Senin, 30 November 2015

Tugas Observasi Muhammad Aulia Ilsya KPI 1 A (11150510000019) / Hardi Yuantoro Jurnalistik 1 B (11150510000185)

 

 Nama  : Muhammad Aulia Ilsya (KPI 1 A) – 11150510000019

              Hardi Yuantoro ( Jurnalistik 1 B) -  11150510000185

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

     Agama menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada tuhan yang mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

     Sebelum kita memahami Lembaga Keagamaan terlebih dahulu kita harus mengetahui Penjelasan adanya tentang agama. Agama merupakan suatu kepercayaan tertentu yang dianut sebagian besar masyarakat yang merupakan tuntunan hidup. Agama, yang menyangkut kepercayaan-kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan pada saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat manusia. Karena itu lahir pertanyaan tentang bagaimana seharusnya dari sudut pandang sosiologis. Dalam pandangan sosiologi, perhatian utama terhadap agama adalah pada fungsinya terhadap masyarakat. Istilah fungsi seperti kita ketahui, menunjuk kepada sumbangan yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk mempertahankan (keutuhan) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus.

1.2  Rumusan Masalah

     Rumusan masalah yang dibahas yaitu mengetahui tentang pengertian lembaga agama, pandangan sosiologi masyarakat Agama Hindu dalam keminoritasan di Indonesia khususnya di Jakarta serta pengaruh dalam kehidupan masyarakat setempat. 

1.3  Tujuan

    Tujuan dari penulisan laporan ini untuk mengetahui tentang lembaga agama dalam kaitannya dengan lembaga sosial yang ada dalam masyarakat Agama Hindu serta pandangannya dalam sosiologi dalam penerapannya.

1.4  Waktu & Lokasi

    Senin, 30 November 2015 di Pure Mertasari Rempoa

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Teoritik

Ø  Teori Sosiologi Marxian

     Gagasan perkembangan teori Marxian berasal dari Felix J.Weil. pada 3 Februari 1923 resmi berdiri Institut Riset Sosial di Frankfurt, Jerman (Jay, 1973; Wiggershaus, 1994). Setelah berdiri beberapa tahun sejumlah pemikir yang sangat terkenal dalam teori Marxian bergabung dengan aliran kritis ini di antaranya Marx Horkheimer, Theodor Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse, dan lebih belakangan, Jurgen Habermas.

    Teori Marxian sangat dipengaruhi oleh perkembangan teoritis dalam struktualisme, post-struktualisme (Anderson, 1984:33) dan post-modernisme, yang menjadi perhatian khusus kita disini. (Landry, 2000; Wood dan Foster, 1997). 

     Meski teori Marxian sebagian besar diabaikan atau diceca oleh sosiolog aliran utama Amerika, namun ada kekecualian, yang paling terkemuka di antaranya adlah C. Wright Mills (1916-1962). Mills adalah penting karena upayanya yang hamper sendirian untuk menjaga agar tradisi Marxian tetap hidup dalam teori sosiologi. Sosiolog Marxian modern jauh melebihi Mills dalam kecanggihan teoritis, tetapi mereka berutang budi kepada Mills karena aktivitas personal dan profesionalnya banyak membantu mereka untuk menyusun karya sendiri (Alt, 1985:86).

     Masalah terbesar yang dihadapi kebanyakan teori konflik adalah kekurangan apa yang justru diperlukan yakni landasan kuat dalam teori Marxian. Teori Marxian berkembang dengan baik di luar sosilogi dan seharusnya dapat dijadikan basis untuk mengembangkan teori sosiologi yang canggih tentang konflik.perkecualian di sini adalah karya Ralf Dahrendorf (lahir 1929). Dahrendorf adalah sarjana Eropa yang sangat memahami teori Marxian. Tetapi, bagian ujung teori konfliknya terlihat lebih menyerupai cerminan fungsionalisme struktual ketimbang teori Marxian tentang konflik.

     Akhir 1960-an ditandai perkembangan teori Marxian dalam teori sosiologi Amerika (Cerullo, 1994). Semakin banyak sosiolog yang beralih ke karya asli Marx, dan karya Marxis, untuk mencari pandangan yang berguna dalam perkembangan sosiologi Marxian. Sekilas ini tampak berarti bahwa teoritisi Amerika akhirnya membaca Marx secara serius, tetapi kemudian muncul tulisan – tulisan akademis Marxian signifikan oleh beberapa sosiolog Amerika.

     Bersamaan dengan meningkatnya minat ini, muncul dukungan institusional terhadap sosiologi Marxian. Beberapa jurnal mencurahkan perhatian besar terhadap teori sosiologi Marxian, termasuk Theory and Society, Telos, dan Marxist Studies. Pada 1977 The American Sociological Association membentuk seksi sosiologi Marxis. Tak hanya generasi pertama teoritisi kritis yang terkenal di Amerika, pemikir generasi kedua pun, terutama Jurgen Habermas, mendapat penghargaan luas.

     Teori Marxian rontok pada 1990-an. Teori Marxian tak lagi berhubungan dengan program yang bertujuan mengubah basis masyarakat seperti yang dimaksudkan Marx. Teori Marxian menjadi teori tanpa praktik. Suatu ketika teoritisi Mrxis tak lagi tergantung pada program Marxian, tetapi harus bergulat dengan masyarakat modern dengan "kekuatan dan energi merekan sendiri" (Aronson, 1995:4).

