Selasa, 22 Maret 2016

Nur Afriani (11140530000002), Khoirunnisa (11140530000006), Abdul Hafidz (11140530000016), Muhamad Faiz Al-Maki (11140530000020), Fawwas Raihan (11140530000028)_MD-4A_YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM SABILUSSALAM_Tugas 3

PROFIL YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM SABILUSSALAM

Latar belakang berdirinya yayasan ini karena para pemuka masyarakat di daerah kampung sekitar adalah didasarkan pada kebutuhan mahasiswa dalam mempelajari ilmu agama yang tidak diperoleh di instansi-instansi umum. Para pemuka masyarakat tersebut merasa bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak dan masyarakat sekitarnya maupun masyarakat luas. Pendirian yayasan ini juga ikut membantu program pemerintah dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya.

Lembaga pendidikan pesantren baru dibuka pada tahun 1994. Cita-cita pendirian pesantren mahasiswa ini telah ada jauh sebelum Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam dibentuk (sekitar tahun 1980-an). Berawal dari cita-cita Bapak H.M. Mansyur, salah satu pendiri Yayasan Islam Sabilussalam yang ketika itu masih menjalani studi S1 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia bersama teman-temannya dari Jurusan Bahasa Arab (antara lain: H.D. Hidayat, S. Shodikin, dan Fahrurrozi) dan juga istrinya memiliki kegiatan pengajian mingguan secara bergilir di sekitar desa Cempaka Putih. Dari jalan pengajian itulah akhirnya ada salah seorang warga yang mewakafkan tanahnya untuk kepentingan dakwah.

Yayasan tersebut didirikan pada tanggal 24 Oktober 1981. Pada awalnya berdiri di atas lahan tanah seluas 500 m2 (lima ratus meter persegi) hasil wakaf dari tanah bekas milik adat yang kemudian diperluas 200 m2 sehingga menjadi ±700 m2. Sebidang tanah itulah yang saat ini berdiri Yayasan Islam Sabilussalam, yang di dalamnya terdapat Raudhatul Athfal (TK) (1982), Madrasah Diniyyah (1988) dan akhirnya pada periode 1991-1993 dibangun gedung Pesantren Luhur Sabilussalam. Yayasan Islam Sabilussalam tersebut beralamatkan di Jl. WR. Supratman Gang Bacang RT/RW 002/09 Kp. Utan, desa Cempaka Putih, kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang Selatan Provinsi Banten 15412.

            Sejak berdirinya yayasan tersebut hingga saat ini, Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam pernah mengalami kekosongan kepemimpinan dikarenakan para pendiri semakin banyak udzur dan penerus yang belum siap mengelola yayasan tersebut. Sehingga ±10 tahun Yayasan Islam Sabilussalam mengalami pemberhentian. Hal ini rupanya berdampak akan lembaga pendidikan, seperti halnya diniyyah yang hilang dan seolah-olah menyatu dengan TPQ.

            Pesantren ini awalnya sesuai dengan keinginan pendiri (H.M. Manshur) dibangun sebagai pesantren modern, dalam artian modern dalam berpikir, kegiatan ibadah yang sempurna serta pengkajian kitab kuning dan modern dalam bermasyarakat. Sehingga pesantren ini dulunya hanya menerima mahasiswa mulai dari semester tiga, bahkan pesantren ini pernah memiliki mahasantri pascasarjana. Namun seiring berkembangnya zaman pesantren ini mulai membuka pendaftaran untuk mahasiswa semester satu.

Pesantren tersebut mengedepankan kemandirian mahasantri, bahkan sistem pesantren mandiri yang diciptalan yaitu "dari santri, oleh santri, untuk santri". Melihat hal semacam ini diharapkan alumni juga ikut berperan dalam perkembengan pesantren. Selain itu, Bimbingan Tes Sabilussalam atau biasa disebut BIM-TES Sabil, juga membantu memperkenalkan pesantren dikhalayak umum, sehingga peminat pesantren ini setiap tahun bertambah dan menjadikan pesantren ini semakin diakui keberadaannya.

Selain itu, faktor didirikannya pesantren Luhur Sabilussalam ini adalah para pendiri merasakan sangat kurangnya sarjana Islam yang memiliki kemampuan memadai dalam membaca dan memahami khazanah keagamaan yang berbahasa Arab. Juga didukung dengan keinginan pendiri membuat tafsir Alqur'an yang baru, mudah difahami, dan lebih ringkas bersama para mahasantri.

