Senin, 12 Oktober 2015

Suryo Widodo_Fertilitas,Mortalitas,& Migrasi_Tugas ke-2

A.Fertilitas


Istilah Fertilitas dalam demografi yaitu suatu kemampuan seorang wanita untuk melahirkan suatu anak atau bisa juga di katakan lepasnya suatu bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda suatu kehidupan.[1] Dapat di artikan fertilitas itu adalah banyaknya suatu bayi yang lahir.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan atau mempengaruhi fertilitas:

1.      Berdasarkan demografi :

a.       Struktur

b.      Komposisi umur

c.       Status perkawinan

d.      Umur kawin pertama

e.       Fekunditas

f.       Proposi penduduk yang kawin

2.      Berdasrkan non Demografi:

a.       Keadaan ekonomi penduduk

b.      Tingkat pendidikan

c.       Perbaikan status wanita

d.      Urbanisasi

e.       Dan industrilisasi

Contoh kasus dan analisis:

Nah terjadi di indonesia saat ini jumlah pertumbuhan indonesia dari tahun 1971-2012 menurut Bps.go.id bahwa di indonesia jumlah fertilitas relatif normal hal ini terpengaruh oleh berbagai faktor sehingga fertilitas masih tetap stabil

B.Mortalitas


            Istilah Mortalitas dalam demografi yaitu suatu keadaan peristiwa hilangnya semua tanda kehidupan secara permanen yang terjadi setiap saat setelah kelahiran kehidupan.[2] Dapat dikatakan mortalitas adalah suatu jumlah kematian(tidak adanya tanda kehidupan) seseorang atau penduduk. Sehingga penduduk mengalami pengurangan.

            Dalam menghitung mortalitas dapat menggunakan rumus : IMR=(Db/Pb)x1.000

Keterangan :

Db = jumlah kematian bayi sebelum umur satu tahun

Pb = jumlah kelahiran hidup dalam waktu yang sama

Kriteria penggolongan tingkat kematian bayi:

Tingkat kematian bayi Golongan

> 125 Sangat Tinggi

75-125 Tinggi

35-75 Sedang

< 35 Rendah

 

            Contoh kasus dan analisis :

            Di indonesia jumlah kematian bayi masih tebilang cukup rendah menurut hasil Bps.go.id,karena pada tahun 2012 saja hanya terdapat 34 kematian bayi atau dapat di katakan jumlah kehidupan bayi jauh lebih banyak daripada kematian bayi.

C.Migrasi

            Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap disuatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik / negara ataupun batas administrative / batas bagian dalam suatu negara. Jadi migrasi sering diartikan sebagai perpindahan penduduk yang relatif permanen dari suatu daerah ke daerah lain.[3]

Menurut Everett S Lee ada 4 yang menyebabkan orang mengambil keputusan

untuk melakukan Migrasi yaitu:

a. Faktor-faktor yang terdapat didaerah asal.

b.Faktor-faktor yang terdapat ditempat tujuan.

c. Faktor-faktor yang menghambat.

d. Faktor-faktor pribadi.

           

            Contoh dan Analisis

                        Dalam Neto atau perhitungan migrasi yang terdapat dalam Bps.go.id di jawa timur terdapat neto migrasi minus hal ini terlihat dari jumlah pendatang dan keluar lebih banyak yang keluar sehingga di jawa timur sangat kekurangan orang untuk melakukan berbagai pekerjaan dan hal ini akan mempengaruhi banyak aspek yang terdapat disana


