobojong. Lalu terdiri dari 47 RT, 14 RW, dan 4 dusun. Sedangkan 1 dusun terdiri 3 atau 4 RW

B.     Populasi Penduduk

Berdasarkan data yang terdapat dalam jurnal kantor desa jumlah Penduduk di Desa Bojong sampai saat ini kurang lebih mencapai 11.415 jiwa, dimana jumlah Kartu Keluarga sebanyak 3.050 KK, dengan perincian jumlah Pria mencapai 5.537 jiwa, sedangkan Wanita mencapai 5.537 jiwa. Dan  Mayoritas Masyarakat desa bojong menganut Agama Islam sekitar 99% sedangkan 1% adalah yang lainnya.

C.     Pendidikan

Pendidikan di Desa Bojong ini tergolong memadai, ada kurang lebih sekitar 300 sekolah atau sarana pendidikan di Desa Bojong. Mayoritas pendidikan bagi remaja disana adalah SMA, kecuali bagi orang tua yang berumur diatas 30 tahun mayoritas pendidikannya hanyalah lulusan SD. Namun, banyaknya sekolah di Desa Bojong ini, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka (remaja lulusan SMA) untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu jenjang pendidikan Perguruan Tinggi. Akan tetapi karena faktor ekonomi yang rendah sedangkan perguruan tinggi mengharuskan membayar cukup besar maka kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi buruh pabrik marmer dan makanan ringan atau mengolah home industri di Desa Mereka.

D.    Profesi

Mayoritas profesi dari Desa Bojong adalah petani sayur dan pedagang. Pertanian di Desa Bojong termasuk pada pertanian kering, karena kebanyakan tanaman yang ditanam yakni sayur-sayuran meliputi kangkung, bayam, terong dan ada juga berbagai macam buah seperti jambu biji, tomat hijau dan merah. Tidak semua warga Desa Bojong berprofesi sebagai petani, ada pula mereka yang memiliki home industri makanan, seperti pembuatan makanan tradisional rengginang dan juga oncom. Di Desa Bojong ini juga terdapat salah satu pabrik garmen, dimana adanya pabrik garmen ini memberikan kentungan bagi warga Desa Bojong, karena pabrik garmen tersebut merekrut tenaga kerja dari warga  Desa Bojong itu sendiri.

BAB III

Hasil


A.    Sejarah

 

Desa Bojong sudah berdiri sejak sebelum merdekanya Negara Indonesia, tepatnya tahun 1942. Desa Bojong adalah desa yang berdiri sendiri, bukan pemberian ataupun pecahan dari desa lain. Kepala Desa pertama di Desa Bojong bernama Bapak Emed. Beliau menjabat sebagai kades pada periode 1943-1946. Sistem pemilihan kades pada saat itu adalah berdasarkan predikat Jawara atau jagoan yang dijuluki oleh rakyat, dengan asumsi bahwa beliau bisa melindungi dan memimpin warga Bojong pada masa tersebut.

Para masyarakat desa bojong pada masa penjajahan jepang banyak di usir dan pergi namun ada beberapa yang menetap sehingga warga asli desa bojong cukup sedikit. Akan tetapi desa tersebut di bebaskan kembali pada tahun 45 oleh tentara nasional Indonesia. Dan tanah tersebut di kembalikan kepada desa bojong.

Desa bojong di pimpin beberapa kades yang membuat desa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan berikut adalah nama kepala desa dari sebelum kemerdekaan sampai sekarang:

a.       Emed                                                   1943-1945

b.      Karta                                                   1945-1946

c.       Mugni                                                  1946-1961

d.      Misan                                                  1961-1969

e.       Rakiman                                              1969-1981

f.       Effendi                                                            1981-1986

g.      Andi SE                                              1986-1987

h.      M.Gundur                                           1987-1992

i.        Ahmad Drajat                                     1992-1994

j.        H.Mahi                                                1994-1995

k.      Hasanudin                                           1995-2011(Dua periode)

l.        Kusnadi                                               2011-sekarang


B.     Pola Pencarian Nafkah

Mayoritas masyarakat Desa Bojong berprofesi sebagai petani sayur dan pedagang. Hasil tani mereka meliputi kangkung, bayam, terong, tomat dan jambu biji. Sistem pertanian mereka adalah pertanian kering, karena jenis-jenis sayuran yang ditanam tidak membutuhkan banyak pengairan. Namun apabila tepat saat musim kemarau, system pertanian merekapun berubah menjadi sistem perairan bergilir, karena pada saat musim kemarau Desa Bojong banyak mengalami kekeringan, dan demi melangsungkan kegiatan pertanian agar tetap berjalan,maka diterapkanlah sistem perairan secara bergilir pada saat musim kemarau. Sedangkan selepas musim kemarau, kegiatan perairan pertanian akan berjalan kembali dengan normal.