     Aronson adalah seorang pengkritik Marxisme yang lebih ekstrem yang berasal dari dalam kubu Marxian. Bagaimanapun juga perubahan social yang lebih luas merupakan tantangan berat terhadap teoritisi Marxian yang mati- matian mencoba menyesuaikan teorinya dengan perubahan ini menurut berbagai cara. Apa pun yang dapat dikatakan, yang jelas "masa keeamasan" teori social Marxian terlah berlalu. Teori – teori social Marxian berbagai jenis akan tetap bertahan, namun takkan mencapai status dan kekuasaan seperti yang pernah diterima para pendahulu mereka dalam sejarah sosiologi. (George Ritzer 7 Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Edisi ke-6 (Jakarta:Kencana,2010 )  hal. 85-97)

 

2.2 Hasil Observasi Lapangan

     Narasumber: Bpk. Wayan ia adalah tokoh agama Hindu atau sesepuh di pura tersebut, Pura ini terletak di Jl. Kenikir No.20 Tangerang Selatan Banten yang bernama Pura Merta Sari. Pura ini berdiri karena adanya umat Hindu tersebut kehausan umat untuk beribadah dan bersosialisasi adalah salah satu alasan mengapa pura ini didirikan ditempat ini. Berdirinya pura ini pada tahun 1980didirikan  dan 1982 diresmikan secara ritual lalu 1984 diresmikan oleh pemerintah daerah Bupati Taju Subirin tetapi pada waktu itu Taju Subirin tidak dapat hadir jadi diwakili oleh camat Ciputat, dan wali kota saat ini ibu Hj.Airin sudah berkunjung ke pura dan melihat aktivitasa dipura dan untuk melegalkan pura tersebut karena Tangerang dan Tangerang Selatan telah dipisah.

     Di Pura Merta Sari ini juga memiliki kegiatan seperti sosialisasi yang dilakukan pemuda-pemuda Pura disana, untuk ibu-ibunya melakukan kegiatan seperti menyiapkan sesajen untuk beribadah, dan untuk bapak-bapaknya melakukan kegiatan seperti menjaga dan membersihkan Pura tersebut, selain itu juga terdapat kegiatan pembelajaran tentang agama hindu untuk membantu pemerintah karena di beberapa sekolah yang ada mata pelajaran Agama Hindu tidak memiliki Guru yang kompeten, dan di Pura ini juga ada kegiatan Bakti Sosial seperti pembagian sembako melalui ketua RT dan penyediaan pelayanan tempat untuk masyarakat berobat gratis.

     Candi dan Pura itu hampir sama karena pada jaman Majapahit banyak mendirikan candi-candi dan hindu pertama itu ada di Jawa Barat dan di Kutai, karena pada perang pajajaran candi-candi yang ada di Bogor, Bandung dan Jawa itu di musnahkan, jadi untuk saat ini terdapat banyak peninggalan-peninggalan sejarah pada tempat tersebut. Ada juga makna-makna bentuk bangunan Pura yang bisa diartikan bangunan yang berbentuk seperti daun, karena umat Hindu pencinta dengan alam. Oleh karena itu mengapa Pura tidak memiliki bangunan yang tertutup melainkan bangunan yang sangat terbuka. Alasan mengapa Pura bentuk bangunannya yang sangat terbuka? Karena dia mencerminkan kebebasan dan agar dapat menyatu dengan alam.

     Pura Mertasari ini tidak mempunyai kepemilikan tetapi jika ada yang ingin mewaqafkan tanahnya untuk dijadikan pura boleh- boleh saja. Seperti pura ini sebelum menjadi pura, tanah ini adalah tanah desa yang sekarang sudah dikuasai oleh pemerintah dan diizinkan untuk menjadi bangunan pura ini. Di Pura ini memiliki beberapa aturan seperti bagi wanita yang sedang berhalangan tidak di izinkan untuk memasuki kawasan Pura yang suci dan jika ada keluarga yang sedang berduka tidak diizinkan memasuki kawasan Pura, kurang lebih selama seminggu setelah hari berduka.

     Bagi umat yang ingin memasuki daerah ibadah atau daerah yang suci harus menggunakan selendang. Adapun warna yang baik untuk selendang yaitu warna putih dan warna kuning karena melambangkan kesucian bagi umat Hindu. Makna dari selendang tersebut adalah untuk pengikat ego dan hawa nafsu karena batas ego dan nafsu ada pada bagian perut hingga kepala. Pada bagian perut kebawah adalah sikap ego kita. Sedangkan arti dari sarung yang bermotif kotak – kotak warna putih dan hitam yang berarti ruwa bhinneka yang dimaksud itu adalah dua golongan hitam dan putih untuk menyelaraskan dan bagai mana cara untuk berfikir seseorang untuk memilih jalan yang baik atau yang buruk, seperti pribahasa Kuman disebrang laut tampak Gajah jongkok didepan tak tampak. Jadi pandangan tentang warna hitam dan putih menurut umat Hindu ialah bagaimana cara sudut pandang seseorang berfikir untuk memilih mana yang mau ia pilih jalur hitam atau putih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 









BAB III

KESIMPULAN

 

     Jadi, pura bagi umat Hindu sangat berperan penting untuk ibadah dan segala aktivitas seperti bersosialisasi antar umat beragama  dengan cara memberi sembako dan memberi pengobatan secara gratis dan berperan bagi pemerintah untuk membantu pendidikan Agama Hindu saat ini yang sangat sulit didapatkan bagi umat Hindu disekolah – sekolah umum.

