Senin, 21 September 2015

Holimatus Solihah_KPI 1 B_Konflik Sosial dan Perebutan Sumber Daya_Tugas3

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA

 

I.                   DEFINISI KONFLIK SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Istilah "konflik" secara etimologis berasal dari bahasa latin "con" yang berarti bersama dan "fligare" yang berarti benturan atau tabrakan. Definisi Konflik sosial adalah pertentangan antara anggota-anggota masyarakat yang terjadi karena adanya perubahan sosial atau perubahan masyarakat yang pesat. Sebagaimana dijelaskan oleh Roucek dan Warren. Masyarakat yang heterogen biasanya ditandai kurang dekatnya hubungan antara orang satu dengan orang atau kelompok lainnya, individu cenderung mencari jalannya sendiri-sendiri. Sementara itu kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin terbatas, sehingga persaingan tidak dapat dihindari. Jika proses ini memuncak, maka pertentangan akan terjadi pada masyarakat yang bersangkutan. Pada saat masyarakat dalam keadaan konflik, dapat timbul kekecewaan dan keresahaan sosial, maka pada saat itu pula individu-individu pada umumnya sangat mudah terhadap hal-hal yang baru.

Secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu atau kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan atau menyingkirkan atau mengalahkan atau menyisihkan. Keragaman sosiokultural di dalam suatu bangsa atau negara memiliki intensitas konflik yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara struktur sosialnya bersifat homogen. Heterogenitas suatu bangsa sering kali menimbulkan konflik antarsuku, agama, ras, dan antargolongan yang sering diistilahlan konflik SARA. Selain keragaman sosiokultural, ketimpangan ekonomi juga memicu kerawanan konflik sosial sebagai akibat kecemburuan sosial di antara para anggota masyarakat.

MACAM-MACAM KONFLIK


a.       Konflik Gender

b.      Konflik Rasial dan Antarsuku

c.       Konflik Antar-Umat Agama

d.      Konflik Antargolongan

e.       Konflik Kepentingan

f.       Konflik Pribadi

g.      Konflik Antarkelas Sosial

h.      Konflik Antarnegara/Bangsa


PENYEBAB KONFLIK


Pada dasarnya, secara sederhana penyebab konflik dibagi dua, yaitu :

1. Kemajemukan Horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi, seperti buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri,dll.

2. Kemajemukan Vertikal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal ini menimbulkan konflik sosial karena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar.

 



CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Didalam kemajemukan horizontal banyak sekali konflik sosial yang terjadi, misalnya saja di daerah yang minoritas agama muslim seperti di papua, beberapa waktu lalu telah terjadinya pembakaran mushola atau mesjid yang dilakukan oleh warga papua yang bukan beragama islam. Konflik antar daerah di poso yang sampai hari ini masih kerap terjadi, bahkan baru-baru ini telah memakan bebarapa korban akibat konflik tersebut. Konflik antar-etnis seperti peristiwa Tanjung Priok, Peledakan Bom di BCA, Kasus irah atau Peristiwa Solo. Selain itu konflik antarsuporter juga sering terjadi di indonesia yang menyebabkan kerusuhan.

II.                DEFINISI PEREBUTAN SUMBER DAYA

Perebutan identik dengan mengambil yang bukan miliknya secara paksa tanpa memikirkan HAM yang berlaku. Sumber daya mencakup dari sumber daya alam dan manusia. Perebutan sumber daya alam bisa saja didenifinisikan sebagai mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Sumber-sumber daya yang dikuasai oleh setiap  orang mungkin berfungsi untuk merealisasikan tujuan individual maupun kolektiv. Perebutan sumber daya juga dafat diartikan sebagai mengakui sesuatu hal yang bukan miliknya

FAKTOR ADANYA PEREBUTAN SUMBER DAYA :

1.      Memperluas daerah kekuasaan

2.      Tidak adanya kepuasan tentang sumber daya yang telah dimiliki

CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1.      Perebutan Timor Timur dari negara Indonesia

2.      Malaysia mengklaim bahwa batik adalah kebudayaan milik Malaysia

3.      Perebutan pulau-pulau kecil di daerah perbatasaan yang jauh dari perkotaan

Adanya konflik mengakibatkan munculnya perebutan sumber daya itu sendiri, baik di dalam daerah maupun di dalam suatu negara.