Para Petani Desa Bojong lebih memilih untuk tidak menggunakan bahan kimia sehingga dapat menyuburkan tanah dan tanaman yang mereka garap. Mereka menggunakan bahan alami yang sangat mudah untuk ditemui dan dibuat yaitu sejenis cairan yang di dapat dari jengkol. Caranya yaitu jenggol yang sudah diukur sesuai ukurannya, kemudian direndam selama kurang lebih seharian, esok harinya disaring dan kemudian airnya itulah  yang dijadikan sebagai penyubur dan penghilang hama. Kemudian untuk menghilangkan hama tikus yang merusak tanaman dengan cara pengasapan dengan jerami ditiap-tiap lubang tikus tersebut.  

Sedangkan untuk Pendapatan warga Desa Bojong kurang lebih sekitar Rp20.000-Rp50.000 per harinya. Biasanya penghasilan antara petani pria dan petani wanita itu berbeda, dimana penghasilan petani pria lebih besar kurang lebih sekitar Rp50.000 atau lebih per harinya, sedangkan petani wanita hanya kisaran Rp20.000-Rp35.000 per harinya.

Untuk Masa panen sayuran rata-rata pada saat berumur 20-25 hari. Dan Cara penjualan mereka ada dua macam yaitu ada yang dijual kepada tengkulak(pengepul) dengan langsung menghargai sayuran tersebut dalam hitungan perpetak, dan ada pula yang menjualnya kepasar dengan harga kisaran Rp.1000-Rp.3000 per ikat. Ada kelebihan dan kekurangan dari kedua cara penjualan ini, apabila petani menjual hasil panennya kepada tengkulak maka proses penjualannya cepat dan hasilnya pasti,tetapi keuntungannya tidak sebesar bagi mereka yang menjual hasil panennya di pasar. Sedangkan petani yang menjual hasil panen dipasar akan mendapat keuntungan yang lebih tetapi jangka waktunya lebih lama dan kurang pasti, harus berani mengambil resiko bahwa semakin lama sayur itu dijual maka kualitas kesegaran dari sayuran tersebt juga akan berkurang.

Dan untuk ekonomi berkelanjutan masyarakat desa bojong telat merencakan untuk pembuatan Bumdes ( Badan Usaha Milik Desa) yaitu sejenis badan usaha yang bergerak di segala bidang yang dapat menghasilkan dan di miliki oleh desa. Sehingga Rencana Bumdes ini berharap akan membawa desa bojong menjadi desa yang mandiri dan menjadi percontohan untuk desa-desa lainnya

 

C.     Budaya

Masyarakat desa bojong memilik banyak budaya dan kebiasaan sehari-hari yang sudah cukup terkenal oleh desa lain maupun provinsi lain yaitu

a.       Makanan

Desa bojong yang mayoritas adalah petani dan pedagang mereka lebih mengolah makanannya berdasarkan hasil pertanian dia seperti deblo,yaitu sejenis singkong yang di parut atau dihaluskan dan bubumbui kemudian di cetak lalu di goreng biasanya di sajikann bersama oncom dan kopi hangat. Biasanya makanan itu selalu ada setiap pagi sebelum berangkat ke sawah.

b.      Sosial

Dalam masyarakat desa bojong gotong royong masih sangat melekat. Bahkan hampir setiap jum'at ada program jum'at bersih yaitu setiap warga membantu untuk membersihkan seluruh lingkungan di desa tersebut. Ada juga bantuan rumah layak huni , yaitu Rumah yang di bantu atau renovasi dengan bantuan dana atau tenaga dari warga.

Sedangkan dari segi sosial-agama masyarakat di sana yang mayoritas islam membentuk majlis ta'lim setiap minggu dan juga remaja masjid yang bertujuan agar masyarakat tersebut menjadi masyarakat yang taat akan agama.