     Berdirinya pura ini bisa dibilang kapitalisme karena memanfaatkan tanah desa yang dibeli oleh pemerintah untuk didirikannya pura tersebut. Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lembaqga agama merupakan suatu lembaga yang sangat penting untuk pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime, dimana saling berkaitan dengan lembaga- lembaga social lainnya yang mempunyai pandangan sosiologi yang luas untuk di kembangkan dalam kehidupan bermasyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ritzer George, Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern Edisi ke-6. Jakarta: Kencana.

tugas observasi

Kabir Al-Fadly _KPI 1A

Hilma Nur Alifah_Jurnalistik 1A

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pondok Pesantren sudah pada porsinya sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang menjadi tempat perrlindungan dan benteng pertahanan terakhir dalam hal membina para generasi muda islam utamanya dalam urusan akhlak yang baik dan keilmuan serta keislaman dan bingkai keIndonesiaan. Di Indonesia banyak sekali model dan sistem tata kelola kepesantrenan, mulai dari salafi yang sedrhama hingga yang modern yang mengkaji bahasa-bahasa Internasional dan lain sebagainya.

Dalam kajian kali ini kami mengambil sebuah Pondok Pesantren yang menggabungkan antara salafi dan modern. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 yang terletek di Batuceper, Kota Tangerang. Secara umum tentang Asshiddiqiyah, Asshiddiqiyah 2 ini adalah PonPes Cabang kedua yang dibangun dari 11 Asshiddiqiyah yang tersebar di beberapa  daerah meliputi Jawa dan Sumatera. Asshiddiqiyah pertama atau pusat dibangun oleh Sang Pendiri Asshiddiqiyah yakni DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, di Kedoya Jakarta Barat

Setelah sukses dengan Asshiddiqiyah pertama, DR. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ, melebarkan kepak sayap Asshiddiqiyah lewat membangun cabang-cabang yang terdiri atas 1 Pusat dan 10 Cabang. Mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat Sumatera Selatan dan Lampung. Dalam kajian kali ini kami menitiberatkan tentang Asshiddiqiyah 2 Kota Tangerang. Didirikan di tahun 1994 dengan perjuangan yang luar biasa. Sebelum berdiri  Asshiddiqiyah di kawasan tersebut sebetulnya sudah berdiri sebuah Pesantren milik keluarga H.Musa. namun pesantren ini tidak dapat berkembang karena kurangnya tenaga pengajar dan lain hal.

Akhirnya tanah dan pesantren seluas sekitar hamper 2 hektare itu diwakafkan kepada DR.KH.Noer Muhammad Iskandar, SQ. untuk dibangun dan dikembangkan menjadi sebuah pesantren dengan tata kelola seperti yang telah dibangun di  Kedoya. Niat baik Wakif dan juga civitas akademika Asshiddiqiyah tidak berjalan mulus begitu saja. Penolakan dari warga sekitar bahwa "orang pendatang" mengambil alih tanah dan juga pondok pesanren yang telah dibangun para orang tua mereka sebagai ikon daerah tersebut. Ketegangan dan perang urat syaraf sempat terjadi.

Namun berkat keteguhan dan kesungguhan hati DR.KH.Noer Muhammad Iskandar, SQ, lambat laun masyarakat menjadi luluh hatinya, dari yang tadi antipasti terhadap Asshiddiqiyqh justru malah antusias dalam hal ikut partisipasi terhadap apa saja yang menjadi program pesantren. Mulai dari pembangunan, kewirausahaan pesantren hingga aktif menjadi staff pengajar di dalam lingkunan pesantren. Itulah sedikit gambaran tentang objek kajian dari sisi awal muncul dan juga konsistensi pesantren menghadapi berbagai suara baik yang pro lebih-lebih yang kontra terhadap kehadiran pesantren yang di pimpin seorang pendatang yang jauh-jauh dating dari pelosok sana. Namun semua mampu dibuktikan bahwa dengan interaksi yang baik semua yang kita cita-citakan dan harapkan dapan terwujud dan justru berbanding terbalik dengan kondisi yang dulu.  

BAB II.    

TINJAUAN TEORITIS

          Didalam disiplin ilmu sejarah, filsafat maupun sosiologi banyak sekali faham yang berkebang mengenai kehidupan manusia. Perkembangan ini petama-tama lahir didaratan eropa yang kemudian berkembang menguasai dunia, bahkan sampai sekarangpun manusia masih menggunakan, melaksanakan, mempelajari serta mengembangkan faham-faham yang pernah berkembang disana.Perkembangan faham-faham ini menurut teori sejarah dimulai sejak zaman yunani kuno, dan mengalami perkembangan yang sangat pesat sekitar abad 15 sampai abad 19. Pada masa itu muncul beberapa tokoh fulsuf yang terkemuka sebagai pengembang filsuf- filsuf yunani kuno. Tokoh-tokoh itu antara lain Karl Marx, Hegel, Montesque,  Dahrendorf, Antonio Gramsci, George Lucas, Van Dijk, Hahermas. Tokoh-tokoh itu masing-masing membawa sebuah pemikiran yang besar sehingga menjadi sebuah faham atau aliran. Baik saling menguatkan maupun sling mengoreksi atau menentang diantara yang lain.

              Aliran–aliran yang berkembang besar dimasa itu antara lain naturalisme, idealisme, sosialisme, materialisme, kapitalisme, marxisme, dan lainnya. Masing–masing faham itu antara satu dengan yang lainnya selalu saja berkaitan karena tiap–tiap filsuf yang mendukung sebuah teori maka cinderung mengembangkannya dan menjadi aliran yang baru, begitupun juga dengan penentang sebuah teori maka mereka akan membuat teori antithesis yang kemudian juga menjadi aliran baru.