[1]Moh. Yasin, Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1981.Hlm. 7

[2] Ida Bagoes Mantra, Demografi Umum, Yogyakarta, 2000.hlm.115

[3] Moh. Yasin, Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1981.Hlm. 9

hodijah kpi 1b keluarga besar

KELUARGA BESARKU
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa oranng yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Ada keluarga besar dan ada keluarga inti. Fungsi keluarga adalah sebagai berikut ;
1) Fungsi pendidikan, bagaimana keluarga mendidik dan mnyekolahkan anak untuk kedewasaan dan masa depan anak
2) Fungsi sosiolisasi, bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3) Fungsin perlindungan, bagaimana keluarga melindungi keluarganya dari kejahatan diluar
4) Fungsi perasaan, bagaimana keluarga merasakan perasaan dan suasana satu sama lain sehingga dapat saling pengertian dan menumbuhkan keharmonisan dalam keliarga.
5) Fungsi agama, bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anggota keluarga melalui kepala keliarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan lain setelah dunia.
Baiklah, dalam tugas ini, saya akan memperkenalkan keluarga inti dan keluarga besar saya. Apa itu keluarga inti dan keliarga besar ? maknanya dapat saya aplikasikan dalam contoh berikut.
Hai, nama saya Hodijah. Saya berasal dari Jakarta. Saya memiliki keluarga inti  yang terdiri dari 7 anggota keluarga inti . Yaitu ayah, ibu, kakak, saya, dan ketiga adik saya. Baiklah, saya akan menceritakan keluarga saya satupersatu. Dan keluarga besar dari ayah saya terdiri dari 9 anggota keluarga (termasuk ayah ibu) dan keluarga besar dari ibu  yang terdiri dari 7 anggota keluarga. Untuk pemula, saya akan membahas terlebih dahulu keluarga inti saya.  
Ayah saya bernama H. Zainuddin, sekarang beliau berprofesi sebagai pengusaha bahan-bahan bangunan. Ayah saya asli berasal dari suku Betawi. Ibu saya bernama Imas Masitoh, dan beliau berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Ibu saya asli berasal dari Sukabumi tentunya dengan suku sunda. Kakak saya bernama Muhammad Amin. Sekarang ia adalah seorang mahasiswa di IAIN Serang Banten semester 3. Adik saya yang pertama bernama Fadli Robby yang sedang duduk di kelas X di Pondok Pesantren Daarul Rahman. Sedangkan adik saya yang kedua bernama Nisa Rahim sekarang duduk di kelas VI Sekolah Dasar Islam An-Nizomiyah. Dan adik saya yang terakhir, bernama Lathifa Rubbani yang sekarang duduk dikelas I Sekolah Dasar An-Nizomiyah.
Keluarga besar ayah saya berasal dari Jakarta, suku betawi. Almarhum kakek saya bernama H. Abdullah dan nenek saya bernama Hj. Zainab. Kakek nenek saya telah wafat pada tahun 2012 dalam kurun waktu yang hanya beberapa bulan saja. Dan ayah saya adalah anak pertama dari anggota anak-anaknya. Adik-adik ayah saya ada 6, yaitu Suryani,  Zainuri, Ida Farida, Zamzam, Fitriah dan yang terakhir Kamalia. Mayoritas profesi keluarga ayah saya adalah pengusaha/pedagang.
Berlanjut ke keluarga besar ibu saya yang berasal dari Sukabumi. Almarhum kakek saya bernama H. muchtar dan nenek saya bernama Ruqoyyah. Anak pertama mereka adalah Kosasih, Aang, Uwen, Imas M. (ibu saya) dan Zainuddin. Mayoritas pfofesi keluarga ibu saya adalah seorang pegawai.
Setiap keluarga memiliki adat ataupun budaya yang berbeda-beda. Biasanya salah satu faktornya adalah banyaknya suku yang ada di Indonesia. Akan saya mabil contoh dari keluarga saya. Ketika saya berada di lingkungan keluarga ayah saya, maka akan terasa berbeda sekali ketika saya berada di lingkungan keluarga saya. Keluarga ayah saya yang latar belakangnya betawi, memiliki banyak adat. Contoh seperti ketika datangnya lebaran Idul Fitri, keluarga saya mendatangi saudara-saudara keluarga besar dari pihak kakek dan nenek saya dengan membawa bawaan seperti makanan, biscuit, ketupat dan semacamnya. Atau misalnya dari segi makanan, betawi dengan sayur asamnya terasa asam, melainkan di suku sunda terasa manis. Adat makan bersama di keluarga saya, yang laki-laki makan terlebih didahulukan termasuk yang anak-anak, dan waktu makan perempuan setelah laki-laki selesai mengambil menu makan yang dihidangkan diatas meja makan. Nah jika saya berada di tengah lingkungan ibu saya yang menetap di Sukabumi maka saya akan merasakan budaya-budaya yang berbeda. Contoh dari segi makan besar keluarga, ketika di Jakarta adatnya seperti yang saya ceritakan tadi diatas, maka di Sukabumi seperti halnya "sama rata". Kami anak, cucu, nenek, om, uwa, bibi, mama, ayah, itu makan bersama disatu tempat. Tidak ada yang didahulukan. Saya merasa mungkin ini disebabkan oleh factor lingkungan. Masyarakat yang berada di pedesaan lebih ramah dan bersahabat satu sama lain, kompak bergotong royong, suka menolong dan sifat kekeluargaan yang kuat. Jika di Jakarta, saya merasa ada "perbedaan". Ada hal-hal yang membatasi antar tingkat.
Kelurga inti saya memiliki peraturan-peraturan yang harus kami tepati. Seperti untuk anak perempuan, yang sudsh baligh maka diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat sebagaimana agama islam mengaturnya, tidak boleh bermain hingga larut malam, dahulukan belajar dan meraih kesuksesan dibanding bermain-main yang terlalu sering, wajib belajar malam baru diperbolehkan menonton tivi dan masih banyak lagi.

NURWULAN DWI APRILIANI (1115O510000083)_JRN 1B_STUDI LAPANGAN(KELUARGA BESARKU)_TUGAS4

NURWULAN DWI APRILIANI ( 11150510000083 )

JURNALISTIK IB

-KELUARGA BESARKU-

1. Asal Usul

Keluarga besar  adalah unit sosial yang terdiri dari keluarga inti dan saudara sedarah, seringkali mencakup tiga generasi atau lebih. Kerabat jauh juga bisa dimasukkan dalam anggota keluarga besar.Sistem keluarga besar sering, tetapi tidak secara khusus, terjadi di daerah yang kondisi ekonominya membuat sulit bagi keluarga inti untuk mencapai swasembada.  Pada daerah tersebut kerjasama diperlukan, baik dari kerabat patrilineal atau kerabat matrilineal. Keluarga besar dapat hidup bersama karena berbagai alasan, seperti untuk membantu membesarkan anak-anak, merawat saudara yang sakit dan membantu masalah keuangan. Terkadang anak-anak dibesarkan oleh kakek dan nenek mereka ketika orang tua biologis mereka telah meninggal atau tidak lagi dapat mengurus mereka. Banyak kakek dan nenek mengambil tanggung jawab utama untuk merawat anak, terutama ketika kedua orang tua bekerja

Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana dan alhamdulillah cukup, ayah saya bernama Milin.S.e beliau adalah seorang PNS yang bekerja di instansi pemerintah yaitu di P.U. ibu saya bernama Casmi beliau seorang ibu rumah tangga biasa. Saya anak ke dua dari dua bersaudara, saya mempunyai kaka laki-laki, saya terpaut enam tahun umurnya dengan dia, dia sekarang sudah menikah dan mempunyai seorang anak, dia juga bekerja ditempat dimana ayah saya bekerja. Dan saya juga mempunyai seorang adik laki-laki, sama seperti saya dan kaka saya, umur saya dan adik saya terpaut enam tahun jaraknya. Keluarga saya terdiri dari dua budaya yang berbeda, ayah saya asli lahir dan tinggal di Ciputat dan lekat akan budaya betawinya, sedangkan ibu saya lahir di Jawa, tepatnya di Pekalongan, namun ibu saya besar di Sunda, jadi hanya dalam lingkup keluarga saya, kami menganut tiga hukum kebudayaan, betawi, jawa dan sunda. Sekarang kami sekeluarga tinggal di Ciputat, kami tinggal dengan keluarga besar ayah saya dalam kebudayaan Betawi, keluraga itu harus tinggal berkelompok, dan disinilah saya, tinggal berkelompok dengan seluruh keluarga dari ayah saya, 60 % keluarga dlingkungan saya, merupakan keluarga saya, walau keluarga jauh, namun kami masih ada hubungan darah dari kakek atau nenek kami. Keluarga ibu saya terpencar di hanya dua daerah yaitu di Sukabumi dan di Pekalongan.

Ayah saya anak ke empat dari enam bersaudara dan menjadi laki-laki satunya, karena saudara yang satu lagi meninggal saat kecil, disini kami tinggal satu ruang lingkup dengan saudara-saudara kandung dari ayah saya. Ibu saya anak terakhir dari tujuh bersaudara, empat yang lainnya telah meninggal dunia. Keluarga kami lebih lekat menggunakan budaya betawi saat kesehariannya, walaupun terkadang terselip budaya jawa dan sunda dari ibu saya.

 

2. Jaringan Sosial

Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk yang formal maupun bentuk informal. Hubungan sosial adalah gambaran atau cerminan dari kerjasama dan koordinasi antar warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal (Damsar, 2002:157). Melalui jaringan sosial, individu-individu ikut serta dalam tindakan yang respositas (hubungan timbal-balik) dan melalui hubungan ini pula diperoleh keuntungan yang saling memberikan apa yang dibutuhkan satu sama lain.

Keluarga besar dari ayah saya tidak semua pekerja kantoran, karena semua rata-rata perempuan mereka sekarang seorang ibu rumah tangga, namun anak-anak mereka atau saudara-saudara bekerja diperkantoran.

Keluarga besar dari ibu saya, mereka memiliki jiwa berdagang yang kuat, mereka rata-rata berdagang atau membuka usaha sendiri. Kaka ibu saya yang berada di Sukabumi,beliau membuka usaha dengan berdagang. Dulu ibu saya juga sempat membuka usaha dengan berdagang dalam waktu yang cukup lama, namun akhirnya warungnya ditutup karena ibu saya ingin istirahat.

 

3. Nilai – Nilai dan Sistem Sosial Budaya yang Dipergunakan di dalam Keluarga

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi. Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu : Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas) Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

Nilai sosial budaya yang diterapkan dalam kebudayaan ayah saya yaitu kebudayan betawi, yaitu mengharuskan untuk tinggal dalam satu lingkup keluarga, walaupun sudah menikah nantinya. Mereka beranggapan bahwa hidup dalam satu keluarga besar sangatlah penting karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan harus hidup berkelompok dan saling tolong menolong antar sesama atau antar keluarga, kebudayaan ayah saya membiasakan untuk hidup loyal, apalagi saat ada acara hajatan, mereka akan sangat loyal kepada keluarga besan ataupun tamu yang diundang.

Sedangkan kebudayaan dari ibu saya yatu sunda dan jawa, dari kebudayaan jawa mengharuskan saya untuk bekerja keras dan tidak mengenal kata menyerah sebelum berhasil, dari kebudayaan sunda saya belajar tentang menerima segala yang sudah dipunya walaupun itu hidup susah sekalipun. Saya lahir dan besar dengan tiga kebudayaan yang kental akan pelajaran hidup. Dan saya bangga akan hal itu.

 

 

PAWIT FUJI LESTARI-JURNALISTIK 1A/KELUARGA BESARKU

STUDY LAPANGAN

TEMA : KELUARGA BESARKU

 

1.      Asal Usul

Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "Kulawarga:. Kata Kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Dalam pengertian sosiologis, secara umum keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi, merupakan susunan rumah tangga sendiri, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putrinya, saudara laki-laki dan perempuan serta merupakan pemeliharaan kebudayaan bersama. Jadi keluarga merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh hubungan darah dan masing-masimg anggotanya mempunyai peranan yang berlainan sesuai dengan fungsinya.

Di dalam lingkungan keluarga saya terdapat asal usul yang berbeda antara ayah dan ibu yang menghasilkan satu kebudayaan yang telah tercampur yaitu kebudayaan yang dimiliki anaknya. Saya akan menjelaskan asal-usul keluarga besar saya. Perkenalkan nama saya Pawit Fuji Lestari anak pertama dari tiga bersaudara dari perkawinan pencampuran dua budaya berbeda yang dimiliki oleh ayah dan ibu saya. Ayah dan Ibu saya merupakan seorang guru PNS, ayah saya bekerja sebagai guru Akidah Akhlak di madrasah ibtidaiyah, ayah say juga merupakan Ketua DMI (Dewan Masjid Indonesia) di Ciputat Timur dan menjadi pengurus DMI di Tangerang Selatan, sedangkan Ibu saya bekerja sebagai kepala sekolah dan guru Fiqih di madrasah tsanawiyah.