 

Sumber Referensi

1.      Sosiologi, The Key Concepts karya Prof. Dr. Iman Santosa M.si

2.      Pengantar Sosiologi karya Elly M. Setiadi dan Usman Kolip

3.      Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan karya Abdulsyani

 

 

 

 

 

Holimatus Solihah KPI 1 B_Konflik Sosial dan Perebutan Sumber Daya_Tugas2

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA

 

I.                   DEFINISI KONFLIK SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Istilah "konflik" secara etimologis berasal dari bahasa latin "con" yang berarti bersama dan "fligare" yang berarti benturan atau tabrakan. Definisi Konflik sosial adalah pertentangan antara anggota-anggota masyarakat yang terjadi karena adanya perubahan sosial atau perubahan masyarakat yang pesat. Sebagaimana dijelaskan oleh Roucek dan Warren. Masyarakat yang heterogen biasanya ditandai kurang dekatnya hubungan antara orang satu dengan orang atau kelompok lainnya, individu cenderung mencari jalannya sendiri-sendiri. Sementara itu kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin terbatas, sehingga persaingan tidak dapat dihindari. Jika proses ini memuncak, maka pertentangan akan terjadi pada masyarakat yang bersangkutan. Pada saat masyarakat dalam keadaan konflik, dapat timbul kekecewaan dan keresahaan sosial, maka pada saat itu pula individu-individu pada umumnya sangat mudah terhadap hal-hal yang baru.

Secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu atau kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan atau menyingkirkan atau mengalahkan atau menyisihkan. Keragaman sosiokultural di dalam suatu bangsa atau negara memiliki intensitas konflik yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara struktur sosialnya bersifat homogen. Heterogenitas suatu bangsa sering kali menimbulkan konflik antarsuku, agama, ras, dan antargolongan yang sering diistilahlan konflik SARA. Selain keragaman sosiokultural, ketimpangan ekonomi juga memicu kerawanan konflik sosial sebagai akibat kecemburuan sosial di antara para anggota masyarakat.

MACAM-MACAM KONFLIK


a.       Konflik Gender

b.      Konflik Rasial dan Antarsuku

c.       Konflik Antar-Umat Agama

d.      Konflik Antargolongan

e.       Konflik Kepentingan

f.       Konflik Pribadi

g.      Konflik Antarkelas Sosial

h.      Konflik Antarnegara/Bangsa


PENYEBAB KONFLIK


Pada dasarnya, secara sederhana penyebab konflik dibagi dua, yaitu :

1. Kemajemukan Horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi, seperti buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri,dll.

2. Kemajemukan Vertikal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal ini menimbulkan konflik sosial karena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar.

 



CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Didalam kemajemukan horizontal banyak sekali konflik sosial yang terjadi, misalnya saja di daerah yang minoritas agama muslim seperti di papua, beberapa waktu lalu telah terjadinya pembakaran mushola atau mesjid yang dilakukan oleh warga papua yang bukan beragama islam. Konflik antar daerah di poso yang sampai hari ini masih kerap terjadi, bahkan baru-baru ini telah memakan bebarapa korban akibat konflik tersebut. Konflik antar-etnis seperti peristiwa Tanjung Priok, Peledakan Bom di BCA, Kasus irah atau Peristiwa Solo. Selain itu konflik antarsuporter juga sering terjadi di indonesia yang menyebabkan kerusuhan.