            Marxisme adalah paham yang mengikuti pandangan-pandangan Karl Marx. Karl Marx adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis. Ideology Marxisme muncul dari kreativitas pemikir Karl Marx, yang sangat setia menjembatani teori materialis dialektis.

            Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme

            Secara garis besar pemikiran Karl Marx berisi tentang persamaan dan pemerataan baik dalam bidang ekonomi politik maupun sosial budaya. Apabila konsep ekonomi dan politik sudah tertata maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat. Karena bila mindset masyarakat sudah berubah untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maka ide masyarakat madani pasti akan terwujud.

            Dari teori-teori Marx maka dapat di pastikan bahwa isu tentang separatis, suku, ras, dan agama akan hilang dengan sendirinya karena sikap ini sebenarnya timbul karena diskriminasi tehadap konsep tertentu serta bangsa atau ras tertentu yang mana terdapat konsep superior (menguasai) dan inferior (dikuasai). Secara asasi manusia tidak ada yang ingin menjadi inferior karena pada dasarnya manusia memiliki hak hidup yang sama dan inilah yang menimbukan pergolakan baik dalam diri maupun ke lingkungannya.Apabila masyarakat semua memiliki hak yang sama dalam berekspresi maka issu itu akan terhapuskan.


            Neo-Marxisme adalah sebuah paham yang mengacu pada kebangkitan kritis teori Marxis pada periode pasca-perang, yang paling sering digunakan untuk menunjukkan pekerjaan di bidang ekonomi politik radikal yang mencoba untuk menggabungkan aspirasi revolusioner dan berorientasi konsep Marxisme dengan beberapa perangkat yang disediakan oleh ekonomi non-Marxis, terutama karya Keynes. Politik dengan rasa keterbatasan Marxisme dalam menghadapi fenomena seperti fasisme atau massa budaya, tampaknya telah pertama kali diperkenalkan untuk menggambarkan pemikir - seperti Joan Robinson, Paul A. Baran, dan Paul M. Sweezy - yang berusaha untuk memperbaharui kritik ekonomi politik dalam situasi yang ditandai dengan munculnya korporasi global. Neo-Marxisme adalah sebutan untuk menunjukkan upaya, selama dan setelah Perang Dunia II, yang bercermin pada ketepatan kategori Marxis untuk memahami kondisi perubahan akumulasi modal. (Toscano, Alberto.2007). Pada neo-marxisme, aktor yang berperan penting adalah negara, kaum borjuis dan kaum proletar.

            Jadi menurut saya, marxisme lebih menitikberatkan pada kesenjangan antara kaum borjuis dan kaum proletar yang kemudian muncul gagasan masyarakat sosialis. Namun, tidak seperti Marxisme, Neo-Marxisme yang menitikberatkan pada sirkuit uang dan komoditas yang berpendapat bahwa modal asing akan berekspansi ke pinggiran untuk memperpanjang proses penaikan harga. Keduanya juga sama-sama mengusung kebebasan individu (independensi).

BAB III

ANALISIS HASIL

 

            Sosiologi adalah  ilmu yang mempelajari tentang kemasyarakatan.Sosiologi ini mengkaji secara sistematis perilaku manusia dalam bermasyarakat.Menurut perspektifnya tentu sangat banyak seputar definisi ilmu sosiologi. Namun untuk analisis kali ini kami menggunakan teori Marxisme maupun neo marxisme dengan back ground Pondok Pesantren untuk di jadikan bahan observasi. Dan dimana teori dengan pemikiran Karl Marx ini bertumpu pada pemikiran bahwa sejarah dari masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas.Argumen-argumen tentang konflik kelas menjadikan ide-ide dari Karl Marx sebagai titik acuan utama.Ide-ide ini dirangkum paling baik dalam karya Karl Marx dan Friedrich Engels,The Communist Manifesto(1848), khususnya pada bagian tentang 'Borjuis dan Proletarian'[1]

            Pada marxisme, publik dibagi menjadi dua golongan, dimana kaum borjuis yang berperan sebagai pemilik alat produksi, serta kaum proletar (buruh) yang berperan sebagai tenaga kerja / penggerak produksi. Bisa dikatakan bahwa aktor dari Marxisme itu ialah kedua kelas tersebut, borjuis dan proletar (dengan kelas borjuis sebagai pemegang kendali dan proletar sebagai alat pengendali tersebut).Latar belakang pemikiran Karl Marx adalah ekploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh kaum pemilik modal atau para penguasa terhadap para pekerja atau buruh.

            Eksploitasi tersebut diwujudkan dalam bentuk jam kerja yang di tentukan sesuai keinginan para pemilik modal dan pembagian upah tidak sebanding dengan pekerjaanya.Dengan kata lain,Marx menuduh kemiskinan yang dialami oleh kaum proletar merupakan ciptaan kaum borjuis akibat pemaksimalan jam kerja dengan yang amat rendah.[2]

            Namun dengan observasi ini,kami melihat bahwa Pemimpin Pondok tidak memperlakukan para Karyawan/Pekerja seenaknya.Mereka memperlakukan para karyawannya layaknya orang yang Real membantu akan kelangsungan program di Pondok.Kemudian di sisi lain kami meniliti bahwa ternyata tidak seluruh kaum proletariat menginginkan upah  yang sebanding dengan pekerjaannya.Ini sangat jelas bahwa para pekerja di Pondok memiliki rasa hormat terhadap pemilik Pondok.Rasa hormat di sini kami artikan antara murid kepada gurunya.Karena para pekerja di Pondok pun ternyata mereka memiliki pekerjaan lain di luar membantu mengolah perkembangan Pondok.