Hingga saat ini Sabilussalam mulai bangkit dan menjadi pesantren luhur yang diharapkan mampu bersaing dengan pesantren lain, juga menghasilkan alumni yang bermanfaat dikehudupan mendatang. Secara umum tujuan didirikannya Pesantren Luhur Sabilussalam, yaitu: "Mencetak pemimpin yang bertanggung jawab dan kuat dalam bidang agama". Sejak dibuka pada tahun 1994 hingga saat ini pesantren ini telah mewisuda 18 angkatan.

 

A.    Strukturan Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam

Adapun susunan Badan Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam antara lain:

1.      Prof. Dr. H.A.R. Partosentono,                      sebagai Ketua

2.      Prof. Drs. H. Chatibul Umam                        sebagai Anggota

3.      Drs. H. Muchsin Idham                                  sebagai Anggota

4.      Drs. H. Ibrahim Gade                                     sebagai Anggota

5.      Drs. H. Mohammad Mansyur                         sebagai Anggota

6.      H. Ir. A. Sjofjan                                              sebagai Anggota

7.      J. Rosyadi                                                       sebagai Anggota

 

B.     Tujuan didirikan Pesantren Luhur Sabilussalam  

            Setiap lembaga sudah tentu memiliki tujuan dalam pembentukannya, adapun tujuan didirikannya Pesantren Luhur Sabilussalam adalah sebagai berikut:

1.      Membantu usaha Pemerintah Republik Indonesia dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, khususnya di bidang pendidikan dan sosial.

2.      Mencetak pemikir Islam yang mampu memahami dan mengaplikasikan hasil karya ulama-ulama besar dari zaman klasik, pertengahan, maupun zaman kontemporer yang terdapat pada buku-buku yang berbahasa Arab.

3.      Membangun manusia Indonesia yang sejahtera, berpengetahuan luas, berakhlak luhur, beramal ikhlas, cinta kepada nusa, bangsa, dan agama serta bertaqwa kepada Allah SWT.

4.      Mendidik kader ulama yang mendalami (takhassus) ilmu keagamaan dan kebahasaaraban, karena semakin langkanya ulama pada dewasa ini.

 

C.    Kendala Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam

Dalam suatu lembaga bukanlah hal yang aneh lagi apabila memiliki kendala dalam proses perjalanannya, baik lembaga yang besar maupun kecil sekalipun. Karena semakin besar lembaga maka semakin banyak pula kendala-kendala yang dihadapinya:

1.      Masalah notaris

Karena pada awalnya Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam ini berasal dari tanah adat masyarakat setempat jadi tidak jelas status kepemilikannya.

2.      Masalah fasilitas

Karena setiap tahun yang minat atau yang mau mondok di Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam ini semakin banyak, namun ruangan dan kamar tidak memadai dan hanya memiliki 6 lokal kelas.

3.      Masalah tenaga pengajar

Karena yang yang mengajar memiliki kesibukkan lain diluar, sehinnga sulit untuk menentukan jadwal belajar dan mengaji.

4.      Masalah masyarakat

Karena Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam ini langsung terjun dan bersentuhan dengan masyarakat, yang terkadang banyak permintaan masyarakat yang harus di penuhi oleh pihak Yayasan Pendidikan Islam Sabilussalam dan juga sebaliknya.

 

 

 

Sumber:

Muhamad Faiz Al-Maki dan Fawwaz Raihan (Santri Sabilussalam)

 

 

Kelompok 3:

Nur Afriani                             (11140530000002)

Khoirunnisa                             (11140530000006)

Abdul Hafidz                          (11140530000016)

Muhamad Faiz Al-Maki          (11140530000020)

Fawwas Raihan                       (11140530000028)

 

Eva Lutfia_Metodologi Penelitian Dakwah_Tugas 1

Metodologi Penelitian Dakwah

Oleh:               Eva Lutfia

NIM:               11140530000045

Jurusan:           Manajemen Dakwah – 4B

1.      Apa pengertian penelitian?

Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris "research" yang terdiri dari kata re (mengulang) dan search (pencarian, pengejaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian), maka research berarti berulang melakukan pencarian.[1] Pengertian penelitian menurut Winarno Surachamnd adalah kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru yang bersumber dari primer-primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki.[2] Dapat dikatakan penelitian adalah suatu kegiatan atau aktivitas ilmiah yang di landaskan pada suatu metode yang dilakukan secara sistematis dan konsisten dengan sebuah tujuan yaitu untuk mengungkap kebenaran akan suatu ilmu pengetahuan yang di hadapi oleh manusia atau peneliti.[3]

 

2.      Manfaat penelitian

§  Diri sendiri

-        Menambah wawasan pemikiran tentang hal yang kita amati/teliti.