II.                DEFINISI PEREBUTAN SUMBER DAYA

Perebutan identik dengan mengambil yang bukan miliknya secara paksa tanpa memikirkan HAM yang berlaku. Sumber daya mencakup dari sumber daya alam dan manusia. Perebutan sumber daya alam bisa saja didenifinisikan sebagai mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Sumber-sumber daya yang dikuasai oleh setiap  orang mungkin berfungsi untuk merealisasikan tujuan individual maupun kolektiv. Perebutan sumber daya juga dafat diartikan sebagai mengakui sesuatu hal yang bukan miliknya

FAKTOR ADANYA PEREBUTAN SUMBER DAYA :

1.      Memperluas daerah kekuasaan

2.      Tidak adanya kepuasan tentang sumber daya yang telah dimiliki

CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1.      Perebutan Timor Timur dari negara Indonesia

2.      Malaysia mengklaim bahwa batik adalah kebudayaan milik Malaysia

3.      Perebutan pulau-pulau kecil di daerah perbatasaan yang jauh dari perkotaan

Adanya konflik mengakibatkan munculnya perebutan sumber daya itu sendiri, baik di dalam daerah maupun di dalam suatu negara.

 

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA

 

I.                   DEFINISI KONFLIK SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Istilah "konflik" secara etimologis berasal dari bahasa latin "con" yang berarti bersama dan "fligare" yang berarti benturan atau tabrakan. Definisi Konflik sosial adalah pertentangan antara anggota-anggota masyarakat yang terjadi karena adanya perubahan sosial atau perubahan masyarakat yang pesat. Sebagaimana dijelaskan oleh Roucek dan Warren. Masyarakat yang heterogen biasanya ditandai kurang dekatnya hubungan antara orang satu dengan orang atau kelompok lainnya, individu cenderung mencari jalannya sendiri-sendiri. Sementara itu kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin terbatas, sehingga persaingan tidak dapat dihindari. Jika proses ini memuncak, maka pertentangan akan terjadi pada masyarakat yang bersangkutan. Pada saat masyarakat dalam keadaan konflik, dapat timbul kekecewaan dan keresahaan sosial, maka pada saat itu pula individu-individu pada umumnya sangat mudah terhadap hal-hal yang baru.

Secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu atau kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan atau menyingkirkan atau mengalahkan atau menyisihkan. Keragaman sosiokultural di dalam suatu bangsa atau negara memiliki intensitas konflik yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara struktur sosialnya bersifat homogen. Heterogenitas suatu bangsa sering kali menimbulkan konflik antarsuku, agama, ras, dan antargolongan yang sering diistilahlan konflik SARA. Selain keragaman sosiokultural, ketimpangan ekonomi juga memicu kerawanan konflik sosial sebagai akibat kecemburuan sosial di antara para anggota masyarakat.

MACAM-MACAM KONFLIK


a.       Konflik Gender

b.      Konflik Rasial dan Antarsuku

c.       Konflik Antar-Umat Agama

d.      Konflik Antargolongan

e.       Konflik Kepentingan

f.       Konflik Pribadi

g.      Konflik Antarkelas Sosial

h.      Konflik Antarnegara/Bangsa


PENYEBAB KONFLIK


Pada dasarnya, secara sederhana penyebab konflik dibagi dua, yaitu :

1. Kemajemukan Horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi, seperti buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri,dll.

2. Kemajemukan Vertikal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal ini menimbulkan konflik sosial karena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar.

 



CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Didalam kemajemukan horizontal banyak sekali konflik sosial yang terjadi, misalnya saja di daerah yang minoritas agama muslim seperti di papua, beberapa waktu lalu telah terjadinya pembakaran mushola atau mesjid yang dilakukan oleh warga papua yang bukan beragama islam. Konflik antar daerah di poso yang sampai hari ini masih kerap terjadi, bahkan baru-baru ini telah memakan bebarapa korban akibat konflik tersebut. Konflik antar-etnis seperti peristiwa Tanjung Priok, Peledakan Bom di BCA, Kasus irah atau Peristiwa Solo. Selain itu konflik antarsuporter juga sering terjadi di indonesia yang menyebabkan kerusuhan.