            Kita tahu bahwa Pondok Pesantren apabila tidak ada alat pengendalinya maka tidak akan berjalan dan berkembang seperti semestinya.Dengan ini kita dapat menganalisis bahwa aktor disini yang menjadi kaum borjuis adalah Pemilik pondok/pendiri pondok, kemudian dengan kaum proletariat adalah para pekerja atau karyawan lainnya. Para borjuis yang mempunyai kekuasaan hak akan kepemilikannya dan kemajuan akan produknya untuk ke depannya.Namun apabila kita ketahui bahwa kaum borjuis memiliki sifat yang sangat berkuasa dan menindas para kaum proletar namun bagaimana dengan borjuis kali ini?Tentu dengan observasi yang harus kami paparkan ini cukup membuat kami kebingungan.

            Namun disini harus kita garis bawahi,  sesuai teori Marx pula bahwa Karl Marx melihat bahwa kapitalisme tidak sepenuhnya buruk meskipun perekonomian kapitalis yang notabene dikendalikan oleh kaum borjuis bersifat eksploitatif terhadap buruh.Karena dengan realita bahwa kapitalis di dalam Pondok tidak meresahkan seperti hal nya kapitalis para borjuis pada umumnya.Para pemimpin pondok memang benar mempunyai kekuasaan akan tetapi di sisi lain mereka mempunyai sifat yang juga bukan untuk berkuasa dengan melakukan segala hal yang mereka ingini.

            Marx melihat bahwa sistem feodalisme yang justru mencerminkan eksploitasi buruh yang parah. Dalam feodalisme, seolah-olah buruh adalah budak, sehingga harus mau mendedikasikan hidupnya pada majikan, sedangkan lain halnya dengan kapitalisme dimana para buruh masih diberi penghargaan atas kerjanya melalui upah.Sebagai contoh ,pedagang warung sembako,setiap minggunnya harus belanja sesuai kebutuhan warung yang di perlukan.Kemudian 2 buruh di perintahkan untuk setiap orangnya mengangkat beras 20 karung dan 20 galon besar.Dengan contoh seperti ini jelas, perintah penguasa secara tidak langsung seperti memperlakukan buruh sebagai budak yang seolah-seolah mau mendedikasikan hidupnya pada majikan.

            Apabila para pedagang menjadikan buruh sebagai alat ekploitasi untuk kehidupannya.Maka beda halnya dengan kapitalis Pondok Pesantren.Kembali pada pembahasan sebelumnya bahwa tidak semua kapitalis itu buruk.Seperti observasi yang kami dapatkan, ini contoh konkrit di dalam kehidupan bahwa proletar di Pondok Pesantren ini bukan sepenuhnya buruh yang sedang mencari upah dari segala hasil pekerjaanya.Akan tetapi buruh disini sebagai alat membantu untuk terus mengembangkan tujuan dari borjuis tersebut.

            Akan tetapi,dengan ke untungan tersebut para pekerja pun tidak menuntut atau mengharap lebih upah dari kapitalis .Karena segala yang di lakukan oleh para pekerja pun semata-mata pengabdian yang mereka lakukan terhadap para borjuis.Pengabdian disini bermaksud bukanlah pengabdian sejenis perbudakan.Akan tetapi pengabdian ini adalah bentuk pengabdian dari murid terhadap gurunya dengan maksud mereka tidak mengharapkan imbalan lebih atas pekerjaanya yang di lakukan secara ikhlas.

            Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat dasar manusia. Marx yakin bahwa manusia pada dasarnya produktif, artinya untuk bertahan hidup manusia perlu bekerja di dalam dan dengan alam, dengan bekerja seperti itu maka menghasilkan makanan, pakaian, peralatan perumahan, dan kebutuhan lainnya yang memungkinkan mereka hidup. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka milik, dan dorongan ini diwujudkan bersama sama dengan orang lain, dengan kata lain bahwa manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial, mereka perlu bekerja sama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.

            Mengenai bekerja sama antar manusia tentu kita sangat mengerti bahwa manusia ini terlahir sebagai makhluk sosial.Pada analisis sebelumnya tentang Tindakan sosial teori milik Max Weber di jelaskan bahwa manusia tidak mampu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.Seperti magnet yang saling tarik menarik,manusia butuh kesinambungan terhadap masyarakat lainnya.Saling bekerja sama untuk menghasilkan sebuah keuntungan untuk menjalani kehidupan normal serta kehidupan pokonya.        

            Sama halnya seperti Para Kiai pemilik pondok ini memerlukan karyawan lainnya untuk terus menggerakkan segala programnya terhadap Pondok sehingga produksi pondok terus berkembang untuk Anak-anak yang sedang menuntut ilmu.Walau mereka tahu bahwa terkadang penghasilan orang-orang yang bekerja di Pondok tidak seberapa dengan buruh pada umunya akan tetapi,ada suatu tujuan lain yang membuat mereka ingin terus bekerja terhadap kaum borjuis ini.