Ayah saya bernama Makhmud MS, ayah saya merupakan keturunan suku jawa asli dari daerah Tegal, Jawa Tengah. Didalam keluarga besar dari pihak ayah, ayah saya merupakan anak ke 4 dari 8 bersaudara yang menjadi anak lelaki tertua diantara 8 saudaranya. Kakek saya bernama Alm. Mukhlas dan Nenek saya bernama Sarimah. Ayah saya memiliki tekad kuat untuk selalu berkerja keras demi mencapai cita-citanya terbukti jelas bahwa hanya ayah saya yang bisa mendapatkan gelar sarjana di lingkungan keluarganya. Karena bapak dan ibu dari ayah saya hanya seorang buruh tani yang hanya cukup menghidupi kehidupan sehari-hari untuk anak-anaknya. Awalnya ayah saya tidak diizinkan untuk menuntut ilmu kejenjang SMP karena keterbatasan biaya, tetapi ayah saya sangat bersemangat dalam menuntut ilmu akhirnya ayah saya merantau di daerah Magelang untuk meneruskan menunut ilmu di pondok pesantren selama 6 tahun. Setelah 6 tahun menuntut ilmu ayah saya diajak oleh saudara sepupunya (paman saya) yang telah sukses tinggal di Jakarta dan memiliki jabatan tinggi sebagai Wakil ketua BPK (sekarang). Selama di Jakarta ayah saya tidak ingin merepotkan paman saya, akhirnya ayah saya tinggal di masjid untuk sekedar menjadi tempat istirahat dikala malam dan bekerja sampingan menjadi marbot masjid. Setelah setahun menikah ayah saya baru menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang sarjana agama.

Sedangkan keluarga besar dari Ibu saya sangatlah berbanding terbalik dengan keluarga ayah saya. Ibu saya bernama Saenih, anak ke empat dari 6 bersaudara yang juga memiliki gelar sarjana agama seperti ayah saya dan juga merupakan anak pertama yang dapat lulus menjadi sarjana. Bapak dari ibu saya bernama Alm. H. Mursan yang merupakan kakek saya merupakan seorang keturunan Betawi-Cina dan istrinya bernama Hj. Kana juga merupakan seorang keturunan betawi. Kakek saya memiliki tanah sangat luas peninggalan orang tuanya karena kakek saya hanya dua bersaudara dan merupakan anak lelaki satu-satunya dan adik perempuannya pun telah meninggal. Kakek saya merupakan seorang tokoh masyarakat yang sangat terkenal di daerahnya (sekarang menjadi daerah Kp.utan dan Ciputat). Kakek saya orang yang sangat rajin dalam beribadah beliau tidak pernah sekalipun meninggalkan sholat lima waktu dimasjid dekat rumahnya.

 

2.      Jaringan Sosial

Jaringan sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana "ikatan" yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial. Berpijak pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person).

Jaringan sosial dalam keluarga besar saya terbagi menjadi dua, dari pihak ayah kebanyakan bekerja sebagai pedagang, petani dan wiraswasta, akan tetapi ada pula yang bekerja sebagai PNS, Guru dan Pejabat. Sedangkan dari keluarga Ibu saya kebanyakan bekerja sebagai Guru PNS yang bekerja di beberapa sekolah (madrasah), menjadi Pejabat di Kementrian Agama, menjadi Pejabat di Kelurahan Bogor, serta ada yang bekerja menjadi pengusaha. Akan tetapi dari semua jaringan tersebut Nenek dan Kakek saya dari pihak ayah maupun ibu bukanlah seorang yang memiliki gelar yang sama seperti anak-anaknya. Beliau tidak bersekolah, tidak pandai dalam berilmu umum namun memiliki semangat dan doa yang sangat kuat untuk kesuksesan anak-anaknya. Beliau hanya memberikan tanah yang dimilikinya untuk dijadikan kontrakan dan tempat tinggal kepada anak-anaknya untuk dapat memenuhi kehidupan keluarga dari anak-anaknya tersebut. Keluarga dari ayah ataupun ibu sangatlah senang membantu dalam hal pekerjaan, mencarikan pekerjaan yang pas untuk sanak saudaranya atau memberikan bantuan ketika dalam kesulitan.

 

3.      Nilai-nilai dan sistem sosial budaya yang dipergunakan di dalam keluarga

Nilai dan sistem sosial budaya yang diterapkan oleh keluarga besar saya yang paling utama adalah nilai agama bercampurkan nilai kebudayaan yang diterapkan dalam keluarga. Karena keluarga besar saya terdapat dua kebudayaan yang berbeda dimana keluarga besar ayah saya orang jawa yang kebayakan merantau di Ibu Kota sehingga sering kami mengadakan silarahmi dan mengadakan acara arisan setiap bulannya serta mengadakan kegiatan silaturahmi di kampung setiap tahunnya. Sedangkan dari keluarga besar ibu saya adalah orang betawi yang kebudayaannya wajib mendatangi rumah-rumah sanak saudara pada setiap lebaran idul fitri, menyajikan sayur ketupat dan sayur besan (sayur khas Betawi) untuk warga sekitar yang datang kerumah, keluarga besar dari ibu saya juga memiliki kegiatan bersama pada saat liburan dengan berwisata atau berjalan-jalan ke daerah puncak ataupun banten untuk memperat hubungan kekeluargaan.