 

c.       Kesenian

Desa bojong juga memiliki tarian khas yang sudah ada sejak dulu atau secara turun menurun dari kakek moyang mereka yaitu tarian Gendang Pecak. Gendang Pecak ini adalah sejenis Pecak atau silat yang di iringi dengan bunyi gendang sehingga tarian silat mengikuti alunan gendang. Gendang Pecak sudah cukup sulit temukan dalam masyarakat bojong namun ada beberapa sekolah yang membuat ekstrakurikuler Gendang Pecak Seperti SD Negeri 01 Desa Bojong sehingga terdapat penerus untuk melanjutkan kesenian ini. Gendang Pecak juga hanya di lakukan pada saat Acara-Acara tertentu Seperti nikahan,Acara-Acara desa, Khitanan, dll.

Adapun kesenian Drama sekitar tahun 1980 yang dilakukan oleh karang taruna pada saat itu. Kesenian drama ini sering di tampilan atau di pentaskan pada saat Acara-Acara penting di Desa, pernikahan ,khitanan , dll. Sedangkan untuk sekarang  Drama-drama tersebut sudah hilang di telan zaman karena kurangnya minat para remaja untuk meneruskannya.

Selain itu, keenian yang tedapat di desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor ialah seni Qasidhah kaum Ibu-ibu. Kesenian ini sudah menjadi suatu kebiasaan bagi Majlis Ta'lim kaum ibu-ibu. Pengajian yang rutin dan terbilang aktif, dimanfaatkan kaum ibu untuk mengadakan kegiatan Qashidahan dalam rangka menghidupkan susasana islami di desa Bojong.

D.    Konflik Desa Bojong

Desa Bojong merupakan desa yang alamnya masih tergolong segar dan terjaga karena penduduknya yang sangat ramah akan lingkungan memiliki beberapa konflik yang cukup pelik. Mulai dari masalah sistem perairan sawah, penyakit DBD hingga Cikungunya, masalah sertifikasi tanah warga hingga pengklaiman lahan Desa Bojong. Masalah yang terbilang besar dan cukup mengkhawatirkan warga desa Bojong ialah perihal masalah sengketa lahan.

Sengketa lahan yang terjadi di desa Bojong akibat dari pihak Angkatan Udara yang mengklaim lahan seluas 22 hektar ini milik pihak Angkatan Udara. Kasus daripada konflik sengketa lahan ini sudah memakan waktu hingga kurang lebih 73 tahun yakni dari massa penjajahan Jepang.

Di masa imperialisme Jepang, desa Bojong merupakan salah satu dari sekian desa yang mengalami dan sempat merasakan pedihnya penjajahan. Namun di masa-masa kejayaan bangsa Republik Indonesia di tahun 1945, pada saat itu pula negara dan tanah air merdeka dari segala bentuk penjajahan, Jepang dipukul mundur oleh rakyat sekaligus tentara Indonesia salah satunya pasukan Angkatan Udara yang berlokasi di desa Bojong. Merasa bahwa pihak pasukan Angkatan Udara berjasa dalam melawan penjajahan dan melindungi desa Bojong kala itu, pihak Angkatan Udara sangat tegas dan berani mengklaim bahwa tanah seluas 22 hektar ini milik pihak Angkatan Udara. Pihak Angkatan Udara yang mengklaim lahan desa Bojong nantinya akan membuat lahan ini menjadi lapangan udara sekalugus tempat pelatihan pasukan Angkatan Udara. Total tanah yang diklaim oleh pihak Angkatan Udara adalah sebesar 44 hektar, diantaranya 18 hektar milik desa Banjar Sari, 4 hektar milik desa Semplak Barat dan sisanya 22 hektar yang paling banyak adalah tanah milik desa Bojong

Merasa dirugikan akibat pengklaiman lahan tempat tinggal warga desa Bojong seluas 22 hektar ini, warga desa Bojong menuntut keadilan serta melakukan aksi demonstrasi kepada pihak Angkatan Udara. Berkali-kali bahkan bertahun-tahun mereka melakukan aksi perlawanan untuk menjaga kampung halaman serta tempat dimana meraka tinggal dan dilahirkan, namun pihak Angkatan Udara setempat pun juga tidak mengalah dan berhenti melakukan pengklaiman lahan tersebut.

Hasil pertemuan kami ke beberapa aparatur desa untuk mewawancara perihal kasus sengketa lahan yang menjadi konflik yang bertahun-tahun ini membuahkan beberapa pernyataan yang mewakili perasaan dan harapan warga desa untuk segera dimerdekakan hak serta kewajibannya selaku warga pribumi desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor ini.