            Kalau Marx meliputi dunia ke depan dengan tenaga kerjanya yang kreatif,maka Jurgen Habermas melihat masyarakat ke depan yang dicirikan oleh kebebasan dan keterbukaan komunikasi.Jenis realita sosial yang di kaji,yaitu tentang realitas ;subyektif yang berpusat pada subyek.Dengan kata lain,realitas yang di kaji meliputi segala bentuk pemikiran yang menempatkan kenyataan  baik masyarakat maupun alam.Pertanyaan ini ada hubungannya dengan pemikir post modern yaitu sebuah aliran kontemporer yang cenderung menganggap projek modernitas menuju masyarakat rasional sebagai perwujudan kekuasaan dalam bentuk sistem ekonomi dan administrasi birokratis.Jadi,menurut Habermas semua tindakan individu mempunyai makna subyektif terhadap seseorang.[3]

            Dengan peninjauan kembali teori Marxis ,telah di ketahui bahwa dasar teori Danhendrof adalah penolakan dan penerimaan parsial serta perumusan kembali teori Karl Marx.Dalam usaha melakukan penyangkalan parsial teori Marx itu Danhendrof menunjukan berapa perubahan yang terjadi dalam masyarakat industry semenjak abad kesembilan belas[4].Marx menulis tentang kapitalisme,pemilikan dan control atas sarana-sarana produksi sebagai berada di tangan individu-individu yang sama.Kaum industrialis atau borjuis adalah pemilik dan pengelola sistem kapitalis,sedang para pekerja atau proletar,demi kelangsungan hidup mereka,tergantung pada sistem ini

            Menurut Danhendrof yang tidak dilihat oleh Marx ialah pemisahan antara pemilikan serta pengendalian sarana-sarana produksi yang terjadi di abad kedua puluh.Timbulnya korporasi-korporasi dengan saham –saham yang dimiliki oleh orang banyak,di mana tak seorang pun memiliki control yang eklusif ,ber peran sebagai contoh dari apa yang di sebut Danhendrof sebagai dekomposisi modal.

            Seperti pemilik pondok yang menjadikan pengendalian akan sarana-sarana produksi terhadap orang-orang sekitar yang memiliki hubungan darah dengan nya,seperti dengan kakak,adik ,paman, dll.Disni karena adanya hubungan kekeluargaan,saham-saham ini yang di miliki oleh orang banyak,di kelola oleh banyak orang dan sulit di tentukan ,dimana tak seorang pun memiliki kontrol yang ekslusif berperan sebagai contoh dari apa yang disebut sebagai dekomposisi modal.

            Di abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya,seperti juga hal-nya pengendalian Pondok ini di kendalikan dengan seorang atau beberapa orang yang lain dari selain pemilik Pondok tersebut.Mereka di kendalikan oleh beberapa orang yang juga memepunyai ke ahlian dalam pengendalian Pondok.Karena sekarang adalah zaman keahlian serta spesialisasi,manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai-pegawai sebagaimana hal- nya dengan pekerja –pekerja pabrik.

            Di sini jelas sekali bahwa teori Ralf Dahendrof menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelasnya dalam masyarakat industri kontemporer.Bagi Dahendrof kelas tidak berarti pemilikan sarana-sarana produksi (seperti yang di lakukan oleh Marx) tetapi lebih merupakan pemilikan kekuasaan, yang mencakup hak absah untuk menguasai orang lain.Perjuangan kelas dalam masyarakat modern,baik dalam perekonomian kapitalis maupun komunis dalam pemerintahan bebas dan totaliter,berada di seputar pengendalian kekuasaan.

            Pemilik pondok bukan berarti pemilikan akan sarana –sarana produksi akan tetapi lebih kepada pemilikan kekuasan, untuk memberi arahan kepada para karyawannya untuk menjalankan produksi yang juga sedang di kelolanya Maka Pemimpin pondok mencakup hak absah untuk memberi arah kepada orang lain yang menjadi pengelola tersebut.Dengan kata lain penguasa akan pengendalian tersebut.

BAB IV

KESIMPULAN

            Dinding kehidupan mulai tergoyah apabila kita membicarakan sebuah kekuasaan.Karena tidak akan ada habisnya apabila pembahasan ini terus di analisis kepada dunia real yang manusia jalani.Dengan sejauh analisis yang kami buat bahwa dengan teori Marxisme menjelaskan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar.Namun menyayangkan sekali bahwa observasi yang kami lakukan tidak menunjukan akan hal tersebut.

            Karena pada Pondok Pesantren ini lebih mengutamakan para pelajarnya pula di bandingkan memikirkan atas kekuasaan para kaum kapitalis untuk mengumpulkan uangnya dengan mengorbarkan kaum proletar.Dengan itu paham kapitalisme ini menunjukan bahwa tidak seluruh para pemilik modal memiliki kekuasaan yang sangat abash sehingga dapat mengorbankan para kaum proletariat sebagai budak para kapitalis untuk menghasilkan uang mereka.

Daftar Pustaka:

            Hatta, Mohammad, 1975, Ajaran Marx atau Kepintaran Seorang Murid Membeo, Jakarta: Bulan Bintang.

            M,Margarent,2004,sosiologi kontemporer,Jakarta:Kencana

            M,Setiadi,Elly,Usman Kolip,2011,Pengantar sosiologi,Jakarta:Kencana.

            Ramli, Andi Muawiyah, 2000, Peta Pemikiran Karl Marx; Materialisme dialektis dan Materialisme historis, Jogjakarta: LkiS

            Scott,John,2012 ,Teori Sosial,Yogyakarta:Pustaka Belajar.