Akan tetapi orangtua saya menetapkan nilai-nilai atau aturan tersendiri terhadap anggota keluarga di rumah seperti tidak dibolehkannya menonton tv ketika waktu maghrib sampai waktu isya, setiap malam jum'at wajib membaca yasin untuk mendoakan almarhum kedua kakek saya dan saudara-saudara yang telah meninggal, diharuskan belajar setiap malam, tidak boleh pulang malam diatas jam 8 malam, wajib memberitahu jika ada kepentingan atau urusan diluar, setiap ba'da maghrib diharuskan untuk mengaji minimal dua-tiga lembar, diharuskan menghafal ayat al-quran kemudian disetorkan kepada ayah dan ibu saya dan juga memiliki kegiatan yang hampir rutin dilakukan setiap sebulan sekali yaitu pergi ke toko buku bersama dan mencari buku untuk dibaca dan dikumpulkan sebagai  koleksi dirumah karena keluarga saya berkeinginan untuk membuat perpustakaan kecil dirumah yang bisa dimanfaatkan untuk lingkungan sekitar karena kami sekeluarga gemar sekali membaca buku.

 

Demikan telah saya paparkan study lapangan tentang keluarga besar saya. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Tujuan utama dari penelitian adalah untuk mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk menjawab pertanyaan penelitian (Hyllegard, mood, and Morrow, 1996), tentang keluarga besar saya. Penelitian terssebut juga didapatkan dari sumber informasi yang akurat dari keluarga besar.

 

Ifna Maulida _ Keluarga Besarku _ Tugas 5

Nama  : Ifna Maulida

Nim     : 11150510000144

Jurnalistik 1A

Pengantar Sosiologi

 

KELUARGA BESARKU

 

1.     ASAL USUL

 

Definisi Keluarga menurut Reisner (1980), adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek dan nenek. Sedangkan menurut Bailon dan Maglaya Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Semua manusia di muka bumi ini pastinya memiliki keluarganya masing – masing, baik keluarga besar maupun keluarga kecil. Dan keluarga juga bisa dibilang sebagai identitas kita.

Berbicara mengenai keluarga, saya akan bercerita atau membahas sedikit tentang asal – usul keluarga saya. Nama saya Ifna Maulida, saya anak pertama dari dua bersaudara dan saya memiliki satu orang adik laki – laki bernama Raihan Hilmi. Kedua orang tua saya berasal dari Jawa Barat, ibu saya bernama Nurjanah, ibu saya berasal dari Majalengka beliau anak pertama dari enam bersaudara. Dan kakek - nenek dari ibu saya berasal dari Majalengka. Orang tua dari ibu saya sudah meninggal dunia, kakek dari ibu saya meninggal ketika ibu saya belum menikah dan ma'aji ( nama panggilan nenek dari ibu) meninggal pas saya berumur 2 tahun kurang. Dan saya cucu kedua dari keluarga ibu saya.

Dan ayah saya bernama Mohamad Jawahir, ayah berasal dari Indramayu, ayah saya anak pertama dari tujuh bersaudara. Kakek dan nenek dari ayah saya berasal dari Indramayu. Saya dan adik-adik saya (atau cucu / saudara) biasa memanggil kakek itu dengan sebutan mamade / mamaaji kalau nenek biasa dipanggil umi atau umi aji. Kakek dari ayah saya sudah meninggal ketika saya masih duduk dibangku SD kelas enam, dan saya cucu pertama dari keluarga ayah saya.

 

 

2.     JARINGAN SOSIAL

 

Jaringan sosial menurut profesor J.A.Barnes (1954) yaitu struktur sosial yang terdiri dari elemen – elemen individual atau organisasi. Jaringan ini menunjukkan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari – hari sampai dengan keluarga. Atau juga Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk yang formal maupun bentuk informal. Hubungan sosial adalah gambaran atau cerminan dari kerjasama dan koordinasi antar warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal (Damsar, 2002:157).

Keluarga besar saya rata – rata berprofesi sebagai guru PNS, ayah saya sendiri bekerja sebagai guru kaligrafi dan bahasa arab di MtsN 3 Jakarta dan tidak jauh berbeda dengan adik – adik ayah saya yang berprofesi sebagai guru. Sedangkan ibu saya sekarang mengajar disalah satu smp negeri yaitu di SMP N 66 Jakarta.

Jaringan sosial lain yang dilakukan keluarga besar saya yaitu dalam bidang usaha atau mungkin bisa dibilang berbinis, yang mungkin dimulai dari nenek dan kakek yang menurun keanak maupun cucunya. Mulai ada yang buka ruko untuk menjual alat – alat elektronik ada juga yang berjualan makanan, baju dan lain – lain. Ayah saya sendiri juga berbisnis cat lukis.

Dan mungkin dari usaha kecil – kecil ini yang bisa membuat tali silaturahmi keluarga saya menjadi erat, karena dalam usaha ini juga kita bisa saling membantu atau menolong satu sama lain.