II.                DEFINISI PEREBUTAN SUMBER DAYA

Perebutan identik dengan mengambil yang bukan miliknya secara paksa tanpa memikirkan HAM yang berlaku. Sumber daya mencakup dari sumber daya alam dan manusia. Perebutan sumber daya alam bisa saja didenifinisikan sebagai mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Sumber-sumber daya yang dikuasai oleh setiap  orang mungkin berfungsi untuk merealisasikan tujuan individual maupun kolektiv. Perebutan sumber daya juga dafat diartikan sebagai mengakui sesuatu hal yang bukan miliknya

FAKTOR ADANYA PEREBUTAN SUMBER DAYA :

1.      Memperluas daerah kekuasaan

2.      Tidak adanya kepuasan tentang sumber daya yang telah dimiliki

CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1.      Perebutan Timor Timur dari negara Indonesia

2.      Malaysia mengklaim bahwa batik adalah kebudayaan milik Malaysia

3.      Perebutan pulau-pulau kecil di daerah perbatasaan yang jauh dari perkotaan

Adanya konflik mengakibatkan munculnya perebutan sumber daya itu sendiri, baik di dalam daerah maupun di dalam suatu negara.

 

Sumber Referensi

1.      Sosiologi, The Key Concepts karya Prof. Dr. Iman Santosa M.si

2.      Pengantar Sosiologi karya Elly M. Setiadi dan Usman Kolip

3.      Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan karya Abdulsyani

 

 

 

 

 

Sumber Referensi

1.      Sosiologi, The Key Concepts karya Prof. Dr. Iman Santosa M.si

2.      Pengantar Sosiologi karya Elly M. Setiadi dan Usman Kolip

3.      Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan karya Abdulsyani

 

 

 

 

 

Aulia Ulfa (1113054000020)_Perubahan Sosial dan Perilaku Kesehatan Mayarakat_Tugas1

Perubahan Sosial dan Perilaku Kesehatan Mayarakat

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi secara terus menerus yang mencakup sistem sosial (pola pikir, pola perilaku, nilai) dan struktur sosial (lembaga sosial, kelompok, norma) didalam masyarakat. Perubahan Sosial menurut beberapa ahli:

a. Samuel Koenig : Perubahan sosial menunjukkan pada modifikasi yang terjadi pada pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut terjadi akibat pengaruh intern dan ekstern.

b. Selo Soemardjan : Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Perubahan tersebut mempengauhi sistem sosial, termasuk nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok masyarakat.

c. William F. Ogburn : perubahan sosial terjadi ketika unsur materiel memberi pengaruh pada unsur imateriel.

Ciri-ciri Perubahan Sosial
a. Masyarakat bersifat dinamis (terus bekembang)
b. Perubahan pada satu lembaga akan menyebabkan perubahan pada lembaga lainnya.
c. Perubahan yang cepat (revolusi) dapat menyebabkan disorganisasi dalam kelompok dan bersifat sementara
d. Perubahan sosial tidak hanya mencakup materiel / spiritualnya saja  tapi mencakup keduanya.

            Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manuasia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia.

 

Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup :

1)      Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit

2)      Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat – obat.

3)      Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya., pengelolaan makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.

4)      Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan.itu sendiri.

 

Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikan menjadi 3 kelompok:

1)      Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance)

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek :

a)      Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.

b)      Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.

c)      Perilaku gizi (makanan dan minuman).

2)      Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Sering disebut Perilaku Pencarian pengobatan (Heath Seeking Behavior). Adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.

3)      Perilaku Kesehatan Lingkungan

Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan bagaimana, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Seorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini.

a)      Perilaku hidup sehat

.Adalah perilaku –perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatikan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antar lain :

Menu seimbang, Olahraga teratur, Tidak merokok, Tidak minum-minuman keras dan narkoba, Istirahat yang cukup, Mengendalian stress, Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan

b)      Perilaku Sakit

Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya, dsb.

c)      Perilaku peran sakit (the sick role behavior)

Perilaku ini mencakup:

Tindakan untuk memperoleh kesembuhan, Mengenal/mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak., Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, dan pelayanan kesehatan).

 

Sumber:http://www.academia.edu/8526739/Hubungan_Ilmu_Sosial_dan_Perilaku_dengan_Kesehatan_Masyarakat

Agustin Putri Anggrainy.JRNL.1B.KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA.TUGAS 1

A.   DEFINISI

Sebenarnya istilah konflik berasal dari bahasa Latin configere yang berarti saling memukul. Namun, definisi tersebut terkesan sangat sederhana bukan? Padahal konflik tersebut belum tentu hanya berkaitan dengan sisi fisik saja. Secara sosiologis, konflik dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih atau dapat juga kelompok yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik Sosiologi Menurut Para Ahli :

1.      SoerjonoSoekanto
Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

2.       Lewis.ACoser
Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

3.      Gillin dan Gillin
Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaanperbedaan baik fisik, emosi, kebudayaan, dan perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

4.       De Moor
Dalam suatu sistem sosial dapat dikatakan terdapat konflik apabila para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran.