-        Menambah pengalaman akan hal yang kita teliti.

-  Menambah bahan pustaka untuk ditelaah dan dikaji lebih mendalam.

-  Dapat mengidentifikasi suatu masalah atau fakta secara sistematik[4]

-     Dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik antara peneliti, masyarakat dan lembaga.

 

§  Masyarakat

-    Dapat membantu untuk memberikan rekomendasi bagi suatu kebijakan, program yang direncanakan oleh sebuah dinas atau instansi maupun kelompok masyarakat.[5]

-        Memberikan pemahaman yang dianggap tepat kepada masyarakat agar memahami objek yang diteliti.

-    Dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik antara peneliti, masyarakat dan lembaga.

 

§  Lembaga

-    Dapat dijadikan masukan atau rujukan dalam berbagai masalah yang sedang dihadapi.

-     Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam hal-hal yang terkait dengan penelitian.

-     Dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik antara peneliti, masyarakat dan lembaga.

 

3.      Metode penelitian (sebutkan metodenya)[6]

§  Metode Historis disebut juga metode dokumenter, karena penelitian yang dilakukan adalah pada dokumen yang telah silam.

§  Metode Deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji

§  Metode Eksperimen adalah cara melakukan penelitian dengan percobaan, yaitu melakukan manipulasi variabel-variabel eksperimental, mencari hubungan beberapa variabel dengan satu variabel lain.

§  Metode Survai bertujuan mengumpulkan data-data sederhana dalam rangka menguji hubungan-hubungan variabel yang terlebih dahulu dihipotesiskan.

 

4.      Metode analisis data penelitian[7]

Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian. Atau definisi lain dari analisis data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menubah data hasil dari penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan dalam mengambil kesimpulan. Adapun tujuan dari analisis data ialah untuk mendeskripsikan data sehingga bisa di pahami, lalu untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi berdasarkan data yang didapatkan dari sampel, biasanya ini dibuat berdasarkan pendugaan dan pengujian hipotesis.[8]

a.       Analisis data kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain  terkumpul. Teknik dalam penelitian kuantitatif adalah menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statistik non parametris.

b.      Analisis data kualitatif

Dalam penelitian kualitatif data yang diperoleh dari berbagai sumber  dengan menggunakan teknik  pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus  tersebut mengakibatakan variasi data sangat tinggi  sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitattif sehingga tekniik analisa yang digunakan  belum ada pola yang  jelas. Oleh Karena itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis.

 



[1] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Dakwah, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997.

[4] http://manfaat.co.id/manfaat-penelitian, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 20.36

[5] Ibid,.

[6] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Dakwah, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hlm. 59-64

Alam_Arif_Anggi_Bayhaqy_Ripkih_Pesantren Sukamanah dan Pesantren As-syafi'iyah Pulo Air_Tugas3

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

·         M Alam Agustian                  (11140530000047)

·         M Rifkih                                (11140530000038)

·         M Anggi Syahrullah             (11140530000050)

·         Arif  Budiman                       (11140530000059)

·         Iqbal Bayhaqy                       (11140530000037)

Puji syukur kehadirat Allah SWT., Dzat yang memberikan nikmat, yakni hembusan nafas, pandangan mata, sehingga kami dapat memandang indahnya alam semesta dan nikmat-nikmat lain yang tidak mampu dihitung oleh hamba-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada sosok Rahmatan Lil al-Alamin, cahaya di atas cahaya, manusia paling sempurna, Nabi Muhammad SAW., Rasul penutup para Nabi, serta do'a untuk keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga zaman penutup mata.

Alhamdulillah, berkah rahmat dan 'Inayah Allah SWT., kami dapat menyelesaikan tugas penelitian ini yang mana dalam penelitian ini kami mengambil objek penelitian Pondok Pesantren, disini kami mengambil dua Pondok Pesantren yaitu Pondok Pesantren KH Zainal Mustofa Sukamanah atau Ponpes Sukamanah Tasikmalaya dan yang kedua yaitu Pondok Pesantren Assyafi'iah Sukabumi.

Kami mengambil objek penelitian dua pondok pesantren ini dikarnakan:

1.      Pondok Pesantren Sukamanah

Pondok Pesantren ini merupakan salah satu pesantren yang berpengaruh di Jawa Barat khususnya daerah Kabupaten Tasikmalaya, dan juga ponpes ini merupakan pesantren bersejarah karena pendirinya adalah salah satu pahlawan nasional yaitu KH Zainal Mustafa yang berjuang melawan penjajah jepang pada masa penjajahan dan merupakan mantan rois suryah NU cabang Tasikmalaya.