 

3.     NILAI – NILAI DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA YANG DIPERGUNAKAN DIDALAM KELUARGA

 

Nilai – nilai sosial atau budaya didalam keluarga saya tidak terlalu kental atau sangat berbau adat. Tapi dalam keluarga besar saya lebih memakai atau mungkin mendalami nilai – nilai keislamannya, karena keluarga besar saya semuanya Beragama islam dan bukan hanya islam ktp saja. Bahkan dalam keluarga ayah saya anak – anaknya harus bersekolah di pesantren, jika ada yang tidak mau masuk pesantren seengganya kita bersekolah di sekolah yang Islami entah itu sewaktu sd, smp, atau SMAnya.

Dan dalam keluarga besar ayah ataupun ibu, yang memiliki anak perempuan harus menggunakan jilbab ketika sudah baligh, tidak diperbolehkan menggunakan baju atau celana yang ketat dan juga kita bisa membaca kitab suci Al – qur'an. Tapi dalam keluarga ibu saya bila ada yang menikah dalam pernikahannya harus ada unsur sundanya, entah itu dari baju atau adat istiadat penikahannya. 

Dalam keluarga saya sendiri jika sudah memasuki shalat magrib kita harus sudah ada di rumah dan tidak ada yang boleh menonton televisi maupun jika ada yang tidak shalat ( bagi perempuan ), dan saya maupun adik saya tidak boleh pulang terlalu malam, bahkan kita tidak diperbolehkan keluar malam kecuali ada hal yang mendesak atau acara yang penting dan dalam seizin ayah dan ibu. Dan kita sudah terbiasa dengan peraturan itu, karena itu juga demi kebaikan kita.

 

 

Sulistyowati _Jurnalistik 1A_Keluarga Besarku_tugas4

Nama               : Sulistyowati

Jurusan            : Jurnalistik 1A

Mata Kuliah    :Sosiologi

 

Keluarga Besarku

A.Asal Usul

            Sebelum saya membahas tetang keluarga besar saya, saya akan mendefinisikan arti kata keluarga itu sendiri. "Apa keluarga itu?"

Kata  keluarga  berasal dari bahasa Sanskerta yaitu "kulawarga";"ras" dan "warga" yang berartikan "anggota". Tetapi menurut istilah keluarga adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.

Kelurga juga adalah kelompok social terdiri dari sejumlah individu,yang memiliki hubungan antar individu,terdapat ikatan,kewajiban,tanggung jawab diantara individu tersebut.

 

            Mengenai pembahasan tentang keluarga,setiap manusia pun pasti mempunyai kelurga,mempunyai garis keturunannya masing-masing.Kali ini saya akan mengajak anda untuk mengenal keluarga saya. Saya lahir dari keturunan suku Jawa, saya asli jawa. Dari nama Jawa nya saja anda pasti mengetahui dari mana asal "Bapak" dan "Emak" saya.

Bapak dan emak saya berasal dari jawa ,begitu pula garis keturunan saya yang saya samapai saat ini telah ketahui ,semuanya berasal dari Pulau Jawa. Dikeluarga saya, kata "bapak" dan "emak" sebagai kata panggilan untuk ayah dan ibu.Mungkin memang adatnya yang sudah begitu sejak dahulu.Saya anak pertama dari tiga bersaudara . Kali ini saya akan membahas tentang keluarga besar dari bapak saya.Bapak saya berasal dari Solo,bapak saya anak kelima dari delapan bersaudara.Dahulu kala mbah buyut saya adalah kepala desa,orang terpandang didesa. Dan nenekpun menikah dengan kakek .Menurut cerita yang saya simak dari bapak,dulu rumah yang kakek saya huni tempat dimana singgah para prajurit jepang beristirahat. Kini nenek saya telah wafat,dan kakek diumurnya yang ke 75,beliau masih kokoh berdiri ,berjuang demi anak dan cucunya,mengharumkan nama kelurga besar,dan sering saya melihat beliau masih semangat untuk membantu anak-anaknya mengurus perkebunan mereka.

           

            Kini saya mulai menjelaskan tentang asal usul keluarga dari emak saya.Emak berasal dari Banjarnegara begitupula tempat kelahiran saya.Emak anak ketiga dari lima bersaudara.Nenenk saya "Mbah Putri" hingga kini masih sehat dan menjalani rutinitas seperti biasanya,sedangkan kakek saya "Mbah Kakung" telah wafat sejak saya menginjak kelas satu SMP.Keluarga besar dari emak ,empat diantaranya memilih untung tinggal berdekatan dengan rumah nenek saya.Hanya emak yang merantau.

B.Jaringan Sosial

            Jaringan menurut saya adalah suatu keterkaitan atau hubungan antara seseorang dengan yang lainnya,contohnya dalam segi ekonomi.

Dalam bidang ekonomi,dari keluarga bapak saya yaitu bekerja dalam satu bidang yang mengenai tentang minyak bumi,tetapi berbeda-beda tempatnya.Ada pula yang membantu mengurusi persawahan diJawa milik bapak dan adik-adik bapak yang merantau .

Dalam bidang ekonomi dari keluarga emak saya yaitu berdagang .Mulai dari bahan sembako dan lain-lain, semua adik dan kakak emak bekerja sebagai berwira swasta sebagai pedagang.

 

C.Nilai-Nilai dan Sistem Sosial Budaya Yang Dipergunakan Dalam Keluarga.

Sistem adalah menggabungkan, untuk mendirikan, untuk menempatkan bersama.