 

Pertemuan kami yang pertama kepada pihak aparatur desa yakni kepala desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Namun dikarenakan bapak kepala desa yang tidak ada ditempat dikarenakan adanya kepentingan yang mendesak, kami menemui bapak Agus yang menjabat selaku Sekertaris Desa. Beberapa pertanyaan kami utarakan dan kami pun memperoleh beberapa pernyataan dari bapak Agus.

Bapak agus selaku sekertaris desa mengutarakan pernyataannya perihal kasus sengketa lahan. Konflik yang terjadi dan dialami warga desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor ini ialah masalah sengketa lahan oleh pihak Angkatan Udara. Pengklaiman yang terjadi merupakan kasus yang sudah memakan waktu kurang lebih 73 tahun sejak zaman penjajahan Jepang. Menurut bapak Agus bahwa di masa penjajahan, warga desa sempat merasakan pedihnya masa masa imperialisme Jepang. Pasukan Angkatan Udara menjadikan desa Bojong sebagai tempat persembunyian kapal utama yang berisi senjata ataupun barang-barang penting yang dimiliki Angkatan Udara agar kehadiran kapal tersebut tidak diketahui oleh pihak jepang. Namun memasuki masa masa kemerdekaan bangsa Indonesia, segala bentuk penjajahan baik Jepang maupun Belanda telah terhenti dan sudah tidak ada berkat perlawanan dan perjuangan rakyat sekaligus pasukan militer bangsa Indonesia termasuk salah satunya Angkatan Udara Republik Indonesia. Pihak Angkatan Udara Republik Indonesia merasa berjasa atas perjuangannya melawan penjajah, mereka mengklaim bahwa lahan desa Bojong merupakan sudah menjadi milik penuh (mutlak) pihak Angkatan Udara bukan lagi milik warga.

Dari kasus tersebut, menurut bapak Agus selaku sekertaris desa, menyatakan bahwa warga desa bertahun-tahun meminta dan menuntut keadilan untuk membebaskan hak lahan desa menjadi milik warga. Pada tahun 2007, menurut ungkapan pak Agus, bahwa warga bersama aparatur desa melakukan aksi hingga ke gedung DPR dan BPN untuk memutuskan dan memberi keadilan dengan tujuan agar lahan seluas 22 hektar tersebut kembali ke milik warga desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor tersebut.

Dari hasil keputusan BPN, menetapkan hasil bahwa tanah beserta isinya desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor merupakan milik warga desa Bojong. Sehingga dengan adanya statement tersebut, warga desa Bojong merasa hak mereka telah kembali sebagaimana mestinya.

Namun ternyata, kasus ini tidak selesai begitu saja, pihak Angkatan Udara pun juga tetap mengklaim lahan tersebut dikarenkan sertifikat tanah lahan yang hingga sekarang belum juga dimiliki oleh warga desa. Walaupun BPN telah menetapkan keputusan bahwa lahan desa milik warga desa Bojong, namun hingga tahun 2015 belum ada (turun) sertifikat legalitas dari Negara Republik Indonesia, maka sampai saat ini pula pihak Angkatan Udara terus mengklaim lahan tersebut. Warga yang ingn membuat sertifikat tanah dan melakukan transaksi jual-beli tanah pun merasa kesulitan dikarenakan hak kepemilikan tanah warga desa Bojong pun masih belum menemui titik terang.

Selain konflik sengketa tanah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan, desa Bojong pernah mengalami satu wabah penyakit yaitu penyakit cikungunya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk dikarenakan faktor lingkungan yang kurang bersih, tepatnya berada diwilayah RW 03. Kejadian ini berlangsung belum lama kurang lebih sekitar 3 bulan yang lalu.

Wabah ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Selama satu bulan itu, dalam satu hari hampir sekitar 12 orang yang melakukan pengobatan kepada mantri. Yang dirasakan warga saat itu adalah rasa sakit pada sendi-sendi tulang yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk bergerak, dan untuk pemulihannya membutuhkan waktu kurng lebih satu bulan.

Tindakan yang dilakukan oleh pihak desa adalah dengan menaburkan bubuk abate disetiap sudut rumah, melakukan kerja bakti terutama di titik-titik rawan berkembang biaknya nyamuuk cikungunya, serta program penyemprotan yang dilakukan setiap bulannya selama satu tahun kedepan.