2.      Pondok pesantren Assyafi'iah

Pondok Pesantren ini merupakan salah satu ponpes yang membawa pengaruh positif didalam bidang pendidikan khususnya dibidang agama di daerah Sukalarang Sukabumi yang berbatasan dengan kabupaten Cianjur dikarnakan salah seorang dari kelompok kami merupakan alumni ponpes tersebut.

Itulah alasan kami mengambil kedua objek Pondok Pesantren tersebut

1.      Diagram Venn Pondok Pesantren Sukamanah Tasikmalaya

 

 

 

6    5    4     3     2     1

 

 

 

 

1.   Pondok Pesantren Sukamanah Tasikmalaya

2.   Hj. Juaeriah (pewakaf tanah ponpes)

3.   Al Magfurllah KH. Zainal Mustafa (pendiri ponpes)

4.   KH. Fuad Muhsin (sesepuh/penerus pertama ponpes)

5.   Drs. KH. A. Tahir Fuad (pimpinan ponpes/penerus kedua)

6.   Prof. Dr. KH. Fuad Wahab, MA (pimpinan ponpes sukahideng)

 

 

Pondok Pesantren Perguruan KH. Zainal Musthafa Sukamanah

Pondok Pesantren Sukamanah merupakan salah satu pondok pesantren pahlawan nasional yang terletak di kampung Sukamanah, desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Pondok pesantren ini dipengaruhi oleh beberapa nama yang telah tercantum dalam diagram Venn diatas yang merupakan hasil penelitian kelompok kami, diantaranya:

1.      Pondok pesantren ini dipegaruhi oleh Hj juhaeriyah beliau merupakan pewakaf tanah pesantren ini dan juga yang telah membiayai KH. Zainal Musthafa berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji.

2.      KH. Zainal Musthafa adalah pendiri sekaligus pimpinan pertama di pondok pesantren  ini. Beliau sangat berpengaruh sekali terhadap kemajuan Pesantren Sukamanah ini.

3.      Selepas wafatnya KH. Zainal Musthafa pesantren ini di teruskan kepemimpinannya oleh menantu beliau yaitu KH. Fuad Muhsin, keberadaannya berpengaruh terhadap lembaga pendidikan yang ada dilingkungan pesantren diantaranya beliau mendirikan

a)      MI KHZ Musthafa Sukahideng

b)      SMP KHZ Musthafa Sukamanah

c)      SMA KHZ Musthafa Sukamanah

d)     MTsN Sukamanah

e)      MAN Sukamanah

4.      Pada tahun 1995 KH. Fuad Muhsin memberikan kepemimpinannya kepada putra sulungnya yaitu KH. A.Tahir Fuad beliau merupakan penerus dari ayah handanya sekaligus orang yang berpengaruh dalam perkembangan pondok pesantren sukamanah dan juga pimpinan pondok pesantren hingga saat ini.

5.      Orang yang berpengaruh kepada Pesantren ini adalah Prof. Dr. KH. Fuad Wahab, MA. Selain beliau berpengaruh beliau juga dipengaruhi oleh Pesantren ini karena beliau merupakan pimpinan Pondok Pesantren Sukahideng yang bersandar kepada Ponpes Sukamanah. Jadi, Ponpes Sukahideng dipengaruhi oleh Sukamanah.     

 

 

2.      Diagram Venn Pondok Pesantren Assyafi'iyah Pulo Air Sukabumi

 

 

 

6    5    4     3     2     1

 

 

 

 

1.   Pondok Pesantren Assyafi'iyah Pulo Air Sukabumi

2.   KH. Abdullah Syafi'ie (pendiri perguruan Assyafi'iyah)

3.   H. Soekarno (pewakaf tanah pesantren)

4.   KH. Abdul Rasyid A.S (pimpinan pesantren)

5.   Prof. Dr. Tutty Alawiyah (Pembina pesantren)

6.   KH. Zainul Majdi (gubernur NTB)

 

 

 

Pondok Pesantren As-syafi'iyah Pulo Air Sukabumi

Pesantren ini didirikan di atas tanah seluas 27 hektar, yang bertempat dijalan sukabumi – cianjur km.10, Pulo Air Sukalarang Sukabumi Jawa Barat. Pesantren ini dulunya adalah sebuah tempat wisata pemandian Pulo Air. Pesantren ini sudah berdiri kurang lebih sekitar 24 tahun dan juga telah membangun beberapa fasilitas pendidikan modern baik formal maupun informal yang berbasis pesantren.