Sosial menurut Lena Dominelli adalah bagian yang tidak utuh dari sebuah hubungan manusia sehingga membutuhkan pemakluman atas hal-hal yang bersifat rapuh didalamnya.

Edward B. Tylor berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya termuat  kepercayaan, pengetahuan, kesenian, moral, adat istiadat, hukum, dan kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh seseorang sebagai bagian dari masyarakat

Sistem budaya merupakan ide dan gagasan manusia yang hidup bermasyarakat.

Dalam hal ini saya akan menjelaskan budaya apa saja yang ada di keluarga besar saya,baik dari bapak ataupun emak. Budaya yang melekat pada keluarga besar bapak saya yaitu saya sering alami ketika ziarah ke makam nenek saya berserta buyut-buyut saya yaitu berziarah dimalam hari tepatnya ketika sehabis azan maghrib. Setiap tahun ,setiap berziarah pasti waktu nya sehabis azan maghrib.Menurut bapak saya,memang itu sudah adat turun menurun.

Berbeda dengan adat dari emak saya ,yaitu memasang seperti pagi,daun jagung bahkan janur kuning yang sudah dibentuk seperti ketupat di loteng rumah.Menurut nenek saya itu sudah menjadi adat,dan guna untuk kemakmuran bersama serta kesuburan sawah .

 

 

 

  • Telah selesai hasil penelitian dan tertulis sebagai "Keluarga Besarku"

  • Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatf

  • Penelitian ini didapatkan dari informasi dari keluarga serta wawancara penulis dengan keluarga besar.

Lisa Gustina-11150510000164-Jurnal 1B-Keluarga Besarku –Tugas4

Nama : Lisa Gustina
NIM : 11150510000164
Kelas : Jurnalistik 1/B
 
"KELUARGA BESARKU"
A.    Asal usul
 
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).Berbicara tentang keluarga tentunya kita semua memiliki sebuah keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar.
 
Keluarga berfungsi sebagai pembentuk karakter, sebab keluarga merupakan lingkungan pertama yang mendidik perilaku serta mengawasi tumbuh kembang anak. Selain itu, keluarga juga berfungsi untuk meneruskan keturunan, memberikan identitas kepada seseorang, memberikan kasih sayang, memberikan perlindungan dan rasa aman,serta meneruskan nilai-nilai budaya secara turun-temurun. Keluarga juga berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan pertama apabila ada anggota keluarganya yang sakit. Keluarga juga merupakan tempat meminta nasihat dan sebagai fasilitator dalam membantu menghadapi kendala apapun yang dialami oleh anggota keluarganya.
 
Saya berasal dari keluarga sederhana yang ibu saya bernama Syamsidar dan bapak saya bernama Ilvamaizon. Saya dua orang bersaudara dan saya anak pertama. Saya mempunyai adik perempuan bernama Lola Rahmawati. Kedua orang tua saya berasal dari adat minang yaitu ibu dari Pariaman,Padang sago dan bapak dari Solok. Di keluarga yang sangat sederhana yang berkeadatan minang banyak sekali macam-macam. Saya memakai marga dari ibu saya yaitu marga "koto" kalau marga bapak saya adalah "chaniago". Karena di adat Pariaman itu adalah perempuan yang mendapatkan warisan dalam kata lain wanita yang diutamakan.
Ibu saya bereenam bersaudara dan dia anak terakhir dan bapak saya anak pertama. Kedua orang tua saya berdagang.
 
B.     Jaringan Sosial
 
            Jaringan Sosial adalah hunbungan koneksi dalam individu yang mempunyai timbal balik. Jaringan sosial dalam keluarga saya mempunyai usaha yang turun temurun semua keluarga saya bekerja dan berusaha sendiri untuk hidup. Keluarga besar ayah saya dominan bertani di kampung. Usaha turun temurun dari keluarga ibu saya yaitu berdagang nasi jadi hampir setiap keluarga dari ibu saya berdagang nasi sebagai utama.
 
C.       Nilai – Nilai dan Sistem Sosial Budaya yang Dipergunakan di dalam Keluarga
Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan, simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.
Adapun nilai-nilai dan sosial budaya yang di gunakan di keluarga saya adalah, menurut penuturan ibu beliau membatasi saya untuk menikah dengan suku dan golongan karena ada alesan tertentu. Dan juga ibu mengharuskan agar saya menikah dengan lelaki yang seagama, bukan hanya sekedar islam KTP, berakhlak baik, dan Rajin bekerja.
Seperti hal misalnya di dalam keluarga saya ada sebuah larangan untuk tidak makan dengan gesekan gigi yang keras sehingga menghasilkan suara kunyahan yang seringkali disebut dengan kecapan kuda.Kemudian tidak diperbolehkan makan dengan suaru dentingan antara sendok dan piring.Larangan itu berlaku karena tidak memenuhi etika makan yang sopan begitu.
Dan dalam idul fitri atau idul adha selesai solat ied saudara dari ibu saya pada berkumpul di rumah bibi saya, sebagai salah satu syarat atau kebiasaan. Dan bila ada acara arisan untuk menambah jalin silahturahmi walaupun sauadara pada jauh-jauh tapi pada meluangkan waktu.

Fauzia Nurul Khotimah_fertilitas, mortalitas dan migrasi_Tugas 3

Fertilitas adalah suatu komponen sambuhan penduduk lah satu kompnen pertumbuhan penduduk yang bersifat menmbah jumlah penduduk. Fertilitas adalah kemampuan mempnyai keturunan yang banyak yang dikaitkan dengan kesuburan wanit atau disebut juga fekunditas.