5.       Robert M. Z. Lawang
Konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya. Tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya (lawannya).

 

Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan, 1993:341). Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai 'perang dingin' antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah.

B.   SUMBERDAYA dalam PERSEPRTIF SOSIOLOGI

 

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

 

C.   CONTOH

 

ü  Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi),

 misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))

ü  Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng).

ü  Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

ü  Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)

ü  Konflik antar atau tidak antar agama

ü  Konflik antar politik.

ü  konflik individu dengan kelompok

 

D.   DAFTAR PUSTAKA

 

Taufik, Abdul 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Jakarta:Publishing Co.

Sunarto, Kamanto 2002. Pengantar Sosiologi. Jakarta:Lembaga Penerbit FK UI

 

Agustin Putri Anggrainy.JRNL.1B.KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA.TUGAS 2

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA

A.   DEFINISI

Sebenarnya istilah konflik berasal dari bahasa Latin configere yang berarti saling memukul. Namun, definisi tersebut terkesan sangat sederhana bukan? Padahal konflik tersebut belum tentu hanya berkaitan dengan sisi fisik saja. Secara sosiologis, konflik dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih atau dapat juga kelompok yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik Sosiologi Menurut Para Ahli :

1.      Soerjono Soekanto
Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

2.       Lewis A Coser
Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

3.      Gillin dan Gillin
Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaanperbedaan baik fisik, emosi, kebudayaan, dan perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

4.       De Moor
Dalam suatu sistem sosial dapat dikatakan terdapat konflik apabila para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran.

5.       Robert M. Z. Lawang
Konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya. Tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya (lawannya).
 

Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan, 1993:341). Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai 'perang dingin' antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah.

B.   SUMBERDAYA dalam PERSEPRTIF SOSIOLOGI

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

 

C.   CONTOH

ü  Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi),

 misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))

ü  Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng).

ü  Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

ü  Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)

ü  Konflik antar atau tidak antar agama

ü  Konflik antar politik.

ü  konflik individu dengan kelompok 

D.   DAFTAR PUSTAKA

Taufik, Abdul 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Jakarta:Publishing Co.

Sunarto, Kamanto 2002. Pengantar Sosiologi. Jakarta:Lembaga Penerbit FK UI

 

Agustin Putri Anggraeny.JRNL.1B.KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA.TUGAS 2

 

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA

A.   DEFINISI

Sebenarnya istilah konflik berasal dari bahasa Latin configere yang berarti saling memukul. Namun, definisi tersebut terkesan sangat sederhana bukan? Padahal konflik tersebut belum tentu hanya berkaitan dengan sisi fisik saja. Secara sosiologis, konflik dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih atau dapat juga kelompok yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik Sosiologi Menurut Para Ahli :

1.      Soerjono Soekanto
Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

2.       Lewis A Coser
Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

3.      Gillin dan Gillin
Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaanperbedaan baik fisik, emosi, kebudayaan, dan perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

4.       De Moor
Dalam suatu sistem sosial dapat dikatakan terdapat konflik apabila para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran.

5.       Robert M. Z. Lawang
Konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya. Tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya (lawannya).

Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan, 1993:341). Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai 'perang dingin' antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah.

B.   SUMBERDAYA dalam PERSEPRTIF SOSIOLOGI

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

C.   CONTOH

ü  Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi),

 misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))

ü  Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng).

ü  Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

ü  Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)

ü  Konflik antar atau tidak antar agama

ü  Konflik antar politik.

ü  konflik individu dengan kelompok 

D.   DAFTAR PUSTAKA

Taufik, Abdul 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Jakarta:Publishing Co.

Sunarto, Kamanto 2002. Pengantar Sosiologi. Jakarta:Lembaga Penerbit FK UI

 

Cari Blog Ini