Pesantren ini dipengaruhi oleh beberapa orang, diantaranya:

1.      KH. Abdullah Syafi'ie

Beliau adalah pendiri dari perguruan islam As-syafi'iyah yang mana perguruan ini telah menaungi pesantren As-Syafi'iyah Pulo Air ini.

2.      H. Soekarno

Beliau adalah pemilik tempat wisata pemandian Pulo Air yang mewakafkan tempat wisata tersebut menjadi pesantren ini.

3.      KH. Abdul Rasyid A.S

KH. Abdul Rasyid adalah pimpinan dan pengelola pesantren dari awal didirikan sampai sekarang, beliau dapat disebut seseorang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pesantren ini.

4.      Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah A.S, MA

Beliau adalah mantan mentri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pada masa orde soeharto sampai BJ Habibie dan juga rektor dari Universitas As-syafi'iyah Jatiwaringin, beliau bertindak sebagai pembina pesantren.

5.      KH. Zainul Majdi

Beliau adalah gubernur NTB, pimpinan umum Nahdhatul Wathan (NW), sekaligus menantu dari pimpinan pesantren. Beliau telah banyak menyumbangkan pengetahuan serta hartanya untuk pesantren ini.

Asyifa,Siska,Ilmiyati,Ubaidillah,Taqiullah,Rizky_Pesantren Sebagai Lembaga Pencegahan Penyalahgunaan dan Rehabilitasi Narkoba_Tugas 3

Fenomena penyalahgunaan nakoba dan penggunaan obat-obatan terlarang dewasa ini,  membuat prihatin banyak pihak di antaranya: pemerintah, kepolisian, masyarakat maupun institusi pendidikan seperti sekolah maupun pesantren. Narkoba bisa menyerang semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali,  pejabat, rakyat, kaya, miskin, tua, muda, kaum terpelajar maupun  kaum  tuna aksara.  Bahkan pemerintah sekarang menyatakan bahwa Indonesia sudah darurat narkoba. Dari total penyalahgunaan narkoba di Indonesia, menurut ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyebutkan dan seperti dilansir Kompas "pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4,2 juta di bulan Maret 2015 dan meningkat signifikan di bulan November 2015 sebesar 5,9 juta ia juga menambahkan bahwasannya kurangnya pengetahuan tentang narkoba dan kepedulian masyarakat serta penegakan hukum yang masih belum meningkat secara maksimal. Ia juga menambahkan bahwasannya "tidak ada bagian masyarakat yang tidak clear dari narkoba. Semua sudah terkena. Ada oknum TNI, Polri, termasuk oknum dari BNN. Kami akan memebersihkan dan memperbaiki dulu bagian dalam serta menjalin hubungan baik termasuk dengan kalangan pesantren yang sangat solid dan mempunyai banyak santri.

Fakta yang lain menyebutkan, dari jumlah pengguna tersebut, ternyata hanya ada sekitar 18.000 atau 0.47 persen yang sudah mendapat layanan rehabilitsi. Penyebab rendahnya angka rehabilitasi ini, salah  satu faktor adalah minimnya tempat untuk merehabilitasi.  

Dalam mengatasi hal ini pemerintah memebrikan solusi bagi para pengguna narkoba yaitu dengan menempatkan para pengguna narkoba ke dalam lembaga rehabilitas. Lembaga ini berfungsi untuk memberdayakan masyarakat pecandu narkoba. Namun, tidak hanya lembaga rehabilitas yang dibuat oleh pemerintah saja. Akan tetapi ada juga lembaga lain yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk memberdayakan masyarakat yang ingin bersih dari narkoba, yaitu pondok pesantren. Namun, tidak seluruh pondok pesantren yang terdapat di Indonesia memiliki fungsi yang demikian, hanya beberapa saja.

Mengapa harus pesantren yang dijadikan sebagai tempat alternatif lembaga rehabilitasi. Pondok pesantren menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, selain keluarga dan juga sekolah. Alasan lain karena pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh seorang kyai sebagai figur sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan pondoknya. Tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan keperibadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlaq mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmah kepada masyarakat dengan jalan menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia idealnya[1]. Pengembangan kepribadian yang ingin di tuju ialah keperibadian mukhsin.