Akan tetapi dalam perkembangan ilmu demgrafi, fertilitas lebih dartikan sebagai hasil yang reproduksi yang nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita.selain fertilitas, dikenal pula istilah lain yang berkaitan dengan reproduksi, yakni natalitas dan kelahiran (birth).

  

Mortalitas diartikan sebagai kematian yang terjadi pada anggota penduduk. Berbeda halnya dengan penyakit dan kesakitan, yang dapat menimpa manusia lebih dari satu kali, mortalitas hanya dialami sekali dalam seumur hidup seseorang. Menurut konsepnya, terdapat tiga keadaan vital, yang masing-masing saling bersifat mutually exclusive. Artinya, keadaan yang satu tidak mungkin terjadi bersaman dengan salah satu keadaan lainnya.

                                     

Migrasi merupakan salah satu faktor dari tiga faktor dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, selain kelahiran dan kematian. Migrasi meningkatkan jumlah penduduk apabila apabila jumlah penduduk yang masuk ke suatu daerah lebih banyak daripada jumlah penduduk yang meninggalkan daerah tersebut. Migrasi juga bisa dikatakan perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ketempat lain melampaui batas politik atau negara ataupun batas administratif atau batas bagian dalam suatu negara.

contoh kasus

 

MORTALITAS

Indonesia mempunyai angka kelahiran dan angka kematian lumayan tinggi. Pada tahun 2010 CIA World Facebook menggolongkan Indonesia mempunyai urutan kematian ke 73 di dunia yang masuk pada negara-negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi akibat dari masih tingginya tinggkat kelahiran dan walaupun di Indonesia sudah mulai menurunnya tingkat kematian.

 

Harapan Hidup Manusia Di Indonesia adalah 71.5 tahun, pengeluaran untuk kesehatan di Indonesia adalah 1,2% dari GDP Indonesia, sangat kecil, sehingga penanggulangan dan pencegahan penyakit di Indonesia sangat rendah hal ini dibuktikan dengan tingkat keselamatan ibu dari 100.000 kelahiran adalah 420 ibu meninggal saat melahirkan, Bandingkan dengan peringkat 1 yaitu Norwegia, yang harapan hidupnya mencapai 81 tahun lebih lama 10 tahun dari Indonesia, hal ini karena pemerintah Norwegia sangat mementingkan kesehatan warganya terbukti pengeluaran pemerintah untuk kesehatan adalah 7,5 % dari GDPnya,dengan tingkat keselamatan ibu pada saat melahirkan per 100.000 kelahiran adalaha 7 orang

 

FERTILITAS

Fertilitas (kelahiran) sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan misalnya bernafas, berteriak, jantung berdenyut dan sebagainya.

Indonesia saat ini memiliki angka fertilitas yang tergolong tinggi, yakni mencapai 4,5 juta bayi per tahun. Kondisi seperti ini dianggap tidak menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa kualitas penduduk masih rendah sehingga diposisikan sebagai beban pembangunan daripada modal pembangunan.

Dalam perspektif yang lebih luas, persoalan fertilitas tidak hanya berhubungan dengan jumlah anak sebab aspek yang terkait di dalamnya sangat kompleks dan variatif misalnya menyangkut isu kesehatan reproduksi. Isu kesehatan reproduksi menyangkut banyak hal seperti kehamilan tak dikehendaki, aborsi, jumlah anak, proses melahirkan yang sehat dan kesehatan ibu dan bayi.

Pada umumnya kasus kehamilan yang tidak dikehendaki terjadi pada ibu yang berstatus sosial ekonomi rendah. Ini akan menimbulkan masalah tersendiri yang cukup rumit seperti proses kehamilan, proses persalinan ibu, ketercukupan gizi ibu dan anak dan lain sebagainya. Sementara itu, kasus kehamilan yang tidak dikehendaki tidak hanya terbatas terjadi pada perempuan dengan status menikah, tetapi juga perempuan yang tidak menikah. Untuk kasus terakhir ini besar kemungkinan menghasilkan kasus aborsi. Hal ini akan menambah persoalan aborsi yang pada dasarnya sudah sangat serius di Indonesia.

 

Migrasi

Kota-kota besar di Indonesia - seperti Jakarta - akan menghadapi persoalan bertambahnya penduduk akibat migrasi dari desa ke kota. Migrasi tersebut sebagai akibat ajakan dari mereka yang selama ini sudah bekerja di kota kepada mereka yang berada di desa. Ajakan tersebut berhasil karena dua faktor yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. 
Faktor penarik berupa daya tarik ekonomi dari kota seperti: memberikan pendapatan lebih besar daripada di desa.

Bertambahnya penduduk kota setelah lebaran akibat "migrasi ajakan" ini tentu akan makin menambah besar dan padatnya penduduk kota. Padahal selama ini pun di samping migrasi yang bersifat tetap, kota-kota besar sudah menghadapi masalah berupa migrasi sirkuler atau penglaju. Sebagai contoh Jakarta, penduduk malamnya (atau penduduk tetapnya) berjumlah 9,5 juta jiwa. Tetapi penduduk siang (ditambah dengan para penglaju) bisa mencapai 12 juta jiwa. Para penglaju ke Jakarta tersebut berasal dari wilayah sekitarnya yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi..

 

Cari Blog Ini