            Suparlan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta: Bumi Aksara

            Wirawan,I.B,2013,Teori-teori sosial,Jakarta:Kencana

            Wirawan,Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma, 2013, Jakarta : Kencana



[1] Scott,John,2012 ,Teori Sosial,Yogyakarta:Pustaka Belajar.Hlm:132

[2] M,Setiadi,Elly,Usman Kolip,2011,Pengantar sosiologi,Jakarta:Kencana.Hlm:12

[3] Wirawan,I.B,2013,Teori-teori sosial,Jakarta:Kencana.Hlm:263

[4] M,Margarent,2004,sosiologi kontemporer,Jakarta:Raja Grafindo persada.Hlm:131

Observasi teori Marxis/ Salsabila Azhar Jurnalistik 1A/ Eka Sugiarti KPI 1B

Eka Sugiarti KPI 1B (11150510000066)

Salsabila Azhar Jurnalistik 1A (11150510000042)

 


PENDAHULUAN

 

LATAR BELAKANG

Aspek ekonomi merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh di seluruh negara yang ada di dunia  dalam pembangunan nasional. Negara secara hakiki merupakan Negara kelas yang berarti Negara secara langsung ataupun tidak langsung di kuasai oleh kelas yang menguasai bidang ekonomi. Negara bukanlah lembaga yang mengatur masyarakat tanpa pamrih, tetapi merupakan alat bagi kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Kedudukan Negara tidak netral, melainkan berpihak pada kelas tertentu.

Menurut Mark, pelaku utama dalam perubahan social bukanlah individu, tetapi kelas – kelas social. Dalam setiap masyarakat terdapat kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai atau dengan kata lain terdapat kelas atas dan kelas bawah. Mark membagi kelas social ke dalam tiga kelas, yakni kaum buruh, kaum pemilik modal dan tuan tanah (namun, dalam masyarakat kapitalis, tuan tanah dimasukkan ke dalam kaum pemilik modal).

Dalam sistem kapitalis, kaum buruh dan pemilik modal memang saling membutuhkan. pembagian masyarakat dalam kelas atas dan kelas bawah merupakan ciri khas masyarakat kapitalis. Hubungan antarkelas pada hakikatnya merupakan hubungan eksploitasi. 

 

 

Tinjauan Teoritis

 

Karl Marx

            Teori Kelas Marx

Menurutnya sampai sekarang adalah perjuangan kelas. Dalam kata lain pelaku utamanya dalah masyarakat kelas sosial.

            Menurut Lenin, kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Marx juga berpendapat bahwa pelaku utama perubahan sosial adalah kelas-kelas sosial itu sendiri. Didalam kelas-kelas sosial tersebut terdapat pula kelas atas dan kelas bawah. Marx juga membagi kelompok kelas sosial, yaitu pemilik modal, buruh dan pemilik tanah. Tetapi pemilik tanah dalam teoi kapitalis termasuk kedalam pemilik modal.

·         Pemilik modal

Atau biasa disebut dengan borjuis adalah pemilik aset atau benda produksi dimana pemilik modal mengekploitasi pekerjanya untuk memperluas modal mereka.

 

·         Buruh

Merupakan tenaga kerja yang hanya memiliki kemampuan untuk bekerja dengan tangan dan pikiran mereka. Para pekerja ini harus mencari penghasilan kepada para pemilik modal. Dalam sistem kapitalis, kaum buruh dan pemilik modal memang saling membutuhkan. Buruh hanya dapat bekerja jika pemilik modal membuka tempat kerja. Pemilik modal membutuhkan buruh untuk mengerjakan kegiatan usahanya.  Akan tetapi, ketergantungan ini tidak seimbang. Buruh tidak dapat bekerja jika pemilik modal tidak memberikan lapangan pekerjaan, tetapi pemilik modal masih bisa hidup tanpa buruh karena ia bisa menjual pabriknya kepada orang lain.  Dapat dikatakan bahwa kaum buruh adalah kelas yang lemah, sedangkan kaum pemilik modal adalah kelas yang kuat. Pembagian masyarakat dalam kelas atas dan kelas bawah merupakan ciri khas masyarakat kapitalis.  Hubungan antarkelas tersebut pada hakikatnya merupakan hubungan eksploitasi.

 

 

Teori Kritik

Kelas pekerja di negara-negara kapitalis maju yang menurut Marx akan menuju revolusi proletariat justru berhasil memperbaiki keadaan mereka dan menjadi pendukung sistem ekonomi kapitalis. Kemajuan pekerja ini tentu bukan hadiah dari kaum pemilik modal, tetapi merupakan hasil perjuangan para pekerja itu sendiri tanpa perlu melakukan revolusi. Oleh karena itu, apa yang dikatakan Marx bahwa perbaikan sosial hanya bisa tercapai melalui revolusi itu tidak benar. Hal yang benar adalah setiap perbaikan sosial harus diperjuangkan. Selain itu, pandangan bahwa negara secara hakiki adalah negara kelas belum tentu benar. Di negara yang tidak menganut sistem demokrasi hal itu memang terjadi. Namun, di negara dengan sistem demokrasi, negara bukanlah negara kelas. Semakin demokratis suatu negara maka negara tersebut semakin tidak menjadi negara kelas. 

 


Hasil Observasi

 

Annisa Store, bertempat di Pamulang Square, Pamulang, Tangerang Selatan. Merupakan toko yang khusus menjual koleksi pakaian-pakaian atau bisa dikatakan Butik. Menurut hasil observasi lapangan kami yang menggunakan metode wawancara, Dika (20thn) yang merupakan narasumber kami.

            Dika, karyawan di Annisa store yang sudah bekerja selama 6 bulan di toko tersebut mengatakan bahwa banyak sekali ketentuan yang dapat diterima maupun yang terpaksa. Sebagai karyawan dari toko tersebut dan pastinya merupakan bawahan  dari majikan atau pemilik modal tentunya Dika memiliki sedikit tuntutan dari pihak pemilik modal.

            Hal ini  berkaitan dengan teori Kelas Karl Marx dimana kelompok Borjuis
(  Pemilik modal ) berkuasa, walaupun tidak semena-mena tetapi karyawan yang kami wawancarai memang merasa terikat oleh keputusan sepihak dari pemilik modal. Dalam teori Kelas social dikatakan bahwa pemilik modal cenderung mengeksploitasi kaum buruh atau kaum pekerja demi memperluas modal dan juga menambah keuntungan mereka.