Sejak masa orde baru sampai orde reformasi sekarang, pesantren semakin memperluas perannya dalam pembangunan masyarakat. Berbagai kegiatan dalam pembangunan terutama yang berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat, pesantren selalu berpartisipasi dalam macam-macam program pembangunan seperti pencegahan, pemberantasan penyalah gunaan dan peredaran gelap narkoba.[2] Menurut Khofifah Indar Parawansa, saat melakukan teleconference dengan senda kota Malang, Cipto Wiyono. Menyatakan " Podok pesantren bukan hanya mendidik secara moral saja, akan tetapi juga dari segi spiritual. Selain penanaman nilai-nilai agama juga diajarkan bagaimana untuk mendapatkan sebuah ketenangan yang sesuai dengan anjuran agama dan tidak perlu merusak anggota tubuh, dengan menggunakan obat-obatan terlarang. Ketika para pecandu memilih untuk rehab di pondok pesantren. Para pecandu tidak hanya sembuh secara fisik saja, akan tetapi juga terhadap ruhaniyahnya".  

Pesantren memang dianggap lebih mampu dan memiliki potensi lebih dalam pusat rehabilitasi karena mempunyai multi guna, pecandu narkoba supaya sembuh total dan tidak mengulangi perbuatannya, mendekatkan diri pada tuhan dengan melalui ritual penyembuhan, lebih bisa memberi pencerahan dan penyadaran akan bahaya narkoba. Serta jalan yang lurus dan benar juga mengajarkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat serta tertanamnya iman yang kukuh supaya menjauhi narkoba dan segala macam perbuatan yang merusak jiwa dan fisik.[3]

Salah satu pesantren yang dikenal secara luas dan masyarakat mengetahui sebagai salah satu perintis dalam mengobati pemakai narkoba ialah pondok pesanten Suryalaya yang dipimpin oleh Allah Yarham Abah Anom. Menurut K.H Mochamad Ali Hanafia Akbar, pemimpin ponpes Suryalaya wilayah Jatim, hingga saat ini pondok pesantren telah banyak menyembuhkan pasien narkoba dengan menggunakan metode ajaran agama Islam dengan beberapa proses pentahapan penyembuhan. Metode yang digunakan pesantren ini dalam menyembuhkan para pecandu narkoba yaitu dengan metode Inabah. Menurut (alm) K.H. Shohibulwafa Tajul Arifin kata Inabah menurut etimologi adalah istilah yang berasal dari bahasa arab annaba yunibu yang berarti mengembalikan. Jadi, Inabah juga berarti pengambilan atau pemulihan. Maksud dari ni adalah proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauh Allah ke jalan yang mendekat kepada Allah. Secara teknis, metode ini mencakup:

1.      Mandi Taubat

Lemahnya kesadaran pecandu akibat narkoba bisa dipulihan dengan mandi dan wudhu. Mandi dan wudhu ini berarti mensucikan tubuh dan jiwa sehingga siap untuk kembali menghadap Allah yang Maha Suci. Disamping itu, terdapat makna simbolik dari wudhu berupa mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan pembersihan jiwa. Adapun pelaksanaan mandi taubat ini adalah sebagai berikut:

1)      Pelaksanaan jam 02.00 WIB (dini hari) sebelum melaksanakan sholatmalam (tahajud).

2)      Lafadz niat " Robbi anzilniy munzalam mubarokan wa anta khoirul munziliin".

2.      Sholat (fardhu dan sunnah)

Pecandu yang telah disucikan oleh prosesi mandi dan wudhu, kemudian akan diajarkan dan dipandu untuk melaksanakan shalat fardhu dan sunnah sesuai dengan metode Inabah  ini. Tuntunan pelaksanaan shalat fardhu dan sunnah disesuaikan dengan ajaran islam dan  kurikulum  ibadah yang telah dibuat dan disyaria'tkan.

3.      Talqin Dzikir

Pecandu yang telah  pulih kesadarannya, kemudian diajak berdzikir melalui Talqin Dzikir. Talqin Dzikir adalah pembelajaran dzikir pada qalbu. Dzikir tidak cukup diajarkan dengan mulut untuk ditirukan dengan  mulut  pula, melainkan harus dipancarkan dari qalbu untuk dihunjamkan ke dalam qalbu yang di talqin. Yang dapat melakukan talqin dzikir hanyalah orang yang qalbunya sehat dan kuat.

4.      Pembinaan

Anak bina ditempatkan pada pondok Inabah guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurukulim pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom  mencakup mandi dan wudhu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya. Dengan metodologi yang dikutip dari situs resmi Pesantren Suryalaya ini, terbukti tingkat keberhasilannya sangat tinggi.

Demikian pemaparan yang kami sampaikan terkait isu yang ada, semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menjadikan kita sebagai makhluk sosial yang peduli akan lingkungan sekitar.



[1] Musni umar, Peran Pesantren dalam Pencegahan, Pemberanasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba., Wordpress.com diakses pada hari  selasa, 22 Maret 2016, pukul: 05.36 WIB.