Pernah ada kejadian dimana salah satu warga yang terkena penyakit cikungunya, dan apa bila ia dijenguk maka keesokan harinya orang yang menjenguk tersebut akan tertular penyakit yang sama. Maka saat itu disarankan bagi warga yang tidak terkena penyakit utuk tidak melakukan kontak secara langsung dengan warga yang seang terkena penyakit sebelum keadaanya benar-benar pulih.

Adanya wabah penyakit ini sendiri juga memiliki sisi positif tersendiri. Obat dari penyakit cikungunya itu sendiri adalah buah jambu biji. Karena angka penyakit yang sangat tinggi, akhirnya warga desa memutuskan untuk menanam pohon jambu biji disebagian lahan pertanian yang mereka miliki. Hingga saat ini, jambu biji merupakan salah satu hasil panenan tetap yang membantu tingkat perekonomian warga bojong itu sendiri.

 

BAB IV

Penutup

Berdasarkan uraian-uraian di atas desa bojong merupakan desa yang makmur dan subur karena kebanyakan dari lahan mereka ada sawah dan kebun,sedangkan mata pencharian mereka mayoritas ada pertanian sehingga secara pangan mereka sangatlah menguntungkan. Mereka juga memiliki banyak sekali budaya-budaya yang masih ada seperti Gendang Pecak, Makanan Deblo,dll.

Mereka Juga memiliki rasa sosial yang sangat tinggi hal ini terlihat dari para warga yang saling bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar dan mengadakan pengajian. Sehingga hubungan antara mereka menjadi sangat dekat dan harmonis. Dari semua itu kedamaian dan kemakmuran itu mereka juga mengalami banyak sekali permasalahan yang terjadi.

Seperti masalah Tanah seluas 22 Hektar yang terjadi antara Angkatan Udara Republik Indonesia dengan Desa bojong yang memcuat hingga sampai ke istana. Padahal berdasarkan pengakuan dari banyak warga bahwa desa tersebut merupakan Tanah Adat yang merupakan tanah turun menurun dari nenek moyang mereka terdahulu.

Bahkan sampai melakukan Demo di depan istana untuk menuntut pembebasan tanah tersebut. Dan membuat para petinggi desa harus turun tangan dalam menangani kasus ini akan tetapi belum ada ketetepan yang di lakukan oleh pemerintah. Padahal tersebut harus cepat-cepat di atas karena dapat mengakibatkan konflik di antara warga sipil dan militer.

Bukan hanya konflik sengketa tanah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan, desa Bojong pernah mengalami satu wabah penyakit yaitu penyakit cikungunya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk dikarenakan faktor lingkungan yang kurang bersih, tepatnya berada diwilayah RW 03.

Tindakan yang dilakukan oleh pihak desa adalah dengan menaburkan bubuk abate disetiap sudut rumah, melakukan kerja bakti terutama di titik-titik rawan berkembang biaknya nyamuuk cikungunya, serta program penyemprotan yang dilakukan setiap bulannya selama satu tahun kedepan.

Adapun masalah yang terjadi di remaja sekitar masyarakat desa bojong yaitu para remaja tidak mau meneruskan apa yang telah di lakukan oleh orang-orang terdahulu dan menganggap bahwa apa yang di lakukan orang-orang tersebut tidak sesuai dengan keinginnanya sehingga para penerus dari desa bojong tersebut sudah semakin sedikit

            Dan dari perlakuan yang di lakukan di atas ini sesuai dengan teori Durkheim tentang struktural fungsionalisme yaitu setiap struktur berfungsi dengan seharusnya seperti halnya kepala desa yang membantu dalam pembebasan lahan yang seluas 22 hektar yang di akui oleh Angkatan Udara Republik indonesia. Mereka mendesak para pemerintah dan petinggi negara untuk mengakui bahwa tanah tersebut adalah tanah adat. Walaupun semua usaha belum dapat terjadi namun para petinggi desa melakukan kewajiban mereka untuk membuat desa menjadi desa yang makmur dan sejahtera dan mengembalikan apa yang sudah menjadi hak mereka.

            Ada juga masalah Cikungunya yang terjadi di wilayah RW 03 .para aparat desa menaburkan bubuk abate di setiap suduh rumah warga, yang berpotensi terdapat nyamuk cikungunya,lalu menyarankan dan membantu warga dengan bergotong royong serta mengadakan program penyemprotan setiap bulanya selama satu tahun kedepan.

Cari Blog Ini