            Dalam observasi kami terhadap Dika yang merupakan karyawan di Annisa store, pemilik modal atau majikannya memberlakukan waktu kerja fullday tanpa libur dalam seminggu atau dengan kata lain dari hari Senin-Minggu. Mungkin dalam hal ini merupakan kesepakatan dari pemilik modal dan kelompok kerja pada awalnya tapi disini terlihat dengan jelas pemilik modal hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.

            Selain itu jam kerja yang cukup panjang dari jam 9 pagi sampai 9 malam juga mnerupakan tuntutan dari pemilik modal ( Borjuis ). Walaupun butik yang kami observasi tidak menargetkan barang jualan yang harus terjual sehari tapi kami melihat toko tersebut selalu ramai oleh pembeli. Hal itu juga dibuktikan dengan omset 6 Juta/hari dan bahkan di bulan Ramadhan bisa mencapai 20 juta/hari.

            Tapi disini Dika yang merupakan karyawan berterus terang jika ia berhasil mencapai atau melebihi target sang pemilik akan memberikan bonus berupa uang senilai 10.000/ 1juta penjualan. Analisis kami disini bahwa karyawan mendapatkan bonus yang tidak seberapa, dan sekali lagi pemilik modal juga tidak terlalu peka terhadap keinginan karyawan.

            Dika juga mengatakan bahwa sebagai karyawan yang harus adatang on time selain mendapatkan gaji ia tidak diberi uang transport dan makan. Dimana disini ia hanya mendapatkan gaji bersih selama sebulan. Dengan jadwal kerja dari Senin-Minggu dan tanpa embel-embel bonus sangatlah tercermin perbedaan kelas social antara kelas Borjuis ( pemilik modal ) dan kelas pekerja/buruh.

            Selain itu dari hasil wawancara kami pemilik modal sangat jarang berkunjung ke toko tersebut untuk sekedar mengecek atau membantu. Pemilik modal sepenuhnya memberikan tugas dan kepercayaan kepada karyawannya, dimana pemilik modal hanya menunggu laporan penjualan ataupun stock yang laku dan habis dari karyawan di toko.

            Adapun peraturan-peraturan yang ditentukan oleh pemilik modal / majikan kepada karyawannya dalah sebagai berikut :

·         Datang On Time /  tepat waktu

·         Memakai kerudung dan pakaian sopan (Karna menjual pakaian muslim)

·         Bersikap ramah dan cekatan

·         Jujur

·         Mengambil libur hanya boleh 1 bulan sekali

·         Menutup toko dengan keadaan rapih.

 

Selain itu para pembeli yang merasa barangnya tidak pas atau mengalami kecacatan dapat menukar dengan barang baru yang sama. tentunya disini pemilik modal memanjakan para pembeli atau customers.

Karna ketentuan dari pemilik modal jugalah Dika karyawan di Annisa store tidak dapat melakukan aktifitas kuliah sambil kerja karna ketentuan jam kerjanya yang dari pagi sampai malam. Menurut kami dengan ketentuan seperti itu, pemilik modal mengharapkan pekerja yang benar-benar memprioritaskan kerja atau lebih dikatan sebagai usia kerja dari umur 25 tahun keatas.

            Tetapi fakta yang kami temukan di lapangan banyak karyawan yang kami wawancarai masih berusia sekitar 16 – 21 tahun dalam kata lain belum termasuk kepada usia kerja atau angkatan kerja. Pemilik modal yang hanya mengartikan mereka yang masih belum diusia kerja sebagai orang yang sudah ingin mencari uang dan kurang memeperhatikan masalah tersebut.

            Pemilik modal yang merupakan kelas tertinggi di kelas social ini merasa mereka sudah memberikan lapangan pekerjaan dan juga salary kepada kelompok pekerja merasa berhak untuk memberikan ketentuan atau tuntutan kepada kelompok kerja. Menurut analisis kami disini akan terjadilah kesenjangan social atau Disintegrasi terhadap pemilik modal dan pekerja.

            Selain pemilik modal karna toko yang kami amati berada di sebuah mall yang mengharuskan menyewan ruko atau lahan juga memberikan beberapa peraturan terhadap pemilik modal dan karyawan. Walaupun dalam teori kapitalis pemilik lahan merupakangabungan dari pemilik modal tapi dalam ini pemilik lahan juga menetapkan aturan-aturan diantaranya sebagai berikut.

·         Toko harus selalu dalam keadaan bersih dan rapih

·         Pembayaran sewa tepat waktu per/3 bulan

·         Tidak merokok (Karna di ruangan AC)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

 

Annisa Store merupakan salah satu toko yang  menjual khusus pakaian wanita. toko ini berada di salah satu mall yang terletak di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. Hasil observasi kami melalui pendekatan teori dari Karl Mark, yaitu teori kelas sosial dan teori kritik. Dimana didalamnya orang yang memiliki Annisa Store ini adalah kaum Borjuis ( pemilik modal ) dan mempekerjakan seorang pekerja (buruh). Dari hasil observasi kami, pemilik modal lebih berkuasa dan selalu menuntut agar karyawan yang bekerja di Annisa Store melakukan tugasnya dengan baik. Hal ini sesuai dengan isi dari teori Kelas sosial dan kritik dari Karl Marx.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Pengantar Sosiologi Nurani Soyomukti

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_kelas_Marxime

Cari Blog Ini