[2]Ibid.

[3]Trie yas., Peran Lembaga Agama dalam Pemberantasan Narkoba, Kompasiana: 2014, diakses pada tanggal 22 Maret 2016, Pukul: 05.49 WIB.

 

Senin, 21 Maret 2016

Asyifa_Siska_Ilmiyati_Rizky_Taqiullah_Ubaidillah_Pesantren_Sebagai_Lembaga_Pencegahan_Penyalahgunaan_dan_Rehabilitasi_Narkoba_Tugas 3

Nama   :           Taqiullah                                 (11140530000025)

                        Ilmiyatin Nufus                       (11140530000017)

                        Siska Kurniasih                       (11140530000022)

                        Asyifa Darti                             (11140530000029)

                        M. Ubaidillah                          (11140530000027)

                        Rizky Nurfajriyanto                 (11140530000021)

Kelas   :           Manajemen Dakwah 4A

Pesantren  Sebagai  Lembaga Pencegahan  Penyalahgunaan dan Rehabilitasi Narkoba

Fenomena penyalahgunaan nakoba dan penggunaan obat-obatan terlarang dewasa ini,  membuat prihatin banyak pihak di antaranya: pemerintah, kepolisian, masyarakat maupun institusi pendidikan seperti sekolah maupun pesantren. Narkoba bisa menyerang semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali,  pejabat, rakyat, kaya, miskin, tua, muda, kaum terpelajar maupun  kaum  tuna aksara.  Bahkan pemerintah sekarang menyatakan bahwa Indonesia sudah darurat narkoba. Dari total penyalahgunaan narkoba di Indonesia, menurut ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyebutkan dan seperti dilansir Kompas "pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4,2 juta di bulan Maret 2015 dan meningkat signifikan di bulan November 2015 sebesar 5,9 juta ia juga menambahkan bahwasannya kurangnya pengetahuan tentang narkoba dan kepedulian masyarakat serta penegakan hukum yang masih belum meningkat secara maksimal. Ia juga menambahkan bahwasannya "tidak ada bagian masyarakat yang tidak clear dari narkoba. Semua sudah terkena. Ada oknum TNI, Polri, termasuk oknum dari BNN. Kami akan memebersihkan dan memperbaiki dulu bagian dalam serta menjalin hubungan baik termasuk dengan kalangan pesantren yang sangat solid dan mempunyai banyak santri.

Fakta yang lain menyebutkan, dari jumlah pengguna tersebut, ternyata hanya ada sekitar 18.000 atau 0.47 persen yang sudah mendapat layanan rehabilitsi. Penyebab rendahnya angka rehabilitasi ini, salah  satu faktor adalah minimnya tempat untuk merehabilitasi.  

Dalam mengatasi hal ini pemerintah memebrikan solusi bagi para pengguna narkoba yaitu dengan menempatkan para pengguna narkoba ke dalam lembaga rehabilitas. Lembaga ini berfungsi untuk memberdayakan masyarakat pecandu narkoba. Namun, tidak hanya lembaga rehabilitas yang dibuat oleh pemerintah saja. Akan tetapi ada juga lembaga lain yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk memberdayakan masyarakat yang ingin bersih dari narkoba, yaitu pondok pesantren. Namun, tidak seluruh pondok pesantren yang terdapat di Indonesia memiliki fungsi yang demikian, hanya beberapa saja.

Mengapa harus pesantren yang dijadikan sebagai tempat alternatif lembaga rehabilitasi. Pondok pesantren menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, selain keluarga dan juga sekolah. Alasan lain karena pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh seorang kyai sebagai figur sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan pondoknya. Tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan keperibadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlaq mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmah kepada masyarakat dengan jalan menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia idealnya[1]. Pengembangan kepribadian yang ingin di tuju ialah keperibadian mukhsin.

Sejak masa orde baru sampai orde reformasi sekarang, pesantren semakin memperluas perannya dalam pembangunan masyarakat. Berbagai kegiatan dalam pembangunan terutama yang berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat, pesantren selalu berpartisipasi dalam macam-macam program pembangunan seperti pencegahan, pemberantasan penyalah gunaan dan peredaran gelap narkoba.[2] Menurut Khofifah Indar Parawansa, saat melakukan teleconference dengan senda kota Malang, Cipto Wiyono. Menyatakan " Podok pesantren bukan hanya mendidik secara moral saja, akan tetapi juga dari segi spiritual. Selain penanaman nilai-nilai agama juga diajarkan bagaimana untuk mendapatkan sebuah ketenangan yang sesuai dengan anjuran agama dan tidak perlu merusak anggota tubuh, dengan menggunakan obat-obatan terlarang. Ketika para pecandu memilih untuk rehab di pondok pesantren. Para pecandu tidak hanya sembuh secara fisik saja, akan tetapi juga terhadap ruhaniyahnya".  

Pesantren memang dianggap lebih mampu dan memiliki potensi lebih dalam pusat rehabilitasi karena mempunyai multi guna, pecandu narkoba supaya sembuh total dan tidak mengulangi perbuatannya, mendekatkan diri pada tuhan dengan melalui ritual penyembuhan, lebih bisa memberi pencerahan dan penyadaran akan bahaya narkoba. Serta jalan yang lurus dan benar juga mengajarkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat serta tertanamnya iman yang kukuh supaya menjauhi narkoba dan segala macam perbuatan yang merusak jiwa dan fisik.[3]

Salah satu pesantren yang dikenal secara luas dan masyarakat mengetahui sebagai salah satu perintis dalam mengobati pemakai narkoba ialah pondok pesanten Suryalaya yang dipimpin oleh Allah Yarham Abah Anom. Menurut K.H Mochamad Ali Hanafia Akbar, pemimpin ponpes Suryalaya wilayah Jatim, hingga saat ini pondok pesantren telah banyak menyembuhkan pasien narkoba dengan menggunakan metode ajaran agama Islam dengan beberapa proses pentahapan penyembuhan. Metode yang digunakan pesantren ini dalam menyembuhkan para pecandu narkoba yaitu dengan metode Inabah. Menurut (alm) K.H. Shohibulwafa Tajul Arifin kata Inabah menurut etimologi adalah istilah yang berasal dari bahasa arab annaba yunibu yang berarti mengembalikan. Jadi, Inabah juga berarti pengambilan atau pemulihan. Maksud dari ni adalah proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauh Allah ke jalan yang mendekat kepada Allah. Secara teknis, metode ini mencakup:

1.      Mandi Taubat

Lemahnya kesadaran pecandu akibat narkoba bisa dipulihan dengan mandi dan wudhu. Mandi dan wudhu ini berarti mensucikan tubuh dan jiwa sehingga siap untuk kembali menghadap Allah yang Maha Suci. Disamping itu, terdapat makna simbolik dari wudhu berupa mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan pembersihan jiwa. Adapun pelaksanaan mandi taubat ini adalah sebagai berikut:

1)      Pelaksanaan jam 02.00 WIB (dini hari) sebelum melaksanakan sholatmalam (tahajud).

2)      Lafadz niat " Robbi anzilniy munzalam mubarokan wa anta khoirul munziliin".

2.      Sholat (fardhu dan sunnah)

Pecandu yang telah disucikan oleh prosesi mandi dan wudhu, kemudian akan diajarkan dan dipandu untuk melaksanakan shalat fardhu dan sunnah sesuai dengan metode Inabah  ini. Tuntunan pelaksanaan shalat fardhu dan sunnah disesuaikan dengan ajaran islam dan  kurikulum  ibadah yang telah dibuat dan disyaria'tkan.

3.      Talqin Dzikir

Pecandu yang telah  pulih kesadarannya, kemudian diajak berdzikir melalui Talqin Dzikir. Talqin Dzikir adalah pembelajaran dzikir pada qalbu. Dzikir tidak cukup diajarkan dengan mulut untuk ditirukan dengan  mulut  pula, melainkan harus dipancarkan dari qalbu untuk dihunjamkan ke dalam qalbu yang di talqin. Yang dapat melakukan talqin dzikir hanyalah orang yang qalbunya sehat dan kuat.

4.      Pembinaan

Anak bina ditempatkan pada pondok Inabah guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurukulim pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom  mencakup mandi dan wudhu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya. Dengan metodologi yang dikutip dari situs resmi Pesantren Suryalaya ini, terbukti tingkat keberhasilannya sangat tinggi.

Demikian pemaparan yang kami sampaikan terkait isu yang ada, semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menjadikan kita sebagai makhluk soisal yang peduli kan lingkungan sekitar. Dimana telah banyak

  

 



[1] Musni umar, Peran Pesantren dalam Pencegahan, Pemberanasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba., Wordpress.com diakses pada hari  selasa, 22 Maret 2016, pukul: 05.36 WIB.

[2]Ibid.

[3]Trie yas., Peran Lembaga Agama dalam Pemberantasan Narkoba, Kompasiana: 2014, diakses pada tanggal 22 Maret 2016, Pukul: 05.49 WIB.

 

Cari Blog Ini